Minggu, 03 April 2016

Bersama Sesama

"Dia yang mengira dapat selamat dari tajamnya lisan sesama," ujar Imam Asy Syafi'i suatu kali, "Barangkali telah rehat akalnya. Bagaimana bisa? Sedang Alloh yang Maha Sempurna tetap ada yang lancang berkata, 'Dialah yang ketiga daripada tiga.' Bagaimana bisa? Sedang Al Amin sang Mushthofa, manusia paling sempurna, ada saja yang tega mengatainya, 'Si Tukang Sihir Gila'.

"Maka ridho manusia," demikian tegas beliau pada suatu kala, "Adalah tujuan yang mustahil tergapai. Cukuplah kita bersemangat dalam apa-apa yang menjadi keridhoanNya, lalu istiqomah padanya."

Suatu saat Imam Ahmad ditanya, "Mengapa pribadi sebaik, semulia, dan sedermawan Asy Syafi'i, masih ada saja yang dengki padanya?"

"Hanya orang yang tiada dianugerahi nikmat sama sekali", sahut beliau sambil tersenyum, "Yang takkan pernah jadi sasaran dengki. Bagaimana Imam kita tak didengki, padahal pada dirinya berhimpun keluhuran nasab, kefasihan lisan, ketinggian ilmu, pesona penampilan, cinta dari manusia, dan penghormatan manusia?"

Benarlah Rosululloh saw, betapa lebih baik hidup bersama sesama sembari bersabar atas tiap gangguannya daripada tinggal di puncak gunung tanpa bergaul dengan siapapun.

Maafkan, lapangkan dada. Karena manfaat pertama dari maaf bukanlah untuk yang dimaafkan, melainkan damainya hati sang pemaaf. Dendam adalah menenggak racun ke mulut sendiri, lalu berharap orang lain yang mati.

Tapi janganlah kita keliru tangkap ketika ada yang menghadiahkan kata-kata tak mengenakkan. Sering kali kita mengiranya sebagai kedengkian sesama, padahal justru ia adalah cinta, kepedulian, dan ketulusan yang berhimpun dalam nasehat yang berjuta rasa.

Nasehat itu permata. Baik diselipkan ke saku, digenggamkan ke tangan, ataupun ditimpukkan ke muka, ia tetaplah permata. Ambil permatanya. Sebab ia jauh lebih mudah daripada mencarinya sendiri ke kedalaman bumi.

Kalau kita merasa sakit tiap kali diberi nasehat, mungkin justru hati kita yang perlu dirawat inap.

Ah iya. Sebenarnya semua nikmat akan mengundang rasa dengki, kecuali nikmat menjadi pribadi rendah hati. Dan sebenarnya semua bencana akan mengundang rasa iba, kecuali bencana menjadi orang sombong lagi menepuk dada.

Salim A. Fillah

Jumat, 01 April 2016

April Mop; Selebrasi Pembantaian Muslim

April Mop merupakan budaya Barat yang dikenal dengan The April’s Fool Day. Pada 1 April itu, orang boleh dan sah-sah saja menipu teman, orang tua, saudara, atau lainnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan, dengan mengatakan, “April Mop!”.

Namun banyak umat Islam yang ikut-ikutan merayakan April Mop ini tidak mengetahui, bahwa April Mop, atau The April’s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 M, atau bertepatan dengan 892 H.

Saat itu terjadi pembantaian ribuan umat Islam di Granada Spanyol di depan pelabuhan. Dengan tipuan akan diberangkatkan ke keluar Andalusia dengan kapal-kapal yang disediakan oleh Ratu Isabella, Muslim Andalusia malah dikonsentrasikan dan dengan mudah dibantai habis dalam waktu sangat singkat oleh ratusan pasukan salib yang mengelilingi dari segala penjuru.

Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara salib segera membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Mereka kebanyakan terdiri atas para perempuan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.

Bagi umat kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.

Itulah akhir dari kejayaan Islam di Andalusia. Sebuah peradaban Islam yang dimulai dari perjuangan Tariq Bin Ziyad pada tahun 711 M dan berakhir pada 1487 M. Selama tujuh abad lebih peradaban ini telah menyumbangkan kepada dunia, kemajuan dalam berbagai ilmu pengetahuan, kebudayaan serta aspek-aspek keislaman, Andalusia kala itu boleh dikatakan sebagai pusat kebudayaan Islam dan Ilmu Pengetahuan yang tiada tandingannya setelah Konstantinopel dan Bagdad.

