Rabu, 03 Juni 2015

Apakah Belum Jelas Bagimu?

Marilah kita berhenti sejenak. Menekukkan kepala, menundukkan jiwa sembari membaca ayat Alloh ‘Azza wa Jalla. Dialah yang Menggenggam Rahasia-rahasia. Dialah Tuhan yang mutlak kekuasaan-Nya. Selain Alloh, tak ada yang sungguh-sungguh berkuasa. Tetapi, alangkah sering hati kita ciut oleh mereka yang kekuasaannya semu.

Di hari-hari ketika airmata sudah mengering, tetapi kesedihan belum hilang dan kesadaran masih belum sanggup menepis kepanikan, marilah sejenak kita renungkan ketika Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati. Tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudhorotan kepadamu. Sesungguhnya Alloh mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (Qs. Ali ‘Imron [3]: 120)

Orang-orang kafir…, alangkah besar tipu daya mereka. Mereka datang dengan membawa pertolongan di tangan kiri, tetapi tangan kanan mereka mencekik kita agar membayar apa yang sudah mereka berikan bersama bunganya. Mereka datang berbondong-bondong sehingga kita mengira tak ada lagi yang bisa diharapkan untuk keluar dari kesedihan dan kesengsaraan kecuali mereka. Kita membiarkan diri dalam ketergantungan. Padahal, atas setiap kebaikan yang diulurkan dengan pamrih di belakang, ada harga yang harus kita bayar untuk kelemahan dan ketidakberdayaan kita.

Al-ihsanu yu’jizul insaan. Sesungguhnya, kebaikan itu mematikan manusia. Apabila kita menenggelamkan diri dalam ketergantungan, maka jiwa kita akan lemah dan hati kita akan ciut. Kita merasa tak berdaya karena kita tak memberdayakan kekuatan kita sendiri. Dan sesungguhnya kekuatan yang dapat mendatangkan pertolongan Alloh ‘Azza wa Jalla adalah sabar. Dan Alloh berjanji, Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudhorotan bagimu. (Qs. Ali ‘Imron [3]: 120)

Hari ini, badan telah membungkuk dan jiwa telah tertunduk dikarenakan kita sibuk menambahkan beban yang sudah bertumpuk ke pundak kita. Kita wariskan kesengsaraan pada anak cucu bukan karena Alloh Ta’ala tak berikan limpahan karunia pada bumi tempat kita berpijak, tetapi karena jiwa yang lemah dan mata yang silau oleh apa yang tampaknya merupakan kebaikan. Kita mengeluhkan takdir pada mereka. Padahal, kesengsaraan telah bertumpuk dikarenakan uluran-uluran tangan yang penuh tipu daya.

Ya Alloh…, rasa-rasanya kami tak juga mengambil pelajaran dari kejadian demi kejadian.

Telah berlalu orang-orang sebelum kita. Telah dibinasakan negeri-negeri dari berbagai bangsa di dunia ini. Dan tidak tersisa penduduknya kecuali sedikit, atau bahkan lenyap sama sekali sesudah kejayaan dibanggakan atas bangsa dan kabilah yang lain. Semua itu menjadi cermin bagi orang-orang yang berpikir dan menggunakan akalnya. Ada pelajaran yang mestinya kita renungkan.

Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang memusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki, tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?

Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan itu), Kami ceritakan sebagian berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rosul-rosul mereka dengan bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Alloh mengunci mati hati orang-orang kafir. (Qs. al-A’rof [7]: 100-101)

Negeri-negeri itu dilenyapkan oleh Alloh ‘Azza wa Jalla agar kita mengambil pelajaran. Sesudah Alloh datangkan bukti-bukti kekuasaan-Nya, apa yang telah kita renungkan?


Credit: “Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan”; Mohammad Fauzil Adhim; Pro-U Media

Maimun, Budak Hina yang Doanya Mustajab

Basroh, Iraq. Sudah beberapa lama tak turun hujan. Hari itu belum beranjak siang. Terik matahari mulai terasa. Angin musim kemarau berhembus. Angin kering padang pasir menerpa wajah. Orang-orang mulai kesulitan mendapati air. Demikian juga binatang peliharaan yang kelihatan kurus-kurus.

Hari itu penduduk Basroh sepakat untuk mengadakan sholat istisqo'. Untuk meminta hujan yang sudah sekian lama tertahan. Sholat itu akan dihadiri para ulama Basroh dan tokoh masyarakatnya. Yang langsung akan dipimpin oleh salah seorang ulama pilihan di antara mereka. Nampak di antara para ulama yang sudah hadir Ulama Besar Malik bin Dinar, Atho' As-Sulaimi, Tsabit Al-Bunani, Yahya Al-Bakka, Muhammad bin Wasi', Abu Muhammad As-Sikhtiyani, Habib Abu Muhammad Al-Farisi, Hasan bin Abi Sinan, Utbah bin Al-Ghulam, dan Sholeh Al-Murri.

Benar-benar sebuah sholat Istisqo' yang istimewa. Dihadiri orang-orang terbaiknya. Tentunya dengan harapan agar Alloh menurunkan kembali hujan yang ditahan karena dosa-dosa manusia.

Para penduduk nampak berduyun-duyun mendatangi lapangan yang telah ditentukan. Para ulama pun sudah mulai nampak di lapangan itu.

Anak-anak kecil yang asyik belajar di tempat pengajian Al-Qur'an mereka, juga nampak berlarian menuju lapangan. Demikian juga para wanitanya. Besar, kecil, laki, perempuan, tua, muda, semuanya tidak ada yang ketinggalan untuk mengikuti sholat. Dengan hanya satu harapan, agar hujan kembali turun.

Sholat dimulai. Dua roka’at sudah. Selesai itu sang imam menyampaikan khutbah dan doa panjangnya. Mengakui segala kelemahan dan kesalahan manusia yang menyebabkan murka Alloh. Dan mengharap kembali turunnya berkah hujan dari langit. Karena masih ada orang tua dan binatang yang tidak bersalah ikut menanggung akibat dosa sebagian orang. Doa terus dipanjatkan.

Waktu terus beranjak siang. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Mendung tak kunjung datang. Langit masih terlihat cerah. Matahari semakin terasa terik. Sholat istisqo' selesai. Semua penduduk pulang ke rumah masing-masing. Tinggallah para ulama yang masing-masing bertanya dalam hati mengapa hujan tak kunjung datang. Padahal telah berkumpul orang-orang baik dan pilihan di masyarakat Basroh.

Akhirnya diputuskan untuk menentukan hari lain. Mengulang sholat istisqo' berharap untuk kali ke dua ini, Alloh mengabulkan doa mereka. Sholat kedua ditentukan. Suasana sholat ketika itu tidak jauh berbeda dengan sholat sebelumnya. Dan kali ini pun belum ada tanda-tanda dikabulkannya doa. Langit masih sangat cerah dengan terik matahari tengah hari. Tanda tanya di hati para ulamanya semakin besar.

Sholat ketiga pun segera menyusul. Semoga yang ketiga inilah yang didengar, begitu harapan mereka. Persis seperti yang pertama dan kedua, sholat yang ketiga pun mempunyai suasana yang sama. Dan ternyata hasilnya pun sama. Hujan masih tertahan entah karena apa. Tanda tanya di hati para ulama Basroh kian menggelayut di dalam hati mereka masing-masing. Tanpa jawaban. Seluruh penduduk dan ulamanya pulang ke rumah dan tidak tahu kapan musim kering itu berlalu.

Tersisa Malik bin Dinar dan Tsabit Al-Bunani di lapangan terlihat berbincang serius. Perbincangan itu dilanjutkan di masjid yang tidak jauh dari tempat itu. Hingga malam datang menjelang. Masjid sudah sepi, tidak ada lagi yang sholat. Karena sudah malam larut.

Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh seorang dengan kulit berwarna gelap, wajah yang sederhana, dengan betis tersingkap yang terlihat kecil, dengan perut buncit. Orang itu memakai sarung dari kulit domba, demikian juga kain yang dipakainya untuk atas badannya. “Aku memperkirakan semua yang dipakainya tidak melebihi dua dirham saja,” kata Malik bin Dinar. Yang menunjukkan bahwa orang itu hanyalah orang miskin yang tidak memiliki banyak harta.

Malik bin Dinar mengamati gerak-geriknya, ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang hitam itu di larut malam seperti ini. Orang itu menuju tempat wudhu. Setelah selesai wudhu, seperti tanpa mempedulikan Malik dan Tsabit yang mengamatinya dari tadi, orang itu menuju mihrob imam kemudian sholat dua roka’at. Sholatnya tidak terlalu lama. Surat yang dibaca tidak terlalu panjang. Ruku' dan sujudnya sama pendeknya dengan lama berdirinya.

Selesai sholat, orang itu menengadah tangannya ke langit sambil berdoa. Malik bin Dinar mendengar isi doa yang disampaikan dengan suara yang tidak terlalu tinggi tapi terdengar. “Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya.”

Setelah mendengar itu Malik bin Dinar berkata, “Belum lagi dia menyelesaikan perkataannya, angin dingin pertanda mendung tebal menggelayut di langit. Kemudian tidak lama, hujan turun dengan begitu derasnya. Aku dan Tsabit mulai kedinginan.”

Malik dan Tsabit hanya bisa tercengang melihat orang hitam itu. Mereka berdua menunggu hingga orang itu selesai dari munajatnya. Begitu terlihat orang itu selesai, Malik menghampirinya dan berkata, “Wahai orang hitam tidakkah kamu malu terhadap kata-katamu dalam doa tadi?” Orang tdai bertanya, “Kata-kata yang mana?” “Kata-kata: dengan kecintaan-Mu kepadaku,” kata Malik. “Apa yang membuatmu yakin bahwa Alloh mencintaimu?” sambung Malik. Orang itu menjawab, “Menyingkirlah dari urusan yang tidak kamu ketahui, wahai orang yang sibuk dengan dirinya sendiri! Dimanakah posisiku ketika aku dapat mengkhususkan diri kami untuk beribadah hanya kepada-Nya dan ma'rifat kepada-Nya. Mungkinkah aku dapat memulai hal itu jika tanpa cinta-Nya kepadaku sesuai dengan kadar yang dikehendaki dan cintaku kepada-Nya sesuai dengan kadar kecintaanku.”

Setelah berkata itu, dia pergi begitu saja dengan cepatnya. Malik memohon, “Sebentar, semoga Alloh merahmatimu. Aku perlu sesuatu.” Orang itu menjawab, “Aku adalah seorang budak yang mempunyai kewajiban untuk mentaati perintah tuanku.”

Akhirnya Malik dan Tsabit sepakat untuk mengikuti dari jauh. Ternyata orang itu memasuki rumah seorang yang sangat kaya di Basroh yang bernama Nakhos. Malam sudah sangat larut. Malik dan Tsabit merasakan sisa malam begitu panjang, karena rasa penasarannya untuk segera mengetahui orang itu di pagi harinya.

Pagi yang dinanti akhirnya tiba. Malik yang memang mengenal Nakhos itu segera menuju rumahnya untuk menanyakan budak hitam yang dijumpainya semalam. “Apakah engkau punya budak yang bisa engkau jual kepadaku untuk membantuku?” kata Malik bin Dinar beralasan untuk mengetahui budak hitam yang dijumpainya semalam. Nakhos berkata, “Ya, saya mempunyai seratus budak. Kesemuanya bisa dipilih.” Mulailah Nakhos mengeluarkan budak satu per satu untuk dilihat Malik. Sudah hampir semuanya dikeluarkan, ternyata Malik tidak melihat budak yang dilihatnya semalam. Sampai Nakhos menyatakan bahwa budaknya sudah dikeluarkan semua. “Apakah masih ada yang lain?” tanya Malik. “Masih tersisa satu lagi,” jawab Nakhos.

Saat itu waktu mendekati waktu zhuhur. Saat istirahat siang. Malik berjalan ke belakang rumah menuju suatu kamar yang sudah terlihat reot. Di dalam kamar itulah Malik melihat budak hitam yang dilihatnya semalam sedang tertidur lelap. “Nakhos, dia yang saya mau, ya demi Alloh dia,” kata Malik semangat. Dengan penuh keheranan Nakhos berkata, “Wahai Abu Yahya, itu budak sial. Malamnya habis untuk menangis dan siangnya habis untuk sholat dan puasa.” “Justru untuk itulah aku mau membelinya,” kata Malik. Melihat kesungguhan Malik, Nakhos memanggil budak tadi.

Dengan wajah kuyu, dengan rasa kantuk yang masih terlihat berat budak itu keluar menemui majikannya. Nakhos berkata kepada Malik, “Ambillah terserah berapa pun harganya agar aku cepat terlepas darinya.”

Malik mengulurkan dua puluh dinar sebagai pembayaran atas harga budak itu. “Siapa namanya?” tanya Malik yang sampai detik itu masih belum mengetahui namanya. “Maimun.”

Malik menggandeng tangan budak itu untuk diajak ke rumahnya. Sambil berjalan, Maimun bertanya, “Tuanku, mengapa engkau membeliku padahal aku tidak cocok untuk membantu?”

Malik berkata, “Saudaraku tercinta, kami membelimu agar kami bisa membantumu.” “Kok bisa begitu?” tanya Maimun keheranan. “Bukankah kamu yang semalam berdoa di masjid itu?” tanya Malik. “Jadi, kalian sudah tahu saya?” Maimun kembali bertanya. “Ya akulah yang memprotes doamu semalam,” kata Malik.

Budak itu meminta untuk diantar ke masjid. Setelah sampai ke pintu masjid, dia membersihkan kakinya dan masuk. Langsung sholat dua roka’at. Malik bin Dinar hanya bisa diam sambil mengamatinya dan ingin tahu apa yang ingin dilakukannya. Selesai sholat, orang itu mengangkat tangannya berdoa seperti yang dilakukannya kala malam itu. Kali ini dengan doa yang berbeda, “Tuhanku, rahasia antara aku dan Engkau telah Engkau buka di hadapan makhluk-makhluk-Mu. Engkau telah membeberkan semuanya. Maka bagaimana aku nyaman hidup di dunia ini sekarang. Karena kini telah ada yang ketiga yang menghalangi antara aku dan diri-Mu. Aku bersumpah, agar Engkau mencabut nyawaku sekarang juga.”

Tangan diturunkan, budak itu kemudian sujud. Malik mendekatinya. Menunggu dia bangun dari sujudnya. Tetapi lama dinanti tak juga bangun. Malik menggerakkan badan budak itu, dan ternyata budak itu sudah tidak bernyawa lagi.


Credit: suaramedia

Selasa, 02 Juni 2015

Ketika Azab Datang Mengguncang

Tanah yang kita pijak, tak ada jaminan akan tetap kokoh esok hari. Bumi yang kita tinggali ini, tak ada kepastian pada malamnya tak terjadi guncangan. Begitu pun gunung-gunung yang menjadi pasak agar bumi tetap kokoh tidak bergerak-gerak, bisa saja sewaktu-waktu justru berguncang keras dan bahkan meledak sehingga tidak menyisakan apa pun kecuali catatan sejarah bahwa pernah ada kehidupan di sini.

Semua yang ada di dunia ini, bisa secara tiba-tiba musnah seketika. Negeri dan kampung yang kita usahakan dengan jerih payah bersusah-susah hampir sepanjang umur kita, bukan tak mungkin secara tak terduga-duga lenyap ditelan bumi atau hanyut dilamun ombak setinggi gunung.

Alloh ‘Azza wa Jalla pernah berfirman, dan mudah-mudahan kita dapat mengambil pelajaran darinya. Kata Alloh, Maka apakah mereka merasa aman dari azab Alloh (yang tidak terduga-duga)? Tidaklah yang merasa aman dari azab Alloh kecuali orang-orang yang merugi. (Qs. al-A’rof [7]: 99)

Azab yang berupa bencana mengguncang itu, macam-macam tingkatnya, sebagaimana bermacam-macam pula cara Alloh mendatangkannya. Setidaknya ada lima tingkatan azab yang dapat kita catat pada kesempatan ini, dan mungkin masih banyak lagi yang belum kita cermati dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Pertama, azab yang berupa pemusnahan suatu kaum. Alloh Ta’ala tenggelamkan kaum itu seluruhnya bersama segenap kejayaan peradaban yang mereka bangun ke dalam perut bumi. Tak ada yang dapat menolong mereka. Tidak pula ada yang mencatat, kecuali karena kabar dari Alloh swt sendiri atau dari orang-orang yang datang kemudian. Mereka membangun peradaban baru di atasnya, sampai mereka menemukan jejak-jejak peradaban yang sudah tenggelam. Dan inilah yang terjadi pada kaum ‘Aad dan Tsamud.

Kedua, azab yang menghabiskan hampir seluruh penduduk negeri, kecuali yang baik-baik saja, yang di dalam hatinya ada iman. Mereka ini jumlahnya sangat sedikit dibanding penduduk yang secara nyata menentang Alloh. Banjir bandang yang didatangkan Alloh untuk menenggelamkan para penentang Nabi Nuh ‘alaihis salam termasuk azab yang jenis ini.

Ketiga, azab yang memusnahkan sebagian besar manusia di suatu kawasan. Yang baik-baik maupun yang hidupnya dipenuhi dengan kedurhakaan dan kemaksiatan, sama-sama ditimpa oleh petaka. Tetapi Alloh mengampuni dan meridhoi orang-orang yang baik dan memelihara iman mereka. Alloh berikan rohmat dan kasih sayang kepada mereka di akhirat. Adapun kepada yang durhaka, sesungguhnya ngerinya petaka itu tak ada apa-apanya dibanding pedihnya siksa di akhirat.

Keempat, azab yang memusnahkan manusia dalam jumlah sangat besar, tetapi yang Alloh selamatkan jauh lebih banyak daripada yang menemui kematian. Alloh akan tampakkan tanda-tanda kekuasaan-Nya pada mereka agar mengambil pelajaran dan mengabarkan kepada manusia lainnya tentang kebenaran. Akan tetapi, sebagiannya ingat, dan sebagiannya segera menjadi kafir. Mereka tertutup hatinya, sehingga Alloh Ta’ala jadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Alloh Ta’ala mengunci mati hati mereka.

Ingatlah ketika Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rosul-rosul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Alloh mengunci mati hati orang-orang kafir. (Qs. al-A’rof [7]: 101)

Kelima, azab yang dijatuhkan pada sejumlah orang dengan mengirimkan hujan-hujan batu atau ombak yang menggulung setinggi gunung. Alloh Ta’ala sisakan sebagian orang yang tatkala azab itu sedang diturunkan, dalam keadaan penuh ketakutan mereka memurnikan ketaatan, betapapun selama ini hidupnya berlumuran dosa.

Alloh berfirman, Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia ingin ingkar. (Qs. Luqman [31]: 32)

Demikianlah. Semoga kita bisa belajar.


Credit: “Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan”; Mohammad Fauzil Adhim; Pro-U Media

Menenteramkan Jiwa dengan Harta

Kalau engkau merasa hidupmu semakin penuh kegelisahan, justru di saat harta kian bertambah, maka periksalah jalan yang engkau tempuh untuk memperolehnya. Barangkali ada yang keliru dalam melangkah, sehingga menghalangi datangnya barokah hidup kepadamu. Periksalah. Barangkali ada pintu-pintu rezeki yang meragukan kehalalannya (syubhat), atau seakan-akan rezeki itu halal dan thoyyib, padahal ada hak orang lain yang terzholimi.

Terkadang, pekerjaan yang kita lakukan tidak menyalahi agama. Ia merupakan pekerjaan yang baik. Tetapi, jalan untuk memperoleh pekerjaan itu yang tidak bersih, sehingga mendorong kita pada keburukan atau setidaknya kegelisahan hidup. Harta kita bertambah, tetapi hati kita semakin gelisah. Penghasilan kita bertambah besar, tetapi bertambah pula ketidakbahagiaan kita dalam menjalani hidup.

Kadang, kita lupa bahwa banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan harta. Bertambahnya harta kita memang membuat kita punya kesempatan lebih besar untuk membeli apa saja. Tetapi, jika kita tidak berhati-hati menempatkannya, dan tidak memperhatikan cara kita memperoleh, kita justru bisa kehilangan makna hidup kita, diri kita, ketulusan orang-orang yang dekat maupun yang jauh, dan bahkan bisa jadi kita kehilangan diri sendiri. Kita merasa asing terhadap suara nurani kita karena kita sudah tidak mengenalinya.

Sangat banyak hal yang bisa dibeli dengan harta. Tetapi lebih banyak lagi yang tidak. Uang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi tidak untuk menikmati tidur di atasnya. Uang bisa membeli rumah besar dan lapang, tetapi tidak untuk melapangkan jiwa dan ketenteraman hati orang-orang yang tinggal di dalamnya. Uang bisa membeli hiburan apa saja, tetapi bukan ketenangan bathin mereka yang menikmatinya. Uang juga bisa membeli tepuk tangan yang meriah, tetapi bukan ketulusan. Dengan uang, kita bisa membeli berbagai bentuk kesenangan, tetapi tak ada sedikit pun jaminan bahwa kita bahagia.

Betapa banyak orang yang sanggup membelikan apa saja untuk keluarga dan dirinya sendiri, bahkan sampai kepada hal-hal yang paling tidak dibutuhkan. Mereka bisa membeli gelak tawa dan kesediaan untuk mengerumuni kita, tetapi bukan ketulusan hati untuk menemani dan mencintai kita dengan tulus. Kita dapat mereguk kemeriahan orang-orang yang mengangguk, kapan saja kita minta mereka mengangguk, tetapi kita justru merasa kesepian.

Sungguh, harta yang buruk akan membawa kita pada sempitnya dada, sumpeknya kehidupan, gelisahnya hati, dan dekatnya kita pada keburukan. Kita mudah merasakan kehilangan yang besar pada harta kita. Kita hidup, tetapi kosong dari makna. Kita terhibur, tetapi jiwa kita letih dan hati kita sakit.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana jika kita mengalami itu semua atau sebagian di antaranya, sedangkan jalan kita memperoleh harta telah lurus dan bersih? Masih ada lagi yang perlu kita periksa. Sesungguhnya atas harta yang kita miliki, ada yang harus kita keluarkan agar benar-benar bersih apabila jumlahnya telah mencukupi. Sebagian dari harta yang kita peroleh adalah milik orang lain yang berhak, sejumlah yang telah ditetapkan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Maka, menahannya karena menganggap milik kita―sama artinya mencampur harta yang baik dengan harta yang kotor.

Tak ada jalan yang lebih baik untuk mensucikan harta kita, kecuali dengan mengeluarkan kotoran tersebut. Kita mengeluarkan kepada yang berhak karena sesungguhnya harta itu milik mereka. Hanya saja, Alloh berikan hak kepada kita untuk memilih kepada siapa kita berikan harta itu di antara orang-orang yang berhak. Karenanya, keluarkanlah kotoran harta yang bernama zakat itu dengan sebaik-baiknya.

Selebihnya, ada lagi yang perlu kita perhatikan. Sesungguhnya di luar zakat, ada hak orang lain pada harta kita. Belum berbuat kebajikan orang yang membayarkan zakat, tetapi menahan hak orang lain yang ada pada hartanya.

Semoga ada yang bisa kita renungkan.


Credit: “Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan”; Mohammad Fauzil Adhim; Pro-U Media

Mengutamakan Ibu Kita

Inilah penuturan Abu Huroiroh ra. Seorang laki-laki berkata, “Wahai Rosul Alloh, siapakah yang lebih berhak aku berbakti kepadanya dengan baik?”

Rosululloh saw berkata, “Ibumu.”

Dia berkata, “Lalu siapa lagi?”

“Ibumu,” kata Rosululloh saw.

Dia berkata, “Kemudian siapa?”

Rosululloh saw menjawab, “Ibumu.”

Dia merkata, “Lantas siapa lagi?”

Rosululloh saw menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Ada pelajaran dari hadits ini. Seorang ibu memiliki keutamaan untuk kita taati dan kita limpahi kebajikan, tiga kali lebih besar daripada seorang bapak. Tidak ada yang lebih utama untuk kita penuhi panggilannya, kita dengar nasihatnya dan kita limpahi perbuatan baik di dunia ini kecuali ibu. Bahkan andaikata ibu yang melahirkan kita belum beriman kepada Alloh, maka kita tetap harus berbuat baik kepadanya.

Keharusan untuk berbuat baik kepada ibu yang melahirkan kita, betapapun ia belum beriman kepada Alloh―misalnya―bukan karena mengikuti nilai kepatutan yang ada di masyarakat. Bukan. Tetapi sebagai wujud ketaatan kita kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, karena tidaklah kewajiban berbuat baik itu datang melainkan dari Alloh Yang Maha Menciptakan. Ini bukan berarti mengharuskan kita taat kepada apa pun yang diperintahkan oleh orangtua kita, dalam hal ini ibu, melainkan berbuat baik dan menjaga diri dari perkataan yang menyakitkan hati. Apalagi jika lebih dari itu.

Sesungguhnya ketaatan kepada manusia itu hanyalah dalam perkara-perkara yang membawa ketaatan kepada Alloh, atau dalam perkara yang tidak menyalahi perintah dan larangan-Nya. Begitu seorang ibu menyuruh kita berbuat maksiat kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, maka kita tidak boleh menaati perintahnya dalam perkara tersebut. Itu pun tetap harus dengan cara yang baik. Larangan untuk menaati perintah yang melanggar peraturan Alloh tetap harus berjalan seiring dengan kewajiban berbuat baik kepada orangtua, khususnya ibu. Artinya, kita tidak berkata kasar, tidak membentak, tidak berbuat yang menyakitkan hati, dan kalau sekiranya perlu menyampaikan penolakan, haruslah dengan perkataan yang mulia.

Seberapa jauh kita harus berbuat baik kepadanya? Sejauh kita sanggup. Sesungguhnya, betapapun kita telah berusaha untuk membalas sedikit saja dari kebaikan ibu yang membesarkan kita tanpa meminta balasan, tak akan dapat menebus kemuliaannya sedikit pun. Setiap kali kita bernapas, maka dalam setiap hembusan napas itu ada kasih sayang, kemuliaan, dan keutamaan ibu yang mengaliri darah dan hidup kita. Tidaklah kita bisa berdiri dengan tegak, bernapas dengan baik dan memiliki jiwa yang kokoh, kecuali karena tulusnya cinta ibu kita. Kalaupun terkadang harus ada airmata yang jatuh saat mengasuh kita di waktu kecil, itu bukan karena ia tidak ikhlas mengasuh. Tidak. Tetapi airmata itu kadang jatuh justru untuk mempertahankan keikhlasan. Agar penatnya menjaga di waktu malam tidak membuatnya merutuki kita dengan keluh kesah panjang.

Sesungguhnya, satu malam kasih sayang seorang ibu kepada kita, tak akan pernah sanggup kita tembus dengan hadiah yang paling indah. Sebab, tidaklah mereka berjaga, kecuali dengan murninya kasih sayang, tulusnya cinta, dan pada saat yang sama sentuhan jiwa untuk membangkitkan jiwa kita. Andaikata seorang bapak menyayangi anaknya dengan turut berjaga semalaman atau bahkan lebih dari itu, niscaya tak akan sanggup menyamai satu malam saja kasih sayang seorang ibu yang lebih tulus mendidik kita.

Saat-saat kecil, khususnya ketika bayi inilah yang membutuhkan cinta tanpa syarat. Karenanya, nilai do’a kita untuk mereka terutama terkait dengan derajat kasih sayang dan pengasuhan mereka di waktu kecil.

“Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orangtuaku dan limpahilah mereka kasih sayang sebagaimana mereka dulu mentarbiyahku di waktu kecil.”


Credit: “Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan”; Mohammad Fauzil Adhim; Pro-U Media

Kamis, 28 Mei 2015

Percayailah yang Terbaik

mempercayai yang terbaik dalam diri seseorang
akan menarik keluar yang terbaik dari mereka

berbagi senyum kecil dan pujian sederhana mungkin saja mengalirkan ruh baru pada jiwa yang nyaris putus asa

atau membuat sekeping hati kembali percaya
bahwa dia berhak dan layak untuk berbuat baik


INI salah satu adegan yang paling saya suka dalam Red Cliff, garapan sutradara John Woo.

Ketika itu, Zhuge Liang, sang ahli strategi legendaris, didampingi Lu Su, penasehat militer kerajaan Wu, sedang mengunjungi Zhou Yu di pusat pelatihan prajurit Wu di Karang Merah. Latihan terhenti karena kumandang bunyi seruling di puncak karang. Dengan begitu gesit dan nyaris tak terindera, Zhou Yu menghampiri si bocah yang ternyata bersama kakeknya. Zhou Yu meminta seruling bambu itu, meraut sedikit bagian lubang udara utamanya dan mengulurkannya kembali.

Suara seruling itu makin merdu. Lagunya menghanyutkan semua yang hadir dalam suasana keindahan alam daratan Cina selatan.

Tapi urusan utama kedua rakyat jelata itu bukan soal seruling. Si kakek dan cucunya ini rupanya kehilangan kerbau air di sawah mereka. Mereka hendak mengadu. “Beberapa saksi melihat bahwa…,” kata sang kakek sambil menjura penuh hormat. Zhou Yu mengangguk sebelum si kakek menyelesaikan kalimatnya. Dia mengerti.

Pasukan yang dikomandani oleh Jenderal Gan Xing segera diperintahkan berhimpun dalam barisan. Zhou Yu memulai kata-katanya dengan pujian. “Aku terkesan oleh penampilan dan kerja keras semua orang hari ini!” serunya disambut gemuruh pekik para prajurit.

“Tapi kakek tua ini kehilangan kerbau milik keluarganya di dekat barak kita,” Zhou Yu berjalan berkeliling sambil menyeksamai wajah para prajurit itu. Sesekali diamatinya kaki mereka. “Apakah ini dilakukan oleh salah seorang saudara kita?”

Suasana mendadak hening.

“Ayo. Dia yang berbuat, maju ke depan dan mengakulah!” salah seorang komandan rendahan tiba-tiba berteriak. Anggota pasukan yang lain kemudian menimpali bersahut-sahutan. “Benar! Ayo mengaku! Tunggu apa lagi? Jadilah ksatria!” Keadaan menjadi begitu riuh dan kacau. “Seret saja mereka keluar! Sungguh perbuatan yang memalukan!” seru yang lain.

“Lu Su,” panggil Zhou Yu yang membuat suasana kembali sunyi, “Apa hukumannya menurut undang-undang Kerajaan Wu?”

“Hukumannya,” jawab Lu Su dengan berat hati, “Adalah mati!”

“Ayo keluar kalian! Tunjukkan diri!” teriak para prajurit bergemuruh. Suasana kembali ribut dan kacau balau. “Dan,” sambung Lu Su, “Untuk mengetahui pelakunya, mudah saja. Kerbau itu baru hilang pagi ini di sebuah sawah. Pasti masih ada banyak lumpur mengotori sepatu para malingnya. Apakah aku benar?”

“Ya, benar! Ayo, siapa pelakunya, tunjukkan diri!”

Zhou Yu sudah mengetahuinya sejak tadi. Dan dia sudah melihat tiga orang prajurit dengan sepatu berlumur tanah becek berdiri dengan gelisah dan takut. Mendengar kata-kata Lu Su dan seruan kawan-kawannya, mereka makin kalut dan ciut nyali.

“Semua prajurit Gan Xing, dengarkan perintah ini!” Zhou Yu berteriak. “Kuminta kalian semua berlari mengelilingi arena latihan. Berputarlah di bawah pohon sebelah sana itu kemudian kembali ke tempat ini! Semuanya, laksanakan! Cepat!”

“Siap!”

Seluruh prajurit segera bergerak dengan formasi baris yang rapi dan berlari ke arah yang ditunjuk oleh Zhou Yu. Untuk sampai ke pohon yang dimaksud, mereka harus menyeberangi kolam latihan yang becek dan berlumpur. Dan mereka semua menerabasnya. Masih terus berlari, kini semua sepatu jadi basah dan berlumpur. Ketiga orang yang sepatunya berlumpur, kini dibersamai oleh seluruh kawan-kawan sekesatuannya. Lalu dalam irama yang menghentak, mereka semua kembali ke hadapan Zhou Yu.

“Hari ini,” kata Zhou Yu, “Aku tidak menyeret para pelakunya keluar, karena aku ingin memberi mereka kesempatan kedua untuk menjadi lebih baik. Prajurit Wu sama sekali tidak bisa menenggang penjarah! Tak ada tempat bagi pencuri! Tapi yang kita perlukan hari ini adalah kesatuan, terikat dalam persaudaraan!”

“Benar!”

Jenderal Gan Xing terlihat muncul dengan menuntun seekor kerbau. Dia sendiri yang mengganti kerbau milik kakek tua yang hilang itu. Di hadapan si kakek, dia berlutut. “Kumohon, terimalah hormat dan permohonan ampunku. Aku gagal melatih pasukanku!”

“Hamba tak berani! Hamba tak berani!” si kakek ikut berlutut. Dan dengan sangat mengharukan, seluruh prajurit kini berlutut dan menjura hormat pada sang kakek.

Keputusan Zhou Yu untuk tak menghukum para pelaku pencurian saat itu, terbukti tepat. Kelak, ketiga orang yang mencuri kerbau itu menjadi pasukan perintis yang gagah berani dan rela mengorbankan jiwa saat menghadapi serbuan pasukan Perdana Menteri Cao Cao di seberang Karang Merah. Mereka menjadi patriot negeri Wu. Zhou Yu sangat terharu menyaksikan kepahlawanan mereka.

YYY

Sejarah di Khulafaur Rosyidin mencatat nama seorang shohabat Rosululloh yang masyhur, Abu Minjan ats-Tsaqofi. Sungguh, sebenarnya dia adalah seorang perwira nan pemberani yang sulit dicari tandingannya. Sayang, orang-orang mengenalnya sebagai peminum khomr. Itu kebiasaan jahiliah yang belum juga berhasil ditaklukkannya. Satu saat, Kholifah ‘Umar ibn al-Khoththob menderanya di muka umum sebagai ta’zir.

Beberapa waktu kemudian, dia mengikuti pasukan besar yang dikirim ‘Umar untuk menaklukkan Persia. Barisan besar mujahidin ini dipimpin oleh singa yang menyembunyikan kukunya, Sa’d ibn Abi Waqqosh.

Cerita menarik ini terjadi ketika kecamuk perang terjadi di wilayah Qodisiyah. Lagi-lagi, Abu Mihjan kedapatan meminum khomr sehingga Sa’d ibn Abi Waqqosh menghukum dengan mengikat dan menyekapnya di dalam kemah utama. Ketika Abu Mihjan mendengar derap kuda di sekitar kemah utama, dia melantunkan kekesalannya dalam bait-bait syair.

lengkap sudah kesedihan dan sesalku kini
kutukar kegagahan di atas derap kuda
dengan minuman hina, hingga terikat bahu dan kaki
jika berdiri tubuhku sakit tertahan besi
pintu pun tertutup, membuat teriakanku tak berarti

Pertempuran hari itu berlangsung sangat dahsyat. Orang-orang Persia menyerang penuh murka dengan gajah-gajah dan kereta perang mereka. Pasukan panahnya yang termahsyur terus menghujani barisan depan kaum Muslimin hingga mengakibatkan banyak jatuh korban. Sayang sekali, panglima agung Sa’d ibn Abi Waqqosh dilanda bisul di sekujur tubuhnya. Dia tak bisa memimpin langsung pertempuran di garis depan. Dengan berbaring di atas sebuah ranjang miring yang diletakkan di panggung tinggi, dia terus memberi perintah, menerima laporan, dan mengatur siasat.

Gajah-gajah itu yang menjadi masalah terbesar! Kuda-kuda kaum Muslimin tak terbiasa menghadapinya. Hewan-hewan yang biasanya tangkas itu panik, lalu menjadi liar dan tak terkendali. Formasi penyerbuan bubar dan kacau, sementara para gajah dengan belalai yang dipersenjatai gelang baja berpisau mengibas ke kanan dan ke kiri menceraiberaikan pasukan. Para pejuang Muslim yang mencoba mendekat pun banyak yang celaka karena amukannya.

Antara yakin dan tidak, dari atas ranjangnya, Sa’d ibn Abi Waqqosh melihat sosok yang mirip Abu Mihjan ats-Tsaqofi di atas seekor kuda yang ditutupi matanya menghambur ke arah barisan gajah Persia. Dengan sebilah tombak, diserangnya gajah terbesar yang seolah menjadi pimpinan kawanannya. Dengan sebuah gerakan lincah, orang itu melonjak dan menusukkan tombaknya tepat di mata sang gajah. Gajah itu kini menjadi tak terkendali dan barisan hewan-hewan raksasa itu pun kacau. Para prajurit Muslim yang lain segera mengikuti langkah orang itu, menutup penglihatan kudanya dan menyerbu mata para gajah dengan tombak mereka.

Sa’d ibn Abi Waqqosh sampai tertegak dari pembaringannya menyaksikan kegagahan sosok yang mirip Abu Mihjan itu. Dengan pedang teracung, lelaki pemberani itu mendekat ke arah gajah-gajah dan melumpuhkannya dengan tebasan di kaki depan. Para prajurit Persia yang mengeroyoknya kewalahan. Sayang, orang itu menutup muka dengan ujung sorban. Wajahnya tak terlihat. Tapi hei, Sa’d ibn Abi Waqqosh mulai mengenali kuda yang dipakai orang itu. Itu adalah kuda miliknya! Kuda milik Sa’d ibn Abi Waqqosh sendiri. Jangan-jangan benar, itu adalah Abu Mihjan? Tapi bukankah dia terikat erat disekap di kemah utama?

Ketika malam menjelang dan pertempuran agak mereda, Sa’d ibn Abi Waqqosh dengan tertatih memeriksa kemah utama. Abu Mihjan ats-Tsaqofi masih di sana, terbelenggu tangan dan kakinya. Wajahnya ditundukkan, mungkin merasa malu dan tak berguna. Dia beralih ke sudut lain. Kudanya juga ada terikat, tapi tampak begitu lelah dan kepayahan. “Demi Alloh, ada apa dengan kuda ini?” seru Sa’d.

Istri Sa’d ibn Abi Waqqosh yang kemudian menjelaskan, bahwa dialah yang melepaskan Abu Mihjan untuk ikut bertempur. Abu Mihjan bahkan memohon supaya bisa menggunakan kuda Sa’d ibn Abi Waqqosh. “Aku melihatnya sebagai seorang yang baik. Dia bersumpah pada Alloh!” ujar wanita itu, “Untuk kembali dan mengikat dirinya jika sore tiba. Dan Alhamdulillah dia menepati janjinya.”

“Kalau begitu,” ujar Sa’d, “Seharusnya dia tak lagi di belenggu. Dia seorang yang mencintai Alloh dan berjihad untuk meninggikan kalimat-Nya. Bergembiralah, wahai Abu Mihjan. Semoga Alloh mengampunimu. Sungguh hari ini engkau telah memenuhi haq kuda ini, saat tuannya sedang sakit dan tak bisa membawanya berjihad. Sibukkan dirimu dengan perang memenangkan agama Alloh, dan jangan sampai syaithon menipumu lagi untuk mendekati khomr!”

YYY

“Dia yang tak mampu memaafkan kesalahan orang lain,” demikian yang dikatakan oleh George Herbert, “Telah menghancurkan jembatan yang seharusnya dia lalui sendiri.” Ya. Kita selalu hidup dengan bersama orang lain. Tak peduli seberapa berprestasinya sesosok insan, tiap orang pasti memerlukan dukungan. Sebuah timbal balik yang setara takkan terjadi tanpa ada yang memulai. Zhou Yu, juga Sa’d ibn Abi Waqqosh dan istrinya sangat memahami itu. Dalam dekapan ukhuwah, kita memilih untuk memulainya dengan berbaik sangka.

Mempercayai yang terbaik dalam diri seseorang, akan mengeluarkan yang terbaik dari mereka. Dalam dekapan ukhuwah, mari kita percayai asas itu. Dan mari kita perlakukan saudara-saudara tercinta kita dengan asas yang sama. Johann Wolfgang von Goethe, pemikir Jerman yang sangat mengagumi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam itu punya ungkapan yang menarik. “Perlakukan seseorang dia tampak saat ini,” tulisnya dalam Faust, “Dan kau akan menjadikannya lebih buruk. Namun jika kau memperlakukannya seolah dia telah menggapai potensinya dan mewujudkan citanya, kau akan menjadikannya sebagaimana dia yang seharusnya.”

Sungguh, setiap orang ingin hidupnya berarti. Semua orang ingin merasa dirinya penting dan punya makna. Kita pun demikian. Sebab itulah, dalam dekapan ukhuwah, ini berlaku untuk setiap orang, bahkan mereka yang tidak mempertunjukkannya. Mungkin saja, mereka sedang menunggu rangsangan kecil dari kita untuk menjadi seseorang yang hebat. Mari bukakan kesempatan itu dengan mempercayai adanya kebaikan yang tersembunyi. Seperti sebuah kisah masyhur yang terjadi di masa Bani Isroil.

YYY

Lelaki itu menyipitkan mata di terjang terik. Kakinya tersaruk seok dalam sengatan pasir. Dia datang dari jauh memikul beban hati yang memayahkan. Perjalanannya melelahkan. Tapi biara yang ditujunya tak jauh lagi. Jalan agak mendaki kini, tapi sekuncup harap telah bersemi di hati.

Di pintu biara, Rahib ahli badah itu menyambutnya dengan wajah datar. Lisannya terus berkomat-kamit. Rahib itu masuk sebentar dan keluar dengan dua gelas logam di tangannya. Dia letakkan salah satu di hadapan si lelaki, dan gelas lain dia genggam dengan dua tangan. Dihirupnya dalam-dalam aroma yang menguar bersama asap.

“Rahib yang suci,” kata si lelaki. Dia diam sejenak lalu mengunjal nafasnya panjang-panjang. “Mungkinkah dosaku diampuni?”

Rahib itu tersenyum setengah menyeringai. “Memangnya apa khilafmu?”

Agak tercekat dia menjawab. “Aku telah membunuh,” katanya, “Sebanyak sembilanpuluh sembilan jiwa.”

Hampir saja gelas di tangan sang rahib jatuh. Matanya terbelalak dan mulutnya ternganga.

“Mungkinkah dosaku diampuni?” lanjut si lelaki sambil menatap harap-harap. Tangannya cemas menggaruki permukaan gelas logam. Dia lalu menunduk menanti sabda.

Tetapi Rahib itu memalingkan muka. Rautnya tampak tak suka. Lelaki itu menangkap mimik jijik di garis-garis wajah sang Rahib. Sayup dia menggumamkan sebuah ayat dalam Taurot, “Membunuh satu jiwa sama artinya membinasakan seluruh jiwa, memusnahkan segala kehidupan. Sembilanpuluh sembilan… Sungguh dosa yang tak terperikan. Tak terampunkan.”

Entah mengapa si lelaki pembunuh tiba-tiba disergap benci yang bergulung-gulung pada si Rahib. Batinnya yang luka dan tersiksa oleh dosa serasa disiram cuka yang memedihkan mendengar gumam itu. Cara Rahib itu memperlakukannya, bersikap, berkata-kata, dan menjawab tanya seolah mereka dibatasi dinding tak tertembus. Si Rahib suci. Tanpa dosa. Dan dia adalah lelaki hina, najis, tak terampuni.

Sekuncup harap yang tadi bersemi, kini gugur disengat api.

Maka sekali lagi syaithon mengalahkannya. Dalam detikan saja, pedangnya telah memenggal si Rahib, membelahnya menjadi dua. Dan dia disergap sesal yang jauh lebih menyakitkan. Genap sudah seratus nyawa. Darah sang Rahib yang mengalir merah terlihat bagai neraka menyala, siap membakarnya. Dia tergidik. Dia beringsut mundur. Nafasnya tersengal, jangganya terasa tercekik hebat, keringat dinginnya merembesi baju. Dengan tenaga yang dihimpun sepicak-sepicak, dia berlari. Terus berlari.

Untuk beberapa waktu, dia bersembunyi. Tapi dia tahu, yang dia takuti bukan apa yang ada di luar sana. Yang paling menakutkannya ada di dalam dada. Tak tampak. Tak pernah membiarkannya nyenyak. Tak pernah mengizinkannya hening.

Satu hari dia tak tahan lagi. Diberanikannya menemui orang yang dianggapnya mampu memberi jawab gelisah hatinya. Kali ini bukan Rahib yang dipilihnya. Kali ini seorang ‘alim yang didatanginya. Dan lelaki berilmu itu menerimanya dengan senyum tulus.

“Alloh itu Maha Pengampun, Saudaraku,” ujar sang ‘alim ramah. “Taubatmu pasti diterima. Hanya saja, selain menyesali segala yang telah berlalu dan menebusnya dengan kebaikan-kebaikan, engkau juga harus meninggalkan negeri yang selama ini kau tinggali. Pergilah ke negeri lain untuk memulai hidupmu yang baru. Engkau harus berhijrah.”

Lelaki pembunuh itu, kita tahu, benar-benar berhijrah. Tapi dia mati di perjalanan. Dan malaikat rohmat pun memenangi perdebatannya dengan malaikat adzab. Sebab ketika diukur jaraknya, lelaki itu sejengkal lebih dekat ke arah negeri pertaubatannya. Dia benar-benar telah meninggalkan kejahatan, meski baru sejengkal. Maka Alloh memerintahkan agar dia dibawa ke surga.

YYY

Kebaikan itu hanya menyembul sedikit, mengintip di balik terbunuhnya seratus nyawa. Seorang Rahib memang ahli ibadah. Tetapi dia bukan ahli ilmu. Dia tak kuasa mengenali kebaikan yang tersembunyi. Begitulah kita hari-hari ini, banyak terpesona dan dengan mudah menyebut seseorang sebagai “Ustadz!” Padahal boleh jadi dia bukan ahli ilmu. Dia bisa saja ‘Abid, ahli ibadah. Atau juga Khothib, seorang yang fasih bicara. Atau bisa juga Katib, seorang yang pandai menulis.

Adapun ulama, adalah mereka yang benar-benar mengenal Alloh dan takut pada-Nya.

Seperti ‘alim yang menuntun sang pembunuh untuk bertaubat. Dia lelaki jernih yang penuh prasangka baik. Jika si Rahib lebih tertekan oleh kata “membunuh”, sang ahli ilmu lebih terkesan oleh kata “taubat”. Kebaikan itu memang belum wujud, tapi dia memperlakukan sang pembunuh dengan penuh cinta, mempercayai yang terbaik dalam dirinya, dan menjadikan lelaki itu mampu menyongsong jalan surga.

Itulah ulama. Dalam dekapan ukhuwah kita belajar dari mereka untuk takut kepada Alloh dan tak mudah-mudah memvonis pada sesama hamba. Dalam dekapan ukhuwah kita belajar untuk mengenali kebaikan yang mengintip, mempercayainya, dan memberinya kesempatan untuk tampil mengemuka.


Credit: “Dalam Dekapan Ukhuwah”; Salim A. Fillah; Pro-U Media