Jumat, 05 Juli 2013

Di Jalan-Nya Kita Bermesra

kita semua sama, terpenjara dalam kesendirian
hanya saja,
ada yang terkurung di ruang gelap tanpa cahaya
sementara yang lain menghuni kamar berjendela
-Kahlil Gibran-


BERABAD-ABAD lamanya filsafat, sastra, pengetahuan, dan para peneliti memberitahu bahwa satu-satunya alasan kita menjalin hubungan dengan orang lain justru adalah demi kepentingan pribadi. Atau, setinggi-tingginya ia hanyalah penyeimbang yang kita perlukan untuk menjaga egoisme. Ya, menyendiri adalah penderitaan. Tetapi, kebersamaan tak kalah buruknya.

Ilmu pengetahuan yang datang belakangan dengan mendasarkan diri pada falsafah evolusi Darwin semakin mempertajam pemahaman tak ramah tentang hubungan antar-manusia ini. Hubungan sejati adalah persaingan habis-habisan, hingga terjadi ‘survival of the fittest’. Konsep bertahannya yang terbugar inilah asas Darwinisme sosial.

Maka, bahkan seseorang yang penuh kebajikan, altruist, oleh Psikologi madzhab Freudian akan ditafsir sebagai upaya kompensasi atas hal-hal negatif dalam diri, “pemujaan dan kebanggaan terhadap diri pribadi.” Mungkin juga Psikologi Behaviorisme melihatnya sebagai “tanggapan hiperbola terhadap rangsang situasi.”

Ini semua sungguh ‘kebenaran’ yang tak menyenangkan dan menyesakkan hati.

“Terima kasih Tuhan,” ungkap Tony Buzan dalam The Power of Social Intelligence, “Berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukan belakangan ini, muncullah gambaran yang lebih rumit, canggih, baik, dan positif mengenai hal tersebut.”

Adalah Joseph Henrich, antropolog dari University of Michigan dan koleganya Robert Boyd dari University of California in Los Angeles (UCLA), berada di barisan para pendobrak anggapan yang menggelisahkan itu. Mereka telah mempelajari dengan seksama penyaluran perilaku sosial dan budaya antara sesama manusia. Mereka memperoleh kesimpulan yang menarik: upaya kerjasama bukanlah hasil dari rasa kedirian. Pertama-tama dia dimungkinkan adalah buah dari upaya turun-temurun menjamin kelangsungan dan lestarinya jenis makhluk bernama manusia. Bukan secara pribadi, melainkan berjama’ah.

Dalam upaya itu, demikian Henrich dan Boyd, masyarakat manusia terbekali oleh dua kecenderungan meniru. Yang pertama adalah kecenderungan untuk meniru dan menjadi sama dengan kelompok mayoritas. Yang kedua adalah kecenderungan untuk meniru dan menjadi sama dengan pribadi-pribadi berprestasi.

Peniruan ganda ini membawa ke tahap demi tahap keberhasil-an yang positif dan berpangkat-pangkat. Upaya kerjasama mengarah pada terciptanya kemungkinan adanya lebih banyak pangan, peningkatan kualitas kesehatan, keberlimpahan daya cipta, serta adanya lebih banyak energi. Semua hal ini berkelindan membentuk peningkatan mutu kehidupan yang kokoh dan bisa dinikmati oleh masyarakat manusia secara keseluruhan.

Joseph Henrich dan Robert Boyd memberi catatan pada penelitiannya, bahwa kemampuan pribadi-pribadi untuk memberi pemaknaan pada hidupnya, akan pula menguatkan pemaknaan mereka terhadap hubungan yang pada akhirnya membuat kerjasama menjadi suatu kekuatan yang cantik, manis, dan agung.

Nah, selama ini seperti apa pemaknaan kita terhadap persaudaraan dan kebersamaan?

                                                                                       ***
Tak mudah menghadapi Fir’aun. Kekuasaannya mutlak, perbendaharaannya kaya, dan kerajaannya luas. Ia punya punggawa nan setia, juga pasukan yang kuat dan taat buta. Apalagi setelah kejayaannya bertubi, kemakmuran rakyatnya berlimpah, dan perbudakan Bani Isroil makin kokoh, penyakit sombong Fir’aun memuncak. Dia mengaku tuhan. Dia menyangka sungai Nil mengalir di bawah kakinya, atas kuasanya. Dia merasa memiliki hidup dan mati seluruh rakyatnya.

Tak mudah menyampaikan kebenaran kepada Fir’aun. Sungguh tak mudah. Terlebih bagi Musa yang ―tak bisa tidak― punya beban berhutang budi pada keluarga Fir’aun. Keluarga tempatnya tumbuh, keluarga yang merawat dan mendidiknya. Apalagi dibanding Fir’aun yang fasih, anggun, dan gagah, penampilan Musa tampak kacau dan gagap. Satu lagi, dia pernah membunuh penduduk di negeri Sang Fir’aun. Dosa itu terus menghantuinya hingga kini.

Tak mudah menghadapi Fir’aun, terlebih bagi seseorang seperti Musa.

Ketika beban kerosulan diamanahkan padanya, ia mengadu merasa tak mampu. “Lisanku gagap lagi kelu,” desahnya, “Aku takut mereka akan mendustakanku.” Ya, bagaimana dia akan menyampaikan kebenaran, sementara bicara bukanlah sesuatu yang mudah baginya? Bagaimana ia akan dipercaya, padahal menyusun kata adalah kemusykilan yang memberatkannya? “Dan aku memiliki dosa atas mereka,” katanya bertambah keluh kesah, “Aku takut mereka akan membunuhku.”

Tapi Alloh ‘Azza wa Jalla telah memilihnya. Dan Alloh tak asal pilih. Dan Alloh tak salah tunjuk. Musa memang telah menjalani perannya dalam takdir yang tak mudah ini sejak sang ibu melahirkan dan melarungnya di sungai Nil. Tentu salah satunya kelak bermakna untuk menguatkan hati Rosul terakhir Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan menjadi pelajaran berharga bagi kita. Dan kini, di saat Musa mengeluhkan ketakberdayaannya, Alloh pun menguatkan hatinya dan mengokohkan tekadnya.

