Rabu, 20 April 2016

Baarokalloh; Refleksi Milad PKS 18

Malam ini banyak digelar agenda syukuran milad PKS ke-18 di beberapa daerah. Selain ekspresi kegembiraan, juga dimaksudkan sebagai refleksi atas perjuangan yang penuh liku. Ada beberapa esensi yang ingin kita bangun dari tasyakuran milad, diantaranya:

Pertama, Jembatan Historis
Jembatan historis ke masa lalu dan ke masa depan. Sebagaimana saat hari kemerdekaan, kita mengenang jasa perjuangan para pahlawan. Demikian pula malam ini, kita mengenang dan mendoakan mereka yang telah berjasa kepada PKS, mulai dari para pendiri hingga para pendekar yang telah berjuang. Baik yang masih bersama maupun yang sudah berpisah. 

Mereka akan tercatat sebagai bagian dari mata rantai dakwah di PKS, untuk selamanya. Karena tinta sejarah tidak mungkin bisa terhapus. Kita warisi semangatnya, kita teruskan perjuangannya dan kita sesuaikan konteksnya dengan alam yang kita hadapi saat ini. Dan inilah bentang jembatan kita ke masa depan.

Kedua, Penegasan Peran
Bergabungnya kita dengan PKS adalah agar bisa mewujudkan amal-amal besar, yakni menghadirkan kemaslahatan dalam skala negara bangsa. Sebuah cita-cita yang yang hanya bisa tercapai dengan amal jama’i, bukan amal infirodhi.

Agar sebuah jama’ah mampu berkontribusi optimal, harus ditopang oleh para kader yang berfikiran sama, yakni sama-sama ingin berkontribusi menghadirkan kebaikan di tengah umat. Karena itu, malam ini kita layak merenung kembali tentang kesejatian diri kita dengan beberapa hadits seperti “Khoirun naas, anfa’uhum lin naas” dan “Khoirun naas, man thoolaumruhu wa hasunaamaluhu”. Dan hadits-hadits semacamnya.

Ketiga, Memperbaiki Hubungan
Momentum milad sering mempertemukan shobat lama yang tidak bersua, berbagi narasi perjuangan dalam suasana bahagia. Ini adalah salah satu momentum indah untuk memperbaiki hubungan sesama aktivis dakwah. Karena kuatnya ikatan sungguh mampu mendekatkan apa yang jauh, mulai dari mendekatkan hati hingga mendekatkan tercapainya kemenangan.

Tidak lupa kita memohon ampun atas segala salah dan khilaf serta segala hal yang berlebihan dalam urusan ini. Sekaligus memohon agar diberi kemudahan, dukungan, dan pertolongan dari Alloh. Mari kita songsong kabar gembira dari Alloh untuk para pejuang, yakni “Nasrum minalloh wa fat-hun qoriib”.

Barokalloh
Semoga istiqomah di jalan dakwah.

Eko Junianto, SE

Warisan Kata-kata

Di dalam Al Quran, Alloh sering menyandingkan sesuatu yang berkebalikan untuk menajamkan pemahaman kita akan hakikat dan makna. Seperti ketika Iblis mewariskan ucapan, “Ana khoirun minhu.. Aku lebih baik daripada dia”, maka Adam justru punya kalimat, “Robbana zholamna anfusana.. Duhai Robb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan seandainya Kau tidak mengampuni dan mengasihi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Iblis adalah makhluq yang gagal menyikapi keberhasilan. Sujud ibadahnya di masa lalu, ketekunan penghambaannya yang mengangkatnya ke alam malakut dengan kedudukan tinggi di antara para malaikat membuatnya merasa lebih mulia, dan karena itu merasa berhak untuk tak mentaati Alloh dalam perintah sujud pada Adam yang belum lama dicipta.

Adapun Adam adalah hamba yang berhasil menyikapi kegagalan. Atas godaan syaithon dia melakukan pelanggaran, tapi hatinya yang tunduk tertuntun pada pertaubatan. Betapa ‘merasa lebih baik’ menghapus semua kebaikan, dan ‘merasa berdosa’ juga menjadi pembuka ampunan. Demikianlah perasaan dan hakikat sering berkebalikan, sehingga merasa salah lebih baik daripada merasa sholih, dan merasa kotor lebih selamat daripada merasa suci.

Sulaiman, ‘Alaihis Salam, adalah juga nama agung yang kisahnya mengilaukan zaman. Bukan karena kekayaan dan kemaharajaannya yang menundukkan jin serta manusia, burung dan aneka satwa, serta angin dan Negeri Saba’. Tapi bersebab ucapannya yang dipenuhi kesadaran paripurna, tentang hakikat limpahan karunia Alloh padanya.

“...Ini semata adalah karunia dari Robbku, untuk menguji aku apakah aku akan bersyukur atau justru kufur. Dan barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia tak lain bersyukur bagi kebaikan dirinya. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Robbku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An Naml [27]: 40)

Betapa berat menjadi Sulaiman. Perintahnya ditaati oleh semua yang dapat mendengar suaranya. Suaranya dapat disampaikan menembus jarak. Jarak dilipat baginya dengan angin yang berarak. Fir’aun yang merasa Nil mengalir di bawah kakinya, Mesir dalam genggamannya, dan Bani Isroil menjadi budaknya saja tak tahan dari mengucap kalimat warisannya, “Akulah Robb kalian yang paling tinggi”. Maka bagaimanakah dengan Sulaiman yang lebih berhak untuk jumawa?

Dari mereka kita tahu, kesombongan tak pernah berasal dari kelebihan yang dimiliki. Keangkuhan adalah buah dari jiwa yang kerdil dan wawasan yang sempit.

Sulaiman mewariskan kesyukuran, kesadaran, dan kewaspadaan. Syukur untuk mensujudkan diri pada Sang Pencipta di setiap nikmat, yang kebaikannya kan kembali pada diri. Sadar bahwa segala yang dimilikinya tanpa kecuali semata-mata hanyalah karunia. Dan waspada bahwa setiap karunia itu hakikatnya ujian yang kan memperlihatkan kesejatian dirinya, sebagai hamba yang bersyukur ataukah hamba yang kufur.

Meloncat ke satu surat setelah An Naml yang banyak mengisahkan kiprah Sulaiman, kita akan berjumpa dengan tajuk Al Qoshosh yang menyinggung sebuah nama bersejarah lainnya. Qorun. Lelaki dari kaum Musa yang perbendaharaan hartanya begitu banyak, hingga kunci gudang penyimpanannya pun tak sanggup dipikul beberapa lelaki kuat.

“Qorun berkata, ‘Hanyasanya harta itu diberikan kepadaku, disebabkan atas ilmu yang ada padaku...” (QS. Al Qoshosh [28]: 78)

“Alangkah indah tafsir yang dikemukakan oleh Imam ‘Abdurrohman ibn Zaid ibn Aslam,” ujar Ibn Katsir dalam Tafsir anggitannya, “Yakni ketika menakwil ayat ini. Beliau mengatakan bahwa Qorun hendak menyatakan, seandainya bukan karena keridhoan Alloh padaku dan pengetahuanNya tentang keutamaanku, niscaya Dia takkan memberikan harta ini padaku.”

Betapa mantap cara berpikir Qorun yang mengaitkan antara kelimpahan dengan kepandaian. Betapa kokoh percaya dirinya bahwa kelebihannya termasyhur di langit. Betapa besar keyakinannya atas cinta Alloh pada pribadinya. Bahkan menurut Imam Qotadah, maksud Qorun dengan “ilmu yang ada padaku” adalah “karena kebaikanku”.

Tapi keyakinan yang setitik melampaui batasnya adalah kenaifan menyedihkan.

Mukmin sejati senantiasa hidup
dalam gigil takut, gerisik harap, dan getar cinta. Orang-orang yang tertipu seperti Qorun salah mengira bahwa dikaruniai harta adalah disebabkan kemuliaan diri, lalu pula sesat menduga bahwa bergelimang dunia adalah tanda dicintai Robb yang Maha Pemberi.

Dia telah diperingatkan, bahwa sebelum dirinya sudah banyak orang-orang yang lebih kuat dan lebih banyak mengumpulkan harta, namun pula akhirnya binasa. Dan sungguh orang berdosa tak usahlah ditanya tentang dosanya. Karena besarnya, karena banyaknya, karena seringnya.

Ketika Qorun dan istananya dibenamkan, orang-orang yang semula dengan penuh semangat menginginkan apa yang dimilikinya tiba-tiba berada dalam keinsyafan agung yang mencekam jiwa mereka.

“...Aduhai, benarlah Alloh melapangkan rezeki bagi siapapun yang dikehendakiNya di antara hambaNya dan menyempitkannya. Kalau saja Alloh tidak melimpahkan karunia petunjukNya atas kita, benar-benar kita telah dibenamkan pula. Aduhai benarlah, tiada kan beruntung orang-orang yang mengingkariNya.” (QS. Al Qoshosh [28]: 82)

@salimafillah

Memahami Citarasa Berjama'ah

"Al arwahu junuudun mujannadah." Ruh itu seperti tentara. Mereka berkumpul (berkelompok, berserikat, berjama’ah) berdasarkan kesatuannya masing-masing. Ada ciri dan karakter yang seragam disana sini. Meski begitu, sebenarnya ada banyak rasa dalam hidup berjama’ah, diantaranya:

Pertama, Pedukung
Yakni, mereka yang selalu berdiri di depan untuk melaksanakan perintah, mengamankan amanah serta memiliki kesetiaan yang tinggi untuk membela kepentingan pemimpin dan organisasinya.

Contoh nyata dari barisan pendukung adalah ungkapan khas dari 'Umar bin Khoththob ra. Jika ada orang yang tidak bersepakat dengan keputusan rosul dan bahkan membangkang, maka 'Umar biasanya akan berkata, “Ijinkan aku memenggal kepala orang munafik ini, ya Rosululloh”.

Golongan pendukung ini menjamin soliditas dan vitalitas sebuah organisasi. Terlebih jika jumlahnya signifikan. Meski demikian, seorang pemimpin harus mengarahkan golongan ini agar tidak bertindak melampaui batas dan kewenangan.

Contohnya, nasehat Kholifah Abu Bakar kepada 'Umar. 'Umar marah kepada orang yang tidak mau taat kepada perintah Kholifah Abu Bakar dan kalimat khasnya pun keluar, “Ijinkan aku memenggal kepala orang munafik ini, ya Abu Bakar”. Kholifah Abu Bakar menyanggah sambil berkata, “Ya Umar, hak seperti itu hanya untuk Rosululloh”.

Kedua, Penurut
Yakni mereka yang mengedepankan ketaatan, meski memiliki pandangan yang berbeda. Golongan ini menjamin tegaknya stabilitas dan tertib sosial.

Contohnya adalah sikap yang ditunjukkan oleh 'Abdulloh Ibnu Mas’ud di masa kepemimpinan Kholifah 'Utsman bin Affan. Ibnu Mas’ud mengucapkan istirja’ atas kebijakan 'Utsman bin Affan yang melaksanakan sholat secara sempurna (tidak di qoshor) di Mina. Karena hal itu menyalahi tradisi yang berlaku sejak masa Rosululloh, Abu Bakar, dan 'Umar. 

Meski begitu, 'Abdulloh ibnu Mas’ud akhirnya juga mengikuti arahan dari Kholifah 'Utsman bin Affan. Saat sebagian shahabat bertanya tentang hal itu, Ibnu Mas’ud menjawab, “Meng-qoshor shalat itu lebih utama, hanya saja aku tidak suka bertengkar”.

Ketiga, Penyeimbang
Yakni mereka yang berani secara terbuka menyampaikan gagasan, ide, ilmu, dan pandangannya kepada pemimpin maupun khalayak. Mereka sama sekali bukan kelompok oposan, pembangkang apalagi pemberontak.

Pada masa Amirul Mukminin 'Umar bin Khoththob, mereka diwadahi dalam majelis khusus. Jika mengalami masalah yang pelik, 'Umar biasanya akan mengundang sekelompok shahabat dengan kategori tertentu, seperti pemuka kaum muhajirim, kaum anshor, ahli Badar dll. Di forum itu mereka bebas berkata apa saja, mulai dari memberi masukan hingga mengkritik kebijakan 'Umar.

Pemimpin berkewajiban untuk mendengarkan saran dan masukan dari siapapun, tapi tidak berkewajiban untuk mentaatinya. Sebagaimana sikap Imam 'Ali bin Abi Tholib kepada 'Abdulloh bin Abbas, dimana nasehat darinya kadang diterima, kadang ditolak.

Khotimah
Dibalik kebesaran sebuah jama’ah, disana ada keragaman sifat dan karakter anggotanya. Interaksi yang terbangun juga beragam, dari kerjasama, kompetisi bahkan konflik. Indahnya berjama’ah adalah saat kita mampu merajut harmoni di tengah perbedaan dan menjalin cinta di tengah kebekuan. 

Citarasa hidup berjama’ah terbangun saat kita mencoba menjadikan sebuah jama’ah menjadi rumah besar yang bisa menampung seluruh anggotanya dan tinggal didalamnya dengan nyaman. Ini bukan hanya tugas para pemimpin dan pembesar, tapi juga tugas kita yang berstatus akar rumput.

Eko Junianti, SE

Menuju Proses Pendewasaan; Refleksi Milad PKS 18

Suatu peristiwa mampu membentuk karakter, baik pada tingkat personal maupun komunal. Sejauh mana seseorang terlibat dan berinteraksi didalam peristiwa, menentukan derajat pembentukan karakternya.

Ambil contoh, momentum perang Badar. Peristiwa ini mampu mengubah sifat kaum muslimin menjadi generasi pemberani. Awalnya tidak siap untuk berperang, lalu Alloh menunjukkan kuasanya di medan Badar. Alhasil, karakter komunal kaum muslimin berubah, dari inferior menjadi superior. 

Pasca perang Badar, nyali kaum muslimin semakin kuat dan berorientasi ekspansif. Mereka berdiri dengan kepala tegak di hadapan lawan. Tidak mengenal kata menyerah atau mundur. Karena yakin akan dimenangkan Alloh sebagaimana di medan Badar. Itulah perubahan karakter yang dihasilkan dari peristiwa perang Badar.

Momentum Sulhul Hudaibiyah, memberi warna yang berbeda pada karakter komunal kaum muslimin. Yakni untuk bersabar dan menahan diri. Awalnya sekedar mau umroh, lalu naik menjadi semangat berjihad setelah berhembus kabar dibunuhnya 'Utsman bin Affan. Niat berjihad semakin menggebu karena ada proses bai’atur Ridwan yang berlangsung dramatis. 

Lalu tiba-tiba mereka harus pulang ke Madinah, dengan membawa sejumlah syarat yang dianggap sebagai kekalahan berdiplomasi. Kali ini, kaum muslimin sedang di tarbiyah agar bisa bersabar dan menahan diri dengan tingkatan yang berbeda. Jika pada periode Makkah mereka bersabar karena tidak memiliki kekuatan, kali ini mereka harus bersabar dalam posisi memiliki kekuatan. Itulah karakter khas yang dihasilkan dari peristiwa Sulhul Hudaibiyah.

Karakter PKS, Masa Lalu
Sejak februari 2013, PKS bisa diibaratkan dipimpin oleh dua singa, yakni Singa Podium (Ust. Anis Matta) dan Singa Parlemen (Ust. Fahri Hamzah). Karakter PKS secara komunal-pun turut berubah, dari kalem menjadi pemberani.

Sulit dipungkiri bahwa Ust. Anis Matta adalah seorang pemikir jenius. Ide-idenya sangat orisinal dan maju, bahkan bagi mereka yang terbiasa melahap buku tebal. Misalnya “Menjadi Otak, Hati, dan Tulang Punggung Indonesia” sesungguhnya adalah ide yang sangat genuine. Frase ini belum pernah diungkapkan oleh para pemikir dan tokoh bangsa Indonesia sekalipun. Dengan kapasitas retorika yang mumpuni, pujian sebagai “Soekarno Muda” pun dialamatkan kepadanya.

Ust. Fahri Hamzah pun menjadi “bintang” dalam banyak kesempatan. Ide yang dibungkus secara utuh dan kapasitas retorika yang menawan menjadikan Ust. Fahri Hamzah tampil menjadi satria pilih tanding. Semua dibabat habis, mulai dari KPK, Pengamat, LSM/NGO, Media, lembaga survei dll. 

Duet maut Ust. Anis Matta dan Ust. Fahri Hamzah berimbas pada perubahan karakter PKS secara komunal. Kader PKS berani melawan media mainstream, berani membongkar penyesatan opini, berani bersikap lantang di hadapan penguasa, berani berkompetisi dengan partai besar dengan kepala tegak dll. Inilah karakter yang terbentuk di masa itu. Sama sekali berbeda dengan karakter pada masa kepemimpinan Dr. Hidayat Nur Wahid. 

Memaknai PKS Masa Kini
Sejarah masa kini sebenarnya sedang kita tulis. Namun bisa kita baca dan prediksi berdasarkan karakter para pemimpinnya. Faktanya saat ini, PKS dipimpin oleh seorang ulama (Habib) dan akademisi (Ph.D). Otomatis, akan berimbas pula kepada karakter PKS secara komunal.

Perubahan kebijakan dan rotasi jabatan bersama gonjang-ganjing yang mengikutinya, bisa kita letakkan dalam perspektif itu. Mungkin ada karakter tertentu yang harus kita instal, asah, dan kuatkan. Bahwa semua ini adalah proses pendewasaan dan pematangan dalam proses tarbiyah yang panjang. Pada satu fase tertentu, kita belajar satu karakter khas.

Peringatan maulid nabi di DPP PKS, lomba musabaqoh qiroatul kitab serta taujih bertubi-tubi agar bersikap tawadhu' baru sekedar fenomena awal. Jika periode kemarin kita dilatih menjadi singa, maka saat ini kita tengah dilatih menjadi seorang rahib. Jika semua berjalan dengan baik, kelak kita bisa menjadi singa di siang hari dan rahib di malam hari. Wallohu a’lam.

Eko Junianto, SE

Membersamai Kereta Dakwah

Kebersamaan itu menandakan kedekatan. Bisa dekat di mata, bisa pula dekat di hati. Kebersamaan dalam kereta dakwah, bisa karena duduk di gerbong yang sama, bisa pula duduk di lain gerbong tapi masih dalam kereta yang sama. Atau bahkan, bisa pula naik kendaraan lain tetapi menuju titik arah yang sama dengan yang dituju kereta.

Dengan beragam pola ini, kita bisa memperbanyak penumpang (pendukung) meski kapasitas gerbongnya terbatas. Bagi mereka yang berada didalam gerbong, urusannya sudah jelas, yakni mendengar dan taat. Lalu apa standar minimal yang ditetapkan bagi mereka yang berada di luar gerbong agar bisa membersamai kereta dakwah?

Pertama, Penegasan Komitmen
Komitmen bahwa pola perjuangan yang dilakukannya adalah dalam rangka mewujudkan tujuan yang sama, menuju arah yang sama serta tunduk pada aturan umum yang telah digariskan.

Pasca Sulhul Hudaibiyah, ada shahabat bernama Abu Bashir lari dari Makkah menuju Madinah. Rosululloh pun menyuruhnya kembali ke Makkah sebagaimana diktum Sulhul Hudaibiyah. Di tengah perjalanan, Abu Bashir membunuh utusan Quroisy yang menjemputnya dan membuat kamp perlawanan tersendiri di sebuah tempat.

Sebanyak 70 orang kaum mustadh’afin di Makkah lari dan bergabung dengan Abu Bashir. Karena kafilah dagangnya terus diganggu (dirampas) oleh kelompok Abu Bashir, maka kaum Quroisy berkirim surat kepada Nabi Muhammad agar kelompok Abu Bashir bergabung saja ke Madinah.

Rosululloh berkirim surat kepada Abu Bashir untuk masuk bergabung dengan kaum muslimin di Madinah. Saat menerima surat itu, Abu Bashir tengah menghadapi ajal. Dia membacanya lalu tersenyum dan meninggal. Setelah menguburkannya, 70 orang pengikut Abu Bashir ke Madinah. 

Perjuangan di luar gerbong yang dilakukan oleh kelompok Abu Bashir tidak melanggar perjanjian antara Makkah dengan Madinah (Sulhul Hudaibiyah). Hanya saja, mereka lebih bebas bertindak karena berada di luar wilayah yuridiksi Rosululloh.

Para jundi dakwah yang tidak berada dalam satu gerbong harus tetap menjaga kesatuan gerak langkah dengan jama’ah dakwah yang lebih besar. Pergerakannya lebih gesit dan kreatifitasnya lebih tinggi, namun harus dalam koridor saling menguatkan.

Kedua, Anti Intervensi Asing
Perpindahan gerbong maupun kendaraan kadang harus melalui proses yang dramatis. Jika tidak ada kebesaran hati dan manajemen konflik yang baik, seringkali kawan berubah jadi lawan. Adanya intervensi asing akhirnya menjadi bahan bakar untuk menebarkan kebencian dan mengobarkan pemusuhan.

Saat tengah konflik dengan 'Ali bin Abi Tholib, Mu’awiyah ditawari bantuan pasukan oleh Romawi. Dengan marah dia menjawab, “Jika kalian lakukan hal itu, niscaya aku akan bersatu dengan 'Ali untuk memerangimu.”

Mu’awiyah dalam posisi kuat, didukung pasukan dari negeri Syam. Adanya bantuan pasukan tentu membuat posisinya semakin di atas angin. Namun dia tidak ingin ada pihak lain (asing) turut campur dan mengambil keuntungan atas situasi yang terjadi. 

Bagaimana pun, dia sangat paham tentang keutamaan ahli bait nabi. Memerangi mereka sama artinya dengan mengundang azab Alloh. Tujuannya berperang adalah untuk menuntut had atas darah 'Utsman, dimana sebagian pelakunya ikut tergabung dalam pasukannya ‘Ali bin Abi Tholib. Jika pihak asing masuk, maka tujuannya bisa berubah.

Situasi ini terasa kontras jika dibandingkan dengan kondisi sekarang. Dimana pihak yang berkonflik membuka diri dan sangat permissif atas dukungan dan bantuan pihak luar. Mulai dari bantuan media dan pemberitaan hingga pasukan bersenjata. Akibatnya, masalah semakin kompleks, ukhuwah semakin tercabik, dan hati semakin sulit disatukan.

Boleh jadi ada para da'i dan jundi yang tidak lagi berada dalam gerbong yang sama. Namun selama mereka masih menjaga in-group feeling, baik sebagai keluarga besar jama’ah maupun sebagai umat Islam, maka kereta dakwah masih bisa melaju tanpa hambatan berarti.

Ketiga, Tegar Atas Hukuman
Hukuman dari qiyadah kepada para jundi bukan barang baru dalam Islam. Dari pemboikotan, pemecatan hingga pengasingan sudah terjadi sejak masa rosul dan generasi shahabat. Standar moral yang dipegang adalah bersabar, tidak membangkang serta tidak melakukan mobilisasi politik untuk memulihkan jabatannya semula.

Ada Ka'ab bin Malik cs yang diboikot oleh komunitas muslim sebagai hukuman karena tidak berangkat perang. Ada gelombang pemecatan yang dilakukan oleh Kholifah 'Utsman bin Affan yang efeknya cukup mengguncang bila dibandingkan gelombang pemecatan 'Umar bin Khoththob. Karena 'Umar mengganti pejabatnya dengan shahabat yang sama nilai keutamaannya, sedangkan 'Utsman mengganti pejabat dengan bagian anggota keluarganya.

Kisah yang paling tragis terjadi pada Abu Dzar Al Ghifari. Karena kritiknya yang sangat keras, akhirnya dia diasingkan ke Robadzah oleh Kholifah 'Utsman bin Affan. Abu Dzar ikhlas menjalani pengasingan seorang diri, tanpa menggalang kekuatan untuk menentang 'Utsman kendati dia termasuk shahabat senior.

Mengapa mereka sabar, menerima dan tunduk dengan kebijakan para kholifah meskipun terasa menyakitkan? Karena mereka tahu besarnya keutamaan 'Umar dan 'Utsman di sisi Rosululloh dan di sisi Alloh, serta keutamaan mereka baik di dunia dan akhirat. Jika mereka berani melawan, statusnya jadi golongan pembangkang sebagaimana mereka yang menentang Imam 'Ali bin Abi Tholib ra.

Saat ini, para pemimpin sebuah jama’ah tidak memiliki legitimasi keutamaan yang ditegaskan dengan nash dan dalil. Hanya berupa kesaksian dari guru dan ulama sejawatnya. Karena itu, ketegaran atas hukuman dan sangsi dari para qiyadah juga bersifat relatif, tidak boleh diabsolutkan. Meskipun kesabaran tetap lebih utama.

Khotimah
Dakwah adalah tugas yang diwariskan oleh nabi kepada umatnya secara keseluruhan. Keberadaaan sebuah jama’ah dimaksudkan agar dakwah bisa berjalan secara efektif, dengan tahapannya yang terencana dan metodenya yang spesifik.

Jika berada didalamnya, kita menjadi jundi dakwah yang terhubung langsung dengan kebijakan jama’ah. Jika berada di luar, kita masih tetap bisa berjalan bersama, seiring sejalan. Dengan mentaati beberapa asas dasar, kita bisa membersamai kereta dakwah hingga ke tujuan. Wallohu a’lam bi showab.

Eko Junianto, SE

Kun Anta; Refleksi Milad PKS 18

Rosululloh saw datang membawa Islam, bukan untuk mengubah watak dan karakter seseorang. Tapi untuk membimbing, mengarahkan, dan meningkatkan potensi kebajikan sesuai kapasitasnya masing-masing.

Sejak awal, 'Umar memiliki karakter keras. Setelah masuk Islam, Rosululloh tidak merubahnya menjadi seperti 'Utsman yang pemalu. Demikian pula 'Abdulloh bin Mas’ud tidak dituntut berubah menjadi Hamzah bin 'Abdul Mutholib atau Sa’ad bin Abi Waqqosh. Mereka masih sama seperti yang dulu, hanya saja sekarang potensinya diarahkan untuk kebaikan.

'Abdulloh bin Rowahah dan Hassan bin Tsabit masih tetap bersyair, bahkan dihadapan Rosululloh sekalipun. Adi bin Hatim masih senang berburu, 'Abdurrohman bin Auf masih tetap berdagang. Suhaib masih tetap Ar Rumi dan Salman masih tetap Al Farisi. Bilal bin Robah tetap berkulit hitam, tidak melakukan operasi plastik.

Jika ada hal yang dirubah, pastilah karena sesuatu itu buruk. Sebagaimana Rosululloh merubah nama tempat, dari ‘Afroh menjadi Khodroh. Juga merubah nama orang, dari Hazan menjadi Sahal.

Demikian pula proses tarbiyah, tidak dimaksudkan untuk merubah kepribadian dan karakter seseorang. Tarbiyah bukan untuk merubah seorang kiper menjadi gelandang atau penyerang. Mereka tetap dalam posisinya, tapi ditingkatkan kapasitasnya dan diarahkan untuk meraih prestasi.

Menepis Stigma
Sampai sekarang ada stigma dan persepsi negatif yang sengaja dikembangkan oleh kalangan tertentu terhadap PKS. Jika bergabung ke PKS, niscaya tidak kenal lagi dengan sarung, ziarah kubur, dan istighotsah. Mungkin karena ingin menepis hal itulah, maka PKS menyelenggarakan Maulid Nabi dan Musabaqoh Qiroatul Kitab.

Jika bergabung ke PKS, maka ibukotanya pindah ke Kairo atau Istambul, bukan lagi ke Jakarta. Mungkin karena ingin menegaskan komitmen kebangsaan itulah, maka PKS mengusulkan program Sosialisasi 4 Pilar kebangsaan. Juga memberikan masukan agar hari santri sebaiknya diperingati pada tanggal 22 Oktober (memperingati keluarnya resolusi jihad oleh Hadrotusy Syaikh Hasyim Asy’ari) ketimbang 1 Muharrom.

PKS hadir bukan untuk merubah karakter dan kepribadian bangsa. Bukan untuk merubah sarung menjadi jubah, mengganti merah putih menjadi bulan sabit atau mengganti garuda menjadi unta. Singkat kata, tidak ada skenario kudeta merangkak dalam perjuangan PKS. Inilah komitmen kebangsaan PKS yang dijunjung tinggi dan dibuktikan dari waktu ke waktu.

Kita tetaplah diri kita sebagaimana masa lalu. Jika pun ada yang berubah, pastilah karena ada pilihan yang lebih baik. Jika PKS ingin menutup keran impor sapi dari Australia, itu karena ingin mendayagunakan peternak dalam negeri dan mewujudkan program swasembada daging. 

PKS ingin menjadikan bangsa Indonesia kembali berjaya, sebagaimana masa lalunya yang gemilang. Inilah diantara hal yang diperjuangkan PKS pada tingkat komunal.

Merangkum Keunikan
Pada tingkat personal, PKS tidak hadir untuk mengebiri gerakan dan mematikan daya kreasi orang per orang. PKS bukan mesin fotokopi yang akan menuliskan tulisan yang sama pada semua kertas. Semua potensi ditampung, diwadahi, dan dibuatkan panduan dakwahnya. Maka lahirlah beragam ormas, yayasan, LSM/NGO, media, dan beragam komunitas.

Setiap orang adalah pribadi yang unik. Meski semangat dan tujuannya sama, bisa jadi cara mengekspresikannya berbeda. Karena itu, kita lebih membutuhkan koridor ketimbang sebuah garis. Agar pergerakan di lapangan bisa lebih dinamis dan tidak kaku, namun masih dalam batas dan kaidah syar’i.

Ada beberapa kasus yang mengusik rasa kita dalam hidup berjama’ah. Namun terlalu prematur jika hal itu dijadikan premis bahwa PKS sudah tidak lagi menghargai adanya perbedaan dan keragaman. Karena pondasi yang diletakkan oleh PKS sudah sangat kuat untuk mewadahi beraneka ragam potensi kader dan simpatisannya. 

Khotimah
Sudah 18 tahun PKS hadir di tanah pertiwi. Ada banyak cerita yang ditorehkan, ada banyak pelajaran yang dihamparkan. Ada banyak premis yang telah dimentahkan, ada banyak tuduhan yang telah dibuktikan kesalahannya.

Tidak ada hal yang perlu ditakutkan dari PKS. Karena PKS bukan mau menjadikan diri kita menjadi orang lain. Tapi menjadikan diri kita bisa menemukan kesejatian siapa kita. Kun Anta Tazdada Jamaalaa.

Eko Junianto, SE

Number One For Me; Refleksi Milad PKS 18

Jika ditanya, siapakah generasi terbaik dari umat Islam? Maka jawabnya pasti, yakni generasinya Rosululloh dan para shahabat. Lalu, bagaimana sebenarnya potret generasi shahabat?

Ternyata mereka juga bukan entitas yang tanpa masalah. Beberapa sifat jahiliyah masih ada, hingga kadang ada saling cela sebagaimana yang terjadi antara Kholid bin Walid dengan Abu Dzar Al Ghifari. Juga antara Abu Dzar Al Ghifari kepada Bilal bin Robah.

Kadang ada masalah hutang piutang yang tidak selesai, ada yang melakukan tindakan indisipliner kepada Rosululloh, bahkan ada pula yang berbuat dosa besar hingga harus dirajam. Pada masa khulafaur rosyidin, bahkan meletus perang di kalangan shahabat, yakni perang Jamal dan perang Shiffin.

Ternyata, generasi terbaik di atas bumi sekalipun bukannya bebas dari beragam masalah. Jadi, jika kita memimpikan berada di sebuah kelompok yang serba baik dan serba sempurna, tidak ada cacat dan cela didalamnya berarti kita tengah bermimpi di siang bolong. Karena kondisi seperti itu hanya ada di surga, bukan di bumi.

Menentukan Sikap
Dihadapkan pada masalah besar, sikap orang beragam. Ada yang terlibat dalam pusaran konflik, ada yang berdiam dan menahan diri, ada pula yang mengupayakan solusi. Ada yang mencoba ber-istinbath, ada yang menjadi kritikus. Ada yang setia, adapula yang pindah gerbong. Dan seterusnya.

Kita perlu meluruskan persepsi tentang masalah dengan cara pandang yang lebih positif. Karena masalah itu yang akan menentukan siapa kita di masa depan. Semakin kuat atau terpuruk, semakin faqih atau menjadi generasi pencela. Karena masalah terbesar seringkali bukan pada substansi masalah, tapi tentang bagaimana cara kita memandang dan mensikapi sebuah masalah.

Terhadap tindakan indisipliner di medan Uhud, Rosululloh menjadikannya sebagai momentum untuk meningkatkan kepatuhan para shahabat, bukan malah menghukumnya. Terhadap wanita yang dirajam, Rosululloh menjadikannya sebagai momentum untuk menghargai taubat, bukan malah mencela dan melaknatnya. Terhadap seorang badui yang kencing di masjid, Rosululloh menjadikannya sebagai momentum untuk mendakwahi, bukan malah memarahinya. Dan seterusnya.

Jama’ah Kebaikan
Bergabung dengan barisan orang sholih adalah anugerah dari Alloh. Bersama mereka, kita mudah melakukan berbagai amal kebajikan. Kita mampu melakukan amal-amal terbaik yang mustahil dikerjakan sendirian. Karena itu, selama kita masih mudah beramal kebajikan, jangan lepaskan hati dari ikatan jama’ah.

Dengan segala masalah didalamnya, generasi shahabat masihlah yang terbaik. Amal sholih masih bisa dilaksanakan secara baik, kejahatan dan maksiat minim, korban jiwa sedikit. Silakan dibandingkan dengan generasi-generasi sesudahnya atau generasi kita saat ini.

Dengan segala masalah didalamnya, PKS masih lebih baik dibandingkan partai lain. Korupsinya paling sedikit, konflik internalnya paling terkendali, paling depan saat ada bencana dan musibah, pola kaderisasinya paling rapi. Silakan dibandingkan dengan kondisi di partai lain. Cukuplah data dan kesaksian dari orang yang adil sebagai hujjah atas keshohihan klaim tersebut.

Khotimah
Dalam rentang orde lama, bangsa Indonesia telah diuji dengan banyak hak yang mengancam eksistensinya. Mulai dari agresi dari luar hingga pemberontakan dari dalam. Alhasil, Indonesia masih eksis dan terus mencoba membangun kejayaan di masa mendatang. Meski saat ini kondisinya terpuruk dan tercabik, bisa jadi di tangan kita kelak kejayaan bisa terwujud. 

Dalam rentang usia selama 18 tahun, sudah banyak ujian yang menimpa PKS. Mulai dari mufaroqoh sebagian qiyadah dan kadernya hingga konspirasi pembubaran PKS. Alhasil, PKS masih eksis dan terus mencoba membangun kejayaannya di masa depan. Mungkin, di era kita kelak, kejayaan ini akan terwujud. Semoga.

Eko Junianto, SE

Parade Bintang-bintang; Refleksi Milad PKS 18

Sebuah permainan jadi menarik jika pertarungan berlangsung fair, sportif, dan seimbang. Terlebih jika banyak pemain bintang terlibat didalamnya. Jauh lebih asyik menonton El Classico ketimbang menyaksikan MU membantai AS Roma. Pertarungan Mike Tyson melawan Evander Holifield jauh lebih menegangkan ketimbang eksibisi Mike Tyson melawan Cris John.

Begitulah, agar permainan jadi menarik dan enak ditonton, tidak cukup hanya dengan meningkatkan skill dan kapasitas pribadi. Tapi kita juga harus mencari lawan main yang sepadan. Up grade bukan hanya berlaku bagi kita, tapi juga bagi partner dan kompetitor. Rentang waktu 18 tahun, PKS telah membawa standar baru dalam politik di Indonesia. Diantaranya:

Pertama, Modernisasi Sistem
Sebuah organisasi akan eksis dan berkembang jika dijalankan dengan menegakkan sistem, bukan ketokohan. Sistem bisa dijalankan oleh siapa saja, asal memenuhi standar dan kualifikasi. Sedang ketokohan seringkali menjadi benteng pemisah, antara shohibul bait dengan shohibul hajat. Bukan berarti tokoh tidak penting, namun harus dijaga agar nilai ketokohan tidak lebih besar dari nilai organisasi. Agar organisasi bisa tetap eksis meski tokohnya sudah tiada.

Faksi dan kecenderungan hati pasti ada. Tidak masalah, karena hal itu sungguh sangat manusiawi. Namun, PKS tidak mengalami tekanan psikologis sebagaimana di partai sebelah, dimana kekuasaan terpusat dan terlegitimasi pada satu nasab tertentu. Seperti halnya trah Bani Soekarno di PDI Perjuangan. PKB sempat merasakan situasi yang sama (trah Bani Gusdur) sebelum akhirnya bisa memandirikan gerakannya.

Kedua, Durabilitas Kerja
PKS hidup sepanjang tahun, bukan hanya pada momentum politik semata. Kegiatan pengkaderan terus berjalan, baik di ruang seminar maupun pegunungan. Aktivitas sosial terus digalakkan, baik dengan stetoskop maupun paket sembako murah. Basis komunitas terus dibangun, baik dengan cara ideologis maupun pragmatis. Advokasi publik terus dilakukan, baik kepada basis konstituen maupun masyarakat umum.

Lelah dan futur pasti terjadi. Tidak masalah, karena hal itu juga manusiawi. Bukan tak boleh lelah, hanya tak boleh berhenti. Boleh kita meminum sedikit air untuk membasahi tenggorokan, tapi tidak boleh sampai memenuhi perut. Karena hanya pasukan yang meminum sedikit air pelepas dahaga saja, yang sanggup melanjutkan perjalanan jihad bersama Tholut. Karena hanya mereka yang istiqomah di medan Uhud saja, yang diserukan bergabung dalam perang Hamroul Asad bersama Rosululloh saw.

Ketiga, Pelopor Kebaikan
Sulit untuk dipungkiri bahwa PKS berstatus sebagai trend setter bagi partai lain. Relawan kemanusiaan dan kebencanaan sekarang bukan hanya dimonopoli PKS, tapi juga dimiliki oleh partai lain. Segmen pemilih pemula dan pemilih muda sekarang bukan hanya digarap oleh PKS, tapi juga mulai digarap partai lain. Kasus terbaru, lomba membaca kitab kuning yang dipelopori PKS juga langsung diduplikasi oleh partai lain.

Alhamdulillah jalan kita diikuti oleh partai lain, kita membuat sunnah hasanah dalam ranah politik. Berarti kita mendapatkan tambahan pahala atas orang-orang yang terinspirasi dan mengikuti kita. Berarti kita mendapatkan keutamaan karena menjadi pelopor kebaikan. Sebagaimana Ukasyah yang mendapatkan derajat tinggi karena amal kepeloporan. “Kalian telah didahului Ukasyah,” kata rosul kepada para shahabat.

Khotimah
Sejauh ini kita sudah membuktikan banyak hal kepada masyarakat Indonesia, khususnya para pengamat dan analis. Bahwa politik Islam memiliki prospek yang cerah di bumi pertiwi. Bahwa umat Islam bisa tampil menjadi komunitas yang maju dan modern. Bahwa Islam adalah wajah yang ramah dan bersahabat.

Selanjutnya, kita pun perlu memberikan dorongan positif kepada partner sesama partai politik. Bahwa berpolitik itu adalah aktivitas yang mulia dan bermartabat. Bahwa tidak ada aliran dan paham apapun yang mengajarkan politisi untuk berperilaku KKN. Hanya dengan cara demikian, kepercayaan masyarakat kepada partai bisa dipulihkan, setelah digerogoti oleh pengamat dan media. Dan momentum pemilu pun menjadi parade bintang-bintang pemimpin masa depan, untuk mewujudkan masa depan gemilang.

Eko Junianto, SE

Membangun Budaya Egaliter

Suatu ketika Amirul Mukminin ‘Umar bin Khoththob ra berbicara dihadapan khalayak, “Jika kalian melihatku bengkok, apa yang akan kalian lakukan?”. Salah seorang lalu berdiri dan berkata dengan lantang, “Kami akan meluruskanmu dengan ini” seraya mengacungkan pedang. 

Bukannya marah, ‘Umar malah gembira dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Alloh yang telah membangkitkan dari rakyatku orang yang mau meluruskanku dengan pedangnya.” Apa kira-kira hikmah yang bisa kita petik dari kisah ini?

Pertama, Ketawadhu’an Pemimpin
Pemimpin itu semestinya tawadhu’. Mereka menjadi pemimpin karena punya banyak kelebihan dibandingkan kaum yang dipimpinnya. Baik dalam hal ilmu, pengalaman, harta, nasab dll. Meski begitu, sikap tawadhu’ harus di kedepankan saat berhadapan dengan rakyat. Sehingga kaum yang dipimpinnya merasa nyaman untuk berinteraksi dengannya, sehingga koleganya (pemimpin negeri lain) merasa sungkan dan hormat kepadanya.

Sungguh, ‘Umar bin Khoththob ra adalah orang hebat. Firasatnya tajam, ilmunya luas, setan-pun takut kepadanya. Dengan segala keutamaan yang dimiliki, dia tetap membuka diri untuk dikritik oleh rakyatnya. Apakah sikap itu menurunkan derajatnya? Sama sekali tidak. Rakyat semakin hormat dan patuh kepadanya. Benarlah sabda nabi “Man tawaadho’a li  akhiihil muslim, rofa’ahulloh”.

Kedua, Penghargaan Kepada Orang Lain
‘Umar bin Khoththob itu begitu superior, bahkan diantara sesama shahabat. Mungkin hanya ‘Ali bin Abi Tholib ra saja yang layak disejajarkan dengan ‘Umar bin Khoththob ra, baik dari segi kekuatan fisik maupun keluasan ilmu. Namun secara khusus, tentu saja ada beberapa shahabat yang memiliki keunggulan tertentu. Misalnya, Abu Bakar Ash Shiddiq paling paham terhadap nasab Quroisy. Hudzaifah Al Yamani paling paham dengan masalah kemunafikan. Mu’adz bin Jabal paling paham dengan perkara halal haram. Dan seterusnya.

Sehebat apapun, seorang pemimpin harus memahami batas kemampuan dirinya. Karena itu, dia harus membuka pintu selebar-lebarnya atas masukan maupun kritik dari pihak lain. Karena bisa jadi mereka mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. Sebagaimana burung hud-hud mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Nabi Sulaiman, yakni tentang berita dari negeri Saba’.

Ketiga, Jaminan Kebebasan
Sejak awal, ‘Umar bin Khoththob memang terkenal keras. Mengacungkan pedang, mengayunkan tongkat, menarik janggut dll adalah bagian dari gaya khas seorang ‘Umar. Dia melakukan hal itu bukan hanya kepada musuh, tapi juga kepada sebagian shahabat. Karena itulah, ada banyak pihak merasa keberatan saat dia menjadi kholifah. Karena itu pula, ada shahabiyah yang berani menolak pinangannya. 

Namun dibalik itu, ‘Umar sangat menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Khususnya terhadap perkara yang dilandasi nash, ‘Umar akan menerima dengan lapang, meski koreksinya datang dari seorang nenek tua yang tak dikenal. Terhadap pengaduan kezholiman, dia langsung bertindak tegas meskipun akan menimpa pejabatnya dan sanak keluarganya. 

Khotimah
Dalam konteks bernegara, seorang pemimpin (dari Presiden hingga kepala desa) harus membangun budaya egaliter, baik secara personal dengan rakyatnya, maupun secara kelembagaan dengan DPR/DPRD. Hanya dengan cara itu, segala potensi kebaikan bisa tertampung dan tersalurkan melalui jalur resmi dan konstitusional. Agar pada saatnya nanti, pertanggungjawaban terhadap suatu kebijakan bisa dipikul bersama. Baik di dunia, maupun akhirat.

Eko Junianto, SE

Selasa, 19 April 2016

Dari Generasi ke Generasi; Refleksi Milad PKS 18

Panggung sejarah biasanya lebih merekam kiprah para pemimpin ketimbang kiprah generasinya. Suksesi berarti kita bicara pergantian orang per orang, sedang regenerasi berarti kita bicara pergantian kelompok komunitas. Proses suksesi sejatinya adalah bagian dari proses regenerasi.

PKS sebagai metamorfosis PK sudah 4 kali mengikuti Pemilu dan dinahkodai oleh 6 Presiden. Usianya sebagai partai sudah 18 tahun, usianya sebagai gerakan dakwah sudah lebih dari 30 tahun. Karenanya sudah cukup layak untuk membicarakan tema regenerasi, selain suksesi.

Membedah Anatomi
Hal esensial saat kita berbicara tentang regenerasi adalah pada karakteristik khusus. Karakter generasi inilah yang akan menghasilkan corak sekaligus tingkat efektivitas kepemimpinan. 

Perjalanan PKS sebagai suatu entitas terorganisir menarik untuk dicermati. Pada periode awal, lebih mudah mencari ustadz ketimbang politisi di PKS. Pengurus PKS didominasi para aktivis berjanggut dengan menenteng kitab yang dibaca dari sebelah kanan (arab gundul). Karenanya, wajar jika isu keislaman lebih mendominasi, mulai dari tragedi Ambon hingga krisis Palestina.

Periode selanjutnya, pengurus PKS mulai banyak dihuni jebolan aktivis kampus. Janggutnya tidak terlalu tebal dan kitab pegangannya pun dibaca dari sebelah kiri. Wacana perjuangan pun bergeser mengkritisi kebijakan publik, mulai kenaikan harga BBM hingga polemik Pemilukada.

Di tingkat akar rumput, basis dukungan PKS juga melebar. Dari aktivis masjid melebar ke entitas buruh, mahasiswa, TKI, pengusaha, pegawai swasta, seniman hingga golongan kaum miskin kota (proletar/mustadh’afin).

Spektrum semakin luas, kompleksitas masalah pun semakin besar. Hal yang persis sama terjadi di era ekspansi Islam. Dimana Rosululloh sudah wafat, teritori semakin luas, banyak orang masuk Islam dengan membawa tradisi dimasa lalu serta muncul banyak persoalan yang tidak ada sebelumnya. 

Tantangan Regenerasi
Tantangan pertama tentu pada aspek kaderisasi. Sistem kaderisasi menjadi pertaruhan, karena menjadi modal pokok PKS dalam membangun organisasinya. Merubah simpatisan dan swing voter menjadi kader solid bukan perkara mudah. 

Hal ini akhirnya menjadi tantangan besar bagi sistem kaderisasi PKS, yakni agar bisa mengikat semua entitas basis pendukungnya, baik secara ideologis maupun organisatoris. Terlebih, pada akhirnya output kaderisasi PKS juga akan dibandingkan dengan sistem kaderisasi dua pihak lain sekaligus, yakni dengan kaderisasi partai lain dan kaderisasi harokah lain.

Tantangan kedua pada pola perjuangan. Generasi awal berpegang teguh pada kesiapan berkorban dan tawakal. Ayat yang sering dijadikan pegangan perjuangan kala itu adalah “Kam min fiatin qoliilatin gholabat katsirotan bi idznillah”. Pergerakan PKS sangat ideologis, karenanya terasa kaku dan mudah ditebak oleh lawan.

Pada generasi selanjutnya, mulai ada banyak hal yang dipertaruhkan. Perjuangan lebih banyak menggunakan jurus langkah kuda (zigzag, unpredictable) pada papan catur. Pola pergerakan bukan hanya terpaku pada masalah ideologis, tapi juga ragam analisis ilmiah. Mulai dari kajian intelijen hingga hasil survei. Orang lain sering menganggapnya sebagai langkah pragmatis, kita memahaminya sebagai siyasatud da’wah.

Meneropong Masa Depan
Perkembangan PKS terus berjalan dengan logika dan permasalahannya sendiri, baik sebagai jama’ah dakwah maupun partai politik. Jika tidak diantisipasi dengan baik, situasi chaos di masa ‘Utsman bin ‘Affan dan ‘Ali bin Abi Tholib sangat rentan terjadi. Karena itu, proses regenerasi harus menjadi narasi penting dalam rencana strategis PKS dimasa mendatang.

Dalam proses regenerasi, kita membutuhkan pewarisan nilai yang baik. Agar segala bentuk idealisme generasi awal bisa diwarisi secara baik oleh generasi selanjutnya. Sebagai respon atas situasi eksternal, mungkin perlu juga proses metamorfosa gerakan, namun harus tetap berada dalam koridor.

Generasi awal Islam itu lekat dengan jihad, generasi selanjutnya lekat dengan keilmuan. Generasi awal lekat dengan Al Qur’an, generasi selanjutnya lekat dengan hadits dan fikih. Sepintas terlihat ada perbedaan orientasi, namun sesungguhnya hanya perubahan gerakan. Karena jihad ma’rifah juga bagian dari konsepsi jihad secara umum. Karena Al Qur’an, hadits, dan fikih juga pokok ilmu yang menjadi pilar agama Islam.

Kita juga memerlukan banyak para pemikir yang berorientasi konstruktif dan solutif. Bukan hanya di tingkat qiyadah, tapi juga akar rumput. Merekalah yang akan memberikan panduan dan pencerahan terus menerus agar gerbong kereta bisa sampai ke tujuan.

‘Umar bin Khoththob ra adalah seorang shahabat yang berpandangan futuristik. Dia merespon setiap peristiwa dengan lontaran ide dan gagasan. Beliau memunculkan ide pembukuan Al Qur’an kepada Abu Bakar Ash Shiddiq saat banyak huffazh yang gugur di perang Yamamah. 

Dia membuat kebijakan merotasi pasukan jihad per 3 bulan demi memenuhi hak berumah tangga pasukannya. Contoh lainnya masih banyak. Beragam pemikiran brilian inilah yang menjadi salah satu sebab pencapaian zaman keemasan Islam. Dan beragam pemikiran brilian masih sangat kita butuhkan saat ini, karena tantangannya lebih berat.

Khotimah
Tholut, ‘Umar bin Khoththob, Sholahuddin al Ayubi, Muhammad Al Fatih dll adalah contoh pemimpin besar yang didukung generasi hebat. Kehebatan pemimpin berpadu dengan kehebatan jama’ahnya, maka lahirlah banyak prestasi besar. 

Nabi Musa dan ‘Ali bin Abi Tholib adalah contoh pemimpin besar yang didukung generasi lemah. Sehebat apapun mukjizat yang dibawa, sekuat apapun kepemimpinannya, setinggi apapun hujjah yang disampaikan, ternyata tidak banyak mengubah hasil akhir.

Dulu kita berfikir bahwa pemimpin itu ditaqdirkan. Sehingga Bani Israel tidak mau berjuang sebelum Nabi Musa dilahirkan. Sehingga orang Jawa tidak mau bergerak sebelum ratu adil muncul. Sehingga beberapa kelompok kaum muslimin tidak mau ambil bagian sebelum Imam Mahdi dibai’at.

Sekarang orientasi bergeser, dimana pemimpin adalah produk dari komunitas dan masyarakatnya. Generasi hebat akan melahirkan pemimpin besar. Bahwa pohon yang kuat, lebat, dan berbuah karena disemai di atas tanah yang subur. Sebaliknya, tanah gersang sulit akan menumbuhkan tanaman berkualitas. Sebaik apapun kualitas bijinya.

Jangan sampai sindiran Imam ‘Ali bin Abi Tholib kepada para pencelanya akhirnya terulang kepada kita. “Dahulu mereka pemimpin dan pengikutnya seperti aku. Sekarang aku jadi pemimpin dan pengikutnya seperti kamu”. Wallohu a’lam bi showab.

Eko Junianto, SE