Senin, 24 Maret 2014

Psikologi Anak Bermasalah

BAB I

PERMASALAHAN ANAK DALAM HUBUNGAN DENGAN SEKOLAH



Apabila setiap keluarga disoroti kemungkinan akan ada atau tidaknya persoalan dengan anak, maka akan terlihat macam-macam derajat kesulitan. Bahkan mungkin saja bahwa tidak semua keluarga menyadari adanya sesuatu kesulitan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa setiap rumah memanggul salibnya masing-masing. Setiap keluarga mengalami dan harus memecahkan persoalannya sendiri-sendiri. Apabila kesulitannya tidak disadari, tidak dirasakan sebagai pensoalan, maka tentu tidak akan dicari cara-cara untuk mengatasinya. Persoalan akan menjadi masalah setelah menimbulkan suatu gangguan dalam arus kehidupan  dan kecemasan pada orangtua.

Seorang anak yang tidak belajar dan belum terbiasa dengan pembagian waktu untuk bermain dan belajar, tidak akan menimbulkan persoalan selama rapornya selalu baik dan hasil ulangannya selalu di atas rata-rata. Apabila pada suatu saat ia mendapat rapor yang “kebakaran”, dengan banyak nilai-nilai kurang, barulah terasa adanya suatu permasalahan. Seorang anak penurut dan pendiam, bagi orangtuanya merupakan anak teladan. Anak ini, karena tidak menimbulkan persoalan, akhirnya “terlupakan”. Ternyata ia mengalami kesulitan dalam hal berhitung yang disebabkan ketidak-mampuannya membaca. Sedangkan ketidak-mampuannya membaca disebabkan oleh suatu peristiwa yang sangat mencekam dirinya pada waktu ia masih kecil, yang membuat ia menjadi penurut dan pendiam dengan persoalannya yang tidak diselesaikan.

Seorang anak kecil yang sering pilek, mudah “masuk angin” tidak menimbulkan persoalan. Bagi orangtua sudah dianggap biasa bahwa anak harus diawasi lebih ketat supaya tidak kena angin. Tetapi sesudah anak itu sekolah ia mendapat peringatan dari guru karena terlalu sering absen. Dan dengan kurangnya nilai-nilai pada rapor, barulah terpikir untuk menanggulangi kelemahan si anak.

Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa orangtua baru merasakan adanya persoalan bila terkait dengan nilai-nilai rapor yang buruk atau prestasi anak di sekolah yang menurun. Dengan titiktolak angka-angka merah di rapor, orangtua mulai menyadari persoalannya dan perhatian khusus mulailah dicurahkan kepada si anak. Sebab-sebab yang mungkin mengakibatkan buruknya prestasi anak di sekolah akan dicari dan diusahakan untuk memperbaikinya.

Dalam usaha mencari sebab-sebab persoalan anak, akan kita temukan berbagai macam persoalan yang dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok.

I.      Kekurangan dalam hal fisik anak – pancaindera

a.   Kekurangan pada indera penglihatan:

Seorang anak tiba-tiba hasil ulangannya tidak memuaskan, bahkan makin lama makin buruk. Anak selalu mengerti apa yang diterangkan, sehingga tidak pernah bertanya di rumah. Pekerjaan sekolah yang harus dilakukannya di rumah selalu beres. Setelah hasil ulangan-ulangannya diteliti lebih mendalam, ternyata banyak kesalahan disebabkan karena salah menyalin dari papan tulis. Salah menyalin dari papan tulis ternyata disebabkan karena kekurangan daya pengelihatan. Alhasil, angka-angka rapor yang menggelisahkan orangtualah yang menyebabkan ditemukannya kekurangan daya penglihatan si anak. Kekurangan daya pengelihatan mudah diketahui apabila sudah berat derajat penyimpangannya dari yang normal. Bila taraf kekurangannya masih ringan (yang mungkin dapat diketahui dari perasaan pusing setelah membaca) sulitlah untuk mengetahuinya. Sebaiknya anak yang sering mengeluh sakit kepala atau pusing-pusing sesudah belajar diperiksa oleh dokter mata. Supaya bila ternyata terdapat kekurangan daya penglihatan, mungkin diatasi dengan memakai kacamata.

b.   Kekurangan pada indera pendengaran dapat mengganggu penerimaan pelajaran di sekolah. Bila pelajaran di sekolah kurang terdengar oleh anak, maka pengertian pun sulit diraihnya. Kekurangan daya pendengaran kadang-kadang cepat diketahui guru, tetapi sering pula tidak.

Seorang anak yang selalu memperhatikan gerak-gerik dan gerak bibir gurunya, akan mengerti, dengan melihat perbuatan teman-temannya, apa yang ditugaskan oleh gurunya. Selarna tugas-tugas sekolah masih bersifat sederhana, kekurangan pendengaran tidak akan “ketahuan” oleh guru. Seorang anak kecil tidak selalu mencari hubungan antara gerak-gerik guru dan murid-murid lain. Ia tidak dapat melaksanakan tugas-tugasnya. Bahkan perintah-perintah singkat pun tidak mampu dijalankannya. Persoalan ini akan cepat terlihat pada kekurangan daya pendengaran apabila si anak tidak memperlihatkan kelakuan kurang baik lainnya.

Kekurangan daya pendengaran sering menimbulkan persoalan yang perbaikannya tidak semudah seperti memperbaiki persoalan yang timbul akibat kekurangan daya penglihatan. Pada umumnya anak yang harus memakai kacamata tidak terlalu dikekang oleh rasa diri yang berbeda, dibandingkan dengan anak-anak lain. Ia hanya agak merasa dibatasi dalam bidang olahraga.

Lain halnya dengan anak yang memerlukan alat pembantu pendengaran. Alat pendengaran, selain mahal harganya, juga tidak disenangi anak. Bagi anak kecil, alat itu perlu disetel supaya tidak menimbulkan gangguan tambahan pada pendengaran. Apabila ia pernah mengalami bunyi yang sangat mengagetkan dari alat itu, ia tidak mau memakai alat pendengaran lagi.

Anak mungkin merasa dirinya aneh bila memakai alat tersebut, sehingga dapat menimbulkan rasa diri kurang, dibandingkan dengan anak-anak lain. Cara yang dipakainya untuk menutupi kekurangannya itu tidak selalu menguntungkan bagi si anak. Mungkin ia berpura-pura dapat mendengar dengan baik dan berbicara dengan suara keras sekali, atau mungkin pula sebaliknya seperti berbisik-bisik sampai sulit terdengar bagi pendengaran biasa.

Kekurangan dalam hal ini dapat diketahui dari ucapan kata-kata yang tidak sempurna. Karena anak tidak bisa mendengar dengan sempurna, ia tidak dapat pula meniru bunyi-bunyi atau kata-kata dengan sempurna.

Ucapan kata yang tidak sempurna juga dapat disebabkan oleh bentuk rahang, letak gigi atau bentuk bibir yang pernah mengalami operasi. Bila rahang, letak gigi, bentuk bibir dan langit-langit tidak memperlihatkan kelainan, maka anak yang ucapan kata-katanya tidak sempurna perlu diperiksa kemampuan daya pendengarannya dengan lebih teliti.

c.   Apabila terdapat keluhan-keluhan lain, misalnya pusing-pusing, sering-sering jatuh, maka pemeriksaan dokter syaraf perlu dilakukan untuk mengetahui apakah keadaan kekurangan fisik itu dapat diperbaiki dengan pengobatan.

Seorang anak sering jatuh, dan bila ditanya bagaimana dan di mana jatuhnya, ia memberikan jawaban yang berbeda-beda. Ulangan berhitung kadang-kadang hasilnya baik sekali. Kadang-kadang hasil ulangan berhitungnya buruk sekali, dengan jawaban dan cara yang aneh-aneh. Setelah diperiksa ternyata anak mengalami penurunan kesadaran yang tidak diketahui oleh guru maupun orangtuanya. Dengan pengobatan untuk mencegah penurunan kesadaran, si anak tidak lagi sering jatuh.

Pada contoh anak dengan penurunan kesadaran maka sumber persoalan dapat diperbaiki dengan obat-obatan.

d.   Ada pula kekurangan pada diri anak yang tidak dapat diperbaiki melalui pemberian alat pembantu maupun pengobatan.

Seorang anak dapat menangkap pembicaraan orang lain dengan baik, mudah mengerti pelajaran dan kesalahan yang tidak disangka-sangka ditemukan dalam tulisannya. Setelah pemeriksaan lebih mendalam, ternyata anak ini memiliki suatu kelainan fisik yang tidak dapat diperbaiki.

Dalam contoh anak dengan kesulitan menulis, maka pengobatan tidak akan memberi perbaikan. Anak hanya dapat membantu menulis dengan baik melalui cara mengajar mennulis yang khusus dengan alat-alat peraga khusus pula.

II.    Kesulitan-kesulitan yang disebabkan oleh kurang “campur tangan” orangtua atau siapa saja dalam tata cara hidup dan perencanaan waktu anak.

Anak memang tidak sama dengan orang dewasa. Anak masih banyak dikuasai oleh keinginan-keinginan bermain. Einginan bermain ini tidak selalu mudah terlihat oleh orang lain dan perlu diatur penyalurannya. Anak yang bermain dengan boneka atau bermain bola mudah diketahui, dan mudah pula diatur waktu bermainnya. Sebaiknya anak yang bermain dalam alam fantasinya, dalam khayalan, sulit diatur waktu bermainnya.

Seorang anak laki-laki, senang sekali bermain bola dan segala permainan yang membutuhkan banyak pergerakan. Orangtua telah menentukan bahwa semua anak, tiga anak perempuan dan seorang laki-laki, siang sesudah pulang sekolah dan makan, harus tidur dan sorenya harus belajar sampai pada waktu makan malam tiba. Sesudah makan malam, istirahat sebentar lalu belajar lagi. Ternyata anak ini hasil ulangannya tidak sesuai dengan harapan ibunya dan juga tidak seimbang dengan waktu belajarnya yang cukup banyak.

Anak laki-laki pada contoh ini ternyata kemampuan belajarnya baik sekali, tetapi baik waktu maupun kemampuannya tidak dipakainya. Sewaktu anak ini belajar dan menghadapi buku-buku pelajaran, ternyata pikirannya tidak di ruang belajar. Dalam alam pikirannya ia berada di lain tempat dan sedang membayangkan tempat berkumpul teman-temannya di mana dikhayalkannya ia sedang bermain. Anak laki-laki ini ternyata memerlukan lebih banyak permainan dengan banyak gerak. Penyalurannya dalam khayalan sulit dibatasi.

Anak belum dapat membagi waktu antara tugas-tugas sekolah dengan bermain-main. Tambahan pula setiap anak berbeda kebutuhannya akan waktu bermain, sesuai dengan umurnya, sehingga orangtua dan para pendidik perlu membantu anak dalam perencanaan waktunya dan pelaksanaan dari perencanaan itu.

Anak yang belum mendapat pekerjaan rumah sebagai tugas dari sekolah, dapat dibiasakan untuk melakukan tugas-tugas kecil di rumah. Dalam pemberian tugas-tugas ini perlu diperhatikan agar penyelesaian tugas terletak dalam jangkauan kemampuan anak.

Anak yang telah mendapat pekerjaan rumah secara teratur, perlu dibuatkan jadwal belajar di rumah. Jadwal belajar harus meliputi juga masa istirahat yang cukup untuk menyegarkan anak setelah belajar di sekolah. Kurang tepat bila anak sepulangnya dari sekolah harus langsung menghadapi lagi buku-buku pelajarannya. Anak yang lelah, lebih sulit mencurahkan perhatiannya ke bahan pelajaran. Pikirannya mudah “melayang”. Masa istirahat yang agak lama diberikan apabila anak lelah sekali. Sesudah segar dan kembali belajar sungguh-sungguh, perlu diberi masa istirahat singkat untuk memberikan kesempatan bergerak dengan leluasa. Istirahat ini bagi anak-anak diisi dengan bermain.

Jadwal belajar yang meliputi masa belajar, istirahat, dan bermain harus disesuaikan dengan umur anak. Makin bertambah umur anak, makin lama waktu belajar dan makin singkat waktu istirahat untuk bermain. Waktu tidur malam hari disesuaikan dengan kebutuhan anak akan tidur. Di kota-kota di mana sudah ada T.V. maka anak-anak sering melewati waktu tidur yang sesuai dengan usianya karena menonton acara-acara T.V. sampai selesai. Anak yang tidur terlambat, walaupun sudah terbiasa bangun pagi-pagi, akan tetap kurang teliti dalam pelajarannya. Seorang anak yang sudah ditetapkan waktu-waktu belajarnya dan pergi ke kamar untuk tidur sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh orangtuanya, tanpa diketahui orangtuanya dapat membaca buku sampai jauh malam.

Seorang anak perempuan, sudah ditentukan waktu-waktunya sesuai dengan segala aktifitas yang harus dilakukannya sesudah pulang dari sekolah. Waktunya dibagi untuk belajar, latihan piano, dan berbagai macam les piano. Tidur tepat pada waktunya, akan tetapi tidak langsung tertidur karena dalam khayalannya ia membuat cerita-cerita dan sampai malam sekali, baru tertidur. Tentu saja hasil-hasilnya di sekolah tidak memuaskan, karena kesegaran yang sebenarnya diharapkan ketika bangun pagi tidak dirasakan.

Dari beberapa contoh ini jelaslah bahwa “campur tangan” orangtua sangat dibutuhkan dalam membagi waktu, serta pengawasan terhadap terlaksananya pembagian waktu dan jadwal belajar itu di rumah.

III.  Prestasi anak di sekolah selain tergantung dari faktor-faktor pada anak itu sendiri, bimbingan dan pengawasan orangtua, maka keadaan dan suasana sekolah sangat berperan pula.

Seorang anak pernah diperiksa taraf kemampuan inteligensinya, ternyata kepintarannya cukup tinggi. Biasanya nilai rapornya baik sekali. Tiba-tiba di suatu kelas nilainya merosot dan anak segan sekolah. Setiap pagi kalau harus berangkat ke sekolah, mengeluh sakit perut atau sakit kepala. Diperiksa dokter, ternyata ia sehat. Rupanya anak ini, karena nilai ulangannya selalu baik sekali, diancam oleh temannya. Kalau temannya tidak diperbolehkan “nyontek”, maka pulang sekolah ia dipukul. Kalau ia ketahuan guru sedang memberi pekerjaannya pada temannya, ia mendapat angka nol. Kalau ia ketahuan guru sedang membisikkan jawaban, disangka ngobrol dan dikurangi angka. Sehingga anak ini, setiap kali kalau ada ulangan mengalami suatu kebimbangan, apa yang harus dilakukannya, ke sekolah dengan kemungkinan dipukul waktu pulangnya atau dimarahi guru. Ternyata sering diambilnya jalan ketiga di mana dengan sakit perut ia tidak perlu ke sekolah. Pernah anak tersebut ketika minta ibunya untuk menjemputnya dari sekolah, pada waktu istirahat diejek terus oleh teman-temannnya.

Seorang anak perempuan sangat halus perasaannya. Di rumah ia tinggal dengan beberapa keluarga. Keluarga yang menempati kamar di sebelahnya sering “latihan perang” di rumah. Apabila si anak sudah mendengar suara-suara dan teriakan keras, maka tak lama kemudian kursi-kursi dan barang akan terdengar dilempar-lempar dan sebagainya. Hal-hal demikian sangat membingungkan si anak. Kebetulan guru anak ini, mempunyai teori mendidik anak dengan cara memperbesar suaranya, supaya dengan suara yang keras dan tangan besi, ketertiban kelas dapat dipertahankan. Murid ini justru setiap kali mendengar suara keras gurunya, mengalami kekacauan, sehingga tidak dapat menangkap pelajaran.

Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa suasana di sekolah penting bagi kegemaran anak untuk pergi ke sekolah. Bahkan penting pula untuk meningkatkan semangat belajar dan daya tangkap anak.

Dalam persoalan di mana jelas terlihat suatu keseganan pada anak untuk pergi ke sekolah perlu diperhatikan bagaimana hubungan anak dengan murid-murid sekelasnya, apabila ternyata anak itu mengalami tekanan-tekanan dari luar, dari teman-teman sekelasnya, maka sebaiknya guru diikutsertakan dalam menanggulangi persoalan ini. Sebaliknya, apabila persoalan itu disebabkan oleh suatu pandangan tertentu dari si anak terhadap gurunya, maka tentunya guru tersebut tidak dapat dipersalahkan, karena murid-murid lain tidak mengalami persoalan tersebut. Dalam hal ini, anak sedikit demi sedikit harus diinsyafkan bahwa guru sebenarnya bermaksud baik dengan tujuan mencapai hasil yang setinggi-tingginya bagi murid-muridnya.

Dalam menyoroti persoalan-persoalan dalam menghadapi anak di mana persoalan-persoalan mulai timbul dengan titik tolak prestasi sekolah yang tidak sesuai dengan harapan orangtua, ternyata sebab persoalan dapat dikelompokkan dalam 3 kelompok:

a.   Sumber persoalan terdapat pada anak itu sendiri.

Sumber persoalan pada anak disebabkan oleh kekurangan-kekurangan pada anak:

Terlihat anak mengalami kekurangan pada tubuhnya baik dalam hal daya kemampuan tubuh maupun kekurangan bagian tubuh seperti cacat tubuh. Kekurangan-kekurangan jasmani ada yang dapat diatasi dan diperbaiki dengan alot pembantu: kacamata, alat pernbantu pendengaran, alat pengganti atau alat tubuh buatan. Ada pula kekurangan yang tidak dapat diperbaiki, sehingga orangtua harus menerima anak sebagaimana adanya dan mengusahakan cara-cara yang sebaik mungkin bagi si anak. Anak yang mengalami penyimpangan pada persyarafannya, sehingga tidak dapat mengerti bahasa tertulis, tidak dapat membaca. Dengan kacamata dan operasi tidak dapat memperbaiki sumber persoalan. Maka dicoba cara-cara penambahan pengetahuan melalui cara-cara pengajaran khusus.

Untunglah pada masa kemajuan di segala bidang ini, termasuk juga bidang pendidikan anak, telah didapati berbagai cara untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang khas.

b.   Sumber persoalan terletak dalam hubungan antara orangtua dengan anak.

Sumber persoalan yang terletak pada orangtua dalam hubungannya dengan anak. Antara lain, salah penilaian orangtua mengenai anak. Sering orangtua menyangka bahwa anak sudah mengerti segala sesuatu yang disampaikan kepadanya, karena anak sudah berbicara seperti orang dewasa. Padahal belum tentu anak dapat menangkapnya secara keseluruhan, mungkin hanya sebagian kecil saja yang dimengertinya. Tambahan pula antara dapat mengerti dan dapat melaksanakan masih terletak jurang perbedaan antara alam anak dengan alam orang dewasa. Seringpula orangtua tidak menyadari “jurang” tersebut sehingga anak kurang “dikenalnya". Ada pula orangtua yang mengharapkan hasil yang tidak mungkin dicapai oleh kemampuan anak. Tidak terpenuhinya harapan-harapan orangtua menimbulkan kekecewaan-kekecewaan, baik di pihak anak maupun di pihak orangtua.

Hal ini dapat diatasi dengan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai kemampuan anak pada umumnya dan kemampuan anak pada khususnya.

c.   Sumber persoalan terletak pada hubungan antara anak dengan guru, atau dengan anak-anak lainnya.

Sumber persoalan yang terletak pada hubungan antara guru dengan anak, hubungan anak dengan murid-murid lain, dan lingkungan sekolah umumnya. Guru dan murid-murid sekelas, besar peranannya terhadap anak. Guru dapat merangsang kegiatan anak dalam hal-hal belajar dan kegiatan-kegiatan lain di sekolah. Sebaliknya, hubungan guru dengan anak dapat pula mematahkan semangat belajar anak bila terjadi kesalahpahaman pada salah satu pihak, baik dari pihak murid maupun dari pihak guru.

Demikian pula teman-teman sekelas, dapat memberi pekan terwujudnya kegelisahan orangtua karena anak kurang untuk belajar rajin-rajin. Sebaliknya pengaruh beberapa teman sekelas dapat juga sedemikian menekan anak, sehingga ia tidak dapat belajar lagi di sekolah maupun di rumah.

Dari ketiga kelompok sumber persoalan yang menyebabkan terwujudnya kegelisahan orangtua karena anak kurang berhasil di sekolah ini, nyatalah betapa sangat diperlukan cara-cara penelitian persoalan yang mendalam. Penelitian yang mendalam harus dilakukan terhadap anak. Bukan hanya anak saja secara terpisah, melainkan anak dalam hubungannya dengan orangtua, saudara-saudaranya, anggota-anggota keluarga lainnya yang tinggal serumah, guru, dan teman-teman.

Dalam menanggulangi persoalan-persoalan anak sehubungan dengan prestasinya di sekolah, maka peneropongan dari persoalan seolah-olah melalui tiga tahap:

I.       Pada tahap pertama anak itu diteliti, apakah ada kekurangan-kekurangan, penyimpangan-penyimpangan yang dapat diperbaiki untuk mengatasi persoalan. Apabila tidak ditemukan suatu kekurangan pun pada anak maka dimulai tahap kedua.

II.     Anak dilihat dalam hubungannya dengan orangtua dan anggota-anggota keluarga lainnya. Anak dilihat dalam lingkungan keluarga, sebagai anggota kelompok kesatuan masyarakat terkecil yang harus memenuhi tugas-tugas dan harapan-harapan kelompoknya, harapan-harapan orangtuanya. Bila ternyata hubungan antara orangtua anak dan dengan anak-anak lainnya tidak menimbulkan kesulitan apa-apa barulah peneropongan tahap terakhir dimulai.

III.    Di sini khususnya dilihat bagaimana peranan suasana sekolah terhadap anak dengan bagian-bagian pentingnya yakni hubungan guru dengan anak. Bagaimana pribadi guru dalam pandangan mata anak. Bagaimana sifat-sifat teman-teman sekelas yang duduk dekat anak ini. Apakah ada murid-murid yang menguasai kelas dalam arti yang merusak suasana baik di kelas.


Dengan penyorotan persoalan anak secara mendalam dan usaha-usaha untuk menanggulangi sumber persoalannya, diharapkan anak dapat mengembangkan kemampuan dan bakat-bakatnya sebaik mungkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar