Rabu, 10 April 2013

Manis, Harum, Lembut


persaudaraan adalah mu’jizat, wadah yang saling berikatan
dengannya Alloh persatukan hati-hati berserakan
saling bersaudara, saling merendah lagi memahami,
saling mencintai, dan saling berlembut hati

-Sayyid Quthb-



DI PERJALANAN, pemuda itu terbiasa menyapa dan mengajak bicara siapa saja yang berdiri di dekatnya ataupun duduk di sebelahnya. Setelah itu tergantung lawan bicara; jika mereka merasa nyaman, dia akan mengerahkan kemampuannya berakrab-akrab. Dia akan hanyut bersama mereka dalam perbincangan mengasyikkan. Tapi jika yang disapa terlihat merasa terganggu, dia akan kembali mengakrabi buku yang telah dia siapkan. Sebelum meletakkan bagasi di ruang penyimpanan atas, dia tak pernah lupa membuka tas punggungnya, mengeluarkan sebuah buku dan melemparkannya ke kursi. Setelah itu duduk.

Hari itu, yang duduk di sampingnya dalam penerbangan Jakarta-Singapura tampak tak biasa. Seorang ibu. Sudah cukup sepuh dengan keriput wajah mulai menggelayut. Kerudungnya kusut. Sandalnya jepit sederhana. Dan dalam pandangan si pemuda, beliau tampak agak udik. Tenaga kerjakah? Setua ini?

Tetapi begitu si pemuda menyapa, si ibu tersenyum padanya dan tampaklah raut muka yang sumringah dan merdeka. Sekilas, garis-garis ketuaan di wajahnya menjelma menjadi semburat cahaya kebijaksanaan. Si pemuda takjub.

“Ibu hendak ke mana?” tanyanya sambil tersenyum ta’zhim.

“Singapura, Nak.” senyum sang ibu bersahaja.

“Akan bekerja atau…?”

“Bukan, Nak. Anak Ibu yang nomor dua bekerja di sana. Ini mau menengok cucu. Kebetulan menantu Ibu baru saja melahirkan putra kedua mereka.”

Si pemuda sudah merasa tak enak atas pertanyaannya barusan. Kini dia mencoba lebih hati-hati.

“Oh, putra Ibu sudah lama kerja di sana?”

“Alhamdulillah, lumayan. Sekarang katanya sudah jadi Permanent Resident begitu. Ibu juga nggak ngerti apa maksudnya, hehe… Yang jelas di sana jadi arsitek. Tukang gambar gedung.”

Si pemuda tertegun. Arsitek? PR di Singapura? Hebat!

“Oh iya, putra Ibu ada berapa?”

“Alhamdulillah, Nak. Ada empat. Yang di Singapura ini, yang nomor dua. Yang nomor tiga sudah tugas jadi dokter bedah di Jakarta. Yang nomor empat sedang ambil S2 di Jerman. Dia dapat beasiswa.”

“Masya Alloh. Luar biasa. Alangkah bahagia menjadi Ibu dari putra-putra yang sukses. Saya kagum sekali pada Ibu yang berhasil mendidik mereka.” Si pemuda mengerjap mata dan mendecakkan lidah.

Si ibu mengangguk-angguk dan berulangkali berucap “Alhamdulillah.” Lirih. Matanya berkaca-kaca.

“Oh iya maaf, Bu… Bagaimana dengan putra Ibu yang pertama?”

Si ibu menundukkan kepala. Sejenak tangannya memain-mainkan sabuk keselamatan yang terpasang di pinggang. Lalu dia tatap lekat-lekat si pemuda. “Dia tinggal di kampung, Nak. Sawah peninggalan bapaknya.” Si ibu terdiam. Beliau menghela nafas panjang, menegakkan kepala. Tapi kemudian menggeleng, menerawang ke arah jendela sambil mengulum senyum yang entah apa artinya. Si pemuda menyesal telah bertanya. Betul-betul menyesal. Dia ikut prihatin.

“Maaf Bu kalau pertanyaan saya menginggung Ibu. Ibu mungkin jadi sedih karena tidak bisa membanggakan putra pertama Ibu sebagaimana putra-putra Ibu yang lain.”

“Oh tidak, Nak. Bukan begitu!” si Ibu cepat-cepat menatap tajam namun lembut pada si pemuda. “Ibu justru sangat bangga pada putra pertama Ibu itu. Sangat-sangat bangga. Sangat-sangat bangga!” Si Ibu menepuk-bepuk pundak si pemuda dengan mata berbinar seolah dialah sang putra pertama.

“Ibu bangga sekali padanya, karena dialah yang rela membanting tulang dan menguras tenaga untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Bahkan dialah yang senantiasa mendorong, menasehati, dan mengirimi surat penyemangat saat mereka di rantau. Tanpa dia, adik-adiknya takkan mungkin jadi seperti sekarang ini!” sang Ibu terisak.

Sunyi. Tak ada kata.

Pemuda itu mengambil sapu tangan. Genangan di matanya tumpah…

                                                                                         ***

Banyak yang bertanya tentu, mengapa gambar sampul buku ini adalah mangkuk persaudaraan yang berisikan buah-buahan. Bahwa mangkuk itu menggambarkan orang-orang berdekapan dan bergandeng tangan, kita faham. Sayyid Quthb dalam Fii Zhilaalil Qur’an telah menyebut ukhuwah sebagai wadah yang saling berikatan. Tetapi mengapa yang berada di dalam dekapan mangkuk itu, dalam dekapan ukhuwah itu, adalah buah warna-warni yang menggoda hati?

Uniknya, saya harus menjawab tanya insani itu dengan sebuah tanya Robbani. Sebuah tanya yang mengisyaratkan bahwa selama ini kita memang kurang memperhatikan hal itu. Sebuah tanya yang menginsyafkan bahwa yang dinanti oleh dunia dari pohon iman kita adalah rasa buahnya, sementara kita telah sekian lama hanya membanggakan akar yang teguh, pokok yang kokoh, dan reranting yang menjulang di langit sejarah. Selama ini, rasa buah dari pohon iman kita mungkin belum menyapa mulut-mulut kehausan, perut-perut kelaparan, dan tubuh-tubuh lunglai yang merindukan gizi kemanfaatan.

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Alloh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Robbnya. Alloh membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Qs. Ibrohim [14]: 24-25)

Ampuni kami, ya Robbi. Jika selama ini kami lalai dari memperhatikan hakikat ini.

Ayat ini bicara kepada kita dengan pilihan kata “ukul”, dan bukannya “tsamarot”. Memberikan bukan sekedar buah, namun apa yang terasa lezat dan nikmat dari buah itu. Rasa. “Tu’ti ukulaha, memberikan rasa buahnya di tiap musim dengan izin Robbnya.” Ukhuwah adalah soal menyuapkan lezatnya rasa buah dari pohon iman kita. Tanpa henti, tanpa jeda, dengan rasa terbaik yang kita hasilkan dari tumbuh dan mekarnya pohon iman.

Seperti kisah si ibu tua dan sang pemuda. Rasa buah dari pohon iman kita seharusnya adalah kemanfaatan setinggi-tingginya bagi saudara-saudara kita. Iya, berprestasi menjadi arsitek, menjadi dokter, dan belajar di luar negeri sungguhlah sesuatu yang amat tinggi nilainya. Tetapi mungkin itu sekedar cabang yang menjulang tinggi di langit. Indah. Agung. Menakjubkan. Mempesona. Tetapi semua kementerengan profesi dan status itu dikalahkan nilainya oleh seorang petani yang tinggal di kampung sunyi.

Karena berkat kerja keras sang petanilah segala kemegahan itu dicapai. Sebab atas segala dorongan dan bimbingannyalah semua keberhasilan itu digapai. Dia yang telah memerah rasa ternikmat dari cinta tulusnya pada keluarga dan mempersembahkannya demi kebermaknaan hidup adik-adiknya. Cinta dan kasihnya berbuah. Rasanya manis, baunya harum, teksturnya lembut.

“Orang mukmin itu,” tulis Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil ‘Adhim, “Bagaikan sebuah pohon yang berbuah setiap waktu. Pada musim panas maupun dingin, pada malam hari juga pada siangnya. Demikianlah seorang mukmin yang senantiasa diangkat amal baiknya sepanjang malam dan selama siang di tiap detik, tiap kejap, tiap saat. Dengan izin Robbnya, yakni secara sempurna, baik, banyak, bagus, dan penuh keberkahan.”