Namun ada sebuah kisah yang sangat memilukan. Pada 2 Januari 1492, kardinal Devider memasang salib di atas Istana Hamra; istana kerajaan Nashiriyah di Spanyol. Tujuannya sebagai bentuk proklamasi atas berakhirnya pemerintahan Islam di Spanyol.

Kaum Muslimin dilarang menganut Islam, dan dipaksa untuk murtad. Begitu juga mereka tidak boleh menggunakan bahasa Arab. Siapa yang menentang perintah itu akan dibakar hidup hidup setelah disiksa dengan berbagai cara. Gereja di masa pemerintahan monarki Raja Ferdinand dan Isabella membuat Dewan Mahkamah Luar Biasa atau yang dikenal dengan Lembaga Inkuisi sebuah lembaga peradilan yang bertugas untuk menghabisi siapa saja orang-orang di luar Katholik. Lembaga ini kemudian bermetamorfosa menjadi Opus Dei.

Empat abad setelah jatuhnya Islam di Spanyol, Napoleon Bonaparte pada 1808 mengeluarkan instruksi untuk menghapuskan Dewan Mahkamah Luar Biasa tersebut. Dan di sinilah kisah ini berawal. Ditulis oleh Syaikh Muhammad Al Ghazali dalam bukunya At Ta’asub Wat Tasamuh (hal 311-318).

Tentara Prancis menemukan tempat sidang Dewan Mahkamah Luar Biasa itu di sebuah ruang rahasia di dalam gereja. Di sana ada alat-alat penyiksaan seperti alat pematah tulang dan alat pengoyak badan. Alat ini untuk membelah tubuh manusia. Ditemukan pula satu peti sebesar kepala manusia. Di situlah diletakkan kepala orang yang hendak disiksa. Satu lagi alat penyiksaan ialah satu kotak yang dipasang mata pisau yang tajam. Mereka campakkan orang-orang muda ke dalam kotak ini, bila dihempaskan pintu maka terkoyaklah badan yang disiksa tersebut.

Di samping itu ada mata kail yang menusuk lidah dan tersentak keluar, dan ada pula yang disangkutkan ke payudara wanita, lalu ditarik dengan kuat sehingga payudara tersebut terkoyak dan putus karena tajamnya benda-benda tersebut. Nasib wanita dalam siksaan ini sama saja dengan nasib laki-laki, mereka ditelanjangi dan tak terhindar dari siksaan.

Inilah jawaban untuk kita, mengapa saat ini kita tidak menemukan bekas-bekas peradaban Islam yang masih hidup di Spanyol. Seolah-olah tersapu bersih, sebersih-bersihnya. Inilah balasan Barat terhadap Muslim.

Hj. Irena Handono

Mencintai Penanda Dosa

Dalam hidup, Alloh sering menjumpakan kita dengan orang-orang yang membuat hati bergumam lirih, “Ah, surga masih jauh.” Pada banyak kejadian, ia diwakili oleh orang-orang penuh cahaya yang kilau kesholihannya kadang membuat kita harus memejam mata.

Dalam tugas sebagai Relawan Masjid di seputar Merapi hari-hari ini, saya juga bersua dengan mereka-mereka itu. Ada suami-isteri niagawan kecil yang oleh tetangganya sering disebut si mabrur sebelum haji. Selidik saya menjawabkan, mereka yang menabung bertahun-tahun demi menjenguk rumah Alloh itu, menarik uang simpanannya demi mencukupi kebutuhan pengungsi yang kelaparan dan kedinginan di pelupuk mata.

“Kalau sudah rizqi kami,” ujar si suami dengan mata berkaca nan manusiawi, “Kami yakin insya Alloh akan kesampaian juga jadi tamu Alloh. Satu saat nanti. Satu saat nanti.” Saya memeluknya dengan hati gerimis. Surga terasa masih jauh di hadapan mereka yang mabrur sebelum berhaji.

Ada lagi pengantin surga. Keluarga yang hendak menikahkan dan menyelenggarakan walimah putra-putrinya itu bersepakat mengalihkan beras dan segala anggaran ke barak pengungsi. Nikah pemuda-pemudi itu tetap berlangsung. Khidmat sekali. Dan perayaannya penuh doa yang mungkin saja mengguncang ‘Arsyi. Sebab semua pengungsi yang makan hidangan di barak nan mereka dirikan berlinangan penuh haru memohonkan keberkahan.

