Sabtu, 05 Januari 2013

Kedahsyatan Itsar Para Sahabat



Itsar adalah mendahulukan kepentingan saudara kita di atas apa-apa yang kita inginkan meskipun kita sangat membutuhkannya. Imam Syahid Hasan al-Banna dalam salah satu risalahnya menjelaskan bahwa itsar merupakan puncak ukhuwah (persaudaraan) dan persaudaraan ini tidak boleh melebihi itsar. Dan batas minimal dari ukhuwah adalah salamatush shodr (berlapang dada) terhadap saudara sendiri. 

Kisah Itsar Kamu Anshor Terhadap Kaum Muhajirin

Dalam surat al-Hasyr ayat 9, Alloh menjelaskan itsar dengan sangat indah “... dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Ayat ini menjelaskan tentang kisah itsar kaum Anshor yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman terhadap kaum Muhajirin yang baru berhijrah ke Madinah. 

Rosululloh mempersaudarakan mereka dan setiap orang mengajukan diri sesuai kemampuannya, ada yang satu orang, dua, bahkan tiga orang Muhajirin. Dari sekian sahabat Anshor, tersebutlah sahabat Sa’ad ibn ‘Ubaidah ra. Hal istimewa yang dilakukan oleh Sa’ad adalah dia membawa 80 orang dari kaum Muhajirin kemudian menjual beberapa tanahnya yang berupa kebun kurma dan membangun pondok-pondok yang dipakai untuk tempat tinggal kaum Muhajirin itu. Putra Sa’ad pun, Qois ibn Sa’ad adalah seorang yang sangat dermawan. Begitu dermawannya sampai-sampai Abu Bakar berkata, “Ini jika dibiarkan, maka harta orangtuanya akan habis tak tersisa.” Kalimat itu didengar oleh Sa’ad, ia marah kemudian mengadu kepada Rosululloh saw. Sa’ad berkata, “Wahai siapa yang bisa membela aku atas Abu Bakar dan ‘Umar?” Ada orang yang bertanya, “Kenapa?” Sa’ad menjawab, “Abu Bakar dan ‘Umar mengajarkan pada anakku kekikiran dengan meminjam namaku.”

Kisah Itsar Abu Tholhah dalam Menjamu Tamu

Imam Ahmad mengisahkan bahwa suatu saat Rosululloh saw kedatangan seorang tamu dan tamu itu menyatakan bahwa dia (tamu itu) membutuhkan tempat menginap, makan malam, dan keperluan beberapa hari karena bekalnya habis. Rosululloh saw bukanlah orang yang bisa menolak permintaan, tetapi jika kondisi beliau tidak memungkinkan untuk memenuhi permintaan orang lain maka akan menawarkan kepada para sahabat. Maka kemudian seorang sahabat bernama Abu Tholhah al-Anshori bersedia menjamu tamu tersebut. Dibawalah ke rumahnya tamu tersebut. Sampai di rumah Abu Tholhah berbicara kepada istrinya Ummu Sulaim. Namun kata Ummu Sulaim, “Kita tidak punya apa-apa. Hanya ada makanan. Itupun hanya untuk anak kita.” Namun Abu Tholhah menjawab, “Lakukan apa yang kuminta ini, pura-puralah bahwa minyak kita habis sehingga lampu tidak dinyalakan malam ini dan segera tidurkan anak-anak.”

“Kemudian hidangkan segera makanan itu untuk tamu kita dalam satu piring dan hidangkan sebuah piring kosong untukku. Aku akan menemani dia makan.” Kemudian makanan dihidangkan dalam ruangan gelap. Sebuah piring kosong dihidangkan di depan Abu Tholhah dan piring yang berisi makanan dihidangkan dihidangkan dihadapan tamu tersebut. Tamu itu makan dengan lahap sedangkan Abu Tholhah berpura-pura seolah-olah makan dengan cara mengerik piring kosong yang ada di hadapannya sampai kemudian tamu itu selesai makan.  Pagi harinya, Rosululloh saw menemui Abu Tholhah dengan wajah berseri-seri kemudian berkata, “Alloh SWT takjub kepada apa yang kalian lakukan tadi malam.”

Kisah Itsar dalam Hal Harta

Suatu saat Madinah mengalami kekeringan yang cukup panjang. Warga Madinah saat itu mengandalkan air dari sebuah sumur milik seorang Yahudi. Orang Yahudi itu menjual air per ember kepada penduduk Madinah. Sampai suatu saat ‘Utsman menemui orang Yahudi itu. ‘Umar berkata, “Maukah kau menjual sumur ini kepadaku?” Yahudi itu menjawab, “Oh tidak bisa! Sumur ini adalah mata pencaharianku. Bagaimana mungkin aku menjualnya?” “Bagaimana kalau engkau jual separuhnya?” kata ‘Utsman. “Bagaimana caranya?” “Kita bagi harinya. Aku bayar separuh harga sumur ini, lalu giliranku ambil airnya satu hari, giliranmu satu hari berikutnya.” kata ‘Utsman. “Aku setuju.” kata si Yahudi. Dan ‘Utsman membayar 12 ribu dirham kepada orang Yahudi tersebut.

Itsar dalam Memberi Kehidupan

Ini adalah kisah sahabat Ikrimah dalam perang Yarmuk, yakni perang tentara Muslim dengan tentara Romawi. Setiap musuh yang mendekat pasti mati di tangan Ikrimah. Sampai kemudian Ikrimah terluka sangat parah. Dalam keadaan sakaratul maut, ada seseorang yang menawarkan air minum kepada Ikrimah. Namun Ikrimah menolak karena mendengar suara prajurit lain yang terluka dan sama-sama memerlukan air. Ikrimah mendahulukan air untuk orang itu. Saat si pembawa air mau menuangkan air pada mulut prajurit yang terluka, prajurit itu menolak karena mendengar prajurit lain yang sama-sama terluka merintih meminta air. Ia pun meminta si pembawa air untuk memberikan pada orang prajurit ketiga. Namun sesampainya si pembawa air di prajurit ketiga, ternyata prajurit itu sudah syahid. Saat ini berlari kembali ke prajurit kedua, dia pun sudah syahid, begitu pun saat ia berlari kembali kepada Ikrimah, ternyata Ikrimah pun sudah syahid. Semua yang melihat peristiwa itu menitikkan air mata. Mereka berkata, “Subhanalloh, mereka pasti menjadi tetangga yang mesra di surga karena itsar.”

Sumber: http://www.4shared.com/mp3/Dwrh7p_4/Kedasyatan_Itsar_Para_Sahabat.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar