Senin, 22 April 2013

Paulus dan ‘Abdulloh ibn Sabaa


ALKISAH, seorang Yahudi begitu bersedih. Dari ketiga putranya, yang bungsu pindah agama menjadi seorang Kristen. Dia termenung di sinagog besar mengadu pada YHWH, Tuhannya. “Tuhan, mengapa Kau biarkan salah satu anakku memasuki jalan sesat dengan menjadi seorang Kristen.” Pengaduannya terputus, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara entah dari mana. “Mendingan juga kamu, anak masih dua yang beriman. Lha Aku, anak-Ku satu-satunya saja masuk Kristen dan jadi Tuhan di sana. Celaka beybeh.”

Yang begini-begini, sumbernya ya Gus Dur.

The first Christian. Begitulah Karen Armstrong menyebut Paulus. Lalu Yesus? Jelas, Yesus seorang Yahudi. Ia lahir sebagai Yahudi, hidup sebagai Yahudi, dan -menurut Armstrong- mati sebagai Yahudi. Menganalisis setiap kalimat yang keluar dari Yesus -sementara begitu saja saya menyebutnya-, dan membandingkannya dengan apa yang ‘dikredokan’ oleh Paulus sebagai pondasi besar kekristenan membuat kita terperangah. Selalu bertolak belakang!

Lukas 16:17 mencatat kata-kata Yesus, “Lebih mudah langit dan bumi lenyap daripada satu titik dari hukum Taurot batal,” Matius 5:17-18 juga mencatat, “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurot atau kitab para Nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapkannya. Karena aku berkata kepadamu, “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurot, sebelum semuanya terjadi.” Sementara Yohannes 7:49 mencatat, “Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurot, terkutuklah mereka!”

Itu Yesus. Apa kata Paulus? Beda lagi. Dalam I Korintus 15:56, Paulus mengatakan, “Sengat maut adalah dosa. Dan kuasa dosa adalah hukum Taurot.” Dalam Roma 4:15, ia berpandangan, “Karena hukum Taurot membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurot, di situ tidak ada juga pelanggaran.”

Setelah beropini bahwa hukum Taurot itu menyusahkan, Paulus berkata dalam Roma 7:6, “Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurot, sebab kita telah mati bagi dia yang mengurung kita, yang sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurot.” Sebelumnya, dalam Roma 6:14, Paulus mengatakan, “Sebab kamu tidak akan lagi dikuasai oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurot, tetapi di bawah kasih karunia.” Puncaknya, sambil menanamkan doktrin ketuhanan Yesus, Paulus berkata dalam Efesus 2:15, “Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia, Ia telah membatalkan hukum Taurot dengan segala segi dan ketentuannya.”

Beberapa contoh kecil ini cukup membuat orang berkesimpulan, jika Yesus adalah Kristus, maka Paulus adalah Anti-Kristus. Bagaimana bisa Paulus, seorang Yahudi dari Tarsus yang sebelumnya dikenal sebagai penganiaya murid-murid Yesus itu bisa memutar balik semua dasar kekristenan?

Karen Armstrong mencatat setelah penelusurannya bertahun-tahun terhadap sejarah awal kekristenan, “Saya kini mengetahui bahwa surat-surat rosul Paulus merupakan dokumen Kristen paling awal yang masih ada dan bahwa Injil, yang semuanya ditulis bertahun-tahun setelah kematian Paulus sendiri, ditulis oleh orang-orang yang telah mengadopsi versi Kristennya Paulus. Bukannya Paulus menyimpangkan Injil, tetapi -lebih dari itu-, Injil-lah yang justru memperoleh visinya dari Paulus.” (Karen Armstrong; The Spiral Staircase, My Climb Out of Darkness, hal 428)

Maka kecelakaan yang besarlah bagl orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Alloh”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. (Qs. al-Baqoroh[2]: 79)

Awalnya, inilah agama yang ditindas di seantero Imperium Romanum. Hingga, Konstantin, Kaisar cerdik itu membutuhkan stabilitas di negerinya yang mau tak mau harus dimulai dari perangkulan terhadap komunitas Kristen yang makin membesar. Atas prakarsanya, Konsili Nicea di tahun 327 M memvoting dasar-dasar kekristenan tentang ketuhanan Yesus, dosa waris, dan penebusan dosa. Semuanya hanyalah paganisasi sebagaimana dikehendaki oleh Konstantin. David Fiedler memberi sampul bukunya Ancient Cosmology and Early Christian Symbolism dengan tulisan plesetan dominan “Jesus Christ, Sun of God.” Ya, karena semua yang diatributkan pada Yesus, -dari tanggal lahir, tempat lahir, hingga hari ibadah Sunday-, adalah atribut Sol Invictus, dewa matahari yang dipuja Konstantin.

Maka, walk out-lah Arius, Imam Alexandria dan pengikutnya yang tetap bersikukuh meyakini kenabian Yesus. Tragis, ia dibantai rezim Konstantin yang kemudian mengambil hasil konsili Nicea sebagai agama negara. Maka ketika Rosululloh Muhammad menulis surat untuk Heraclius, kaisar Romawi di masanya, beliau tak lupa untuk menuliskan kalimat, “Masuklah Islam, niscaya Alloh akan melimpahkan kebaikan kepada tuan dua kali lipat. Namun jika tuan berpaling, maka tuan akan menanggung dosa atas Arisiyin.” Arisiyin berarti para pengikut Arius yang dibantai.

Inilah sebuah agama yang dihasilkan dari konspirasi. Umberto Eco dalam Il Namo della Rossa menyindirnya sebagai ‘derma Konstantin’. Sementara dalam The Da Vinci Code, Dan Brown menyebutnya ‘kelicikan Konstantin, Sang Kaisar Pagan’.

Unik juga. Modus operandi yang sama, dicobakan seorang Yahudi lain kepada agama Islam yang dibawa Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi wa Sallam. Namanya ‘Abdullah ibn Sabaa. Tetapi ia tak sesukses Paulus. Ia hanya berhasil membangun sebuah sistem kepercayaan yang di kemudian hari disebut sebagai Syi’ah. Jika objek Paulus adalah diri Yesus, maka ‘Abdulloh ibn Sabaa menggunakan ‘Ali ibn Abi Tholib.

Al-Qodhi Abu Ya’la ketika menjelaskan fitnah besar yang melanda kaum Muslimin di masa khilafah ‘Ali ibn Abi Tholib menyebut dengan jelas peran ‘Abdulloh ibn Sabaa. Satu kisahnya yang terkenal, ketika ‘Ali dan pasukannya memasuki ‘Iraq pasca tahkim (arbitrase), ‘Abdulloh menghasut sekelompok orang untuk bersujud pada ‘Ali, yang disebutnya sebagai ‘Pemegang washiat Nabi, orang yang dipilih untuk menggantikan beliau, imam junjungan kaum beriman, manifestasi Alloh di muka bumi’.

Ketika mendapati orang-orang itu sujud, ‘Ali sangat marah dan memerintahkan untuk membakar mereka. Maka ‘Abdulloh ibn Sabaa kembali beraksi, “Aku telah mendengar hadits dari Nabi Shollalloohu ‘Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, ‘Tidak akan menyiksa dengan api kecuali Alloh.’ Adakah kita kenal ‘Ali selain sebagai sosok ini?”

Inilah dasar bagi salah satu sekte paling ekstrim dalam Syi’ah; Kaisaniyah yang sampai menempatkan kedudukan ‘Ali sebagai manifestasi Alloh. Guntur adalah geramnya, dan halilintar adalah cambuk ‘Ali yang murka pada para durjana. Tentu saja kerahasiaan keyakinan yang terlindungi oleh taqiyyah menyebabkan munculnya berbagai aliran Syi’ah yang sangat banyak dari yang paling moderat hingga paling ekstrim. Tapi pilar ajaran mereka tiga: ‘ishmah, ruj’ah, dan taqiyyah. Masing-masing bermakna bahwa para Imam itu bersih dari dosa, kembalinya imam yang menghilang, dan kebolehan menyembunyikan keyakinan jika merasa terancam.

