Selasa, 22 April 2025

Yesus dalam Sejarah

Semakin banyak upaya untuk menemukan siapa Yesus sebenarnya, semakin tampak betapa sedikitnya sejarah beliau yang diketahui. Catatan yang membahas tentang kehidupan dan ajarannya sangat terbatas. Gambaran tentang Yesus yang diberikan oleh kebanyakan orang hanyalah sebuah polesan yang direkayasa. Sekalipun ada suatu kebenaran di dalamnya, tetapi riset sejarah telah membuktikan bahwa keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) yang dipilih dalam Konsili Nicea tahun 325 M itu sudah dirubah dan disesuaikan dengan rumusan keyakinan resmi yang ditetapkan pada konsili, yakni doktrin Trinitas. Naskah-naskah yang berisi ajaran Tauhid yang dinyatakan bidat oleh konsili tersebut dimusnahkan.

 

Tulisan-tulisan sejarawan Romawi dan Yahudi di perte-ngahan abad pertama Masehi tidak ada yang menyebut nama Yesus. Satu-satunya dasar yang dipegangi untuk mengungkap ke-hidupan Yesus adalah keempat Injil Kristen yang disahkan dalam Konsili Nicea itu. Injil Markus yang dianggap sebagai naskah tertua, ditulis sekitar tahun 60 M. Penulisnya, Markus. Beliau adalah kemenakan St. Barnabas, putra saudara wanita-nya. Matius adalah seorang pemungut cukai, pegawai rendahan, yang tidak mengikuti perjalanan Yesus di Galilea maupun Judea. Injil Lukas yang ditulis belakangan, tampaknya memper-gunakan sumber dari Injil Markus dan Matius. Lukas adalah dokter pribadi Paulus yang tidak pernah bertemu dengan Yesus. Injil Yohanes tampak menggunakan sumber yang sangat berbeda sekali dengan Injil lainnya. Ia ditulis sekitar tahun 100 M. Penulis Injil ini bukan Yohanes murid Yesus. Hampir selama dua abad Injil ini masih dianggap kontroversial dan selalu diperdebatkan, apakah Injil ini layak dipakai sumber cerita tentang Yesus dan apakah dapat diterima sebagai kitab suci.

 

Penemuan naskah-naskah gulungan dari laut mati (Dead Sea Scrolls) memberikan suasana baru dalam memahami kehidupan masyarakat tempat Yesus dilahirkan. Injil Barnabas mengungkapkan kehidupan Yesus lebih luas daripada keempat Injil yang diresmikan oleh gereja. Sedangkan Alqur’an dan hadits milik ummat Islam memberikan pandangan yang lebih jelas tentang siapa sebenarnya Yesus itu. Setelah ditemukan naskah-naskah tua, sejak Codex Sinaiticus pada tahun 1862 M sampai Dead Sea Scrolls yang pada tahun 1948, makin tampak kebenaran yang diungkapkan oleh Alqur’an dan hadits.

 

Pada akhirnya, kita menemukan bahwa Yesus itu bukanlah “Anak Allah”, dia hanyalah manusia biasa seperti Ibrahim dan Musa yang hidup sebelum dia, dan seperti Muhammad yang hidup sesudahnya, yang membutuhkan makan dan minum, bahkan keluar-masuk pasar. Yesus dan mereka adalah manusia biasa yang mendapatkan amanat dari Tuhan untuk menjadi nabi-Nya.

 

Kita akan mengetahui bahwa Yesus itu terpaksa harus berjuang berhadapan dengan orang-orang yang kepentingannya bertentangan dengan ajaran Yesus. Di antara mereka ada yang ingin mendapatkan bimbingannya, tetapi ada pula yang mengakui kebenarannya tetapi sengaja mengabaikan karena faktor-faktor duniawi seperti rakus kekuasaan, kekayaan, dan status quo.

 

Kita juga akan mengetahui bahwa kehidupan Yesus di Palestina merupakan bagian integral dari sejarah bangsa Yahudi. Oleh karena itu, untuk memahami kehidupan Yesus harus mengenal sejarah bangsa Yahudi. Selama hidupnya, Yesus melakukan ibadah Yahudi yang diajarkan oleh Taurat Musa secara murni, menegakkan dan meluruskan kembali ajaran Taurat Musa yang telah diselewengkan penafsirannya oleh para Rabi Yahudi dari masa ke masa.

 

Pada akhirnya, kita akan mengetahui bahwa orang yang di salib itu bukanlah Yesus. Melainkan seseorang yang diserupa-kan seperti dia. “Maka kita ini memberitakan Yesus yang tersalib,” kata Paulus dalam suratnya untuk Jemaat di Korintus (I Korintus 1: 23). Tetapi disusul dengan kalimat berikutnya yang berbunyi, “Yaitu suatu syak kepada orang Yahudi, dan suatu kebodohan kepada pandangan orang kafir.”

 

Setiap orang Kristen tidak akan mengetahui tahun kelahiran Yesus secara pasti dan tepat. Menurut Injil Lukas 2: 1-20, Yesus dilahirkan ketika diselenggarakan sensus penduduk wilayah Syiria dan Palestina atas perintah kaisar Agustus sekitar tahun 7 M (759 Romawi), setelah Herodes Archelaus (4 SM-6 M) dipecat oleh pemerintahan Romawi, dan Judea langsung dijadikan wilayah provinsi Roma. Tetapi menurut Injil Matius, Yesus dilahirkan di masa pemerintahan Herodes Agung (37-4 SM), ayah Herodes Archelaus, yang meninggal tahun 4 SM (749 Romawi). Johannes Lehman dalam The Jesus Report halaman 14-15 mengutip pendapat Vincent Taylor yang mengatakan bahwa Yesus lahir tahun 8 SM (745 Romawi). Pertentangan penjelasan ayat Injil Lukas dan Matius sungguh amat tajam.

 

Keajaiban kelahiran Yesus ke dunia menjadi bahan aktual dalam diskusi. Sebagian ada yang mengatakan bahwa Yesus itu darah daging Yusuf sendiri, tunangan Maria (Maryam). Karena Lukas dan Matius membuat silsilah Yesus sebagai keturunan nabi Daud melalui benih Yusuf. Sebagian lagi ada yang berpendirian bahwa kelahiran Yesus itu murni dan suci, tanpa ada campur tangan dari benih manusia. Oleh karena itu, Yesus adalah “Anak Tuhan”. Tetapi pihak yang berpendapat demikian juga bertentangan dalam memahami dan menafsirkan penger-tian kata “Anak Tuhan” tersebut. Di satu pihak memahaminya secara harfiah (literal), tetapi pihak lain memahaminya secara kiasan (figuratif).

 

Ternyata Injil Markus dan Yohanes sama sekali tidak memberitakan kelahiran Yesus. Sedangkan Matius dan Lukas hanya menceritakan sekilas saja, dan membuat silsilah Yesus sampai kepada nabi Daud. Matius membuat garis keturunan antara Yesus sampai terdapat 28 orang. Sedangkan Lukas mencantumkan 43 orang. Jadi, terdapat selisih 15 generasi. Jika satu generasi memiliki masa 40 tahun, berarti terdapat selisih 600 tahun. Bahkan nama-nama orang yang termaktub dalam silsilah keturunan tersebut banyak perbedaan.

 

Karena Yesus lahir dan hidup dalam lingkungan bangsa Yahudi di Palestina, yang meliputi wilayah Judea bagian selatan dan Galilea bagian utara, maka amat penting untuk mengenal kehidupan Yesus dan masyarakat Yahudi di masanya. Dia lahir dan hidup di saat Palestina dalam keadaan tidak tenteram.

 

Dari masa ke masa, bangsa Israel (Yahudi) harus bertikai dengan bangsa lain. Setelah 40 tahun tinggal di padang Tiah di semenanjung Sinai ―setelah nabi Musa wafat (sekitar abad ke-11 SM), Josua berhasil merebut wilayah Palestina dari suku Edom, Kanaan, dan Filistin. Tetapi setelah nabi Sulaiman wafat (sekitar tahun 973-933 SM), Israel ditaklukkan oleh raja Sargon I dari kerajaan Asyiria pada tahun 722 SM. Kemudian ditakluk-kan oleh Nebukadnezar dari Babilonia pada tahun 586 SM. Kemudian ditaklukkan oleh Cyrus (Koresi) dari kerajaan Persi pada tahun 538 SM. Kemudian ditaklukkan oleh Alexander dari Makedonia pada tahun 332 SM, dan berkelanjutan di bawah kekuasaan Yunani sampai tahun 168 SM. Pada masa itu, terbentuk kerajaan Yahudi kembali di bawah dinasti Makkabi (168-63 SM) tetapi tidak berusia lama. Karena wilayah Palestina, Syiria, dan Asia Kecil ditaklukkan kembali oleh imperium Romawi pada tahun 63 SM. Sejak di bawah kekuasa-an imperium itulah sejarah bangsa Yahudi di Palestina diliputi kekacauan dan pemberontakan disebabkan beban pajak yang teramat berat beserta penghinaan-penghinaan terhadap agama Yahudi.

 

Disebabkan penindasan bangsa penakluk selama berabad-abad dan silih berganti, maka mereka menyimpan dendam yang selalu membara di hatinya. Tetapi dalam kondisi yang sehitam-hitamnya, di antara mereka ada golongan yang mengharapkan datangnya seorang Musa baru beserta pendampingnya, yang akan menghantam bangsa penjajah dan menghidupkan kembali ajaran-ajaran Yahwe (Allah yang Maha Esa). Seorang yang diharapkan kedatangannya itulah disebut Mesiah atau Almasih.

 

Disamping itu ada yang melakukan kebaktian setiap matahari terbit. Tetapi ibadah itu hanya dipakai sebagai simbol saja untuk meraih kedudukan dan kemewahan, baik dari segi duniawi maupun agama. Mereka ini dipandang oleh pihak pertama tadi sebagai pengkhianat.

 

Disamping ada dua golongan itu, juga terdapat golongan ketiga yang karakter kehidupannya sangat jauh berbeda dengan masyarakat Yahudi pada umumnya. Mereka sengaja mengasing-kan diri ke daerah gersang sebagai tempat hidup dan beribadah sesuai dengan ajaran Taurat nabi Musa, serta mempersiapkan diri menjadi gerilyawan melawan bangsa penjajah. Tentara Romawi selalu gagal untuk menemukan tempat-tempat persem-bunyian mereka. Jumlah kader mereka selalu bertambah banyak. Kita bisa mengenali mereka melalui tulisan seorang sejarawan Yahudi abad pertama Masehi yang bernama Josephus Flavius. Ketiga golongan Yahudi itu masing-masing disebut Farisi, Saduki, dan Esenes.

 

Di dalam keempat Injil diceritakan bahwa Yesus hanya mencela dan memaki sekte Farisi dan Saduki, tetapi tidak pernah menyebut sekte Esenes. Maka dapatlah dipahami bahwa Yesus sendiri termasuk golongan yang terakhir itu. Walaupun golongan itu tidak disebut-sebut di dalam keempat Injil, tetapi eksistensi sekte Esenes itu diketahui melalui catatan Josephus Flavius dan catatan Pliny the Elder, ahli sejarah Roma, dan catatan Philo Judaeus, ahli sejarah Yahudi di Iskandariyah. Tetapi sekalipun catatan sejarah itu tidak memberikan gambar-an yang lengkap dan sempurna mengenai kelompok Esenes itu. Tiba-tiba secara dramatis sekali, kumpulan dokumen yang dikenal dengan Dead Sea Scrolls muncul ke sinar terang dari pegunungan batu Jordania yang terletak di sebelah barat Laut Mati. Dengan penemuan itu, dunia intelektual dan dunia Kristen terbelalak bagai diguncang topan.

 

Pada tahun 1947, seorang anak-anak Arab menggembala domba-dombanya dekat Qumran. Karena seekor domba piara-annya hilang, dia mendaki bukit batu di situ untuk mencarinya. Di saat itulah dia melihat sebuah gua yang menurut dugaannya dombanya masuk ke situ. Ia pun melemparkan batu ke dalam gua. Dan ternyata dari gua tersebut terdengar suara nyaring bagaikan batu membentur bejana keramik. Dia berkhayal akan menemukan harta terpendam. Keesokan harinya dengan mem-bawa teman, dia memasuki gua itu. Mereka menemukan guci keramik di antara yang pecah berantakan. Mereka membawa-nya ke tempat perkemahannya dan lalu kecewa karena hanya berisikan gulungan-gulungan perkamen tua. Mereka membuka sebuah gulungan yang panjangnya dari ujung yang satu ke ujung lain kemahnya. Gulungan itulah yang kemudian terjual seperempat juta dolar AS. Mereka menjualnya kepada Kando ―seorang Kristen Syiria― dengan harga beberapa shilling saja (pecahan Poundsterling). Kando adalah seorang tukang sepatu, dan ia lebih memerlukan kulit untuk lapis terompah maupun sepatu. Ketika melihat tulisan yang tidak dikenalnya pada perkamen itu, dia memperlihatkannya kepada seorang uskup berkebangsaan Syiria dari biara St. Markus di Jerusalem. Perkamen itu segera dibeli oleh uskup itu dengan membayar harganya sekedar ganti rugi.

 

Di bawah penyelidikan American Oriental Institute of Jordan, terbukti gulungan perkamen itu adalah naskah tertua kitab Yesaya (salah satu isi Alkitab Perjanjian Lama) berbahasa Ibrani. Sejak itu, pencarian dan pengumpulan dilakukan secara intensif disertai penggalian sebuah biara tua yang sangat luas dan besar pada sebuah dataran di punggung bukit batu ―yang berdasarkan petunjuk ahli sejarah Pliny the Elder (23-79 M) di dalam karyanya Historica Naturalis bab V pasal 17, tempat itu adalah kediaman sekte Esenes. Tujuh tahun kemudian, kum-pulan seluruh naskah-naskah gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls) yang telah ditemukan itu disimpan di gedung yang dibangun pemerintah Israel di Jerusalem, dikenal dengan Shrine of the Book.

 

Secara hitungan kasar, terdapat lebih enam ratus buah gua pada punggung bukit batu sepanjang pinggir sungai Jordan. Di dalam gua itulah pada masa-masa genting, setiap kelompok Esenes tinggal dan bersembunyi. Pada masa tenang mereka adalah zahid-zahid yang shalih, menjalankan syariat Yahudi dengan taat, menundukkan diri sepenuhnya kepada Yahuwa (Allah Maha Esa), tidak mau menundukkan kepada siapa pun kecuali kepada-Nya. Pada lembah-lembah di bawahnya mereka menanam kurma, dan hidup dari buah kurma itu.

 

Merasa jenuh dan bosan menyaksikan kehidupan duniawi yang penuh pertumpahan darah dan pertentangan itu, mereka pun memisahkan diri dan hidup sebagai zahid-zahid yang wara’. Berbeda dengan rabi-rabi di Kuil Sulaiman (Solomon’s Temple) yang megah itu, mereka menggunakan Taurat Musa bukan untuk kepentingan uang tetapi memahaminya untuk diamalkan. Begitu pula sikap mereka terhadap Kitab Nabi-nabi (Nebiim) dan Kitab-kitab Bimbingan (Ketubim) yang terhimpun dalam Alkitab (Bibel). Dengan sikap hidup yang zuhud seperti itu, mereka ingin mencapai kesempurnaan dan kesucian.

 

Mereka menulis nyanyian-nyanyian kezuhudan (gnostik), yakni nyanyian yang bersifat ma’rifat, yang isinya menggugah dan meresap di jiwa. Salah satu lagu itu mengatakan, kehidup-an zuhud itu bagaikan kapal di dalam topan. Pada lagu lainnya dilukiskan bahwa seorang zuhud itu adalah bagaikan musafir di dalam rimba raya penuh singa yang lidahnya bagaikan pedang. Pada awal perjalanan, si musafir itu mengalami tekanan pende-ritaan bagaikan seorang wanita yang menunggu kelahiran bayinya. Jika sang musafir berhasil mengatasinya, maka selan-jutnya akan berada di bawah tuntunan cahaya Tuhan (God’s Perfect Light). Pada saat itulah manusia akan menyadari bahwa dirinya itu hanyalah makhluk kosong berasal dari tanah, serta hidup dari hasil tanah itu, dan kelak akan pulang kembali kepada tanah. Pada tahap itu, seorang hamba tidak berhenti mengucapkan syukur kepada Yahuwa (Allah Maha Esa), dan menyadari bahwa dirinya telah diangkat naik dari dalam lubang, untuk menyaksikan dan menikmati keindahan Nur Ilahi. Pada saat itulah dia akan mampu berjalan dengan kepala tegak, tidak takut dan gentar kepada siapa pun juga, kecuali hanya kepada Allah yang Maha Kuasa.

 

Sebelum penemuan Dead Sea Scrolls itu, sedikit sekali diketahui tentang kelompok Esenes itu. Pliny maupun Josephus pernah menyebut sekte itu, tetapi hampir dua puluh abad lamanya ia dilupakan oleh ahli-ahli sejarah. Pliny menyebutnya suatu keturunan yang sangat berbeda dengan ras lainnya. Ia menulis sebagai berikut:

“Mereka hidup tanpa wanita, menjauhi hubungan seksual, tanpa menggunakan uang… Anggota mereka selalu bertambah melalui sejumlah besar orang yang tertarik kepada sikap hidup mereka… melalui cara itu generasi mereka terus lestari selama ribuan tahun, sekalipun tidak ada kelahiran di situ…”

 

Josephus sendiri melalui hidup sebagai anggota Esenes dan menulis bahwa Esenes mempercayai kekekalan roh. Roh itu anugerah Allah. Allah membersihkan sebagian manusia untuk menyembah-Nya, menyingkirkan seluruh godaan daging (hawa nafsu). Seseorang yang mencapai kesempurnaan akan memper-oleh kesucian, bebas dari titik-titik noda.

 

Kelompok-kelompok zahid itu tidak mau tunduk kepada bangsa penjajah (Asyria, Babilonia, Persi, Yunani, dan Romawi), membebaskan diri dari hubungan sosial yang berlangsung sehari-hari. Kehidupan di daerah gersang itu tidaklah mem-bebaskan mereka dari tanggung jawab terhadap sejarah bangsa Yahudi. Dengan berjama’ah dalam kebaktian sehari-hari, mereka membentuk kekuatan dari waktu ke waktu. Disamping taat kepada hukum Taurat Musa, mereka siap memperjuangkan kemerdekaan, supaya dapat hidup di bawah naungan Taurat Maut dengan tenteram. Dari kelompok zuhud itulah sering muncul perlawanan sengit dari waktu ke waktu. Anggota kelompok pejuang ini dikenal dengan kaum Zealots. Mereka berjuang semata-mata untuk kepentingan Tuhan, bukan mengharapkan kekuasaan maupun keuntungan pribadi. Mereka terorganisir di bawah satu bendera, dan setiap suku punya panji-panji sendiri. Kaum pejuang Zealots itu terbagi menjadi empat pasukan. Setiap pasukan terdiri atas tiga suku Israel, hingga semuanya melambangkan 12 suku Israel. Pemukanya keturunan Lewi, yang di dalam Taurat Musa dinyatakan sebagai keturunan Imam. Tokoh itu bukan sekedar panglima pasukan, tetapi juga sebagai guru tentang Hukum Musa. Setiap pasukan mempunyai Midrash (perguruan atau sekolah) dan setiap Lewi itu, disamping bertugas sebagai panglima militer, juga memberikan arsh (pelajaran) secara teratur dalam perguruan itu.

 

Dengan hidup di daerah gersang itu, kelompok-kelompok Esenes itu tidak memerlukan kesenangan dan kemewahan, mereka hidup dengan amat sederhana. Mereka membentuk kelompok rahasia (secret society) yang tidak pernah ditunjukkan kepada orang, bukan anggotanya. Imperium Romawi mengeta-hui akan eksistensi mereka, tetapi tidak pernah dapat menem-bus tabir rahasia yang melindungi mereka. Impian dari setiap orang Yahudi yang berjiwa petualang adalah menjadi anggota masyarakat Esenes. Karena dengan cara inilah mereka dapat melawan penjajah asing dengan praktis.

 

Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Pliny, kelompok Esenes menjauhkan diri dari pernikahan, tetapi selalu menam-pung bayi-bayi yang sengaja dititipkan orang untuk diasuh dan dibesarkan dalam lingkungan esenes. Dengan demikian, selama berabad-abad kelompok Esenes tetap lestari dan berkembang walaupun tidak pernah ada kelahiran di situ. Nabi Zakaria ―yang menjabat Imam Besar pada Bait Allah di Jerusalem― ketika memiliki putera pada masa tuanya, mengirim puteranya kepada kelompok Esenes di daerah gersang itu. Disitulah dia diasuh dan dididik. Kemudian anak nabi tersebut terkenal dengan panggilan Yahya Pembaptis.

 

Karena kelompok Esenes itu tinggal di daerah gersang, maka sekarang kisah Zakaria mengirim puteranya ke daerah itu dapat diketahui sejelas-jelasnya. Tidak mungkin dia membuang anaknya sendirian di tengah-tengah padang gurun. Tetapi dia mempercayakan kepada kelompok-kelompok yang mampu mempertanggungjawabkan pendidikan puteranya itu. Maria (Maryam) misan istri Zakaria, Elizabeth, dibesarkan oleh Zakaria disebabkan ia diserahkan ke Bait Allah untuk memenu-hi nazar ibunya. Didalam lingkungan serupa itulah Yesus lahir ke dunia.

 

Sewaktu Yesus berusia remaja, tersiar berita bahwa Yahya telah keluar dari kelompok Esenes dan hidup seorang diri di suatu daerah gersang. “Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makannya belalang dan madu hutan”, (Matius 3: 4). Dia berda’wah dan mengajar orang banyak, dan tidak memberikan jangka waktu yang panjang bagi murid-murid untuk belajar hidup sebagai anggota Esenes. Dengan begitu, gerakan Yahya itu suatu gerakan umum. Dia mengajak bangsa Yahudi agar kembali kepada jalan Tuhannya dan menjanjikan bahwa kerajaan Allah pasti segera datang.

 

Mengenai Yahya memakai baju kasar dan sederhana itu dapat diketahui dan dibandingkan melalui kenyataan sejarah sebagaimana yang ditulis Josephus Flavius (37-100 M) di dalam karyanya, tentang seorang zuhud lainnya, dan Josephus adalah salah seorang di antara muridnya. Josephus sendiri tiga tahun lamanya hidup di daerah gersang itu. Dalam masa itu ia berada di bawah bimbingan seorang zuhud bernama Bannus yang mengenakan pakaian kulit kayu, hidup dari makanan yang tumbuh secara liar, bersikap ketat terhadap dirinya.

 

Daerah gersang itu merupakan tempat pelarian Daud pada masa dulu, begitu pula nabi-nabi lainnya sebelum Daud. Di daerah gersang itulah seseorang Yahudi dapat bebas dari dominasi penguasa asing dan dari pengaruh dewa-dewa palsu yang menjadi pujaan asing itu. Dalam suasana serupa itu dapatlah seseorang lebih mendekatkan dirinya kepada sang pencipta dan menyembah kepada-Nya saja. Di situlah tempat kelahiran bagi keyakinan tentang keesaan Ilahi. Daerah gersang yang tandus itu mengikis rasa aman yang palsu dan berbalik menyerahkan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta yang Hakiki. Uskup Pike di dalam The Wildeness Revolt halaman 101 mengatakan, “Di dalam ketandusan daerah gersang, seluruh pertanggungan lainnya gugur dan diri terserah sepenuhnya kepa-da Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa, yang merupakan Sumber Tetap bagi seluruh kehidupan, yang merupakan Akar bagi seluruh perasaan tenteram.”

 

Justru perjuangan di daerah gersang itu punya dua aspek. Pertama, berlangsung dalam diri sendiri, berjuang terhadap diri sendiri, guna mencapai kerelaan Ilahi. Sikap hidup serupa itu mau atau tidak, harus berakibat timbulnya pertentangan (konflik) dengan pihak yang tidak menginginkan hidup serupa itu. Dengan sikap hidup seperti itu, ia pun bersikap tabah menghadapi aspek perjuangan yang kedua, baik menang maupun kalah.

 

Seruan Yahya itu cepat menarik perhatian orang banyak, dan mereka memenuhi panggilannya dibaptis di sungai Jordan, (Matius 3: 1-6). Yahya lupa untuk menaati suatu ketentuan yang teramat penting di dalam kaidah hidup kelompok Esenes itu bahwa “jangan membuka rahasia sekte kepada orang lain walaupun disiksa sampai mati”. Demikianlah bunyi sebuah kalimat di dalam Manual Dicipline, yang dikutip Edmund Wilson di dalam karyanya Dead Sea Scrolls.

 

Dengan demikian, terbukalah jalan bagi pihak Romawi untuk melakukan infiltrasi ke dalam gerakan itu melalui mata-mata. Sewaktu anggota sekte Farisi dan sekte Saduki datang menemuinya, Yahya mengecam mereka itu dengan amat sengit (Matius 3: 7-12). Dengan begitu, Yahya telah mengungkapkan dirinya bahwa dirinya bukan sekte Farisi dan bukan sekte Saduki. Tetapi dia dan para pengikutnya itu suatu gerakan lain. Keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, Yahya) tidak pernah menyebut nama gerakan itu. Tetapi catatan ahli-ahli sejarah (Josephus, Pliny, Philo) dan penemuan Dead Sea Scrolls sete-lah Perang Dunia Kedua itu telah mengungkap misteri nama kelompok itu, yaitu kelompok Esenes. Pada akhirnya Yesus melibatkan diri ke dalam gerakan itu dan dibaptis oleh Yahya di sungai Jordan (Matius 3: 13-17). Mungkin di antara sejumlah orang yang dibaptis Yahya itu termasuk Barnabas dan Matius dan lainnya. Karena merekalah kelompok duabelas orang yang mudah sekali menerima dan menyambut panggilan Yesus. Kemudian mereka dipanggil dengan sebutan Duabelas Rasul (Twelve Apostles).

 

Yahya mengetahui bahwa “ular-ular berbisa” telah berhasil menyusup ke dalam gerakannya sebelum dia sempat berjuang. Oleh karena itulah, gerakan pembaptisan secara umum itu telah memberikan kepuasan tersendiri baginya. Karena dia mengetahui bahwa gerakannya akan tidak terhenti dengan kematiannya. Seperti sudah diramalkan oleh Yahya, dia ditangkap oleh tentara Herodes dan dijatuhi hukuman mati dan mantelnya kini jatuh di bahu Yesus.

 

Yesus kini berusia tiga puluh tahun. Misinya tidak lebih tiga tahun. Dia menemui kenyataan bahwa masa persiapan telah lewat. Untuk memahami keadaan masa itu, kita harus menyoroti Yesus dari latar belakang sejarah, terutama sejarah bahsa Yahudi. Ini akan lebih memperjelas gambaran yang sudah mulai muncul, bahwa eksistensi kelompok masyarakat Esenes itu ―beserta kegiatan Yahya― disusul konflik antara Yesus dengan pihak Romawi. Semua itu adalah bagian dari bagan yang berulang kali terjadi sepanjang sejarah bangsa Yahudi. Dalam setiap kasus yang mendorong pihak Yahudi itu untuk memberontak, ialah campur tangan penguasa asing itu dalam urusan kebaktian kepada Allah yang Maha Esa (Yahuwa). Keyakinan mereka kepada Allah dan tidak mau menyembah lainnya, merupakan keyakinan yang tertanam kokoh dalam kelompok Esenes itu.

 

Ketika bangsa Yahudi memegang kekuasaan, rajanya sering melakukan pelanggaran terhadap ajaran Tuhan. Di awal perkembangan sejarahnya, bangsa Yahudi sering menentang dan menumbangkan rajanya disebabkan sang raja itu “berbuat hal yang jahat pada mata Yahuwa” (Kitab Raja-raja Kedua 13: 11). Kemudian Nebukadnezar dari Babilonia menaklukkan dan menguasai Jerusalem. Bait Allah di atas bukit Zion dibiarkan utuh, tetapi wakaf harta yang tersimpan di bait Allah dan harta kekayaan Istana dirampas. Bangsa Yahudi memberontak terha-dap kekuasaan Babilonia itu. Babilonia melancarkan serangan balasan dan menghancurkan Bait Allah yang terletak di atas bukit Zion itu. Begitu pula kota Jerusalem dihancurkan oleh tentara Nebukadnezar.

 

Roda nasib berputar. Babilonia ditaklukkan Persi. Cyrus (550-530 SM) mengizinkan orang-orang Yahudi pulang ke Judea untuk membangun Bait Allah dan Kota Suci itu serta menyerah-kan kembali harta kekayaan yang dirampas Nebukadnezar. Bekas tawanan Yahudi yang pulang kembali ke Judea berjumlah 42.360 jiwa. Di samping itu membawa budak dan wanita sebanyak 7.337 jiwa. Di dalamnya termasuk 200 pria penyanyi dan gadis penyanyi. Kafilah besar itu membawa 736 ekor kuda, 245 ekor bighal, 435 ekor unta, dan 6.720 ekor keledai (Kitab Ezra 2: 64-69). Jumlah hewan tersebut adalah tambahan dari hewan-hewan yang mengangkut harta kekayaan itu.

 

Setelah tiba di Jerusalem, dimulailah pembangunan Bait Allah. Untuk maksud itu terkumpul sumbangan sebanyak 61.000 dinar (emas) dan 5.000 kati perak. Itu adalah tambahan bagi harta kekayaan Bait Allah dan harta kekayaan istana yang dibawa pulang kembali dari babilonia. Benda-benda yang terbuat dari perak diangkut oleh seribu ekor kuda. Sejak pulang ke Judea itu, jumlah orang Yahudi bertambah dan berkembang.

 

Tapi mereka tak lama menikmati kekuasaan otonom yang dianugerahkan pihak Persi yang raja-rajanya masa itu meng-anut agama Zaratustra. Alexander (337-323 SM) dari Makedo-nia menjadi raja Yunani tahun 323 SM. Setelah dia meninggal dunia pada tahun 323 SM, wilayah luas yang telah berhasil ditaklukkannya terpecah belah menjadi beberapa kerajaan yang dipegang oleh para jenderalnya. Dinasti Ptolomeus menguasai Mesir dan Palestina. Dinasti Seleucos terbagi dua. Satu pihak menguasai wilayah belahan timur sampai Asia Tengah, berke-dudukan di Babilonia. Lain pihak menguasai Makedonia, Asia Kecil dan Syiria, berkedudukan di Antiokia.

 

Dinasti Ptolomeus mengkhawatirkan perkembangan pesat jumlah orang Yahudi, lalu memaksa sebagian besar mereka pindah ke Mesir. Terbentuklah koloni Yahudi terbesar di negara itu di luar Palestina. Sejak itulah Yahudi berbenturan langsung dengan kebudayaan dan filsafat Yunani.

 

Pada tahun 198 SM, dinasti Seleucos merampas Jerusalem beserta wilayah Palestina dari tangan dinasti Ptolomeus. Para penguasa baru itu terlalu mencampuri urusan keagamaan bangsa Yahudi dalam rangka memaksakan. Hellenisasi, yakni memaksakan kebudayaan Yunani kepada bangsa taklukan. Tindakan itu mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Antiochus IV Epipaphanes (175-163 SM) yang memaksakan patung dewa Zeus ditempatkan pada mezbah Bait Allah di Jerusalem dan mengadakan upacara korban babi pada mezbah itu. Pecahlah pemberontakan total bangsa Yahudi di bawah pimpinan Makkabe bersaudara. Kekuasaan Yunani tersingkir dan terbentuklah kekuasaan bangsa Yahudi kembali di bawah Dinasti Makkabe pada tahun 168-163 SM. Mereka membangun kembali Bait Allah yang runtuh dan rusak. Para penguasa baru itu sangat populer sekali. Karena di samping sebagai raja, Makkabe juga memangku jabatan Imam Besar. Dengan pemu-satan kekuasaan pada satu tangan secara turun-temurun, maka berlaku sikap yang ketat dalam pelaksanaan Hukum Taurat berdasarkan penafsiran-penafsiran yang terlalu sulit dari pihak Farisi maupun Saduki. Akhirnya masyarakat umum mulai memperlihatkan tantangan dan makin merasakan lebih senang berada di bawah kekuasaan asing. Karena menyadari bahwa kekuasaannya mendapatkan tantangan, dinasti Makkabe bukan merubah dan memperbaiki kebijaksanaan, tetapi justru semakin congkak dan angkuh serta berbuat sewenang-wenang. Akibatnya, kebencian umum makin meluas, dan bangsa Yahudi makin memperlihatkan tantangannya secara terus terang terhadap para penguasanya itu. Hal itu membukakan jalan bagi penaklukan Palestina oleh pihak imperium Romawi tahun 63 SM, setelah menaklukkan Afrika Utara dan Mesir.

 

Pihak Romawi ―menjelang kelahiran Yesus― kembali mengulangi kekeliruan para penguasa sebelumnya. Mereka membangun lambang rajawali dari emas pada gerbang besar Bait Allah. Hal itu membangkitkan kemarahan bangsa Yahudi, menimbulkan rangkaian pemberontakan dan kerusuhan yang terus-menerus. Dua orang keturunan Makkabe mengobarkan pemberontakan untuk menghancurkan lambang rajawali pada gerbang Bait Allah itu. Pihak Romawi tidak menganggapnya sebagai hasutan biasa, tetapi juga memandangnya sebagai penghinaan terhadap keagungan Romawi. Setelah melalui pertumpahan darah, pemberontakan itu dapat dipadamkan. Kedua pemimpinnya ditangkap dan dijatuhi hukuman bakar hidup-hidup. Tetapi tidak lama kemudian, pecah lagi kerusuhan dan pemberontakan. Roma bertindak dengan segala kekerasan. Sekitar dua ribu kaum pemberontak itu disalibkan pada jalan-jalan raya.

 

Walaupun sudah dikalahkan, semangat mereka tetap tinggi. Ketika pada tahun 6 M, kaisar Agustus memerintahkan pelak-sanaan sensus penduduk Yahudi untuk memudahkan pengum-pulan pajak. Membayar pajak kepada kaisar yang mengaku keturunan Tuhan sangat bertentangan dengan ajaran Taurat. Karena orang-orang Yahudi hanya mengakui satu raja, yakni Jehovah (Yahuwa – Allah), maka kerusuhan pun terjadi. Unsur-unsur (masyarakat) yang lebih moderat menyadari bahwa konflik tersebut akan berakibat kehancuran total bagi orang-orang Yahudi. Mereka mengajukan kompromi dan menyetujui pembayaran pajak untuk menyelamatkan rakyat dari pembu-nuhan massal. Para pemimpin yang “membeli” perdamaian dengan harga ini (berkompromi dengan Romawi) tidak disukai, dan dianggap sebagai pengkhianatan terhadap bangsa Yahudi. Situasi sosial pada masa sebelum dan menjelang kelahiran Yesus, bersama dengan peristiwa-peristiwa yang menyebabkan kematian Yahya telah disinggung di atas. Sekarang kita telah sampai pada titik dimana seluruh gerakan perlawanan terpusat di sekitar pribadi Yesus yang mendapatkan wahyu dari Tuhan.

 

Sebelum melakukan sesuatu, Yesus harus pergi selama 40 hari untuk hidup dan berdoa di alam bebas. Waktu itu dia berusia 30 tahun. Menurut adat Yahudi, anak laki-laki yang seusia itu sudah terlepas dari pengawasan ayahnya. Tidak seperti Yahya, Yesus mengajari mereka menentang bangsa Romawi tidak secara terang-terangan dan terbuka. Melainkan dia melakukan persiapan-persiapan dengan sangat hati-hati. Upaya pemberontakan di masa lalu telah berakhir dalam kehancuran, dan kematian Yahya masih segar dalam ingatan Yesus. Dengan sangat hati-hati, ia mulai mempersiapkan dan menggalang orang-orang Yahudi. Yesus tidak pernah membaptis seorang pun. Sebab hal ini bisa mengundang kecurigaan orang-orang Romawi, dan akan menjadi bumerang. Sebab dia tidak akan mampu membendung orang jahat yang menyusup ke dalam gerakan perlawanannya. Yesus mengangkat duabelas murid. Suatu jumlah tradisional yang mewakili duabelas suku Israel. Pada masa berikutnya, mereka mengangkat 70 pejuang untuk mengabdi di bawah komando mereka. Orang-orang Farisi selalu menjaga Am Al Arez (kekuatan tubuh) dan mereka hidup di desa-desa. Yesus mengambil mereka sebagai anggota kelom-poknya. Penduduk-penduduk desa, kebanyakan berasal dari komunitas Esenes, menjadi pengikut setia (Zealots) Yesus, dan siap mempertaruhkan jiwanya untuk membela ajaran Yesus. Mereka dikenal sebagai orang-orang fanatik. Menurut Bibel, paling tidak enam dari duabelas murid Yesus dikenal sebagai orang-orang fanatik. Yesus, yang telah diutus untuk membenar-kan dan bukannya menolak ajaran Musa, menyebar-kan seruan taurat: “Siapa saja yang menaati hukum (Taurat) dan menjaga perjanjian (dengan Jehovah), maka biarkan dia maju dan meng-ikutiku.” (Makkabe 2: 27-31). Sejumlah besar orang bergabung, tetapi mereka tetap bergerak secara diam-diam, dan peng-godogan mereka dilakukan di alam bebas. Mereka juga disebut Bar Yonim yang berarti anak-anak alam. Di antara mereka ada orang-orang yang telah belajar menggunakan pedang yang dikenal sebagai Sicari (ahli-ahli pedang). Pada perkembangan berikutnya, sejumlah laki-laki pilihan membentuk sejenis peng-awal, dan mereka dikenal sebagai Bar Yesus atau anak-anak Yesus. Sejumlah orang yang dikenal Bar Yesus disebut dalam sumber-sumber kesejahteraan, tetapi tirai misteri mengitari mereka dan tidak banyak yang diketahui tentang mereka. Hal ini bisa dipahami. Mereka berada pada lingkaran yang paling dekat dengan para pengikut Yesus, dan identitas mereka harus disembunyikan dari mata-mata Romawi.

 

Yesus memerintahkan kepada para pengikutnya: “Tetapi sekarang bagi siapa yang memiliki dana, biarkan ia mengambil-nya dan juga Injilnya, dan bagi siapa yang tidak memiliki pedang, perintahkan dia menjual pakaiannya dan membelinya.” (Lukas 22: 36). Jumlah pengikutnya semakin bertambah karena dia mendapatkan wahyu disertai mukjizat. Rangkaian akibat dari semua persiapan-persiapan ini menyebabkan pengganti Pilatus, Sossianus Hierocles, (sebagaimana yang dikutip oleh bapak gereja, Lectanius), mengatakan bahwa Yesus adalah seorang pemimpin kelompok perampok jalanan yang berjumlah 900 orang. Sebuah salinan dalam bahasa Yahudi zaman pertengahan yang merupakan suatu versi yang hilang dari tulisan Josephus juga melaporkan bahwa Yesus memiliki antara 2.000 sampai 4.000 pengikut bersenjata bersamanya.

 

Di dalam buku Dead Sea Scrolls, Edmund Wilson mengata-kan, Yesus sangat hati-hati untuk tidak menyimpang dari ajaran masyarakat Esenes. Catatan di dalam Manual of Dici-pline, naskah milik Esenes yang ditemukan itu, mirip dengan catatan yang terdapat dalam Injil dan Kisah Rasul. Selama melaksanakan misinya, Yesus tidak mengungkapkan secara keseluruhan ajarannya kepada semua pengikutnya. Kebenaran ajaran secara keseluruhan hanya diketahui sedikit orang dari pengikut-pengikutnya.

Saya mempunyai banyak hal yang akan kukatakan kepada-mu, tetapi kamu tidak mampu menanggungnya sekarang. Tetapi ketika dia ―Ruh kebenaran datang― dia akan membimbingmu ke dalam keseluruhan kebenaran, tetapi dia tidak akan berbicara atas (dasar) dirinya sendiri, tetapi apa saja yang ia dengar, maka pasti ia ucapkan (sampaikan). (Yahya 16: 12-14)

 

Yesus tidak mencari kekuasaan duniawi baik sebagai penguasa negeri, maupun kekuasaan di lingkungan Rabi Farisi dan Saduki. Tetapi kemasyhurannya di kalangan rakyat dan besarnya jumlah pengikutnya telah menyebabkan orang-orang Romawi dan Rabi-rabi Yahudi yang mendukung Romawi takut bahwa Yesus ingin menjadi Raja Yahudi. Hal itu jelas merupa-kan ancaman bagi posisi kekuasaan mereka dan mendorong mereka berusaha melenyapkannya.

 

Misi Yesus semata-mata menetapkan peribadatan kepada Sang Pencipta dengan cara yang telah dia tentukan. Dia dan para pengikutnya telah dipersiapkan untuk memerangi siapa saja yang menghalangi mereka untuk hidup sesuai dengan perintah Tuhannya.

 

Pertempuran pertama terjadi melawan orang-orang Yahudi yang setia kepada orang-orang Romawi. Pertempuran yang dipimpin oleh Bar Yesus Barabbas ini benar-benar meruntuh-kan moral kelompok Yahudi ini (yang setia kepada orang-orang Romawi), karena pemimpin mereka terbunuh dalam pertempur-an tersebut. Tetapi Bar Yesus Barabbas ditangkap oleh tentara Romawi.

 

Sasaran berikutnya adalah Bait Allah itu sendiri. Romawi mempersiapkan pasukan untuk menjaga keamanan perayaan tahunan pesta Paskah yang sudah semakin dekat. Tentara Romawi yang pada saat itu selalu mencari gara-gara, semakin memperketat penjagaan untuk membantu polisi kuil yang menjaga tempat suci itu. Cara memasuki kuil yang dilakukan Yesus telah direncanakan dengan sangat rapi, sehingga tentara-tentara Romawi benar-benar terkejut, dan Yesus berhasil menguasai kuil. Peristiwa ini dikenal sebagai Pembersihan Kuil. Injil Yahya menggambarkan peristiwa tersebut sebagai berikut:

Di Bait Allah, Yesus menemukan orang-orang yang menjual sapi, domba, dan burung dara. Dan mereka melakukan perdagangan penukaran uang. Dan (dengan memakai) cemeti, dia (Yesus) mengusir mereka semua bersama-sama domba-domba dan sapinya keluar dari Bait Allah, dan menghancurkan kepingan-kepingan para pedagang uang dan memporakporandakan meja-meja mereka. (Yahya 2: 14-15)

 

Mengenai penafsiran ayat ini, terutama pengertian kata “cemeti”, Joel Charmichael dalam tulisannya yang berjudul The Death of Jesus mengatakan:

“Para pengikut Yesus pasti menggunakan kekerasan dan menjelmakan suara nurani massa hingga mendapatkan dukung-an dari massa tersebut. Jika kita membayangkan luas Bait Allah yang terkenal megah dan agung itu, puluhan ribu peziarah yang membanjiri Bait itu, para pelayan Bait Allah, pasukan keamanan dan tentara Romawi, begitu juga reaksi langsung para pedagang uang, maka kita dapat mengetahui bahwa mengambil alihan Bait itu pasti lebih menggemparkan. Peristiwa sebenarnya dibalik penggalan cerita yang disampaikan oleh keempat Injil pasti jauh berbeda. Penulis Injil itu sengaja memperlunak dan memberikan ciri kerohanian pada peristiwa yang sebenarnya.”

 

Salah satu pelajaran yang diketahui oleh setiap pejuang kemerdekaan adalah bahwa polisi setempat bersimpati kepada para patriot dan bukan kepada para tentara penjajah. Hal ini pasti telah memainkan peranan penting dalam kejatuhan total dari pertahanan Bait Allah.

 

Romawi telah menderita kekalahan lokal, tetapi kekuatan utama mereka tidak hancur. Mereka meminta bantuan pasukan untuk menguasai Jerusalem. Pertahanan pintu gerbang Jerusalem bobol dalam beberapa hari saja. Pada akhirnya terbukti bahwa pasukan Romawi selalu kuat bagi para pejuang. Sehingga semua pengikut Yesus porak poranda. Bahkan para muridnya lari meninggalkan Yesus bersama segelintir pengikut-nya. Yesus bersembunyi dan tentara Romawi mengadakan pencarian secara intensif untuk menemukannya.

 

Penangkapan, pengadilan, dan penyaliban dilakukan secara membabi buta, sehingga banyak sekali kontradiksi dan kesalah-pahaman yang sulit sekali untuk mengungkap peristiwa yang sebenarnya. Kita mengetahui bahwa pemerintah Romawi memanfaatkan jasa sekelompok kecil orang-orang Yahudi yang memiliki kepentingan pribadi untuk mempertahankan kekuasa-an Romawi atas Jerusalem.

 

Judas Iskariot, seorang murid Yesus, terbujuk oleh janji hadiah 30 keping perak bagi siapa saja yang dapat menunjuk-kan persembunyian Yesus. Dalam rangka menghindari akibat yang lebih jauh, Romawi memutuskan untuk melakukan penangkapan di malam hari. Ketika sampai di tempat persem-bunyian Yesus, Judas diminta mencium Yesus, sehingga tentara Romawi bisa mengenalinya. Rencana tersebut salah langkah. Ketika tentara Romawi mengamati dari kegelapan, terjadilah keributan. Dua orang Yahudi (Judas dan Yesus) berpelukan dalam kegelapan dan tentara menangkap Judas, bukan menangkap Yesus. Oleh karena itu, Yesus berhasil meloloskan diri.

 

Paulus sendiri, yang kemudian mengembangkan ajaran tentang penyaliban Kristus sebagai penebus dosa, menyangsi-kan kebenaran penyaliban itu sebagaimana yang dikatakannya sebagai berikut:

“Maka kita ini memberitakan Kristus yang tersalib, yaitu suatu keraguan bagi orang Yahudi.” (I Korintus 1: 23)

 

Allah SWT juga menjelaskan di dalam Alqur’an yang berbunyi sebagai berikut:

“… Tetapi mereka tidak membunuhnya, dan tidak menyalib-nya, hanya seorang yang serupa dengannya yang mereka lihat.” (Qs. an-Nisa: 55)

 

Ketika tawanan itu dibawa ke depan Pilatus, seorang hakim di Jerusalem, terjadi perubahan dramatis dari peristiwa yang melegakan semua pihak. Sebagian besar orang Yahudi merasa gembira. Sebab dengan suatu mukjizat, pengkhianat itu sedang berdiri di tiang salib dan bukan Yesus. Orang Yahudi yang mendukung kekuasaan Romawi juga senang. Karena dengan kematian Judas, bukti kejahatan mereka akan lenyap. Lebih jauh lagi, karena Yesus secara resmi dinyatakan mati. Maka dia tidak bisa tampil secara terbuka yang bisa menyulitkan mereka.

 

Peranan yang dimainkan hakim Pontius Pilatus sulit ditentukan. Sebagaimana yang diceritakan oleh keempat Injil, ketidakpastian pendirian hakim itu, yaitu di satu sisi dia mengikuti keinginan para pemuka Yahudi, tetapi di sisi lain dia sangat simpati kepada Yesus, membuat kisah itu sangat sulit untuk dipercaya. Bisa jadi hal ini akibat dari usaha para penulis Injil untuk memutarbalikkan fakta agar bisa melemparkan tanggung jawabnya atas penyaliban tersebut kepada seluruh pemuka Yahudi. Sehingga membebaskan seluruh dosa bangsa Romawi atas kematian Yesus. Keempat Injil yang menceritakan kisah penangkapan dan penyaliban itu adalah hasil penyaring-an konsili (sidang) Nicea tahun 325 M yang langsung dipimpin oleh kaisar Constantine. Oleh karena itu, satu-satunya berita resmi yang boleh disiarkan tentang kehidupan Yesus, tidak boleh menyinggung dan menyudutkan imperium Romawi. Oleh karena itu, cerita aktifitas tentara Romawi dan perincian peristiwa penangkapan disamarkan sedemikian rupa, untuk menghindari kebangkitan dendam dan kemarahan terhadap penguasa Romawi.

 

Penjelasan lain berdasarkan kisah-kisah tradisional dalam dunia Kristen, bahwa Pontius Pilatus itu disuap oleh pihak Yahudi dengan sejumlah barang yang bernilai sekitar 30.000 poundsterling. Jika yang digambarkan oleh keempat Injil itu benar, maka jelas terbukti bahwa Pilatus benar-benar memiliki kepentingan pribadi dalam drama yang dimainkan di Jerusalem pada saat itu.

 

Ada juga bukti lain yang sangat penting. Pada kalender para Santo (orang-orang suci Kristen) di gereja Koptik Mesir dan Ethiopia, mencantumkan Pilatus dan istrinya sebagai orang suci dan memiliki hari yang dihormati. Hal itu baru mungkin, jika Pilatus mengetahui betul bahwa tentara Romawi telah salah tangkap, lalu dia menjatuhkan hukuman kepada Judas, bukan kepada Yesus serta membiarkan Yesus meloloskan diri.

 

Sementara itu, di kalangan Kristen sendiri masih menyang-sikan siapa sebenarnya yang di salib itu. Jemaat Korintus dan Basilidius, dua jemaat asing yang mengikuti Kristen, berpen-dapat bahwa yang di salib itu bukanlah Yesus atau pun Judas, melainkan Simon. Korintus hidup pada masa Petrus, Paulus, dan Yohanes. Jemaat Carpocratius yang juga termasuk jemaat asing periode pertama, membantah bahwa Yesus di salib. Mereka berpendapat bahwa yang di salib itu adalah murid Yesus yang wajahnya mirip dengan gurunya. Plotinus (205-270 M) menceritakan bahwa dia pernah membaca buku yang berjudul “Perjalanan para murid Yesus” yang mengisahkan kehidupan Petrus, Yohanes dan Andreas, Thomas dan Paulus. Di antara isi buku itu mengatakan bahwa Yesus tidak di salib, tetapi ada orang lain yang menggantikannya. Justru karena itu Yesus menertawakan orang-orang yang menyatakan dan mempercayai bahwa Yesus telah di salib. Walaupun sudah diketahui bahwa Yesus tidak di salib, berbagai sumber memberikan keterangan yang sangat berbeda mengenai siapa sebenarnya yang di salib itu. Sebagian orang sulit mempercayai semua cerita tersebut:

Jika seseorang membayangkan bahwa daftar kekejaman yang dianggap bersumber dari ketentaraan Romawi, maka hampir semua peristiwa tersebut berkali-kali diulang-ulang secara kata demi kata pada kalimat tertentu di Perjanjian Lama… maka seseorang akan curiga bahwa keseluruhan episode tersebut semata-mata merupakan rekaan belaka.

 

Tidak terdapat catatan sejarah lainnya yang didapatkan tentang apa yang telah terjadi terhadap Yesus setelah Penyaliban tersebut, selain catatan pada Injil Barnabas dan Alqur’an. Kedua sumber ini menggambarkan peristiwa yang secara umum dikenal sebagai kenaikan (ascension) di empat Injil yang diakui, dimana Yesus diangkat (ke atas langit) dari dunia ini.

 

Keesaan Tuhan dalam Agama Kristen

Riset sejarah telah menunjukkan bahwa animisme dan pemujaan berhala yang dilakukan oleh manusia primitif, me-rupakan kemunduran dari keyakinan kepada keesaan Tuhan. Percaya kepada Allah yang Maha Esa dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam adalah lawan bagi polytheisme, dan bukan sebagai evolusi dari polytheisme. Justru ajaran murni mono-theisme tumbuh pada masa permulaan manusia. Kemudian karena pengaruh dari tradisi tertentu, terjadilah penyimpangan yang mengakibatkan manusia terperosok dalam ajaran poly-theisme. Atas dasar pandangan itulah sejarah agama Kristen harus ditinjau. Ia berawal dari keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa secara murni, kemudian terjadi penyimpangan, lalu doktrin Trinitas diterima sebagai keyakinan resmi yang disahkan pada Konsili Nicea tahun 325 Masehi. Akibatnya, terjadilah kesimpangsiuran pemikiran tentang doktrin itu, yang pada akhirnya membuat orang semakin jauh dari pikiran sehat.

 

Pada abad pertama sepeninggal Yesus, para murid Yesus masih tetap mempertahankan ajaran Tauhid secara murni. Hal ini dapat dibuktikan dalam naskah The Shepherd (Gembala) karya Hermas, yang ditulis sekitar tahun 90 Masehi. Menurut gereja, naskah itu termasuk kitab kanonik (yang dianggap suci). Di antara isi dari naskah Shepherd itu berbunyi:

“Pertama, percayalah bahwa Allah itu Esa. Dialah yang menciptakan dan mengatur segalanya. Dia menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Dia meliputi segala sesuatu, tetapi Dia tidak diliputi oleh apa pun…”

 

Menurut Theodore Zahn ―sebagaimana yang dikutip oleh E.J. Goodspeed di dalam The Apostolic Fathers― menjelaskan bahwa sampai sekitar tahun 250 M, kalimat keimanan itu masih berbunyi:

“Saya percaya kepada Allah yang Maha Kuasa.”


Antara tahun 180 M sampai dengan tahun 210 M, ada yang menambah kata “Bapa” di depan kata “Yang Maha Kuasa”. Tindakan ini dikecam keras oleh beberapa tokoh gereja. Uskup Victor dan Zephysius mengutuk penambahan kata tersebut. Mereka memandangnya sebagai perbuatan keji yang mencemari kemurnian kitab suci, dan menentang pendapat yang mengata-kan bahwa Yesus itu adalah oknum Tuhan. Dan mereka menekankan bahwa Keesaan Tuhan sebagaimana yang diajar-kan oleh Yesus. Serta menegaskan bahwa Yesus itu adalah seorang nabi Allah yang mendapatkan derajat tinggi di sisi Allah, sebagaimana para nabi lainnya. Keyakinan serupa juga dipegang teguh oleh penganut gereja-gereja yang tumbuh di Afrika Utara dan Asia Barat.

 

Ketika ajaran Yesus yang murni tersebar luas, ia ber-benturan dengan berbagai kebudayaan dan harus menghadapi konflik dengan kaisar Romawi yang mempertahankan pemujaan kepada dewa-dewa dan mengaku sebagai anak dewa. Agama ini juga berasimilasi dan menyesuaikan diri dengan berbagai kebudayaan masyarakat tempat ia berkembang, juga mengalami perubahan mendasar untuk menghindarkan diri dari penindas-an para penguasa. Terutama di negara Yunani, ia mengalami metamorfosa akibat dari dua faktor. Pertama, karena agama ini diajarkan dan diungkapkan dalam bahasa baru. Kedua, karena ajarannya disesuaikan dengan filsafat dan kebudayaan Yunani. Kepercayaan polytheisme yang mewarnai kehidupan masyarakat Yunani memberikan sumbangan besar bagi perumusan doktrin Trinitas, dengan mengangkat kedudukan Yesus dari seorang nabi menjadi Tuhan. Paulus (Saulus) dari Tarsus memiliki andil yang paling besar dalam perumusan doktrin Trinitas ini.

 

Pada tahun 325 M, doktrin Trinitas diresmikan sebagai keyakinan agama Kristen. Bahkan sebagian besar tokoh gereja yang terpaksa menandatangani kredo (syahadah) itu tidak mempercayainya. Karena kredo itu sama sekali tidak berdasar-kan pada kitab suci Kristen.

 

Athanasius (293-373 M) yang dipandang sebagai bapak kredo yang diresmikan pada Konsili Nicea itu tidak memper-cayainya. Bahkan sebaliknya, dia mengatakan bahwa:

“Setiap berusaha memaksakan diri untuk memahami dan merenungkan konsep ketuhanan Yesus, ia merasa keberatan dan sia-sia. Hingga semakin banyak dia menulis untuk mengungkap-kan konsep itu, ternyata ia tak mampu memahami jalan pikiran-nya sendiri. Akhirnya, dia mengambil kesimpulan bahwa Tuhan itu bukanlah tiga oknum, melainkan hanya satu. Kepercayaan kepada doktrin Trinitas itu sebenarnya bukanlah suatu keyakin-an, melainkan hanya disebabkan oleh kepentingan politik dan penyesuaian keadaan di waktu itu.”

 

Keputusan Konsili Nicea yang sangat bersejarah itu lebih banyak berdasarkan kepentingan politik serta pengaruh filsafat Yunani yang berkembang di saat itu. Terutama pengaruh ajaran filsafat Trinitas dari Neo-platonisme yang dikembangkan oleh Plotinus (205-270 M) di Alexandria (Iskandaria) dan Athana-sius sendiri yang menjabat uskup di Alexandria.

 

Sebagai bukti bahwa keputusan itu bertendensi pada kepentingan politik adalah dalam catatan sejarah. Para pemeluk agama Kristen dan pemeluk agama Yahudi selalu dikejar-kejar dan disiksa selama pemerintahan kaisar Diolektianus (284-305 M). kemudian kaisar Constantine yang pada asalnya beragama paganisme (menyembah banyak dewa) menyatakan keinginan-nya untuk memeluk agama Kristen, dan langsung memegang kendali Konsili Nicea tahun 325 yang dihadiri oleh seluruh uskup yang berada di wilayah kekuasaan imperium Romawi.


Munculnya beberapa sekte dalam agama Kristen pada waktu itu menimbulkan tantangan dan kekhawatiran yang dapat mengacaukan serta melemahkan kekuasaan Romawi. Sebaliknya, dukungan mereka akan memperkuat kekuasaan-nya. Dengan membuat Kristen model baru, dia berharap dapat diterima oleh semua golongan yang berada di wilayah kekua-sannya, dan dapat menghentikan kekacauan yang melanda agama Kristen itu sendiri. Dengan demikian, dapat diperoleh kekuatan yang utuh untuk meningkatkan kekuasaan imperium-nya.

 

Peristiwa ini dapat digambarkan dengan peristiwa yang terjadi ketika Perang Dunia kedua meletus. Ketika hari raya Idul Fitri semakin dekat, Tokyo (Jepang) menyiarkan terus menerus bahwa pelaksanaan Idul Fitri akan dipusatkan di Singapura (yang berada di dalam kekuasaannya). Akibat dari siaran itu, amat dirasakan oleh ummat Islam seluruh dunia. Tetapi siaran itu tiba-tiba berhenti dan menjadi misteri dalam waktu yang cukup lama. Teka-teki itu baru terungkap setelah seorang tawanan Jepang diinterogasi. Tawanan itu menyatakan bahwa Perdana Menteri Tojo ingin menjadi pembaru terbesar di zaman modern.

 

Ia menghendaki penyesuaian ajaran Islam dengan tuntutan zaman baru, dengan mengubah arah kiblat ummat Islam (yang asalnya menghadap ke Ka’bah di Makkah diganti dengan kiblat di Tokyo di bawah kekuasaan Tojo). Karena ummat Islam meno-lak niat busuk itu, harapan Tojo terhenti. Akibatnya, perayaan Idul Fitri di Singapura dilarang oleh pemerintah Jepang. Perdana Menteri Tojo mengetahui potensi ummat Islam yang sangat besar yang mungkin bisa diperalat untuk mengem-bangkan sayap kekuasaannya, tetapi ia tidak berhasil. Sebalik-nya, kaisar Constantine berhasil menyulap kota Roma menjadi Jerusalem kedua sebagai pusat Gereja Paulus (Pauline Christianity).

 

Perubahan mendasar yang dialami oleh agama Yesus itu ―yang mengakibatkan doktrin Trinitas masuk dalam agama Kristen― mendapatkan tantangan keras dari pengikutnya. Di dalam Konsili Nicea tahun 325 M ―di saat doktrin Trinitas diusulkan untuk menjadi keyakinan resmi di dalam agama Kristen, Arius (wafat 337 M) ―salah seorang tokoh gereja di Afrika Utara dan kemudian menjadi uskup di Constantinople― menentang habis-habisan doktrin Trinitas itu. Dia memper-ingatkan bahwa Yesus hanya mengajarkan keesaan Tuhan.

 

Dengan kekuatan militer dan kekerasan, Constantine berusaha menumpas sekte-sekte gereja yang mempertahankan ajaran Tauhid (Divine Unity). Tetapi sejarah telah mencatat bahwa makar kaisar itu kandas. Bahkan sebaliknya, Constan-tine berbalik menjadi Unitarian (orang yang bertauhid) dan meresmikan ajaran tauhid menjadi keyakinan resmi agama Kristen. Akibatnya, Athanasius (293-373 M) ―seorang uskup Alexandria yang berperan dalam perumusan doktrin Trinitas― melarikan diri dan bersembunyi selama Constantine berkuasa. Kaisar ini membebaskan Arius dari penjara bawah tanah di pulau kecil selat Bolpurus dan mengembalikan kedudukannya sebagai uskup di Constantinople. Kaisar Constantine wafat dengan membawa keyakinan Tauhid pada tahun 336 M.

 

Pada masa pemerintahan kaisar Thedosius (379-392 M), doktrin Trinitas diresmikan kembali menjadi keyakinan bagi agama Kristen, menggantikan konsep Tauhid.

 

Doktrin itu menimbulkan kebingungan yang sangat besar di kalangan tokoh-tokoh gereja. Sehingga ummat Kristen meneri-ma begitu saja tanpa berusaha untuk memahaminya. Tetapi bagaimanapun juga, doktrin itu tidak bisa menghentikan akal manusia untuk memikirkan dan membuktikan kesalahan doktrin aneh itu. Sehingga muncul tiga aliran pemikiran. Pertama, aliran St. Augustinus (354-430 M) berpendapat bahwa doktrin Trinitas itu tidak dapat dibuktikan tetapi bisa diberi perumpamaan. Kedua, aliran St. Victor III (wafat 1087 M) ber-pendapat bahwa doktrin Trinitas itu bisa dibuktikan dan juga bisa ditamsilkan. Tetapi sejak abad ke-14, lahir aliran ketiga yang berpendirian bahwa doktrin itu tidak bisa dibuktikan dan tidak bisa ditamsilkan. Tetapi harus diterima dan diyakini begitu saja.

 

Walaupun buku-buku yang berisi ajaran-ajaran Yesus sudah dimusnahkan atau diubah untuk menghindari perten-tangan tajam dengan doktrin Konsili Nicea, tetapi sebagian besar ajarannya masih dapat dijumpai sampai kini, dan meru-pakan tantangan besar bagi doktrin Trinitas. Oleh karena itu, setiap orang harus berhadapan dengan apa yang diucapkan oleh kitab suci Kristen dan apa yang diucapkan oleh para pendeta dan pastur gereja.

 

Mereka menegaskan bahwa doktrin Trinitas itu berdasar-kan kepada wahyu khusus yang diturunkan kepada gereja yang disebut “Bride of Jesus” (Pengantin Yesus). Sebagai contoh, Theodore Zahn dalam Articles of the Apostolic Creed halaman 33-37, Fla Fulgentio ditegur oleh Paus melalui surat yang berbunyi:

“Mengajarkan kitab suci itu perkara yang mencurigakan. Orang yang terlalu berpegang pada kitab suci itu akan menjatuhkan keyakinan yang umum.”

 

Lebih jauh lagi di dalam surat berikutnya, pihak Paus lebih berterus-terang memperingatkan bahaya orang yang memegangi kitab yang terpandang suci itu dengan mengatakan:

“…itulah yang disebut kitab suci. Bila orang berpegang teguh kepadanya, niscaya akan menghancurkan gereja Katholik.”

 

Cara yang paling efektif untuk menyingkirkan ajaran Yesus adalah dengan mengaburkan sebagian besar fakta sejarahnya secara sempurna. Gereja tidak hanya melepaskan agamanya dari kitab sucinya, tetapi juga melepaskan kehidupan Yesus yang sebenarnya sepanjang sejarah. Dengan demikian, mereka membuat manusia Yesus disamarkan menjadi Kristus sepan-jang mitologi.

 

Bagaimanapun juga, beriman kepada Yesus bukan berarti harus beriman kepada Kristus yang dibangkitkan. Tetapi Gereja Paulus (Pauline Christianity) mendasarkan keimanannya kepada Kristus yang di salib, mati, kemudian hidup dan bangkit kembali, lalu duduk bersemayam di sebelah kanan Tuhan Allah. Tetapi ajaran Yesus sewaktu masih hidup itu tidak lagi menempati kedudukan yang demikian penting.

 

Ketika gereja yang sudah mantap itu makin lama semakin menjauh dari ajaran Yesus, maka para pemukanya makin ter-libat dari ketergantungan kepada pihak-pihak yang memegang tampuk kekuasaan di dalam negeri. Lantas perbedaan antara apa yang diajarkan Yesus dengan apa yang diinginkan pihak penguasa makin kabur dan saling mencemari. Pihak gereja sendiri ―yang menegaskan pemisahannya dari negara― ternyata makin terlibat dan bersatu dengan negara, semakin lama tambah berkuasa. Di awal berdirinya, gereja menjadi subyek bagi kekuasaan imperium. Tapi setelah berkompromi sepenuhnya, kemudian berbalik menjadi oposisi.

 

Dalam sejarah dunia Kristen yang panjang itu, tetap saja ada tantangan terhadap penyimpangan dari ajaran Yesus. Ketika pihak gereja semakin berkuasa, dan tantangan terhadap doktrin Trinitas itu merajalela, pihak gereja menangkap, menyiksa, dan menjatuhkan hukuman mati kepada para penen-tang doktrin Trinitas. Walaupun Martin Luther (1483-1546 M) melakukan tantangan terhadap gereja Roma Katholik, tetapi pemberontakannya itu hanya tertuju kepada wewenang Paus di Vatikan. Bukan tertuju terhadap doktrin-doktrin yang paling fundamental di dalam gereja Roma Katholik. Akibatnya, dia membangun gereja baru dan dia sendiri yang menjadi pemuka-nya. Sedangkan doktrin-doktrin yang paling asasi, masih tetap diterima dan tetap menjadi dasar keimanan. Tindakan Martin Luther ini melahirkan gereja-gereja reformasi (Protestan) beserta sekte-sektenya. Tetapi pokok-pokok keimanan sebelum reformasi masih tetap dipegangi. Kedua lembaga gereja (Katholik dan Protestan) yang berdasarkan ajaran Paulus (Pauline Church) itu terus hidup sampai kini.

 

Tetapi di wilayah Afrika Utara dan Asia Barat, walaupun penguasa Roma setelah Konsili Nicea melakukan tindakan-tindakan represif, namun ajaran uskup Arius masih dipertahan-kan. Dan sejarah telah mencatat bahwa sejak pertengahan abad ke-7 Masehi, mereka itulah yang ramai-ramai memeluk ajaran agama Islam di luar wilayah Arabia. Hal itu disebabkan mereka berpegang kepada ajaran Tauhid sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus. Sehingga mereka mengakui agama Islam sebagai satu-satunya agama yang membawa kebenaran. Sebelumnya, mereka itu dikenal sebagai Kristen aliran Nestoria yang mengikuti uskup Nestorius (wafat 451 M) sebagai penerus ajaran Arius (wafat 337 M). Nestorius dijatuhi kutukan oleh Konsili Ephesus tahun 431 M dan meninggal dengan penuh sengsara di pembuangannya, Mesir.

 

Di Eropa sendiri, mata rantai ajaran Tauhid (Unitary Faith) di lingkungan dunia Kristen tidaklah pernah putus. Bahkan dari waktu ke waktu menunjukkan kekuatan, walaupun mengalami siksaan kejam dari gereja. Bahkan di awal abad ke-20 sampai kini, semakin bertambah kuat dan tersebar di Eropa maupun di Amerika.

 

Lama kelamaan orang bertambah sadar bahwa agama Kristen yang mereka kenali selama ini sedikit sekali sangkut-pautnya dengan ajaran Yesus yang asli. Dalam dua abad terakhir ini, yakni abad ke-19 dan abad ke-20, riset yang dilakukan ahli-ahli sejarah semakin memojokkan dasar-dasar keyakinan Kristen. Mereka menyebut doktrin Kristen dengan istilah “Divine Mysteries”, yakni “misteri ketuhanan” yang harus diimani dan dipercayai begitu saja. Banyak fakta yang dapat membuktikan bahwa Kristus dalam ajaran gereja hampir tidak ada sangkut-pautnya dengan Yesus sepanang sejarah. Oleh karena itu, gereja tidak akan dapat membawa manusia ke arah kebenaran. Dilema yang dihadapi dunia Kristen dewasa ini dilukiskan oleh ahli-ahli sejarah gereja di dalam karya-karyanya di abad ini. Adolf Harnack di dalam karyanya yang berjudul “Outline of the History of Dogma” menunjukkan kesulitan fundamental dalam menghubungkan kehidupan Yesus dengan agama Kristen dengan kalimat sebagai berikut:

“By the fourth century the living Gospel had been masked in Greek philosophy. It was the historians’ mission on pluck off the mask and thus reveal how different had been the original contours of the faith beneath.”

“Pada abad ke-4 M, Injil itu sudah ditopengi dengan filsafat Yunani. Adalah tugas bagi ahli sejarah untuk menyingkirkan topeng itu agar tampak jelas betapa jauh perbedaan ajaran asli tentang keimanan yang tertutup oleh topeng itu.”

 

Selanjutnya, Adolf Harnack menulis:

“The mask acquire a life of its own ―the Trinity, the two natures of Christ, infallibility, and all propositions seconding these dogmas, were the product of historic decisions and of situations that might have turned out quite differently… nevertheless… early or late, product or reshaping force, this dogma remains what it has been from the beginning, a bad habit of intellectualization with the Christian picked up from the Greek when he fled from the Jews”.

“Topeng itu telah memperoleh kehidupannya sendiri, yakni Trinitas, dua watak Kristus, tak pernah salah, dan seluruh pernyataan yang menyertai dogma-dogma ini, yang seluruhnya adalah hasil dari keputusan-keputusan bersejarah, beserta produk dari situasi yang muncul secara amat berbeda sekali… walaupun begitu… pada awal atau pun di kemudian hari, dogma ini tetap menurut keadaannya semula. Hal ini disebabkan oleh kekuatan yang membentuknya dari kebiasaan jelek intelektual seorang Kristen (Paulus!) yang tercemari filsafat Yunani, ketika dia melarikan diri dari lingkungan Yahudi”.

 

Adolf Harnack di dalam buku lainnya berjudul What is Christianity pada halaman 20 menegaskan lagi sebagai berikut:

“… the fourth Gospel does not emanate or profess to emanate from the apostle John, who can not be taken as an historical authority… the author of the fourth Gospel acted with sovereign freedom, transposed events and put them in a strange light. He drew up the discussions himself and illustrated great thought with imaginary situations…”

“… Injil keempat (Injil Yohanes) bukanlah berasal atau menyatakan berasal dari Rasul Yohanes (Yahya), dan tak bisa dianggap sebagai yang berwenang dalam sejarah… pengarang Injil Yohanes itu dengan seenaknya telah mengganti cerita dan menempatkannya dalam alur yang aneh. Dia sendiri mengem-bangkan pembahasannya dan melukiskan pemikiran-pemikiran besar dengan berbagai situasi khayal…”

 

Adolf Harnack menunjukkan “kelainan” pada Injil Yohanes itu, dibanding dengan tiga Injil lainnya. Pembahasannya menunjukkan pemikiran filosofis yang demikian tinggi, yakni pemikiran filsafat Yunani. Justru Injil Yohanes tidak mungkin berasal dari murid Yesus yang bernama Yahya (Yohanes), seorang murid termuda di antara Duabelas Murid Yesus. Kalimat awal pada Injil Yohanes itulah menunjukkan doktrin Trinitas.

 

Adolf Harnack menunjukkan karya ahli sejarah Kristen terkenal, David Strauss, yang mengatakan:

“almost destroyed the historic credibility not only the fourth but also of the first three Gospels as well.”

“hampir saja menghancurkan kredibilitas sejarah, bukan hanya terhadap Injil Yohanes saja, tetapi juga terhadap ketiga Injil lainnya”.

 

Johannes Lehman di dalam tulisannya “The Jesus Re-port”, yang dimuat pada Krewz Verlag, Stuttgart, edisi 1960 halaman 112, menemukan kenyataan bahwa para penulis dari keempat Injil itu melukiskan Yesus yang sangat berbeda dari Yesus yang dapat dikenali sepanjang kenyataan sejarah. Lehman mengutip keterangan Heinz Zahrnt yang menunjukkan beberapa akibat dari hal tersebut sebagai berikut:

“If historical research could prove that and irreconcilable antithesis exists between the historical Jesus and Christ as preached, and therefore that belief in Jesus has no support in Jesus himself, that would not only be absolutely fatal theologi-cally, as N.A. Dahl says, but would also mean the end of all Christology. Yet I am convinced that even then we theologians would be able to find a way out ―was there ever a time when we couldn’t? ―but we are either lying now or would be lying then…”

“Jika riset sejarah mampu membuktikan bahwa pertentangan antara Yesus dalam sejarah dengan Kristus yang diajarkan dapat didamaikan, hingga kepercayaan kepada Yesus itu sudah tidak berdasarkan bantuan Yesus sendiri, maka hal tersebut secara mutlak bukan hanya kefatalan teologi, seperti dinyatakan N.A. Dahl, tetapi juga bermakna akhir bagi seluruh Kristologi. Namun saya yakin bahwa seandainya ahli-ahli teologi mampu mencarikan jalan keluar ―adakah waktu di saat kita tidak mampu berbuat apa-apa? ―tapi kita tak mau menghadapi salah satu sikap, berbohong sekarang atau nanti…”

 

Petikan singkat tersebut menunjukkan dilema yang dihadapi oleh dunia Kristen sekarang ini. Bahkan tulisan Heinz Zahrnt menunjukkan lebih serius lagi, yang menggarisbawahi tentang kemungkinan meneliti kembali dan membandingkan ajaran Yesus dengan ajaran gereja beserta sekte-sektenya, dan sejauhmana ajaran asli Yesus telah digelapkan dan dilupakan.

 

Theodore Zahn di dalam “Apostolic Creed” telah melukiskan pertentangan pahit di kalangan gereja sendiri. Dia menunjukkan bagaimana gereja Katholik Romawi menuduh gereja Ortodok Yunani melakukan berbagai perubahan teks kitab suci dengan cara menambah dan mengurangi, dengan maksud baik atau pun jelek. Sebaliknya, gereja Ortodok Yunani menuduh gereja Katholik Romawi semakin menyimpang dari teks asli kitab suci. Walaupun terdapat perbedaan pendapat yang sangat tajam antara kedua lembaga gereja itu, tetapi keduanya bergabung dalam menuduh pihak-pihak non-conformis di lingkungan Kristen sebagai kelompok yang tersesat dari jalan kebenaran, serta mengutuk mereka sebagai kaum bidat (bid’ah). Sebaliknya, pihak non-conformis menuduh gereja Katholik telah memalsu kebenaran, seperti seorang pemalsu mata uang. Akhirnya Theodore Zahn mengambil kesimpulan yang berbunyi:

“Do not facts support these accusations?”

“Bukankah fakta-fakta itu mendukung tuduhan-tuduhan tersebut?”

 

Yesus sendiri sudah dilupakan sepenuhnya. Mereka yang menyadari penyimpangan dan ingin kembali kepada kejujuran, serta ingin mengikuti ajaran asli dari Yesus, akan terbendung oleh tembok tebal lenyapnya ajaran asli itu.

 

Erasmus (1466-1536 M) di dalam Erasmi Epistolai jilid V halaman 173-192 mengatakan sebagai berikut:

“Ketika keimanan itu menjadi bahan tulisan, bukan lagi bahan nurani, maka model keimanan itu sebanyak orang yang menulisnya. Rumusan-rumusan meningkat dan kejujuran me-nurun. Pertentangan semakin meruncing dan cinta kasih semakin dingin. Pada mulanya ajaran Kristus tidak mengenal pertentang-an itu. Dan kini masing-masing pihak saling bersandar pada filsafat. Itulah permulaan kemunduran gereja.”

 

Ternyata pihak gereja terpaksa menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata, yakni menjelaskannya dengan kekerasan. Masing-masing pihak berusaha merangkul kaisar Romawi untuk memukul pihak lawannya. Erasmus menjelas-kannya sebagai berikut:

“Tindakan kaisar dalam peristiwa ini sama sekali bukan membantu kepada kejujuran keimanan. Pada saat keimanan itu hanya di mulut, bukan di hati, pada saat pengetahuan yang pasti tentang kitab suci itu telah samar dan gagal, apalagi disertai dengan tindakan-tindakan kejam, maka kita telah menuntun orang untuk mempercayai apa yang tidak dipercayainya, mencintai apa yang tidak dicintainya, mengetahui apa yang tidak diketahuinya. Setiap yang dipaksakan itu tidak mencerminkan kejujuran.”

 

Erasmus mengetahui bahwa orang Kristen periode pertama, yakni para murid Yesus, hanya mengenal ajaran tauhid. Tetapi ketika agama itu meluas, ia berbenturan dengan berbagai aliran pikiran dan filsafat, yang mengakibatkan terjadinya variasi pemahaman. Lambat laun ajaran Yesus pudar dan makna “Keesaan Tuhan” berubah dan bervariasi. Untuk memahami masalah keesaan, mereka berangkat dari bahasa filsafat Yunani, sehingga tidak bisa menunjukkan pengertian keesaan yang sebenarnya. Bahkan berubah menjadi “esa dari tiga perwujudan” (Tripartite view of existence). Ajaran sederhana dan murni dari Yesus dikembangkan oleh bahasa yang asing bagi Yesus dan menuju kepada perumusan doktrin Trinitas, dengan memberikan sifat ketuhanan kepada Yesus dan Roh Kudus. Kekacauan dan perpecahan tidak dapat dihindarkan, yang kemudian mengakibatkan pengaburan dan perubahan makna tentang keesaan Tuhan.

 

Memahami kasus ini secara menyeluruh adalah hal yang sangat esensial bagi siapa saja yang ingin mengetahui siapa Yesus itu dan apa yang diajarkan. Pada saat orang sudah tidak melihat kehidupan sehari-hari seorang nabi, sebagai penjelma-an ajarannya, berarti mereka sudah kehilangan pegangan, baik yang percaya kepada doktrin Trinitas maupun yang berpegang pada Tauhid.

 

Senin, 21 April 2025

Rahasia Bibel (Alkitab) yang Terakhir

Ada penemuan arkeologi yang mengejutkan di abad ini, yakni harta karun naskah-naskah kitab suci yang memiliki rahasia kuno yang tersembunyi di padang Judea selama lebih kurang 2.000 tahun. Sejak penemuannya pada tahun 1947 oleh seorang gembala domba badui di gua Qumran, sekitar 10 mil sebelah timur Jerusalem, The Dead Sea Scrolls (Naskah Gulungan Laut Merah) menjadi bahan penelitian secara intensif, spekulatif dan kontroversi. Ia menjadi perhatian serius para sarjana Alkitab dan sejarawan, yang memberikan pandangan alami tentang Alkitab, dan menimbulkan pandangan baru tentang masa-masa pergolakan yang melahirkan agama Kristen dan Judaisme modern.

 

Tetapi selama empat dekade sejak penemuannya, banyak rahasia gulungan itu disembunyikan oleh kelompok kecil sarjana yang memegang hak eksklusif atas dokumen tersebut. Hampir separuh gulungan fragmen yang dianggap sebagai naskah Alkitab tertua itu, masih belum diterbitkan. Menurut para penelitinya, proses pemaduan, terjemahan dan analisa fragmen kuno ―sebagian naskah itu tidak lebih dari tulisan picisan― membutuhkan waktu lama. Tetapi bagi para sarjana Alkitab yang dilarang untuk menelitinya, mengeluh bahwa menunggu proses tersebut sungguh amat lama. Sudah bertahun-tahun mereka menuntut untuk mendapatkan hak penelitian atas gulungan itu. Namun usaha itu sia-sia dan “Ini adalah skandal akademis yang sangat istimewa,” kata Prof. Geza Vermes dari Oxford University.

 

Pada akhirnya mereka bisa merasa lega. Pekan yang lalu (September 1991), sebuah kejutan telah terjadi, karena lembaga penelitian perpustakaan swasta California yang menyimpan empat set fotografi koleksi the Dead Sea Scrolls, membuka kamar besinya dan mulai mengizinkan para sarjana yang berke-pentingan untuk menelitinya. “Sekarang waktunya menghenti-kan penyusutan kebebasan,” kata William A. Moffett, direktur Hunting on Library di San Marino. Setelah itu, yang sebelum-nya ada ancaman blokir penyebarluasan gulungan itu, Israeli Antiquities Authority membuat kejutan lain dengan mengu-mumkan pemberian hak bagi para sarjana untuk mendapatkan foto, serta mengadakan rapat para editor gulungan pada bulan Desember untuk merencanakan penyebaran foto itu. Terjadilah perkembangan baru, hanya dua pekan setelah Biblical Archaeology Society menyebarkan rekonstruksi komputer naskah gulungan yang belum pernah dipublikasikan, dilengkapi dengan konkordansi indeks kata dan letak teks atau ayatnya.

 

Sementara itu, ternyata salinan foto-foto asli yang tidak dipublikasikan, secara misterius dikirim melalui pos ke seluruh wilayah negeri itu. Sebagai contoh, salinan yang diperoleh Biblical Archaeology Review berisi ramalan akan datangnya sang Mesiah, ditemukan pada naskah Qumran itu.

 

Tindakan yang menimbulkan kemarahan para editor naskah yang telah membuka akses dokumen tersebut, akan membahayakan usaha penyimpanan yang cukup melelahkan itu. Prof. John Strugnell, mantan kepala editor gulungan Qumran mengatakan, bahwa penyebaran dari pihak yang tidak berwenang tersebut adalah pencurian dan akan berdampak bagi ilmu pengetahuan. Menurut Strugnell, sekarang para sarjana yang memperoleh foto itu akan mempublikasikan “beberapa lembar pemandangan yang amat mengesankan” dari fragmen gulungan Qumran yang menarik, tetapi “sebagian fragmen akan lolos dari publikasi.” Frank M. Cross, editor naskah gulungan dan pakar bahasa Ibrani dan bahasa Barat di Harvard Univer-sity, memperingatkan bahwa akses tanpa batas pada naskah gulungan itu akan “membongkar misteri yang aneh di sekitar Alkitab,” dan sebenarnya menjadi proses publikasi secara perlahan. Mungkin terdapat banyak kesimpangsiuran mengenai dokumen itu sampai sekarang.

 

Tetapi bagi mereka yang sudah lama dilarang melihat gulungan itu, dibukanya akses untuk meneliti fragmen tersebut merupakan berita yang sangat menggembirakan. “Saya sangat senang sekali,” kata James L. Crenshaw, pakar Perjanjian Lama di Divinity School of Duke University, yang mengharapkan dapat memakai naskah Gulungan Qumran dalam studinya tentang ramalan Perjanjian Lama dan tulisan-tulisan lainnya.

 

Apalagi jika penyebaran gulungan itu bisa sempurna, ia sendiri bisa mengakhiri kekacauan dan kontroversi yang menyelimuti dokumen tersebut sejak penemuannya. Di dalam gua Qumran, tempat menyembunyikan gulungan itu, terdapat sekitar 800 macam fragmen dokumen yang ditulis sekitar tahun 200 SM dan 50 SM. Naskah itu mungkin ditulis oleh sekte zuhud Yahudi yang dikenal dengan sebutan Esenes. Sekitar 127 dokumen adalah ayat-ayat Bibel (Alkitab), termasuk versi tertua kitab-kitab Perjanjian Lama, kecuali kitab Ester. Hampir seluruh naskah gulungan itu berbahasa Ibrani, sebagian lagi berbahasa Yunani atau Aram ―bahasa sehari-hari pada masa itu dan salah satunya dipakai oleh Yesus. Beberapa kitab memiliki 19 salinan yang berbeda, yang ditulis pada waktu yang berbeda dan oleh tangan yang berlainan pula. Gulungan lainnya adalah kitab suci apokripa (kitab yang dilarang dibaca oleh pemeluk Protestan) seperti kitab Tobit, Sirakh, dan Yobel (kitab terakhir ini apokrip bagi pemeluk Katholik dan Protestan), penafsiran Alkitab, tatacara peribadatan dan berdoa, ramalan, hymne, dan peraturan mengenai masalah kekuasaan.

 

Di saat gulungan ditemukan pada 11 tempat yang berbeda di Qumran antara tahun 1947 sampai 1956, peninggalan yang sangat berharga dan terbuka bagi umum itu, pada tahun 1952 dinyatakan tertutup dengan diberi tanda Qumran 4. Tempat itu mengandung ribuan fragmen, diantaranya semua naskah yang tidak dipublikasikan itu berasal dari Qumran 4.

 

Karena gulungan itu ditemukan di wilayah kekuasaan Yordania, pemerintah Yordan melakukan pengawasan ketat terhadap daerah itu, kecuali terhadap naskah yang pertama kali ditemukan, yang kemudian diterbitkan oleh salah seorang sarjana Israel dan dipajang untuk umum di perpustakaan Shrine Jerusalem sejak tahun 1965. Pemerintah Yordania menunjuk Roland de Vaux dari French Ecole Biblique untuk membentuk tim internasional yang memiliki hak eksklusif menerbitkan dokumen tersebut. De Vaux mengajak tujuh orang kolega terdekatnya untuk bekerja pada gulungan tersebut, serta mengadakan perjanjian kerjasama dengan Oxford University Press untuk menerbitkan hasil pekerjaan mereka. Pekerjaan pertama mereka pada tahun 1950-an berjalan dengan cepat. Tetapi pada tahun 1960-an pekerjaan itu tersendat-sendat. Walaupun sudah menerbitkan 20 jilid, mereka merasa hanya menyelesaikan separuh dari seluruh pekerjaannya.

 

Sejak perang enam hari (Six-Day war) tahun 1967, tempat gulungan Qumran itu berada di bawah pengawasan Israeli Antiquities Authority, saat itulah upaya penelitian berangsur-angsur diperlebar. Termasuk yang di bawah pengawasan Israel, pekerjaan itu rampung sekitar 80 persen. Di tahun belakangan ini, tim yang diperbanyak menjadi 40 sarjana itu “melangkah lebih cepat,” kata Eugene Ulrich dari Notre Dame University dan editor naskah Alkitab gulungan itu. Dia dan editor lainnya kadang-kadang mengizinkan pihak luar untuk ikut menelitinya. “Untuk apa menunda atau problem itu terus menghantui masa lalu? Dan sekarang pasti akan berlalu,” kata Ulrich. Tetapi pernyataan itu tidak memuaskan para sarjana lainnya. Beberapa kritikan dilontarkan bahwa editor sengaja menyembunyikan naskah gulungan yang bisa mengakibatkan kerusakan pandangan terhadap agama tradisional (Yahudi dan Kristen). Salah satu teori yang dikemukakan oleh Michael Baigent dan Richard Leigh dalam buku terbarunya yang ber-judul “The Dead Sea Scrolls Deception,” melancarkan tuduhan bahwa penundaan itu sebagai konspirasi Vatikan untuk menyembunyikan fakta bahwa warga masyarakat Qumran adalah pemeluk Kristen Pertama yang dipimpin oleh murid Yesus yang bernama James. Bahkan penulis buku itu, yang banyak merujuk tulisan Prof. Robert Eisenmen dari California State University, menyatakan, “Guru Kebenaran” masyarakat Qumran yang juga disebut dalam naskah Qumran lainnya adalah James, atau mungkin juga “Yesus”. Jika Qumran ―yang menekankan ajaran nabi Musa― itu benar-benar sebagai pemeluk Kristen Pertama, berarti tradisi Kristen yang sekarang kita temui sangat jauh menyimpang dari ajaran dan praktik Kristen yang asli. Dengan demikian, ia akan meruntuhkan otoritas gereja modern.

 

Pernyataan ini pada dasarnya menolak kesepakatan para sarjana. Editor gulungan, Ulrich, menolak bahwa rahasia yang sensitif ini disembunyikan sebagai naskah yang tidak dipublikasikan. Bahkan kritikan paling tajam dari tim gulung-an ―seperti Harshel Shank, editor Biblical Archaeology Review― menolak teori itu dan menyebutnya “omong kosong”. Hampir seluruh sarjana yang menerima penyebaran naksah gulungan yang tidak dipublikasikan itu membantah tuduhan konspirasi itu.

 

Bagaimana pun juga, pengungkapan naskah gulungan yang tersimpan dan siap dipublikasikan itu telah memberikan pengaruh dramatis dalam studi Bibel modern, dan akan mem-bawa pemahaman baru pada era misterius antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. “Kita sekarang benar-benar memiliki peninggalan pustaka yang berasal dari zaman Yohanes pembaptis dan Yesus. Ia menerangi periode krusial bagi Yahudi dan memancarkan cahaya baru pada Kristen Pertama,” kata Magen Broshi, kurator gulungan di Shrine of the Book Jerusalem. Dengan bantuan teks ini, yang umurnya 1.000 tahun lebih tua dari teks abad pertengahan yang dipakai sekarang, para sarjana telah menemukan perubahan yang membelalakkan mata dalam Bibel. “Secara keseluruhan, gulung-an itu cenderung mengkonfirmasi keabsahan kitab Perjanjian Lama yang melebihi harapan kebanyakan orang,” kata Don A. Carson dari Trinity Evangelical Divinity School di Deefield, III. Satu gulungan secara dramatis menunjukkan minimal satu kitab Perjanjian Lama telah berubah melalui abad-abad penyalinan. Naskah gulungan kitab Yesaya pasal 66 ―diantara-nya tersimpan lengkap di perpustakaan Qumran― ditemukan 13 perbedaan minor dari teks modern.

 

Beberapa koreksi kecil yang berdasarkan perbandingan dengan teks Qumran, tidak bisa dipertemukan dengan Alkitab edisi terakhir, seperti Alkitab Revised Standard Version yang diterbitkan setahun kemarin (1990). Di antara perbedaan substansial antara teks modern dengan teks yang ditemukan di Qumran, adalah kitab Yeremia dan Samuel, yang berisi beberapa paragraf yang sebelumnya tidak pernah ada. Seperti I Samuel pasal 11 mengisahkan raja Saul memimpin rakyatnya berperang melawan bangsa Amon. Tetapi teks Qumran menceritakan penindasan bangsa Israel oleh raja Amon, Nahas, yang tidak ditemukan dalam teks tradisional, Teks Qumran itu berbunyi:

“Ia akan mencungkil setiap mata kanan mereka dan tidak akan membiarkan pembebas Israel. Tidak ada orang Israel yang menyeberang Jordan, melainkan mata kanannya dicungkil oleh Nahas, raja Amon. Tetapi 7.000 orang yang telah melarikan diri…”

 

Di lain kasus, Teks Qumran yang tidak memiliki halaman-halaman yang bisa ditemukan dalam Alkitab sekarang, telah menimbulkan pertanyaan, apakah penulis Alkitab pertama menghilangkan bagian tertentu atau penulis terakhir yang menambahkannya. Sebagai contoh, kitab Yeremia pasal 9, naskah Qumran tidak memiliki kisah yang menceritakan bahwa Tuhan berbicara melalui nabi-Nya, mengutuk orang Israel yang tidak patuh kepada-Nya, dan menyatakan, “Sekarang Aku akan menyaring dan menguji mereka, sebab apa lagi yang bisa Aku lakukan terhadap ummatku yang penuh dosa.”

 

Kitab Perjanjian Lama yang paling modern berdasarkan salinan yang dikerjakan oleh para Masoret, yaitu kelompok penulis kitab suci Yahudi yang dikenal dengan ketelitian dan keakuratannya. Naskah tertua yang dimiliki oleh gereja adalah yang ditulis sekitar tahun 1005 M. Suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, beberapa naskah gulungan Qumran yang ber-bahasa Ibrani berbeda jauh dengan naskah Masoret. Sehingga melahirkan dilema lain bagi sarjana Bibel modern: Apakah para Masoret bukan penyalin yang teliti, ataukah teks Qumran menunjukkan sebagai versi Bibel Ibrani kedua yang terpisah dengan Bibel yang dipakai sekarang?

 

Rahasia yang paling menggoda untuk menyelamatkan warisan Qumran, mungkin juga menarik perhatian masyarakat Qumran itu sendiri ―misteri kontemporer apakah Yesus yang menulis gulungan-gulungan itu dan menyimpannya dalam gua, di saat pasukan Romawi mendekati tempat itu. Apakah ia di-tulis oleh orang yang suka damai, yaitu sekte Esenes yang zuhud dan hidup di sepanjang Laut Mati sejak abad pertama Masehi? Ataukah gulungan itu disembunyikan oleh anggota masyarakat Yahudi lainnya? Jika benar, perbedaan pandangan tentang gulungan akan mengungkapkan bahwa Judaisme diliputi oleh kekacauan intelektual.

 

Berdasarkan gulungan Qumran yang segera diterbitkan setelah ditemukan ―Gulungan Kuil, Buku Pelajaran dan Gulungan Mazmur yang mengajarkan kehidupan dan ketuhan-an― para sarjana membuat gambaran komunitas Hasidis Esenes yang berpegang teguh pada agama dan menunggu ke-datangan sang Mesiah. Tetapi tahun-tahun terakhir ini, sarjana lainnya menyatakan bahwa masyarakat Qumran tidak hanya sebagai sekte Yahudi yang mengisolir diri, tetapi juga sebagai masyarakat Kristen yang pertama. Skenario yang paling masuk akal dikemukakan oleh Prof. Vermes dari Oxford University dalam bukunya “The Dead Sea Scrolls: Qumran in Perspective,” dengan mengatakan bahwa Kristen dan Esenisme tumbuh dalam waktu yang sama, yakni pada periode Judaisme.

 

“Dugaan bahwa Esenes itu sebenarnya masyarakat gereja Kristen Pertama, seperti yang disebutkan oleh Baigent dan Leigh dalam buku barunya, sangat tidak masuk akal,” kata Vermes. “Karena, faktor waktu tidak sesuai, dua ideologi itu memiliki per-bedaan fundamental dan tak satu pun fragmen kitab Perjanjian Baru ditemukan di Qumran. Berarti, anggapan bahwa Kristen berkembang di kalangan masyarakat Esenes itu hanya berdasar-kan pada sebagian kecil persamaan dengan ritual Kristen Awal seperti pembaptisan dan pola pikiran. Tetapi karena Esenes adalah sekte yang sangat berpegang teguh pada ajaran Taurat Musa, menimbulkan problem bagi teori itu sendiri,” kata Vermes.

 

Pakar lain memberikan pandangan bahwa Gulungan Laut Mati tidak ada hubungan dengan Esenes. Dokumen itu diselun-dupkan dari Jerusalem sebelum tentara Romawi menyerang kota itu pada tahun 67 M. Norman Golb dari University of Chicago’s Oriental Institute dan pendukung pandangan itu menyatakan, bahwa ide dan model tulisan teks Qumran “sangat bervariasi dan kadangkala bertentangan, yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh satu sekte kecil.”

 

Sebagai contoh, Kitab Kejadian Apocripon ―versi lain kitab Kejadian― sama sekali tidak menunjukkan ide Esenes. Teks lainnya yang dinamai Gulungan MMT mencantumkan 20 alasan mengapa sebuah kelompok menjauhi Kuil di Jerusalem dan praktik peribadatannya. Dari 20 poin, hanya dua yang bisa dihubungkan dengan kepercayaan Esenes. Tetapi gulungan yang seluruh isinya mencela Esenes itu adalah Gulungan Copper, peta harta karun yang menjelaskan kekayaan yang terpendam di padang Judea. “Tipe harta karun dan penjelasan dokumen pada gulungan itu kemungkinan besar berasal dari kota, bukan dari sekte yang mengisolir diri dan menolak kekayaan harta,” kata Golb.

 

Jika keterangan Golb ini benar, perbedaan literatur Qumran yang menggambarkan kultur Yahudi abad pertama me-nunjukkan bahwa semangat imajinatif dan perjuangan spiritual sebagai kekuatan agama mulai tersingkir dari pengkhotbah melalui intelektual sistem Rabi (imam Yahudi). Golb menambah-kan, “Gulungan itu mengatakan kepada kita bahwa perjuangan spiritual di negara itu, yang terkombinasi dengan penghancuran Jerusalem, menghembuskan kebangkitan dua gerakan agama yang berbeda; Kristen dan sistem Rabi Judaisme.” Golb dan para pengikutnya yang tidak memiliki akses langsung atas gulungan itu, mengatakan bahwa penyebaran publikasi yang terbaru akan mendukung teorinya.

 

Dokumen keempat juga menunjukkan persamaan antara Kristen Awal dengan Judaisme abad pertama. Sementara itu, tidak ada kitab Perjanjian Baru yang ditemukan di Qumran. Thema dan image dalam beberapa gulungan paralel dengan milik Perjanjian Baru. Di antara gulungan yang masih belum dipublikasikan memiliki ciri khas yang menjelaskan tentang dualistik dunia; dikotomi antara cahaya dan kegelapan, kebaikan dan keburukan; sama dengan yang terdapat dalam Injil karangan Yohanes yang ditulis di akhir abad pertama Masehi.

 

Sebelum penemuan gulungan itu, sarjana Bibel (Alkitab) berasumsi bahwa dualisme Injil Yohanes merefleksikan pengaruh Yunani pada Kristen Awal, dan terbukti bahwa keempat Injil itu ditulis pada abad kedua Masehi. “Tetapi dengan studi Dead Sea Scrolls, kita menemukan image dalam Injil Yohanes yang akrab dengan alam pikiran Yahudi. Alam pikiran itu berkembang di lingkungan sekte Yahudi konservatif.”

 

Teks lain yang dibocorkan pada Biblical Archaeology Review memiliki kemiripan dengan Injil karangan Lukas, yang mengisahkan malaikat berbicara kepada Maryam, bahwa ia akan mengandung seorang anak yang akan disebut “Anak Tuhan” dan “Anak yang Maha Kuasa”. Fragmen Qumran yang ditulis dalam bahasa Aram beberapa dekade sebelum Injil Lukas berbunyi sebagai berikut:

“…dan dengan namanya ia akan disebut Anak Tuhan, dan mereka akan memanggilnya Anak yang Maha Kuasa.”

 

Ayat ini tidak menjelaskan siapa yang berbicara dan siapa yang diajak bicara pada teks ayat tersebut. Dapatkah ia paralel atau bahkan sama dalam prototipe-nya dengan Injil Lukas? Ataukah ia ada terlebih dulu dan sebelumnya tidak ditemukan ramalan Mesiani? Dalam kasus itu juga, halaman itu mengilus-trasikan bahwa sebutan “Anak Tuhan” yang sudah menjadi istilah dalam agama Kristen dan Yunani, sudah menjadi bagian istilah dalam kamus Yahudi lama. Teks ini dan teks Qumran lainnya menunjukkan bahwa ternyata “Kristen Awal dan Judais-me saling berpelukan lebih erat, yang sebelumnya tak pernah kita duga,” kata Prof. Cross dari Harvard University.

 

Peninggalan itu mungkin warisan terakhir dari Gulungan Laut Mati ―di saat semua rahasia Qumran terkuak, ia akan mengingatkan kita, betapa besarnya keterkaitan yang menjadi akar dua agama itu.

 

Oleh: Jeffery L. Sheller & Joannie M. Schrof

 

Senin, 03 Februari 2025

Safe from Harm Guidelines from World and Regional Scout Events


The safety of all participants is our priority at any Scout event. Keeping children and young people Safe from Harm is at the heart of our Scouting mission. It is a core policy of the World Organization of the Scout Movement (WOSM) that young people and adults are protected.

We always aim to keep people physically safe and healthy during activities and around the campsite. It is equally important to keep them safe from harm by others or themselves. Events should not go ahead until they have a practical Safe from Harm plan in place and the means to deliver it.

All adults taking part are accountable for the safety of children and young people participating in World and Regional events. These guidelines are designed to support the hosts of World or Regional Scout Events to create a safe environment for all participants and the planning team, before, and during the event. Follow the full process step by step to ensure a strong Safe from Harm structure for your event.

The annexes contain templates and support materials that you can use for your event. At the end of each section, a special page is dedicated to National Scout Events and any specific requirements that should be brought to the attention of the planning team.

This document supports the preparation and delivery of a successful and safe event. Do not hesitate to reach out to WOSM for support through the Safe from Harm Service. Happy Scouting!

Introduction

Children, young people, and adults have the right to feel safe at any Scout event. It is the planning team’s responsibility, in partnership with all the adults present during the planning and delivery phase of the event, to ensure Safe from Harm is a reality for all.

These Safe from Harm guidelines for World and Regional Scout Events contain recommendations, templates, examples, tips, and ideas on how to carry Safe from Harm at your Scout event, from the day you become host to the closure of your event. The guidelines are divided into three parts:

• Planning – Highlights the initial phase of the Safe from Harm framework with the recruitment and training of the Safe from Harm operational team, and the design of the different documents and materials that form the basis of the Safe from Harm framework for an event.
• Preparing – Outlines the various types of risk present at events and how to prepare adults and young people to face them thanks to e-learning and
communication materials ahead of the event. It also covers the logistical aspect of Safe from Harm.
• Responding – Covers the development and implementation of the Safe from Harm procedures and case management during the delivery phase of an event.

These guidelines will facilitate the development of your Safe from Harm framework. If you have any further questions on this topic, reach out to WOSM’s World Events team or Safe from Harm team.