Catatan indah ini tentu masih panjang. Ada rumah bersahaja berkamar tiga yang menampung seratusan pelarian musibah. Untuk pemiliknya saya mendoa, semoga istana surganya megah gempita. Ada juru masak penginapan berbintang yang cutikan diri, membaktikan keahlian di dapur umum. Ada penjual nasi gudheg yang sedekahkan 2 pekan dagangannya bagi ransum para terdampak bencana. Semoga tiap butir nasi, serpih sayur, dan serat lelaukan bertasbih untuk mereka.

Ada juga tukang pijit dan tukang cukur yang keliling cuma-cuma menyegarkan raga-raga letih, barak demi barak. Ada dokter-dokter yang rela tinggalkan kenyamanan ruang berpendingin untuk berdebu-debu dan berjijik-jijik. Ada lagi para mahasiswa dan muda-mudi yang kembali mengkanakkan diri, membersamai dan menceriakan bocah-bocah pengungsi. Semua kebermanfaatan surgawi itu, sungguh membuat iri.

“Ah, surga masih jauh.”

Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia?

Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Robb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.” Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.

Kini izinkan saya bercerita tentang seorang wanita yang selalu mengatakan bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya?

Dan wanita dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mencintai penanda dosanya.

“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan,” ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.

“Ah, surga masih jauh.”

Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.

Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.

Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.

“’Afwan, Ukhti. Ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung,” ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”

“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”

“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”

Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idznillah, di tengah jalan sang teman di telepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan,” kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. Astaghfirulloh.”

Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.

Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithon bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhoNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu,” dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.

“Kisahnya tak berhenti sampai di situ,” lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”

Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.

“Setelah hampir empat bulan koma,” sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.

“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah,” katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”

“Subhanalloh,” saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya, Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya, Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya, Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.

“Doakan saya kuat, Ustadz,” ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”

“Doakan saya, Ustadz,” kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.

Alloh, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati. Alloh, jadikan wanita ini semulia Maryam. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Alloh, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu dan di sisi orang-orang beriman. Alloh, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan sholihah ini ke dalam pengasuhanMu nan Maha Rohman dan Rohim.

Alloh, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati,” tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Alloh mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.

Salim A. Fillah

Ka'bah yang "Salah"

Banjir parah di Makkah itu terjadi sekira lima tahun sebelum bi’tsah dan turunnya wahyu pertama.

Dinding-dinding Ka’bah yang dibangun Ibrohim dan Isma'il 'Alaihimassalaam di atas pondasi aslinya turut rubuh. Al Walid ibn Al Mughiroh, pemimpin Bani Makhzum memimpin pembangunan kembali rumah suci itu dengan meminta Quroisy menyumbangkan hanya harta halal mereka.

Tetapi tipu-tipu, riba, penjualan barang haram, judi, dan melacurkan budak menjadi bahagian besar pendapatan para pemuka. Maka betapa sedikit harta halal yang dapat mereka kumpulkan.

Akibatnya, menjadi jauh lebih kecillah Ka’bah yang dapat mereka bangun dibanding aslinya. Hijir Isma'il yang semula berkedudukan di dalam menjadi ada di luarnya. Bahkan nyaris pertumpahan darah terjadi saat Hajar Aswad hendak dipasang kembali, andai saja Al Amin saw tidak menjadi pengadil yang ditaati. Pintunya pun lalu ditinggikan, dan tetua Quroisy mengatur siapa yang boleh masuk dan siapa yang tidak.

Lebih dari seperempat abad setelah itu, sembari bersandar mesra di pangkuan Ibunda kita ’Aisyah Rodhiyallohu ’Anha, Rosululloh saw menyampaikan isi hatinya sebagaimana dicatat oleh Imam Muslim.

“Kalaulah bukan karena kaummu baru saja meninggalkan kesyirikan, niscaya aku perintahkan untuk membongkar dan meratakan Ka’bah, serta membangunnya kembali di atas asasan yang dibina Ibrohim ’Alaihissalaam. Kemudian pintunya aku buat menjadi sejajar dengan tanah setelah dulu kaummu meninggikannya dan membatasi sesiapa yang boleh masuk ke dalamnya. Dan aku akan membuat dua pintu baginya; pintu sebelah timur dan pintu sebelah barat. Lalu akan aku tambahkan untuk Ka’bah dari Hijir Isma’il sebanyak 6 hasta, karena sesungguhnya mereka menguranginya di saat membangunnya.”

Wasiat Rosululloh saw ini disampaikan ’Aisyah kepada para muridnya, termasuk putra saudarinya Asma’ yang amat beliau sayangi, ’Abdulloh ibn Az Zubair Rodhiyallohu ’Anhuma. Lelaki pemberani putra Hawari Rosulillah dan Dzatun Nithoqoin ini kelak dibai’at menjadi Kholifah di Makkah sepeninggal Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, karena penunjukan Yazid di Syam beliau anggap tidak sah dan tidak layak.

Sementara Yazid lalu digantikan Mu’awiyah ibn Yazid dan kemudian Marwan ibn Al Hakam memerintah dari Damaskus; daerah Hijjaz, Yaman, dan sebagian ’Iraq tetap setia pada ’Abdulloh ibn Az Zubair. Dan salah satu hal yang beliau lakukan sebagai Kholifah adalah merombak Ka’bah sesuai hadits Ibunda kita ’Aisyah. Maka Ka’bah kembali ke bentuk balok raksasa, bukan lagi kubus besar.

Roda sejarah berputar. ’Abdul Malik ibn Marwan yang memerintah di Damaskus menginginkan persatuan kembali kaum muslimin di bawah satu kholifah. Pilihannya pahit memang; menyingkirkan ’Abdulloh ibn Az Zubair. Dan dari ’Iraq, gubernur Al Hajjaj ibn Yusuf Ats Tsaqofi menyanggupi tugas itu dengan bersemangat. Dengan gegap gempita pasukannya mengepung Masjidil Haram. Manjaniq-manjaniqnya melontarkan batu-batu besar yang lagi-lagi merubuhkan Ka’bah. ’Abdulloh ibn Az Zubair gugur syahid, menggenapi sekira 120.000 lainnya korban Al Hajjaj yang dalam mimpi ’Umar ibn ’Abdil ’Aziz semua diizinkan mengqishoshnya di akhirat.

Al Hajjaj tak sudi membangun kembali Ka’bah yang seperti buatan ’Abdulloh ibn Az Zubair. Meski dikatakan berulangkali bahwa itu wasiat Rosululloh saw, dia membangunnya justru seperti buatan Quroisy pimpinan Al Walid ibn Al Mughiroh.

Roda sejarah berputar lagi. Kholifah Harun Ar Rosyid dari Daulah 'Abbasiyah menghadap Imam Malik. "Bagaimana pendapatmu, Ya Imam", ujarnya, "Sekiranya kubangun kembali Ka’bah sesuai binaan Ibrohim, sesuai wasiat Rosulillah saw, dan sesuai bangunan paman kami ’Abdulloh ibn Az Zubair?"

Imam Malik menjawab dengan berat, "Jangan lakukan itu, Ya Amirul Mukminin."

"Mengapa?"

"Aku khawatir setelahmu nanti datang penguasa lain yang membencimu, lalu dia robohkan Ka’bahmu dan bangun lagi berbeda, lalu datang lagi yang lain dan begitu seterusnya. Aku takut Baitulloh ini akan menjadi permainan para penguasa."

"Jadi?"

"Biarkanlah ia seperti ini. Agar tidak makin berkurang atau hilang wibawanya di dalam hati manusia."

Fatwa Imam Malik ditaati oleh Harun Ar Rosyid. Maka jadilah Ka’bah itu seperti hari ini, yang dibangun Al Hajjaj sesuai bangunan Al Walid ibn Mughiroh, bukan di atas asasan Ibrohim dan tak sesuai cita-cita Rosulillah saw. Ia dibiarkan "salah" demi mencegah hal yang lebih buruk: menjadinya ia mainan para penguasa. Dan demi hajat yang lebih besar: menjaga wibawanya di hati manusia.

Hingga kini, fatwa Imam Malik berdasar "saddudz dzar’iah" atau 'menutup pintu kerusakan' ini diterima sebagai ijma’ kaum muslimin. Tak ada yang mempersoalkannya kecuali sebagai catatan saja. Tak ada pula yang sampai hati menyebut beliau "menyelisihi sunnah".

Inilah keluwesan Fiqh itu. Ada yang lebih besar dari soal "tepat" atau "tidak tepat". Ada 'illat yang mesti dipertimbangkan dalam tiap penetapan hukum. Ada rasa-rasa yang harus dijaga di dalam dada manusia meski ada nash yang "terlanggar".

Ini barangkali hujjah sebagian saudara kita muslimin yang tetap memeluk tradisi 'amaliyahnya, yang mereka harap kita berkenan memahami lalu berlapang dada. Bagi mereka, jika soal seakbar Ka’bah, rumah Alloh dan kiblat muslimin sedunia saja ditoleransi, yang lebih ringan dari itu tentunya mendapat tempat. Dan bagi kita, bersatunya ummat dengan sama-sama menggenggam tali Alloh adalah salah satu hajat agung.

Ah, iya, ini tak kalah penting. Ada hikmah tambahan yang amat indah bagi kita dari fatwa Imam Malik ini. Yakni, kita dapat sholat di dalam Ka’bah tanpa perlu memasukinya. Ya, undangan Raja untuk masuk ke Ka’bah sangat terbatas. Maka sholatlah kita di dalam lengkung Hijir Isma’il; itulah bagian dalam dari Ka’bah yang terbuka. Terbuka bagi semua.

Semoga Sholih(in+at) semua dilimpahi rizqi menjadi tamuNya.

Salim A. Fillah

Senin, 28 Maret 2016

Mendidik yang Bermartabat

Perhatikanlah murid-murid kita! Ya, mereka anak-anak peradaban. Anak-anak didik kita. Tubuh-tubuh yang mulai tumbuh itu ketika mereka berlarian, bercanda riang, tertawa renyah, menjerit pecah, kadang berantem, kadang akrab, kadang berselisih, kadang berkelakar.. dstnya. Mereka sangat ahli membuat asrama, rumah mereka di sekolah seperti kapal pecah, membuang sampah seenaknya, mengacak-acak tempat tidur, menarik sprei dan sarung bantal, menjadikan bantalnya untuk perang-perangan, saling lempar, saling gebuk, menjungkirbalikan kursi, menarik taplak meja di kelas, menempelkan upilnya di dinding, meja & kursi sekolah, sehingga merangkai mozaik yang "keren", kreatif dll.

Mungkin tidak ada properti yang awet dan tahan lama di sekolah kita, tidak ada inventaris yang bertahan lama, tidak ada dinding yang luput dari coretan kreatifnya, tidak ada perlengkapan kebersihan yang tidak patah, lecet, dan penyok akibat ulahnya, tidak ada benda yang diam, semua barang-barang senantiasa berpindah tempat dan susah dicari dstnya. Tidak ada isi lemari yang bisa tersusun rapih, semua di "aduk-aduk" tanpa kecuali.

Anak-anak kita yang luar biasa memusingkan dan kadang menyebalkan itu, sesungguhnya adalah calon khalifah (pemimpin) di muka bumi, yang dititipkan kepada kita, hanya bentuk dan ukurannya yang masih kecil saja. Biarkan mereka tumbuh alamiah, jujur apa adanya di hadapan kita. Merekalah tamu peradaban termulia di rumah kita dan sekolah kita.

Jangan terburu ingin melihat status sholeh anak-anak kita dengan melihatnya duduk manis, patuh, diam di tempat dengan kondisi kelas, asrama atau kamar yang kinclong bersih. Mereka yang baru belajar arti memiliki tanggungjawab, jangan diperlakukan seperti orang dewasa. Setelah usia mereka cukup matang, mereka perlahan akan memahami nilai-nilai kebenaran sebagai bagian dari fitrah keimanannya. Sabaaar, sabaaar, dan rileks. Jangan terburu-buru emosi..

Jangan khawatir, mereka tidak pernah berniat merusak ‘sarang-nya’ sendiri kok untuk bermetamorfosa, sama halnya tak mungkinnya mereka menghancurkan rumah kedua orangtuanya sendiri, mereka cuma sedang ber-eksperimen sebagai pertanda fitrah belajarnya tumbuh sehat. Pada saatnya, calon khalifah ini juga akan tahu nilai-nilai, karena sudah Allah tanamkan di dada mereka. Kita cuma perlu rileks dan ridha, syukur dan sabar. Tidak akan lama. Rumah peradaban kita akan sepi dan beku sepeninggal tamu zaman termulia ini manakala ia tumbuh dewasa.

Karena sesungguhnya para khalifah kecil yang suka kita pelototi, marahi mungkin cubiti, atau tanpa sengaja mereka mengamati teriakan-teriakan stres kita akibat ketidaksabaran kita, ketergesaan kita dstnya, adalah ciptaan-Nya yang disetting sebagai makhluk paling mulia di muka bumi.

Khalifah yang masih berukuran mini ini akan menjadi besar kelak, lalu seperti apa khalifah yang lahir dari rumah peradaban kita? Khalifah yang menumpahkan darah dan berbuat kerusakan? Atau Khalifah yang menebar rahmat dan perbaikan?

Semua tergantung lisan, mata, telinga, hati dan tangan serta kaki kita, orangtuanya, gurunya, pembinanya atau mentornya sebagai orangtua biologis atau ideologisnya. Fitrah mereka sudah Islam, sudah lurus hanya perlu dirawat dan dikembangkan saja. Jangan coba-coba merubah fitrahnya, maka mereka akan menyimpang dari takdir perannya, dari panggilan hidupnya.

Sungguh tersimpan dalam renyah tawa dan rengekan tak jelas itu, peran-peran peradaban yang sudah ditakdirkan Allah padanya. Tidak ada peran buruk yang Allah takdirkan bagi manusia, kecuali manusia merubahnya. Maka sentuhlah dengan lembut, belailah dengan sholawat, haluskan akhlak kita di hadapan mereka, jangan lukai jiwanya karena akan membuat luka peran peradabannyanya kelak.

Jiwa-jiwa yang berperan memuliakan manusia dan alam berangkat dari fitrah dan karakter yang dimuliakan tumbuhnya. Sungguh BERHASIL mereka yang memahaminya.

Kita-kita yang diberi amanah merawat fitrah anak-anak kita, tidak perlu dilebihi dan jangan dikurangi sedikitpun. Jangan ceroboh, ingat bahwa mereka, adalah khalifah di muka bumi, hanya bentuknya dan ukurannya masih kecil saja. 

Maka rawatlah fitrahnya, karena fitrahnya seperti benih yang perlu disirami dengan kasih sayang, penuh dekapan cinta, konsistensi yang berangkat dari kesyukuran, kesabaran dan optimisme sehingga benih itu akan tumbuh besar sebagai pohon yang kokoh (syajarotun thoyyibah), dimana dahan yang menaungi serta buah yang lezat dari pohon itu adalah peran guru peradabannya.

Sederhana merawatnya karena semuanya sudah ter-install, namun jika nafsu dan obsesi kita dominan maka urusannya bisa kacau dan bahaya. Kalau sudah paham maka hati-hatilah, pastikan kita selalu mengawalnya sampai menjelang usia balighnya. 

Ingatlah selalu bahwa Allah tidak akan memanggil mereka yang mampu, tetapi Allah akan memampukan mereka yang terpanggil. Maka, temanilah dan doronglah anak-anak kita untuk memenuhi panggilan Tuhannya, yaitu peran sebagai pengisi peradaban yang akan datang sesuai fitrahnya, maka Allah akan memampukan mereka. Penuhilah juga panggilan Allah kepada kita untuk mendidik mereka, maka yakinlah Allah akan memampukan kita.

#Salam sukses dari ayah ideologis anak-anak peradaban.

M. Ibrohim - Alkausar Head Dormitory Sukabumi

Minggu, 27 Maret 2016

Keajaiban Hadits Lalat dan Penelitian Joan Clark

Sewaktu muda, Syaikh Abdel Daem Al Kaheel pernah tak mampu menjawab pertanyaan orang atheis yang menghina salah satu hadits Nabi. “Bagaimana mungkin Nabi kalian menyuruh menenggelamkan lalat yang hinggap di minuman sembari menjelaskan di salah satu sayapnya ada obat. Lalu kalian mau meminum minuman seperti itu?” tanyanya nyinyir.

Al Kaheel paham bahwa yang dimaksud orang atheis tersebut adalah sabda Rosululloh:

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ، ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ ، فَإِنَّ فِى إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً

“Jika ada seekor lalat yang terjatuh pada minuman kalian maka tenggelamkan, kemudian angkatlah (lalat itu dari minuman tersebut), karena pada satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat.” (HR. Al Bukhori)

Tentu sebagai mukmin ia yakin dengan kebenaran hadits ini. Tetapi, bagaimana menjelaskan kepada orang atheis yang tidak mempercayai apapun kecuali materi?

Beberapa tahun kemudian, ketika menulis buku Asror As-Sunnah An-Nabawiyah (Rahasia Sunnah Nabi), Syaikh Abdel Daem Al Kaheel menjelaskan kebenaran hadits ini dalam satu bab tersendiri dengan didukung oleh sejumlah penelitian, terutama penelitian Joan Clark.

Dokter dari Australia itu melakukan penelitian tentang lalat dan menemukan bahwa permukaan luar tubuh lalat mengandung antibiotik yang dapat mengobati banyak penyakit. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa obat pada sayap itulah yang membuat lalat tidak terkena penyakit yang dibawanya sendiri.

Hasil penelitian Joan Clark ini cukup mengejutkan sekaligus memancing banyak ilmuwan lain untuk melakukan penelitian berikutnya. Hasilnya menunjukkan fakta lebih rinci bahwa cara terbaik mengeluarkan zat antibiotik pada lalat adalah dengan cara mencelupkannya ke dalam air. Sebab, zat antibiotik tersebut terutama terdapat pada permukaan luar tubuh dan sayapnya.

Setelah penelitian tersebut, seorang dokter dari Rusia kemudian mengembangkan pengobatan baru dengan lalat. Sedangkan Profesor Juan Alvarez Bravo dari Universitas Tokyo mengisyaratkan pengembangan pemanfaatan ekstrak lalat untuk pengobatan.

Dalam Fatawa Mu’ashiroh, Syaikh Dr Yusur Qordhowi ketika menerangkan hadits lalat ini juga menguatkannya dengan hasil penelitian yang menunjukkan kebenaran sabda Rosululloh bahwa dalam sayap lalat terdapat obat untuk menetralisir penyakit yang terdapat pada sayapnya yang lain.

Masya Alloh… fakta-fakta ilmiah ini baru terungkap mulai abad ke-20. Sedangkan Rosululloh telah mensabdakannya 13 abad sebelumnya. Lalu siapa yang mengajari Rosululloh kalau bukan Alloh Subhanahu wa Ta’ala? Hal ini juga menjadi salah satu bukti kebenaran Islam yang seharusnya membuat iman dan rasa syukur kita kian meningkat. Wallohu a’lam bish showab.

Credit: www.bersamadakwah.net

Salim: Muslim Memang Lebih Baik

Salim: Muslim Memang Lebih Baik

Salim: Perintah Khitan dalam Taurot, Injil, dan Al Qur'an

Salim: Perintah Khitan dalam Taurot, Injil, dan Al Qur'an

Salim: Perburuan Buku

Salim: Perburuan Buku

Abbas ibn Firnas; Penemu Konsep Pesawat Udara dan Gelas

Bicara soal dunia penerbangan, tak pernah lepas dari tokoh-tokoh semacam Sir George Cayley, Otto Lilienthal, Santos-Dumont, dan Wright Bersaudara. Merekalah yang dikenal berjasa merintis dunia penerbangan hingga menjelma menjadi industri modern seperti sekarang ini. Tapi apakah Anda tahu bahwa peletak dasar konsep pesawat terbang pertama adalah seorang ilmuwan Muslim dari Spanyol, Abbas Ibnu Firnas? Dialah orang pertama dalam sejarah yang melakukan pendekatan sains dalam mempelajari proses terbang. Ibnu Firnas pun layak disebut sebagai manusia pertama yang terbang, ribuan tahun sebelum Wright Bersaudara berhasil melakukannya.

Abbas Ibnu Firnas

Abbas Qasim Ibnu Firnas (di Barat dikenal dengan nama Armen Firman) dilahirkan pada tahun 810 Masehi di Izn-Rand Onda, Al-Andalus (kini Ronda, Spanyol). Dia dikenal ahli dalam berbagai disiplin ilmu, selain seorang ahli kimia, ia juga seorang humanis, penemu, musisi, ahli ilmu alam, penulis puisi, dan seorang penggiat teknologi. Pria keturunan Maroko ini hidup pada saat pemerintahan Khalifah Umayyah di Andalusia (Spanyol).

Pada tahun 852, di bawah pemerintahan Khalifah Abdul Rahman II, Ibnu Firnas memutuskan untuk melakukan ujicoba ‘terbang’ dari menara Masjid Mezquita di Cordoba dengan menggunakan semacam sayap dari jubah yang disangga kayu. Sayap buatan itu ternyata membuatnya melayang sebentar di udara dan memperlambat jatuhnya, ia pun berhasil mendarat walau dengan cedera ringan. Alat yang digunakan Ibnu Firnas inilah yang kemudian dikenal sebagai parasut pertama di dunia.

Keberhasilannya itu tak lantas membuatnya berpuas diri. Dia kembali melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan konsep serta teori yang ia adopsi dari gejala-gejala alam yang kerap diperhatikannya.

Pada tahun 875, saat usianya menginjak 65 tahun, Ibnu Firnas merancang dan membuat sebuah mesin terbang yang mampu membawa manusia. Setelah versi finalnya berhasil dibuat, ia sengaja mengundang orang-orang Cordoba untuk turut menyaksikan penerbangan bersejarahnya di Jabal Al-‘Arus (Mount of the Bride) di kawasan Rusafa, dekat Cordoba.

Penerbangan yang disaksikan secara luas oleh masyarakat itu terbilang sangat sukses. Sayangnya, karena cara meluncur yang kurang baik, Ibnu Firnas terhempas ke tanah bersama pesawat layang buatannya. Dia pun mengalami cedera punggung yang sangat parah. Cederanya inilah yang membuat Ibnu Firnas tak berdaya untuk melakukan ujicoba berikutnya.

Kecelakaan itu terjadi karena Ibnu Firnas lalai memperhatikan bagaimana burung menggunakan ekor mereka untuk mendarat. Dia pun lupa untuk menambahkan ekor pada model pesawat layang buatannya. Kelalaiannya inilah yang mengakibatkan dia gagal mendaratkan pesawat ciptaannya dengan sempurna.

Cedera punggung yang tak kunjung sembuh mengantarkan Ibnu Firnas pada proyek-proyek penelitian di laboratorium. Seperti biasanya, ia meneliti gejala-gejala alam di antaranya mempelajari mekanisme terjadinya halilintar dan kilat, menentukan tabel-tabel astronomis, dan merancang jam air yang disebut Al-Maqata. Ibnu Firnas pun berhasil mengembangkan formula untuk membuat gelas dari pasir. Juga mengembangkan peraga rantai cincin yang digunakan untuk memperlihatkan pergerakan planet-planet dan bintang-bintang.

Prototype pesawat udara yang menginspirasi pemikir-pemikir berikutnya. Ibnu Firnas pun menemukan planetarium ruang angkasa, 600 tahun sebelum Leonardo da Vinci

Yang tak kalah menarik, Ibnu Firnas berhasil mengembangkan proses pemotongan batu kristal yang pada saat itu hanya dimampui oleh orang-orang Mesir. Berkat penemuan ini, Spanyol tidak perlu ekspor Quartz lagi ke Mesir karena bisa diselesaikan sendiri di dalam negeri. Salah satu penemuannya yang terbilang amat penting, yaitu pembuatan kaca silika serta kaca murni transparan. Ibnu Firnas juga dikenal sebagai penemu pembuatan kaca dari bahan pasir dan batu-batuan. Kejernihan kaca atau gelas hasil penemuannya mengundang decak kagum penyair Arab, al-Buhturi (820-897 M).

Ibnu Firnas wafat pada tahun 888, dalam keadaan berjuang menyembuhkan cedera punggung yang diderita akibat kegagalan melakukan ujicoba pesawat layang buatannya.

Walaupun percobaan terbang menggunakan sepasang sayap dari bulu dan rangka kayu tidak berhasil dengan sempurna, namun gagasan inovatif Ibnu Firnas kemudian dipelajari Roger Bacon 500 tahun setelah Firnas meletakkan teori-teori dasar pesawat terbangnya. Kemudian sekitar 200 tahun setelah Bacon (700 tahun pascaujicoba Ibnu Firnas), barulah konsep dan teori pesawat terbang dikembangkan.

Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa gegap gempitanya industri pesawat terbang modern seperti saat ini, tidak lepas dari perjuangan seorang Ibnu Firnas yang rela babak belur untuk sekadar melayang sebentar layaknya burung terbang.

Sosok Abbas Ibnu Firnas, kini hanya bisa kita temui tercetak di atas sebuah prangko buatan Libia, menjelma pada sosok patung dan nama lapangan terbang di Baghdad, dan abadi di salah satu kawah permukaan Bulan.