Alloh mengaruniakan pada Musa mu’jizat danbukti kebenaran. Tongkat yang dilemparnya berubah menjadi makhluk menakutkan namun agung. Tangannya di angkat, dan cahaya putih menyilaukan bersinar menerangi semesta di sekitarnya. Sungguh mu’jizat yang tak terkalahkan, datang dari Zat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia. Tapi dengan itu pun, Musa masih merasa goyah. Dia masih merasa tak utuh. Dia meminta satu hal lagi. “Dan Harun saudaraku,” pintanya, “Jadikanlah ia pendamping yang menguatkanku.”

Alloh mengabulkannya. Musa dan Harun bermesra di jalan-Nya. Memimpin kaum yang sulit ditata dan mengalahkan Fir’aun yang perkasa. Mereka bersama dalam duka dan suka. Mereka seia sekata sejak menghadapi Fir’aun dalam perdebatan dan pertarungan, membebaskan Bani Isroil dari perbudakan, hingga memimpin mereka berhijroh dan menyaksikan tenggelamnya sang tiran. Juga bersama menghadapi saat-saat sulit ketika Bani Isroil semakin rewel, menyembah patung lembu, dan membangkangi Alloh. Mereka bermesra di jalan-Nya. Saling menguatkan untuk menegakkan kebenaran.

                                                                                       ***
Tanyakan pada Musa tentang makna persahabatan. Tentu dia memiliki seindah-indahnya jawaban. Setidaknya dari permohonan-nya pada Alloh, kita tahu bahwa Musa meminta kepada Alloh agar Harun dijadikan penguat di sisinya, atas segala kelemahan yang dimilikinya. Ya, mengemban risalah dengan kesulitan-kesulitan diri seperti seorang Musa membuat sahabat menjadi hajat yang mendesak.

Tapi apa makna sahabat bagi seorang dengan rekam jejak sempurna ketika diangkat menjadi Rosul seperti Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam? Berbeda dengan Musa ‘Alaihis Salam, tak ada yang bisa menyebut satu pun cacat, aib diri, bahkan hutang budi seorang Muhammad. Alloh menjaganya selalu. Dia ma’shum sejak sebelum diangkat menjadi Nabi. Dia al-Amin. Dan risalah terakhir ini diberikan padanya, manusia paling sempurna.

Maka, apa makna sahabat bagi seorang seperti Muhammad?

“Alloh melihat di dalam hati para hamba-Nya,” demikian ‘Abdulloh ibn Mas’ud berkata, “Dan didapati-Nya hati Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam adalah yang paling putih. Maka Alloh memilihnya menjadi Nabi dan utusan yang membawa risalah penutup-Nya. Lalu Alloh melihat lagi ke dalam hati para hamba-Nya, maka didapati-Nya hati sahabat-sahabat Muhammad adalah yang paling jernih. Maka Dia pun menjadikan mereka sahabat yang mendukung dan menolongnya dalam menegakkan risalah.”

                                                                                       ***
Kebenaran.

Kebenaran dan terbimbingnya manusia tentu adalah makna yang masih sangat kuat bagi kehidupan para Rosul. Seperti diungkap penelitian Henrich dan Boyd, pemaknaan yang kuat ini akan melipatgandakan kekuatan kerjasama sebagai asas berlanjutnya kehidupan jama’ah manusia. Ia menjadi asas terciptanya kemung-kinan ketersediaan lebih banyak pangan, peningkatan kualitas kesehatan, keberlimpahan daya cipta, serta adanya lebih banyak energi. Sebuah mutu kehidupan, sebuah peradaban, terbangun dengan indah di atas berpadunya kebenaran dengan hubungan saling menguatkan antar sesama.

“Alangkah indahnya gagasan,” kenang Hasan al-Banna dalam Mudzakkirotud Da’wah wa Da’iyah, “Dan alangkah bermaknanya jika ada sekelompok manusia yang berjanji setia untuk mewujudkan-nya.” Sungguh keliru jika dianggap para penebar kebajikan mendapat pendukung, semata-mata karena balas jasa atas apa yang dia taburkan. Dalam sebuah kebenaran, keterbimbingan manusia, ada kekuatan yang jauh lebih besar, jauh lebih tinggi, dan lebih mulia yang menyatukan hati-hati itu.

“Dan Alloh yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau membelanjakan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allohlah yang telah menyatupadukan mereka…” (Qs. al-Anfal [8]: 63)

“Aqidah ini memang ajaib!” seru Sayyid Quthb ketika Fii Zhilaalil Qur’an yang dia susun sampai di ayat ini. “Ketika telah meresap dalam hati, ia akan menjadikan hati itu dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang di antara sesamanya. Yang keras beralih lunak, yang kasar menjelma lembut, yang kering berubah jadi basah, yang liar menjadi jinak. Ia-ia berjalin kelindan di antara sesamanya dengan jalinan yang kokoh, dalam, dan empuk.

Tiba-tiba pandangan mata, sentuhan tangan, pembicaraan, gerak anggota badan, dan getar hati menjadi sebuah simfoni. Nyanyiannya merdu, diiringi saling pengertian, saling menyayangi, saling setia, tolong membantu, luasnya jiwa, dan sikap lapang dada. Tak ada yang mengetahui kegaiban himpunan hati ini, kecuali Dia yang telah mempersatukannya. Tak ada yang merasakan indahnya kecuali hati-hati itu sendiri. Mereka berikrar untuk bermesra dijalan-Nya.

Itulah yang terjadi pada Muhammad dan orang-orang yang bersamanya. Lalu manusia menyaksikan sebuah keajaiban. Energi kebajikan tumpah ruah ke segenap penjuru bumi, dalam dekapan ukhuwah…




Sumber: Dalam Dekapan Ukhuwah; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Garam Ini Terbuat dari Air Mata

Saat Anda menangis, maka Anda bisa merasakan air mata yang asin saat menyentuh lidah Anda. Tubuh memang memproduksi cairan dalam tubuh yang mengandung garam. Hal yang sama bisa kita rasakan saat berkeringat.

Hoxton Street Monster Supples adalah salah satu supplier bahan makanan unik yang bekerja sama dengan kementrian Inggris, telah menghasilkan sebuah penemuan yang mungkin terdengar aneh. Garam yang terbuat dari air mata. Mungkin sepintas akan terbersit di pikiran Anda, air mata sebanyak apa yang diperlukan untuk memproduksi garam tersebut?

Namun lebih uniknya lagi, dilansir dari Huffington Post, Hoxton Street Montes Supplies juga membedakan garam-garam ini ke dalam kategori perasaan yang berbeda. Ada garam air mata yang mewakili perasaan marah, garam air mata yang mengiris bawang, garam air mata saat bersin, garam air mata kebahagiaan dan garam air mata kesedihan. Wah, banyak juga ya ternyata perasaan yang timbul bersamaan dengan jatuhnya air mata.

Garam ini dibuat dari air mata manusia dan kombinasi bahan lainnya yang direbus dan dikristalkan, kemudian dipanen sehingga menghasilkan garam-garam dengan perasaan dan warna yang berbeda. Pembuat garam ini adalah seorang spesialis garam lautan, Halen Mon. Garam air mata ini dijual secara online dengan harga yang cukup mahal sekitar $ 11-47 atau mulai dari Rp 100.000 sampai hampir setengah juta.

Namun penjualan garam air mata ini memang dilakukan untuk acara amal. Well, dengan komoditi yang unik seperti ini mungkin banyak pembeli yang berminat dengan garam tersebut. Well, ada yang berminat memasak dengan garam air mata ini, Ladies?

Minggu, 30 Juni 2013

Inilah Sejarah Ka’bah dari Masa ke Masa

Awalnya, Makkah hanyalah sebuah hamparan kosong. Sejauh mata memandang pasir bergumul di tengah terik menyengat. Aliran zamzamlah yang pertama kali mengubah wilayah gersang itu menjadi sebuah komunitas kecil tempat dimulainya peradaban baru dunia Islam.

Bangunan persegi bernama Ka’bah didaulat menjadi pusat dari kota itu sekaligus pusat ibadah seluruh umat Islam. Mengunjunginya adalah salah satu dari rukun Islam, Ibadah Haji.

Ka’bah masih tetap berdiri kokoh hingga saat ini dan diperkirakan masih terus berdiri hingga kiamat menjelang. Beberapa generasi pernah menjadi saksi berdirinya Ka’bah hingga berbagai kemelut menyelimutinya.

Adalah Ismail, putra Nabi Ibrohim dan Siti Hajar, yang kaki mungilnya pertama kali menyentuh sumber mata air zamzam. Akibat penemuan mata air abadi ini, Siti Hajar dan Ismail yang kala itu ditinggal oleh Ibrohim ke Kanaan di tengah padang, tiba-tiba kedatangan banyak musafir. Beberapa memutuskan untuk tinggal, beberapa lagi beranjak.

Ibrohim datang dan kemudian mendapatkan wahyu untuk mendirikan Ka’bah di kota kecil tersebut. Ka’bah sendiri berarti tempat dengan penghormatan dan prestise tertinggi.

Ka’bah yang didirikan Ibrohim terletak persis di tempat Ka’bah lama yang didirikan Nabi Adam hancur tertimpa banjir bandang pada zaman Nabi Nuh. Adam adalah Nabi yang pertama kali mendirikan Ka’bah.

Tercatat, 1500 SM adalah merupakan tahun pertama Ka’bah kembali didirikan. Berdua dengan putranya yang taat, Ismail, Ibrohim membangun Ka’bah dari bebatuan bukit Hiro, Qubays, dan tempat-tempat lainnya.

Bangunan mereka semakin tinggi dari hari ke hari, dan kemudian selesai dengan panjang 30-31 hasta, lebarnya 20 hasta. Bangunan awal tanpa atap, hanyalah empat tembok persegi dengan dua pintu.

Celah di salah satu sisi bangunan diisi oleh batu hitam besar yang dikenal dengan nama Hajar Aswad. Batu ini tersimpan di bukit Qubays saat banjir besar melanda pada masa Nabi Nuh.

Batu ini istimewa, sebab diberikan oleh Malaikat Jibril. Hingga saat ini, jutaan umat Muslim dunia mencium batu ini ketika berhaji, sebuah lelaku yang dicontohkan oleh Rosululloh Muhammad.

Selesai dibangun,  Alloh memerintahkan Ibrohim untuk menyeru umat manusia berziarah ke Ka’bah yang didaulat sebagai Rumah Tuhan. Dari sinilah, awal mula haji, ibadah akbar umat Islam di seluruh dunia.

Karena tidak beratap dan bertembok rendah, sekitar dua meter, barang-barang berharga di dalamnya sering dicuri. Bangsa Quroisy yang memegang kendali atas Makkah ribuan tahun setelah kematian Ibrohim berinisiatif untuk merenovasinya. Untuk melakukan hal ini, terlebih dahulu bangunan awal harus dirubuhkan.

Al-Walid bin Al-Mughiroh Al-Makhzumy adalah orang yang pertama kali merobohkan Ka’bah untuk membangunnya menjadi bangunan yang baru.

Pada zaman Nabi Muhammad, renovasi juga pernah dilakukan pasca banjir besar melanda. Perselisihan muncul di antara keluarga-keluarga kaum Quroisy mengenai siapakah yang pantas memasukkan Hajar Aswad ke tempatnya di Ka’bah.

Rosululloh berperan besar dalam hal ini. Dalam sebuah kisah yang terkenal, Rosululloh meminta keempat suku untuk mengangkat Hajar Aswad secara bersama dengan menggunakan secarik kain. Ide ini berhasil menghindarkan perpecahan dan pertumpahan darah di kalangan bangsa Arab.

Renovasi terbesar dilakukan pada tahun 692. Sebelum renovasi, Ka’bah terletak di ruang sempit terbuka di tengah sebuah mesjid yang kini dikenal dengan Masjidil Harom. Pada akhir tahun 700-an, tiang kayu masjid diganti dengan marmer dan sayap-sayap mesjid diperluas, ditambah dengan beberapa menara. Renovasi dirasa perlu, menyusul semakin berkembangnya Islam dan semakin banyaknya jama’ah haji dari seluruh jazirah Arab dan sekitarnya.

Wajah Masjidil Harom modern dimulai saat renovasi tahun 1570 pada kepemimpinan Sultan Selim. Arsitektur tahun inilah yang kemudian dipertahankan oleh kerajaan Arab Saudi hingga saat ini.

Pada penyatuan Arab Saudi tahun 1932, negara ini didaulat menjadi Pelindung Tempat Suci dan Raja ‘Abdul ‘Aziz adalah raja pertama yang menyandang gelar Penjaga Dua Mesjid Suci, Masjidil Harom dan Masjid Nabawi.

Pada pemerintahannya, Masjidil Harom diperluas hingga dapat memuat kapasitas 48.000 jama’ah, sementara Masjid Nabawi diperluas hingga dapat memuat 17.000 jama’ah.

Pada pemerintahan Raja Fahd tahun 1982, kapasitas Masjidil Harom diperluas hingga memuat satu juta jama’ah. Renovasi ketiga selesai pada tahun 2005 dengan tambahan beberapa menara. Pada renovasi ketiga ini, sebanyak 500 tiang marmer didirikan, 18 gerbang tambahan juga dibuat. Selain itu, berbagai perangkat modern, seperti pendingin udara, eskalator dan sistem drainase juga ditambahkan.

Saat ini, pada masa kepemimpinan Raja ‘Abdulloh bin ‘Abdul-Aziz, renovasi keempat tengah dilakukan hingga tahun 2020. Rencananya, Masjidil Harom akan diperluas hingga 35 persen, dengan kapasitas luar mesjid dapat menampung 800.000 hingga 1.120.000 jama’ah. Jika rampung, bagian dalam Masjidil Harom akan dapat menampung hingga dua juta jama’ah.

Banjir Ka’bah

Bencana alam yang mungkin sering terjadi di wilayah Makkah adalah banjir. Terbesar tentu saja pada masa banjir bandang Nabi Nuh. Kala itu seluruh bangunan Ka’bah runtuh. Banjir juga terjadi beberapa kali di masa Nabi Muhammad. Sepeninggalnya, pada masa Kholifah ‘Umar bin Khoththob, banjir merusak dinding-dinding Ka’bah.

Salah satu banjir yang sempat terdokumentasikan adalah banjir besar pada tahun 1941. Dalam gambar yang dipublikasikan secara luas, terlihat bagian dalam Masjidil Harom terendam banjir hingga hampir setengah tinggi Ka’bah.

Di beberapa tempat bahkan mencapai leher orang dewasa. Banjir-banjir inilah yang kemudian membuat beberapa tiang mesjid yang terbuat dari kayu menjadi lapuk dan rapuh. Kerajaan Saudi terpaksa harus melakukan perbaikan beberapa kali untuk mengatasi hal ini.

Banjir sering terjadi di Makkah karena letak geografis kota tersebut yang diapit beberapa bukit. Hal ini menjadikan Makkah berada di dataran rendah yang letaknya seperti mangkuk. Air hujan tidak dapat dapat mudah diserap oleh tanah, mengingat lahan Timur Tengah yang tandus. Alhasil banjir bisa berlangsung selama beberapa lama. Ditambah lagi, sistem drainase kala itu tidak sebaik sekarang.

Selain banjir, berbagai insiden pertumpahan darah tercatat pernah mewarnai sejarah Masjidil Harom. Mulai dari zaman sebelum Nabi Muhammad lahir hingga ke zaman modern di abad ke-20. Beberapa insiden tersebut diakhiri dengan kemenangan para penguasa Ka’bah.

Serangan Gajah

Serangan terhadap Ka’bah yang paling terkenal terjadi pada tahun 571 Masehi, tahun kelahiran Nabi Muhammad. Kala itu, sebanyak 60.000 pasukan gajah yang dipimpin oleh Gubernur Yaman, Abrohah, berencana menyerbu Makkah dan menghancurkan Ka’bah.

Negara Yaman adalah salah satu negara Kristen besar kala itu. Sebuah gereja besar yang indah didirikan pada pemerintahan Raja Yaman, Habshoh. Gereja tersebut bernama Qullais. Abrohah sebagai pembina gereja bersumpah akan memalingkan pemujaan warga Arab dari Ka’bah di Makkah ke gerejanya di Yaman.

Alkisah, mendengar hal ini, seorang Arab dari kabilah Bani Faqim bin Addiy tersinggung kemudian masuk ke dalam gereja dan membuang hajat di dalamnya. Abrohah marah luar biasa dan bersumpah akan meruntuhkan Ka’bah. Berangkatlah dia beserta tentara terkuatnya, menunggang 60.000 ekor gajah.

Tidak ada satupun kekuatan kabilah Arab Saudi yang mampu menandingi kekuatan puluhan ribu tentara gajah tersebut. Berdasarkan komando dari kakek Muhammad, ‘Abdul Mutholib, para penduduk Makkah mengungsi ke puncak-puncak bukit di sekeliling Ka’bah. Berangkatlah rombongan tentara Abrohah menuju Ka’bah, hendak menghancurkan bangunan mulia tersebut.

Menurut kisah, laju tentara gajah terhenti akibat serangan dari ribuan burung Ababil. Burung-burung ini membawa tiga butir batu panas di kedua kakinya dan paruhnya. Dilepaskannya batu-batu tersebut di atas tentara gajah. Batu yang konon berasal dari neraka itu menembus daging para tentara dan gajah-gajah mereka. Sebuah tafsir mengatakan burung-burung itu membawa penyakit cacar yang menyebabkan para tentara Abrohah tewas akibat bisul yang sangat panas.

Inilah sebabnya, tahun penyerangan tentara Abrohah ke Makkah dinamakan sebagai Tahun Gajah. Kisah ini juga tertulis jelas di surat Al-Fiil di kitab suci Al-Qur’an. “Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. Al-Fiil: 3-4).

Bentrok dengan Iran

Di zaman modern, insiden paling sering adalah bentrok aparat keamanan Arab Saudi dengan para demonstran asal Iran. Kehadiran para demonstran merupakan perintah dari pemerintah Iran agar para jama’ah haji Iran menyampaikan protes terhadap kerajaan Saudi.

Kerusuhan terparah terjadi pada 31 Juli 1987 yang menewaskan 401 orang. Di antaranya adalah 275 warga Iran, 85 warga Arab Saudi, dan 42 jama’ah haji asal negara lain. Sebanyak 643 orang terluka, kebanyakan adalah jama’ah haji Iran.

Perseteruan antara Arab Saudi dengan Iran sudah berlangsung relatif lama. Dimulai saat Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, ulama Salaf kenamaan Arab Saudi, memerintahkan penghancuran beberapa makam yang dikultuskan umat Islam di Hijaz, termasuk makam ulama Syiah Al-Baqi, pada tahun 1925.

Tindakan ini tidak ayal membuat marah pemerintahan dan rakyat Iran yang mayoritas Syi’ah.  Kemelut pun dimulai, Iran menyerukan penggulingan pemerintahan di Arab Saudi dan melarang seluruh warga Iran pergi haji pada tahun 1927.

Ketegangan bertambah parah setelah pada tahun 1943, pemerintah Arab Saudi memenggal kepala seorang jama’ah haji Iran karena membawa kotoran manusia di pakaiannya ke dalam Masjidil Harom di Makkah.

Iran protes keras dan melarang warganya pergi haji hingga tahun 1948.

Sejak saat itu, demonstrasi jama’ah haji Iran terus dilakukan di Makkah. Ini berkat imbauan Ayatulloh Khomeini pada tahun 1971 yang memerintahkan setiap jama’ah haji Iran untuk berhaji sambil menyampaikan pandangan politik mereka terhadap pemerintah Arab Saudi. Para jama’ah Iran menyebut demonstrasi ini dengan nama “Menjaga Jarak dengan Para Musyrikin.”

Pada tahun 1982, situasi kedua negara sempat tenang. Khomeini memerintahkan rakyatnya menjaga ketertiban dan perdamaian, tidak menyebarkan pamflet-pamflet propaganda, dan untuk tidak mengkritik pemerintahan Arab Saudi.

Sebagai balasannya, kerajaan Arab Saudi membebaskan jama’ah haji Iran untuk kembali berhaji. Sebelumnya, Saudi membatasi jumlah jama’ah haji asal Iran untuk menghindari konflik.

Ketegangan kembali terjadi pada Jumat, 31 Juli 1987. Para jama’ah haji Iran melakukan pawai protes menentang para musuh Islam, yaitu Israel dan Amerika Serikat, di kota Makkah. Ketika sampai di depan Masjidil Harom, mereka diblokir oleh aparat keamanan Arab Saudi, namun mereka tetap memaksa masuk.

Bentrokan berdarah kemudian terjadi yang mengakibatkan situasi kacau dengan beberapa orang terinjak-injak oleh massa yang panik.

Ada beberapa versi pemicu kematian ratusan orang pada insiden ini. Pemerintah Iran mengatakan, aparat keamanan Saudi melepaskan tembakan ke arah demonstran damai, sementara Arab Saudi mengatakan bahwa korban tewas akibat terjepit dan terinjak jama’ah yang panik. Akibat hal ini, hubungan kedua negara kembali renggang dan pemerintah Arab Saudi kembali menerapkan pembatasan jama’ah haji Iran.

Mahdi Palsu

Peristiwa berdarah lainnya terjadi pada 20 November 1979. Kala itu ratusan orang bersenjata menguasai Masjidil Haram dan menyandera puluhan ribu jama’ah haji di dalamnya.

Penyanderaan dipimpin oleh Juhaimin Ibnu Muhammad Ibnu Saif al-Otaibi yang mengatakan saudara iparnya, Muhammad bin ‘Abdulloh Al-Qohthoni, adalah Imam Mahdi atau sang penyelamat akhir zaman.

Dilaporkan sebanyak 400-500 militan Otaibi, termasuk di dalamnya wanita dan anak-anak, mengeluarkan senjata yang mereka sembunyikan di balik baju dan merantai gerbang Masjidil Harom. Mereka memerintahkan para jama’ah untuk tunduk kepada Mahdi palsu, Al-Qohthoni. Penyanderaan berlangsung selama dua minggu, sebelum akhirnya para militan diberantas oleh pasukan bersenjata gabungan antara Arab Saudi dengan beberapa negara.

Pasukan Arab Saudi sempat dipukul mundur karena hebatnya persenjataan para militan. Seluruh warga Makkah dievakuasi ke beberapa daerah.

Pasukan kerajaan siap melakukan gempuran mematikan. Namun, mereka harus meminta izin dari ulama besar Arab Saudi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, yang telah  melarang segala jenis kekerasan di Masjidil Harom. Akhirnya dia mengeluarkan fatwa penyerangan mematikan untuk mengambil alih Ka’bah.

Dilaporkan 255 jama’ah haji dan militan Otaibi tewas dalam penyerangan tersebut, sebanyak 560 orang terluka. Dari sisi tentara Arab Saudi, sebanyak 127 tewas dan 451 terluka.

Berbagai cerita berbeda mengisahkan saat-saat penyerangan oleh tentara gabungan Arab Saudi, Pakistan, dan Perancis.

Salah satu laporan mengatakan tentara membanjiri Masjidil Harom dengan air dan mengalirinya dengan listrik, menyetrum para militan. Laporan lainnya mengatakan para tentara menggunakan gas beracun. Pasukan Perancis dipanggil karena pasukan Arab Saudi tidak berdaya.

Tentara Perancis ini dikabarkan menjadi Muslim dahulu sebelum masuk Masjidil Harom. Langkah ini mereka lakukan lantaran Masjidil Harom hanya boleh dimasuki oleh umat Muslim. Allohu a’lam. (berbagai sumber)

Rabu, 29 Mei 2013

Orang yang Terakhir Keluar dari Neraka

Abu Huroiroh telah menceritakan kepada Atho’ bin Yazid al-Laitsi bahwa para sahabat telah bertanya kepada Rosululloh saw., “Apakah engkau akan melihat Tuhan kami kelak pada hari kiamat?” Maka Rosululloh saw. balik bertanya, “Apakah kamu sekalian merasa kesulitan melihat bulan pada malam purnama?” Mereka menjawab, “Tidak.” Selanjutnya Rosululloh saw, bertanya lagi, “Apakah kalian merasa kesulitan melihat matahari yang tidak ada awan yang menghalangi?” Mereka menjawab, “Tidak.”

Mendengar jawaban itu, Rosululloh bersabda, “Seperti itulah kamu sekalian akan melihat-Nya.” Kemudian Rosululloh saw. meneruskan perkataaannya, “Pada hari kiamat nanti Alloh akan mengumpulkan seluruh umat manusia, lalu Alloh berfirman kepada mereka, ‘Hendaknya setiap orang mengikuti sesuatu yang disembahnya selama di dunia.’ Oleh karena itu, orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, dan orang yang menyembah berhala mengikuti berhala. Sedangkan orang-orang munafik dari kalangan umat Muhammad tetap berdiri di tempat dan tidak bergerak sama sekali (karena yang disembah oleh mereka tidak jelas).

Kemudian Alloh mendatangi kaum muslimin dalam wujud yang tidak dikenali oleh mereka, seraya Alloh berfirman kepada mereka, “Aku ini adalah Tuhanmu.” Mendengar itu, mereka berkata, “Kami berlindung kepada Alloh dari bujuk rayumu, dan kami akan tetap berdiri di tempat ini sampai datang kepada kami Tuhan kami yang sebenarnya.” Kemudian Alloh datang kepada mereka dalam wujud yang mereka kenal, dan Alloh berfirman kepada mereka, “Aku ini Tuhanmu yang sebenarnya.” Pada saat mereka mendengarnya dan mereka merasa yakin bahwa itu Tuhannya, maka mereka berkata, “Engkaulah Tuhan kami yang sebenarnya.” Setelah itu mereka mengikuti-Nya.

Kemudian Alloh swt. menciptakan sebuah titian yang membentang di atas api neraka, maka aku –Rosululloh saw.—dan umatku menjadi umat yang pertama menyeberangi titian itu. Pada saat itu tidak ada seorang pun yang dapat berbicara selain para Rosul, dimana ketika itu para Rosul berdoa, “Ya Alloh, selamatkanlah. Ya Alloh, selamatkanlah.” Sementara di dalam neraka Jahanam terdapat besi-besi yang melengkung bagaikan lengkungan pancing, seperti duri pohon Sa’dan (nama pohon yang berduri). Kemudian Rosululloh bertanya kepada sahabat yang hadir, “Apakah kalian pernah melihat duri pohon Sa’dan?” Mereka menjawab, “Ya.”

Mendengar hal itu, Rosululloh saw. bersabda, “Seperti itulah besi-besi yang melengkung itu, hanya saja besarnya tidak terkirakan, dan hanya Alloh yang mengetahui ukurannya. Besi-besi inilah yang kelak akan mengait orang-orang yang sedang meniti titian itu sesuai dengan kadar dosa masing-masing. Dimana orang yang teguh dengan amalnya akan selamat dari kaitannya, sementara orang yang berdosa akan terkait (tersangkut), tetapi akhirnya dilepaskan.”

Setelah Alloh selesai mengadili hamba-hamba-Nya, dan Dia berkehendak mengeluarkan penghuni neraka dengan rahmat-Nya, maka Alloh memberikan perintah kepada para malaikat-Nya untuk mengeluarkan mereka yang patut mendapat rohmat-Nya, yaitu orang yang tidak pernah menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun selama hidup di dunia. Di antara orang yang patut mendapatkan rohmat-Nya adalah orang yang mengatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Alloh. Kemudian para malaikat yang mendapat perintah itu segera mengenali mereka, dan mereka mengenalinya melalui tanda bekas sujud yang ada pada kening mereka karena hanya bekas sujudlah bagian tubuh manusia yang tidak akan hangus dibakar api neraka, dimana Alloh telah mengharamkan api neraka untuk membakarnya dan menghanguskannya.

Kemudian para malaikat segera mengeluarkan mereka dalam keadaan yang sudah pada hangus, lalu disiramkan ke tubuh mereka air kehidupan (air pemulihan). Akibat siraman air kehidupan itulah, akhirnya mereka tumbuh dan pulih kembali seperti sediakala bagaikan tumbuhnya biji-bijian setelah terjadi banjir besar (dimana mereka tumbuh dalam keadaan masih muda dan besar).

Setelah Alloh selesai mengadili dan memvonis di antara hamba-hamba-Nya, tiba-tiba terlihat seseorang (yang masih tertinggal) yang sedang mengarahkan pandangannya ke arah neraka, dan dialah orang yang paling terakhir masuk surga. Kemudian kepada Alloh, dia memohon, “Wahai Tuhanku, palingkan mukaku dari neraka karena baunya telah meracuniku, dan kobaran apinya telah membakarku.” Permohonan itu diulanginya berulang kali, dan akhirnya Alloh berfirman kepadanya, “Seandainya Aku mengabulkan permintaanmu ini, apakah kiranya kamu tidak akan mengajukan permohonan yang lain?” Maka orang itu menjawab, “Tidak.” Kemudian dia berjanji dengan sungguh-sungguh kepada Alloh bahwa dia tidak akan mengajukan permohonan apapun lagi.

Akhirnya permohonan itu dikabulkan Alloh, dimana Alloh memalingkan muka orang itu dari neraka. Akan tetapi ketika dia dihadapkan ke arah surga dan dia menyaksikan kemegahan yang ada di baliknya, maka dia terdiam dalam beberapa saat, lalu dia memohon kepada Alloh, “Wahai Tuhanku, sampaikanlah aku ke dalam pintu surga.” Mendengan hal itu, Alloh berfirman kepadanya, “Bukankah kamu telah berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa kamu tidak akan memohon lagi kepada-Ku selain permohonanmu yang telah Aku kabulkan tadi? Celakalah kamu, wahai anak Adam! Kamu telah memungkiri janjimu sendiri, dan Aku tidak akan mengabulkan permohonanmu ini!” Akan tetapi dia tetap memohon kepada Alloh untuk dikabulkan permohonannya, sehingga Alloh berfirman kepadanya, “Seandainya permohonanmu ini Aku kabulkan, apakah kamu tidak akan memohon yang lainnya lagi kepada-Ku?” Orang itu menjawab, “Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku tidak akan mengajukan permohonan lagi.”

Kemudian Alloh mengabulkan permohonannya itu. Alloh membawanya ke depan pintu surga. Setibanya dia di depan pintu surga, Alloh membuka pintu surga itu lebar-lebar sehingga orang itu melihat keindahan dan kebahagiaan yang ada di dalamnya. Menyaksikan itu, orang itu terdiam beberapa saat, lalu memohon kepada Alloh, “Wahai Tuhanku, masukanlah aku ke dalam surga.” Mendengar itu, Alloh berfirman kepadanya, “Bukankah kamu telah berjanji bahwa kamu tidak akan mengajukan permohonan lagi kepada-Ku setelah permohonanmu yang tadi Aku kabulkan? Celaka kamu, wahai anak Adam! Kamu telah memungkiri janjimu sendiri, dan Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu itu!”

Akan tetapi orang itu terus menerus memohon kepada Alloh, “Wahai Tuhanku, janganlah kiranya hamba-Mu ini menjadi orang yang paling celaka.” Kemudian ia mengulang-ulang permohonannya, sehingga hal itu menyebabkan Alloh tertawa. Alloh berfirman kepadanya, “Masuklah kamu ke dalam surga.” Pada saat orang itu masuk ke dalam surga, Alloh berfirman kepadanya, “Sekarang angankanlah segala keinginanmu.” Kemudian orang itu memohon kepada Alloh dengan mengajukan berbagai macam keinginannya dan mencita-citakan berbagai macam kenikmatan, sampai Alloh mengingatkannya kepada berbagai menikmatan yang tidak diketahuinya. Lalu Alloh berfirman kepadanya, “Nikmatilah olehmu kemewahan dan kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan akan ditambah lagi dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.”

Atho’ bin Yazid berkata, “Ketika Abu Sa’id al-Khudri mendengarkan Abu Huroiroh menuturkan hadits itu, tidak ada bagian dari hadits itu yang dipertanyakannya, selain firman Alloh terhadap orang tadi: ‘Nikmatilah olehmu kemewahan dan kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan akan ditambah lagi dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.’

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Wahai Abu Huroiroh, apakah kenikmatan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat?” Abu Huroiroh menjawab, “Aku tidak mengetahuinya selain aku mendengarnya seperti itu dari Rosululloh saw., dimana beliau bersabda, ‘Kemewahan dan kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan akan ditambah lagi dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.’” Kemudian Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Aku bersumpah bahwa aku telah mendengar dari Rosululloh saw. dimana beliau bersabda, ‘Nikmatilah olehmu kemewahan dan kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan kenikmatan ini akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.’” (Hadits shohih, Shohih Muslim nomor 182; Shohih Bukhori nomor 7437)

By: Mochammad Bugi

Rabu, 01 Mei 2013

Dua Telaga



TELAGA ITU LUAS, sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Di tepi telaga itu berdiri seorang lelaki. Rambutnya hitam, disisir sepapak daun telinga. Dia menoleh dengan segenap tubuhnya, menghadap hadirin dengan sepenuh dirinya. Dia memanggil-manggil. Seruannya merindu dan merdu. “Marhaban ayyuhal insaan! Silakan mendekat, silakan minum!”

Senyumnya lebar, hingga otot di ujung matanya berkerut dan gigi putihnya tampak. Dari sela gigi itu terpancar cahaya. Mata hitamnya yang bercelak dan berbulu lentik mengerjap bahagia tiap kali menyambut pria dan wanita yang bersinar bekas-bekas wudhunya.

Tapi di antara alisnya yang tebal dan nyaris bertaut itu, ada rona merah dan urat yang membiru tiap kali beberapa manusia dihalau dari telaganya. Dia akan diam sejenak. Wibawa dan akhlaknya terasa semerbak. Lalu dia bicara penuh cinta, dengan mata berkaca-kaca. “Ya Robbi”, serunya sendu, “Mereka bagian dariku! Mereka ummatku!”

Ada suara menjawab, “Engkau tak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu!”

Air telaga itu menebar wangi yang lebih harum dari kasturi. Rasanya lebih lembut dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih sejuk dari salju. Di telag itu, bertebar cangkir kemilau sebanyak bilangan gemintang. Dengan itulah si lelaki memberi minum mereka yang kehausan, menyejukkan mereka yang kegerahan. Wajahnya berseri tiap kali ummatnya menghampiri. Dia berduka jika dari telaganya ada yang dihalau pergi.

Telaga itu sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Tapi ia tak terletak di dunia ini. Telaga itu al-Kautsar. Lelaki itu Muhammad. Namanya terpuji di langit dan bumi.

                                                                                       ***

Telaga lain yang lebih kecil, konon pernah ada dalam cangkungan sebuah hutan di Yunani. Dan ke telaga itu, setiap pagi seorang lelaki berkunjung. Dia berlutut di tepinya, mengagumi bayangannya yang terpantul di permukaan. Dia memang tampan. Garis dan lekuk parasnya terpahat sempurna. Matanya berkilau. Alis hitam dan cambang di wajahnya berbaris rapi, menjadi kontras yang menegaskan kulit putihnya.

Lelaki itu, kita tahu, Narcissus. Dia tak pernah berani menjamah air telaga. Dia takut citra indah yang dicintainya itu memudar hilang ditelan riak. Konon, dia dikutuk oleh Echo, peri wanita yang telah dia tolak cintanya. Dia terkutuk untuk mencintai tanpa bisa menyentuh, tanpa bisa merasakan, tanpa bisa memiliki. Echo meneriakkan laknatnya di sebuah lembah, menjadi gema dan gaung yang hingga kini diistilahkan dengan namanya.

Maka di tepi telaga itu Narcissus selalu terpana dan terpesona. Wajah dalam air itu mengalihkan dunianya. Dia lupa pada segala hajat hidupnya. Kian hari tubuhnya melemah, hingga satu hari dia jatuh dan tenggelam. Alkisah, di tempat dia terbenam, tumbuh sekuntum bunga. Orang-orang menyebutnya kembang itu, narcissus.

Selesai.

Tetapi Paulo Coelho punyya anggitan lain utnuk kisah Narcissus. Dalam karyanya The Alchemist, tragika lelaki yang jatuh cinta pada dirinya sendiri itu diakhiri dengan lebih memikat. Konon, setelah kematian Narcissus, peri-peri hutan datang ke telaga. Airnya telah berubah dari semula jernih dan tawar menjadi seasin air mata.

“Mengapa engkau menangis?” tanya para peri.

Telaga itu berkaca-kaca, “Aku menangisi Narcissus,” katanya.

“Oh, tak heranlah kau tangisi dia. Sebab semua penjuru hutan selalu mengaguminya, namun hanya kau yang bisa mentakjubi keindahannya dari dekat.”

“Oh, indahkah Narcissus?”

Para peri hutan saling memandang. “Siapa yang mengetahui-nya lebih daripadamu?” kata salah seorang. “Di dekatmulah tiap hari dia berlutut mengagumi keindahannya.”

Sejenak hening menyergap mereka. “Aku menangisi Narcissus,” kata telaga kemudian, “Tapi tak pernah kuperhatikan bahwa dia indah. Aku menangis karena, kini aku tak bisa lagi memandang keindahanku sendiri yang terpantul di bola matanya tiap kali dia berlutut di dekatku.”

                                                                                       ***

Setiap kita punya kecenderungan untuk menjadi Narcissus. Atau telaganya. Kita mencintai diri ini, menjadikannya pusat bagi segala yang kita perbuat dan semua yang ingin kita dapat. Kita berpayah-payah agar ketika manusia menyebut nama kita yang mereka rasakan adalah ketakjuban pada manusia paling mempesona. Kita mengerahkan segala daya agar tiap orang yang bertemu kita merasa telah berjumpa dengan manusia paling sempurna.

Kisah tentang Narcissus menginsyafkan kita bahwa setinggi-tinggi nilai yang kita peroleh dari sikap itu adalah ketakmengertian dari yang jauh dan abainya orang dekat. Kita menuai sikap yang sama dari sesama, seperti apa yang kita tabor pada mereka. Dari jaraknya, para peri memang takjub, namun dalam ketidaktahuan. Sementara telaga itu hanya menjadikan Narcissus sebagai sarana untuk mengagumi bayangannya sendiri. Persis sebagaimana Narcissus memperlakukannya. Pada dasarnya, tiap-tiap jiwa hanya takjub pada dirinya.

Tetapi ‘Amr ibn al-‘Ash merasakan ketiadaan sikap ala Narcissus pada seorang Muhammad, lelaki yang sesampai di surga pun masih menjadikan diri pelayan bagi ummatnya. ‘Amr telah belasan tahun menjadikan silat lidahnya sebagai senjata paling mematikan bagi da’wah Sang Nabi. Lalu setelah hari Hudaibiyyah yang menegangkan itu, hidayah menyapanya. Dia, bersama Kholid ibn al-Walid dan ‘Utsman ibn Tholhah menuju Madinah menyatakan keislaman. Mereka disambut senyum Sang Nabi, dilayani bagai saudara yang dirindukan, dimuliakan begitu rupa.

Bagaimanapun, ‘Amr merasa hanya dirinya yang istimewa. Itu tampak dari sikap, kata-kata, dan perlakuan Sang Nabi padanya. Hari itu dia merasa Sang Rosul pastilah mencintainya melebihi siapapun, mengungguli apapun. Pikirnya, itu disebabkan bakat lisannya begitu rupa yang kelak bermanfaat bagi da’wah. Terasa sekali. Maka dia beranikan diri meminta penegasan. “Ya Rosululloh,” dia berbisik ketika kudanya menjajari tunggangan Sang Nabi, “Siapakah yang paling kau cintai?”

Sang Nabi tersenyum. “’Aisyah,” katanya.

“Maksudku,” kata ‘Amr, “Dari kalangan laki-laki.”

“Ayah ‘Aisyah.” Rosululloh terus saja tersenyum padanya.

“Lalu siapa lagi?”

“’Umar.”

“Lalu siapa lagi?”

“’Utsman.” Dan beliau terus tersenyum.

“Setelah itu,” kata ‘Amr berkisah di kemudian hari, “Aku menghentikan pertanyaanku. Aku takut namaku akan disebut paling akhir.” ‘Amr tersadar, apalagi sesudah berbincang dengan Kholid dan ‘Utsman, bahwa Muhammad adalah jenis manusia yang membuat tiap-tiap jiwa merasa paling dicinta dan paling berharga. Dan itu bukan basa-basi. Muhammad tak kehilangan kejujuran saat ditanya.

Nabi itu indah dan menakjubkan memang. Tapi yang paling menarik dari dirinya adalah bahwa berada di dekatnya menjadikan setiap orang merasa istimewa, merasa berharga, merasa mempesona. Dan itu semua tersaji dalam ketulusan yang utuh.

“Mukmin yang satu”, kata Sang Nabi, “Adalah cermin bagi mukmin yang lain.”

Bercerminlah, tetapi bukan untuk takjub pada bayang-bayang seperti Narcissus, atau telaganya. Menjadikan sesama peyakin sebagai cermin berarti melihat dengan seksama. Lalu saat kita menemukan hal-hal yang tak berkenan di hati dalam bayangan itu, kita tahu bahwa yang harus kita benahi bukanlah sang bayang-bayang. Kita tahu, yang harus dibenahi adalah diri kita yang sedang mengaca. Yang harus diperbaiki bukan sesama yang kita temukan celanya, melainkan pribadi kita yang sedang bercermin padanya.

Itu saja.


Sumber: Dalam Dekapan Ukhuwah; Salim A. Fillah; Pro-U Media