Jumat, 12 April 2013

Suara


Dunia seolah telah bersuara satu untuk demokrasi.
Dan hari ini rakyat Palestina pun senada.
Jika mereka harus dihukum karena memilih Hamas,
Maka demikian pula rakyat Amerika harus dihukum karena memilih Bush!

(Kholid Misy’al)



Ada aksioma yang kita yakini, bahwa di dunia ini senantiasa terjadi pertarungan antara al-Haq dan al-bathil, as-Siro’ bainal haqqi wal baathil. Seorang intelektual Muslim memilih diksi yang lebih lembut, yakni mudafa’ah, desak mendesak, dorong mendorong. Apa iya begitu? Mungkin ada yang meragukan. Dalam keyakinan mereka, kebenaran dan kebathilan hanya bertarung dalam dongeng, dan di sana kebenaran selalu menang di akhirnya. Saat ini, katanya, menjadi penting untuk menggabungkan energi kesholihan sekaligus energi kemaksiatan dalam satu wadah demi dunia yang damai, maju, dan beradab.

Masalahnya, harus diakui bahwa tiap manusia mempunyai kepentingan. Nah, kepentingan saja berbenturan. Apalagi, latar dari kepentingan itu yang ada dalam dada dan kepala masing-masing manusia. Mengukur mana yang haq dan mana yang bathil tak perlu dimasalahkan. Di sana, dalam landasan konsepsi, metode gerak, dan hasil serta dampak hanya ada dua: Hizbulloh dan Hizbusy Syaithon.

“Di sini terlihat,” tulis Sayyid Quthb dalam Zhilal, “Medan yang membentang luas, penuh sesak oleh manusia dalam dinamika yang saling mendesak, saling berlomba dan saling mendorong mencapai berbagai tujuan. Tetapi di belakang itu semua, ada tangan yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengatur, yang memegang semua kendali dan menuntun parade yang saling berdesakan, saling menjatuhkan, dan saling berlomba cepat itu, ke arah kebaikan, kemaslahatan, dan pertumbuhan, di akhir perjalanan.”

Sayyid benar. Karakter asli kebathilan adalah zahuq; lenyap, tertutup, dan kalah. Ketika Rosululloh membuka makkah bersama 10.000 pasukannya, beliau memasuki Ka’bah, menghancurkan berhala-berhala, dan membaca ayat ini,

Dan katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap”. Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Qs. al-Isro’ [17]: 81)

Tetapi mengapa kini kita menyaksikan kebathilan itu seolah senantiasa eksis? Mengapa? Karena yang benar tidak datang untuk mendesak dan menjadikannya zahuq. Karena kebenaran berdiam di masjid-masjid, dan bersembunyi di mihrob-mihrob. Karena kebenaran memilh diam di saat kebathilan bicara, lalu terlambat bicara di saat kebathilan telah bekerja. Karena kebenaran tak pernah mendesak dan memukul berhala-berhala itu dengan tongkatnya.

Ummat Muhammad memang istimewa. Pada ummat sebelumnya, ketika da’wah terbuntu, ketika para Rosul sudah habis-habisan berda’wah namun tak juga bertambah pengikutnya, ketika penentang-penentang da’wah semakin sombong dan angkuh, Alloh sendiri yang kemudian menurunkan ‘adzab-Nya.

Kaum Luth habis diterjang hujan batu berapi dan tanah pijakan mereka di balik, yang di atas dijadikan yang di bawah. Kaum Tsamud ditimpa gempa dan suara keras mengguntur. Kaum ‘Aad habis dengan terpaan angin dingin yang sangat keras, hingga mereka bagaikan tunggul kayu lapuk tak berbekas. Fir’aun yang memusuhi Musa ditenggelamkan. Bahkan Nuh yang berdoa saat banjir menggemuruh, agar Alloh memupus habis kaum yang menentangnya.

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (Qs. Nuh [71]: 26-27)

Tetapi, ummat Muhammad tidak. Ketika Sang Nabi diusir, dilempari batu, dikejar-kejar hingga berdarah-darah, ia tidak berdoa seperti nuh untuk membinasakan kaum itu. Ia justru berdoa agar Alloh mengampuni karena ketidaktahuan mereka. Ia justru berharap jikapun mereka tak beriman, kelak anak-anak mereka yang akan beriman. Dan Alloh sekali lagi menegaskan keistimewaan itu.

Perangilah mereka, niscaya Alloh akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Alloh akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. (Qs. at-Taubah [9]: 14)

Jika untuk menghancurkan kaum sebelumnya Alloh mengerahkan tentara alam, kini Alloh memanggil partisipasi hamba-hamba beriman. ‘Adzab Alloh bagi penentang-penentang da’wah datang lewat tangan orang-orang Mukmin; bukan bencana alam. Siksa itu mereka rasakan sebagai sebuah desakan dari kebenaran atas kebathilan melalui upaya sistematis dan terprogram. Bersiaplah, berperanglah. Selebihnya, Alloh lah Sang Penolong. Seperti doa yang menjerit dari hati mulia di padang Badr, “Ya Alloh, jika golongan ini Engkau biarkan binasa, Engkau tak akan disembah lagi di muka bumi! Ya Alloh, kecual jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah lagi selamanya setelah hari ini!”

Ungkapan ini mewakili perasaan mayoritas kaum Muslimin yang belum pernah menghadapi situasi perang. Tapi ia juga ekspresi keimanan. Bahwa golongan ini -meski kecil adanya- selalu mendapati janji-Nya ditepati. Persis seperti kalimat ash-Shiddiq yang menenangkan sahabatnya, “Cukup, ya Rosulalloh! Tenanglah! Alloh tidak akan menyalahi apa yang telah Ia janjikan kepadamu!”

“Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang sholih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. an-Nuur [24]: 55)

Medan sejati kita, insya Alloh memang perang mempertaruhkan jiwa, hingga pohon dan batu bicara. Tetapi agaknya di luar medan final ketika besi bertemu besi dan api bertemu api, hari-hari ini kebathilan memilih satu sarana perang untuk membungkam kebenaran. Suara. Ya. Suara. Al-Mugholabah bil Ashwaat. Dominasi ditentukan oleh suara. Siapa yang lebih keras, nyaring, dan banyak dalam bersuara, dia yang akan menang.

Di sinilah bermula polemik ketika da’wah bersentuhan dengan demokrasi. Ada yang khawatir, kita terjebak permainan lawan sehingga lebih baik dikatakan bahwa demokrasi -produk Barat- itu haram. Dan lalu kita tak bisa berbuat apa-apa. Karena di mana ada da’wah, di situ demokrasi diadakan, atau minimal dicita-citakan. Toh tidak berdemokrasi pun, da’wah lebih sulit bersikap menghadapi tiran-tiran sosialis maupun raja dan emir yang berlindung di ketiak Amerika.

Tapi ketika yang memenangkan demokrasi adalah da’wah; mengerikan juga melihat kasus FIS di Aljazair. Pembantaian. Lebih ringan, mungkin pengalaman Necmetin Erbakan di Turki. Kudeta dan pencekalan. Atau baru-baru ini; Hamas di Palestina. Amerika dan Israel menjadi tak lagi bermalu atau berpikir tentang ke mana opini publik berpihak saat da’wah memenangkan Pemilu. Bayangkan saja, bisa-bisanya puluhan anggota parlemen, termasuk ketuanya, plus beberapa menteri, dan wakil Perdana Menteri sebuah negara ditangkap?

Nah, lalu bagaimana? Sepertinya permasalahannya ada pada bagaimana da’wah memenangkan pertempuran-pertempurannya, termasuk dalam Pemilu lalu bagaimana mempertahankannya. Nah, pengelolaan organisasi, jaringan, dan kekokohan kader lah yang kita bahas. Tentang esensi demokrasi? Tentang al-Mugholabah bil Ashwaat itu tadi? Dr. Yusuf al-Qordhowi berkata, “Pemimpin yang terpilih karena diridhoi rakyat jauh lebih dekat pada Islam daripada tiran yang disebut Nabi sebagai seburuk-buruk pemimpin dalam sabdanya, ‘Dia membenci kalian dan kalian membencinya!’”

Toh, sejarah Khulafaur Rosyidin menawarkan pada kita sistem yang sangat fleksibel untuk memilih orang terbaik yang akan memandu da’wah. Apa saja? Kita kutip dengan banyak perubahan Afzal Iqbal dalam Diplomacy in Early Islam untuk mengurainya.

1. Abu Bakr: Diplomasi dan Aklamasi

Pemakaman jenazah Rosululloh dengan sangat terpaksa harus ditunda. Tiga sahabat utama itu; Abu Bakr, ‘Umar, dan Abu ‘Ubaidah ibn al-Jarroh bergegas-gegas ke arah Saqifah Bani Sa’idah. Di balai pertemuan itu, orang-orang Anshor berkumpul untuk memilih pengganti Rosululloh. Itu dia pemimpin yang telah mereka pilih, pemimpin Khozroj, Sa’d ibn ‘Ubadah sedang terbaring menggigil demam di pojok ruangan.

Abu Bakr, seperti biasa, bicara dengan kalimat ringkas namun meyakinkan. Abu Bakr dengan nada kesyukuran yang khidmat menghargai pengabdian orang-orang Anshor untuk Islam, kesetiaan mereka pada Rosululloh, pembelaan dan pertolongan mereka yang tak terhingga. Sekaligus juga Abu Bakr bicara tentang persoalan legitimasi. Apa yang ditinggalkan Rosululloh telah demikian luas, dan sungguh semua bangsa Arab hanya bisa menerima pemimpin dari Quroisy, pelindung dan pelayan Ka’bah sejak berabad-abad. Tentu sosok Abu Bakr sebagai juru bicara, memudahkan argumen ini diterima orang-orang Anshor. Teriakan, “Masing-masing punya pemimpin! Kalian pilihlah pemimpin dan kami telah memilih Sa’d!”, yang semula bersiponggang, luluh melihat ketulusan Abu Bakr.

Abu Bakr mengakhiri pidatonya. “Wahai saudara-saudaraku Anshor”, katanya, “Tak seorang pun yang mengingkari ketinggian derajat kalian dalam agama dan keagungan pengorbanan kalian dalam Islam. Kalian telah dipilih Alloh untuk menolong agama dan Rosul-Nya, kepada kalianlah Rosululloh diutus-Nya saat beliau hijroh, dan justru dari kalianlah mayoritas sahabat Rosululloh dan isteri-isteri beliau berasal. Posisi kalian adalah setelah as-Sabiquunal Awwaluun. Sungguh adil dan tepat sekiranya kami duduk sebagai Amir, maka kalian akan duduk sebagai Wazir. Kalian tidak akan terhambat dengan apa yang kalian rencanakan, dan kami takkan melakukan apapun sebelum berkonsultasi dengan kalian!”

Lalu Abu Bakr menominasikan ‘Umar dan Abu ‘Ubaidah untuk dibai’at. Tapi suasana jadi begitu sendu. ‘Umar hanya gemeretak giginya, mengepalkan tangan dan menunduk dalam. Sementara Abu ‘Ubaidah meneteskan air matanya sambil geleng-geleng karena rasa malu. “Tidak!”, kata ‘Umar. “Justru engkaulah yang akan kami bai’at!” Dan semua sepakat dengan ‘Umar. Hari itu, kaum Muslimin memiliki seorang pemimpin baru. Dengan sebuah diplomasi. Dan aklamasi.

2. ‘Umar: Lobi dan Amanat, dari yang Tepercaya pada yang Tepercaya

Menjelang wafat, Abu Bakr mulai berpikir tentang penggantinya. Sesekali ‘Umar -yang ketika itu menjabat Qodhi- dimintanya untuk menggantikan mengimami sholat, seperti dulu saat Rosululloh sakit dirinyalah yang diminta. Ini seperti sebuah promosi (taqwim) awal. Lalu satu persatu, Abu Bakr bicara pada tokoh-tokoh sahabat.

“Bukankah kau lihat ‘Umar seorang yang keras, wahai Kholifah Rosululloh?” kata ‘Abdurrohman ibn ‘Auf ketika mendengar disebutnya nama ‘Umar. “Ya”, kata Abu Bakr. “Tapi tidakkah kau rasakan dia senantiasa mengimbangi posisiku: Jika aku lembut, dia mengeraskan dan meyakinkan. Jika aku keras, dia melunakkan dan menyabarkanku?” ‘Abdurrohman ibn ‘Auf mengangguk.

‘Utsman, ‘Ali, az-Zubair, dan hampir semua sahabat yang dihubungi Abu Bakr setuju atas pilihan Sang Kholifah. Hanya Tholhah yang agak keras. “Saat engkau masih berada di tengah kami pun”, katanya, “Kami telah merasakan betapa kerasnya dia. Bagaimana nanti kalau kau sudah menghadap Alloh? Apa jawabmu pada-Nya ketika tergugat telah meninggalkan kaum Muslimin pada seorang yang berperangai keras?”

“Dudukkan aku! Wahai Tholhah, apakah engkau sedang menakutiku?”, kata Abu Bakr dengan ekspresi gembira. “Aku bersumpah, demi Alloh jika aku menghadap Robbku, akan kukatakan pada-Nya bahwa aku telah menetapkan atas makhluq-Nya seorang pemimpin yang paling kuanggap baik di antara mereka.” Abu Bakr telah memutuskan. Dan didiktekanlah surat wasiatnya pada Sekretaris Negara, ‘Utsman ibn ‘Affan.

Ketika ‘Umar datang dan sadar apa yang terjadi, ia berseru, “Aku tidak pernah menghajatkan posisi itu!” Abu Bakr tersenyum. “Benar, saudaraku. Tapi posisi itulah yang menghajatkanmu.” Jendela rumah Abu Bakr yang menghadap ke Masjid Nabawi itu terbuat dari tanah. Ke sanalah Abu Bakr beringsut, membukanya dan menghadap khalayak yang menunggu kabar kondisi sakitnya. Setelah salam dan sholawat pada kekasihnya, ia berkata anggun, “Apakah kalian akan menerima dengan lapang dada seorang yang telah kupilih sebagai penggantiku?”

“Ya!”, jawab khalayak itu.

Setelah menjelaskan sedikit, beliau menyebut nama 'Umar dan berkata, “Apakah ini cocok untuk kalian?”

“Kami setuju!”

“Apakah kalian akan taat dan setia padanya?”

“Ya!”

Maka langit Madinah cerah dengan arakan awan. Semua tahu, Abu Bakr sangat bijak dalam memerintah. Dan lebih dari itu, sangat bijak memilih pengganti.

3. ‘Utsman: Majelis Syuro

Setelah tikaman di shubuh itu, ‘Umar harus terbaring. Ummu Kultsum binti ‘Ali tersedu melihat suaminya. “Kasihan engkau, wahai ‘Umar! ratapnya. Yah, sang isteri melihat sendiri, saat ‘Umar diberi minum susu. Susu itu mengalir keluar dari luka di perutnya. Begitu juga sari buah, luka itu jadi semakin perih.

Tetapi ia telah menunjuk 6 orang anggota Majelis Syuro yang akan berembug tentang penggantinya. Ia telah merumuskan tatacara pemilihannya, yang bahkan paragraph terakhirnya berbunyi, “Jika prosedur telah ditunaikan dan masih ada yang belum mau menerima keputusan syuro di antara mereka, maka diizinkan untuk memenggal lehernya.” Seram. Khas ‘Umar. Dan memang begitulah seharusnya demi keutuhan ummat.

Abu Tholhah al-Anshori bersama 50 orang bersenjata lengkap sejak hari itu berjaga ketat di kediaman ‘Aisyah ra yang bersahaja. Di dalam sana, Tholhah telah memberikan suaranya untuk ‘Utsman, az-Zubair memberikan suaranya untuk ‘Ali, dan Sa’d ibn Abi Waqqosh memberikan suaranya untuk ‘Abdurrohman ibn ‘Auf. ‘Abdurrohman berdiri, menyatakan bahwa ia siap memimpin dewan, tapi menanggalkan amanah khilafah sejak awal. Maka diapun memulai tugasnya, berkonsultasi dengan para sahabat, para isteri Rosululloh, para pemimpin kabilah, dan yang juga penting; kedua calon. Sementara yang lain dalam karantina, ‘Abdurrohman telah melihat garis besarnya; Bani Hasyim mendukung ‘Ali, sementara Bani ‘Umayyah mendukung ‘Utsman.

Hari itu, Masjid Nabawi penuh sesak. Di mimbar, ‘Abdurrohman ibn ‘Auf berdiri diapit ‘Ali dan ‘Utsman. Mula-mula ia berkata sambil mengangkat tangan ‘Ali, “Saya mengambil sumpahmu dengan syarat mengikuti Kitabulloh, sunnah Rosul-Nya, dan teladan Abu Bakr serta ‘Umar!”

“Saya akan mengikuti al-Qur’an, sunnah Nabi, serta jalanku sendiri!” demikian jawab ‘Ali. Hingga tiga kali.

Lalu ‘Abdurrohman ibn ‘Auf beralih ke ‘Utsman. Diucapkannyalah perkataan yang sama. Dan ‘Utsman menjawab, “Saya bersedia, insya Alloh.” Maka ‘Utsman dibai'at hari itu juga sebagai Kholifah yang baru. Zaman lalu menyaksikan sebuah pemerintahan yang diisi karakter seorang pemalu nan dermawan; kasih sayang.

4. ‘Ali: Suara Mayoritas

Hari itu, 24 Juni 656. Lima hari setelah terbunuhnya ‘Utsman secara zholim. Jalan-jalan Madinah dipenuhi oleh gerombolan manusia, rombongan-rombongan, dari jauh dan dekat yang sulit diperkirakan sikap dan itikadnya. Keluarga ‘Utsman, juga beberapa sahabat yang meyakini telah datangnya masa fitnah seperti Sa’d ibn Abi Waqqosh, ‘Abdulloh ibn ‘Umar, dan Usamah ibn Zaid memilih untuk mengungsi ke Makkah. 

Dalam atmosfer yang penuh dengan ketakutan, horor, dan tak berlakunya hukum, harus ada satu keberanian puncak untuk segera menata kembali kondisi. Dan untuk keberanian semacam itu, hanya ‘Ali yang punya. Dan itupun terpaksa. Awalnya dia berkata, ada Tholhah dan az-Zubair yang lebih pantas. Tapi desakan suara mayoritas, bahkan -tentu saja- dari para pemberontak zaman ‘Utsman yang masih berkumpul di Madinah tak memberinya pilihan lain. ‘Ali tahu resikonya. Ini hanya suara mayoritas, yang itupun tak dominan. ‘Ali tahu resikonya, karena diapun melihat sudah mulai terlihat beberapa sahabat utama abstain. Dan jika api fitnah ditiup lagi, dia merasa bahwa sikap abstain itu juga akan menjadi fitnah. Tapi apa gunanya memaksa? Bukankah nantinya paksaan itu juga jadi fitnah?

‘Ali tahu resiko yang diembannya. Dan ia menerima suara mayoritas itu.

5. Politik Cerdas Roja’ ibn Haiwah, “The Kholifah Maker”

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Qs. al-Qoshshosh [28]: 83)

Inilah ayat yang berulang-ulang dibaca orang-orang mulia di ranjang kematiannya. ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz. Dia memang layak mengabadikan kalimat ini dalam kebekuan lisan yang menggetarkan kata terakhir. Dalam kapasitas sebagai pemimpin dengan berjuta rakyat dan tiga benua, gelinciran sombong dan kerusakan bisa menjadi semudah mengatup-buka bibirnya.

Tapi dengan resiko besar itu, dia telah sukses menyelesaikan perhentian sejenaknya di alam fana. Sampai para gembala pun bisa menyaksikan serigala berkawan mesra dengan domba di masa pemerintahannya. Pertanyaannya, siapa yang berperan memasukkannya ke dalam jajaran khilafah, padahal hegemoni keluarga pamannya ‘Abdul Malik ibn Marwan nyaris tak tertembus?

Orang itu, Roja’ ibn Haiwah. Dia, dengan kedekatannya pada Kholifah Sulaiman ibn ‘Abdul Malik berhasil membujuk sang Amirul Mukminin untuk menyerahkan khilafah sepeninggalnya pada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz, baru kemudian pada keluarga ‘Abdul Malik yang dikehendakinya. “Inilah yang akan meringankan penghitungan amal baginda di hadapan Alloh kelak. Menyerahkan khilafah pada seorang yang adil dan berbudi,” begitu kata Roja’.

                                                                                       ***

“Al-khuruuj minal ikhtilaaf mustahab”, kata Imam asy-Syafi’i. keluar dari polemik itu disukai dan dekat pada sunnah. Bagaimana agar kita tak berpolemik tentang demokrasi? Menikmati Demokrasi, begitu bunga rampai tulisan ustadz Anis Matta di majalah SAKSI diberi judul. Karena memang ini sebuah keran yang tiba-tiba terbuka. Dan kini, segala yang pada mulanya tertelikung bebas bergerak mengekspresikan diri. Termasuk da’wah.

Akhirnya, demokrasi bagi da’wah bukanlah sebuah sistem. Atau manhaj kufur yang kita terjebak di lubang gelap jika mengikutinya. Bukan, ia terlalu sederhana untuk disebut sistem. Bagi da’wah, demokrasi hanyalah sebuah medan pertempuran yang dipetakan oleh Barat dan kini dipilih oleh musuh da’wah. Dan da’wah dengan jiwa ksatria sedang berkata, “Pilihlah di manapun tempat kita berlaga. Dan dengan izin Allohm kami pasti akan memenangkannya!” []



Sumber: Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Kamis, 11 April 2013

Paku dan Palu


jika satu-satunya alat yang kau miliki adalah palu
kau akan cenderung melihat segala hal sebagai paku

-Abraham H. Maslow-




KATAKAN yang benar meskipun pahit.

Muhammad ibn Sirin, ‘alim besar murid Anas ibn Malik rodhiyallohu ‘anhu itu terpekik. “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun,” gumamnya. Dia baru saja membuka salah satu dari empat puluh kaleng besar minyak zaitun yang dikulaknya dari pemasok dengan berhutang. Tak tanggung-tanggung, nilai akadnya kali ini 40.000 dirham. Yang membuat dia terkejut di pagi itu adalah bahwa di dalam kaleng pertama yang dibukanya, dia menemukan bangkai tikus.

“Seluruh minyak ini,” ujarnya kepada seorang pelayan, “Dibuat di tempat penyulingan yang sama. Aku khawatir bahwa najis bangkai ini telah mencemari keseluruhan minyak. Maka buanglah semuanya!”

Kebetulan, saat itu modal di tangan Muhammad ibn Sirin sedang nihil. Rencananya, untuk pembayaran minyak itu dia akan memakai hasil penjualan nantinya. Maka dengan peristiwa ini, prakiraannya meleset. Dan sang tengkulak pun mengadukannya ke pengadilan.

Muhammad ibn Sirin ridho dengan pemidanaannya. Hakim memutuskan, dia harus dijebloskan ke penjara. Penduduk kota merasa berat dan sedih mendengar vonis yang dijatuhkan pada ulama yang sangat terhormat itu. Ya, beliau harus menanggung hukuman bukan karena salah atau dosa. Melainkan justru karena sifat waro’-nya yang membuat beliau sangat menjaga diri dari syubhat. Beliau mengatakan yang benar meski pahit.

Para warga mengantar Muhammad ibn Sirin ke penjara dengan linangan air mata.

Di dalam penjara, sipir yang bertugas juga merasa iba padanya. Tiap hari dia menyaksikan Muhammad ibn Sirin menangis ketika beristighfar, sholat, dan membaca al-Qur’an. “Wahai Syaikh,” satu hari dia menawarkan, “Bagaimana seandainya kuizinkan engkau untuk pulang ke rumahmu setiap malam tiba dan datanglah kembali ke penjara ini seusai shubuh?”

“Jika engkau melakukan itu,” kata Muhammad ibn Sirin sambil tersenyum, “Engkau akan menjadi seorang yang khianat. Demi Alloh, aku ridho berada di tempat ini.”

Tapi satu saat sang penjaga mengatakan bahwa Gubernur dan Pengadilan memerintahkan dan memberinya izin untuk keluar guna mengurus jenazah Anas ibn Malik sesuai dengan wasiat shohabat Rosululloh tersebut. “Aku berada di sini,” jawab Muhammad ibn Sirin, “Bukan karena Gubernur dan Pengadilan. Melainkan karena hutangku pada seorang pedagang. Tolong sampaikan padanya perkara ini. Jika dia mengizinkan aku keluar untuk mengurus jenazah guruku, insya Alloh aku akan melakukannya. Dan sampaikan padanya rasa syukur dan terima kasihku.”

Maka pedagang itu pun dimintai izin, dan dia merelakan.

Seusai mengurus jenazah gurunya, Muhammad ibn Sirin kembali ke penjara. Dia selesaikan seluruh sisa hukumannya dengan penuh kesabaran dan tawakal kepada Alloh.

***

“Katakan yang benar,” begitu Rosululloh bersabda dalam riwayat al-Baihaqi dari Abu Dzar al-Ghiffari, “Meskipun pahit.” Beberapa ulama fiqh memasukkan hadits ini dalam pembahasan Kitaabut Tijaaroh, kitab perdagangan. Khususnya bab tentang para pedagang. Konteksnya adalah, agar para pedagang berlaku jujur dan terbuka terkait keadaan barang dagangannya.

Sikap ini, mengatakan yang benar meski pahit, sungguh beresiko tinggi bagi sang niagawan. Jika yang bersangkutan mendapatkan barang yang diambilnya dengan harga beli tinggi ternyata tak sesuai dengan kualitas yang dibayangkannya lalu dia harus berkata jujur dan terbuka pada para pembelinya, tentu saja dia dimungkinkan tak mendapatkan keuntungan, merugi, dan bahkan bangkrut. Padahal, bisa saja dia telah ditipu sebelumnya sehingga dia mau membeli barang tersebut. Sedangkan ketika akan menjualnya, dia terbentur kejujuran yang harus dijunjungnya.

Itulah Islam. Dengan kemuliaannya selalu ingin menjaga nilai-nilai kebaikan. Kejujuran para pedagang itu insya Alloh akan memutuskan matarantai ketertipuan sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap para penyedia barang dan jasa. Maka para pedagang itu hendaknya mengatakan yang benar meski pahit.

Dalam kasus Muhammad ibn Sirin, yang terjadi memang bukan penipuan. Tetapi dia juga tak ingin para pembelinya menanggung keraguan atas najis tidaknya minyak itu. Dia sebenarnya punya banyak pilihan. Misalnya dengan menimpakan kesalahan pada pemasoknya. Atau dengan hanya membuang satu kaleng yang didapati bangkai di dalamnya dan tetap menjual yang lain. Tetapi Muhammad ibn Sirin mencontohkan jalan yang lebih tinggi dari sekedar mengatakan yang benar meski pahit. Dia menjaga amanahnya dari ancaman syubhat yang paling halus.

Kita mendapat pelajaran berharga dari sabda Sang Nabi dalam riwayat Imam al-Baihaqi ini. Jika para pedagang mengatakan yang benar meski pahit, dalam kasus mereka, bagi siapakah kepahitan yang dimaksud oleh hadits ini? Benar. Kepahitan itu bagi yang mengucapkannya. Katakan yang benar, meski dengan demikian kita yang mengucapkannya merasa sakit, menanggung rugi, dan bahkan ditimpa bangkrut. Kepahitan itu sama sekali bukan bagi yang mendengarnya. Sebab andai begitu, sabda beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mungkin akan berbunyi, “Dengarkanlah yang benar, meskipun pahit.”

Katakan yang benar, meski pahit. Bagi kita yang mengucapkannya.

Hari-hari ini, kita yang sedang penuh semangat hilir mudik ke sana-kemari untuk menebarkan kebenaran sesuai dengan apa yang kita fahami. Tetapi kadang tanpa sadar kita sebenarnya hanya menyakiti hati, memerahkan telinga, dan membuat sesak di dada. Orang-orang yang mendengar itu merasakan bahwa kita bukan membawa kebenaran bagi mereka. Kita hanya sekedar mengunjukkan diri sebagai yang paling benar, mengungkit-ungkit salah mereka, merasa bangga sebab memenangkan hujjah, dan kadang juga kita merasa mempermalukan mereka.

Apa dalil kita? Katakan yang benar meski pahit. Sayang sekali, agaknya kita agak meleset memaknainya. Yang benar belum tentu tersampaikan. Yang pahit sudah pasti dirasakan para penyimak kata-kata kita. Dengan begitu, disebabkan kesempitan ilmu, kita telah menjadi pemilik palu, dan merasa semua orang adalah paku. Astaghfirullohal ‘azhiim.

                                                                                        ***

Ada beberapa ciri dari orang yang hanya memiliki palu, dan menganggap segala hal adalah paku.

Pertama, mereka seringkali bertindak sebelum mengetahui gambaran persoalan dengan utuh sehingga mereka salah waktu dan salah cara dalam merespons sesuatu. Dengan agak bercanda, John C. Maxwell bercerita dalam buku Winning with People bahwa ada seorang pria setengah baya dengan tergesa-gesa memasuki sebuah rumah makan. Dia bergegas menuju meja kasir dan menemui seorang pelayan.

“Apakah Anda punya sesuatu untuk menyembuhkan cegukan?” tanyanya.

Tanpa berkata apapun, si pelayan restoran merogoh sesuatu di bawah meja. Dia mengambil lap basah, dan menamparkannya ke wajah pria itu.

“Aduh! Apa-apaan ini?”

“Nah,” si pelayan tersenyum, “Sekarang cegukan Anda sudah hilang bukan?”

“Bukan saya yang cegukan!” teriak si pria berapi-api. “Saya perlu sesuatu untuk menolong istri saya. Dia ada di luar sana menunggu di dalam mobil!”

                                                                                        ***

Tanda yang kedua, seringkali mereka adalah orang yang suka mengungkit masa lalu. Dalam pembicaraan-pembicaraan, mereka suka menyakiti sesama dengan menyebut ulang kesalahan-kesalahannya. Dengan menunjukkan bahwa masa lalu seseorang kelam dan penuh kekhilafan, maka si pemilik palu hendak mengatakan, “Jika dulu engkau adalah orang yang banyak melakukan kesalahan, maka sekarang pun akulah yang benar dan engkau tetap saja berada dalam kungkungan watakmu yang selalu keliru.”

Rosululloh pernah mewanti-wanti hal ini kepada para istri. “Perbanyaklah sedekah,” kata beliau di suatu hari raya pada serombongan wanita, “Karena kalian banyak kufur.” Maksud beliau bukanlah kufur kepada Alloh, melainkan kufur kepada suami. “Yakni,” lanjut beliau, “Ketika untuk masa yang panjang suaminya telah berbuat baik kepadanya, lalu di satu waktu sang suami itu melakukan kesalahan. Maka dalam kemarahan, si istri menyebut-nyebut kesalahan suaminya di masa lalu dan bahkan berkata, ‘Kau belum sekalipun pernah berbuat baik kepadaku.’”

Apakah penyakit ini hanya dimiliki para istri? Sesungguhnya tidak. Banyak lelaki terjangkiti hal yang sama, sehingga mereka menyakiti orang-orang di dekatnya. Kadang-kadang sifat ini tampil dalam bentuk yang agak berbeda. Yang diungkit bukanlah kesalahan orang di masa lalu, melainkan kebaikannya pada orang lain yang diangkat-angkat. Hakikat sebenarnya sama dan pesan yang ingin disampaikan terlihat jelas. “Ingatlah, kau takkan jadi seperti ini tanpa diriku. Maka sekarang pun kau bukan apa-apa jika berani menentangku!”

Adalah indah apa yang dikatakan Rosululloh untuk menenangkan orang-orang Anshor saat mereka tak puas atas pembagian rampasan Perang Hunain di Ji’ronah. Beliau dengan penuh hikmah membawakan kesadaran yang menginsyafkan orang-orang Anshor tanpa menyakiti hati mereka. Bahkan beliau membesarkan hati dan menguatkan keteguhan mereka untuk selalu memberikan yang terbaik.

Saat itu, persoalannya adalah, siapa yang dipanggil di saat semua orang lari dari Rosululloh di lembah Hunain? Dan siapa yang dengan bergegas menyambut, “Labbaik!” hingga menggetarkan seluruh wadya musuh yang berlindung di atas bukit? Bukankah Anshor? Bukankah Anshor yang menjadi kunci kemenangan pasukan ini?

Pertimbangan manusiawi mengatakan, Anshor yang paling berhak mendapatkan rampasan Hunain yang memenuhi wadi itu. Tapi Rosululloh justru membagikannya kepada pemuka-pemuka Thulaqoo, muallaf Makkah yang paling depan dalam melarikan diri dari pertempuran dan berkata, “Mereka takkan berhenti berlari sampai mencapai laut!”

Ada sesuatu yang mengganjal setelah pembagian itu, sesuatu yang disampaikan oleh Sa’d ibn ‘Ubadah dan membuat orang-orang Anshor dikumpulkan di sebuah padang gembalaan. Sang Nabi datang dan berbicara kepada mereka.

“Amma ba’du. Wahai semua orang Anshor, ada kasak kusuk yang sempat kudengar dari kalian, dan di dalam diri kalian ada perasaan yang mengganjal terhadapku. Bukankah dulu aku datang, sementara kalian dalam keadaan sesat lalu Alloh memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku? Bukankah kalian dulu miskin lalu Alloh membuat kalian kaya, bukankah dulu kalian bercerai-berai lalu Alloh menyatukan hati kalian?”

Mereka menjawab, “Begitulah. Alloh dan Rosul-Nya lebih murah hati dan lebih banyak karunianya.”

“Apakah kalian tak mau menjawabku, wahai orang-orang Anshor?” tanya beliau.

Mereka ganti bertanya, “Dengan apa kami menjawabmu, ya Rosulalloh? Milik Alloh dan Rosul-Nya lah anugerah dan karunia.”

Beliau bersabda, “Demi Alloh, kalau kalian menghendaki, dan kalian adalah benar lagi dibenarkan, maka kalian bisa mengatakan padaku: Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan lemah lalu kami menolongmu. Engkau datang dalam keadaan terusir lagi papa lalu kami memberikan  tempat dan menampungmu.”

Sampai di sini air mata sudah mulai melinang, pelupuk mereka terasa panas, dan isak mulai tersedan.

“Apakah di dalam hati kalian masih membersit hasrat terhadap sampah dunia, yang dengan sampah itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam, sedangkan keislaman kalian tak mungkin kuragukan? Wahai semua orang Anshor, apakah tidak berkenan di hati kalian jika orang-orang pulang bersama domba dan unta, sedang kalian kembali bersama Alloh dan Rosul-Nya ke tempat tinggal kalian?”

Isak itu semakin keras, janggut-janggut sudah basah oleh air mata.

“Demi Zat yang jiwa Muhammad dalam Genggaman-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentu aku termasuk orang-orang Anshor. Jika manusia menempuh suatu jalan di celah gunung, dan orang-orang Anshor memilih celah gunung yang lain, tentulah aku pilih celah yang dilalui orang-orang Anshor. Ya Alloh, sayangilah orang-orang Anshor, anak orang-orang Anshor, dan cucu orang-orang Anshor,” Rosululloh menutup penjelasannya dengan do’a yang begitu menentramkan.

Dan tentu, akhir dari semua ini mempesona, semempesona semua pengorbanan orang-orang Anshor selama ini, “Kami ridho kepada Alloh dan Rosul-Nya dalam pembagian ini…, kami ridho Alloh dan Rosul-Nya menjadi bagian kami…”

                                                                                        ***

Ciri yang ketiga, pemilik palu suka memperburuk keadaan dengan memberikan reaksi berlebihan. Ketika marah, mereka cenderung menjatuhkan bom, padahal sebenarnya kerikil mungil pun sudah cukup. Sikap ini akan banyak menimbulkan kesulitan baru karena ukuran masalah yang menjadi makin besar tergantung bagaimana ia ditangani. “Pada umumnya,” tulis John C. Maxwell dalam Winning with People, “Jika reaksi lebih buruk dari suatu tindakan, maka masalahnya akan membesar. Dan jika reaksinya tak seburuk tindakannya, persoalan akan mengecil.”

Di antara kehebatan para Rosul Ulul ‘Azmi adalah, bahwa mereka selalu berhasil memberikan respons yang paling indah atas suatu persoalan. Mereka dianugerahi akhlak untuk membalas kejahatan dengan kebaikan hingga musuh pun jatuh cinta dan menjadi kawan setia. Banyak sekali kisah tentang bagaimana Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam menyentuh hati para penentangnya dengan kesediaan beliau mendengarkan mereka, menanyakan kabar orang yang selalu meludahinya ketika dia tak muncul di suatu hari, dan menjadi orang pertama yang menjenguknya.

Diriwayatkan juga tentang ‘Isa ibn Maryam ‘Alaihis Salam bahwa suatu hari, seorang lelaki pandir menimpuk wajahnya dengan kotoran dan mencaci makinya dengan kata-kata yang sangat jijik dan menyakitkan.

‘Isa membalasnya dengan mengucapkan kalimat-kalimat yang begitu sejuk dan indah pada lelaki itu. Dia memberikan semangat dan penghiburan. Lalu kepada lelaki itu diulungkannya buah anggur serta minyak wangi. Para muridnya bertanya, “Mengapa kau balas kata-kata kejinya dengan kalimat-kalimat mulia, dan kau beri dia anggur serta haruman padahal dia menimpukmu dengan kotoran?”

“Karena setiap orang,” jawab ‘Isa, “Hanya bisa memberikan apa yang dia punya.”

***

Kekhasan yang keempat, pemilik palu selalu beranggapan bahwa situasi jauh lebih penting daripada hubungan. Bagi mereka, memenangkan debat saat ini lebih penting daripada menjaga agar hati seorang kawan tak tersakiti. Mereka menduga bahwa membuktikan diri tidak bersalah dalam suatu keadaan jauh lebih penting daripada menyadari bahwa mereka bisa saja sedang mempermalukan orang yang mereka cintai.

Andai tiap suami dan istri di dunia ini memiliki anggapan bahwa keadaan lebih penting daripada hubungan, mungkin takkan ada ikatan pernikahan yang bertahan. Tetapi kerepotan-kerepotan kecil tetap saja sering timbul. Seperti saat sepasang suami istri datang terlambat ke sebuah undangan jamuan. Tahankah sang suami untuk tak mengatakan, “Maaf, kami terlambat karena istri saya tadi mandi serta dandannya lama sekali!”

Ketika seorang kawan mengatakan bahwa perabot di rumah sungguh jauh dari anggun, tahankah sang suami untuk tidak berkata, “Wah, itu yang memilih istri saya. Saya sebenarnya juga kurang suka.”

Orang-orang yang menganggap situasi lebih penting daripada hubungan sungguh merepotkan orang-orang yang ada di dekatnya. Jika menjadi atasan, dia akan sering menginjak bawahan. Jika menjadi rekan searas, sikutnya mungkin akan bergerak kian ke mari untuk menyakiti. Ketika menjadi bawahan, di belakang dia akan menebarkan kasak-kusuk dan isu-isu untuk menjatuhkan. Itu semua dilakukan hanya untuk hal yang yang sangat sesaat sifatnya dengan mengorbankan hubungan yang seharusnya dipelihara dalam jangka panjang.

Orang-orang yang menganggap bahwa memenangi argumen-tasi pada suatu saat jauh lebih penting daripada hubungan memang selayaknya menyadari bahwa ada pilihan lain yang lebih bijaksana. Untuk memenangkan hati dan kasih sayang misalnya. Maka sabda Sang Nabi dalam riwayat Abu Dawud itu sungguh penuh makna. “Aku jaminkan sebuah rumah,” kata beliau, “Di surga bagian tengah-tengah, untuk mereka yang mampu menahan diri dari berdebat meskipun berada di atas kebenaran.”

                                                                                        ***

Nah. Apakah di dalam diri kita, masih ada keempat ciri pemilik palu ini? Subhanalloh, hanya memiliki palu, dan menganggap segala hal sebagai paku akan menjadikan diri kita tanah yang gersang dalam persaudaraan. Sangat gersang. Dalam dekapan ukhuwah, agaknya perlu kerja keras untuk menyuburkannya kembali.

                                                                                        ***

Saat kita hanya punya palu, semua yang ada di sekitar kita akan melakukan apapun sekedar agar terhindar dari pukulan. Mungkin yang bisa menjadi sahabat-sahabat kita hanyalah orang-orang yang lebih buruk daripada kawan-kawan Fir’aun. Setidaknya itulah yang dikatakan seorang anak kecil di Iraq kepada durjana zaman ‘Umayyah, al-Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqofi.

Sedikit kita ingat tentang al-Hajjaj. Dia, bersama Abul Aswad ad-Du’ali, adalah seorang ‘alim yang punya andil merumuskan sistem harokat untuk mush-haf yang kita baca. Tapi adalah dia seperti persaksian ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz, “Andai ummat-ummat dan bangsa datang dengan segala kejahatan mereka; dan kita Bani ‘Umayyah datang dengan al-Hajjaj seorang, demi Alloh takkan ada yang bisa mengalahkan kita.”

Para penulis riwayat menghitung, al-Hajjaj bertanggung jawab atas pembunuhan 120.000 orang yang kebanyakan adalah ulama dan orang-orang sholih. Belum lagi ketika dia meninggal, masih ada sekitar 80.000 jasad yang ditemukan di penjaranya, mati tanpa peradilan yang hak. Rincian ini bisa kita teliti dalam redaksi Ibn ‘Abdil Barr, al-Isti’aab fii Ma’rifatul Ash-hab 1/353 dan 2/571; Ibn al-Atsir, al-Kamil fit Tarikh 4/29 dan 133; Ibn Katsir, al-Bidayah wan Nihayah 9/2, 83, 91, 128, 129, dan 131-138; serta Ibn Kholdun, at-Tarikh 3/39.

Di antara mereka yang dibunuh al-Hajjaj, terdapat shohabat-shohabat utama Rosululloh seperti ‘Abdulloh ibn Zubair ibn al-‘Awwam, putra Asma’ binti Abi Bakar ash-Shiddiq. Juga an-Nu’man ibn Basyir, ‘Abdulloh ibn Shofwan, dan ‘Imaroh ibn Hazm. Kepala mulia ‘Abdulloh ibn az-Zubair yang pernah diciumi Rosululloh itu dipenggal dan dikelilingkan ke berbagai kota; Makkah, Madinah, hingga Damaskus. Jasad-jasad mereka disalibkan di kota Makkah, dijadikan tontonan hingga berbulan lamanya. Keterangan ini bisa kita telusur dalam tulisan Ibn ‘Abdil Barr, al-Isti’aab 1/353-354; ath-Thobari, at-Tarikh 5/33-34; Ibn Katsir, al-Bidayah 8/245 dan 332; Ibn Kholdun, at-Tarikh 3/39; serta Ibn Sa’d, ath-Thobaqot al-Kubro 6/53.

Selain itu, patut dicatat nama Sa’id ibn Jubair, tabi’in agung, murid kesayangan ‘Abdulloh ibn ‘Abbas yang dikuliti dan disayati dagingnya oleh al-Hajjaj. Juga tindakan dan cercaannya yang mengancami ‘Abdulloh ibn ‘Umar, almarhum ‘Abdulloh ibn Mas’ud, Anas ibn Malik, dan Sahl ibn Sa’d as-Sa’idi, rodhiyallohu ‘anhum. Di masa ini pula para penguasa termasuk al-Hajjaj melaksanakan khuthbah pertama Jum’at sambil duduk, menjadikan caci-maki terhadap ‘Ali ibn Abi Tholib dan keluarganya sebagai rukun khuthbah, dan melangsungkan khuthbah Hari Raya sebelum sholat-nya. Bid’ah-bid’ah yang dahsyat ini bisa kita telusuri dalam anggitan Ibn al-Atsir, al-Kamil 4/119, 300; ath-Thobari, at-Tarikh 6/26; dan Ibn Katsir, al-Bidayah 8/258, 10/30-31.

Subhanalloh! Hajjaj benar-benar contoh ekstrim sempurna untuk seorang Muslim yang hanya punya palu, dan memperlakukan segala hal sebagai paku.

Ada banyak kisah tentang al-Hajjaj, ketika dia berhadapan dengan orang-orang di zamannya. Dia mengatur dan memimpin manusia dengan cekaman ketakutan. Selain kekejaman, dia dikenal punya lidah yang fasih, hujjah yang mantap, dan bahkan senantiasa memiliki dalil untuk membenarkan segala tindakannya. Tetapi ada waktu-waktu di mana saat berhadapan dengan orang sholih dia tak berkutik dan kehilangan kata. Kali ini giliran seorang anak kecil yang cerdas membungkamnya.

Anak berusia belasan dengan rambut panjang dikepang hingga dada itu dihadapkan pada al-Hajjaj. Tanpa rasa takut dia mendekat. Melihat al-Hajjaj duduk di atas panggung kehormatan yang tinggi dan megah, dia memperhatikannya dengan takjub. Ditelusurinya detail panggung yang gemerlapan itu dengan matanya yang berkejap-kejab. Lalu dia membaca sebuah ayat.

“Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah yang tinggi bangunan megah untuk bermain-main? Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal di dunia? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertaqwalah kepada Alloh dan taatlah kepadaku.” (Qs. asy-Syu’aroo [26]: 128-131)

Al-Hajjaj yang sedang duduk bertelekan di atas kursinya segera bergeser pijakan dan mencondongkan tubuh ke depan. “Hai anak kecil,” tegurnya, “Sungguh kulihat engkau memiliki kecerdasan dan kepandaian. Apakah kamu menghafal al-Qur’an?”

Dalam bahasa Arab kata hafizho bisa berarti menghafal, bisa juga berarti menjaga. Maka anak itu dengan mata berbinar menjawab, “Apakah engkau takut bahwa al-Qur’an akan hilang sehingga aku harus menjaganya? Sedangkan Alloh sendiri telah berjanji untuk menjaganya.”

“Apakah kamu sudah mengumpulkan keseluruhan al-Qur’an?” tanya al-Hajjaj memperjelas apakah anak ini sudah menghafal kesemua isi al-Qur’an.

“Memangnya dulunya ia terpisah-pisah sehingga aku harus mengumpulkannya?”

“Apakah kamu sudah menyempurnakannya?” lagi-lagi al-Hajjaj bertanya apakah si anak telah mengkhotamkan hafalan al-Qur’annya.

“Bukankah Alloh telah menurunkannya dengan sempurna?”

“Maksudku,” kata al-Hajjaj mulai kesal, “Apakah engkau sudah menghafalnya di belakang punggungmu?” ‘Di belakang punggung’ adalah kiasan untuk menghafal di luar kepala, tapi juga bisa berarti mengabaikan.

“Aku berlindung kepada Alloh,” kata si bocah, “Agar tidak menjadikan al-Qur’an di belakang punggungku!”

“Celakalah kamu!” gertak al-Hajjaj, “Jadi aku harus mengatakan apa?”

“Kecelakaan justru bagimu dan orang-orang yang bersamamu. Katakan saja: Apakah kamu sudah memenuhi hatimu dengan al-Qur’an?”

“Bacalah beberapa ayat dari al-Qur’an!” pinta al-Hajjaj.

“Aku berlindung kepada Alloh dari godaan syaithon yang terkutuk. Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ketika datang pertolongan Alloh dan kemenangan. Dan kamu melihat manusia akan KELUAR dari agama Alloh dengan berbondong-bondong!”

“Kurang ajar kamu! Mereka MASUK agama Alloh, bukan KELUAR!”

“Dulunya mereka memang masuk, tapi sekarang mereka kaluar.”

“Mengapa?”

“Karena kejahatan dan kezholimanmu kepada mereka!”

“Celaka kamu! Tahukah dengan siapa kamu sedang bicara?”

“Alhamdulillah tsumma a’udzubillah, dengan syaithon Tsaqif yang bernama al-Hajjaj!”

Begitulah. Antara al-Hajjaj dan bocah itu terus terjadi tanya-jawab yang makin lama kian panas dan membuat al-Hajjaj habis kesabaran. Tiap kali ditanya, si anak menjawab dengan kalimat yang cerdas dan menghunjam. Setelah merasa lelah dengannya, al-Hajjaj berpaling pada para pembesar yang ada di sisinya. “Bagaimana pendapat kalian tentang bocah ini?”

“Tumpahkan saja darahnya!” seru mereka. “Sungguh, dia telah membangkang kepada pemimpin dan keluar dari jama’ah!”

“Wahai al-Hajjaj,” panggil si anak kecil, “Teman-teman Fir’aun jauh lebih baik daripada kawan-kawanmu ini. Ketika Fir’aun, saudaramu itu, kesal karena Musa yang gagah dan dewasa, maka mereka mengatakan pada sang tiran seperti termaktub di ayat ke-36 surat asy-Syu’aroo, “Beri tangguhlah dia dan saudaranya, Harun.” Sementara kawan-kawanmu ini justru mengatakan tentang seorang anak kecil yang lemah, “Tumpahkanlah darahnya!” Demi Alloh, akan ada hujjah di hadapan-Nya, Raja dari sekian raja. Dia yang akan membinasakan semua penguasa zholim dan menghinakan orang-orang yang sombong!”

                                                                                        ***

Dalam dekapan ukhuwah, saatnya menukar palu dengan sarung tangan beludru…

Sumber: Dalam Dekapan Ukhuwah; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Rabu, 10 April 2013

Terhubung ke Langit


berdirimu di waktu malam, sujudmu yang dalam
mengokohkan hatimu, melebihi gunung membiru
lalu kau terima beban untuk mencintai semesta;
membagi senyum ketika kau terluka,
memberi minum ketika kau dahaga,
menghibur jiwa-jiwa ketika kau berduka



SEHARUSNYA dia beroleh istirahat di malam hari. Siang demi siang terasa panjang, melelahkan, dan menyesakkan dada. Ke sana kemari dia susuri Makkah dari ujung lain ke ujung satu, berbisik dan berseru. Dia ajak orang satu demi satu, kabilah suku demi suku, untuk mengimani risalah yang diamanahkan kepadanya.

Dia kadang terlihat di puncak Shofa, membacakan ayat-ayat yang dibalas caci maki dan hinaan menjijikkan dari pamannya sendiri. Di akadang harus pergi, meninggalkan satu kaum dengan dilempari batu dan kotoran sambil diteriaki gila, duku, penyihir, dan penyair ingusan. Dia kadang sujud di depan Ka’bah, lalu seseorang akan menuangkan setimba isi perut unta ke kepalanya, atau menjeratkan selendang ke leher di saat ruku’nya. Dia kadang harus menangis dan menggumamkan ketakberdayaan melihat sahabat-sahabatnya yang lemah dan terbudak disiksa di depan matanya. Kejam dan keji.

Dia sangat lelah. Jiwa maupun raga. Dia sangat payah. Lahir maupun batin. Tenaganya terkuras. Luar maupun dalam. Seharus-nya dia beroleh istirahat di malam hari, meski gulana tetap menghantuinya. Tetapi saat Khodijah membentangkan selimut untuknya dan dia mulai terlelap dalam hangat, sebuah panggilan langit justru memaksanya terjaga.

“Hai orang yang berselimut. Bangunlah di malam hari kecuali sedikit. Separuhnya atau kurangilah yang separuh itu sedikit. Atau tambahlah atasnya. Dan bacalah al-Qur’an dengan tartil.” (Qs. al-Muzammil [73]: 1-4)

Untuk apa?

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (Qs. al-Muzammil [73]: 5)

Seberat apa?

“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah berantakan disebabkan takut kepada Alloh.” (Qs. al-Hasyr [59]: 21)

Ini kalimat yang berat. Itu beban yang berat. Beban yang gunung-gunung tak sanggup menanggung. Beban yang dihindari oleh langit dan bumi. Dan Muhammad harus menerimanya. Dia harus menanggungnya. Maka hatinya harus lebih kokoh dari gunung. Maka jiwanya harus lebih perkasa daripada bumi. Maka dadanya harus lebih lapang daripada lautan. Karena itu dia harus bangun di waktu malam untuk menghubungkan diri dengan sumber kekuatan yang Maha Perkasa.

Maka Sang Nabi pun bangkit. Dia sholat.

“Sholat,” kata Sayyid Quthb dalam Zhilal, “Adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipilih untuk pertemuan setetes air yang terputus dengan sumber yang tak pernah kering. Ia adalah kunci perbendaharaan yang mencukupi, memuaskan, dan melimpah. Ia adalah pembebasan dari batas-batas realita bumi yang kecil menuju realita alam semesta. Ia adalah angin, embun, dan awan di siang hari bolong nan terik. Ia adalah sentuhan yang lembut pada hati yang letih dan payah.”

Maka Sang Nabi pun bangkit. Dan sholat.

Sholat itu kewajiban baginya. Sholat itu menjaganya dari kemungkaran dan kekejian. Dia ruku’. Maha Agunglah Alloh dan dia memuji Ilahi. Lalu Alloh mendengarkan orang yang memuji-Nya, dan menjawab derap-derap permohonannya yang menggelora. Dia sujud. Maha Tinggilah Alloh. Dan dia merasakan betapa dekatnya, betapa mesranya, betapa asyiknya bicara pada Robbnya dalam hening, mengadu, berkeluh, berkesah tentang segalanya. Tentang beratnya tugas, tentang lemahnya daya dan kekuatannya.

Lalu dia memohon kekuatan agar mampu mengemban amanah itu. “Ya Robbi,” lirihnya, “Kepada-Mu kuadukan lemahnya dayaku, kurangnya siasatku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Paling Penyayang di antara para penyayang, Engkaulah Robb orang-orang yang lemah. Engkaulah Robbku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan dan yang karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar Engkau tak menurunkan murka-Mu kepadaku. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari-Mu.”

Maka Alloh menjawabnya, mencurahkan rohmat kepadanya sebagai cinta dari langit untuk ditebarkan di bumi.

“Maka disebabkan rohmat dari Alloh-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Qs. Ali ‘Imron [3]: 159)

Dalam dekapan ukhuwah, kita rindu mewarisi keteguhan Sang Nabi. Dalam dekapan ukhuwah, kita rindu dicurahi rohmat-Nya hingga mampu berlemah lembut pada sesama. Dalam dekapan ukhuwah, kita berharap tak ada yang lari dari sisi karena kekasaran sikap dan kekerasan hati ini. Dalam dekapan ukhuwah, kita berambisi dipuji Alloh seperti Sang Nabi, “Sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung.”

Maka dalam dekapan ukhuwah kita pun bangkit, menegakkan sholat, dan mengundang cinta-Nya dengan segenap ketaatan yang terjangkau oleh kemampuan kita.

Orang-orang yang terhubung ke langit, adalah orang-orang yang menanggung beban untuk membawa manusia ke jalan cahaya. Mereka menjadi manusia-manusia dengan ketahanan menakjubkan menghadapi kebengalan sesama titah. Mereka menjadi orang-orang yang paling teguh hati, paling lapang dada, paling sabar, paling lembut, paling santun, paling ramah, dan paling ringan tangan. Keterhubungan dengan langit itu yang mempertahankan mereka di atas garis edar kebajikan, sebagai bukti bahwa merekalah wakil sah dari kebenaran.

Dalam dekapan ukhuwah, Alloh jadikan mereka sebagai teladan bagi kita. Kisahnya diulang-ulang untuk menguatkan hati.

Maka parade sejarah terhubungnya langit dan bumi memben-tang panjang. Mulai dari Nuh yang tak jemu-jemu menyeru kaumnya selama limaratus tahun. Dengan segala cara. Sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Bersepi maupun ramai. Pribadi ke pribadi maupun jamak. Lalu Ibrohim yang menebas keberhalaan dengan kapak kecerdasan. Ibrohim yang membungkam raja pengaku tuhan dengan hujjah tak terbantah. Ibrohim yang menginsyafkan para penyembah bintang, rembulan, dan matahari dengan bahasa lembut menghanyutkan. Lalu Musa dengan lika-liku perjalanan hidupnya. Lalu ‘Isa dengan pernak-pernik kisahnya. Lalu Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.

Salah satu mata rantai dari para pengibar bendera Tauhid di pentas sejarah itu adalah Yunus, ‘Alaihis Salaam. Dan kisahnya mengajarkan pada kita, bahwa dalam dekapan ukhuwah, Alloh begitu mencintai orang-orang yang terhubung ke langit ini, hingga tak membiarkan mereka sedikit pun terlepas dari pelajaran untuk memiliki akhlak dan perilaku mulia. Dalam dekapan ukhuwah, Alloh ingin tiap manusia yang terhubung ke langit menuntaskan tugasnya hingga paripurna karena bersamaan dengan itu disempurnakan pula didikan Robbani pada karakter pribadinya. Jika dia meninggalkannya sebelum tuntas, Alloh akan gunakan cara lain untuk mendidikkan kemuliaan padanya.

Yunus mungkin tercatat sebagai orang yang gagal. Dia meninggalkan kaumnya dengan marah, sesak hati, dan sempit dada sebelum Alloh mengizinkan. Dia pergi. Dan kita sudah hafal kisah selanjutnya; dia naik kapal, dibuang ke laut, dan ditelan ikan Nun.

Alloh ingin mendidik Yunus untuk sabar menghadapi manusia dan teguh membawa mereka ke jalan taqwa. Alloh ingin mendidik-nya agar tak mudah menyerah dan mengerahkan beberapa tingkat lagi daya upaya. Tapi Yunus dibakar perasaan. Dia tinggalkan kaumnya. Maka Alloh menyempurnakan pendidikan langit untuk-nya agar bersabar dengan sebuah musibah. Ditelan ikan. Hidup dalam kegelapan. Saat itulah dia insyaf kembali dengan do’a yang kita kenang hingga kini, “Tiada Ilah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku ini termasuk orang yang aniaya.”

Ketika pendidikan langit untuk bersabar dia tuntaskan, dia kembali kepada kaumnya dengan semangat menyala. Dia datang untuk menyeru mereka ke jalan cahaya dengan keteguhan yang telah dia siapkan berlipat jumlahnya. Tapi Alloh telah menyempurnakan pendidikannya, maka baginya hadiah yang membahagiakan. Saat dia kembali semua kaumnya telah beriman. Dan kini, tugasnya tinggal memimpin dan membimbing mereka beribadah pada Alloh, dalam dekapan ukhuwah.

Demikianlah. Mereka yang terhubung ke langit, terhubung dengan manusia dalam kata cinta yang berwujud da’wah. “Da’wah adalah cinta,” kata Syaikhut Tarbiyah Rahmat Abdullah. Dan dalam dekapan ukhuwah, cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang da’wah. Tentang ummat yang kau cintai.

Sumber: Dalam Dekapan Ukhuwah; Salim A. Fillah; Pro-U Media