Leopold Weiss, Yahudi Polandia yang mengganti namanya menjadi Muhammad Assad setelah meraih hidayah mengisahkan perjalanannya di Iran dalam The Road to Mecca. Alangkah kontrasnya kegembiraan dan keriangan khas suku-suku Arab gurun yang ditemuinya di Hijjaz dan Najd dengan kemurungan dan kesayuan yang menjadi lekatan di wajah orang-orang Iran. Secara fisik mereka gagah, tapi tidak tegap. Kesedihan yang parah. Seolah mendung selalu bergayut di raut muka itu. Ada apa ini? Adakah hubungannya dengan perayaan ratap duka yang senantiasa mereka lakukan di tanggal 10 Muharrom untuk mengenang syahidnya Husain di Karbala?

Ya. Tepatnya bukan hubungan sebab akibat, tapi sama-sama akibat. Akibat dari sebuah shock budaya dan shock peradaban. Sebuah frustrasi atas kekalahan peradaban mereka yang begitu agung dalam memori, peradaban Imperium Persia Sassaniyah. Ketika angkatan perang Kholifah ‘Umar dipimpin Sa’d ibn Abi Waqqosh menaklukkan kekaisaran ini dan sekaligus membawakan Islam, kultus Zoroaster telah memasuki palung kebekuan, sehingga ia tak mampu melakukan perlawanan terhadap ide dinamis baru dari jazirah Arab. Peremajaan sosial dan intelektual yang sedang berkecambah di titik balik itu tiba-tiba larut oleh serbuan kekuatan baru yang sungguh-sungguh berbeda.

Islam hadir menghancurkan sistem kasta bangsa Iran kuno dan menghadirkan satu sistem sosial yang egaliter dan bebas. Islam membuka celah baru bagi berkembangnya energi-energi kebudayaan yang sejak lama menggelegak diam tak tentu bentuknya. Tetapi kultus keagungan keturunan Darius dan Xerxes yang tak serta merta terpinggir, seolah diputus, dipenggal antara hari kemarin dan esok. Hari ini, oleh Islam. Suatu bangsa yang memiliki watak begitu halus, telah mendapatkan ekspresinya dalam dualisme asing agama Zand dan pemujaan pantheistis terhadap keempat unsur -udara, air, api, dan tanah-, kini dihadapkan pada kesederhanaan Islam dengan monotheisme tak kenal kompromi. Peralihan itu, kata Leopold Weiss, terlalu tajam dan perih.

Lebih dari itu, ada perasaan terpendam mendalam ketika mereka mengidentikkan kemenangan cita Islam sebagai kekalahan peradaban mereka. Perasaan sebagai bangsa yang dikalahkan dan kehancuran tak kenal ampun terhadap wadah warisan peradaban mereka memperparah keberantakan mereka, sehingga Islam, yang bagi bangsa-bangsa lain adalah pembebasan dan rangsang kemajuan, menjadi sebuah kerinduan supernatural dan simbolik yang samar.

Syi’ah, yang digarap ‘Abdulloh ibn Sabaa menawarkan sesuatu yang lebih dekat dengan masa lalu jiwa-jiwa kalah ini. Doktrin mistik, manifestasi Tuhan dalam jasad-jasad terpilih yang agung, kesemuanya disambut sebagai jalan tengah untuk Islam yang lebih ‘ramah’ terhadap kejiwaan dan kemasyarakatan mereka. Syi’ah, yang hampir menyerupai pendewaan terhadap ‘Ali dan keturunannya itu, menyembunyikan cita benih inkarnasi dan penjelmaan kembali terus menerus. Suatu cita yang sangat asing bagi Islam, tetapi sangat akrab bagi kalbu bangsa Iran. Syi’ah menawarkan ratap duka atas Husain sebagai cermin kepedihan atas kekalahan jiwa yang telah terjadi saat ‘Umar menaklukkan peradaban lama mereka. Begitu seterusnya.

Oh, kini mudah menjawab, mengapa meski Syi’ah membenci Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman sebagai perampas hak ‘Ali, kebencian itu dibidikkan lebih ganas kepada ‘Umar. Mengapa bukan Abu Bakr si ‘perampas’ pertama? Karena, ‘Umarlah yang meleburkan kebanggaan psikologis bangsa Iran itu, sesuatu yang diterakan dalam jiwa sebagai kenangan pahit; Imperium Sassaniyah. Dan ‘Umar pun syahid di mihrob, di tangan seorang budak Iran bernama Firouz.[]


Sumber: Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar