Laman

Senin, 31 Desember 2012

Kalender dan Ibadah


Kalender adalah sebuah perhitungan waktu dengan menggunakan fenomena alam sebagai ukurannya. Fenomena alam itu dapat berupa matahari, bulan, musim, dan lain sebagainya. Kalender pun menjadi sebuah perhitungan manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi alam yang ada.

Di dalam sejarah kehidupan manusia, telah terdapat banyak jenis kalender, seperti Kalender Mesir Kuno, Kalender Babilonia, Kalender Yahudi, Kalender Julius, Kalender Gregorius, Kalender Hijriyah, dan lain-lain. Memang kini kalender, atas pengaruh globalisasi dan sekularisasi, lebih dipahami sebagai sebuah perhitungan yang hanya berkaitan dengan perihal kehidupan manusia di dunia yang tidak memerlukan keketatan perhitungan. Maksudnya, jikalau terdapat kesalahan dalam perhitungan tersebut, maka hal itu tidak menjadi sebuah masalah yang besar. Hal yang perlu dilakukan hanyalah melakukan koreksi terhadap kesalahan tersebut.

Contoh dari hal tersebut ada pada fakta bahwa Setelah Kalender Julius berusia 1600 tahun ternyata pada hari paskah (Easter) matahari belum mencapai equinox, perlu 10 hari lagi; Tahun 1852 Paus Gregorius XIII membuang 10 hari, sehingga 4 Oktober loncat ke 15 Oktober tanpa mengubah urutan nama hari; banyak pula kaum Kristen yang tidak terlalu peduli tentang ketepatan peringatan Natal dengan kelahiran Yesus itu sendiri. Tanggal 25 Desember tersebut juga tidak terlalu dipersoalkan apakah sungguh-sungguh tepat atau tidak.

Sesungguhnya pandangan bahwa kalender hanya berhubungan dengan perhitungan untuk mengatur kehidupan manusia an sich, adalah sebuah pandangan yang sekular. Jika ditelusuri secara sekilas, kalender-kalender yang sudah ada sejak dahulu sesungguhnya sangat berhubungan dengan aktivitas peribadatan di dalam sebuah kebudayaan. Kita dapat mengingat bagaimana di Mesir, perhitungan kalender itu sangat penting dalam menentukan ritual ibadah mereka yang terhubung dengan matahari. Di Babilonia pun perhitungan yang sedemikian rumit tentang letak bintang pun dilakukan karena terdapat pandangan bahwa posisi bintang-bintang di angkasa itu sebenarnya sangat menentukan apa yang terjadi di bumi, bahkan pada perilaku manusia. Demikian juga jika kita mengamati kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia, maka kita akan menemukan bahwa kalender yang ada itu berhubungan dengan ritual-ritual budaya setempat. Hal ini jelas menunjukkan bahwa pandangan sekular terhadap kalender merupakan sesuatu yang relatif baru.

Pandangan sekular ini juga bermasalah atas beberapa alasan. Pertama, manusia cenderung menentukan sebuah momentum untuk melakukan sebuah aktivitas tertentu. Kedua, manusia menempatkan tindakan atau aktivitas manusia pada tingkatan yang berbeda. Ketiga, pandangan sekular mengabaikan kecenderungan dasar manusia untuk bertuhan dan menyembah Tuhan, padahal hal ini menempati tingkatan yang tinggi dalam aktivitas manusia. Keempat, pandangan sekular cenderung menempatkan peringatan-peringatan kenegaraan, seperti hari kemerdekaan, hingga pada taraf yang menyamai peringatan keagamaan.

Setelah melihat hal tersebut, ketepatan juga merupakan sesuatu yang juga penting untuk diperhatikan. Sebab, ketepatan, khususnya dalam kalender Hijriyah, menentukan keshohihan sebuah tindakan yang bersesuaian dengan waktu pelaksanaannya. Kita dapat melihat kondisi nyata tersebut dari aktivitas sholat lima waktu yang dilakukan sehari-hari. Bukankah letak persis matahari itu sangat menentukan waktu sholat yang akan kita lakukan? Bukankah kita akan melakukan sholat saat waktunya telah tiba? Bukan mendahului atau setelah waktunya. Bahkan, jika seseorang beribadah, misalnya puasa, sudah lewat dari waktunya, maka bisa saja seseorang tersebut melakukan tindakan yang bernilai haram. Kalender yang sangat menuntut ketepatan memang adalah kalender Hijiryah. Sebab, ketepatan waktu juga diiringi dengan nilai hukum yang jelas dan kuat, sehingga membuat muslim dihinggapi sikap hati-hati. Kalender Hijriyah juga didukung dengan sistem peredaran bulan yang tidak memerlukan koreksi. Bersamaan dengan itu, hal ini pula yang mendorong muslimin untuk menelusuri perihal ini hingga pada perhitungan yang jauh lebih canggih daripada kalender yang lain.


Sekilas Kalender Masehi

Kalender Julian

Kalender Julian di perkenalkan oleh Julius Caesar 45 tahun sebelum Masehi. Merupakan tahun surya dengan jumlah hari tetap setiap bulannya, dan disisipi satu hari tiap 4 tahun untuk penyesuaian panjang tahun tropis. Kalender ini digunakan secara resmi di seluruh Eropa, sampai kemudian diterapkannya reformasi dengan Kalender Gregorian pada tahun 1582.

Era sebelum 45 SM, dinamakan era bingung, karena Julius Caesar menyisipkan 90 hari ke dalam kalender tradisional Romawi, untuk lebih mendekati ketepatan pergantian musim. Penyisipan ini sedemikian cerobohnya sehingga bulan-bulan dalam kalender itu tidak lagi tepat dengan perhitungan candra (purnama tilem), walaupun sebenarnya dasar dari kalender Romawi adalah luni-solar. Akhirnya dengan nasehat Sosigenes, seorang astronom dari Alexandria, Caesar menetapkan kalendernya menjadi 12 bulan, masing-masing dengan jumlah hari tertentu seperti sekarang, dengan penetapan tahun kabisat setiap 4 tahun, dengan keyakinan bahwa panjang 1 tahun surya adalah 365.25 hari saat itu.

Sejak meninggalnya Caesar, penerapan tahun kabisat salah terap. Kabisat diberlakukan tiap menginjak tahun ke 4, jadi 3 tahun sekali. Keadaan ini konon dibetulkan kemudian oleh Kaisar Agustus, dengan meniadakan semua kabisat dari tahun 8 SM sampai tahun 4 Masehi. Setelah itu kalender Julian berfungsi dengan jauh lebih baik.

Caesar mendefinisikan 1 Januari sebagai awal tahun baru, meskipun demikian banyak yang menetapkan selain itu. Yang paling populer di antaranya adalah 1 Maret, 25 Maret dan 25 Desember.

Penetapan hari pertama tiap bulan juga berkembang. Secara Kalends, yaitu mulai hari pertama bulan baru (di Bali penanggal), Nones yaitu mulai pada pertengahan bulan (Purnama), atau Ides yaitu 8 hari setelah purnama(panglong 8). Sejalan perkembangan waktu, Kalends lebih banyak diikuti, dari sinilah mungkin istilah kalender berasal.

Demikian menurut Cappelli (1930), Grotefend & Grotefend (1941), dan Cheney (1945)


Kalender Masehi dan Hari Minggu

Kalender Masehi seperti yang dikenal sekarang keseragamannya dimulai pada tahun 1752 untuk seluruh dunia. Tetapi perhitungan bulan, hari sudah ada jauh sebelumnya. Kalender Roma Kuno (Julian) satu tahun terdiri dari 10 bulan saja dari Maret sampai Desember. Desember adalah bulan kesepuluh. Bahasa latin, angka sepuluh = “decem”

Pada abad 8 SM, satu tahun diubah menjadi 12 bulan, mulai dari bulan Januari, Februari, Maret.

