Jumat, 18 Maret 2016

Thifan Pokhan; Kung Fu Muslim Usia 10 Abad

Percaya pada Nabi dan Rosul serta hari kiamat merupakan rukun iman, karenanya kita sebagai muslim wajib mempercayainya. Pada suatu ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah dengan suara yang begitu keras dan terlihat seperti sedang meneriaki sebuah pasukan. Lalu Rosululloh bersabda:

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ
“Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat bagaikan dua jari ini.”
[Kemudian beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuk]
(HR. Muslim no. 7597)

Sudah kewajiban kita sebagai umat muslim untuk percaya bahwa kiamat sudah semakin dekat. Tanda-tanda kecil kiamat seperti maraknya perzinahan, fitnah, dan bahkan percintaan sesama jenis.

Tanda-tanda kiamat besar salah satunya adalah turunnya Imam Mahdi yang menandakan dimulainya perang akhir zaman. Ketika Imam Mahdi muncul, setiap orang yang beriman harus berbaiat padanya, lalu Imam Mahdi menyerukan jihad kepada seluruh muslim. Pada saat itu seluruh muslim wajib berjihad sesuai dengan kemampuan masing-masing, yang menolak akan menjadi kafir.

Salah satu bentuk persiapan yang wajib dilakukan seorang muslim adalah dengan ber-i’dad seperti yang disebutkan dalam ayat berikut:

Alloh berfirman,
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ
Persiapkanlah untuk menghadapi mereka, segala kekuatan yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Alloh dan musuhmu (QS. al-Anfal: 60)

Dari Abu Huroiroh bahwa Rosululloh SAW bersabda: “Barangsiapa mati, sedang ia tidak pernah berjihad dan tidak mempunyai keinginan untuk jihad, ia mati dalam satu cabang kemunafikan.” Muttafaq ‘Alaihi.

Dari Anas bahwa Nabi SAW bersabda: “Berjihadlah melawan kaum musyrikin dengan hartamu, jiwamu, dan lidahmu.” Riwayat Ahmad dan Nasa’i. Hadits shohih menurut Hakim.

Bentuk dari persiapan berperang adalah dengan melatih fisik agar menjadi kuat, salah satunya adalah dengan belajar beladiri. Beladiri yang dipelajari haruslah sesuai dengan syari’at. Dikutip dari perkataan Ustadz Ammi Nur Baits (dewan pembina Konsultasisyariah.com), beladiri yang sesuai syariat haruslah:

Beladiri hanyalah sebagai olah raga dan permainan. Jangan jadikan beladiri sebagai sebab membenci seseorang hanya karena berbeda aliran. Ini sesuai dengan sabda Rosululloh:
Dari Jundub bin ‘Abdillah al-Bajali rodhiyallohu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ
“Siapa yang terbunuh karena latar belakang yang tidak jelas, menghidupkan semangat kesukuan atau membela kelompok, maka dia mati dalam kondisi jahiliyah.” (HR. Muslim 1850).

Ini tentu berbeda dengan realita yang ada di masyarakat, dimana permusuhan atau benci bisa muncul hanya karena berbeda golongan walaupun mereka sesama muslim. Sementara yang diajarkan dalam Islam adalah loyalitas dan persatuan atas iman dan takwa.

Alloh berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu.” (QS. al-Hujurot: 10)

Menyikapi perbedaan aliran dalam beladiri antar sesama muslim haruslah disikapi dengan sikap positif, sikap saling mendukung jika memang tujuannya adalah ridho Alloh semata, bukan malah saling berselisih.

Hindari semua yang berbau kesyirikan atau mempersekutukan Alloh. Banyak ditemukan di masyarakat beladiri yang menggunakan pernapasan ditambah dengan amalan-amalan tertentu. Amalan-amalan tersebut umumnya bertujuan untuk membuat sakti. Kesaktian yang didapatkan bisa berupa tubuh kebal pukul, menjatuhkan lawan dari jauh, bertarung dengan mata tertutup dan sejenisnya. Dikatakan syirik adalah dengan menggunakan kaidah: “mengambil sebab yang bukan sebab, itu kesyirikan.”

Maksudnya adalah ketika ingin mendapatkan sesuatu namun cara yang digunakan tidak logis, misal ingin tahan pukul lalu melakukan ibadah tertentu sebagai syarat untuk mendapatkannya. Seperti yang biasa terjadi pada beladiri di masyarakat, contohnya adalah:

Menggunakan jimat. Kalau dalam sebuah perguruan dikatakan jika sudah mencapai tingkatan tertentu maka akan mendapatkan jimat, baik berupa cincin, sabuk, gelang, kalung atau apapun bendanya, sebaiknya Anda menghindarinya. Apalagi jika cara untuk mendapatkan benda-benda tersebut harus melalui amalan-amalan tertentu seperti wirid, puasa, semedi di kuburan atau tempat keramat, bahkan hingga sholat tahajud di malam Jum’at. Walaupun dibungkus dengan ibadah, pada hakikatnya ritual itu bertujuan untuk mendatangkan jin yang akan membantunya. Menawarkan ilmu kanuragan. Apapun metode ataupun cara yang digunakan untuk mendapatkan ilmu kanuragan adalah termasuk dalam kategori sihir. Meskipun menggunakan cara-cara seperti wirid, dzikir, amalan, suluk, dan yang lainnya. Karena yang demikian merupakan ibadah dalam rangka pemujaan terhadap jin atau setan.

Latihan pernapasan dengan ditambah dzikir atau wirid tertentu. Dengan tujuan yang tidak masuk akal, seperti dapat memukul lawan dari jauh maupun bisa kebal pukulan atau senjata. Dibilang tidak masuk akal karena memang diluar kemampuan manusia. Struktur pembentuk kulit manusia tidak mampu menahan tajamnya senjata kecuali jika memiliki kulit bersisik seperti buaya.

Mendapatkan kemampuan telepati antara guru dan murid. Bisa terhubung jalinan batin yang kuat, seperti dengan menyebut nama guru atau mengingat wajah guru dapat menjadi sumber kekuatan.

Prinsip beladiri adalah olahraga murni dengan latihan fisik, jauhkan semua bentuk ibadah, suluk, amalan dan ideologi.

Hindari bentuk salam yang dilarang, misalnya dengan membungkuk seperti orang rukuk, baik kepada guru maupun kepada teman seperguruan. Rosululloh bersabda:
Syaikhul Islam mengatakan,
وأما الإنحناء عند التحية: فينهى عنه، كما في الترمذي عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أنهم سألوه عن الرجل يلقى أخاه ينحني له؟ قال : لا) ولأن الركوع والسجود لا يجوز فعله إلا لله عزوجل
“Membungkuk ketika memberi salam hukumnya terlarang.” Sebagaimana diriwayatkan Turmudzi dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, bahwa para sahabat bertanya, jika ada orang yang ketemu temannya, bolehkah dia membungkuk? Jawab Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, ‘Tidak boleh.’ Karena rukuk dan sujud tidak boleh dilakukan kecuali untuk Alloh. (Majmu’ Fatawa, 1/377)

Tentunya beberapa beladiri mengajarkan untuk rukuk maupun sujud, sebaiknya hindari gerakan-gerakan seperti itu.

Jangan sombong, jangan sampai kemampuan Anda membuat hati menjadi sombong. Bisa jadi setan memanfaatkan kondisi Anda untuk menjadikan ada seorang yang zholim.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَكُونُوا عَوْناً لِلشَّيْطَانِ عَلَى أَخِيكُمْ
“Janganlah kalian menjadi penolong bagi setan untuk menzholimi saudara kalian.” (HR. Ahmad 4252 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Karenanya Anda harus memiliki kepandaian dalam menjaga emosi, terlebih ketika Anda sudah ahli dalam beladiri.

Saya rasa Anda pasti manggut-manggut mendengar penjelasan di atas. Itu wajar saja, karena hal tersebut jamak ditemui di sekitar kita. Karena beladiri tidak hanya menanamkan kemampuan fisik dan mental, namun juga menanamkan ideologi.

Itulah mengapa sebaiknya Anda berlatih beladiri yang sesuai dengan syariat Islam, karena ideologi yang ditanamkan adalah murni untuk mencari ridho dari Alloh subhanahu wa ta‘ala. Ideologi ini dapat menghindarkan Anda dari rasa sombong atau rasa ingin mencari yang terkuat, karena sebaiknya sesama muslim berlomba-lomba dalam kebaikan ( فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ).

.:: Mengenal Thifan Po Khan, Kung fu Muslim yang Berumur Lebih dari 10 Abad

Thifan Po Khan (kepalan tangan bangsawan) adalah beladiri yang dikembangkan oleh suku-suku muslim di dataran Cina. Singkatnya, Thifan Po Khan merupakan Kung Fu muslim yang dikhususkan untuk kalangan bangsawan.

Ada beberapa macam sejarah yang penulis temukan mengenai asal-usul dari Thifan. Diantaranya:

Sejarah Versi 1:
Thifan Po Khan merupakan perpaduan dari berbagai macam beladiri dari suku-suku muslim di dataran saldsyuk (seljuk) Cina. Pada saat Islam mulai menyebar ke kawasan Asia Selatan, Asia Timur dan Asia Tenggara, kaum muslimin di daerah ini mempelajari beladiri masyarakat setempat.

Pada waktu itu, seorang bangsawan dari suku Tayli yang bernama Je’nan menghimpun berbagai macam ilmu beladiri yang tersebar dari taran Saldsyuk sampai dataran Cina. Bersamaan dengan para pendekar muslim lainnya yang memiliki berbagai keahlian beladiri seperti gulat Mogul, Tatar, Saldsyuk, silat Kittan, Tayli, lalu mereka membentuk sebuah aliran baru yang bernama Shurul Khan.

Dari beladiri bernama Shurul Khan ini lalu terbentuk lagi berbagai aliran seperti: Naimanka, Kraiddsyu, Suyi, Syirugrul, Namsuit, Bahroiy, Tae Fatan, Orluq, dan Payuq. Ke-9 aliran tersebut lalu diteliti dan diolah sehingga akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya Thifan Po Khan.

Sejarah Versi 2:
Thifan adalah nama dari salah satu daerah jajahan Cina yang terletak di Negeri Turkistan Timur, daerah ini kemudian diganti namanya menjadi Sin Kiang yang berarti Negeri Baru (Turkistan: Negeri Islam yang Hilang, DR. Najib Kalilany).

Namun jika dilihat pada peta dunia, yang akan ditemukan adalah nama Turfan, yaitu daerah otonomi wilaya Cina Utara.

Wilayah Turkistan Barat dijajah oleh Rusia dan akhirnya menjadi bagian dari Uni Soviet. Sebelum Islam sampai ke tempat ini, daerah ini memiliki beberapa suku asli seperti: Tayli, Kimak, Doghan, Oirat, Kitan, Mongol, Naiman, dan Kati.

Suku-suku tersebut memiliki ilmu beladiri purba berbentuk gumulan, sepak tinju, kagrul (permainan senjata) dan dipadukan dengan kampa (pengaturan napas).

.:: Thifan Masuk ke Indonesia
Sekitar abad ke-16, Raja dari Kerajaan Aceh yang bernama Sultan Malik Muzafar Syah mendatangkan para pelatih Thifan asal Turki Timur untuk melatih para bangsawan di Sumatera. Sejak saat itulah nama Thifan mulai dikenal di Indonesia.

Ini mungkin karena pada saat itu Aceh merupakan salah satu persemakmuran dari ke khalifahan islam yaitu Turki Utsmani/Ottoman, karenanya Aceh dikirimkan para pendekar dari Turki.

Lalu pada abad ke-18, Tuanku Rao dan kawan-kawannya menyebarkan beladiri Thifan ke daerah Tapanuli Selatan, Minang dan akhirnya ke Sumatera bagian timur sampai dengan Riau yang berpusat di Batang Uyun/Merbau. Thifan juga sampai ke daerah Betawi dan sekitarnya berkat Tuanku Haji atau Hang Udin.

Thifan mulai masuk ke pulau Jawa dari para pedagang asal Tartar. Sambil menjual kain, mereka juga sekaligus memperkenalkan Thifan pada masyarakat setempat. Sedangkan di luar Jawa, Thifan disebarkan oleh pendekar yang berpetualang bahkan sampai ke Malaysia dan Thailand Selatan.

.:: Metode Latihan Thifan Po Khan

Pada awalnya, beladiri Thifan Po Khan ini hanya untuk kalangan bangsawan (khan) dan paham agama. Konon katanya, harus mempunyai hafalan Qur’an dan Hadist dalam jumlah tertentu barulah bisa berlatih Thifan.

Thifan terdiri dari 12 tingkatan, 6 tingkatan dasar dan 6 tingkatan selanjutnya disebut tingkatan pendekar dengan metode latihan selama 4-6 jam perhari pada waktu pagi dan sore. Tempat latihannya di pesantren. Jadi, tidak hanya melatih fisik namun juga belajar ilmu agama dan lainnya. Ini mirip seperti para biksu Shaolin yang berlatih kung fu sambil belajar agama Buddha di kuil. Di lanah (tempat latihan) tersedia hampir semua jenis senjata dalam thifan yang berjumlah sekitar 12 jenis.

Metode latihannya cukup berat, mulai dari sparring di tepi tebing, tepi laut, atas tonggak, lalu berjalan jauh sejauh 100 mil, membaca jejak bahkan sampai memanjat tebing. Karena para tamid (murid) berasal dari kalangan bangsawan, maka sehabis latihan yang berat mereka bisa potong kambing alias makan makanan bergizi. Biasanya lulusan dari Thifan akan menjadi panglima perang atau laksamana.

Tentunya para tamid juga belajar kitab strategi perang Shenzo setebal 16 jilid yang berisi tentang strategi pengaturan pasukan dll. Senjata yang digunakan dalam kitab Shenzo baru sampai meriam peledak.

Konon katanya, seorang guru Thifan pada saat itu adalah seseorang yang sudah pernah memenangkan setidaknya 1000 pertempuran.

.:: Perkembangan Thifan Zaman Sekarang

Ust. AD Marsedek adalah orang yang mengenalkan Thifan Po Khan untuk masa modern (sekarang) dan masih keturunan asli Tartar (nama Marsedek sendiri berarti Umar Sidik dalam dialek Urwun). Khususnya di Jawa Barat. Beliau merupakan guru besar dari Thifan Po Khan di Indonesia.

Pada jaman Orla (Order lama atau masa presiden Soekarno) ketika PKI sedang berjaya, banyak santri maupun ustadz menjadi incaran para komunis. Kejadian ini mirip dengan kejadian revolusi budaya Cina pada zaman Mao Tse Tung. Untuk menghadapinya, banyak dari santri dan ustadz di daerah Jawa Barat yang mempelajari Thifan Po Khan.

Selain ancaman dari PKI, pada saat itu juga bermunculan aliran beladiri dari luar yang tidak sesuai dengan syariat keislaman. Melihat itu, ust. Marsedek mendirikan Thifan Po Khan sebagai pilihan bagi para muslim yang ingin belajar beladiri Islami.

Pada awalnya, latihan Thifan dilakukan pada malam hari (mengikuti metode asalnya). Ini dilakukan agar jurus tidak dicuri oleh lawan.

Ketika masuk zaman Order Baru (masa presiden Soeharto), PKI sudah diberantas sehingga umat muslim tidak lagi dalam ancaman, sehingga semangat berlatih yang tadinya membara mulai padam. Juga karena rezim Orde Baru agak alergi dengan sesuatu yang berbau Islam, termasuk beladiri muslim.

.:: Metode Latihan Thifan Zaman Sekarang

Pada zaman ust. Marsedek, latihan thifan cukup keras. Terkadang tahun pertama belum belajar jurus, masih latihan fisik. Metodenya masih metode lama, yaitu metode 12 tingkat dengan porsi latihan seminggu sekali selama 4 jam. Thifan yang masih menggunakan metode ini adalah thifan yang memakai seragam biru atau putih telur asin.

Pada sekitar tahun 90-an, kepemimpinan Thifan jatuh ke tangan murid terbaik ust. Marsedek, yaitu ust. Habib. Berbagai lanah Thifan dan Taesyukan kemudian berafiliasi kesini, lalu lahirlah Tsufuk yang menandakan Thifan asli dari ust. Marsedek. Ini juga untuk menandakan bahwa Tsufuk sebagai cabang tersendiri. Thifan Tsufuk memiliki seragam berwarna merah dengan strip hijau dengan lambang tulisan dan gambar tsufuk.

Lalu Ust. Habib mengubah metode latihan agar sesuai dengan zaman sekarang. Agar beladiri ini cocok dipelajari berbagai kalangan seperti para pekerja, mahasiswa maupun orang yang memiliki aktivitas lainnya.

Fokus latihan pada Thifan Tsufuk ini berfokus pada pengolahan jurus/teknik. Lama latihan menjadi 2 jam namun bisa seminggu 2 kali dan ditambah dengan PR di rumah. Latihan fisik dikurangi, push up dan scoach jump dihapus. Beberapa gerakan seperti lompat harimau dan salto tidak dianjurkan untuk orang dewasa. Metode 12 tingkat diubah menjadi metode:
BAB 1: mempelajari pukulan dan langkah.
BAB 2: mempelajari tendangan dan kombinasi tendangan.
BAB 3: mempelajari pukulan lurus depan, tendangan, kombinasi tangan, dan kaki.
BAB 4: mempelajari tangan terbuka atau tangan kipas.
BAB 5: mempelajari patahan dan kuncian.
BAB 6: mempelajari teknik asahan serangan melayang.
BAB 7: mempelajari teknik asahan senjata.

Lalu sekitar tahun 2002, lahirlah tahapan tsenkay yang berjumlah 6 tingkat sebagai pendahuluan. Tsenkay berisi jurus-jurus dari bab 1 sampai akhir yang dirangkai menjadi sebuah gerakan. Gampangnya pada tahapan tsenkay, Anda akan belajar berjurus dengan cepat, lalu selanjutnya jurus Anda akan di asah pada tahapan bab, sehingga serangan menjadi lebih tajam.

Walaupun syarat untuk belajar Thifan sudah tidak harus bangsawan, namun ada syarat yang tetap tidak boleh dilanggar, yaitu harus beragama islam. Ini sesuai dengan petuah para Badur/Pendekar pada masa lalu yang berbunyi “Bahwa ilmu ini di wakafkan/diberikan cuma-cuma untuk umat Islam dan untuk membela Islam”.

.::Prinsip-prinsip dalam Thifan:
Tidak menyekutukan Alloh, tidak percaya pada takhayul, khurofat, dan tidak berbuat bid’ah dalam syaro.

Berusaha amar ma’ruf nahi munkar (mengajak berbuat kebajikan dan melarang berbuat kemungkaran).
Bertindak teliti dan tekun mencari ilmu.

Tidak menganut asas ashobiah (kesukuan, kelompok). Tidak menggunakan lambang-lambang, upacara-upacara, dan penghormatan-penghormatan yang menyalahi syaro.

.:: Urutan Latihan Thifan Tsufuk
» Pemanasan Umum (General Warming Up);
Senam sendi: leher, bahu, sikut, tangan, pinggang, pinggul, kaki atas, lutut, dan pergelangan kaki.
Senam jantung (aerobik): berlari di tempat dan lompat tali.
Dynamic stretching: tangan dan kaki.

» Latihan power (dengan senam pernafasan): pengerasan perut, dada, leher, kepalan tangan, jari, kaki, dan seluruh tubuh.

» Pemanasan Spesifik (Specific Warming Up)
Dalam tahapan ini, tamid melakukan teknik bela diri dengan perlahan, tidak boleh menggunakan tenaga yang besar karena badan belum sepenuhnya siap untuk menerima gerakan berat (full power). Pemanasan spesifik ini merupakan persiapan untuk masuk ke latihan utama.

» Latihan Utama (Main part of training)
Pada tahap ini dilakukan semua teknik bela diri sesuai dengan metodologi yang digunakan.

» Pendinginan (cooling down)
Pada tahap ini dilakukan relaksasi tangan dan kaki untuk menutup pelatihan yang telah dilakukan.

.:: Liputan stasiun televisi
Thifan sekarang sudah semakin terkenal, terbukti dari beberapa stasiun televisi yang datang untuk meliput.

Sudah Siapkah Anda untuk Bergabung?

Minggu, 06 Maret 2016

Perburuan Buku

Buku adalah satu hal yang mentenagai diri ini untuk mengabaikan hampir semua urusan ketika berdiri di depan berjilid-jilid dan beragam judulnya. Terlebih ketika pesta diskon merata di setiap stand seperti halnya Islamic Book Fair 2016.

Awalnya diri ini berniat untuk mengurungkan keinginan hadir di gelaran pesta buku murah tersebut, tersebab kondisi finansial "dalam negeri".

Tapi apa mau di kata ketika Kepala Sekolah berikan "pressure" dengan mengamanahi diri ini mencari dan membeli literatur bagi sekolah dengan dibiayai sekolah.

Akhirnya berangkat juga dengan memancangkan niat berburu 1 (satu) judul buku baru terbitan Pro-U Media yang merekam lawatan ustadz Salim A. Fillah ke beberapa kota di Eropa yang masih atau pernah menyisakan aroma dakwah para da'i di sana.

Bagi jiwa yang menahan diri dari godaan buku yang merayu, adalah sesuatu yang berat ketika dipaksakan menghadapinya.

Berbekal uang Rp.400.000,- sebagai pegangan, berangkatlah ke Islamic Book Fair 2016. Apa yang menjadi ketakutan di awal, terjadi! Satu buku yang dicari telah didapat. Yang menjadi pertahanan diri ini pecah berantakan adalah ketika "teman-teman" buku ini menggelitik untuk ikut masuk di keranjang belanja. Meski pertahanan "jebol", alhamdulillah tak sampai "terhuyung jatuh".

Apa yang menjadi target utama dan satu-satunya dalam puluhan kilometer perjalanan tersebut? Di sini coba saya paparkan sinopsisnya.

1. Rihlah Dakwah Salim A. Fillah; Melawat Berburu Hikmat
Perjalanan kita, ujungnya kelak adalah sebuah pengadilan. Maka mereka yang cerdas dalam langkah-langkahnya akan mempersedikit beban dan memperbanyak bekal, serta mengurangi para penggugat dan menambah pembela hingga berlipat. Adapun seisi bumi, sebagaimana tangan dan kaki, akan bersaksi nanti ketika mulut dikunci. Bepergian di muka bumi untuk memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan Alloh; diperintahkan-Nya pada kita agar ruh terisi niat-niat bakti, akal menginsyafi besarnya karunia, dan seluruh jagad tersengat semangat untuk menebar manfaat.

Sungguh, Nabi melarang kita memayahkan diri melaksanakan rihlah, kecuali tuk menuju Masjidil Harom, Masjid beliau di Madinah nan bercahaya, serta Masjidil Aqsho di Palestina. Yang terakhir ini bahkan difatwakan para 'ulama untuk ditunda sementara. Sebab, kiblat pertama sholat kaum Muslimin itu sedang dijajah Zionis. Namun, tentang safar untuk berilmu, berdakwah, dan jihad fi sabilillah, jelas bahwa ia pengecualian yang indah.

Inilah "Satriyo Piningit" yang menjadi incaran utama terbitan Pro-U Media, tetapi sekaligus menjadi "biang masalah" dengan "memaksa" diri ini melirik jilid yang satu tungku dan satu masakan dengan buku ini, yakni "Bergiat Dakwah Merajut Ukhuwah".

2. Bergiat Dakwah Merajut Ukhuwah
Buku ini adalah kompilasi "orkestra" seruan dakwah yang berkumpul di dalamnya Mohammad Fauzil Adhim, Salim A. Fillah, Felix Siauw, Adian Husaini, Abdullah S. Hadrami, Fahmi Salim, Solikhin ZTH, Irfan S. Awwas, Shofwan Al Banna dll.

Dakwah merupakan sebaik-baik perkataan. Alloh ta'ala berfirman, Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Alloh, mengerjakan amal sholih, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim (yang berserah diri)?" (QS. Fushshilat [41]: 33). Dakwah juga merupakan warisan para rosul. Firman Alloh, Katakanlah (wahai Muhammad): "Inilah jalan (agama)ku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yusuf [12]: 108).

Dengan dakwah, kalimat Alloh tegak di muka bumi sejak rosul pertama hingga Hari Kiamat. Dengan dakwah, kebenaran tersebar, kebaikan tersiar, dan keindahan terpancar. Kasih sayang Alloh melimpah ruah karenanya. Bergiat-giat dalam dakwah merupakan konsekuensi iman seorang mukmin sejati.

Mukmin sejati dengan keimanan yang terpatri juga akan menghasilkan buahnya yang ranum dan lezat, yaitu ukhuwah. Alloh 'azza wa jalla berfirman, Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada Alloh supaya kamu mendapat rahmat." (QS. Al Hujurot [49]: 10)

3. Prophetic Parenting
Masih di stand yang sama, mata ini mulai naksir satu buku tentang cara mendidik anak cara Nabi saw karya DR. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid; terbitan Pro-U Media.

Berdasarkan kajiannya terhadap Siroh Nabawiyah dan as-Sunnah, Penulis mengungkapkan bahwa pendidikan bagi anak bermula dari ketika orangtua menikah. Kemudian hubungan kedua orangtua, kesholihan mereka, dan kesepakatan mereka dalam melakukan kebajikan, memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam membentuk sisi psikis dan kecenderungan bagi sang anak.

Dalam buku ini Penulis mengetengahkan pentingnya pertumbuhan anak digendongan ibunya, keluarganya, dan lingkungannya serta hubungan kekerabatan dengan kedua orangtua dan karib-kerabatnya. Juga tentang pentingnya menjaga nilai-nilai Islami dalam masa pertumbuhannya dan membiasakannya untuk selalu berpikir.

Penulis juga menekankan tentang pentingnya memakai berbagai media dan alat peraga yang sesuai dengan usia anak. Itu semua beliau simpulkan dari metode pendidikan Islam, hadits-hadits Nabi saw dan pernyataan para pakar pendidikan Islam.

4. Lost Islamic History
Beralih ke stand Zahira untuk memenuhi pesanan sekolah menambah koleksi perpustakaan, tanpa sengaja melihat buku yang pernah menjadi selipan obsesi setelah mengetahui ketika ustadz Salim A. Fillah mendapat hadiah buku ini dengan konten bahasa Inggris. Segera saja masukkan buku ini -yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia- ke dalam keranjang belanja.

Buku tulisan Firas Alkhateeb -seorang peneliti dan sejarawan dari Universitas Illinois Chicago- dengan mendapat Pengantar dari Ahmad Suryanegara -penulis Api Sejarah 1 dan 2- ini mengupas bangun-runtuhnya peradaban Islam.

Salah satu testimonial atas kualitas isi buku ini hadir dari Zilzarlife.com,
"Jika Anda mencari sebuah buku yang dapat membantu Anda menemukan besarnya kontribusi Islam terhadap manusia yang hampir sulit dipercaya, tetapi sangat nyata yang terinspirasi dari kepercayaan sejati dari kekuatan iman, maka buku ini adalah kandidat terbaik. Sejarah Islam tidak hilang, tetapi layak 'dihidupkan kembali' untuk memotivasi babak baru dalam sejarah berikutnya."

5. Protocol of Zion
Sekilas melirik ke tumpukan buku meja sebelah stand Zahira, saya ambil satu buku berjudul Protocol of Zion. Sebuah judul yang me-recall ingatan saya akan kolesi di rumah dengan judul "We are Wolves" terbitan Pustaka Nauka. Buku yang berbasis manuskrip berbahasa Rusia tulisan Sergyei A. Nilus dan diterjemahkan dalam edisi bahasa Inggris oleh Victor E. Marsden ini menjadi buku terlaris di antara buku-buku konspirasi yang diterbitkan abad ini. Telah diterjemahkan ke banyak bahasa sejak kali pertama kemunculannya di masyarakat pada tahun 1919 dan telah terjual lebih dari satu juta eksemplar dalam edisi bahasa Inggris saja. Buku luar biasa ini kini memiliki peminat yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.

Tahun demi tahun yang dilaluinya menunjukkan bahwa setiap peristiwa besar dunia mengikuti alur yang telah digariskan oleh para penulis rahasia buku ini. Peperangan, kemerosotan moral, revolusi, kenaikan biaya hidup, dan kerusuhan kronis, semuanya telah diramalkan pada tujuan utama yang tak lain adalah Penaklukan Dunia melalui "cara ilegal", yaitu New World Order. Penulis percaya bahwa penaklukan yang telah diramalkan dalam rencana mengerikan ini telah mendekati tahap akhir!

"Blueprint licik ini memaparkan rencana rahasia yang telah mengakibatkan lebih dari 300.000.000 kematian dan ketakutan selama beberapa abad terakhir." -Texe Marrs; penulis Codex Magica.

6. Codex Magica
Ternyata di samping tumpukan berjilid buku Protocol of Zion, bertumpuk juga buku konspirasi, Codex Magica. Sebuah buku tulisan Texe Marrs -penulis The Hidden Inner Circle of The Global Illuminati Conspiracy- yang mengupas tanda-tanda rahasia, simbol misterius, dan kode-kode tersebunyi Illuminati, baik yang sudah akrab di sekitar kita mau pun berkelas internasional.

Buku ini dilengkapi foto-foto maupun ilustrasi aktual tentang ragam simbol dari jejaring rencana kerja Illuminati -yang simbol dan ritualnya senantiasa akrab dengan simbol-simbol penyembah setan.

7. 50 Pendakwah Pengubah Sejarah
Berpindah ke lapak Pro-U Media untuk menghabiskan budget, saya menemukan satu judul yang menumpuk di belakang meja stand. Judul yang pernah terselip dalam obsesi saya untuk melengkapi koleksi sejarah -menemani "Sejarah  Peradaban Islam" karya DR. Badri Yatim, MA, "Api Sejarah" 1 dan 2 karya Ahmad Suryanegara, dan "Lost Islamic History" karya Firas Alkhateeb, yakni "50 Pendakwah Pengubah Sejarah". Sebenarnya masih ada satu buku lawas yang sedang saya cari, yakni "Kronik Peralihan Nusantara; Liga Raja-raja."

Buku tulisan M. Anwar Djaelani ini sangat kental dengan semangat dakwah para du'at-nya, seperti berikut.

"Jika kamu berhalangan untuk bertabligh, jangan permisi kepadaku. Tapi permisilah kepada Tuhan dengan mengemukakan alasanmu. Setelah itu, kamu (harus) bertanggung jawab atas perbuatanmu."

Novel-novel yang memperkaya perpustakaan:

Altar Suci; Miftahul Asror Malik; Diva.

Marajo; Amran S. N.; Diva.

Ayyub & Ulat-ulat yang Menggerogotinya; Muhammad Makhdlori; Diva.

Pedang Bao Zheng; Vanny Chrisma W.; Diva.

Dunia Semar; Ardian Kresna; Diva.

» Chiru'un Disciples of Luan; Tasfan; Diva.
» The Gank Black Anathema; Komikus Rif'an, Diva.
« Bleeding Survivor; Jacob Julian; Gaca.
» Blast Heart; Andi Tenri Ayumayasari; Matahari.
» Selalu Ada Kapal untuk Pulang; Randu Alamsyah; Diva.
» Yosh; Far Choinice; Pink!!!
» Kimchi, I Like It; Ratna Farida; deTeens.
» Notes of 1.000 Days in Taiwan; Ario Muhammad; Diva.
» The Dolphin Dreams; Panji Pratama dkk; deTeens.
» Musim Cinta; Robin Wijaya; Matahari.

VCD Harun Yahya (2nd master documents):

» Al Qur'an Petunjuk Hidup
» Belajar dari Alam
» Cinta dan Pengorbanan
» Deep Thinking
» Di Balik Tragedi Dua Perang Dunia
» Islam dan Peradaban Dunia
» Keajaiban Alam Sel
» Keajaiban Benih
» Keajaiban Sistem Gerak
» Keajaiban Sistem Pencernaan
» Keajaiban Warna
» Keruntuhan Teori Evolusi
» Ketulusan Cinta
» Komunisme
» Mencari Jejak Tuhan
» Misteri Kehidupan Satwa
» Nabi Muhammad SAW
» Penciptaan yang Sempurna
» Penyamaran
» Pesona Burung
» Petaka Akibat Darwinisme terhadap Kemanusiaan
» Prophet Yusuf as
» Rahasia Di Balik Materi
» Ritual Setan
» Signs of The Last Day
» The Miracle of Immune System

Kamis, 03 Maret 2016

Siapakah Qonthuro’ Itu?

“Akan ada segolongan kaum dari umatku yang menetap di sebuah daerah yang mereka namakan Bashroh, di sisi sebuah sungai yang disebut Dijlah (Dajlah), dan di atas sungai itu ada sebuah jembatan. Penduduk daerah itu akan bertambah banyak, dan ia akan menjadi salah satu negeri dari negeri-negeri orang-orang yang berhijrah. [Perowi Muhammad ibnu Yahya berkata: Abu Ma’mar meriwayatkan dengan mengatakan: negeri-negeri kaum muslimin].

Kelak di akhir zaman Bani Qonthuro’ yang berwajah lebar dan bermata sipit akan datang menyerbu, sehingga mereka mencapai tepian sungai Dajlah. Pada saat itulah penduduk daerah itu akan terpecah menjadi tiga kelompok. Satu kelompok mengikuti ekor sapi (menuntun binatang mereka) dan menyelamatkan diri ke pedalaman, Mereka akan binasa. Satu kelompok lainnya memilih menyelamatkan dirinya dengan jalan memilih kekafiran. Adapun kelompok terakhir menempatkan keluarganya di belakang punggung mereka dan bertempur melawan musuh. Mereka itulah orang-orang yang akan mati syahid,” (HR. Ahmad).

Dalam lafal yang lain diterangkan bahwa sisa-sisa kelompok umat Islam yang berperang ini akan mampu mengalahkan Bani Qonthuro’:

“Adapun satu kelompok yang terakhir menempatkan keluarganya di belakang punggung mereka dan mereka maju berperang menyongsong musuh. Orang-orang yang terbunuh di antara mereka adalah orang-orang yang mati syahid, dan Alloh akan melimpahkan kemenangan kepada mereka melalui orang-orang yang tersisa, (Lihat: An Nihayah fil Fitan Wal Malahim).

Inikah bani Qonthuro yang akan menggempur Bashroh?

Bashroh adalah sebuah kota yang dibangun oleh sahabat ‘Utbah bin Ghozwan pada masa penaklukkan Persia di zaman pemerintahan kholifah 'Umar bin Khoththob. Imam Syamsul Haq ‘Azhim Abadi mengutip penjelasan imam al-Asyrof bahwa yang dimaksud dengan Bashroh dalam hadits ini adalah Baghdad yang mendapat julukan negeri kedamaian (madinat al-salam). Alasannya, Dajlah adalah sebuah sungai, sementara jembatan Dajlah tersebut berada di tengah (atas) sungai Dajlah, bukan di tengah kota Bashroh sendiri.

Nabi menyebutkan daerah tersebut dengan nama Bashroh, mengingat di luar kota Baghdad —tepatnya di dekat pintu gerbang masuk kota Baghdad— terdapat sebuah tempat yang disebut Bab Bashroh, pintu gerbang Bashroh. Jadi, Nabi menunjuk kota Baghdad dengan menyebutkan satu bagian darinya. Beliau menyebut nama Bashroh, namun yang beliau maksudkan adalah Bab Bashroh, pintu gerbang Bashroh.

Pada masa Nabi, Baghdad belumlah berwujud seperti keadaannya hari ini. Bahkan nama Baghdad sendiri juga belum ada. Saat itu ia tak lebih dari sebuah daerah pedalaman dalam kekuasaan imperium Persia yang begitu luas. Oleh karenanya dalam hadits ini Rosululloh saw menyebutkan bahwa pada masa yang akan datang ia akan menjadi salah satu negeri kaum muslimin. “…dan ia akan menjadi salah satu negeri dari negeri-negeri kaum muhajirin (dalam riwayat Abu Ma’mar: negeri-negeri kaum muslimin).” demikian sabda beliau.

Siapa Sebenarnya Bani Qonthuro’?
Hadits di atas menjelaskan dua ciri fisik Bani Qonthuro’, yaitu wajah yang lebar dan mata yang sipit. Apabila dua sifat fisik ini dikaitkan dengan hadits-hadits shohih lainnya yang menjelaskan identitas bangsa yang mempunyai ciri-ciri fisik serupa, akan nampak jelas bahwa yang dimaksud dengan Bani Qonthuro’ dalam hadits ini adakah bangsa Turk. Hadits-hadits shohih yang menerangkan hal ini, antara lain adalah:

Dari Abu Huroiroh bahwasanya Rosululloh saw bersabda,

“Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum muslimin berperang melawan bangsa Turk, yaitu sebuah kaum yang wajah mereka bagaikan perisai yang berlapis, mereka memakai pakaian yang terbuat dari bulu, dan memakai alas kaki yang juga terbuat dari bulu.”

Hadits di atas menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan bani Qonthuro’ adalah bangsa Turk. Imam al-Bukhori sendiri menempatkan hadits shohih ini dalam bab “Qital al-Turk”, perang melawan bangsa Turk. Begitu pula Imam Ahmad, Abu Daud, Abu Bakr bin Syaibah, dan para ulama lain menempatkan hadits tentang Bani Qonthuro’ di atas dalam kumpulan hadits yang membahas perang umat Islam melawan bangsa Turk. Salah seorang perowi dalam riwayat Ahmad, yaitu al-‘Awwam bin Hausyab dengan tegas menyimpulkan hal ini.

Bangsa Turk yang dimaksudkan dalam hadits ini, wallohu a’lam bi-showab, tidak terbatas pada penduduk sebuah negera yang kini dikenal dengan nama internasional Republik Turki semata. Sekalipun Republik Turki hari ini adalah sebuah negara sekuler yang didirikan oleh Musthafa Kamal Al-Yahudi, namun mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin. Padahal hadits-hadits shohih di atas menyebutkan bahwa bangsa Turk yang memerangi kaum muslimin di akhir zaman adalah orang-orang kafir.

Dalam menjelaskan tentang pasukan yang akan menyertai Dajjal, al Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan bahwa “Menurut lahirnya -wallohu a’lam- yang dimaksud dengan Tark itu adalah pembantu-pembantu Dajjal.” Hal ini juga dikuatkan dengan riwayat lain dari Abu Huroiroh: “Tidaklah datang kiamat sehingga kamu memerangi bangsa Khouz dan Kirman dari orang-orang Ajam yang wajahnya merah, hidungnya pipih (pesek), ma­tanya sipit, wajahnya seperti tembaga, dan sepatunya beludru. Penjelasan di atas menyebutkan bahwa kelak bangsa Turk atau bani Qonthuro juga termasuk yang akan bergabung dengan pasukan Dajjal di akhir zaman. Ini semakin menguatkan bahwa Bani Qonthuro atau bangsa Turk bukanlah penduduk Turki hari ini yang mayoritas beragama Islam. Bila mereka termasuk pembantu setia Dajjal, maka kedekatan mereka dengan Yahudi secara ideologi dan kebangsaan juga semakin meyakinkan.

Bersambung

Rabu, 02 Maret 2016

Perintah Khitan dalam Taurot, Injil, dan Al Qur'an

Pendahuluan
Asal mula terjadinya perintah khitan (curcumcisio) terdapat dalam Taurot; Kejadian, 17: 11-14
"Haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu."

"Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang salah seorang asing, tapi tidak termasuk keturunanmu."

"Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjianKu itu menjadi perjanjian yang kekal."

"Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjianKu."

Dari Perjanjian Alloh ini kita menjadi tahu bahwa batas-batas hukumnya ialah:
1. Alloh memerintahkan adanya tanda perjanjian dalam tubuh fisik kita;
2. Yang diwajibkan berkhitan adalah anak laki-laki yang alat kelaminnya berkulup. (Tentang usia, rerata 8 hari. Sedangkan Isma'il putra nabi Ibrohim telah berusia 13 baru dikhitan, karena baru saja diturunkan perintah khitan itu);
3. Perjanjian khitan berlaku kekal;
4. Yang melanggar perjanjian ini dihukum penumpasan.

Dilihat dari hikmahnya, oleh sebab kulup itu menutupi jalan keluarnya kencing yang najis, maka khitan itu memudahkan penyuciannya. Sedangkan jika tetap berkulup, berpotensi menumpuknya kuman dan bakteri tersembunyi di dalamnya dan menyebarkan penyakit.

Segi Etnologi
Banyak kaum etnologi mengatakan bahwa khitan dari ajaran nabi Ibrohim as itu berasal dari pengaruh suku primitif di Afrika, Australia, Irian Jaya, dan Kalimantan menjalankan adat melukai kulit itu sesuai tujuan dan tradisi dari nenek moyang; ada yang berkaitan dengan batas kedewasaan atau lainnya.

Kalau perintah khitan sejak nabi Ibrohim itu dianggap sebagai penerus atau tiruan dari tradisi suku-suku sebelumnya di Babilon dan Assur di mana Ibrohim berkediaman sebelumnya, hal ini dibantah oleh Kaj Birket-Smith dalam bukunya, karena di sana tidak terdapat peninggalan tradisi tatuasi dan penyunatan.[1]

Maka Penulis berpendapat bahwa nabi Ibrohim as mendapat perintah khitan itu murni dari sabda Alloh langsung, bukan hasil tiruan. Apalagi mengingat perlu hilangnya kulup untuk memudahkan penyucian, karena seorang yang bertaqwa kepada Alloh harus suci jasmani dan suci rohani, dan selalu menjaganya. Maka tidak aneh apabila dalam Taurot dinyatakan ada khitan daging dan khitan hati. Khitan hati bermaksud beribadah secara ikhlas dan taat dengan sabar dan menderita tanpa mempedulikan sekitarnya. Hal ini tertera dalam ayat Taurot berikut:

Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk. (Ulangan, 10: 16)

"Terjagalah, terjagalah!
Kenakanlah kekuatanmu seperti pakaian, hai Sion!
Kenakanlah pakaian kehormatanmu, hai Yerusalem, kota yang kudus!
Sebab tidak seorang pun yang tak bersunat atau yang najis akan masuk lagi ke dalammu. (Yesaya, 52: 1)

Terus-menerus Aku telah mengutus kepadamu semua hambaKu, para nabi, dengan mengatakan: Janganlah hendaknya kamu melakukan kejijikan yang Aku benci ini! (Yeremia, 44: 4)

Golongan Inkarussunnah (Penolak Hadits Nabi)
Sekitar tahun 1975, Penulis kedatangan seorang keturunan Arab dari Pasar Kliwon (Solo) yang menanyakan kepada Penulis, apakah bersedia menerima tamu dari golongan inkarussunnah. Dan Penulis jawab, "Bersedia".

Esok harinya betul, tibalah seorang keturunan Arab yang berbadan tinggi dan besar, dan kemudian dalam wawancara itu dia menyampaikan pendapatnya, demikian:

"Kita bersama tahu bahwa Alloh adalah Maha Cinta Kasih, seperti bacaan Basmalah, perlukah kita masih diwajibkan menjalankan khitanan?

Perintah Alloh dalam Al Qur'an toh tidak ada. Kami tidak mengikuti hadits nabi, sebab sudah tercakup nasehatnya bahwa akhlak nabi adalah Al Qur'an.

Sesungguhnya kasihanlah seorang anak dikhitan keluar darah dan menderita beberapa minggu kesakitan. Dalam hadits pun hanya disebut salah satu fitrah setingkat dengan cabut rambut ketiak, cukur rambut kepala, potong kuku, dan sebagainya."[2]

Jawaban di sini Penulis singkat menuju masalah khitan saja, tidak perlu membahas soal sholat 5 waktu dan lain-lainnya. Di antaranya Penulis tanggapi demikian,

"Saudara adalah seorang Arab. Apakah Saudara tahu bahwa bahasa Ibrani adalah mendahului bahasa Arab sebagai rumpunnya?

Saudara tentu tahu bahwa dalam Al Qur'an terdapat beberapa ayat yang menyebutkan kata millah atau millata Ibrohima. Kata ini sering dikaitkan dengan perintah ittabi', artinya: Turutilah! Millah ini oleh umat Islam biasanya diberi makna 'agama'. Kami telah membaca beberapa buku teologi Yahudi dan Nasrani yang menunjukkan makna kata Ibrani, millah adalah khitan. Boleh jadi karena yang paling menonjol dalam syari'at Ibrohim itu soal khitan semata-mata, maka dari kebiasaan yang terus-menerus dan turun-temurun, berkembanglah maknanya menjadi agama.

Jadi, apabila kita menyadari keaslian makna millah itu khitan, maka secara langsung Al Qur'an juga mengandung perintah khitan, sebab antara Ibrani yang menjadi bahasa harian nabi Ibrohim as dan bahasa Arab tidak perlu ada perbedaan."[3]

Dengan keterangan Penulis tersebut, tamu Arab itu Penulis duga kemudian menjadi sadar kembali seperti amalan umat Islam. Belakangan Penulis pernah menanyakan kepada seorang rekannya perihal sikap tamu Arab itu, dijawabnya sudah kembali seperti Muslim lainnya. Alhamdulillah.

Bani Isroil
Seluruh umat Bani Isroil mematuhi hukum khitan dari ajaran Taurotnya rata-rata dengan patuh, sebab tanda dalam tubuh itu (bekas khitan) bisa merupakan dorongan kekeluargaan yang kuat yang membawakan rasa solidaritas bersama. Di dalam sejarah dapat dibaca bagaimana beberapa nabi menghayati hukum khitan itu, diantaranya:

1. Nabi Musa as.
a. Ketika nabi Musa berusia 40 tahun, ia pergi ke Madyan, di mana ia mengabdi kepada nabi Syu'aib alias Yethro (dalam Taurot) 40 tahun pula dan dinikahkan dengan anaknya yang bernama Zapiro.

Setelah usia 80 tahun, Alloh memerintahkan agar nabi Musa kembali ke Mesir untuk menolong umatnya di sana. Karena putranya ada yang belum dikhitan, dan diancam oleh Alloh untuk dicabut nyawanya. Cepat-cepatlah Zipora bertindak seperti tersebut dalam Taurot - Keluaran, 4: 25 demikian:

Lalu Zipora mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya, kemudian disentuhnya dengan kulit itu kaki Musa sambil berkata, "Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku."

Mengapa waktu itu untuk mengkhitani anak menggunakan pisau batu? Apakah belum ada pisau besi, ataukah batu itu lebih tajam? Ataukah menurut aturan pada saat itu harus menggunakan pisau dari batu itu meski harus dikerat walaupun alot kulupnya? Apakah pada waktu itu tidak ada anak yang pingsan mengingat pisaunya hanya terbuat dari batu?

b. Menjelang keberangkatan seluruh rakyat Bani Isroil ber-exodus (hijrah besar-besaran) keluar dari Mesir ke tanah yang dijanjikan, yaitu Kan'an, Alloh memerintahkan upacara Paskah 7 hari dengan makan sehari-harinya daging bakaran dari anak domba muda dan roti tanpa ragi. Dan Alloh memberikan janji akan memperkuat barisan Bani Isroil itu didalam perjalanan berikutnya untuk menghadapi berbagai suku yang melawannya.

Untuk mengikuti makan bersama Paskah ini, semua peserta harus sudah berkhitan, maka dijalankan khitanan massal.

Tetapi apabila seorang asing telah menetap padamu dan mau merayakan Paskah bagi Tuhan, maka setiap laki-laki yang bersama dengan dia wajiblah disunat; barulah ia boleh mendekat untuk merayakannya; ia akan dianggap sebagai orang asli. Tetapi tidak seorang pun yang tidak bersunat boleh memakannya. (Keluaran, 12: 48)

c. Sebelum nabi Musa wafat di atas gunung Nebo, telah diangkat Yusya' sebagai penggantinya, yaitu bekas abdinya yang setia. 40 tahun Bani Isroil merantau di padang Tiah dalam perjalanan mengembara makan sehari-harinya hanya manna yang turunkan Alloh dari langit.

Setelah sampai di Kan'an, Alloh memerintahkan kepada nabi Yusya':
"Buatlah pisau dari batu dan sunatlah lagi orang Israel itu untuk kedua kalinya." (Yusya', 5: 2)

Yusya' kemudian menyunati semua rakyatnya yang dalam perjalanan 40 tahun. Karena setelah menginjak tanah Kan'an itu, segala persiapan keagamaan harus diperbarui.

2. Nabi Yesaya (700 SM)
Dalam kitab Perjanjian Lama, dari nabi ini hanya didapat suatu kesan bahwa yang berhak masuk ke Ka'bah Yerusalem harus orang yang sudah berkhitan dan suci (tidak najis). (Yesaya, 52: 1)

3. Nabi Yeremia (600 SM)
Alloh bersabda kepada nabi Yeremia:
"Sunatlah dirimu bagi Tuhan, dan jauhkanlah kulit khatan hatimu, hai orang Yehuda dan penduduk Yerusalem, supaya jangan murkaKu mengamuk seperti api, dan menyala-nyala dengan tidak ada yang memadamkan, oleh karena perbuatan-perbuatanmu yang jahat!" (Yeremia, 4: 4)

Di sini juga ditegaskan bahwa khitan jasmani dan ruhani untuk menertibkan kesucian dan kebersihan badan, dan bagi kemurnian keikhlasan hati. Sebab Bani Isroil sudah dikenal suka rewel dan mengomel, keras kepala pula.

4. Raja Antiochus (176-164 SM)
Raja keturunan Yunani penjajah Syria yang beristana di Antiokia bernama Antiochus IV Epyphanus terkenal kekejamannya karena ia merencanakan penghapusan segala bentuk yang berbau Yahudi untuk diganti dengan Hellenisme secara mutlak. Ia melarang segala upacara khitanan, hari Sabat dan hari-hari raya lainnya.

Ka'bah Yerusalem dijadikan sebagai tempat pemujaan dewa bapak Zeus dari gunung Olympus, sebuah altar dewa Zeus dipasang atas altar korban Yahudi. Di mana-mana didirikan altar Yunani dan ditempatkan petugas-petugasnya untuk menggiring rakyat memuja dewa-dewanya. Maka timbullah pemberontakan kaum Yahudi yang terkenal dengan gerakan Makkabi dan berhasil merebut kemerdekaan. Jadi, penodaan berupa larangan berkhitan bisa menambah semangat perjuangan mengatasi penjajahan Yunani di Yerusalem.

5. Nabi Isa Al Masih (abad I M)
Ada dua ayat Injil yang menunjukkan bahwa Al Masih menunjukkan dirinya tetap patuh mengamalkan segala hukum Taurot sampai detail.

a. Sabdanya dalam Matius, 5: 17-18
"Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurot atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya."
"Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurot sebelum semuanya terjadi."

Ayat ini menegaskan bahwa Al Masih benar-benar konsisten hingga semuanya bisa dijalankan. Artinya, semuanya telah dipenuhi hukum syari'atnya.

b. Al Masih mengingatkan hukum khitan dari Musa yang berasal dari nabi Ibrohim as, juga memperingatkan bahwa khitanan tidak perlu dijatuhkan pada hari Sabat. Lagi, nabi itu membolehkan amal penyembuhan pada hari Sabat yang memang ada larangan untuk kerja pada hari itu. Demikian sabdanya dalam Yohanes, 7: 22-23
Jadi: Musa menetapkan supaya kamu bersunat -sebenarnya sunat itu tidak berasal dari Musa, tapi dari nenek moyang kita- dan kamu menyunat orang pada hari Sabat!
Jikalau seorang menerima sunat pada hari Sabat, supaya jangan melanggar hukum Musa, mengapa kamu marah kepadaKu, karena Aku menyembuhkan seluruh tubuh seorang manusia pada hari Sabat.

Ajaran Al Masih tersebut perlu kita ketahui sebab apakah kamu Nasrani di Barat tidak menjalankan khitanan, sedang Al Masih menunjukkan kepatuhannya terhadap Taurot?

6. Paulus Orang Yahudi Termakan Mistik Stoa
Paulus, nama Yahudinya adalah Saul. Lahir di kota Tarsus di Asia Kecil, anak dari seorang amtenar pemerintah Romawi yang sejak tahun 63 menjajah Yerusalem.

Pada masa kecilnya di kota itu terdapat suatu padepokan mistik Stoa yang gurunya bernama Athenodorus, rekan dan sekaligus guru kaisar Augustus. Jadi, guru itu cukup tersohor, apalagi tiap tahun diadakan pesta peringatan bagi mendiang tokoh guru tadi.

Pada masa remajanya, Paulus belajar di padepokan imam Gamaliel yang mengajar isi kitab Taurot dari golongan Parisi yang suka berdalil ayat kitab suci. Paulus yang sangat dewasa dididik dengan fanatisme agama Yahudi, namun ia juga mengerti aliran filsafat Yunani yang bermazhab Stoicisme dari sinisme yang pada suatu saat sifatnya bisa berbalik haluan.

Sepanjang ia masih belajar di pondok Gamaliel, tentu ia tak pernah melihat atau berjumpa dengan nabi Isa Al Masih, meski hidup sebaya.

Paulus yang latar belakang pengalamannya mengandung aneka ragam pandangan itu dianugerahi lancar bicara dan mudah meniru dialek-dialek bahasa populer Yunani.

Oleh karena seluruh ajaran Paulus diikuti oleh kaum Gereja, maka banyak pendapatnya tentang khitan yang menyebabkan kaum Nasrani Eropa cenderung memilih ajaran Paulus dibanding ajaran murid Al Masih, diantaranya sebagai berikut:
1) Nasib kaum Yahudi yang sering memberontak dan ditindas. Oleh rezim Yunani, kaum itu telah ditindas (Antiochus) pada abad II SM. Pada abad Masehi pertama pemberontakannya ditindas oleh tentara Romawi di bawah panglima Titus pada tahun 70, sehingga Ka'bah Yerusalem dihancurkan secara total.
2) Rezim Yunani. Rezim tersebut berusaha me-Yunani-kan kaum Yahudi. Dan ternyata pada kemudian hari Hellenisme diteruskan oleh bangsa Romawi, hingga penganiayaan yang bertubi-tubi itu mendorong kaum itu untuk terpaksa hidup terus dalam arus kebudayaan itu, termasuk aliran Stoa.
3) Stoicisme. Stoicisme yang tumbuh sejak beberapa abad sebelum Masehi, kemudian diperkembang dengan gagasan-gagasan Paulus yang mistiknya terfokus kepada Kristus (kristo-sentris pada abad I M), lalu disambut oleh aliran Gnosticisme (abad II) yang menolak segala yang berbau hukum Taurot untuk mengkhususkan kepada doktrin Paulus semata. Selanjutnya diperkembang dengan neo-Platonisme, disusul dengan Montanisme dengan idenya menyusun hierarchi pejabat kegerejaan. Manicheisme (filsafat Persi) yang menyuburkan trinitas, pada akhirnya diperkaya dengan tradisionalisme agama misteri (penyembah dewa-dewa yang dipatungkan) yang dipertahankan oleh kaisar Konstantin (288-237 SM) terutama dari tradisi penyembahan dewa Mithra dari Persi kemudian sampailah pada benruk Kristianisme. Sedang Konstantin sendiri merintis sikap antisemitisme yang berkepanjangan sampai pada pertengahan awal abad XX akhir-akhir ini.

Perlu dipahami kiranya tentang karakteristik golongan mistik Stoicisme -yang telah Penulis kumpulkan data-datanya dari berbagai buku karangan seorang teolog Belanda- yang biasanya dianggap radikal penemuannya oleh para teolog konservatif. Dia adalah Prof. DR. G. A. Van de Bergh van Eysinga yang telah berhasil membuat evaluasi pendirian Paulus, satu demi satu. (Bisa dibaca dalam buku "Nabi Palsu"). Tetapi kita di sini cukup membaca pendapat para teolog Katholik tentang kondisi mental ideologi Paulus serta mentalitas pribadinya.

Oleh buku Katholik, "Kitab Suci Perjanjian Baru" diterangkan bahwa:
Memanglah Paulus adalah seorang Yahudi, tetapi seorang Yahudi yang memiliki bagian kebudayaan Yunani cukup besar. Mungkin ini mulai diperolehnya semasa mudanya di Tarsus dan kemudian di perkaya karena Paulus sering berjumpa dengan dunia Yunani-Romawi. Pengaruh dari kebudayaan Yunani itu tercermin baik dalam jalan pikiran Paulus maupun dalam bahasa serta gaya bahasanya. Ada kalanya Paulus mengutip penulis-penulis Yunani, 1Kor 15:33; Tit 1:12; Kis 17:28, dan ia pasti mengenal filsafat populer yang berdasar atas mazhab Stoa; dari padanya ia meminjam gagasan-gagasan (misalnya: perginya jiwa yang terpisah dari badan ke dunia ilahi 2Kor 5:6-8; "pleroma" kosmis, Kol dan Ef) dan rumus-rumus tertentu (1Kor 5:6-8; Rom 11:36; Ef 4:6). Dari mazhab Stoa yang berhaluan sinis Paulus mengambil alih apa yang disebutkan sebagai "diatribe (kecaman tajam)."[4]

Juga buku Katholik lainnya, Injil, tentang kelemahan Paulus, yakni:
Sering pula dalam perangkaian kalimat, terlebih kalimat yang berbelit-belit atau unsur bahasa lain, sangat menghambat dan mengganggu pembacaan dan boleh dikatakan berlawanan dengan bahasa yang teratur.[5]

Bahasa Paulus jarang tenang, biasanya hidup dan bersemangat. Tetapi dengan itu juga sering berbelit dan kabur.[6]

7. Doktrin Paulus
Sekarang kita membaca tulisan Paulus sendiri sampai berapa jauh kekaburannya dalam bidang khitan yang dibelokkannya dari fungsi semula dari perintah Alloh dalam Taurot dan perjalanan nabi Isa sendiri.

a. Anggapan sepi terhadap perintah khitan
Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru itulah yang ada artinya. (Galatia, 6: 15)

Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. (1Korintus, 7: 18)

Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum Allah. (1Korintus, 7: 19)

Paulus berarti mengajarkan dualisme negatif dalam agama dan mengerti bahwa khitan adalah hukum Alloh, namun ia membuatnya abstrak dan menganggapnya tak berharga dengan ungkapan kata-katanya, "tidak apa-apa" menjadilah simpang siur. Di satu tempat menganjurkan khitan, sedang di tempat lain melarangnya. Antara kebudayaan yang berbeda dan tentang larangan agama juga boleh dibuat permainan malah dijadikan satu ajaran dalam agamanya. Aneh tapi nyata, namun itu tidak dibenarkan.

b. Amalan nabi Ibrohim as di otak-atik
Paulus menulis:
Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran. (Roma, 4: 9)

Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya. (Roma, 4: 10)

Di sini tampak Paulus tidak mau mengerti bahwa sesudah beriman lalu diharuskan menjalani khitan sebagai konsekuensi itu dikebirinya. Memang tampak getolnya untuk mempengaruhi bangsa asing (Yunani dan Romawi) agar mengikuti doktrinnya, bukan diperuntukkan bangsa Yahudi sendiri. Di mata orang asing dan kafir, khitanan itu memang bisa dianggap sebagai perbuatan mengalirkan darah yang tiada berfaedah atau tampak kejam. Memang suatu ujian bagi orang beriman.

c. Khitan hati yang dipilih
Khitan yang ia pilih ialah bukan khitan tubuh (daging kulup) yang diperintahkan Alloh. Ia menulis:
Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara ruhani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah. (Roma, 2: 29)

Jelaslah bahwa Paulus sengaja mengebiri khitan tubuh untuk disisakan yang khitan hati; suatu perbuatan memilih enaknya sendiri. Maklumlah, telah termakan ilmu mistik filsafat Yunani.

d. Sengaja melanggar hukum khitan
Sesungguhnya aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. (Galatia, 5: 2)

Di sini nama dirinya tampaknya dibuat menggertak, karena memandang adanya sekelompok orang yang akan melaksanakan khitan. Suatu gejala yang menunjukkan pahamnya yang sudah fanatik Stoicisme mistis.

e. Paulus pernah mengkhitani
Paulus pernah mengkhitani anak seorang perempuan Yahudi yang suaminya seorang Grik bernama Timotius. (Kisah Rasul, 16: 3)
Memang ia pernah mengatakan, di kalangan golongan bersunat ia bertindak seperti golongan berkhitan, sedang dalam lingkungan orang yang tak berkhitan ia mengikuti arus tanpa khitan.

Sikap plin-plan ini sering ditemukan di kalangan mistik yang mengutamakan ma'rifat dan hikmah untuk meninggalkan hukum syari'at. Seperti Paulus dengan tersalibnya Kristus yang dianggapnya sebagai penebus dosa, maka hukum syari'at Taurot sudah digantikannya. Paulus berkata:
Supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus. (Kolose, 2: 2)

Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. (Kolose, 2: 3)

Di sinilah Paulus berlindung pada kata ma'rifat dan hikmat yang bertumpu pada diri Kristus. Itu artinya, Kristo-sentris. Bermistik Kristo-sentris ini bisa dibaca gejalanya dalam ucapannya yang bernada Pantheisme:
Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku. (Galatia, 2: 20)

f. Khitan diganti dengan baptisan
Paulus menulis:
Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan. (Kolose, 2: 9)

Dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua perintah dan penguasa. (Ayat 10)

Dalam Dia kamu telah disunat. Bukan dengan sunat yang dilakukan manusia, tetapi dengan sunat Kristus yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa. (Ayat 11)

Karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. (Ayat 12)

Dengan tulisan Paulus ini, kedudukan Alloh sudah ditempatkan lebih rendah daripada Kristus yang dipujanya. Karena dinyatakan wujud Alloh berlembaga terhimpun dalam Kristus.

Soal pembaptisan ini -bila kita teliti- asal mulanya dan membaca buku karangan DR. Max Carry dan DR. T. J. Haarhoff, "Leven en Denken in de Klassieke Wereld" setelah menyatakan bahwa 25 Desember hari kelahiran dewa Mithra, kemudian menerangkan demikian:
"De aanhangers van Mithras kenden ook een doop en een confirmatie; pengikut dewa Mithra kenal juga pembaptisan dan sumpah penguatan."[7]

Baptisan sering juga disebut "pemandian" yang di kalangan Yahudi dilakukan ketika menerima mu'allaf dari konversi agama, dijalankan dengan penyelupan tubuhnya dalam air. Yang terkenal dalam Injil adalah Al Masih dibaptis oleh nabi Yahya Pembaptis. Artinya, Al Masih dipermandikan dalam kali Yordan.

Berbagai mazhab Gereja masing-masing berbeda cara dalam mengadakan pemandian. Ada yang dibaptis diharuskan menyelam dalam air bak sedalam hampir setinggi orang; ada lagi dengan memilih kali yang dianggap cocok. Sedang golongan Reformasi cukup dengan usapan air seperlunya, dan Katholik dengan usapan minyak khusus.

g. Kebiri dengan membuang kedua bola berikut kantongnya
Perbuatan mengebiri orang laki-laki ini biasanya ditemukan pada abad yang lampau dan sebelumnya, terutama di istana untuk menjaga putri-putri di keraton atau penjaga berbagai tempat suci atau kuil.

Dalam Injil Matius, Al Masih as menerangkan berbagai motivasi pengebirian,
Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti, hendaklah ia mengerti. (Matius, 19: 12)

Ayat ini mengingatkan Penulis sekitat tahun 1963 diminta oleh seorang mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang untuk berdialog dengan Pendeta Katholik yang sarjana/insinyur keturunan Perancis bernama Ir. Frans Dahler yang menjabat dosen di Undip.

Pada kenyataannya seolah-olah Penulis hanya ikut mendengarkan pembicaraan antara mahasiswa dengan Pendeta itu yang sama-sama bersemangat berargumen.

Pertanyaan-pertanyaan mahasiswa diantaranya adalah, "Sebab apakah orang Katholik banyak yang suka hidup kependetaan secara wadat?" Oleh di Pendeta, diambilkan dari ayat Matius tersebut.

Pembicaraan begitu asyik, hingga waktu terasa cepat habis. Dan Penulis sendiri belum mendapat giliran untuk memberi tanggapan.

Dalam perjalanan pulang, Penulis hanya memberitahukan kepada mahasiswa, bahwa Pendeta tadi tidak tepat menggunakan ayat itu untuk membela kepentingan hidup wadat kependetaan. Pertama, Pendeta tidak menjalani kebiri. Lagi pula ayat Injil itu tidak mengarah kepada arti kependetaan. Dan sabda Al Masih bukan merupakan perintah untuk diamalkan, hanya berupa pemberitaan saja bahwa ada 3 macam terjadinya kebiri.

Kalau diteliti asal mulanya kependetaan di kalangan Gereja adalah lewat aliran Stoa mazhab Sinisme yang berasal dari pengaruh filosuf Pythagoras (570-507 SM) dan filosuf ini mendapat pengaruh dari Persia dan India.
Paulus menulis demikian
Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku. (1Korintus, 7: 8)

Pada umumnya orang hidup sebagai rahib bertujuan untuk mencapai ketinggian nilai moral dengan memperbanyak puasa, hidup wadat serta renungan semedi di tempat yang sepi atau meninggalkan kesenangan kehidupan dunia. Akan hal ini, Alloh telah menyatakan bahwa sistem kerahiban itu bukan berasal dari ajaran Alloh,
"Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rosul-rosul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rohbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhoan Alloh, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik. (QS. Al Hadid [57]: 27). Dan nabi Muhammad saw telah melarang perbuatan asketisme (kependetaan) yang hampir saja akan dijalankan Abu Darda'.

Semestinya makalah ini dilengkapi dengan perbuatan Paulus yang banyak diceritakan oleh muridnya -Lukas- tentang mu'jizat-mu'jizatnyavyang tampak kabur, tampangnya, perangai, dan kemegahannya serta wangsit yang disebut "wahyu Kristus".

Demikianlah persoalan perintah khitan yang mengalami westernisasi (helenisasi dan romanisasi), namun oleh Islam dikembalikan kedudukannya sesuai proporsi semula. Yang berhasil mengembalikannya bukan yang pandai membaca dan tulis seperti Ahli Kitab, bahkan sebaliknya yang tergolong ummi. Ialah nabi Muhammad saw yang ummi dari bangsa Quroisy demi untuk membuktikan eksistensi Alloh secara konkrit. Tetapi yang mampu membaca dan menulia justru mengebiri kontinuitas ajaran Alloh berabad lamanya. Hal ini baru masalah khitan saja. Ada lagi yang lebih gawat adalah yang menyangkut masalah ketuhanan.

Al Masih tegas-tegas menjelaskan bahwa orang yang menyeru dirinya dengan seruan: "Tuhan, Tuhan! Tidak akan masuk Kerajaan Sorga" sebagaimana yang tercantum dalam Matius, 7: 21. Namun ternyata Paulus bahkan mengajarkan bahwa, "Yesus Kristus adalah Tuhan", dan Alloh disebutnya Bapa (Filipi, 2: 11), hingga bisa merusak kedudukan eksistensi Alloh yang Maha Suci. Seolah-olah Paulus bisa dianggap seperti mengajak untuk tidak masuk surga saja.

Kesimpulan
Demikianlah nasib ajaran Alloh yang harus dijaga kesuciannya, karena sudah direncanakan akan berlangsung utuh murni, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa pengaruh kebudayaan Barat, Hellenisme, dan dominasi Romawi yang selamanya masih dijunjung tinggi oleh bangsa Barat lebih dominan. Layaklah dalam agamanya orang Barat itu banyak mengandung penyimpangan, perubahan, dan pengurangan terhadap keaslian wahyu yang diajarkan oleh Alloh lewat nabi-nabi. Maka bagi bangsa Timur yang ikut-ikut memeluk agamanya orang Barat dengan mengikuti apa saja yang diajarkan orang Barat tanpa mengerti mana yang asli, mana yang tidak, apa itu kritik ayat atau sumber tradisi polytheism dan filsafat yang serba spekulatif. Terjadilah korban westernisasi. Orang Barat pun tidak akan sempat membuka rahasianya. Walhasil, kontinuitas dengan nabi-nabi sendiri oleh orang Barat sangat kurang diberitahukan, meskipun ada kemampuan untuk memberitahukan soal itu semua.

Surakarta, 8 Juni 1985
Ky. Arkanuddin
______________
[1] Kaj Birket-Smith. De Weg der Beschaving; Inleideing tot de Ethnologie. (Antwerpen Amsterdam: Ditmar NV, 1950), page 172.

[2] Ky. Arkanuddin. Wawancara di rumah Penulis di Priyobadan 13, Solo. Januari-Desember 1975.

[3] ibid

[4] Kitab Suci Perjanjian Baru. (Ende-Flores: Penerbit Nusa Indah, 1974), hal. 340.

[5] Injil, (Ende-Flores: Percetakan Arnoldus, 1965), hal. 530.

[6] ibid., hal. 527.

[7] DR. Max Carry dan DR. T. J. Haarhoff. Leven en Denken in de Klassieke Wereld. (Antwerpen: Utrecht Aula Boeken, 1964), page 400.

Fenomena Da'i Ember

Kalau saja Hatib bin Abi Balta’ah tak tergabung dalam barisan yang memperjuangkan Islam pada perang Badar, maka vonis munafik telah jatuh kepadanya tatkala ia r.a. tertangkap basah membocorkan rencana Rosululloh saw saat persiapan Fathu Makkah. Gatal tangan 'Umar bin Khoththob r.a. ingin mengayunkan pedang, namun Rosululloh saw menahannya karena kesertaan dalam perang Badar adalah jasa besar yang tak teremehkan.

Hatib bin Abi Balta’ah merasa risau dengan keberadaan sanak saudaranya di Makkah. Oleh sebab itu, ia mengirim surat rahasia kepada keluarganya, melalui seorang kurir wanita, yang mengabarkan rencana Rosululloh saw untuk memasuki Makkah bersama ribuan tentara. Upaya pembocoran rahasia itu kemudian terbongkar atas izin Alloh swt. Dan Hatib bin Abi Balta’ah tak dapat mengelak dari perbuatannya. Lantas kisah ini menjadi asbabun nuzul surat Al Mumthanah ayat 1.

Dakwah dan Kerahasiaan
Kerahasiaan sudah menjadi bagian dalam dakwah. Meski karakter dakwah sejatinya bersifat terbuka, namun bila dakwah dilakukan dengan organisasi yang terstruktur, sering kali ada informasi-informasi yang bukan konsumsi publik.

Saat kondisi dakwah berada pada tekanan rezim yang berkuasa, pergerakan dakwah terpaksa dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Rosululloh saw pernah merasakan sendiri aktivitas dakwah secara rahasia di awal perkembangan Islam. Semua itu demi keselamatan dakwah.

Husain bin Muhammad bin Ali Jabir dalam bukunya “Menuju Jama'atul Muslimin” menjelaskan bahwa sirriyatud dakwah yang dilakukan oleh Rosululloh di awal turunnya Islam adalah dengan membentuk jama'ah secara tersembunyi. Yang dimaksud adalah, tersembunyi dalam pembentukan, bukan pada ajaran dan materi dakwah. Hal ini dimaksudkan agar musuh Islam tidak mengetahui detail kekuatan jama'ah sehingga tidak serta merta dipukul ketika kekuatan jama'ah masih seumur jagung.

Ketika kondisi memungkinkan dan dakwah dapat dilakukan dengan terang-terangan, bukan berarti tak perlu lagi ada kerahasiaan dalam dakwah. Buktinya Rosululloh saw tetap memerlukan seorang Hudzaifah bin Yaman sebagai Kepala Intelejen pertama umat Islam untuk menampung kerahasiaan.

Salah satu yang dirahasiakan adalah daftar nama golongan munafik. Suatu ketika 'Umar bin Khoththob r.a. resah tentang dirinya, apakah termasuk orang yang divonis munafik atau bukan. Kholifah yang agung itu lantas menemui Hudzaifah bin Yaman r.a. Namun data yang bisa diakses sekedar memastikan bahwa 'Umar bin Khoththob r.a. tidak termasuk golongan munafik. 'Umar tak dapat mengakses semua nama dalam golongan yang dijanjikan Alloh swt kelak bertempat di dasar neraka itu.

Kerahasiaan tetap ada dalam bangunan dakwah. Konteks kekinian, misalnya proses atau hasil persidangan terhadap seorang anggota jama'ah dakwah yang dianggap bermasalah, bisa menjadi contoh. Karena itu menyangkut aib. Manuver dakwah yang direncanakan dengan sistematis pun kebanyakan dirahasiakan. Materi ceramah dengan konten dan istilah khusus, yang bila didengar orang yang tak paham akan menjadi fitnah, juga dirahasiakan. Dan ada banyak hal lagi yang perlu dirahasiakan dalam barisan dakwah. Semua itu ada maslahatnya.

Karena itu seorang da’i yang ingin bergabung dalam barisan dakwah, harus membiasakan diri memegang hal yang dianggap rahasia. Janganlah menjadi da’i ember.

Da’i Ember
Kenyataannya tak semua orang yang bisa memegang rahasia dengan jujur. Kasus Hatib bin Abi Balta’ah bisa menjadi contoh. Kalau tak memiliki jasa sebesar Hatin bin Balta’ah, maka janganlah menjadi da’i ember yang ringan mengumbar rahasia. Kalau tidak, bisa-bisa terjerumus dalam perbuatan nifaq.

Kesertaan dalam perang Badar adalah jasa yang tak dapat tersaingi. Apalagi oleh aktivitas da’i zaman sekarang. Sekedar membela jama'ah mati-matian di media sosial, atau mengajari rekan seperjuangan mengelola blog, rasanya tidak akan pernah bisa setara dengan berpeluh berdarah di wilayah di sekitar sumur Badar 15 abad yang lampau.

Karakter da’i ember tak sekedar mengumbar rahasia, tapi juga menyebar informasi yang masih sumir. Padahal Alloh swt sudah memberikan standard operating procedure yang tertera dalam Al Qur’an surat An-Nisa ayat 83. Serahkan pada qiyadah atau otoritas berwenang sebagai sumber kabar yang shohih!

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rosul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rosul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Alloh kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (QS. An-Nisa : 83)

Syahwat broadcast –meminjam istilah seorang teman– memang sudah terjadi sejak dahulu. Perilaku manusia terhadap informasi tidak pernah berubah dari dulu hingga kini. Makanya Alloh menurunkan Al Qur’an yang akan selalu sesuai dengan segala zaman, termasuk zaman booming media informasi seperti sekarang.

Saat belum dikenal teknologi informasi, penyebaran sebuah kabar beredar melalui mulut dan telinga. Hingga Rosululloh saw bersabda, “Cukuplah seseorang disebut sebagai pendusta apabila ia mengatakan semua yang didengar” (HR Muslim). Seseorang yang tidak mampu menyaring informasi, akan terjebak pada kegiatan menyebarkan berita hoax. Karena sifat berita bila diestafetkan ia akan dibumbui berbagai macam kabar tambahan.

Di zaman ini, seorang yang memiliki akun media sosial atau blog punya godaan besar memposting atau membagikan informasi yang ia dapat, baik dari dunia nyata maupun dari timeline socmednya. Termasuk seseorang yang beriltizam berjuang dalam barisan dakwah. Godaan itu pun dirasakan juga.

Contohnya memposting susunan pengurus sebuah kepanitiaan atau lembaga di dalam organisasi dakwah melalui blog, yang qiyadah sendiri tidak pernah mengumumkan itu secara terbuka. Bahkan parahnya kadang dibumbui sebuah gosip bahwa lembaga itu untuk menghakimi anu.

Ada yang menganalisa motivasi da’i ember ini. Bisa karena ingin pamer karena memiliki info yang orang lain tidak tahu. Atau memang karena terlalu lugu menganggap semua hal tidak ada yang rahasia. Atau karena alasan ekonomis, menginginkan kenaikan traffic pada blog yang dikelolanya. Kalau yang terjadi pada Hatib bin Abi Balta’ah, alasannya karena kecintaan pada keluarganya yang kemudian Alloh tegur.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bila 'Umar bin Khoththob r.a. hidup di zaman sekarang lantas bertemu da’i-da’i ember di dunia maya ini.

Bila bertemu da’i ember di dunia maya atau pun nyata, berhati-hatilah ketularan ke-emberan-nya! Info rahasia dan gosip itu begitu menggoda untuk disebar kembali.