Senin, 10 Desember 2018

Arab pada Zaman Pra-Islam (Era Jahiliyah)

Lanskap Hijjaz yang berpegunungan dan gersang bukanlah lingkungan yang menunjang banyak kehidupan. Terletak di Semenanjung Arab bagian barat, daratan ini dapat dilukiskan lewat dua kata: gersang dan panas. Pada musim panas, suhu udara biasanya meningkat hingga lebih dari 37 derajat Celcius dengan curah hujan yang sedikit. Lebih jauh ke timur, gumuk-gumuk pasir tiada akhir menandai lanskap yang tandus dan tanpa permukiman permanen. Namun dari lanskap yang keras inilah pada awal tahun 600-an, sebuah gerakan baru muncul; gerakan yang akan mengubah alur sejarah di Semenanjung Arab dan sekitarnya.

Geografi
Semenanjung Arab mencakup wilayah seluas dua juta kilometer persegi di sudut barat daya Asia. Terletak di antara Asia, Afrika, dan Eropa. Daratan itu memiliki keunikan dalam hubungannya dengan ketiga benua di Dunia Lama. Terlepas dari posisinya, Semenanjung Arab seringkali diabaikan oleh orang luar. Orang-orang Mesir Kuno lebih suka memperluas wilayah ke tanah Bulan Sabit Subur dan Nubia daripada menjelajah ke gurun pasir Arab. Alexander Agung melewatinya pada tahun 300-an SM dalam perjalanan menuju Persia dan India. Kekaisaran Romawi pernah berusaha menginvasi Semenanjung tersebut melalui Yaman pada tahun 20-an SM, namun tidak dapat menyesuaikan diri dengan lanskapnya yang keras. Dan oleh sebab itu, urung menaneksasi wilayah tersebut.

Sebenarnya, wajar saja jika orang-orang luar mengabaikan Semenanjung Arab ini. Iklimnya yang kering sangat tidak bersahabat, bahkan bagi bangsa nomaden yang tinggal di sana. Angin monsun membawa hujan musiman ke pesisir sebelah selatan Semenanjung pada musim gugur, tetapi hujannya tertahan oleh lanskap yang meninggi dengan cepat dan tidak pernah terlalu jauh mencapai gurun. Demikian halnya dengan hujan-hujan dari laut Mediterania yang hampir tidak menyentuh tepi utara gurun Arab. Hasilnya, hampir sebagian besar wilayah Semenanjung tetap gersang sepanjang tahun. Ada jaringan sungai kering disebut wadi yang mengalir di seluruh daratannya. Namun hampir tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai sungai. Ketika awan berkumpul dan hujan pun turun, wadi-wadi tadi menjadi saluran air yang deras, penting bagi pertumbuhan tanaman musiman yang berhasil berkembang di lahan kering ini. Namun demikian, begitu musim basah berakhir, wadi-wadi ini kembali ke kondisi keringnya yang biasa, tak lagi berperan sebagai sumber air. Sungai-sungai kering ini tidak seperti oasis-oasis yang lebih bisa diandalkan. Oasis merupakan lahan subur kecil yang dikelilingi oleh bentangan luas padang pasir. Oasis mampu menampung komunitas kecil atau sebagai titik arah bagi musafir, tetapi hampir tidak cukup untuk menghidupi masyarakat yang maju dan besar.

Bangsa Arab
Lingkungan merupakan faktor yang sangat dominan dalam pembentukan suatu peradaban seperti yang terjadi dengan masyarakat Arab. Seluruh unsur kehidupan bangsa ini berputar di sekitar lingkungan keras tempat mereka tinggal. Karena padang-padang pasir tidak mampu mendukung peradaban yang mapan, bangsa Arab hidup berpindah-pindah dalam upaya mencari lahan subur bagi hewan ternak. Salah satu terus etimologi label “Arab bahkan berpendapat bahwa kata itu sendiri berasal dari akar Semit yang berarti mengembara atau nomaden”. Bangsa Arab akan melewatkan berbulan-bulan musim panas di sekitar oasis atau sumur yang dapat mereka andalkan tahun demi tahun, berusaha mempertahankan perbekalan dan air dengan hidup berhemat. Setelah musim panas berakhir, mereka akan bermigrasi ke selata,n ke dekat Yaman, tempat hujan turun pada musim gugur dan tersedia lahan subur untuk ternak. Padang rumput tadah hujan menyediakan cukup pangan bagi ternak domba, kambing, dan unta untuk bertahan hidup melewati bulan-bulan musim dingin sangat masyarakat Arab mendirikan tenda sementara. Pada waktu hujan berhenti dan kekeringan melanda pada musim semi, bangsa Arab kembali ke oasis dan sumur masing-masing untuk melewatkan musim panas. Siklus keras ini telah menjadi kebiasaan bagi bangsa Arab nomaden sejak dahulu kala dan dipertahankan oleh orang-orang Arab Badui yang masih hidup di gurun gurun pasir.

Pada zaman pra-Islam, keramahtamahan dipandang sangat penting sampai-sampai seorang tamu di rumah sebuah keluarga Arab akan dijamin keamanan serta perlindungannya sekurangnya tiga hari sebelum bahkan maksud kedatangannya ditanyain. Tradisi ini terus dipertahankan oleh Rosululloh saw yang menyatakan bahwa seorang tamu berhak di jamu selama 3 hari.

Gurun pasir bukanlah tempat yang bisa dilalui seorang diri. Dengan begitu banyak ancaman terhadap keberlangsungan hidup bangsa Arab, kerjasama masyarakat merupakan hal yang sangat penting. Ketergantungan pada kerabat adalah baris pertama pertahanan terhadap kelaparan dan sengatan panas terus menerus yang mengancam kelangsungan hidup. Keluarga-keluarga diharapkan saling berbagi sumber daya dan tempat tinggal, dan konsep individualisme murni sangatlah dikecam. Oleh karena itu, keluarga −dan secara lebih luas, suku berfungsi sebagai unit sosial paling penting di dalam masyarakat Arab. Kelompok-kelompok keluarga mengembara bersama-sama dan disebut sebagai qobilah atau kafilah atau klan. Beberapa klan terdiri atas satu suku yang dipimpin oleh seorang kepala suku yang disebut Syaikh. Identitas kesukaan dan rasa memiliki merupakan hal vital dalam dunia pra-Islam menjadi bagian sebuah suku akan mendatangkan perasaan terlindungi, dukungan, dan kesempatan ekonomi. Suku-suku akan berperang dengan satu sama lain untuk melindungi salah seorang anggota mereka dan perang antarsuku merupakan hal yang sangat lazim sebelum kedatangan Islam. Persaingan memperebutkan lahan penggembalaan dan ternak biasanya membuat suku-suku berperang, dan itu bisa berlangsung selama bertahun-tahun serta menimbulkan banyak korban jiwa di kedua pihak. Bagi masyarakat Arab, perjuangan merupakan hal yang konstan melawan alam maupun manusia.

Dalam masyarakat nomaden, kesukaan seperti ini sulit untuk mengungkapkan jiwa artistic. Mereka hampir tidak memiliki sumber daya dan waktu yang diperlukan untuk menciptakan patung serta lukisan seperti masyarakat pada peradaban Mesir dan Yunani Kuno. Namun hasrat alami manusia untuk mencari keindahan tidak serta merta padam oleh gurun pasir. Sebagai gantinya, mereka menciptakan bentuk seni yang berbeda: bahasa. Barangkali melebihi bahasa manapun di dunia, bahasa Arab sendiri merupakan bentuk ungkapan artistik. Struktur kata dan kalimatnya luwes, menciptakan banyak cara yang berbeda bagi seseorang untuk mengungkapkan satu gagasan yang sama. Oleh sebab itu, secara alami syair menjadi seni de facto-nya khazanah Arab; syair-syair epos panjang yang memuliakan suku serta kepahlawanan dalam perang merupakan karya seni terbesar mereka. Penyair-penyair terbaik dipandang sebagai selebritas dalam segala hal. Kata-kata mereka dikenang oleh masyarakat dan diulang-ulang sampai generasi demi generasi. Tujuh syair Arab yang paling terkenal pada zaman pra-Islam adalah syair Al-Mu’allaqot yang berarti digantungkan”, karena syair-syair itu secara harfiah digantungkan di dinding Ka’bah di Makkah, atau secara metaforis digantung di hati semua orang Arab atas penghormatan mereka terhadap media puisi. Meskipun sudah menjadi masyarakat sastra yang maju, kepenulisan jarang ada di Semenanjung Arab. Bentuk tertulis bahasa itu hadir pada tahun 500-an, namun jarang dipelajari. Masyarakat Arab sudah merasa puas hanya dengan hafalan. Mereka mampu menghafal syair berjumlah ribuan baris di luar kepala, sehingga dapat mengulanginya lagi bagi generasi di masa depan. Hafalan terbukti akan menjadi kemampuan vital ketika Islam tiba di Semenanjung pada tahun 600-an.

Dalam hal agama, masyarakat Arab zaman pra-Islam hampir secara eksklusif menganut politeisme. Tradisi Islam meyakini bahwa Nabi Ibrohim alaihissalam dan putranya, Ismail, membangun Ka’bah di lembah Makkah pada masa-masa kuno sebagai rumah persembahan bagi Tuhan yang Maha Esa. Kabah dibangun sebagai bangunan persegi polos di atas pondasi yang diletakkan oleh manusia pertama, yakni Adam. Dari tempat suci ini Ismail menyampaikan ajaran monoteistik kepada masyarakat Arab yang menerima dirinya sebagai bagian dari mereka. Namun demikian, selama berabad-abad, keturunan Ismail memutarbalikkan ajaran-ajaran monoteistiknya. Berhala batu dan kayu diukir untuk mewakili sifat-sifat Tuhan. Belakangan, berhala tersebut dibuat untuk melambangkan tuhan-tuhan tersendiri sepenuhnya. Pada zaman Rosululloh saw ada 360 tuhan di dalam Ka’bah. Namun demikian, pesan Nabi Ibrohim dan Nabi Isma’il tidak sepenuhnya hilang dari masyarakat Arab. Kedua nabi tersebut masih dipandang sebagai tokoh yang dihormati dan bahkan sejumlah ajaran mendasarnya masih dipertahankan oleh masyarakat. Mereka benar-benar percaya kepada Tuhannya Ibrohim dan Isma’il yang disebut “Alloh” dalam bahasa Arab. Namun mereka meyakini bahwa Alloh hanya salah satu dari sekian banyak tuhan lain yang dilambangkan dengan berhala. Sistem kepercayaan ini sangat berbeda dari monoteisme tegas yang diajarkan oleh kedua nabi, dan mencerminkan pengaruh dari kepercayaan-kepercayaan Sumeria di utara. Ada komunitas Kristen dan Yahudi terisolasi di Semenanjung Arab yang juga menghormati kedua nabi tadi, namun persamaannya hanya sampai di situ. Segelintir penganut monoteis Arab cenderung menghindari asimilasi sepenuhnya dengan orang-orang Arab penyembah berhala, dan sebagai gantinya menciptakan komunitas terisolasi mereka sendiri.

Tetangga-tetangga Arab
Meskipun terletak di tengah-tengah gurun pasir Semenanjung Arab jauh dari peradaban yang lebih maju, bangsa Arab tidak sepenuhnya terisolasi dari tetangga-tetangganya. Pada decade-dekade pertama Masehi, bangsa Romawi telah menjadi kekuatan adidaya kawasan di sepanjang perbatasan sebelah utara Semenanjung setelah berhasil menekan sejumlah pemberontakan Yahudi di provinsi Syria Palestina, Romawi menegaskan kontrol di area tersebut bagi masyarakat Badui Arab, mereka merupakan mitra dagang yang kaya dan kuat di utara. Para pedagang secara berkala melintasi bagian barat Semenanjung dari Yaman di selatan menuju Suriah di utara, memperdagangkan barang dari tempat-tempat sangat jauh seperti India dan Italia. Bangsa Romawi cukup puas untuk berada di wilayah Tanah Bulan Sabit Subur yang lebih ramah dan akrab dan membiarkan mitra Arab nomaden mereka yang berdagang dengan negeri-negeri jauh.

Di sebelah timur laut Semenanjung terdapat Plato Iran. Kebangkitan Dinasti Sassaniyah di Persia pada 200 M memicu pertikaian satu abad antara Romawi dan Persia yang pada akhirnya akan berimbas pada bangsa Arab. Perbatasan antara dua kekaisaran besar itu berfluktuasi, tapi secara umum letaknya di gurun Suriah di sebelah utara Semenanjung Arab. Masing-masing kekuatan adidaya itu berusaha berada di atas angin dengan memanfaatkan suku-suku Arab −biasanya suku yang sudah menganut agama kristen− sebagai proksimat. Tertarik memanfaatkan konflik ini demi kepentingan mereka sendiri, dua konfederasi suku Arab berkembang menjadi negara klien bagi kedua kekuatan adidaya tadi. Ghassanid mendirikan kerajaan yang kini merupakan negara modern Yordania, Suriah, dan Palestina, dan mereka bertindak sebagai buffer bagi Kekaisaran Romawi. Di lain pihak, Laksmid mengendalikan Mesopotamia sebelah selatan dan melayani bangsa Persia. Kedua kerajaan Arab itu banyak dipengaruhi oleh penguasa masing-masing yang menghabiskan dana amat besar untuk mempersenjatai pengikut mereka dalam menghadapi musuh. Namun pertikaian terus-menerus tersebut perlahan membuat keempat belah pihak kepayahan. Pada awal tahun 600-an, bangsa Romawi dan Persia kelelahan karena telah berperang selama berpuluh-puluh tahun dan melemah dibalik fasad kekuatan militernya. Kerajaan Ghassanid dan Laksmid juga merasakan tekanan akibat perang karena mereka sekadar pion dalam konflik berkelanjutan ini. Namun demikian, sebagian besar suku Arab menghindari konflik eksternal antara dua kekuatan kekaisaran tersebut. Mereka lebih tertarik untuk melanjutkan perdagangan menguntungkan dengan kedua pihak yang berperang, alih-alih membantu salah satunya untuk meraih kemenangan.

Di sebelah utara Semenanjung terdapat Kerajaan Aksum di Abisinia yang kini bernama Ethiopia. Terletak di pegunungan Abisinia yang tinggi, Aksum merupakan negara dagang kuat yang menghubungkan kerajaan-kerajaan Afrika pedalaman, rute laut Samudra Hindia, serta bagian selatan Semenanjung Arab. Karena berada di persimpangan jalur dagang, kerajaan tersebut memiliki pengaruh besar terhadap pedagang Arab, yang berhubungan dengan warga Aksum di Yaman. Seperti Roma, Aksum merupakan kekaisaran Kristen yang telah lama bersitegang dengan Persia pada berbagai kesempatan. Pengendalian rute perdagangan yang melalui Yaman merupakan sumber konstan pertikaian, karena kedua belah pihak berupaya menggamit pemimpin lokal menjadi pengikut masing-masing.

Dalam dunia yang semakin mengglobal pada awal tahun 600-an, masyarakat Arab menyadari posisi tetangganya dan terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa di luar Semenanjung Arab. Karena berada di persimpangan antara tiga negara adidaya, masyarakat Arab jadi menyadari politik internasional dan memiliki kemampuan untuk memanfaatkan rivalitas tersebut demi keuntungan mereka sendiri. Namun terlepas dari lokasi yang sulit, bangsa Arab tetap aman di kedalaman gurun pasir. Mereka menyebut Semenanjung tersebut sebagai Jaziratul Arab, yang berarti “Pulaunya orang-orang Arab karena penghuninya sangat terisolasi. Letak yang terisolasi ini terbukti sangat menguntungkan. Lingkungan yang keras mencegah negara-negara di sekitar menginvasi serta menduduki tanah Arab. Cara hidup dan siklus tradisional bangsa Arab untuk mengembara seringnya tidak terpengaruh oleh politik dan perang kawasan.

Dalam lingkungan yang tersembunyi ini, sebuah gerakan akan bangkit pada awal tahun 600-an dan membawa implikasi besar terhadap negara-negara di sekitarnya, dan pada akhirnya terhadap seluruh dunia. Gerakan tersebut akan mengubah takdir bangsa Arab selamanya, mengembangkan dan menggunakan kemampuan unik mereka serta menghapuskan ciri-ciri budaya negatif yang menjadikan mereka bangsa pengembara yang gemar berperang. Faktor geografis, iklim, budaya, sekaligus politik mengarah pada terciptanya lingkungan sempurna tempat Islam mampu bangkit menjadi sebuah kekuatan dunia lebih cepat daripada gerakan, agama, atau kekaisaran apapun di dalam sejarah dunia. Gerakan tersebut akan menyebar keluar dari padang pasir Arabia ke Kekaisaran Romawi serta Persia yang babak belur, menaklukkan berbagai wilayah dan mengasimilasi beragam suku bangsa, menciptakan sebuah kerajaan yang membentang dari Spanyol hingga India pada awal tahun 700-an −kerajaan terbesar di dunia pada saat itu. Pertumbuhan eksponensial dalam kekuasaan dan peradaban ini bukanlah sesuatu yang dapat dibayangkan oleh bangsa Arab dari awal tahun 600-an, yang sibuk berjuang untuk bertahan hidup. Semua itu bermula dari kedatangan seorang lelaki yang membawa pesan ke revolusioner serta janji akan takdir yang baru bagi orang-orang Arab, takdir di luar gurun gurun Arab: Muhammad.

Oleh: Firas Alkhateeb

Mohon Maaf

Mohon maaf.
Per-tanggal 8 Desember 2018, artikel tentang resensi buku kami alihkan ke
https://warung-arsip.blogspot.com

Terima kasih atas kunjungannya.

Senin, 03 Desember 2018

Resensi: 1948-1949; Dari Atas Tandu Pak Dirman Memimpin Perang Rakyat Semesta (Gerilya)

#ReadingChallenge #Week11 kali ini, saya sempatkan baca buku satu ini sebagai sebentuk ‘iklan sejenak’ dari buku yang ketebalannya butuh waktu agak panjang untuk dibaca yang insya Alloh akan di publish suatu hari.

Pemilihan judul ini bukan asal-asalan. Meski temanya kurang ‘seru’, tetapi ada pesan kuat yang sengaja saya pilih menyikapi situasi saat ini:
“Pelihara TNI! Pelihara angkatan perang kita! Jangan sampai TNI dikuasai oleh partai politik manapun juga! Ingatlah, bahwa prajurit kita bukan prajurit sewaan. Bukan prajurit yang mudah dibelokkan haluannya. Kita masuk dalam tentara karena keinsyafan jiwa dan sedia berkorban bagi bangsa dan negara.”
–Panglima Besar Jenderal Soedirman–

Pada Pendahuluan buku ini, Penulis berusaha memberikan gambaran sejarah yang melatarbelakangi perjuangan 1 tahun Pak Dirman, yaitu ketergabungan beliau dalam PETA bentukan Jepang hingga pengambilalihan komando perang bentukan Jepang wilayah Banyumas dan sekitarnya seketika saat Proklamasi diikrarkan. Menjelaskan pula secara singkat sifat dan perawakan tubuhnya.

Pada pembahasan awal, diberikan judul “Sudirman Strateeg yang Ulung”, di mana mengisahkan beberapa kejadian darurat yang sudah dapat dibaca proyeksinya oleh Sudirman. Sehingga memang jauh-jauh hari, angkatan perang sudah dilatih dan dipersiapkan untuk menghadapi kondisi yang cepat berubah, meskipun para politisi berbeda cara membaca situasinya. Dan nyaris semua prediksi itu terbukti. Hanya orang yang mahir dalam strategi peranglah yang mampu membaca situasi.

“Saya akan meninggalkan Yogya, kalau bom pertama sudah meledak,” (hal. 14) kukuh Sudirman ketika diminta beristirahat total di lereng gunung yang tenteram sebakda operasi TBC-nya yang menyisakan satu paru-paru lagi.
PERINTAH KILAT No. I/P.B/D/1948
(1) Kita telah diserang. (2) Pada tanggal 19 Desember 1948 Angkatan Perang Belanda menyerang kota Yogyakarta dan lapangan terbang Maguwo. (3) Pemerintah Belanda telah membatalkan persetujuan Gencatan Senjata. (4) Semua Angkatan Perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk menghadapi serangan Belanda. | Dikeluarkan di tempat. | Tanggal 19 Desember 1948 | Jam 08.00 | Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia, Letnan Jenderal Sudirman

Instruksi pertama selaku Panglima Angkatan Perang tersebut (hal. 23) mengisi pembahasan kedua buku ini yang diberi judul “Tidak Bersedia Menyerah”. Dan dari sanalah gerilya itu bermula.

Jika membaca peta dari alur gerilya Pak Dirman, sungguh luar biasa: Yogyakarta–Bantul–Parangtritis–Wonosari–Pracimantoro–Wonogiri–Ponorogo–Trenggalek–Tulungagung–Kediri–Gedangklutuk–Wayang–Sawo–Trenggalek–Pringapus–Baturetno–Karangmojo–Prambanan–Yogyakarta. (hal. 29)

Selepas dari Ponorogo, Pak Dirman dan pasukan terkepung dalam hutan rotan. Tak ada celah untuk lepas. Hingga Alloh berikan hujan besar berpetir yang merupakan jalan pertolongan Alloh untuk Pak Dirman meloloskan diri dari kepungan Belanda.

Perjalanan gerilya ini tak lepas dari infiltrasi. Di Karangnongko –sebakda dari Kediri, intuisi Pak Dirman akan adanya orang dalam yang membocorkan keberadaan beliau ke Belanda terbukti dengan siasat pengalihan.

Setelah dari Kediri, beliau lanjutkan ke gunung Wilis dan masuk Pacitan. Di daerah Sobo, Pak Dirman sempat bermarkas sejenak dengan semua kelengkapan administrasinya. Kemudian berlanjut ke Pracimantoro dan masuk ke Yogyakarta. Di sanalah Pak Dirman menerapkan strategi “bajing loncat” dengan memanfaatkan garis batas demarkasi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Hingga kemudian memutuskan berpindah dan bermarkas di Kulon Progo. Sampai Belanda menarik pasukannya meninggalkan Yogyakarta, Markas Besar Komando Djawa (MBKD) ini tak terdeteksi oleh Belanda.

Secara kronologis, peta perjalanan Pak Dirman seperti berikut:
18 Des. 1948: Jenderal Sudirman dalam keadaan sakit, memegang kendali pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia.
19 Des. 1948: Yogyakarta diserang Belanda. Dimulailah gerilya.
20 Des. 1948: dari desa Grogol ke desa Panggang berlanjut ke desa Palihan.
21 Des. 1948: dari Palihan menuju Playen.
22 Des. 1948: dari Semanu ke desa Pracimantoro.
23 Des. 1948: meninggalkan Wonogiri pukul 6.
24 Des. 1948: dari Kediri ke desa Sukorame.
25 Des. 1948: pindah ke desa Karangnongko.
26 Des. 1948: menuju Gunung Wilis.
27 Des. 1948: di desa Giliman, lereng Gunung Wilis.
28 Des. 1948: ke desa Bajulan dan menginap sampai tanggal 6 Jan. 1949.
6 Jan. 1949: menuju desa Salamjudeg.
7 Jan. 1949: menuju desa Liman.
8 Jan. 1949: menuju desa Serang, puncak Gunung Wilis.
9 Jan. 1949: menuju desa Jambu.
10 Jan. 1949: pindah ke desa Wayang.
11 Jan. 1949: bertemu Menteri Supeno dan Susanto Tirtoprojo di desa Banyutowo.
12 Jan. 1949: menerima tamu di desa Banyutowo sampai 17 Jan. 1949.
17 Jan. 1949: menuju desa Sedayu.
18 Jan. 1949: Belanda menyerang Sedayu.
20 Jan. 1949: Belanda beroperasi di Sedayu.
21 Jan. 1949: Pak Dirman terkepung Belanda di hutan rotan.
22 Jan. 1949: melakukan barter pakaian untuk dapat makanan ke warga desa, sebab Pak Dirman tidak makan selama 5 hari.
23 Jan. 1949: berada di desa Jambu.
24 Jan. 1949: menuju desa Warungbung.
25 Jan. 1949: tiba di desa Gunung Tukul dan berlanjut ke desa Ngendong.
27 Jan. 1949: menuju desa Sawo, berlanjut ke desa Tumpakpelem.
29 Jan. 1949: pindah ke desa Suruhwetan.
30 Jan. 1949: menuju desa Dongko.
31 Jan. 1949: di desa Panggul berlanjut ke desa Badak.
4 Feb. 1949: menuju desa Nogosari (Pacitan).
7 Feb. 1949: menuju desa Pringapus.
15 Feb. 1949: ke desa Gebyur.
18 Feb. 1949: ke desa Sobo, dan tinggal selama sebulan.
17 Mar. 1949: menuju desa Nawangan (Solo) sampai desa Ngambarsari.
21 Mar. 1949: berpindah-pindah tempat selama 10 hari.
31 Mar. 1949: di desa Sobo (Pakis).
1 Apr. 1949: bermarkas di Sobo.

Mengenai sakitnya Pak Dirman, para dokter sepakat menutup info tersebut, bahkan kepada Pak Dirman. Hanya pesan-pesan yang harus dipatuhi Pak Dirman yang keluar dari para dokter. Tetapi pada kondisi yang menghajatkan untuk keamanan negara, Pak Dirman terpaksa tidak mematuhi saran dokter.
“Kalau di jaman damai, saya akan menuruti saja segala nasehat dokter. Tetapi kalau seperti sekarang, jaman perang, diharap maaf saja, kalau saya terpaksa menyalahi nasehat dokter, bahkan sering tidak mengindahkannya.”

Rekomendasi dokter agar Pak Dirman istirahat total, bahkan disarankan tinggal di lereng gunung yang sejuk dan sepi. Tetapi beliau tolak. Tiga bulan beliau berbaring istirahat dengan tetap memonitor situasi keamanan Yogyakarta. Saat bom pertama meledak di Maguwo, beliau bahkan bisa bangkit dari ranjang yang mengagetkan seluruh tim dokter; menyiapkan diri tetapi dengan piyamanya kemudian bermantel tebal warna hijau, memakai ikat kepala hitam, berselop, bertongkat, dan menyelipkan keris. Itulah pakaian kebesaran seorang Panglima Besar.

Dengan satu paru-paru, beliau pimpin perang gerilya selama 7 bulan melintasi lereng-lembah, gunung-sawah, kampung-hutan, panas-hujan, lima hari tak bertemu makanan layaknya di meja makan... Prediksi dokter, Pak Dirman tak akan bertahan lebih dari 3 bulan dengan sakitnya. Semangat pantang menyerah demi negara dan ketawakalan beliau kepada Alloh-lah yang membuktikan bahwa 7 bulan dapat beliau lewati dengan tanpa gangguan kesehatan yang dikhawatiri para dokter.

Kepedulian orang-orang dekat Pak Dirman juga datang dari Kolonel Gatot Subroto melalui surat:
“...tidak asing bagi saya, tentu saya juga mempunyai pendirian begitu. Semua-semuanya Tuhan yang menentukan, tetapi sebagai manusia diharuskan ikhtiar. Begitu dengan keadaan adikku. Karena kesehatannya terganggu, harus ikhtiar. Mengaso. Sungguh-sungguh jangan menggalih (Jawa= melakukan pekerjaan) apa-apa. Laat alles waaien.

Ini bukan supaya jangan mati konyol. Tetapi supaya cita-cita adik tercapai. Meskipun buah-buahnya kita tidak turut memetik, melihat pohonnya subur, kita merasa gembira dan mengucapkan banyak terima kasih pada Tuhan yang Maha Kuasa. Ini kali saya selaku Saudara tua dari adik, minta ditaati...” (hal. 82)

Ada hal yang patut kita ambil pelajaran dari pola hidup Pak Dirman:
...betapa inginnya merasakan rokok menyan kegemarannya, tetapi dilarang dokter. Akhirnya beliau berkata, “Mas dokter, coba isap rokok menyan itu. Saya hanya ingin menghirup baunya saja!” (hal. 87)

“Suatu ketika, Pak Dirman –walau dalam keadaan sakit– sempat menulis surat untuk Presiden guna memohon kenangan sebuah pipa (rokok) yang terbuat dari siung ikan duyung... Sang rokok yang sudah lama terpaksa ditinggalkan.” (hal. 88)

29 Januari 1950 selepas maghrib, Sang Jenderal Besar itupun menghadap Alloh. Ia tak meninggalkan apa-apa. Hanya pesan perjuangan yang terus berkumandang. Mirip. Mirip jalan hidup Nabi Muhammad saw.

Penulis: N.S.S. Tarjo
Cetakan: X, tahun 1984
Tebal: vii+144 hal.
Dimensi: 14,5x20,5 cm
Penerbit: Yayasan Wiratama 45 Yogyakarta
Foto: koleksi pribadi saat berkunjung di rumah Pak Dirman di Purbalingga.