Januari  (1) terambil dari nama dewa roma “Janus” . Dewa ini mempunyai dua wajah. Yang satu melihat masa yang telah lalu dan satu lagi menatap masa depan yang penuh rahasia.

Februari (2) berasal kata latin “Februra” yaitu pesta penyucian yang diselenggarakan tiap tanggal 15 February oleh bangsa Romawi Kuno. Karena satu tahun tidak tepat 365 hari melainkan 365 seperempat hari, maka setiap tahun akan terdapat sekali 366 hari. Kelebihan satu hari itu dimasukkan dalam bulan February.

Maret (3) Mula pertma tercantum sebagia bulan pertama dalam kalender Julian. Kemudian barulah urutannya pada bulan ketiga seperti sekarang ini. Terambil dari nama dewa perang “mars”.

April (4) ada yang mengatakan berasal dari nama dewa cinta Yunani “Aphrodite”.

Mei (5) konon berasal dari kata “Maia Mayesta” dewa musim semi. Pada bulan ini diadakan festival meriah, diadakan pemilihan ratu dan raja.

Juni (6) terambil dari nama “Juno” dewi yang melambangkan kewanitaan dan kebahagiaan keluarga.

Juli (7) Dipilh oleh penguasa Roma, Mark Antoni dari nama “Julius Caesar” (raja Roma), sebagai penghormatan bagi Caesar yang terbunuh oleh pengawalnya sendiri Brutus. Sebelum kalender diubah menjadi seperti sekarang ini, Juli disebut Quintilis dan merupakan bulan kelima.

Agustus (8) penguasa Roma “Augustus” menyebut nama bulan kedelapan sesuai namanya sendiri.

September  (9) asal dari bahasa latin untuk angka ketujuh yaitu “Septa”. Tatkala pada abad 8 SM pembagian satu tahun diubah dari 10 bulan menjadi 12 bulan, September yang terletak pada urutan ketujuh, kini menjadi bulan kesembilan.

Oktober (10) dari bahasa latin untuk angka 9 “Novum”. Meskipun November (11) kini menjadi bulan ke-11, tapi namanya tidak diubah. Sama juga dengan Septa dan Octa.

Desember (12) dari bahasa latin untuk angka 10, yaitu “Decem”. Di negara belahan bumi sebelah utara, yaitu mengenal empat musim, Desember adalah bulan yang ditutupi salju dan es. Bulan ini dinamakan bulan suci karena upacara keagamaan Kristen yaitu peringatan kelahiran Yesus Kristus yang disebut Natal. Pada kalender Roma, bulan ini menempati urutan ke-10 (Decem).

Minggu bahasa Portugis “dominggu” = hari Tuhan. “Duminggu” (bahasa daerah Tondano) kebudayaan Yunani, hari Minggu sudah dirayakan untuk menghormati dewa matahari (hari matahari= Sunday).

Gereja memberi warna dan arti bahwa hari itu adalah penghormatan kepada matahari kebenaran yaitu Yesus Kristus (Mal 4:2). Sejak dari gereja Purba hari Minggu sebagai hari kebaktian dan kebiasaan itu berlangsung hingga kini. Pada tahun 321, Kaisar Constantinus dengan undang-undang pemerintah menetapkan hari Minggu sebagai hari libur seluruh wilayah kekaisaran Romawi, kemudian menjadi universal sampai sekarang.


Kalender Gregorian (Masehi)

Kalender Gregorian atau kalender Masehi, sudah menjadi standard penghitungan hari internasional. Pada mulanya kalender ini dipakai untuk menentukan jadwal kebaktian gereja-gereja Katolik dan Protestan. Kalender Gregorian adalah kalender murni surya yang bertemu siklusnya pada tiap 400 tahun (146097 hari) sekali. Satu tahun normal panjangnya 365 hari, tiap bilangan tahun yang habis dibagi 4 tahunnya memanjang menjadi 366 hari, namun tidak berlaku untuk kelipatan 100 tahun dan berlaku kembali tiap kelipatan 400 tahun. Sebagai contohnya tahun 2000 adalah tahun panjang (kabisat, leap year) sedangkan tahun 1900 tahun normal.

Kalau kita bagi 146097 hari dengan 400, didapatkan angka 365.2425, hampir mendekati daur waktu surya yaitu 365.2421896698 - 0.00000615359 T - 7.29E-10 T^2 + 2.64E-10 T^3 hari. Dengan demikian koreksi pengurangan akan terkumpul menjadi 1 hari setelah sekitar 2500 tahun sekali. Usulan mengenai kapan dilakukannya koreksi itu sudah sering dihembuskan, namun belum diinstitusikan.

Kalender Gregorian adalah pembaruan dari kalender Julian. Dalam 16 abad pemakaian kalender Julian, titik balik surya sudah bergeser maju sekitar 10 hari dari yang biasanya ditengarai dengan tanggal 21 Maret tiap tahun. Hal ini membuat kacaunya penentuan hari raya Paskah yang bergantung kepada daur candra dan daur surya di titik balik tersebut. Dikhawatirkan Paskah akan semakin bergeser tidak lagi jatuh di musim semi untuk belahan bumi utara, serta semakin menjauhi peringatan hari pembebasan jaman Nabi Musa (penyeberangan laut merah).

Pemikiran tentang koreksi ini sebenarnya telah mulai dipergunjingkan dengan keluarnya tabel-tabel koreksi oleh gereja sejak jaman Paus Pius V pada tahun 1572. Dekrit rekomendasi baru dikeluarkan oleh penggantinya, yaitu Paus Gregorius XIII, dan disahkanlah pada tanggal 24 februari 1582Isinya antara lain tentang koreksi daur tahun kabisat dan pengurangan 10 hari dari kalender Julian. Dengan demikian, tanggal 4 Oktober 1582 Julian, esoknya adalah tanggal 15 oktober 1582 Gregorian. Tanggal 5 hingga 14 Oktober 1582 tidak pernah ada dalam sejarah kalender ini. Sejak saat itu, titik balik surya bisa kembali ditandai dengan tanggal 21 Maret tiap tahun, dan tabel bulan purnama yang baru disahkan untuk menentukan perayaan Paskah di seluruh dunia.

Pada mulanya kaum Protestant tidak menyetujui reformasi Gregorian ini. Baru pada abad berikutnya kalender itu diikuti. Dalam tubuh Katolik sendiri, kalangan gereja Ortodox juga bersikeras untuk tetap mengikuti kalender Julian. Namun pemerintahan demi pemerintahan mulai mengakui dan akhirnya pemakaiannya semakin meluas seperti yang kita lihat sekarang.


Perubahan Kalender dari Sistem "Julian" Ke "Gregorian"
(Diperkenalkan di berbagai bagian benua Eropa pada tahun 1582, dan di Inggris tahun 1752)

Perubahan kalender ini satu-satunya revisi yang terjadi pada masa Kekristenan terjadi sebagai berikut: Sebagaimana halnya bagi bangsa Yahudi, bangsa Romawi kuno juga memakai 7 hari dalam sepekan. Kaisar Julius, penguasa tunggal pertama, atau diktator Roma, muncul dengan rencana pembaruan kalender, pada abad pertama sebelum Kristus (46 SM). Ia menetapkan satu tahun persis 365 1/4 hari, dengan mengumpulkan "kelebihan" waktu itu sehingga satu tahun menjadi 366 hari setiap tahun keempat. ("Kelebihan" waktu itu dikumpulkan karena jangka waktu sesungguhnya bumi mengelilingi matahari itu hanya memerlukan kurang dari 365 1/4 hari!) Walau kalender Julian itu lebih lama 11 menit 10 detik, namun hanya dibatasi sampai masa 12 bulan, dan menentukan nama bulan ketujuh (Juli) dengan namanya sendiri. Kalender Julian juga tetap memakai 7 hari sepekan kitab Kejadian. Hanya masalahnya ialah bahwa sistem ini menambahkan satu hari penuh setiap empat tahun, yang membuat satu tahun itu menjadi 365 hari, 5 jam, 49 menit, sehingga membuat kelebihan waktu kalender, tetapi bukan waktu sebenarnya.