Sang kakak, sang petani, telah mengajarkan kita hakikat cinta yang berbuah nikmat. Rasanya manis, aromanya harum, sentuhan-nya lembut. Dengan itulah dia suburkan cabang dan ranting dari jiwa saudara-saudaranya agar menjulang menggapai langit. Persaudaraannya dengan adik-adiknya adalah persaudaraan darah. Ikatan mereka ikatan nasab. Dalam dekapan ukhuwah, sanggupkah kita merasa bahwa persaudaraan kita ini atas dasar aqidah, atas dasar iman, mengunggulinya dalam menyuapkan rasa lezat buah keyakinan?

Dalam dekapan ukhuwah, jawabannya harus ya! Karena kita telanjur berkata bahwa ikatan persaudaraan ini lebih tinggi dari pertautan rahim dan pertalian darah.

Dalam dekapan ukhuwah, jawabannya harus ya! Sebab kita mengambil bahannya bukan dari bumi yang sesak dan sempit.

Dalam dekapan ukhuwah, jawabnya harus ya! Karena kita akan mengambil racikan cintanya dari bentangan langit nan tak terbatas.

                                                                                         ***

Sungguh untuk bisa menyajikan rasa buah yang lezat dari keimanan pada mereka yang kita cintai, lebih dahulu kita akan mengambil cinta dari langit. Kita akan menyesapnya dari sumber yang tak habis-habis. Kita akan menadahnya dari curahan yang tak kenal henti. Kita akan menimbanya dari mata air yang tak pernah kering. Kita akan merengkuhnya dari semesta yang tak terhingga. Kita akan mengambil cinta dari langit, lalu menebarkannya di bumi.

Tetapi bagaimanakah caranya menghubungkan diri kita yang tertatih di bumi dengan langit yang begitu tinggi? Tetapi bagaimanakah menghubungkan jiwa kita yang lemah dengan kekuatan yang seolah tak terjangkau? Alloh, Penguasa langit dan bumi, menjawabnya dalam sebuah hadits Qudsi.

“Tiadalah hamba-Ku,” begitu Dia berfirman, “Mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai, daripada saat dia jalani apa-apa yang Aku wajibkan untuknya. Dan hamba-Ku itu tidak puas hanya dengan menjalankan yang wajib saja. Maka dia terus mendekat kepada-Ku dengan hal-hal yang Aku sunnahkan, sampai Aku mencintainya.”

“Maka jika Aku telah mencintainya,” lanjut-Nya, “Aku akan menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk menyimak. Aku akan menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk menyaksikan. Aku akan menjadi tangan serta kakinya yang dia gunakan untuk bertindak dan bergerak. Jika dia memohon pada-Ku, Aku akan menjawab pintanya. Jika dia minta perlindungan, maka Aku pasti melindunginya.”

Dalam dekapan ukhuwah, alangkah rindunya kita mencintai saudara-saudara kita dengan cinta Alloh. Alangkah inginnya kita memperlakukan mereka dengan perlakuan Alloh. Alangkah harap-nya kita bisa bergaul pada mereka dengan akhlak Alloh. Kita ingin menatap mereka dengan tatapan rohmat-Nya. Kita ingin gandeng mereka dengan tangan hidayah-Nya. Kita ingin menjajari langkah mereka dengan tapak ridho-Nya.

Di situlah mahabbah. Di situlah cinta langit yang kita peluk, lalu kita semaikan kembali di bumi.

“Mahabbah,” demikian ditulis Ibnul Qoyyim al-Jauziyah dalam Madarijus Saalikiin, “Adalah kejernihan cinta. Ia adalah kekuatan, ketinggian, dan besarnya keinginan hati kepada yang dicinta, karena pertautannya dengan yang ia cinta dan inginkan. Mahabbah adalah keteguhan keinginan kepada yang dicinta. Ia adalah kehendak untuk selalu bersama, dan keengganan meninggalkannya agar sang pencinta bisa memberikan hal paling berharga yang dimilikinya pada yang dicintai. Yakni hatinya.”

Dalam dekapan ukhuwah, kita tunaikan kewajiban-kewajiban untuk menghubungkan diri dengan-Nya. Kita genapkan sunnah-sunnah untuk mengambil cinta-Nya. Lalu kita sedekahkan hati yang telah terisi cinta Ilahi kepada segenap penduduk bumi…

Sumber: Dalam Dekapan Ukhuwah; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar