Selasa, 26 Mei 2015

Landak Menebar Duri

aku takjub pada orang yang suka dipuji atas apa yang tak dilakukannya
aku takjub pada orang yang suka dikagumi atas hal yang bukan miliknya
aku takjub pada orang yang merasa benar dengan menyalahkan kawan
aku takjub pada orang yang merasa mulia dengan menghinakan sesama
dan semua itu akan kuringkas menjadi: aku takjub pada diriku sendiri


HARI ITU, di bukit Shofa.
“Wahai Bani Fihr, wahai Bani Ady, wahai semua orang Quroisy!” lelaki berwajah santun itu memanggil kaumnya dari ketinggian. Teriakannya keras, namun merasuk dada dan enak didengar. Tatapannya teduh dan senyumnya mengembang menyaksikan para pemuka Makkah berkeliling di sekitarnya. Mereka menanti apa yang akan keluar dari lisan al-Amin. Sang Penuh Amanah, yang hari itu terlihat berseri, rapi, dan wangi.

“Apa pendapat kalian sekiranya kukabarkan bahwa di balik bukit itu sepasukan berkuda bersenjata lengkap mengepung, siap menyerbu Makkah dan melumatkannya?”

Berebut jawaban itu seakan, “Kami belum pernah mendengar ada kedustaan keluar dari lisanmu. Benar. Kami tidak pernah menyesap darimu kecuali kejujuran. Engkau adalah al-Amin!”

Ia tersenyum sebelum melanjutkan, “Sesunguhnya aku adalah pembawa peringatan dari sisi Alloh sebelum datangnya azab yang besar…”

Kalimat itu belum terselesaikan ketika tiba-tiba seorang lelaki berkulit putih, bermata juling, dan berpakaian sutra dengan sikap badan menantang maju ke depan, mengacungkan telunjuknya ke wajah sang Rosul sambil berteriak, “Tabban laka, ya Muhammad! Alihaadza jama’tanaa? Binasa engkau, Muhammad! Apakah untuk urusan seremeh ini kami semua kau kumpulkan?”

Yang belum mengenal lelaki juling dan pincang itu pun berbisik pada orang di sebelahnya, “Siapa dia?”

“Itu pamannya, Abu Lahab!”

Saat itulah turun ayat Alloh membalas perkataan Tabban laka, ya Muhammad yang diucapkan Abu Lahab. “Tabbat yadaa Abi Lahaabiw wa Tabb! Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa!” Abu Lahab. Nama yang abadi di dalam al-Qur’an sebagai penebar duri yang menyakiti da’wah.

YYY

“Semua orang tahu,” tutur Richard S. Gallagher dalam What to Say to A Customer, “Bahwa landak itu berduri. Yang kurang banyak diketahui adalah bahwa di antara landak-landak itu ada jenis yang suka menebarkan durinya untuk menyakiti sesama makhluk.”

Dalam hubungan-hubungan, harus disadari bahwa secara alami setiap orang memiliki dan menciptakan masalah. Sejumlah orang dengan cara tertentu mengurangi sesuatu dari hidup kita. “Seorang teman,” demikian tokoh Cassius dalam drama Julius Caesar karya William Shakespeare berkata, “Harus menanggung kelemahan temannya. Namun orang seperti Brutus, menjadikan kelemahan-kelemahanku tampak lebih besar daripada apa adanya.”

Itulah para landak. Mereka berduri. Saat berjalan beriringan, mereka tidak ikut membantu memikul beban kita. Kadang, mereka membuat beban yang ada lebih berat dari seharusnya. Dan sering juga durinya tanpa sengaja menusuk dan menyakiti kita. Tetapi kita masih bisa berlapang dada pada para landak ini. Karena sungguh bukan kemauan mereka untuk memiliki duri di tubuhnya. Dan sungguh, sebenarnya mereka tak punya niat untuk menyakiti saat mendekat pada kita lalu duri-durinya menancap dan melukai.

Tetapi Richard S. Gallagher benar. Ada jenis-jenis landak yang memang dengan sengaja menebarkan durinya untuk menyakiti. Saat beriringan, mereka berusaha membuat kita jatuh dan lumpuh. Mereka berupaya menarik kita ke titik yang serendah-rendahnya dengan kesakitan yang paling menyiksa. Itu mereka lakukan dengan segenap kemampuan, dengan berbagai cara, dan sesering mungkin.

John C. Maxwell dalam Winning with People menggambarkannya sebagai sosok seorang presiden perusahaan yang mengirim memo kepada direktur personalianya. “Carilah dalam organisasi ini,” tulisnya dalam memo, “Seseorang yang tajam, agresif, dan mampu menjalankan peran saya. Dan jika Anda telah menemukan orang ini, maka pecatlah dia!”

Orang-orang semacam ini menimbulkan kekacauan. Sebabnya, tidak seperti landak biasa, tindakan-tindakan mereka yang merugikan dilakukan dengan sengaja. Mereka ini adalah orang yang suka menyakiti, membuat diri mereka sendiri kelihatan, atau merasa lebih baik dengan membuat orang lain jadi lebih buruk. Mereka merusak hubungan dan menciptakan kekacauan dalam kehidupan orang lain.

Para penebar duri mengisi kehidupan mereka dengan sebuah tugas mahapenting untuk mengecilkan orang lain. Mereka ada untuk menyampaikan kelemahan-kelemahan yang ada pada seseorang dan membuatnya percaya bahwa dia tak layak dan tak punya kebaikan. Mereka mengungkapkan sejuta hal untuk meyakinkan seorang kawan bahwa dia tertakdir menjadi sampah. Mereka membawakan segala mimpi buruk tentang masa depan.

Para penebar duri seolah tercipta untuk menghalangi orang yang ingin maju atau mendaki ke titik lebih tinggi. Mereka memupuskan mimpi-mimpi kita. Mereka mengaramkan bahtera-bahtera harapan yang kita luncurkan. Mereka menghabiskan ide-ide cemerlang dengan kesinisan. Mereka mencemooh upaya-upaya rintisan dan menyebutnya kesia-siaan. Mereka memberangus makna keberhasilan kecil yang sedang ingin kita rayakan.

Para penebar duri tak suka pada cita-cita tinggi. Mereka benci pada orang-orang yang mengajak manusia untuk memperbaiki diri. Dengan segala umpat dan cela, mereka akan menjadi musuh utama bagi kebangkitan jiwa-jiwa. Mereka, untuk sebuah alasan yang kadang kecil dan remeh, mengerahkan segala daya upaya guna menghancurkan kerja-kerja kebajikan. Tentu saja, di balik itu, mereka adalah pemrakarsa untuk segala hal jelek yang ada di lingkungannya.

Dalam sejarah da’wah, kita menemukan semua ciri penebar duri ini dalam sosok seorang lelaki Quroisy berwajah tampan, berkulit putih, bermata juling, dan berkaki pincang. Dialah paman Sang Nabi, Abu Lahab. Uniknya lagi, Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil, pernah beberapa kali benar-benar secara zhohir menebar duri di jalan yang dilalui oleh Rosululloh hingga kaki beliau terluka dan berdarah.

Nah, apakah kita juga memiliki duri-duri runcing sebagaimana landak? Mungkin ya. Tetapi apakah dalam dekapan ukhuwah kita akan menebarkannya untuk menyakiti sesama, menjadi pewaris akhlak Abu Lahab yang tangannya telah binasa? Katakan dengan yakin dan penuh do’a, “Insya Alloh tidak.”

YYY

Apa jadinya bila landak berkumpul sesama landak, dan mereka serupa dalam kerja-kerja menebar duri? Di tengah kaumnya, Bani Hasyim, Abu Lahab tak mendapat tempat lantaran permusuhan yang dilancarkannya pada Rosululloh. Dia tak dianggap keluarga lagi oleh Abu Tholib, sang pemimpin kaum. Bani Hasyim hampir keseluruhan, meski belum beriman pada Rosululloh, sepakat untuk menjaga dan melindungi kemenakan mereka yang berakhlak mulia ini apapun resikonya.

Adapun di tengah-tengah Quroisy pada umumnya yang memusuhi Rosululloh, Abu Lahab juga bukan sosok yang dihormati. Dia memang memusuhi Muhammad habis-habisan. Bahkan dia tega membatalkan ikatan pernikahan kedua putranya, Utbah dan Utaibah, dengan Ruqoyyah dan Ummu Kultsum putri Rosululloh. Itu adalah penimpaan aib besar bagi keluarga mempelai perempuan dalam tradisi Arab.

Namun dengan permusuhan sengitnya pada Sang Nabi ini, dia tak juga mendapat tempat utama di tengah para pemuka Quroisy. Namanya tak diperhitungkan dibanding al-Walid ibn al-Mughiroh, al-Ash ibn Wail, an-Nadhr ibn Harits, ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith, Abu Jahl ibn Hisyam, Utbah ibn Robi’ah, Abu Sufyan ibn Harb, “Umayyah ibn Kholaf, dan al-Akhnas ibn Syariq. Sungguh tragis.

Dan dia tak terlalu disukai. Abu Jahl pernah mengejeknya sebagai paman tak berbudi yang tega memusuhi dan menyakiti keponakan sendiri. Tetapi dia malah bersumpah, “Demi Alloh, selama aku masih bernafas, takkan kubiarkan Muhammad menghina Latta dan ‘Uzza, atau memecah belah di antara kita!” Mendengar itu, orang-orang tertawa.

Dan mereka lebih menertawakannya tatkala dalam Perang Badar dia tidak ikut. Dia sayang nyawa. Dia punya jalan untuk menghindar. Adalah al-Ash ibn Hisyam ibn al-Mughiroh yang berhutang padanya empat ribu dirham sebab bangkrut dalam dagang. Maka Abu Lahab memaksa al-Ash ibn Hisyam untuk mewakilinya dalam perang ini dengan iming-iming dibebaskan dari hutang.

Landak itu tak pernah mempesona bagi sahabat-sahabatnya. Satu-satunya yang seia sekata dengan dirinya hanyalah Ummu Jamil, istrinya.

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan benar-benar binasa. Tiada berfaedah baginya harta dan segala yang diusahakannya. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan begitu pula istrinya si pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (Qs. al-Lahab [111]: 1-5)

“Keserasian dan kerapian ungkapan dalam surat ini yang penuh irama,” tulis Sayyid Quthb dalam Fii Zhilaalil Qur’an, “Membuat Ummu Jamil beranggapan bahwa Rosululloh menyindirnya dengan syair. Khususnya, setelah tersebarnya surat ini dengan kandungannya yang berisi ancaman, hinaan, dan pelukisan yang buruk terhadap Ummu Jamil. Lukisan yang merendahkan seorang wanita yang ujub dan suka membanggakan diri, suka mengunggulkan kemuliaan leluhur dan nasabnya. Kemudian, dia dilukiskan dengan gambaran ini, “Pembawa kayu bakar yang dilehernya ada tali dari ijuk.” Semuanya dikemukakan dengan menggunakan uslub yang sudah demikian masyhur di kalangan bangsa Arab.”

“Saya mendapatkan kabar,” tulis Ibnu Ishaq dalah Siroh-nya, “Bahwa Ummu Jamil pembawa kayu bakar itu ketika mendengar al-Qur’an yang membicarakan diri dan suaminya, maka datanglah dia kepada Rosululloh. Ketika itu beliau sedang duduk di masjid, di sisi Ka’bah, bersama Abu Bakar ash-Shiddiq. Ummu Jamil datang dengan membawa segenggam batu. Matanya menyala. Wajahnya murka.

Ketika dia berhenti di hadapan Rosululloh dan Abu Bakar, Alloh menutup matanya dari memandang Sang Nabi. Di tempat itu, dia hanya melihat Abu Bakar.

“Hai Aba Bakar,” hardiknya, “Mana sahabatmu itu? Aku telah mendengar bahwa dia menyindirku. Demi Alloh, kalau aku menjumpainya niscaya kupukul mulutnya dengan batu ini. Ketahuilah, demi Alloh, sesungguhnya aku juga seorang penyair!” Kemudian sambil mengacung-acungkan batu di tangannya dia bersyair:

Mudzammam si tercela kami tentang
Pada perintahnya kami membangkang
Dan pada agamanya kami tak senang

Setelah itu, dengan bersungut-sungut Ummu Jamil pun berlalu. Abu Bakar takjub dan berkata, “Wahai Rosululloh, apakah dia tidak melihatmu?”

“Dia tidak melihatku,” jawab Sang Nabi, “Sesungguhnya Alloh telah menutup penglihatannya dariku. Tidakkah engkau heran bagaimana Alloh menjaga namaku dari mereka, hai Abu Bakar? Mereka mengolok-olok Mudzammam si tercela, padahal aku adalah Muhammad sang terpuji.”

Kebersamaan Abu Lahab dengan Ummu Jamil agaknya akan abadi hingga akhirat. Namun di dunia, mereka pun dilanda ketidaknyamanan yang menyesakkan. Dengan kedudukan Abu Lahab yang terhina di tengah kaumnya, Ummu Jamil banyak mengeluhkan suaminya sebagai lelaki yang tak becus. Saat Abu Lahab membantahnya bahwa inilah yang dikehendaki istrinya dengan memusuhi Muhammad, Ummu Jamil balas bentak dengan mengatakan bahwa dia kurang total dalam upaya menghancurkan keponakannya. Dia setengah-setengah. Itulah mengapa semua pihak membencinya.

Ketika para landak berkumpul jadi satu, mereka saling menyakiti. Apalagi ketika bintang Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam makin bercahaya. Keadaan mereka seperti yang digambarkan oleh filsuf Arthur Schopenhauer. “Semakin dingin di luar,” tulisnya dalam Soliloque, “Semakin kita berkerumun untuk untuk mencari kehangatan. Namun semakin dekat kita satu sama lain, semakin parah pula kita saling menyakiti dengan duri kita yang panjang dan tajam. Dan pada malam musim dingin yang sepi di bumi, pada akhirnya kita mulai hanyut terpisah dan berjalan sendiri-sendiri. Kemudian kita semua membeku, mati dalam kesunyian.”

YYY

Ya. Kematian Abu Lahab terjadi tak lama sesudah Perang Badar.

Begini kisahnya. “Dahulu aku adalah pembantu ‘Abbas ibn ‘Abdil Mutholib,” tutur Abu Rofi’ sebagaimana dirangkum dengan indah oleh Syaikh Shofiyurrohman al-Mubarokfuri dalam ar-Rohiiqul Makhtuum. “Ketika itu banyak anggota keluarganya telah masuk Islam. Hanya saja ‘Abbas sendiri merahasiakan keislamannya.”

“Saat Perang Badar,” lanjut Abu Rofi’, “Abu Lahab tidak ikut serta. Dia seorang pengecut yang memilih mewakilkan diri pada seorang yang berhutang kepadanya. Ketika telah ada kabar tentang kekalahan pasukan Quroisy, maka Alloh membuatnya rendah dan hina sementara kami merasa mulia dan perkasa. Adapun aku sendiri adalah seorang lemah yang bertugas membuat anak panah. Aku merautnya sambil duduk di batu pembatas sumur Zamzam.”

“Demi Alloh, saat aku sedang duduk sambil merauti anak panahku dan di sisiku ada Ummul Fadhl, istri ‘Abbas yang juga sedang duduk-duduk dan kami berbincang gembira tentang kemenangan Rosululloh, tiba-tiba Abu Lahab datang. Dia berjalan sambil menyeret kakinya yang pincang tak berdaya, hingga dia ikut duduk di batu pembatas Zamzam. Punggungnya yang berat menyandar ke punggungku.”

“Ini dia Abu Sufyan ibn Harits ibn ‘Abdil Mutholib telah datang,” kata orang-orang.

“Kemarilah putra saudaraku,” ujar Abu Lahab, “Demi Alloh, kabar apakah yang engkau bawa?”

Abu Sufyan ibn Harits lalu duduk di samping Abu Lahab sementara orang-orang merubungi mereka.

“Wahai keponakanku, beritahukanlah kepadaku bagaimana urusan orang-orang?”

“Selagi kami berhadapan dengan segolongan orang,” Abu Sufyan bercerita, “Justru kami menyerahkan pundak-pundak kami kepada mereka. Mereka menyerang kami sekehendak hati dan menawan kami sesukanya. Demi Alloh, sekalipun begitu aku tidak mencela siapapun. Kami harus berhadapan dengan orang-orang yang berpakaian putih sambil menunggang kuda yang perkasa, berseliweran di antara langit dan bumi. Demi Alloh, kuda-kuda itu tidak meninggalkan jejak sedikitpun dan tidak menginjak apapun.”

“Kemudian aku,” lanjut Abu Rofi’, “Bangkit dari batu pembatas Zamzam sembari berkata, ‘Demi Alloh, itu adalah para malaikat!’

“Abu Lahab mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu menghantamkannya ke mukaku keras-keras. Aku hendak melawannya, namun dia membanting tubuhku ke tanah, kemudian menindihiku sambil melancarkan pukulan bertubi-tubi. Dia terus menghajarku padahal aku adalah seorang yang sangat lemah. Melihat itu, Ummul Fadhl bangkit memungut tiang pembatas Zamzam, lalu memukulkannya keras-keras ke kepala Abu Lahab sampai menimbulkan luka menganga. Lelaki itu menjerit dan mengaduh dengan suara yang sungguh jelek.”

“Beraninya engkau menyiksa budak ini,” pekik Ummul Fadhl, “Selagi tuannya tidak di tempat!”

“Setelah itu Abu Lahab beranjak pergi sambil menundukkan muka. Demi Alloh, Abu Lahab hanya mampu bertahan hidup tujuh hari setelah itu. Itu pun Alloh menimpakan penyakit di sekujur tubuhnya, berupa luka bernanah yang memborok. Adapun bangsa Arab sangat jijik pada penyakit semacam ini. Maka sanak keluarganya tidak mau mengurusnya. Bahkan setelah meninggal pun jasadnya ditelantarkan selama tiga hari. Mereka tidak berani untuk mendekatinya dan tak berupaya untuk menguburnya.

Tetapi tentu saja keluarga besarnya khawatir dicemooh kabilah-kabilah lain akibat tindakan ini. Maka mereka pun menggali lubang di dekat jenazah sambil menutup hidung dan mulut karena jijik. Lalu mereka mendorong tubuhnya masuk ke dalam lubang dengan galah-galah. Setelah itu, mereka menimbun lubangnya dengan cara melemparkan batu besar maupun kerikil dari kejauhan.”

YYY

Dalam dekapan ukhuwah, kita berlindung kepada Alloh agar tak menjadi landak penebar duri yang berakhir dalam kehinaan sunyi…


Credit: “Dalam Dekapan Ukhuwah”; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Awang-awang

Jika kau merasa besar, periksa hatimu.
Mungkin ia sedang bengkak.
Jika kau merasa suci, periksa jiwamu.
Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani.
Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu.
Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan.
Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu.
Mungkin itu asap dari amal sholihmu yang hangus dibakar riya’.


SAN GUO YAN YI.
Inilah salah satu kisah yang paling masyhur dalam kesusastraan Tiongkok. Melukiskan romansa dan konflik yang terjadi di ambang runtuhnya Dinasti Han (206 SM-220 M) dan bermulanya zaman ‘Tiga Kerajaan’, cerita sejarah ini menawarkan karakter-karakter menawan untuk menjadi teladan. Periode itu adalah masa kekacauan, namun justru banyak melahirkan pahlawan. Hingga hari ini, jutaan orang Cina menghayati watak para tokoh nyata yang telah terselubung dongeng ini, menjadikannya rujukan menghadapi kekinian.

Agaknya Luo Guan Zhong, penulis roman yang mempesona ini, punya keberpihakan mendalam pada penguasa negeri Shu. Namun tokoh ini Liu Bei. Dia berdarah ningrat Dinasti Han, paman jauh sang kaisar. Sebabnya, mungkin karena Luo, sang penulis yang berlatar belakang pejuang pembebasan Cina dari penjajahan Mongol ini ingin membangkitkan semangat ‘orang Han’―demikian ras mayoritas Cina menyebut diri hingga kini―untuk menggulingkan Dinasti Yuan yang datang dari utara.

Maka Liu Bei dan para sahabat setianya digambarkan begitu agung. Dia pribadi yang sederhana, bijaksana, lembut hati, penyabar, dermawan. Dialah raja yang dengan tangannya sendiri menganyam sandal jerami untuk para pengikut. Dialah raja yang dengan luwes menyajikan makanan untuk anak buah yang akan bertugas menempuh perjalanan panjang.

Kebajikan dan perlindungan pada rakyat yang menjadi prinsip Liu Bei tampak ketika dia digempur habis-habisan pasukan Perdana Menteri Cao Cao, tokoh antagonis kisah ini yang kelak mendirikan negara Wei. Seorang komandan melapor dengan panik. “Yang mulia,” katanya, “Para pengungsi ini memperlambat kita. Untuk mengurangi kerugian pasukan, kita sebaiknya meninggalkan mereka!”

“Apa?” bentak Liu Bei. “Mereka ini semua rakyat Han. Mereka di sini mengikuti kita karena Cao Cao menganiaya mereka. Jika kita tidak menawarkan perlindungan kepada mereka, lalu apa artinya kita berperang?”

Bahkan dramatisnya, seperti digambarkan John Woo dalam film Red Cliff yang memotret salah satu episode paling menentukan dalam San Guo Yan Yi, Liu Bei hanya tertegun sejenak ketika dilapori bahwa istri dan anaknya masih terjebak oleh serbuan musuh yang beringas di kota Xinye. Lalu seakan tak hirau pada laporan itu, dia berpaling pada para pengungsi. Dipapahnya seorang nenek yang sempoyongan menggendong cucu melintasi jalan berbatu. Lalu dengan gesit, sambil menenangkan anak yang menangis itu, dia membantu mendorong sebuah kereta pengungsi yang terantuk cadas.

Tentu saja pemimpin welas asih seperti ini membuat orang-orang penuh bakat begitu setia kepadanya. Tanpa dimintai, Zhao Zi Long, salah satu panglimanya, segera menghambur menembus kepungan untuk menyelamatkan keluarga Liu Bei. Untuk sekilas tahu, selain Zi Long, di sekitar Liu Bei ada Guan Yu dan Zhang Fei yang menjadi saudara angkatnya. Guan Yu seorang panglima yang tangguh, lembut hati, dan ksatria. Pernah sebenarnya di Xinye, dia berkesempatan membunuh sang durjana Cao Cao. Namun itu tak dilakukannya karena yang bersangkutan sedang lengah. Zhang Fei adalah sosok panglima yang kasar dan berangasan namun jujur dan setia. Teriakan perangnya mengaum dahsyat, membuat musuh tergidik ngeri. Hingga kini, hampir semua tokoh ini menjadi dewa yang dipuja masyarakat. Untuk mereka didirikan kuil-kuil persembahan.

Ada satu lagi orang dekat Liu Bei yang harus disebut. Namanya Zhuge Liang. Dialah ahli taktik dan siasat terbesar sepanjang sejarah Cina. Dia juga ahli ilmu alam, pakar teknik persenjataan, seniman brilian, dan penasehat yang mumpuni. Dia yang merancang aliansi Liu Bei dengan Sun Quan, penguasa Wu, dalam menghadang serbuan Perdana Menteri Cao Cao dan mengandaskan ambisi sang tiran untuk menggenggam seluruh Cina. Sebagai negarawan, dialah yang merumuskan konsep tiga kerajaan. “Daripada sebuah kekuasaan yang menindas rakyat,” begitu ujarnya, “Lebih baik ada tiga kekuatan saling berimbang yang berlomba memakmurkan penduduk.”

Itulah Liu Bei dan para pengikutnya yang dilukiskan terhubung bukan sebagai raja dan jelata, melainkan sebagai sahabat dan sahabat. Kehangatan cinta di antara mereka, kadang membuat iri kita dalam dekapan ukhuwah.

Sebaliknya, Perdana Menteri Cao Cao digambarkan oleh Luo Guan Zhong sebagai orang yang berkuasa, namun kesepian. “Cao Cao mengetahui cara mengatur pasukan raksasa,” kata Xiao Qiao, gadis yang dicintai sang Perdana Menteri namun justru menikah dengan Zhou Yu, panglima agung negeri Wu. “Tetapi dia tak sepertimu,” katanya sambil menatap penuh cinta pada suaminya. “Dia tak punya sahabat.” Sang suami juga punya penilaian tentang musuhnya ini. “Cao Cao,” urainya, “Selalu curiga pada anak buahnya, sebagaimana para pengikutnya juga selalu harap cemas atas ketidakstabilan emosinya yang mematikan.”

“Cao Cao,” lanjut Zhou Yu yang memimpin aliansi Shu dan Wu, “Tak pernah mengungkapkan niat sejatinya pada siapapun, bahkan pada para pengikutnya.” Liu Bei menimpalinya, “Kebenaran dan ilusi sering rancu antara satu dengan yang lainnya. Tetapi Cao Cao suka sekali menjadikannya sebagai permainan. Baik itu pada musuhnya, bahkan juga kepada anak buahnya sendiri.” Itu pandangan para musuhnya. Bagaimana pendapat Cao Cao tentang dirinya sendiri?

Saat dinasehati tentang kemungkinan berkhianatnya salah satu pengikut, Cao Cao dengan senyum penuh arti berkata, “Aku mempercayai siapapun yang berguna bagiku.”

Penyerbuan Cao Cao ke selatan, beserta niatnya menghancurkan Liu Bei dan Sun Quan, berakhir dengan tragis di Karang Merah, Sungai Yang Tze. Delapan ratus ribu pasukan dan dua ribu armada kapalnya nyaris tak bersisa dihancurkan oleh paduan kecerdikan siasat Zhuge Liang dan kesigapan panglima agung Zhou Yu.

Sebenarnya, Luo Guan Zhong dalam San Guo Yan Yi telah melukiskan watak Cao Cao jauh-jauh hari, ketika dia masih meniti karier menjadi seorang komandan rendahan. Saat itu, dia bersama sahabatnya Chen Gong diburu oleh pasukan pemberontak. Mereka terus menghindar dari kejaran dan mencoba mencari tempat persembunyian. Hingga akhirnya, mereka bertemu dengan Lu Boshe, sahabat ayah Cao Cao. Dengan senang hati, si Pak Tua mewarnai mereka menginap dan beristirahat di rumahnya.

Pak Tua Lu Boshe khusus berbelanja ke luar untuk menjamu mereka dengan makanan yang lezat. Setelah menunggu lama di ruang tamu, Cao Cao dan sahabatnya Chen Gong tiba-tiba mendengar bunyi mendesah seperti ada orang yang sedang mengasah pisau. Karena mendengar suara ini Cao Cao dan Chen Gong segera lari masuk ke dapur dan membunuh delapan orang di halaman belakang.

Setelah itu mereka baru menemukan seekor babi yang diikat di dapur untuk disembelih. Nyata sekali, Pak Tua Lu dan anggota keluarganya sedang bersiap menyembelih babi untuk dihidangkan kepadanya. Cao Cao dan Cheng Gong yang sadar bahwa mereka telah salah membunuh orang buru-buru melarikan diri. Dalam perjalanan melarikan diri, mereka berdua bertemu dengan Pak Tua Lu yang baru pulang setelah membeli arak, sayuran, dan lauk pauk. Tanpa banyak cakap, Cao Cao segera membunuh Pak Tua Lu.

Cheng Gong terperanjat. Dengan muka merah pias, dia bertanya kepada Cao Cao, “Tadi kita sudah salah membunuh orang yang tidak berdosa, kenapa membunuh orang lagi?”

“Apabila Pak Lu menemukan anggota keluarganya terbunuh setelah pulang ke rumahnya,” jawab Cao Cao, “Maka dia pasti akan mencari orang untuk mengejar kita. Lebih baik dia dibunuh supaya kita terhindar dari bahaya kemudian.”

Chen Gong geleng-geleng kepala. “Sengaja membunuh orang setelah berbuat kesalahan benar-benar tidak berbudi!” katanya sambil bergidik jijik.

“Lebih baik aku mengkhianati orang lain,” kata Cao Cao, “Daripada orang lain mengkhianatiku. Aku berhak, karena langit telah memilihku.”

YYY

Dalam dekapan ukhuwah, merasa diri paling baik adalah tanah paling gersang dan lahan paling tandus bagi pohon iman. Seiring itu, benih persaudaraan hampir mustahil bisa tumbuh di sana. Merasa diri lebih baik dibanding yang lain adalah penghalang terbesar dalam menjalin hubungan baik dengan sesama.

Al-Qur’an telah membentangkan matarantai kisah menakjubkan tentang keangkuhan. Dimulai dari Iblis. Ditengahi oleh Fir’aun, Haman, Bal’am, dan Qorun. Dipungkasi dengan si bengis dari Quroisy, Abu Jahl ibn Hisyam.

Sifat sombong adalah hal yang dibenci di langit maupun di bumi. Merasa benar, merasa tinggi, merasa lebih, dan merasa suci adalah penyakit yang membuat jijik malaikat maupun manusia di dunia ini. Sombong adalah ibu dari segala kejahatan dan kehancuran. Derita manusia yang tak terperikan di sepanjang pentas sejarah, diakibatkan oleh paduan antara keangkuhan dan kekuasaan. Atau di saat lain, senyawa rasa unggul dengan kepandaian. Atau bersatunya kesombongan dengan kekayaan. Atau bermesranya sifat tinggi hati dengan kecendikiawanan.

Semuanya menjadi bencana, karena kesombongan menghalangi kebenaran. Karena jiwa yang merasa lebih tinggi mengalahkan pemahaman akal terhadap kebajikan. Karena keangkuhan membunuh persaudaraan.

YYY

Satu waktu ada kejadian menarik, demikian Ibnu Hisyam berkisah dalam Siroh-nya. Adalah Abu Sufyan ibn Harb, Abu Jahl ibn Hisyam, dan al-Akhnas ibn Syariq pemimpin Bani Zuhroh, kebetulan sama-sama ingin tahu tentang apa yang dibaca Rosululloh di kala sholat malam. Mereka mendatangi rumah beliau tanpa saling tahu satu sama lain. Mereka mengambil tempat dan mulai menyimak tanpa tidur semalaman. Ketika fajar menyingsing, mereka baru tahu bahwa ada kawannya yang sama-sama mencuri dengar bacaan Sang Nabi. Maka mereka saling ejek dan saling mencela.

“Jangan sampai kalian mengulangi perbuatan ini!” ujar mereka satu sama lain. “Jika sampai ada orang-orang bodoh di antara kalian yang melihatnya, maka pasti akan ada sesuatu yang kalian tinggalkan dalam diri mereka!”

Malam berikutnya, hal yang sama terjadi lagi dan keesokan paginya mereka kembali saling hardik.

Di malam ketiga, mereka saling menyangka bahwa kawannya takkan datang lagi dan tetap datang mengendap-endap lalu menempati tempatnya kemarin. Semalaman mereka begadang dan mendengarkan bacaan sholat beliau. Ketika terbit matahari, mereka pun beranjak dan saling bertemu lagi. “Demi Alloh,” kata salah satu, “Jangan kita tinggalkan tempat ini sampai semuanya bersumpah untuk tidak mengulangi perbuatan ini!” Lalu mereka pun saling bersumpah dan pergi.

Adalah al-Akhnas yang esok harinya bergegas-gegas menemui Abu Sufyan di rumahnya. “Hai ayahnya Hanzholah,” katanya, “Bagaimana pendapatmu tentang apa yang semalam kau dengar dari Muhammad?”

“Ya, wahai Abu Tsa’labah,” jawab Abu Sufyan, “Demi Alloh, semalam aku mendengar sesuatu yang aku kenal dan aku mengerti maksudnya. Dan aku mendengar sesuatu yang tidak kukenal dan tidak aku fahami maknanya.”

“Demi Alloh,” sahut al-Akhnas, “Aku pun demikian.”

Sesudah itu al-Akhnas mengetuk pintu rumah Abu Jahl. Mereka bertemu di dalam ruang tersembunyi. “Hai Abu Hakam,” kata al-Akhnas, “Jelaskan padaku apa pendapatmu atas kalimat-kalimat yang semalam kau dengar dari Muhammad!”

“Apa yang aku dengar?” sergah Abu Jahl. “Kita ini bersaing keras dengan Bani ‘Abdi Manaf, kabilahnya Muhammad. Mereka menjamu makan jama’ah haji dan para tamu kota, maka kita pun melakukannya. Mereka menanggungkan nafkah orang, kita pun juga menjamin kebutuhan manusia. Mereka memberi, kita pun membagi. Hingga ketika kita dan mereka telah siap berangkat untuk balapan seperti kuda-kuda pacuan yang dijajarkan, tiba-tiba saja mereka berkata, ‘Kami punya Nabi yang mendapatkan wahyu dari langit!’”

Abu Jahl menghela nafasnya. “Demi Alloh, hai al-Akhnas,” sambungnya, “Aku tidak akan pernah beriman kepada nabi itu, dan aku tidak akan pernah membenarkannya!”

Inilah kisah tiga orang pembesar Quroisy dalam sikapnya terhadap kebenaran. Kita tahu bahwa kelak, Abu Sufyan dan al-Akhnas ibn Syariq yang masih menjaga keadilannya dalam menilai Sang Nabi akan menjadi Muslim yang ridho menerima kebenaran meski sebelum itu mereka memusuhinya habis-habisan. Sementara Abu Jahl yang sejak pertama sudah dirasuki dengki dan tinggi hati akan binasa dalam kekufuran.

“Tidak akan masuk surga,” demikian Sang Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam riwayat Muslim, “Orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji dzarroh dari kesombongan.”

Aduhai, alangkah beratnya, pikir para shohabat Sang Rosul saat itu. “Ya Rosulalloh,” adu mereka, “Kami ini adalah orang yang suka memakai pakaian yang anggun, suka mengenakan surban yang menawan, suka melangkah dengan terompah yang cantik, maka dengan demikian kami tak berhak atas surga?”

“Benar, ya Rosulalloh,” sebagian yang lain mengiyakan. “Dan kami ini adalah orang yang suka jika dikelilingi banyak manusia. Kami suka jika ada kawan yang mengiring saat berjalan. Kami suka jika ada teman yang diajak bicara ketika duduk. Maka bagaimanakah kami?”

Sang Nabi tersenyum sembari bersabda, “Bukan semua itu yang aku maksudkan.” Beliau menatap semua yang hadir dengan penuh cinta. “Kesombongan adalah,” lanjutnya menyejukkan, “Menolak kebenaran dan menganggap rendah orang lain.”

Ketika seseorang dijangkiti kesombongan, maka dia cenderung menjadikan dirinya sebagai ukuran kebenaran. Maka saat kebenaran yang sebenar-benarnya datang kepadanya, dia berupaya mencari pembenaran untuk menolak kebenaran. “Robbku itu,” kata Ibrohim kepada Namrudz, “Menghidupkan dan mematikan.” Dengan senyum kemenangan, Namrudz berkata, “Aku juga menghidupkan dan mematikan.” Dua orang tawanan kemudian dihadirkan. Satu orang dibebaskan. “Dia inilah yang kuhidupkan,” kata Namrudz. Yang satu lagi dipancung. “Dia inilah yang kumatikan.”

Konyol memang. Tetapi dalam taraf yang lebih kecil, begitulah yang terjadi ketika kita menolak kebenaran.

Orang yang sombong cenderung meremehkan orang lain. Dan mereka selalu menemukan alasan untuk itu. Iblis menemukan alasan bahwa dia lebih baik daripada Adam karena asal penciptaannya. Dia dari api dan Adam dari tanah. Fir’aun berkata bahwa dia layak jadi tuhan sebab Mesir adalah miliknya dan sungai Nil mengalir di bawah kakinya. Apalagi Musa yang diutus Alloh padanya terlihat memiliki banyak cacat dan tak sedikit pun mengunggulinya.

Dan Fir’aun berseru kepada maunya seraya berkata, “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan bukankah sungai-sungai ini mengalir di bawah kakiku maka apakah kalian tidak melihatnya? Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan perkataannya? Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?” (Qs. az-Zukhruf [43]: 51-53)

Qorun menemukan alasan bahwa dia kaya dan lebih baik daripada sesamanya sebab ilmu yang ada padanya. Abu Jahl merasa dirinya tak kalah layak daripada Muhammad untuk menerima kerosulan. Maka dengan itu dia menjadi naif. Alih-alih berkata, “Jika Muhammad utusan-Mu, bimbinglah kami dengan petunjuk yang dibawanya,” dia justru berkata, “Jika yang dibawa oleh Muhammad sungguh benar dari sisi-Mu, ya Alloh, maka hujani saja kami dengan batu dari langit.”

Semua kesombongan memiliki alasan untuk meremehkan. Bahkan soal usia. Jika berjumpa yang lebih muda, terbitlah rasa tinggi dalam hati. “Aku lebih baik daripadanya,” begitu jiwanya berbisik, “Amal sholihku lebih banyak daripadanya. Dia baru memulainya kemarin sore.” Adapun jika bertemu yang lebih tua, hatinya berseru, “Aku lebih baik daripada orang ini. Lihatlah rambutnya memutih, sungguh dosa-dosanya telah banyak mencemari bumi. Aku masih muda dan sedikit sekali berbuat silap dan lupa.”

Dalam dekapan ukhuwah, turunan sifat sombong kadang halus dan samar. Sebab itu, diperlukan akal yang jeli dan hati yang peka. Bukan untuk mengenali kesombongan orang tentu, melainkan untuk menihilkannya dari dalam diri sejak dia terhembus pertama kali.

Dalam dekapan ukhuwah sepertinya tak ada tempat bagi kesombongan. Bahkan dalam soal bangga diri, kemaksiatan kadang lebih berharga daripada kesholihan. “Dosa yang membuat seseorang menyesal dan bertaubat kepada Alloh,” begitu ditulis ‘alim agung Ibnul Jauzy dalam Dzammul Hawa, “Jauh lebih baik daripada amal baik yang membuatnya sombong dan berbangga diri. Demi Alloh, Adam telah berdosa, tetapi Alloh menerima taubat dan mengampuninya. Adapun Iblis, bangga diri telah menghalanginya untuk taat. Dia sombong, maka Alloh melaknatnya sepanjang masa.”

Bahkan yang mengerikan, seperti ditulis oleh Imam Ahmad ibn Hambal dalam Kitab az-Zuhd, “Kami dahulu sepakat dan meyakini,” ujar beliau, “Seseorang yang menghina dan meremehkan sesosok mukmin sebab suatu dosa, sungguh takkan datang padanya kematian sebelum dia jatuh ke dalam kemaksiatan dan dosa yang sama.”

Dalam dekapan ukhuwah, tak ada tempat untuk kesombongan. Ia hanya khayal yang mengawang-awang. Karena kesombongan bukan berasal kebaikan dan kelebihan. Dia lahir dari kekurangan dan prasangka tanpa pijakan.

sungguh yang membuat seseorang sombong dan bangga diri bukanlah kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, melainkan pikirannya yang dangkal dan jiwanya yang sempit


Credit: “Dalam Dekapan Ukhuwah”; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Iman yang Tak Sendiri

sebagaimana kemampuan memimpin
kekuatan untuk menjalin hubungan
adalah kecenderungan, sekaligus pembelajaran


“INJAK kepalaku ini, hai Bilal!
Demi Alloh, kumohon injaklah!”
Abu Dzar al-Ghiffari meletakkan kepalanya di tanah berdebu. Dilumurkannya pasir ke wajahnya dan dia menunggu penuh harap terompah Bilal ibn Robah segera mendarat di pelipisnya.

“Kumohon, Bilal saudaraku,” rintihnya, “Injaklah wajahku. Demi Alloh aku berharap dengannya Alloh akan mengampuniku dan menghapus sifat jahiliah dari jiwaku.” Abu Dzar ingin sekali menangis. Isi hatinya bergumul campur aduk. Dia menyesal. Dia sedih. Dia takut. Dia marah pada dirinya sendiri. Dia merasa begitu lemah berhadapan dengan hawa nafsunya. Maka dengan kepala bersaput debu yang disujudkan dan wajah belepotan pasir yang disurukkan, dia mengerang lagi, “Kumohon injaklah kepalaku.”

Sayang, Bilal terus menggeleng dengan mata berkaca-kaca.

Peristiwa itu memang berawal dari kekesalan Abu Dzar pada Bilal. Dia merasa Bilal tak mengerjakan sebuah amanah dengan utuh, bahkan seolah membuat alasan untuk membenarkan dirinya sendiri. Abu Dzar kecewa dan, sayang, dia tak dapat menahan diri. Dari lisannya terlontar kata-kata kasar. Abu Dzar sempat berteriak melengking, “Hai anak budak hitam!”

Rosululloh yang mendengar hardikan Abu Dzar pada Bilal itu memerah wajahnya. Dengan bergegas bagai petir menyambar, beliau menghampiri dan menegur Abu Dzar. “Engkau!” sabdanya dengan telunjuk mengarah ke wajah Abu Dzar, “Sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliah!”

Maka Abu Dzar yang dikejutkan dengan hakikat dan disergap rasa bersalah itu serta-merta bersujud dan memohon Bilal menginjak kepalanya. Berulang-ulang dia memohon. Tapi Bilal tetap tegak mematung. Dia marah, tapi juga haru. “Aku memaafkan Abu Dzar, ya Rosulalloh,” kata Bilal. “Dan biarlah urusan ini tersimpan di sisi Alloh, menjadi kebaikan bagiku kelak.”

Hati Abu Dzar rasanya perih mendengar itu. Alangkah lebih ringan andai semua bisa ditebusnya di dunia. Alangkah tak nyaman menelusuri sisa umur dengan rasa bersalah yang tak terlupakan. Demikianlah Abu Dzar, shohabat Rosululloh yang mulia. Adapun kita, dengan segala kelemahan dan kealpaan dalam menjaga hubungan dengan sesama, mungkin tak hanya satu jari yang harus ditelunjukkan ke wajah kita. Lalu sebuah kesadaran menyentak, “Engkau! Dalam dirimu masih terdapat jahiliah!”

YYY

Semakin kita renungkan, sepertinya kemampuan untuk berhubungan baik dengan sesama manusia bukanlah akibat serta-merta dari iman yang kokoh menjulang. Baik iman maupun kemampuan, itu adalah dua hal yang memang seharusnya bersesuaian. Telah kita bicarakan di bagian pertama buku ini bahwa sudah seharusnya iman yang berakar dalam hati, di ujungnya menyajikan rasa buah yang manis, harum, dan lembut. Maka iman dan kekuatan untuk menjalin hubungan memang seharusnya seiring sejalan.

Tapi keduanya tidak berada dalam satu hubungan sebab-akibat yang serta-merta. Keberadaan yang satu tidak lantas mewujudkan yang lain. Ada saja kita dapati di kehidupan, namun dinanti bertahun-tahun buahnya tak kunjung menjelma. Atau buahnya hanya hadir semusim dan tak bisa diharap di musim yang lain.

Orang yang seagung Abu Dzar tak pernah diragukan imannya. Dia lelaki yang disebut Sang Nabi memiliki lisan paling lempang, lidah paling jujur, dan tutur paling benar di segenap kolong langit ini. Dialah sang “Ashdaqu Lahjatan.”

Tapi dia juga orang yang hidup dalam sunyi. Dia orang yang sendirian dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitannya. “Semoga Alloh menyayangi Abu Dzar,” begitu sabda Rosululloh saat Abu Dzar terseok-seok menyusul rombongan Sang Nabi di Perang Tabuk dengan keledainya yang lamban. “Dia berangkat sendirian. Dia mati sendirian. Dan dia dibangkitkan sendirian.”

Kelak kita juga akan membaca bahwa Abu Dzar bukanlah orang yang tahan untuk diam dan berlapang dada terhadap kesalahan sesama. Mu’awiyah dan para pejabatnya di Syam yang dianggapnya mulai bermewah dan berbeda cara hidupnya dengan Sang Nabi, dia tegur dengan keras di mimbar-mimbar dan majelis. Maka ‘Utsman memanggilnya ke Madinah agar senantiasa berada di dekatnya. Tetapi bahkan halnya kepada ‘Utsman, rodhiyallohu ‘anhu, yang begitu lembut dan peka perasaannya itu, Abu Dzar juga tetap keras dan kukuh.

Suatu hari ‘Utsman ibn ‘Affan mengelus janggutnya dengan mata berkaca-kaca. Maksud hatinya adalah bershilaturrohim dan memberikan hadiah pada Abu Dzar agar rasa cinta di antara mereka makin kuat. “Jika engkau,” kata ‘Utsman berpesan pada budaknya, “Bisa menyerahkan uang ini kepada Abu Dzar dan dia bersedia menerimanya, maka engkau aku bebaskan karena Alloh!” Apa jawaban Abu Dzar? Kepada sang budak dia mengatakan, “Demi Alloh, aku takkan membiarkanmu bebas dari perbudakan dengan membuatku menjadi budak ‘Utsman!”

Begitulah Abu Dzar. Dan ‘Utsman begitu sedih karenanya. Lisan kebenarannya kadang tajam dan tak menimbang perasaan orang. Mungkin sebab itulah, ketika dulu dia meminta agar Sang Nabi mengangkatnya menjadi salah satu petugas untuk suatu jabatan, Rosululloh bersabda kepadanya, “Hai Abu Dzar al-Ghiffari, sesungguhnya kulihat engkau seorang yang lemah!”

Bukan lemah iman tentu. Tapi lemah dalam memimpin dan menjaga hubungan. Menjadi pemimpin berarti harus memiliki kelapangan dada. Menjadi pemimpin menuntut kemampuan untuk tak sekedar mengatakan yang benar, melainkan juga memilih saat yang tepat, cara yang jitu, dan kalimat yang mengena. Iman Abu Dzar sekokoh gunung, lisannya lurus tak bercela. Tetapi dengan itu dia bukanlah orang yang ahli memimpin dan terampil menjaga hubungan dengan sesama.

Mengapa keduanya terbedakan pada sosok shohabat yang satu ini?

Dalam hal sebatang pohon, penjelasannya sedikit lebih mudah. Pupuk dan nutrisi yang dibutuhkan untuk bertumbuhnya akar, batang, dan daun sungguh tak sama dengan gizi yang diperlukan untuk memekarkan bunga dan mewujudkan buah. Alamnya juga berbeda. Akar ada di dalam tanah. Buah-buahan ada di pelukan udara. Akar itu tersembunyi. Buah-buahan itu harus tampil segar, ranum, dan menggiurkan.

Agama itu menuntut kita beriman, sekaligus meminta kita melampaui batas minimal ‘aman bagi sesama’. Inti tengahnya, kita didorong untuk berakhlak mulia. Dan puncaknya, kemanfaatan serta mendahulukan hajat sesama meski diri sendiri lebih memerlukan menjadikan kita mulia. Akar iman dan buah-buahan itu harus seiring sejalan. Tetapi, mereka terletak di kecenderungan jiwa yang berbeda. Mereka memerlukan nutrisi dan gizi yang berlainan. Kesamaannya, keduanya harus sama-sama diupayakan.

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya,” demikian Rosululloh bersabda dalam riwayat Ahmad, “Adalah dia yang paling baik akhlaknya.” Jika kita terjemahkan akhlak dalam hadits ini sebagai keterampilan menjalin interaksi, maka antara dia dan iman yang ada bukanlah hubungan sebab-akibat. Artinya, pemaknaan sabda ini bukan “Jika engkau beriman maka otomatis akhlakmu pasti akan jadi baik.” Yang lebih dekat pada kebenaran mungkin justru, “Dia yang berjuang agar menjadi peyakin sejati yang sempurna imannya, seharusnya juga berjuang untuk menjadi pribadi yang baik akhlaknya.”

Begitulah. Iman maupun daya kita untuk menjalin hubungan adalah hal yang sama-sama harus diikhtiarkan dengan segenap kemampuan. Lalu mereka akan seia sekata mengukirkan kemuliaan pribadi kita, di langit dan di bumi. Dalam pandangan Alloh maupun di mata sesama manusia.

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali hubungan dengan Alloh dan tali hubungan dengan manusia.” (Qs. Ali Imron [3]: 112)

YYY

Sebagaimana kemampuan untuk memimpin, kekuatan untuk menjalin hubungan adalah juga paduan dari kecenderungan dan pembelajaran. Membuatnya seiring dengan keimanan memerlukan kerja keras yang kadang rumit. Dan pada orang tertentu, seperti juga Abu Dzar, salah satunya mungkin saja bisa terkalahkan.

Itulah yang pernah dipusingkan oleh Kholifah ‘Umar ibn al-Khoththob.

Yang ini bukan tentang Abu Dzar. Adalah Sa’d ibn Abi Waqqosh, gubernur di Kufah, yang berulang kali dipermasalahkan oleh penduduk kota itu. ‘Umar tahu, bukan Sa’d yang salah. Ini kota baru di wilayah Iroq dengan penduduk yang dulu ditaklukkan Islam melalui Sa’d ibn Abi Waqqosh. Dalam hati mereka mungkin memang ada ketidaksukaan terhadap Sa’d ibn Abi Waqqosh. Maka kepadanya, mereka bising, ribut, onar, mencari gara-gara, dan membuat kisruh.

Sa’d orang yang sholih, ahli ibadah, penuh ketaqwaan, dan do’anya mustajabah. Dia juga amanah dan tak pernah khianat. Dia prajurit ulung, penunggang kuda yang tangkas, pemanah yang jitu, dan panglima yang brilian. ‘Umar tahu semua itu. Tapi Sa’d bukan orang yang bisa bersabar atas keberisikan rakyatnya. Dia juga bukan orang yang suka mengalah meski untuk melunakkan hati mereka.

Pernah, dia membangun tembok dan gerbang tinggi untuk menutupi ruang kerjanya dari gemuruh pasar dan hiruk-pikuk penduduk yang dirasanya mengganggu. ‘Umar sampai harus mengutus Abu Musa al-Asy’ari untuk membakar dan menghancurkan dinding itu. “Demi Alloh, hai Sa’d,” kata ‘Umar dalam teguran tertulisnya, “Dengarkanlah kaum Muslimin. Meski engkau tak menyukai apa yang mereka katakan!”

Pernah juga, seorang wanita bersengketa dalam masalah tanah dengan Sa’d ibn Abi Waqqosh. Wanita itu memang curang dan khianat. Maka Sa’d mendo’akannya, “Ya Robbi,” katanya, “Jika dia benar, maka ridhoilah dia, berkahilah hartanya, dan ampunilah aku. Tapi jika dia curang dan khianat, maka binasakanlah dia dan musnahkanlah milik-miliknya.” Beberapa hari kemudian wanita itu terperosok ke dalam sebuah lubang di tanahnya dan seekor ular mematuknya. Dalam sekarang dia berteriak, “Celakalah aku. Aku terkena bala’ karena do’a Sa’d ibn Abi Waqqosh!”

Di saat lain, ‘Umar mengunjunginya, memeriksa pekerjaannya, dan ingin mendengarkan apa kata rakyat tentang pribadi Sang Gubernur. “Adakah kalian mengeluhkan dia?” tanya ‘Umar di tengah jama’ah Masjid Kufah. Seorang laki-laki berdiri dan bicara dengan lantang, “Adapun dia, wahai Amirul Mukminin,” katanya, “Dia menutup pintunya dari keluhan kami. Dia tidak adil dalam memutuskan perkara, tidak rata dalam membagi, tidak mau berjalan bersama tentara, dan dia mengimami kami sholat dengan bacaan yang panjang hingga kami payah karenanya!”

“Ya Alloh,” ucap Sa’d dengan sedih, “Jika dia ini menasehatiku sebagai saudaranya dengan ketulusan dan maksud baik untuk meluruskanku, maka muliakanlah dia dalam kehidupan dan setelah kematiannya. Adapun jika dia dusta, dengki, riya’, dan hanya ingin dikenal orang, maka sempitkanlah hidupnya, panjangkanlah umurnya, dan masyhurkanlah kehinaannya.” Kelak, perowi kisah ini bertemu dengan seorang lelaki tua peminta-minta di Kufah yang ke sana-kemari menggodai gadis-gadis muda. “Celaka,” kata si perowi, “Siapakah engkau ini? Tidakkah engkau memiliki rasa malu?” Lelaki tua bangka itu menjawab, “Aku adalah orang yang terkena bala’ dari do’a Sa’d ibn Abi Waqqosh!”

Allohu Akbar! Semua hal ini adalah keutamaan Sa’d ibn Abi Waqqosh. Semua ini menunjukkan kemuliaan dan ketaqwaannya dengan do’a-do’a yang selalu diijabah. Itulah memang yang pernah dia minta kepada Sang Nabi saat beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam menawarinya untuk dido’akan. “Do’akanlah aku, ya Rosulalloh,” kata Sa’d, “Agar do’a-do’aku sendiri mustajabah!” Sebuah permintaan yang cerdas dan menakjubkan. Ketika itu Sang Nabi menjawab, “Bantulah aku, hai Sa’d, dengan memperbaiki makananmu.”

Dan Sa’d yang penuh taqwa itu benar-benar menjadi orang yang selalu diijabah do’anya.

Tetapi bagi ‘Umar ibn al-Khoththob, Sang Kholifah, ada yang terasa mengganjal dari keutamaan Sa’d ini. Sisi lain dari kelebihan itu kadang sekaligus menjadi kelemahannya dalam memimpin dan menjalin hubungan dengan rakyatnya. Dia peka. Dia terlalu mudah tersinggung atas hal pribadi dan tak mampu berlapang dada pada orang-orang yang menyelisihinya. Mereka yang bersalah telah merasakan bala’ akibat do’a Sa’d. mereka yang hendak menyampaikan sesuatu, takut pada hatinya yang mudah terluka dan lisan bertuahnya yang jika berdo’a pasti dikabulkan Robbnya.

Repotnya lagi, orang-orang Kufah ketika itu adalah rakyat yang paling rewel dan paling menjengkelkan di seluruh wilayah kaum Muslimin. Maka kasak-kusuk terjadi di mana-mana. Ketidakpuasan merebak. Keresahan melanda. Semuanya terjadi karena perpaduan unik antara rakyat yang bermulut usil dengan Gubernur sholih yang tak sabar mendengar. Ini sungguh menggelisahkan ‘Umar.

Sampai suatu hari datanglah al-Mughiroh ibn Syu’bah, rodhiyallohu ‘anhu.

“Wahai Amirul Mukminin,” kata al-Mughiroh, “Seseorang yang bertaqwa namun lemah itu, ketaqwaannya menjadi miliknya sendiri. Sementara kelemahannya akan menjadi aib bagimu sebagai penanggungjawabnya. Adapun orang kuat yang bermaksiat, maka maksiatnya menjadi tanggungannya sendiri. Sementara kekuatannya akan menjadi kekuatan bagimu!”

‘Umar tersenyum.

“Engkau benar, wahai al-Mughiroh,” kata ‘Umar, “Berangkatlah engkau ke Kufah. Ku angkat kau menggantikan Sa’d ibn Abi Waqqosh menjadi gubernur di sana. Sungguh demi Alloh, Sa’d adalah orang yang bertaqwa namun lemah, dan engkaulah orang yang kuat lagi maksiat!”

YYY

Suatu hari di pembaringan, ketika darah yang mengalir dari luka di perutnya makin bersimbah, ‘Umar ibn al-Khoththob menyampaikan wasiat kepada keenam calon penggantinya. Di antara wasiat itu ada kalimat yang dikhususkan tentang Sa’d ibn Abi Waqqosh di mana tak seorang lain pun diberi wasiat demikian. “Jika Sa’d ibn Abi Waqqosh yang terpilih,” kata ‘Umar patah-patah, “Maka itu adalah hal yang baik. Sungguh demi Alloh, aku dulu memecatnya bukan karena kesalahan ataupun adanya sifat khianat pada dirinya.”

Begitulah. Seiring waktu, usia, dan pembelajaran, tentu saja manusia bisa tumbuh menjadi lebih baik.

Segala kisah tentang sisi lain para shohabat Rosululloh yang kita simak di halaman-halaman ini tidaklah mengurangi terpujinya nama mereka di hati kita, insya Alloh. Abu Dzar, Sa’d ibn Abi Waqqosh, dan juga al-Mughiroh ibn Syu’bah adalah bintang yang menyala penuh cahaya di langit sejarah. Mereka telah melakukan apa yang mereka bisa. Kemuliaan mereka menjadi cermin terindah yang kilat kilaunya takkan pernah terkejar oleh sinar dari segala amal kita.

Bahkan mereka memiliki sisi-sisi manusiawi yang tak terelakkan, itu karena mereka bukan malaikat dan kemaksuman juga tak dijaminkan untuk mereka. Mereka adalah apa adanya mereka. Dan kita belajar banyak dari itu.

“Orang mulia,” demikian ditulis Imam Ibnu Hajar al-‘Asqolani dalam al-Ishobah fii Tamyiizish Shohabah, sebuah kitab yang mengurai biografi para shohabat periwayat hadits, “Bukanlah dia yang tak memiliki cela. Orang mulia adalah mereka yang aibnya bisa dihitung.” Dalam Siyaru A’lamin Nubala karya Imam adz-Dzahabi, dinukil kata-kata ‘Abdulloh ibn al-Mubarok, “Jika kebaikan seseorang lebih banyak daripada keburukannya,” ujar Imam para tabi’in ini, “Maka keburukannya tersebut tidak dianggap. Namun jika keburukannya lebih banyak daripada kebaikan, maka kebaikannya tidak diperhitungkan.”

Dalam dekapan ukhuwah, di lembar-lembar selanjutnya, setelah berjumpa dengan beberapa musuh para rosul, kita juga akan bertemu banyak kisah tentang para shohabat Sang Nabi. Kita akan tahu, bahwa mereka benar-benar manusia dengan segala sisinya. Ada hal-hal yang mungkin akan membuat kita geleng-geleng kepala. Tapi ketakjuban utama kita adalah, bahwa dalam kemanusiawiannya, mereka berjuang untuk selalu jujur dan menggunakan hati jika sudah bertemu firman Ilahi dan sabda Sang Nabi.

“Itulah,” tulis Abul A’la al-Maududi dalam karya cantiknya al-Khilafah wal Mulk, “Makna salah satu kaidah terpenting dalam ilmu hadits: ‘Semua shohabat adalah orang yang adil.’ Adapun perilaku mereka dalam keseharian dan hubungan-hubungan memang bukan tanpa cela. Marilah kita terima itu apa adanya.” Mereka memiliki kecenderungan jiwa, pola pikir, sikap, dan watak yang penuh warna. Itu membuat persaudaraan dan hubungan di antara mereka dijejali dinamika, penuh pergumulan batin hingga sengketa berdarah. Itu semua akan menjadi pembelajaran penting bagi kita, dalam dekapan ukhuwah.

Dalam dekapan ukhuwah kita menginsyafi, bahwa sebagaimana kemampuan memimpin, kemampuan menjalin hubungan adalah sebuah keterampilan yang selayaknya dipelajari. Dengannya kita menyajikan buah yang paling manis, paling harum, dan paling lembut dari pohon iman yang juga terus kita sirami dengan amal ketaatan.


Credit: “Dalam Dekapan Ukhuwah”; Salim A. Fillah; Pro-U Media