Jumat, 23 November 2018

Resensi: Terapi Mental Aktivis Harokah


Entah sudah berapa kali saya mengunggah buku ini dalam status saya, tetapi bukan membahas keseluruhan isinya. Kali ini kita coba kupas tentang penjagaan hati dari penyakit-penyakit yang dapat menggerogoti amal dan keikhlasan.

Buku ini pertama kali dijumpai sekitar tahun 1999 (atau 2000) milik Murobbi. Dipinjam tetapi belum tuntas dibaca, meski sempat dilakukan aksi scanning keseluruhan isi bukunya. Dan peran kertas memang belum bisa tergantikan.

Ada 14 penyakit yang dibahas dalam buku ini, mulai dari makna, sebab, (tanda), akibat, dan terapinya. Sengaja saya tuangkan semua poin-poin dalam buku ini dalam resensi saya kali ini agar memudahkan teman-teman memahami esensinya.

1. Futur
» Makna: menjadi malas setelah sebelumnya rajin.

» Sebab: Berlebih-lebihan dan terlalu bersemangat dalam beragama | Berlebihan dalam hal yang mubah | Suka menyendiri dan meninggalkan jama’ah | Sedikit mengingat mati dan kampung akhirat | Bersikap sembrono dalam amal keseharian | Perutnya kemasukan barang haram atau syubhat | Membatasi kegiatan hanya pada satu bagian agama | Melupakan sunnah terhadap alam dan kehidupan | Tidak memperhatikan hak-hak badan karena banyaknya kewajiban yang harus digarap | Tidak adanya persiapan untuk menghadapi rintangan | Berteman dengan orang yang lemah kemauannya dan rendah cita-citanya | Serabutan dalam melaksanakan sesuatu | Jatuh dalam lembah maksiat dan menganggap ringan dosa-dosa kecil.

» Akibat: Tidak bersungguh-sungguh atau sembrono dalam menjalankan ketaatan kepada Alloh.

» Mengobati: Jauhi maksiat | Rajin lakukan amalan siang dan malam | Cermati waktu-waktu utama dan istiqomah | Membebaskan diri dari berlebihan dalam beragama | Melebur dalam jama’ah atau komunitas | Selalu ingat hukum Alloh | Beramal secara cermat dan sistematis | Bersahabat dengan hamba Alloh yang sholih | Memberikan hak tubuh | Menghibur diri dengan hal mubah | Rajin mengkaji kitab siroh, kisah, dan biografi tokoh | Mengingat mati | Mengingat surga dan neraka | Menghadiri majelis ilmu | Ambil seluruh ajaran agama, tidak parsial | Selalu muhasabah.

2. Isrof
» Makna: melampaui batas.

» Sebab: Lingkungan keluarga | Memperoleh kelapangan setelah kesempitan | Berkawan dengan orang-orang isrof | Lupa mencari bekal perjalanan (akhirat) | Istri dan anak | Lupa pada tabiat dunia | Memandang rendah terhadap nafsu | Lupa terhadap dahsyatnya kiamat | Lupa terhadap realita kehidupan | Tidak menghiraukan akibatnya.

» Dampak: Penyakit tubuh | Hati yang keras | Lambannya berpikir | Besarnya dorongan bermaksiat | Mudah tertekan ketika menghadapi ujian | Tidak menghiraukan orang lain | Banyak permasalahan di hadapan Alloh | Terjatuh dalam permasalahan yang haram | Menjadi saudara setan | Terhalang untuk peroleh cinta Alloh.

» Terapi: Renungkan akibat dan bahaya isrof | Kendalikan nafsu | Memperhatikan amalan sunnah | Bercermin dari pola hidup orang-orang salaf | Tidak bersahabat dengan orang isrof | Miliki keinginan kuat untuk membina kepribadian | Memikirkan realita lingkungan agar tumbuh kepedulian | Selalu mengingat kematian | Pahami bahwa tabiat kehidupan adalah penuh ujian.

3. Isti’jal
» Makna: ingin mengubah sesuatu dalam sekejab, terburu-buru, dengan mengabaikan banyak faktor.

» Sebab: Dorongan nafsu | Semangat yang menggebu-gebu | Tabiat waktu | Karena musuh-musuh Islam | Tidak mengetahui taktik musuh Islam | Banyak kemungkaran tetapi tak tahu metode mengubahnya | Tidak mampu menanggung beban dan derita | Mengandalkan sarana tapi abai dalam akibat | Tak adanya program yang matang | Bekerja dengan tidak bercermin pada yang sudah berpengalaman | Melupakan sunnatulloh terhadap alam semesta | Melupakan tujuan yang hendak dicapai | Melupakan sunnatulloh terhadap para pelanggar | Terbiasa bergaul dengan orang yang suka buru-buru.

» Akibat: Menyebabkan futur | Menyebabkan kematiannya tak terhormat | Menjadikan pekerjaan tersia-sia.

» Terapi: Memperhatikan akibat dari isti’jal | Selalu memperhatikan kitab Alloh | Rajin menelaah sunnah dan siroh | Mengkaji kitab-kitab siroh | Bertindak di bawah bimbingan yang sudah berpengalaman | Bertindak sesuai manhaj | Memahami program musuh | Tidak takut dikuasai musuh | Berjuang mengendalikan hawa nafsu | Selalu ingat tujuan dalam hidup | Menyadari posisi politik.

4. Uzlah
» Makna: lebih mengutamakan hidup sendirian daripada hidup berjama’ah.

» Sebab: Mengambil sebagian dalil syar’i pada hidup bersendirian | Asal mencontoh ‘uzlah sebagian ulama dengan mengabaikan kehidupan mereka dalam jama’ah | Menganggap hidup berjama’ah akan mengganggu privasinya | Lupa dengan tugas-tugas insan sosial | Beralasan bahwa bergaul dengan banyak orang akan mengganggu ibadahnya | Beralasan bahwa terjadi kerusakan dan keburukan dalam komunitas | Karena beratnya ujian | Bergaul dengan orang-orang yang suka menyendiri | Banyaknya organisasi agama | Lupa terhadap akibat dari ‘uzlah.

» Bahaya: Tidak mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya | Menghalangi orang lain yang dapat membetulkan kesalahannya | Menyia-nyiakan sebagian potensi sosialnya | Kurang pengalaman dalam menghadapi kesulitan | Menimbulkan rasa pesimis | Mempersempit peluang beramal | Kehilangan kemampuan untuk menegakkan agama pada dirinya | Mencampakkan dirinya pada kebencian Alloh (perintah berjama’ah).

» Akibat: Dilecehkan, Terhalang dari pertolongan Ilahi.

» Terapi: Memiliki pemahaman yang sempurna tentang dalil syar’i | Memahami latar belakang ‘uzlahnya pada salaf | Memahami manhaj Islam | Memahami pengertian ibadah dengan benar | Menundukkan dan mengendalikan nafsu dengan ketat | Memahami tugas seorang Muslim ketika fitnah melanda | Memohon perlindungan dan pertolongan Alloh | Tidak bersahabat dengan orang yang memilih ‘uzlah | Memiliki pemahaman tentang organisasi-organisasi keagamaan | Mengikuti manhaj yang ditempuh Rosululloh saw | Mengerti dan mengetahui sifat kegotong-royongan kaum kafir | Merenungkan kehidupan makhluk yang ada di sekitar kita | Memperhatikan dampak negatif ‘uzlah.

5. I’jab bin-Nafsi
» Makna: kagum atau membanggakan diri dari segala sesuatu yang timbul darinya dengan tidak berbuat melampaui batas terhadap orang lain.

» Sebab: Faktor nasab (keturunan) | Disanjung dan dipuji di hadapannya dengan mengabaikan adab-adab syar’i | Bersahabat dengan orang-orang ‘ujub | Terpesona dengan nikmat dan melupakan yang memberi nikmat | Tampil beramal sebelum matang kepribadian dan sempurna pendidikannya | Lupa atau bodoh terhadap hakikat dirinya | Karena nasab orang terhormat | Penghormatan yang berlebihan | Kepatuhan dan ketaatan yang berlebihan | Lupa akibat buruk yang ditimbulkan oleh i’jab bin-nafsi.

» Akibat: Menjadikannya terpedaya | Terhalang dari taufik Alloh | Hancur berantakan ketika menghadapi ujian | Ditinggalkan dan dibenci orang lain | Mudah rusak, rapuh, tidak produktif | Terhentinya ‘amal Islami, atau setidaknya tidak mendapat simpati.

» Tanda-tanda: Menganggap dirinya suci | Sukar menerima nasihat | Merasa senang mendengar aib orang lain, terlebih aib saingannya.

» Terapi: Senantiasa mengingat hakikat diri manusia | Senantiasa mengingat hakikat dunia dan akhirat | Mengingat nikmat-nikmat Alloh | Memikirkan kematian | Rajin menghadiri majelis ilmu | Memperhatikan dan merenungkan keadaan orang-orang sakit | Nasihat orangtua tentang menjauhi sifat i’jab bin-nafsi | Memutuskan hubungan dengan orang-orang berpenyakit i’jab bin-nafsi | Memperhatikan adab-adab menyanjung | Menjauhi peluang promosi | Merenungkan jalan hidup para salafush sholih | Berlaku tawadhu’ (rendah hati) dengan melayani | Introspeksi diri | Memahami akibat dari i’jab bin-nafsi | Memohon pertolongan Alloh | Menekankan tanggung jawab pribadi dengan mengabaikan nasab.

6. Ghurur
» Makna: rasa ‘ujub dengan meremehkan segala yang timbul dari orang lain, tetapi tidak sampai merendahkan orang lain.

» Sebab: Tidak melakukan muhasabah (introspeksi diri) | Tidak adanya bimbingan dari orang lain | Berlebihan dalam beragama | Berlebih-lebihan dalam mendalami suatu ilmu | Terpaku pada ketaatan dan melupakan kemaksiatan dan keburukannya | Cenderung kepada dunia | Karena melihat salah satu sisi kehidupan yang kurang baik dari seorang tokoh | Karena sebagian aktivis berlebih-lebihan menyembunyikan amalannya | Diskriminatif terhadap pengikutnya.

» Akibat: Suka berdebat | Takabbur | Memaksakan pendapatnya dan berlaku sewenang-wenang | Rentan dirusak musuh Alloh | Menjadikan orang awam enggan mendekat.

» Tanda: Selalu merendahkan dan menyepelekan amal orang lain | Suka membicarakan amal yang dilakukannya dengan sanjungan dan pujian | Enggan patuh pada kebenaran.

» Terapi: Memperhatikan dampak buruk yang ditimbulkan dari ghurur | Selalu mengingat pentingnya sikap moderat | Amalan semata-mata tidak menyelamatkan | Senantiasa mengkaji kitab Alloh | Bercermin dengan tata kehidupan orang-orang salaf | Memusatkan pada masalah-masalah penting | Menjauhi pergaulan dengan orang-orang ghurur | Selalu koreksi diri sendiri | Mengundurkan diri dari posisi terdepan | Orang sekelilingnya harus mengikuti adab syar’iyah dalam memuji | Orang sekitar hendaknya menampakkan sebagian amal baiknya | Orang yang menjadi panutan hendaklah memperlakukan pengikutnya secara sama rata | Selalulah memohon pertolongan Alloh.

7. Takabbur
» Makna: kagum dengan dirinya, merendahkan orang lain sekaligus menolak kebenaran.

» Sebab: Sikap tawadhu’ orang lain yang berlebihan | Rusaknya penilaian dan tolok ukur kemuliaan manusia | Membandingkan nikmat yang diperoleh orang lain | Mengira seluruh nikmat adalah kekal | Mengungguli prestasi orang lain | Melupakan akibat buruk takabbur.

» Tanda: Berjalan dengan congkak | Membuat kerusakan, tak mau terima nasihat, memandang rendah nilai kebenaran | Cara berbicara dibuat sedemikian rupa | Menampakkan dari sisi pakaian | Senang orang lain mendatangi, tapi ia enggan untuk mendatangi | Ingin selalu terlihat.

» Akibat: Terhalang untuk mengambil pelajaran dari tiap kejadian | Keguncangan jiwa | Selalu dalam keadaan aib dan kekurangan | Terhalang untuk masuk surga.

» Terapi: Mengingat akibat buruk dan bahayanya sifat takabbur | Tidak berteman dengan orang-orang yang takabbur | Menengok orang sakit dan juga yang meninggal | Seringlah berkumpul dengan fakir-miskin | Seringlah memikirkan diri di tengah alam semesta | Memperhatikan riwayat orang-orang yang takabbur | Menghadiri majelis taklim | Melatih diri melakukan pekerjaan yang dilakukan orang lain | Meminta maaf kepada orang yang disombongi | Menampakkan nikmat yang diberikan Alloh | Rajin melakukan ketaatan | Introspeksi atas diri sendiri | Senantiasa meminta pertolongan Alloh.

8. Riya’ dan Sum’ah
» Makna: Riya’ adalah memamerkan amal sholih yang diperbuat dengan pamrih mencari kedudukan di depan umum. Jika amal sholih yang dipamerkan tersebut dimaksudkan agar orang lain mendengar, ia disebut Sum’ah.

» Sebab: Kultur yang dibangun di dalam keluarga | Kawan yang buruk perangainya | Tak mengenal Alloh | Menuruti/permisif terhadap ambisi orang lain | Menginginkan milik orang lain | Nafsu ingin dipuji | Bertindak sok (over acting) | Mencari popularitas di masyarakat | Khawatir dibicarakan orang lain.

» Tanda: Bila disanjung, semangat beramal. Tetapi tak profesional ketika tak disanjung | Giat beramal jika di tengah khalayak, tetapi malas ketika sendirian | Berpura-pura sholih ketika di depan orang, tetapi melanggar larangan ketika sendirian.

» Akibat: Penderitanya tak mendapatkan taufik dan hidayah | Gangguan psikologis | Tidak berwibawa | Tidak dipedulikan orang lain | Tidak tekun dan mapan dalam beramal | Terungkap kejelekannya di dunia | Terjerumus dalam tipu daya ujub | Amal yang bathil | Siksa yang besar di akhirat.

» Terapi: Harus mengingat akibat-akibat yang dapat ditimbulkan dari sifat riya’ | Menjauhkan diri dari berteman dengan orang-orang yang riya’ | Mengenal Alloh dengan sebenar-benarnya | Melawan hawa nafsu | Bersikap welas asih agar bawahan tidak berbuat riya’ | Tetap beradab dalam pergaulan | Menyimak akhir kisah orang-orang yang suka riya’ | Senantiasa mendengar nasihat dari ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang ikhlas beramal | Mengoreksi diri sendiri sebelum mengoreksi orang lain | Bersandar sepenuhnya pada Alloh dan memohon pertolongan-Nya | Ingat, bahwa segala sesuatu dalam pengaturan Alloh.

9. Ittiba’ul Hawa
» Makna: mengikuti hawa nafsu.

» Sebab: Sejak kecil tidak terbiasa mengatur hawa nafsu | Suka bergaul dengan orang yang mengumbar hawa nafsu | Lingkungan yang masih membiarkan terjadinya memperturutkan hawa nafsu | Cinta dunia dan lupa akhirat | Buta terhadap akibat memperturutkan hawa nafsu.

» Akibat: Hilangnya sifat taat dalam dirinya | Menimbulkan penyakit hati: angkuh dan mati hati | Hina dengan dosa-dosa | Menolak nasihat | Melakukan bid’ah dalam agama | Sesat dan tiada hidayah | Masuk jahannam | Lemah dalam kaderisasi potensial | Memecah belah | Tak mendapat pertolongan Alloh.

» Terapi: Diingatkan akan akibat buruk dari mengikuti hawa nafsu | Harus berjuang menolak perbudakan syahwat | Mengenal Alloh dengan sebaik-baik pengenalan | Adanya kepedulian lingkungan akan anggota yang dikuasai hawa nafsu | Halangi budak nafsu agar ia terselamatkan | Menampilkan kisah teladan | Waspada terhadap kecenderungan dunia | Memohon pertolongan Alloh | Berjuang sungguh-sungguh untuk membebaskan diri dari perbudakan nafsu.

10. At-Tatholi’u ilaash-Shodaaroh wath-Tholabur-Riyaadah
» Makna: keinginan hati (ambisi) untuk menjadi pemimpin secara terang-terangan dan berlomba untuk mendapatkannya.

» Sebab: Keinginan bebas dari kekuasaan orang lain | Keinginan mendapatkan kenikmatan dunia | Lalai dengan konsekuensi menjadi pimpinan | Lupa terhadap akibat negatif dari shodaroh dan riyadah | Ambisi berkuasa dan meremehkan orang lain.

» Akibat: Tidak memperoleh taufik dan pertolongan Alloh | Mudah terkena fitnah dan amarah Alloh | Melipatgandakan dosa dan masalah yang berat | Diskriminasi, pembunuhan, penyingkiran, dan pengusiran.

» Terapi: Selalu mengikuti dan memperhatikan sunnah Nabi saw | Senantiasa mengingat hal-hal/risiko yang menyertainya | Membiasakan taat dan mendidik jiwa sesini mungkin | Kasih sayang dalam muamalah | Diingatkan dengan perilaku kaum salaf dan pendirian mereka tentang kepemimpinan | Mengingatkan perbandingan antara kekuasaan di dunia dan di akhirat.

11. Dhoyyiqul Afaq aw Qoshirun Nadzar
» Makna: sempitnya wawasan dan pendeknya pandangan.

» Sebab: Lingkungan pembentuk | Berteman dengan orang berwawasan sempit dan berpandangan pendek | Menjauhkan diri (‘uzlah) | Kurang paham dengan tujuan penciptaan manusia | Tidak paham dengan hakikat dan kandungan Islam | Tidak mendalami musuh dan tidak mengetahui strategi mereka | ‘Ujub, ghurur, dan takabbur | Lalai akan dampak negatif dari sempitnya wawasan dan pendeknya pandangan | Tidak mengetahui informasi dan peristiwa kekinian | Lemah hubungan dengan Alloh.

» Tanda: Terlalu kaku dalam manhaj dakwah atau harokah | Membatasi masalah-masalah yang bersifat sampingan | Menengahi tapi tak mengetahui duduk masalahnya | Memetik buah sebelum waktunya.

» Akibat: Hancurnya semangat dan borosnya energi | Timbulnya frustasi dan keputusasaan | Tidak mendapat dukungan | Tidak mendapat taufik dari Alloh | Penghinaan dan pelecehan | Bentrok | Pukulan.

» Terapi: Membiasakan memikul tanggung jawab dari sejak dini | Menjauhkan diri dari bergaul dengan yang berwawasan sempit | Memahami hakikat diciptakannya manusia | Tahu dan paham apa yang dikandung Islam | Teliti dengan detail tentang ciri-ciri musuh Islam | Pelajari siroh Rosululloh saw | Berhubungan baik dengan Alloh | Selalu pelajari dan ambil hikmah dari sejarah hidup orang terdahulu | Memantau secara seksama akibat-akibat negatif yang disebabkan oleh wawasan sempit.

12. Dho’fu aw Talasyi al-Iltizam
» Makna: lemah dan sirnanya tekad.

» Sebab: Tak memahami pengertian dan pentingnya iltizam | Setengah-setengah dalam iltizam atau tidak sama sekali | Lemah iman | Tergantung dengan kebutuhan dunia | Ujian dan kesulitan | Terlalu banyak beban dan sukarnya jalan | Kedua orangtua | Terlalu memperturutkan rasa was-was | Karena tidak diikuti orang lain | Lalai terhadap akibat lemahnya iltizam.

» Akibat: Terhalang dari ibadah yang benar | Hilangnya kepercayaan dari orang lain | Ragu dan goncang jiwa | Tidak mendapat ganjaran dan pahala.

» Terapi: Mengetahui secara mendalam tanda-tanda iltizam | Memperkokoh kehalusan iltizam | Senantiasa memperbarui iman | Memahami secara mendalam hakikat dunia dan akhirat | Memahami tabiat jalan dakwah | Memikul tanggung jawab sesuai kemampuan | Waspada dari tipu daya setan | Meneladani tokoh-tokoh yang teguh dalam iltizam | Perhatian serius terhadap jama’ah | Memohon pertolongan Alloh | Sering mengoreksi diri | Berbakti kepada orangtua | Selalu ingat motivasi dari faedah iltizam | Syukuri segala nikmat Alloh | Selalu berpegang pada hadits dan sunnah.

13. Tiadanya Tatsabbut dan Tabayyun
» Makna: mudah/menyepelekan bukti atau dalil penguat dan mengesampingkan kebenaran sebuah berita.

» Sebab: Hasil didikan keluarga | Berteman dengan orang yang tidak memiliki akhlak Islami | Sembrono | Tertipu oleh kefasihan kata | Jahil akan metode tatsabbut dan tabayyun | Kaku dan cenderung ekstrem | Lalai akan akibat penting dari tiadanya tatsabbut dan tabayyun.

» Tanda: Banyak terjadi permusuhan | Berfokus pada bentuk dan penampilan, lalai dengan pengetahuan dan inti | Tak mau menerima alasan dari orang lain | Ambisi mendominasi dengan pendapatnya sendiri | Renggangnya shof/barisan | Lesu dalam beraktivitas | Meluasnya celah bagi para infiltran | Kerugian bagi kader dan pendukung | Nyaris semua bermula dari asumsi | Tidak memperoleh pertolongan dari Alloh.

» Akibat: Menuduh orang-orang baik atau bersih dengan dusta | Timbulnya pertumpahan darah dan perampasan harta | Timbul kecemasan dan penyesalan | Hilangnya kepercayaan | Menghadapi murka Alloh.

» Terapi: Perkuat rasa takwa pada Alloh | Memperingatkan pertanggungjawaban di hadapan Alloh | Hidup dalam naungan Al Qur’an dan Sunnah | Senantiasa belajar dari keteladanan para salaf | Mengambil pelajaran dari peristiwa nyata | Diperingatkan tentang kaidah dan cara tatsabbut dan tabayyun | Mengevaluasi dampak negatif bagi yang meninggalkan tatsabbut dan tabayyun | Bijaksana dalam bermuamalah | Membiasakan untuk selalu berprasangka baik.

14. Tafrith
» Makna: malas dan lalai dalam peribadahan.

» Sebab: Mengotori dengan kemaksiatan | Memperluas hal-hal mubah | Tak mampu merasakan kenikmatan beribadah | Lalai terhadap pentingnya beramal | Disiplin yang rendah | Lupa terhadap kematian | Mengira sudah pada taraf sempurna | Terlalu banyak beban dan kewajiban | Akan... akan... (Pemberi Harapan Palsu) | Meniru tokoh yang melakukan tafrith.

» Akibat: Menjadikan jiwa bimbang | Enggan melaksanakan kewajiban | Berani berbuat maksiat | Lemah fisik | Tak memperoleh pertolongan Alloh | Hilangnya wibawa | Sirnanya kekuatan berjama’ah.

» Terapi: Kembali berpegang teguh pada Kitabulloh dan Sunnah Rosul | Membebaskan diri dari kemaksiatan dan dosa | Memperbanyak amalan mubah | Mencanangkan disiplin sehari-hari dalam bertindak | Mensyukuri nikmat | Memohon pertolongan Alloh | Melawan hawa nafsu | Menimbang sisi negatif sikap lalai | Membuat suatu kelompok | Menyadari bahwa dirinya adalah lahan bercocok tanam pahala | Menyadari bahwa dirinya layak jadi teladan | Berteladan pada Nabi | Mempelajari amalan salafush sholih | Muhasabah terhadap dosa masa lampau | Mengingat datangnya mau selalu tiba-tiba.

Penulis: Dr. Sayyid Muhammad Nuh
Penerjemah: Drs. As’ad Yasin, ust. Salim Bazemool
Tebal: 396 hal.
Dimensi: 12,5x18 cm
Cetakan: III, Agustus 1994
Penerbit: Pustaka Mantiq, Solo
Resentator: Harmasto Hendro Kusworo

Resensi: Penghancuran Buku


Pakar Perbukuan asal Venezuela, Fernando Baez, tengah berada di Irak saat pasukan Amerika Serikat menggempur Baghdad pada Mei 2003. Di Universitas Baghdad, ia melihat bagaimana salah satu pusat pendidikan di Timur Tengah itu hancur dan semua buku yang ada di perpustakaan universitas tersebut dibakar dan dijarah. Ketika itu, seorang mahasiswa sejarah menghampiri dan bertanya kepadanya, “Mengapa orang menghancurkan buku-buku, bukankah Anda ahlinya?”

Tema penghancuran buku memang telah menjadi obsesinya pribadi Baez yang ia wujudkan dalam objek penelitiannya selama ini . Karenanya, pertanyaan “Kenapa manusia membakar buku?” yang diajukan oleh mahasiswa itu memicu dirinya untuk menyelesaikan penelitiannya dan membuat buku yang kelak akan diberi judul Historia universal de la destruccion de libros (2004) yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, dan kini bisa kita baca terjemahannya dengan judul Penghancuran Buku dari Masa ke Masa”.

Dalam buku yang merupakan hasil penelitiannya selama 12 tahun ini, Fernando Baez memaparkan sejarah penghancuran buku berdasarkan kronologi waktu yang dibagi dalam tiga bagian, mulai dari zaman Dunia Kuno, dari Byzantium hingga abad ke 19, dan dari abad ke-20 hingga sekarang.

Di bagian pertama, Penulis mengemukakan bahwa penghancuran buku dalam sejarah dimulai di Sumeria dimana di tempat itu pula buku muncul untuk pertama kalinya dalam peradaban manusia. Berdasarkan temuan arkeologis di tahun 1924, ada 100.000 buku yang saat itu masih dalam bentuk tablet (lempengan yang dibuat dari tanah liat) telah hancur akibat perang yang terus berkecamuk di wilayah itu. Temuan ini mengandung paradoks; penemuan buku-buku paling awal juga menandakan penghancurannya yang paling perdana.

Selanjutnya −masih di bagian ini, Penulis mengungkap berbagai kejadian penghancuran buku di Mesir, Yunani, Israel, Cina, Romawi, beserta kisah berdiri dan runtuhnya perpustakaan Alexandria dan perpustakaan kuno lainnya. Semua mengungkap bagaimana buku dihancurkan dengan berbagai cara. Yang mengejutkan adalah terungkapnya bahwa filsuf terkenal Plato juga pernah membakar buku.

“Laersius yang mengenal baik kepustakaan Plato, menuduhnya sebagai bibliokas (istilah untuk para perusak buku) yang mencoba menghabisi risalah-risalah Demokritus, seorang penulis yang sama sekali tak hendak disitir oleh Plato. Untuk menegaskan kecenderungan hendak membakar teks-teks tertentu ini, Laersius juga mengatakan bahwa Platosemasa mudanya− seusai kontes di Teater Dionisius, menemui Sokrates dan membakar puisi-puisinya. (hal. 51)

Di bagian kedua −di era Byzantium hingga abad ke-19, terungkap bahwa era perang Salib tidak hanya menyebabkan korban jiwa yang besar, melainkan turut hancurnya manuskrip dan buku-buku berharga. Ini tidak hanya dilakukan oleh salah satu pihak saja. Kedua pihak, baik dari Pasukan Kristen maupun Islam, secara berbalasan menghancurkan perpustakaan dan buku-buku ketika mereka berhasil menaklukkan wilayah lawannya.

Pada 1108, pasukan Perang Salib menghancurkan Perpustakaan Zahiriya di Damaskus. Lebih dari 3 juta buku dimusnahkan. Juli 1109 di Tipoli, pasukan Kristen membakar 100.000 volume dari Perpustakaan Islam yang terkenal.

Pada 1453 −saat Kontantinopel runtuh, selama tiga hari pasukan Turki menghancurkan patung-patung, gereja, dan buku. Buku-buku dibuang setelah terlebih dahulu permata yang ditempel di sampulnya dicongkel dan 120.000 manuskrip yang tidak sejalan dengan para pengikut Muhammad diikat dan dibuang ke laut.

Selain karena perang, penghancuran buku juga dilakukan oleh otoritas gereja terutama untuk buku-buku yang dianggap sesat atau bidah. Semua buku yang dianggap sesat, dibakar di muka umum. Bahkan tidak hanya buku, penulisnya pun kerap dibakar bersama dengan buku-bukunya yang ia tulis.

Khusus mengenai penghancuran buku yang dilakukan oleh otoritas gereja, Penulis membahasnya dalam bagian tersendiri. Inkuisisi merupakan lembaga hukum keagamaan paling berkuasa yang pernah didirikan untuk menumpas perbedaan pemikiran di seluruh Eropa. Di masa ini, sensor, penangkapan, penyiksaan, dan penghancuran terhadap buku yang dianggap bidah terjadi secara merajalela.

Pada tahun 1559 −saat pemerintahan Paus IV, disusunlah daftar buku yang paling membahayakan iman yang diberi nama Index Librorum Prohibitorum atau Indeks Buku-buku Terlarang yang melarang buku-buku karya 550 penulis untuk memudahkan para Inkuisitor dalam menjalankan tugasnya.

“Para Insikuitor sibuk menginspeksi pelabuhan, mencari buku-buku yang tertera dalam Index: Alkitab dalam bahasa lokal, novel-novel ksatria, serta karya-karya ilmiah dan politik. Penerbit terus menerus diawasi, para pedagang tidak dapat berjualan buku sebelum stok mereka didaftar, dan perpustakaan-perpustakaan pribadi diperiksa secara cermat.” (hal. 166)

Di bagian ketiga dari Abad ke-20 hingga sekarang, Penulis membeberkan tentang Holocaust dan bibliocaust Nazi di Jerman. Jika kita membaca bagian ini, maka kita diajak melihat bahwa sesungguhnya Holocaust yang dilakukan Nazi Jerman terhadap jutaan orang Yahudi selama PD II diawali oleh sebuah bibliocaust dimana jutaan buku secara sistematis dihancurkan oleh Nazi melalui sebuah ritual pembakaran buku yang diawali pengumpulan massa, menyanyikan himne, pidato, dan diakhiri pembakaran buku.

Apa yang dilakukan Nazi ini seolah mengaminkan pendapat Heinreich Heine dalam karyanya Almansor (1821); “Dimana pun mereka membakar buku, pada akhirnya mereka akan membakar manusia.” Dan memang seperti itulah yang terjadi setelah buku-buku dibakar.

“Penghancuran buku sepanjang 1933 adalah awal dari pembantaian manusia pada tahun-tahun berikutnya. Gunungan buku-buku yang dilalap api mengilhami tungku-tungku krematorium kamp konsentrasi.” (hal. 221)

Selain tentang Nazi yang membakar buku, di bagian ini juga kita akan menemui bagaimana buku dihancurkan dan di sensor di Cina, Uni Soviet, Spanyol, Chile, Argentina, Bosnia hingga penghancuran situs budaya dan penjarahan buku secara besar-besaran yang terjadi di Irak pasca jatuhnya rezim Saddam Hussein.

Penghancuran situs-situs budaya dan buku di Irak kini mendapat sorotan dunia. Berdasarkan laporan pustakawan Irak, hampir satu juta buku lenyap dalam penjarahan dan pembakaran. Ironis, karena di Irak-lah tempat buku pertama di dunia dilahirkan. Bagaimana peran pemerintahan AS selaku negara yang menginvasi Irak demi jatuhnya Saddam Hussein? Di sini pemerintah AS dianggap gagal melindungi situs-situs budaya dan buku-buku dari propaganda kebencian dan penjarahan dari rakyat Irak sendiri.

“Irak kini menjadi negara yang tanpa arah, miskin karena perang, ditimpa konflik agama dan terorisme, dan jatuh dalam krisis ekonomi: sebuah bangsa yang telah kehilangan sebagian besar ingatannya. Buku-bukunya kini menjadi abu, karya-karya budayanya dijual di pasar. Irak adalah korban pertama pemusnahan kebudayaan pada abad ke-21.” (hal. 319).

Demikianlah buku ini merangkai sejarah penghancuran buku dari masa ke masa. Dalam rentang waktu 55 abad di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Walau Indonesia memiliki sejarah panjang juga tentang pemberangusan buku, namun dalam buku ini hanya disebutkan satu kasus saja, yaitu yang terjadi di tahun 2007.

“Atas alasan yang lebih politis, pada 2007 pihak berwenang di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan, Indonesia, juga membakar lebih dari 30.000 buku ajar SMA di hadapan para siswa. Buku-buku itu tidak sejalan dengan sejarah versi pemerintah tentang usaha kudeta tahun 1965 di Indonesia, yang selama puluhan tahun dikambinghitamkan pada orang-orang komunis.” (hal. 246-247)

Membaca sejarah penghancuran buku lewat paparan Fernando Baez di buku ini, kita akan melihat bahwa sejak buku pertama dibuat, orang sudah menyadari pengaruh dahsyat dari buku. Karenanya, ketika sebuah negara merebut negara lain, maka langkah selanjutnya setelah mendudukinya adalah memusnahkan ingatan dan budaya daerah kekuasaannya dengan cara membakar buku-buku yang ada.

Tidak hanya membakar buku, di buku ini kita akan menemukan metode lain penghancuran buku lainnya seperti membuang buku ke laut atau sungai, dijadikan bahan bakar pemandian umum, dilemparkan keluar jendela agar dipakai tuna wisma sebagai penghangat badan, dihapus tintanya untuk ditulis kembali menjadi buku baru, sebagai pembungkus mesiu atau mercon, hingga dijadikan sebagai alas kaki.

Selain oleh manusia, buku ini juga membahas musuh alami buku, yaitu iklim dan keasaman kertas pada buku yang mudah hancur karena iklim. Hal ini menjadi perhatian para pustakawan dunia, Millicent Abell dari Perpustakaan Yale memperkirakan sekitar 76 juta buku di seluruh Amerika Serikat tengah berubah menjadi debu dalam arti harafiahnya.

Selain karena iklim, serangga juga berperan dalam hancurnya buku. Berikut ini Penulis mendaftar berbagai jenis serangga penghancur buku antara lain semut tukang kayu, Componotus, serangga yang tergolong paling rakus dan mampu membuat “terowongan” antar buku yang dijajar di atas rak.

Di bagian paling akhir, buku ini juga menyertakan bab khusus Penghancuran Buku dalam Cerita Fiksi yang dimulai dari novel Don Quixote (1605); Carventes, Time Machine (1895); H.G Well, Fahrenheit 451 (1953); Bradbury, The Name of The Rose (1980); Umberto Eco, hingga novel Voices (2006) karya Ursula K., Le Guin.

Buku yang dipersiapkan selama lebih dari 12 tahun dengan riset yang mendalam yang terepresentasikan dengan begitu rincinya, Penulis memaparkan sejarah penghancuran buku yang bersumber lebih dari 550 buku yang dicatat dalam 32 halaman daftar pustaka buku. Maka buku ini layak dijadikan sumber referensi mengenai sejarah penghancuran buku di dunia. Karena seperti yang ditulis Fernando Diaz dalam pendahuluannya,
“Selama 55 abad buku telah dimusnahkan, dan kita sama sekali tidak tahu apa sebabnya. Ada ratusan kajian mengenai asal mula buku dan perpustakaan, tapi tidak ada satu pun sejarah mengenai penghancurannya. Tidakkah ini mengherankan?” (hal. 9)

Buku ini menjawab keheranan Penulisnya sendiri karena hingga saat ini baru buku ini yang membahas sejarah penghancuran buku di dunia dengan lengkap. Sayangnya, buku ini tidak menyertakan daftar indeks sehingga pembaca akan mengalami kesulitan jika kita ingin mencari secara cepat sebuah nama, tempat, judul buku, dll yang terkandung dalam buku ini.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari buku ini? Dari sejarah penghancuran buku selama 55 abad yang ditulis dalam buku ini, kita akan melihat bahwa selalu ada usaha dari manusia untuk menghancurkan buku yang dianggap membahayakan atau tidak sesuai dengan keyakinannya.

Muhidin M. Dahlan (Gus Muh) dalam resensinya mengatakan bahwa dalam DNA setiap manusia sebetulnya mengalir darah seorang penjagal buku.

Jadi, bagaimana kita menyelamatkan isi buku dari para penjagalnya? Hanya ada satu cara, yaitu dengan membacanya! Fisik buku bisa dihancurkan, tapi isi buku yang terekam dalam ingatan sulit untuk dihapus selama manusia masih dalam keadaan hidup.

Sebagai penutup, berikut adalah surat Helen Keller, penulis tuna-netra kepada Mahasiswa Jerman yang membakar buku-bukunya di era Nazi.

“Kalian bisa saja membakar buku-buku saya dan buku-buku yang ditulis dari pemikiran terbaik di Eropa. Tapi pemikiran yang dimuat dalam buku-buku itu telah melewati ribuan saluran dan akan terus mengalir.” (hal. 227)

Ketidaknyamanan buku ini adalah semua catatan berbentuk endnote, sehingga pembaca harus mencari dan menemukan catatan penjelas di bagian akhir buku. Alangkah lebih nyaman jika berbentuk footnote.

Judul: Penghancuran Buku dari Masa ke Masa
Penulis: Fernando Baez
Penerjemah: Lita Soerjadinata
Tebal: xiv+410 hal.
Dimensi: 14x20,5 cm
Cetakan: II, Mei 2017
ISBN: 978-979-1260-68-8
Penerbit: Margin Kiri, Tangerang Selatan
Resentator: Harmasto Hendro Kusworo

Jumat, 28 September 2018

Gurkha; Pejuang dari Atap Dunia

Gurkha suku bangsa dari Nepal yang mempunyai kejuangan hidup yang lumayan tinggi. Mereka cekatan, lincah, survive, sekaligus setia.
Kemampuan tempur mereka di atas rata-rata. Bahkan Inggris pun kalah dibuatnya. Namun begitu, Gurkha dapat dikalahkan Inggris melalui jalur diplomasi dan ‘dibantai’ di atas kertas perjanjian; hingga kini.
Buku ini terbagi dalam 7 bab:
1.  Gurkha; Pejuang dari Dataran Tinggi Nepal;
2.  Resimen-resimen dalam Gurkha;
3. Rekrutmen Anggota Gurkha;
4. Pengalaman Menjadi Anak Angkat;
5. Bertempur di Indonesia Bagian 1;
6. Bertempur di Indonesia Bagian 2;
7. Nasib Ditentukan Oleh ‘Sang Tuan’.
Membaca pada Bab 2-3, lumayan membosankan. Sebab ia berkisah tentang pembagian resimen-resimen Gurkha di bawah kendali Inggris dari tahu ke tahun. Saran saya, pada bab tersebut tak perlu dihafalkan. Toh tak akan keluar dalam ulangan.
Meski mereka sadis, ada sisi ‘karma’ bagi mereka, yakni seperti pepatah “habis manis,sepah dibuang”. Begitulah nasib mereka yang sudah bisa ditebak dari saat kita membaca penaklukan Gurkha melalui meja diplomasi.
Kendala kewarganegaraan pasca pensiun, menjadi hal dilematis bagi mereka. Kembali ke Nepal, akan banyak permasalahan. Selain peranakan mereka tak mengenal bahasa Nepal, faktor keamanan di sana yang selalu bersengketa dengan Maois pun tak pernah surut. Pula fasilitas hidup dan sanitasi menjadi kendala tersendiri bagi Gurkha yang terbiasa hidup tercukupi a la Inggris.
Ada dua bab yang mengisahkan pertempuran Gurkha di Indonesia. Meski tak detail, tapi keterlibatan mereka pra dan pasca Proklamasi begitu kental. Menjadi tangan gurita Inggris, tentunya. Dan perlawanan sengit Sekutu dapat diimbangi oleh tentara Indonesia. Meski perbandingan korban meninggal 10:1 antara Indonesia dengan Sekutu, tetapi Gurkha mengakui bahwa tentara Indonesia sangatlah tangguh; terutama RPKAD (sekarang Kopassus).
200 tentara Sekutu (SAS Inggris dan Australia) melayang nyawanya oleh tentara Indonesia, yang juga bergugur 2000 jiwa.
Saran: akan lebih baik lagi jika kapasitas Editornya ditingkatkan.

Penulis: Fajar S. Kurniawan
Penerbit: MataPadi Pressindo

Rabu, 11 Juli 2018

Idul Fithri di Masa Nabi SAW

Selama ini kita agak rancu dalam mempersamakan ‘idul fithri dengan ‘idul fithroh. Karena makna “fithri” dalam istilah “‘idul fithri” bukanlah satu pengertian dengan “kembali kepada fithroh”. Tetapi arti “fithri” sesuai makna dalam hadits adalah “kembali berbuka (fathoro-yafthuru)”.

Dari Abu Huroiroh, sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda, “Shoum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa, Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka, dan Adha itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan.” (Hadits shohih dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi No. 693, Abu Dawud No. 2324, Ibnu Majah No. 1660, ad-Daruquthni).

Maka pemahaman yang harus kita tegaskan dalam ‘idul fithri adalah tidak serta merta kembali suci seperti bayi baru lahir. Tidaklah semua orang mendapatkan kemuliaan seperti itu. Meski pun ada sebagian yang mendapatkan hal itu karena telah menegakkan hak-hak Romadhon, sehingga keluar Romadhon seperti pertama dilahirkan.

“Bahwasanya Alloh SWT telah memfardhukan puasa Romadhon, dan saya telah mensunnahkan qiyam pada malamnya. Maka barangsiapa berpuasa pada siangnya dan bersholat pada malamnya karena mengharap akan Alloh, niscaya keluarlah dia dari dosa seperti di hari dia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Ahmad)

Kedua pengertian di atas tidak perlu kita campur adukkan. Karena kita kembali mengkaji makna “fithri” sebagai waktu kembali berbuka setelah Romadhon. “... Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka...”

Jadi, ada 2 makna yang berlainan antara “fithri” (ifthor= kembali berbuka) dan “fithroh” (kondisi awal mula dilahirkan).

Dalam suatu hadits Rosululloh saw yang diriwayatkan dari Anas ra bahwa beliau berkata, “Rosululloh saw datang ke Madinah dan (pada saat itu) penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang dipergunakan untuk bermain (dengan permainan) di masa jahiliyyah. Lalu beliau bersabda: ‘Aku telah datang kepada kalian, dan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain di masa jahiliyyah. Sungguh Alloh telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu, yakni hari Nahr (‘Iedul Adha) dan hari Fithri (‘Iedul Fitri).” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, shohih)


Dua hari raya yang dimiliki penduduk Madinah saat itu adalah hari Nairuz dan Mihrojan, yang dirayakan dengan berbagai macam permainan. Kedua hari raya ini ditetapkan oleh orang-orang yang bijak pada zaman tersebut (kejayaan Persia) karena cuaca dan waktu pada saat itu sangat tepat/bagus. Tatkala Nabi datang, Alloh mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari raya pula yang Alloh pilih untuk hamba-hamba-Nya. Sejak saat itu, dua hari raya yang lama tidak diperingati lagi. Berdasarkan hal ini, pensyari'atan hari raya adalah tauqifiyyah (sesuai dengan perintah Alloh). Seseorang tidak diperbolehkan menetapkan hari tertentu untuk perayaan/peringatan kecuali memang ada dalil yang benar dari Alloh (al-Qur’an) maupun Rosul-Nya (al-Hadits).