Pada abad ke-16 era Kekristenan, kelebihan waktu yang bertambah kepada kalender Julian hingga waktu itu adalah 10 hari lebih maju daripada waktu sesungguhnya, sehingga Paus Gregory XIII setuju untuk mengambil inisiatif memperbaiki gap (jurang) kelebihan waktu itu.,

Pada tahun 1582, agar ketidaktepatan kalender seperti sebelumnya jangan terulang lagi, seorang pakar astronomi Italia membuat satu formula baru, yang akhirnya disetujui oleh Paus Gregory pada tahun itu juga. Cara ini mengusulkan bahwa setiap seratus tahun, atau tahun ke seratus(1800, 1900, 2000, 2100, dan sebagainya) tidak boleh dihitung sebagai tahun kabisat, kecuali setiap tahun keempat ratus, dimulai dari tahun 2000. Formula ini berfungsi untuk menjaga agar pada hampir setiap masa cocok dengan penanggalan kalender. Jadi perbedaan menit yang ada pada penanggalan sipil dan yang sebenarnya pada skema Gregorian tidak akan mencapai menjadi satu hari saja dalam jangka waktu 5000 tahun!

Untuk mengembalikan kelebihan 10 hari kalender tahun sipil sesuai dengan jadwal yang sebenarnya, sepuluh hari itu pun dihilangkan (dianggap tidak ada). Jadi kalender Julian bukan diganti tapi disesuaikan, sehingga tanggal 5 Oktober dengan "Sistem Lama" disesuaikan menjadi tanggal 15 Oktober. Nama dan jumlah bulan tahun Julian tetap digunakan, sebagaimana juga susunan biasa akan hari dalam satu pekan. Walau tanggal 5 Okltober pada "Sistem Lama" itu telah menjadi 15 Oktober, namun itu masih persis hari yang sama, yaitu hari Jumat pada tahun 1582. Jadi tanggalnya yang diubah bukan harinya. Siklus mingguan bersejarah itu rotasi pergantian ketujuh hari dalam sepekan itu tidak mengalami perubahan apa pun oleh penyesuaian yang diadakan oleh Paus-Gregory.

(Untuk mengetahui lebih rinci tentang perubahan kalender, bacalah ensiklopedi yang terkenal seperti Ensiklopedi Brintannica, World Book, Golden Book, Chambers, dan sebagainya, dan juga Kamus Besar lainnya).

Dari manakah hari, pekan, bulan, dan tahun?

- Dari manakah perhitungan 1 hari = 24 jam?
Para ahli menghitung dari lamanya bumi mengitari porosnya sendiri (rotasi bumi).

- Dari manakah  perhitungan lamanya 1 bulan?
Para ahli menghitung dari lamanya bulan mengitari bumi.

- Dari manakah perhitungan berapa lama 1 tahun?
Para ahli menghitung dari lamanya bumi mengitari matahari (revolusi bumi).

- Dari manakan perhitungan 1 pekan (yakni 7 hari)? 
Para ahli tidak dapat menemukan jawabnya dari fenomena alam. Jawabannya hanya terdapat di kitab suci, yaitu karena Alloh sendirilah yang membuatnya demikian.

Catatan: Sejarah membuktikan bahwa periode satu pekan terdiri dari 7 hari inilah yang paling sesuai dengan irama hidup sehari-hari. Pada tahun 1792 Perancis mencoba sistem 1 minggu = 10 hari, tetapi gagal. Pada tahun 1929 Uni Soviet mencoba sistem 5 hari dan pada tahun 1932 enam hari, tetapi pada tahun 1940 mereka kembali ke sistem 7 hari. (Widya Wiyata-Aneka Keajaiban hal 7).


Kumpulan Nama Bulan

Penyebutan dalam bulan Jawa dengan bahasa kromo dan ngoko:
1.      Warana/Sura (30 hari)
2.      Wadana/Sapar (29 hari)
3.      Wijanga/Mulud (30 hari)
4.      Wiyana/Bakda Mulud (29 hari)
5.      Widada/Jumadil Awal (30 hari)
6.      Widarpa/Jumadil Akhir (29 hari)
7.      Wilarpa/Rejeb (30 hari)
8.      Wahana/Ruwah (29 hari)
9.      Wanana/Pasa (30 hari)
10.    Wurana/Sawal (29 hari)
11.    Wujana/Sela (30 hari)
12.    Wujala/Besar (29 atau 30 hari)


Kalender Hijriyah:
1.      Muharrom, artinya yang diharamkan untuk berperang; (30 hari)
2.      Shofar, artinya daun yang menguning; (29 hari)
3.      Robi’ul Awwal ,artinya musim semi pertama; (30 hari)
4.      Robi’ults Tsani, artinya musim semi yang kedua; (29 hari)
5.      Jumadil Awwal, artinya masa air membeku yang pertama; (30 hari)
6.      Jumadits Tsani, artinya masa air membeku yang kedua; (29 hari)
7.      Rojab, artinya masa air yang membeku mulai mencair; (29 hari)
8.      Sya’ban, artinya lembah-lembah yang mulai ramai digarap penduduk untuk bercocok tanam atau beternak; (29 hari)
9.      Romadhon, artinya panas yang membakar; (30 hari)
10.    Syawwal, artinya peningkatan panas yang membakar tersebut; (29 hari)
11.    Dzul Qo’idah, artinya yang di dalamnya banyak orang yang hanya duduk-duduk karena panasnya udara; (30 hari)
12.    Dzulhijjah artinya yang di dalamnya ada haji. (30 hari)


12 nama perhitungan musim pertanian:
1.      Kaso. 22 Juni - 1 Agustus 41 hari, angin bertiup dari timur ke barat.
2.      Karo. 2-24 Agustus 23 hari, angin berasal dari timur.
3.      Ketigo. 25 Agustus - 17 September 24 hari, angin bertiup dari timur laut.
4.      Kapat. 18 September- 12 Oktober 25 hari, angin bertiup dari barat laut.
5.      Kalimo. 13 Oktober- 8 November 27 hari, angin bertiup dari utara.
6.      Kanem. 9 November- 21 Desember 43 hari, angin bertiup dari barat.
7.      Kapitu. 22 Desember - 2 Februari 43 hari, angin bertiup dari barat.
8.      Kawolu. 3 Februari - 28/29 Februari 27 hari, angin bertiup dari barat.
9.      Kesongo. 1 Maret - 25 Maret 25 hari, angin bertiup ke selatan.
10.    Kesepuluh. 26 Maret - 18 April 24 hari, angin bertiup ke tenggara.
11.    Apit Lemah 19 April - 11 Mei 23 hari, angin bertiup ke selatan.
12.    Apit Kayu. 12 Mei - 21 Juni 41 hari, angin bertiup ke timur.


12 nama perhitungan musim pertanian:
1.      Mongso Koso, umur 41 hari mulai 22 Juni sampai 1 Agustus, angin bertiup dari timur menuju barat, merupakan awal musim kemarau.
2.      Mongso Karo, umur 23 hari mulai 2 Agustus sampai 24 Agustus, angin berasal dari timur.
3.      Mongso Katelu, umurnya 24 hari mulai 25 Agustus sampai 17 September, angin bertiup dari timur laut, dan saat ini adalah musim kemarau.
4.      Mongso Kapat, umurnya 25 hari mulai 18 September sampai 12 Oktober, angin bertiup dari barat laut, dan saat ini merupakan musim peralihan, yang juga dikenal sebagai mongso labuh.
5.      Mongso Kalimo, umurnya 27 hari mulai 13 Oktober sampai 8 November, angin bertiup dari utara bertiup kencang sehingga pepohonan sering tumbang. Tanda alam banyak hujan turun.
6.      Mongso Kanem, umurnya 43 hari mulai 9 November sampai 21 Desember, angin bertiup dari barat dan bertiup kencang. Saat ini musim hujan yang terkadang disertai petir
7.      Mongso Kapitu, umurnya 43 hari mulai dari 22 Desember sampai 2 Februari, angin bertiup dari barat. Saat ini musim hujan dengan curah hujan sangat lebat.
8.      Mongso Kawolu, umurnya 27 hari mulai 3 Februari sampai 28 Pebruari atau 29 Februari, angin bertiup dari barat, hujan mulai berkurang.
9.      Mongso Kasongo, umurnya 25 hari mulai 1 Maret sampai 25 Maret, angin bertiup dari selatan.
10.    Mongso Kasadoso, umur 24 hari mulai 26 Maret sampai 18 April, angin bertiup dari tenggara dan bertiup kencang, merupakan musim peralihan menuju kemarau.
11.    Mongso Dhesto, umurnya 23 hari mulai 19 April sampai 11 Mei, angin bertiup dari selatan, saat ini musim kemarau.
12.    Mongso Sodho, umurnya 41 hari mulai 12 Mei sampai 21 Juni, angin bertiup dari timur, saat ini musim kemarau dan tidak ada hujan.


Kalender Masehi:
1.     Bulan Januari: Jumlah hari adalah 31 hari
2.     Bulan Februari: Jumlah hari adalah 28/29 hari
3.     Bulan Maret: Jumlah hari adalah 31 hari
4.     Bulan April: Jumlah hari adalah 30 hari
5.     Bulan Mei: Jumlah hari adalah 31 hari
6.     Bulan Juni: Jumlah hari adalah 30 hari
7.     Bulan Juli: Jumlah hari adalah 31 hari
8.     Bulan Agustus: Jumlah hari adalah 31 hari
9.     Bulan September: Jumlah hari adalah 30 hari
10.   Bulan Oktober: Jumlah hari adalah 31 hari
11.   Bulan November: Jumlah hari adalah 30 hari
12.   Bulan Desember: Jumlah hari adalah 31 hari


Nama bulan Masa Majapahit menurut Negara Kertagama:
1.      Caitra................... (Maret-April)
2.      Waisaka............... (April-Mei)
3.      Jyestha................. (Mei-Juni)
4.      Asadha................. (Juni-Juli)
5.      Srawana............... (Juli-Agustus)
6.      Bhadrapada.......... (Agustus-September)
7.      Aswina................. (September-Oktober)
8.      Kartika................. (Oktober-November)
9.      Margasirsa............ (November-Desember)
10.    Pausa................... (Desember-Januari)
11.    Magda.................. (Januari-Februari)
12.    Phalguna.............. (Februari-Maret)


Bulan dalam kalender Saka:
1.      Caitra: Maret – April
2.      Waiçakna: April – Mei
3.      Jyestha: Mei – Juni
4.      Asadha: Juni – Juli
5.      Çrawana: Juli – Agustus
6.      Bhadrawada: Agustus – September
7.      Asuji: September – Oktober
8.      Karttika: Oktober – November
9.      Marggasira: Nopember – Desember
10.    Fosya: Desember – Januari
11.    Magha: Januari – Februari
12.    Phalguna: Februari – Maret


12 zodiak yang dikenal pada umumnya:
1.      Aries, 21 Maret - 20 April
2.      Taurus, 21 April - 21 Mei
3.      Gemini, 22 Mei - 21 Juni
4.      Cancer, 22 Jun - 22 Juli
5.      Leo, 23 Jul - 22 Agustus
6.      Virgo, 22 Agustus - 22 September
7.      Libra, 24 September - 23 Oktober
8.      Scorpio, 24 Oktober - 22 November
9.      Sagitarius, 23 November - 21 Desember
10.    Capricorn, 22 Desember - 20 Januari
11.    Aquarius, 21 Januari - 19 Februari
12.    Pisces, 20 Februari - 20 Maret

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar