Senin, 08 Juni 2015

Tholhah, Sebuah Kenangan Atas Cinta

kita semua, anak Adam, pernah melakukan kesalahan
dalam dekapan ukhuwah, kelembutan nurani memberi kita
sekeping mata uang yang paling mahal untuk membayarnya
di keping uang itu, satu sisi bertuliskan “akuilah kesalahanmu”
sisi lain berukir kalimat, “maafkanlah saudaramu yang bersalah”




MARI coba mengingat kapan terakhir kali kita melakukan kesalahan fatal. Bukankah saat itu kita sangat ingin ada seseorang yang tampil untuk mengatakan, “Ah, ini bukan hal yang serius!”?

Ya. Itu memang tidak menyelesaikan masalah. Ia tidak memberi jawab kepada persoalan. Tetapi setidaknya kita terhibur dan merasa bahwa kita tak sendiri. Sungguh, perasaan semacam itu akan menguatkan tekad kita untuk menebus kesalahan dengan hal yang jauh lebih baik lagi.

Demikianlah seharusnya dalam dekapan ukhuwah, kita berdamai dengan kesalahan sesama. Tepuklah mereka dengan hangat di bahu dan pundaknya. Katakan, siapapun, bahkan yang terbaik, bisa keliru. Sediakan hati kita untuk memakluminya. Yakinkan bahwa kesalahan itu tak berarti kiamat.

“Barangsiapa yang meringankan kesulitan seorang Mukmin di dunia,” begitu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam riwayat Imam Muslim, “Maka Alloh akan meringankan kesulitannya di akhirat. Barangsiapa yang memudahkan urusan orang beriman, maka Alloh akan memudahkan baginya dunia dan akhiratnya. Siapa saja yang menutupi aib saudara Mukminnya, maka Alloh akan menjaga aibnya di dunia dan akhirat. Dan Alloh senantiasa akan menjadi penolong bagi seorang hamba, selama hamba itu berupaya menolong saudaranya.”

Lihatlah Rosululloh ketika Kholid ibn al-Walid melakukan sebuah kesalahan fatal dengan membunuh Bani Jadzimah yang telah menyerah. Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam begitu berduka. Apa yang dilakukan Kholid benar-benar telah melampaui batas. Kini seluruh bangsa Arab membelalakkan mata mereka, menyorot ke arah Madinah. Selama ini mereka telah menganggap kaum Muslimin sebagai teladan tertinggi dalam segala perihidup dan etika perang. Dengan kejadian ini, seolah mereka hilang harapan. Seolah mereka sadar dari lamunan bahwa bagaimanapun orang-orang di sekitar Muhammad bukanlah malaikat.

Kholid tersalah. Para shohabat menghardik dan menegurnya dengan keras. Tetapi betapa mulia Nabinya, gurunya, dan kekasihnya itu. Rosululloh tak membiarkan Kholid menjadi olok-olok dan sasaran cela setelah kesalahan fatalnya itu ditebus dengan diyat yang dibayarkan ‘Ali ibn Abi Tholib atas nama beliau. Bahkan beliau menegaskan kembali bahwa peran dan gelarnya sebagai Pedang Alloh tidaklah dicabut. “Jangan lagi kalian mencela Kholid,” kata beliau, “Sesungguhnya dia adalah salah satu pedang dari pedang-pedang Alloh yang dihunus-Nya kepada kaum musyrikin.”

***

Tiap pahlawan punya kisahnya sendiri.

Di Perang Uhud, ketika tubuhnya memerisai Rosululloh dan tujuh puluh luka berlomba menguras darahnya, Tholhah ibn ‘Ubaidillah berdo’a sambil menggigit bibir. “Robbiy,” begitu lirihnya, “Khudz bidaamii hadzal yauum, hattaa tardhoo. Ya Alloh, ambil darahku hari ini sekehendak-Mu hingga Engkau ridho.” Tombak, pedang, dan panah yang menyerpih tubuh dibiarkannya, dipeluknya badan Sang Nabi seolah tak rela seujung bulu pun terpapas.

“Kalau ingin melihat syahid yang masih berjalan di muka bumi,” begiru Sang Nabi bersabda, “Lihatlah pada Tholhah”. Dan Tholhah, yang jalannya terpincang, yang jarinya tak utuh, yang tubuhnya berlumur luka tersenyum malu dan menitikkan air mata. Terlihatlah di pipinya bening luh itu, mengalir di atas darah yang mengering merah.

Tetapi tiap pahlawan punya kisahnya sendiri.

Satu hari ia berbincang dengan ‘Aisyah, istri Sang Nabi, yang masih terhitung sepupunya. Rosululloh datang, dan wajah beliau pias tak suka. Dengan isyarat, beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam meminta ‘Aisyah masuk ke dalam bilik. Wajah Tholhah memerah. Ia undur diri bersama gumam dalam hati. “Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Alloh, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar ‘Aisyah.”
Satu saat dibisikkannya maksud itu pada seorang kawan, “Ya, akan kunikahi ‘Aisyah jika Nabi telah wafat.”

Gumam hati dan ucapan Tholhah disambut wahyu. Alloh menurunkan firman-Nya kepada Sang Nabi dalam ayat kelimapuluh tiga surat al-Ahzab, “Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada istri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rosululloh dan tidak boleh menikahi istri-istrinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”

Ketika ayat itu dibacakan padanya, Tholhah menangis. Dia lalu memerdekakan budaknya, menyumbangkan kesepuluh untanya untuk jalan Alloh, dan menunaikan umroh dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya. Kelak, tetap dengan penuh cinta dinamainya putri kecil yang disayanginya dengan asma ‘Aisyah. ‘Aisyah binti Tholhah. Wanita jelita yang kelak menjadi permata zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya. Persis seperti ‘Aisyah binti Abi Bakar.

Begitulah, tiap pahlawan punya kisahnya sendiri.

Sesudah wafatnya ‘Utsman ibn ‘Affan di tangan para pemberontak, fitnah besar itu terjadilah. Tholhah bersama az-Zubair ibn al-‘Awwam dan ‘Aisyah memerangi ‘Ali ibn Abi Tholib untuk menuntut bela kematian ‘Utsman, meminta ditegakkannya keadilan atas para pembunuhnya yang sebagiannya kini menjadi penyokong utama kekholifahan ‘Ali ibn Abi Tholib. Keadaan sangat tidak mudah bagi ‘Ali. Pilihan-pilihannya terbatas. Tholhah tahu itu. Tapi dia sendiri juga kesulitan bersikap lain di tengah kedua kubu.

Satu hari, dalam perang yang dikenal sebagai Waq’atul Jamal itu, ‘Ali mengirim utusan, memohon agar bisa berjumpa dengan kedua sahabat yang dicintainya; Tholhah dan az-Zubair. Mereka berdua datang. Mereka bertiga berpelukan. Tak terasa air mata meleleh. Kenangan-kenangan ketika ketiganya bersipadu di sisi Rosululloh berkelebatan dengan indah. Namun kini terasa menyesakkan. Menyakitkan. Dulu pedang mereka seayun, langkah mereka sebaris, tangannya bergandengan. Kini mereka harus berhadapan saling menghunus pedang, dengan mata saling menatap tajam, tapi hati tersembilu.

Dan seolah tak ada jalan selain itu.

Sesudah menyeka air mata, ‘Ali menggenggam jemari tholhah dan menatap dalam ke wajahnya. Dengan menghela nafas, ‘Ali mencoba menyusun kata. “Ingatkah engkau, hai Tholhah, mengapa Alloh turunkan ayat tentang hijab bagi istri Nabi dan mengapa Dia melarang kita untuk menikahi janda beliau?”

Tholhah terisak. Dadanya bergemuruh oleh malu dan sesal. Bahu kekarnya bergeletar.

‘Ali menepuk bahu Tholhah. “Ya,” katanya sambil mengalihkan pandangan, tak sanggup melihat tercabiknya batin Tholhah oleh kata-katanya. Tapi demi perdamaian dan persatuan kembali kaum Muslimin, ‘Ali mau tak mau harus mengatakan ini. Ia menguatkan hati. “Ayat itu turun karena maksud hati dan ucapanmu untuk menikahi ‘Aisyah.”

‘Ali meraba reaksi Tholhah. Lalu Ia melanjutkan sambil menatap tajam pada sahabatnya itu. “Dan kini sesudah beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam benar-benar wafat, mengapa engkau justru membawa ‘Aisyah keluar dari hijabnya dan mengajaknya mengendarai unta dan berperang di sisimu?”

Tholhah menubruk ‘Ali, memeluk dan menangis di bahunya. Hari itu mereka sepakat berdamai dan menyudahi perang saudara. Dan di hari itu pula, sepulang dari kemah ‘Ali, Tholhah bersama az-Zubair sahabatnya dibunuh oleh orang-orang yang tak menghendaki perdamaian. Dan ‘Ali ibn Abi Tholib dengan duka yang begitu dalam, sore itu, menggali kubur untuk kedua cintanya.

Seusai pemakaman, ‘Ali menimang putra Tholhah yang masih kecil. Kepada bocah itu dia berbisik. “Nak,” kata ‘Ali, “Aku sungguh berharap, aku dan ayahmu termasuk orang-orang yang difirmankan oleh Alloh di Surat al-Hijr ayat keempatpuluh tujuh; ‘Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadapan di atas dipan-dipan.”

***

Beruntunglah Tholhah yang telah berbuat salah, dan berani mengakuinya. Dialah pahlawan sejati, dan keperwiraannya akan dikenang sepanjang masa. Kemampuan dan keberanian untuk mengakui kesalahan adalah anugerah yang langka. “Mengakui kesalahan,” begitu ditegaskan oleh tim The Dale Carnegie Training dalam The 5 Essential People Skills, “Adalah salah satu tindakan paling terhormat dalam kehidupan, karena hanya sedikit orang yang mau melakukannya.” Mari kita belajar sedikit demi sedikit untuk memilikinya.

“Terlalu banyak membuat alasan,” tulis Marshall Goldsmith dalam karya mumpuninya What Got You Here Won’t Get You There, “Adalah salah satu kebiasaan yang akan membuat kita jalan di tempat.” Banyak membuat alasan untuk tidak mengakui kesalahan kita takkan membawa kita ke manapun. “Ada dua macam alasan di dunia ini,” lanjut Goldsmith, “Yang satu bodoh, yang satu lagi licik.”

Alasan yang bodoh itu semacam, “Anjing memakan PR saya.” Atau katakanlah, “Maaf saya lupa janjian makan siang kita. Asisten saya salah menandai hari di kalender.” Tentu saja pesan yang ingin disampaikan oleh alasan semacam ini adalah: ini bukan karena saya lupa, ini bukan karena saya tak menghargai Anda. Ini semata karena asisten saya tidak becus. Jangan salahkan saya, salahkanlah dia!

Maka kiat pertama untuk menjadi seorang yang mampu mengakui kesalahan dalam dekapan ukhuwah adalah berhenti membuat alasan untuk membenarkan diri. Begitulah yang diperbuat Tholhah. Ketika ayat yang menegurnya turun, dia tak bersusah payah menyusun alasan misalnya menyalahkan ‘Aisyah. Dia langsung memerdekakan budaknya, menyumbangkan kesepuluh untanya untuk jalan Alloh, dan menunaikan umroh dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya.

Kedua, mari kita ganti awal pembicaraan ‘Tidak’, ‘Tapi’, dan ‘Bagaimana pun juga’, dengan ‘Terima kasih’. Tentang ini, Marshall Goldsmith punya cerita. “Beberapa tahun lalu,” ujarnya, “CEO sebuah perusahaan terkemuka meminta saya untuk meng-coach Chief Operational Officer (COO)-nya. Orang ini sangat berbakat, tapi dia keras kepala dan banyak alasan.”

Pertama kali bertemu, Goldsmith langsung mengajaknya untuk membahas sebuah masukan dan umpan balik dari seorang bawahan. “Tapi Marshall,” ujar sang COO, “Saya tidak melakukannya.”

“Yang itu gratis,” kata Goldsmith, “Berikutnya jika saya mendengar kata ‘Tidak’, ‘Tapi’, atau ‘Bagaimana pun juga’, itu akan bernilai 20 dollar! OK?”

“Tapi,” dia menjawab, “Itu bukan…”

“Itu 20 dollar!”

“Tidak,” sangkalnya, “Saya tidak…”

“Itu 40 dollar!”

“Tidak, tidak, tidak!”

“Itu 60, 80, dan 100 dollar!”

Dalam satu jam, sang COO kehilangan 420 dollar. Dan masih perlu dua jam berikutnya agar dia kemudian sadar untuk menggantinya dengan “Terima kasih!” Dia telah mengubah kalimat-kalimat penyangkalannya menjadi kata termanis dalam bahasa kita.

Kata ini tidak hanya menenteramkan dan menyenangkan saat terdengar di telinga, ia bahkan membantu kita untuk menghindar dari banyak masalah lain. Terima kasih adalah kata yang bisa kita ucapkan di saat ada begitu banyak hal yang tak menyenangkan, dan syukurnya, takkan ada yang tersakiti oleh kata itu. Dan bagi seorang Mukmin, kesempurnaan itu bisa kita lengkapi dengan sebuah do’a, “Jazaakumulloohu khoiron katsiiroo, semoga Alloh membalas engkau dengan kebaikan yang banyak.”

Yang ketiga, “Katakanlah ‘Maaf’,” kata Marshall Goldsmith, “Dan Anda akan merasa lebih baik.” Mungkin terasa menyakitkan untuk mengakui bahwa kitalah yang salah. Jadi kita tak meminta maaf agar merasa benar. Mungkin terlihat memalukan untuk meminta maaf, karena kita akan tampak seperti sebagai pihak yang lebih rendah. Mungkin meminta maaf membuat kita merasa menyerahkan kendali hidup kita pada orang lain.

Tetapi sadarilah bahwa ketaksediaan untuk meminta maaf sama saja dengan menulis kalimat “Aku tidak peduli!” di dahi kita. “Maka sungguh suatu kebenaran yang ironis,” tulis Goldsmith, “Bahwa semua ketakutan itu―takut kehilangan, takut mengakui kitalah yang salah, takut terlihat lebih asor, takut menyerahkan kendali―bisa dihapus dengan satu permintaan maaf.” Ketika mengatakan, “Saya minta maaf”, simpati akan terhirup dan kebaikan-kebaikan akan terserap.

Aturan keempat, berhentilah untuk berusaha tampil sempurna. Kecenderungan untuk tampil sebagai sosok tanpa kesalahan justru menjerumuskan kita ke dalam banyak kekeliruan. “Kami menyebutnya menghindari kesalahan,” begitu tertulis dalam What Get You Here Won’t Get You There. “Dan tragisnya adalah, menghindari kesalahan akan menuntun kita untuk menghindari resiko atas hal-hal yang sebenarnya menjadi tanggung jawab kita. Atau yang lebih buruk, kita dibiasakannya untuk melempar kesalahan kepada orang lain.” Maka jadilah ia kesalahan yang berlipat pangkat.

***

Dalam dekapan ukhuwah, kelembutan nurani menuntun kita untuk menjadi anak Adam sejati; memiliki kesalahan, mengakuinya, memperbaikinya, dan memaafkan sesama yang juga tak luput dari khilaf dan lupa.


Credit: “Dalam Dekapan Ukhuwah”; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Nasehat Artinya Ketulusan

nasehati aku di kala kita hanya berdua
jangan meluruskanku di tengah ramai
sebab nasehat di depan banyak manusia
terasa bagai hinaan yang membuat hatiku luka

-asy-Syafi’i, Diwan-



DALAM salah satu segi, menjaga harmoni memang berarti menghindari konflik. Adalah lebih baik diam jika bicara justru memperkeruh suasana. Lebih baik mengalah jika menang berarti membuat luka. Lebih baik mendahului minta maaf meski berada di pihak yang benar. Lebih baik memberi meski hak kita adalah menerima. Begitulah, dan seterusnya.

Tetapi bukankah kita hidup tak hanya untuk keselarasan? Bukankah kita juga harus hidup dengan kebenaran, dalam kebenaran, dan demi kebenaran? Dan bukankah kebenaran itu harus ditegakkan tak terkecuali dalam hubungan-hubungan di antara kita? Bukankah kebenaran harus ditegakkan pada diri kita dan juga orang-orang yang kita cintai? Bukankah itu artinya kita harus mengingatkan yang lupa, menegur yang khilaf, meluruskan yang bengkok, membetulkan yang keliru, dan menunjukkan yang sesat?

Tanpa ragu, jawaban untuk semua pertanyaan bertubi itu adalah “ya”. Soalnya adalah bagaimana membuat itu semua tak bertentangan dengan harmoni dan keselarasan hidup sebagai sesama makhluk Alloh, sesama Muslim, dan sesama peyakin sejati.

Maka formula keselarasan antara hidup untuk kebenaran dengan hidup yang penuh harmoni itu kita sebut sebagai da’wah. Hidup dalam da’wah artinya menghidupkan iklim taushiyah, menyuburkan suasana saling memberi nasehat. Dan hal ini, menyatu dengan iman dan amal sholih menjadi wasilah agar kita sebagai insan tak berjumpa kerugian.

“Demi masa. Sesunguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, serta nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Qs. al-‘Ashr [103]: 1-3)

Tawashou, artinya asalnya adalah saling berpesan, saling berwasiat. Tetapi bahasa kita, Bahasa Indonesia lebih memilih kata nasehat sebagai padanan untuk kerja saling mengingatkan dalam kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang itu. Sebagaimana taushiyah, kata ini juga diserap dari Bahasa Arab. Kata ini memang terasa lembut, akrab, dan penuh cinta. Tetapi apakah sebenarnya arti dari nasehat jika merujuk kepada bahasa dari mana ia berasal yakni Arab?

Ada sebuah hadits menarik yang mencantumkan kata “an-Nashiha(t)” dengan kedudukan begitu penting. Dalam hadits tersebut, Rosululloh menjadikan kata “an-Nashiha(t)” sebagai definisi dari agama. Para ulama memandang bahwa hadits ini adalah salah satu inti ajaran Islam. Hadits yang dibawakan Imam Muslim itu bahkan diletakkan di urut ketujuh oleh Imam an-Nawawi dalam kitab al-Arba’in yang disusunnya.

Hadits ini dari Tamim ibn Aus ad-Dari, Rodhiyallohu ‘Anhu. Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, menurut Tamim, pernah bersabda, “Agama adalah nasehat.” Para shohabat lalu bertanya, “Untuk siapa, ya Rosululloh?” Beliau menjawab, “Untuk Alloh, untuk Kitab-Nya, untuk Rosul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum Muslimin beserta seluruh orang awamnya.”

Nah, apa arti kata nasehat dalam hadits ini?

Imam al-Khoththobi menjelaskan bahwa asal kata nasehat adalah “nashoha-yanshohu” yang berarti memurnikan. “Jika seseorang mengatakan ‘Nashohtu al-‘Asl,” tulis beliau, “Itu berarti ‘Aku memurnikan madu dengan memisahkannya dari lilin’.” Maka kata “an-Nashiha(t)” artinya bukanlah sama persis dengan kata nasehat seperti yang kita fahami dalam Bahasa Indonesia, melainkan lebih bermakna kemurnian dan ketulusan.

Maka agama adalah ketulusan untuk Alloh, ketulusan untuk Kitab-Nya, ketulusan untuk Rosul-Nya, dan ketulusan untuk para pemimpin kaum Muslimin beserta seluruh orang awamnya.

“Nasehat, yakni ketulusan kepada Alloh,” tulis Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi dalam Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, “Maksudnya adalah agar seorang hamba menjadikan dirinya ikhlas kepada Robbnya dan meyakini bahwa Dia adalah Ilah Yang Esa dalam Uluhiyah-Nya. Kehambaannya bersih dari noda syirik, tandingan dan pemisalan, serta apa-apa yang tak pantas bagi-Nya. Alloh mempunyai sifat segala kesempurnaan yang sesuai dengan keagungan-Nya, dan seorang Muslim harus mengagungkan-Nya dengan sebesar-besarnya pengagungan. Dia mengamalkan amalan-amalan zhohir dan batin yang Alloh cintai dan menjauhi apa-apa yang Alloh benci. Dia cinta kepada apa-apa yang dicintai oleh Alloh dan benci kepada apa-apa yang Alloh benci. Dia meyakini apa-apa yang Alloh jadikan sesuatu itu benar sebagai suatu kebenaran, dan yang batil itu sebagai suatu kebatilan. Hatinya penuh dengan cinta dan rindu kepada-Nya. Dia bersyukur akan nikmat-nikmat-Nya dan sabar atas musibah yang menimpanya, serta ridho dengan segala ketentuan-Nya.”

“Adapun nasehat ketulusan kepada Kitab-Nya,” lanjut beliau masih dalam Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, “Adalah dengan meyakini bahwa al-Qur’an itu Kalamulloh. Kita wajib mengimaninya dengan apa-apa yang ada di dalamnya, wajib mengamalkan, memuliakan dan membacanya dengan sebenar-benarnya. Kita mengutamakan ia dari selainnya dan penuh perhatian untuk mendapat ilmu-ilmunya. Al-Qur’an merupakan teman dekat orang-orang yang menempuh jalan Alloh dan merupakan wasilah bagi orang-orang yang senantiasa berhubungan dengan Alloh. Al-Qur’an menjadi penyejuk mata bagi orang-orang yang berilmu. Barangsiapa yang ingin sampai di tujuan, maka harus menempuh jalan yang dibimbingkan al-Qur’an, karena kalau tidak dia pasti tersesat. Seandainya seorang hamba mengetahui keagungan kitab Alloh, niscaya mereka tidak akan meninggalkannya sedikit pun.”

“Kita juga bernasehat, bertulus hati kepada Rosululloh, yaitu dengan meyakini bahwa beliau adalah seutama-utama makhluk dan kekasih-Nya. Alloh mengutusnya kepada para hambanya agar beliau mengeluarkan mereka dari segala kegelapan kepada cahaya. Beliau menjelaskan kepada manusia apa-apa yang membuat mereka bahagia dan apa-apa yang membuat mereka sengsara. Beliau juga menerangkan kepada mereka jalan Alloh yang lurus agar mereka lulus mendapatkan kenikmatan surga dan terhindar dari kepedihan siksa neraka. Kita mencintai beliau, memuliakannya, dan mengikutinya.

“Hendaknya tak ada kesempitan di dada kita atas apa-apa yang beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam putuskan. Kita tunduk serta patuh kepada beliau, seperti orang yang buta mengikuti penunjuk jalan yang awas matanya. Orang yang beruntung adalah mereka yang membawa kecintaan dan ketaatan kepada sunnahnya dan orang yang rugi adalah mereka yang terhalang dari mengikuti ajarannya. Barangsiapa yang taat kepada beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, maka dia telah taat kepada Alloh dan barangsiapa yang menentangnya, maka ia telah menentang Alloh.”

“Sedangkan makna nasehat kepada para pemimpin kaum Muslimin,” lanjut Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi, “Adalah menerima perintah mereka, mendengar dan taat kepada mereka dalam hal yang bukan maksiat dan tidak memerangi mereka selama mereka belum kafir. Kita berusaha untuk memperbaiki keadaan mereka dan membersihkan kerusakan mereka. Kita memerintahkan mereka kepada kebaikan dan melarangnya dari kemungkaran. Kita mendo’akan agar mereka mendapatkan kebaikan sebab kebaikan mereka akan menjadi kebaikan bagi rakyat dan dalam kerusakan mereka terkandung kerusakan bagi ummat.”

“Yang harus, makna nasehat kepada kaum Muslimin pada umumnya adalah dengan menolong mereka dalam hal kebaikan, dan melarang mereka berbuat keburukan. Kita membimbing mereka kepada petunjuk dan mencegah mereka dengan sekuat tenaga dari kesesatan. Kita mencintai kebaikan untuk mereka sebagaimana kita mencintainya untuk diri sendiri. Dikarenakan mereka itu semua adalah hamba-hamba Alloh, maka haruslah bagi kita untuk memandang mereka dengan kacamata yang satu, yaitu kacamata kebenaran.”

Begitulah, dalam dekapan ukhuwah, kita ambil makna nasehat sebagai ketulusan. Sebagaimana taubat yang paling indah juga disebut oleh Alloh sebagai ‘taubatan nashuha’, yakni taubat yang tulus dan murni. Maka dalam dekapan ukhuwah, ketulusan hati di saat saling menasehati akan benar-benar diuji.

***

Sejak kita mengikrarkan diri untuk hidup di dalam da’wah, maka kita menjadi akrab dengan kebenaran dan membiasakan diri untuk menjadi penyampainya. Di titik itu, salah satu kerawanan yang mengintai adalah hadirnya rasa lebih yang menyergap hati. Kita kadang merasa lebih benar, lebih baik, lebih tinggi, dan lebih suci dibanding mereka yang kita nasehati.

Hanya mengingatkan kembali kepada diri ini: jika kau merasa besar, periksa hatimu. Mungkin ia sedang bengkak. Jika kau merasa suci, periksa jiwamu. Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani. Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan. Jika kau merasa wangi, periksan ikhlasmu. Mungkin itu asap dari amal sholihmu yang hangus dibakar riya’. Ya Alloh, dalam dekapan ukhuwah, kami memohon lisan yang shiddiq dan hati yang tulus.

Selebihnya, agar secara zhohir nasehat kita juga mengena dan tak membawa luka, ada beberapa hal yang selayaknya kita perhatikan.

Pertama, sebagaimana sabda Sang Nabi dalam riwayat Imam al-Bukhori, nasehat adalah hak dari sesama Muslim ketika mereka memintanya. Maka nasehat yang baik adalah yang diberikan kepada mereka yang meminta. Maka nasehat yang terbaik adalah yang diberikan kepada mereka yang meminta. Saudara kita dalam dekapan ukhuwah, yang berani meminta nasehat dimungkinkan adalah mereka yang telah siap untuk menerima masukan dan koreksi. Memberi nasehat tanpa diminta, apalagi dengan nada merasa lebih tahu, justru akan menjauhkan seseorang dari kebenaran.

Kedua, memperhatikan waktu, situasi, dan kondisi. Bacalah wajah seseorang dan semoga kita bisa membedakan apakah yang dibutuhkannya saat ini nasehat ataukah ajakan untuk makan sebab rasa lapar. Selamilah perasaannya dan ketahuilah kata-kata yang paling dirindukannya, bukan hal-hal menyakitkan yang tak ingin dikenangnya. Perhatikanlah jiwanya, lalu ketahuilah bahwa yang dia butuhkan adalah penghiburan, bukan ditunjukkan luput dan khilaf yang selama ini telah menyiksanya.

Yang ketiga, tahanlah diri kita dari terlalu sering memberi nasehat. “Adalah Rosululloh,” kata ‘Abdulloh ibn Mas’ud Rodhiyallohu ‘Anhu, “Tidak memberi nasehat kepada kami dengan sering-sering atau tiap hari. Beliau hanya sesekali memberi nasehat, sebab khawatir bahwa kami akan bosan.” Sesuatu menjadi berharga sebab ia langka. Nasehat yang terlalu banyak hanya membebani persahabatan dan menyesaki persaudaraan. Lapangkanlah dada saudara kita dengan sedikit nasehat saja, maka pohon-pohon kebaikan akan tumbuh dengan rimbunnya.

Keempat, sampaikanlah nasehat secara ihsan. “Bagaimana memberi nasehat secara ihsan?” demikian ‘Abdulloh ibn ‘Abbas pernah ditanya. “Hendaknya engkau lakukan,” ujar beliau, “Dalam keadaan tersembunyi berdua-duaan saja.”

Berikut ini adalah kisah dari seorang ‘alim besar ahli hadits dan pedagang kain di kota Baghdad, al-Hujjah, Harun ibn ‘Abdulloh tentang betapa ihsannya seorang Ahmad ibn Hanbal memberi nasehat.

“Pada saat itu,” kata Harun bercerita, “Ahmad ibn Hanbal mengunjungiku di tengah malam. Kudengar pintu diketuk, maka aku bertanya: ‘Siapa di luar sana?’ Dia menjawab: ‘Aku, Ahmad.’ Segera kubuka pintu dan menyambutnya. Aku mengucapkan salam kepadanya dan dia pun melakukan hal yang sama sehingga kami pun saling menjawab berbarengan. Kami pun saling tersenyum.”

Lanjut Harun, “Keperluan apakah yang membawamu kemari?”

“Siang tadi, sikapmu mengusik hatiku.”

“Masalah apakah yang membuatmu terusik, wahai Abu ‘Abdillah?”

“Siang tadi aku lewat di samping halaqohmu. Kulihat engkau sedang mengajar murid-muridmu. Aku saksikan engkau duduk di bawah bayang-bayang pohon sedang murid-muridmu secara langsung terkena terik matahari dengan tangan memegang pena dan catatan.”

Dia berhenti sejenak lalu tersenyum. “Kumohon jangan kau ulangi perbuatan semacam itu di kemudian hari. Jika engkau mengajar, wahai Harun, maka duduklah dalam keadaan yang sama dengan murid-muridmu.”

***

Dalam dekapan ukhuwah, kita menghidupkan iklim taushiyah di antara kita dengan segala adabnya agar harmoni persaudaraan terus terjaga. Tentu saja, saling menjaga kebaikan dengan mereka yang kita cintai dalam dekapan ukhuwah ini tetaplah mengandung resiko yang mungkin membahayakan. Tetapi Alloh-lah sebaik-baik pelindung dan penjaga. Maka tetaplah memberi nasehat sebagaimana kisah menarik berikut ini.

“Ada seorang raja yang memerintah sebuah negeri,” demikian ditulis oleh al-Ghozali ketika menjelaskan tentang hasad dalam Ihya’ ‘Ulumuddin. Pada suatu hari datanglah seorang ‘alim yang tulus hati ke istananya. Atas pinta sang penguasa, si ‘alim pun menasehatinya.

“Balaslah orang yang berbuat baik dengan lebih baik lagi,” demikian sang bijak memberi nasehat, “Karena kebajikan yang telah dia lakukan pada Baginda. Tetapi jangan hiraukan orang yang mendengki. Abaikanlah! Sebab kedengkian itu sudah cukup untuk mencelakakan dirinya.”

Ada seorang wazir di istana tersebut yang memang benar-benar seorang pendengki. Dia iri melihat pemuliaan begitu rupa yang dilakukan sang raja pada tamunya ini. Dia telah merencanakan sesuatu.

Begitu sang penasehat pergi dari majelis, sang wazir mengantarnya keluar. Setelah itu dia bergegas kembali menemui sang raja. “Orang bijak tadi mengatakan padaku,” ujar sang pendengki, “Bahwa mulut Baginda sungguh bau. Coba saja Baginda panggil lagi dia di esok hari. Jika di dekat Baginda dia menutup mulutnya, itu berarti benar bahwa dia menganggap mulut Baginda sungguh bau.”

Sang raja sangat tersinggung mendengarnya.

Keesokan paginya, sang wazir mengundang penasehat tulus itu untuk sarapan di rumahnya. Kepadanya dihidangkan bawang-bawangan dan masakan berbau tajam. Mulut sang ‘alim tulus hati itu menjadi amat bau.

Tak lama kemudian, seperti direncanakan oleh si wazir, datanglah panggilan pada sang penasehat untuk menghadap sang raja di majelisnya.

Setelah memberikan nasehatnya pada sang raja, raja itu memintanya untuk mendekat. “Kemarilah wahai penasehat yang baik!” ujarnya. “Datanglah mendekat padaku!”

Sang ‘alim ragu untuk mendekat. Dia takut bau busuk di mulutnya akan menyinggung sang raja.

“Ayo kemari! Mengapa engkau ragu?”

Dengan menutupi mulutnya sendiri karena khawatir akan bau bawang dalam jamuan di pagi tadi, dia pun mendekat. Sang raja bergumam dalam hati, “Ternyata benar. Dia melecehkanku dan menganggap mulutku bau. Dia ingin menghinaku!” Maka sang raja pun menulis sebuah surat dan memberikannya pada sang penasehat yang masih tak mengerti untuk apa dia diminta mendekat.

“Bawalah surat ini kepada salah seorang petugasku,” kata sang raja, “Niscaya dia akan memberikan sebuah hadiah yang berharga untukmu.”

Sebetulnya yang ditulis sang raja dalam surat itu bukanlah hadiah. Karena sangat tersinggung batas sikap sang penasehat itu, dia memberi perintah lain kepada sang pejabat. “Jika pembawa nawala ini datang padamu, maka sembelihlah dia. Kuliti tubuhnya. Masukkan jerami ke dalam badannya dan bakarlah. Sementara kepalanya, bawa ke hadapanku!”

Begitu keluar dari istana, sang penasehat disambut oleh wazir pendengki yang menjebaknya. “Apa yang dilakukan Baginda kepadamu, Saudaraku?” tanyanya.

“Alhamdulillah,” ujar sang penasehat berseri, “Beliau menyuruhku membawa surat ini kepada seorang petugas istana yang akan memberikan kepadaku hadiah dari sang raja.”

“Wah,” ujar si pendengki takjub, “Bagaimana jika Tuan penasehat beristirahat saja di kediaman saya? Biar saya saja yang mengurus semua itu.”

“Wah,” kata si penasehat, “Saya merepotkan Anda.”

“Tentu tidak,” ujar sang wazir dengan senyum liciknya, “Ini sudah merupakan tanggung jawab saya sebagai tuan rumah. Lagi-pula Tuan penasehat belum begitu mengenal seluk beluk istana ini.”

Nah, pastinya kita telah tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Alloh berfirman dalam surat Faathir ayat keempat puluh tiga, “Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.”

Dalam dekapan ukhuwah, nasehat artinya ketulusan.


Credit: “Dalam Dekapan Ukhuwah”; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Harmoni di Ujung Kata

“kapati amarsudi, sudone howo lan nepsu, pinesu topo broto
tanapi ing siang ratri, amemangun karyenak tyasing sasomo”

berupaya sepenuh hati, demi terkendalinya hawa nafsu
beribadah siang dan malam, mencipta kenyamanan hati sesama

-Mangkunegoro IV, Wedhotomo-



“MEDAN IS HONESTY,” ujar seorang kawan yang memang asli Medan, “Jogja is hospitality”. Saya harus tersipu menanggapi kalimat beliau itu. Beberapa kali bertemu orang Medan, kesan mereka tentang orang Jogja selalu begitu. “Orang Jogja itu terlalu baik, Bang Salim,” kata mereka. “Kaki mereka terinjak pun, mereka yang minta maaf. ‘Maaf, mas. Kaki saya terinjak,’ katanya.”

Beliau tertawa. Saya juga tertawa, nggleges.

Tetapi ternyata ada yang mendahului saya. Sastrawan Umar Kayam dalam kumpulan sketsanya di jilid kedua, Mangan Ora Mangan Kumpul; Sugih Tanpa Bondho, mencatat pengalaman yang mirip dengan apa yang saya alami. Kali ini, shohibul hikayatnya seorang supir taksi dari Medan. Alkisah, setelah bercakap perkenalan, sang supir bercerita tentang adiknya yang kawin dengan gadis Jogja lalu berubah menjadi halus tutur kata dan lembut perangainya.

“Seperti Bapak ini lah,” lanjut sang supir, “Kentara betul ah, kalau orang Jawa Karaton Jogja!”

“Hati saya langsung bergumam,” tulis Pak Kayam dalam sketsa itu, “Jabang bayi, Ngarso Dalem nyuwun duko Gusti. Mohon maaf, Kanjeng Sultan. Lha cuma cetakan Ngawi kok diangkat jadi trah Karaton Jogja. Tapi yak, lha wong yang mengatakan supir dari Medan, ya biar ah!”

“Usia Bapak berapa sekarang?”

“Enam puluh. Kenapa?”

“Ah,” kata Abang Supir menukas, “Masih kelihatan lima puluh kurang sedikit!”

Saya mau berkomentar dan membatin lagi, lanjut Pak Kayam berkisah. Tapi ya biar ah.

“Itu karena Bapak tinggal di Jogja. Pasti itu. Orang-orang Jogja panjang umurnya. Awet muda pula…”

Saya mau berkomentar dan membatin lagi. Tapi ya biar ah.

“Dan baik hatinya…”

“Lho, kok tahu?”

“Dan sabar…”

“Lho, kok tahu?”

“Dan murah hati…”

“Lho, kok tahu?”

“Kok tahu, kok tahu! Ya tahu, dong ah! Bapak ini ada-ada zaja. Memangnya Bapak ini jual obat encok macam yang di tipi itu?”

***

Hospitality. Itu mungkin salah satu penjelasan tentang dunia pariwisata Jogja. “Apa sih yang menarik dari Jogja?”, begitu telaah pemasaran Ippho Santosa dalam buku 13 Wasiat Terlarang. Objek wisatanya; baik yang sejarah, yang alam, maupun yang belanja, kalah jauh keindahan dan kelengkapannya dibanding daerah lain. Tetapi bertahan hingga hari ini sebagai daerah tujuan wisata terbesar kedua di Indonesia, apa yang menjadi keunggulannya?

Hospitality, kata Ippho. Ini soal kesiapan mental untuk menjadi ‘tuan rumah yang baik’. Itu yang belum dimiliki beberapa daerah lain yang wisata alamnya bisa membuat nafas terhenti karena takjub sekalipun, sehingga belum banyak menarik wisatawan untuk mengunjunginya.

Membaca berbagai analisis tentang Jogja, saya sering bicara pada diri. “Hati-hatilah kau hai Salim jadi orang Jogja, sekali hilang keramahanmu, habis sudah masa depanmu.” Ya. Seperti petikan nasehat dalam Wedhotomo yang saya nukil di awal tulisan ini, memang ada konsep Jawa yang menarik tentang menjalin hubungan. “Amemangun karyenak tyasing sasomo” yang berarti berupaya membangun kenyamanan hati orang lain adalah ungkapan yang mewakili salah satu nilai tertinggi perihidup Jawa.

Pada dasarnya, kita semua mendambakan kehidupan nan harmonis. Dan bahkan, kita bisa mengingat kembali sabda Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa mencipta harmoni adalah sebuah keutamaan. “Aku menjaminkan sebuah rumah di surga bagian bawah,” ujar beliau seperti direkam Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, “Bagi mereka yang menghindari perbantahan meskipun dalam posisi benar.”

***

“Ini saatnya belajar dari Timur,” demikian ditulis Shofwan al-Banna Choiruzzad dalam esainya yang memenangi The 39th St. Gallen Symposium di Swiss. Tajuk tulisan itu adalah Boundaries as Bridges: A Reflection for Trans-National Business Actors. Untuk tahun itu, St. Gallen Symposium mengangkat tema krisis, meningkatnya proteksi negara, dan peluang para usahawan antarbangsa dalam himpitan keduanya.

Menyampaikan makalahnya di hadapan 200 pemimpin bisnis, puluhan kepala negara, dan para pakar dari berbagai lembaga terkemuka, wakil Indonesia ini mengungguli Jason George dari Harvard Business School dan Aris Trantidis dari London School of Economics.

“Dalam tradisi Barat,” tulis pemuda kelahiran Jogja ini menjelaskan pernyataan awalnya, “Hak-hak (rights), menjadi pusat wacana. Ada human rights, political rights, economic rights dan seterusnya. Semua pembicaraan berpusar pada hak. Adapun di Timur, ihwalnya sedikit berbeda. Harmoni, keselarasan hidup menjadi tema besar. Untuk membangun harmoni, tanggung jawab diutamakan, sesudah itu segala yang menjadi hak kita akan datang dengan sendirinya. Sebelum menuntut hak-hak kita pada orang lain, adalah penting untuk menunjukkan dengan nyata tanggung jawab kita pada sesama.”

***

Tak hanya di Jogja, harmoni dalam budaya Timur, umumnya memang menjunjung tinggi. Orang Timur konon suka mengupayakan keselarasan dengan sesama, menghindari silang sengketa, dan berusaha mengalah agar tak terjadi keributan yang lebih besar. Jangan-jangan itu juga yang membuat kita lama terjajah ya?

Ah, yang jelas, sebuah kisah dari Cina di zaman Musim Semi dan Musim Gugur memberi gambaran pada kita tentang bagaimana menjaga harmoni di saat-saat sulit, di saat nyawa terancam.

Jin Wen Gong, begitu ditulis Lei Wei Ye dalam 101 Wisdoms from Ancient Stories, adalah raja dari negeri Jin. Pada satu waktu, seusai berburu, sang raja ingin memakan daging panggang yang gemuk dan tak berlemak. Maka koki istana pun diperintahkan untuk segera memasak hasil buruan yang didapatnya. Tak berapa lama, daging panggang itu telah siap disajikan. Warnanya keemasan dan harumnya semerbak. Sang raja Jin Wen Gong tak tahan untuk bersegera mencicipinya.

Tetapi mata sang raja membelalak saat mengangkat potongan daging panggang itu. Pandangannya yang awas melihat ada sehelai rambut panjang tergeletak mengurai. Nafsu makannya hilang. Kemarahannya meluap. “Pengawal! Pengawal!” teriaknya gusar, “Seret juru masak istana kemari! Aku pasti memenggal lehernya karena kecerobohan tak termaafkan ini!”

Sang juru masak yang dihadapkan pada Jin Wen Gong segera jatuh berlutut memohon ampun. Tapi sekilas diamatinya daging panggang yang tadi dimasaknya itu. “Hamba telah berbuat kesalahan yang berat! Hamba pantas dihukum mati, Baginda!”

Melihat amarah sang raja masih mengubun-ubun, sang juru masak melanjutkan kata-katanya. “Kesalahan hamba ada tiga,” akunya. “Pertama, hamba memotong daging itu terlampau cepat! Dagingnya terpotong tetapi rambutnya tidak ikut putus. Yang kedua, untuk membuat rasanya mantap, hamba memutar daging itu dan membumbuinya di atas panggangan berulang-ulang, tetapi rambutnya tak mau jatuh. Ketiga, agar dagingnya empuk merata, bara api untuk memanggangnya hamba buat sangat panas. Hamba sungguh teledor, dagingnya empuk merata akan tetapi rambut ini tak hangus terpanggang! Saya sungguh pantas mati. Mohon Paduka menghukum saya setimpal!”

Mendengar kata-kata pelayannya, sang raja tertawa terbahak-bahak. Dia mengerti. Juru masak ini tak bersalah. Pasti ada seseorang yang sengaja ingin mencelakakan sang juru masak dengan cara meletakkan rambut itu sesudah dagingnya matang dan siap disajikan.

“Pengawal!” seru raja, “Panggil pelayan yang menghidangkan daging ini!”

***

Mungkin memang tepat jika orang Barat diminta belajar dari Timur tentang harmoni. Dalam beberapa hal, tak ada salahnya juga orang Timur belajar dari Barat, sebab mereka saling unggul dalam detail. Bahkan juga tentang bagaimana cara menghadirkan harmoni. Utamanya dalam berkomunikasi. Telaah berdasarkan berbagai penelitian oleh Yvonne Oswald berikut ini misalnya.

“Kata-kata adalah tujuh persen dari komunikasi,” demikian disimpulkan oleh Oswald dalam bukunya yang memukau, Every Word Has Power. Saat kita bertatap muka, keterhubungan dengan sesama banyak kita asup melalui perhatian pada faali dan bahasa tubuh. Tetapi dalam konteks perbincangan yang saling mendengar tanpa saling melihat, kata-kata mengambil porsi yang lebih besar. “Mungkin sampai 18 persen!” ujar Oswald. Dengan demikian, berbicara melalui telepon agaknya bisa melatih keterampilan membangun keterhubungan yang penuh harmoni dengan kata-kata.

Sebagai kaidah umum, ada empat kecenderungan orang untuk menangkap dan mengolah informasi yang diperoleh dalam komunikasi. Mengenalinya, lalu memberi umpan balik yang tepat akan membuat kita bisa menghadirkan harmoni yang indah dalam berkomunikasi dengan mereka. Untuk memudahkan mengingat, keempat hal itu adalah: lihat, dengar, pikir, dan rasa.

Pertama; orang visual.

Mereka ini cenderung bicara dengan cepat, memiliki nada suara yang lebih tinggi, tak terlalu terganggu oleh suara orang lain, dan akan sangat perhatian serta merespons kata-kata semacam “lihat” atau “pandang”. Kita akan terdengar lebih memperhatikan mereka ―dan terasa merdu― jika bicara dengan kalimat semacam “Saya bisa melihat maksudmu!”, atau “Kamu tampak lelah, tapi tetap terlihat cantik!”

Kedua; orang auditorial.

Biasanya suara orang auditorial lebih bernada, agak mirip penyiar radio, dan penuh intonasi khas di sana-sini. Mereka suka bicara di telepon, menggemari musik, dan gampang terganggu oleh derau atau suara lain. Kita bisa terhubung dengan mudah pada mereka jika memilih kalimat seumpama “Aku mendengar apa yang kau katakan”, atau “Itu kedengarannya bagus!”, dan juga “Gagasan ini sangat merdu!”

Ketiga; orang auditori-digital.

Orang semacam ini, suka bicara dengan dirinya sendiri. Sesuatu harus logis dan masuk akal agar bisa dimengerti oleh mereka. Mereka berfikir secara runut dan menyukai proses bertahap. Kita sebaiknya bicara dengan mereka dalam kalimat sejenis “Saya fikir, Anda sangat masuk akal!” atau “Saya mengerti apa yang Anda fikirkan.”

Keempat; orang kinestetik.

Orang kinestetik adalah mereka yang ‘merasakan’ kehidupan dengan mempercayai perasaan naluriahnya. Biasanya mereka bicara dengan pengucapan yang hati-hati serta lebih lambat. Kalimat-kalimat mereka seringnya panjang dan kompleks, kadang disertai gerak anggota badan yang sebenarnya tak terlalu sesuai untuk mengilustrasikan. Mereka memerlukan gerak itu untuk menguatkan pemahaman. Dalam membangun harmoni dengan mereka, kita bisa menggunakan kalimat seperti “Aku bisa merasakan bahwa kau sedang merasa baik”, atau juga “Perasaanmu sedang bergejolak. Aku bisa menangkapnya.”

***

Membaca analisis Yvonne Oswald ini, dalam suasana dekapan ukhuwah, kita teringat sabda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. “Khoothibun naas,” ujar beliau, “’Alaa qodri ‘uqulihim. Bicaralah pada manusia sesuai dengan kadar akal mereka.” Kadar akal, tampaknya bukan hanya soal kecerdasan, melainkan juga kecenderungan penangkapan kata-kata.

Setulus nurani, dalam dekapan ukhuwah, ada keterampilan yang harus kita kuasai untuk membangun harmoni. Setelah dimulai dengan pemahaman hati, kata-kata yang dengannya kita bicara juga perlu diatur dan ditata. Sebab dalam dekapan ukhuwah, kita tahu, soalnya bukan hanya mengatakan yang benar. Ia meliputi keseluruhan matra; mengatakan yang benar, dengan cara yang indah, di saat yang paling tepat.

Dalam dekapan ukhuwah, begitulah harmoni tumbuh.


Credit: “Dalam Dekapan Ukhuwah”; Salim A. Fillah; Pro-U Media