Kamis, 23 April 2015

Hadiah Bisik-bisik

"Sesungguhnya aku melihat ada daging merah di mulut kalian berdua, karena kalian telah mengghibah saudaramu."
Berghibah adalah membicarakan aib atau kesalahan, kekurangan dan keburukan orang lain. Dalam Al-Quran Suroh Al-Hujurot ayat 12, Alloh melarang orang berghibah dan menyebutkan bahwa orang yang melakukan ghibah itu sama halnya dengan telah memakan daging saudaranya atau orang yang dighibah.
Menurut sejumlah riwayat, latar belakang turunnya ayat tentang larangan berghibah (asbab al-nuzul) tersebut disebabkan karena adanya kejadian yang menimpa salah seorang sahabat Rosululloh saw. Dalam riwayat tersebut dikisahkan, suatu ketika Rosululloh saw. memerintahkan Salman Al-Farisi untuk bergabung dengan dua orang kaya di dalam sebuah perjalanan.
Hal tersebut acap dilakukan Rosululloh saw. manakala di kalangan umat Islam ada yang akan menempuh suatu perjalanan panjang, yaitu menggabungkan satu orang fakir miskin dengan dua orang kaya dalam satu pertanggungjawaban.
Artinya, dua orang kaya itu bertanggungjawab untuk menyediakan bahan-bahan makanan dan kebutuhan untuk bekal dalam perjalanan. Sedang orang yang fakir miskin bertanggungjawab untuk berjalan lebih cepat dan mendahului kedua orang kaya itu kemudian berhenti di sebuah tempat untuk dipersiapkan sebagai tempat mereka beristirahat. Disamping itu, orang yang fakir tersebut juga bertangungjawab memasak dan menyajikan makanan untuk mereka bertiga.
Dalam perjalanan itu, ketika Salman sudah memperoleh tempat istirahat, sebelum ia sempat memasak lauk-pauk, kedua orang kaya yang merupakan teman seperjalannya tersebut ternyata sudah datang. Alhasil mereka menyuruh Salman untuk pergi menemui Rosululloh saw. yang sudah berada agak jauh di depan bersama sahabat lainnya.
"Pergilah temui Rosululloh dan mintalah kelebihan lauk yang ada padanya untuk kita," ujar kedua orang kaya tersebut kepada Salman. Salman pun mematuhinya. Ia segera pergi dengan maksud untuk menyusul Rosululloh dan meminta kelebihan lauk yang ada. Tatkala Salman pergi, kedua orang itu membicarakan Salman seraya berkata, "Jika dia sudah sampai di sumur Samihah yang tersohor dengan airnya yang banyak itu, tentulah saat ini airnya sudah dalam. Sehingga dia akan menjadi basah kuyup."
Setelah Salman sampai di hadapan Rosululloh saw., ia menyampaikan permohonannya untuk meminta kelebihan lauk sebagaimana yang diperintahkan oleh kedua orang kaya tersebut. Namun Rosululloh saw. menjawab, "Katakan kepada keduanya sesungguhnya mereka sudah memakan lauk."
Salman segera kembali lagi kepada kedua orang kaya tersebut dan menyampaikan apa yang disabdakan oleh Rosululloh saw. Mendengar jawaban Rosululloh saw tersebut, mereka berinisiatif untuk mendatangi langsung Rosululloh saw., "Ya Rosululloh, sesungguhnya kami sama sekali belum makan lauk," ujar mereka setelah tiba dihadapan Rosululloh saw.
Rosululloh saw. kemudian bersabda, "Sesungguhnya aku melihat ada daging merah di mulut kalian berdua, karena kalian telah mengghibah saudaramu." Maka kemudian turunlah Al-Quran Suroh Al-Hujurot ayat 12 tersebut.
Dalam hadits yang bersumber dari Abu Huroiroh ra., ada sepuluh bencana yang bakal terjadi disebabkan perbuatan ghibah, yaitu:
» Orang yang berghibah akan menjadi jauh dari rohmat Alloh,
» Para malaikat tidak mau mendekatinya,
» Si pengghibah akan mengalami rasa sakit yang dahsyat ketika menghadapi sakaratul maut,
» Ia juga akan menjadi semakin lebih dekat kepada neraka,
» Semakin menjadi jauh dari surga,
» Si pengghibah akan mengalami siksa kubur yang sangat pedih,
» Amal kebaikannya akan dihapuskan,
» Ruh Rosululloh akan dibuat sakit oleh perbuatan ghibahnya itu,
» Ia akan memperoleh kemurkaan Alloh, dan
» Ia pun akan menjadi orang yang pailit atau bangkrut ketika berada di hari penghisaban. Hal ini disebabkan oleh amal perbuatannya yang baik telah dibagikan kepada orang-orang yang dighibahi dan justru ia akan memperoleh amal perbuatan buruk dari orang-orang yang dighibahinya.

Berdasarkan hadits itulah, maka Hasan Al-Bashri, salah seorang tokoh sufi dan wali terbesar yang cukup terkenal pada zamannya, justru memberikan hadiah kepada siapa saja yang mengghibahinya. Pada suatu hari, Hasan Al-Bashri mendapat kabar dari salah seorang kawannya kalau ia telah dighibahi oleh seseorang.
Mendengar kabar tersebut, Hasan Al-Bashri menjadi bersyukur dan ia segera mengutus seseorang untuk mengirimkan emas permata kepada orang yang mengghibahinya. Emas permata itu diwadahi oleh Hasan Al-Bashri di dalam sebuah baki tertutup seraya berpesan agar utusan tersebut berkata kepada si penerima hadiah itu sebagai berikut:
"Telah sampai kepadaku sebuah berita bahwa berbaik hati mengirim amal kebajikanmu kepadaku. Oleh karena itu, aku hadiahkan seluruh isi baki ini kepadamu."
Dalam hal ini, tampak sekali bahwa Hasan Al-Bashri justru tidak marah ketika ia dighibahi oleh seseorang. Ia malah bersyukur atas perbuatan orang lain yang membicarakan tentang kekurangan dirinya. Sebab ia menyadari betul, bahwa dibalik itu semua, ia justru bakal memperoleh banyak pahala kebajikan secara gratis.
Apabila kita bisa memahami setiap kejadian buruk yang menimpa kita dengan cara demikian, niscaya kita akan bisa mensyukuri setiap fitnah atau ujian yang datang menerpa diri kita. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita malah acap melakukan aksi yang jauh lebih buruk dari yang dilakukan orang lain terhadap diri kita.

Disadur dari buku Mutiara Hikmah, Kisah Para Kekasih Allah, karya Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah, Penerbit Darul Hikmah

Credit: disini

Terhina di Dunia, Mulia di Langit

Dia seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, bahunya lebar, kulitnya kemerah-merahan. Dagunya senantiasa menempel di dada karena selalu melihat ke tempat sujud. Hidup sezaman dengan Rosululloh saw tetapi mereka tidak pernah bertatap muka karena Uwais tinggal di Yaman. Kerap membaca al-Qur'an dan selalu menangis ketika membacanya. Pakaiannya hanya dua helai dan sudah kusut. Satu untuk penutup badan, dan satunya lagi digunakan sebagai selendang.
Siapalah dia di mata manusia. Tidak banyak yang mengenalinya, apatah lagi mencari tahu akan hidupnya. Banyak suara yang menertawakan dan mempermainkannya. Ada yang menuduhnya sebagai pencuri. Manusia mengumpat dan mencelanya karena kemiskinannya. Uwais telah lama yatim, tiada sanak saudara, kecuali hanya ibunya yang telah tua dan lumpuh.
Sehari-hari Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk keperluan harian bersama ibunya. Jika ada uang lebih, Uwais gunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin sepertinya.
Uwais al-Qorni memeluk Islam ketika seruan Nabi Muhammad saw tiba ke negeri Yaman. Kesibukannya sebagai penggembala dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mengurangkan ibadahnya walau sedikit. Dia tetap berpuasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad saw secara langsung. Alangkah sedihnya hati Uwais apabila melihat setiap tetangganya yang baru pulang dari Madinah. Mereka itu telah bertamu dan bertemu dengan kekasih Alloh swt, penghulu para Nabi, sedang dia sendiri belum berkesempatan. Kecintaannya kepada Rosululloh saw menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang Nabi. Namun apalah daya, dia tidak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah. Apatah lagi ibunya sakit dan perlu dirawat.
Hari berganti hari, dan kerinduannya untuk bertemu sang Nabi tidak terbendung lagi. Pada suatu hari, Uwais meluapkan juga isi hatinya kepada ibunya dan memohon izin untuk menziarahi Nabi Muhammad saw di Madinah. Si ibu dengan rasa haru meridhoi kepergian Uwais dan berpesan agar segera pulang. Dengan rasa gembira, ia pun bersiap-siap untuk berangkat. Dia tidak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar memonitor ibunya selama ia pergi.
Maka berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak lebih kurang 400 km dari Yaman. Medan yang begitu panas diarunginya. Dia tidak peduli dengan penyamun gurun pasir, bukit yang curam maupun padang pasir yang luas yang bisa menyesatkan. Semua dilaluinya demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya wajah baginda Nabi saw yang selama ini dirinduinya.
Namun setibanya Uwais al-Qorni di depan pintu rumah Nabi, 'Aisyah ra memberitahukan bahwa Nabi sedang pergi ke medan perang. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kepulangan Nabi saw. Namun masih terngiang di telinganya pesan sang ibu untuk segera pulang ke Yaman. Atas ketaatan kepada ibunya, dia akhirnya pulang dengan hati yang pilu setelah menitipkan salamnya untuk baginda Nabi saw.
Sepulangnya dari medan perang, Nabi saw langsung menanyakan adakah orang yang mencarinya selama beliau pergi ke Madinah? Beliau menjelaskan bahwa Uwais adalah anak yang taat kepada ibunya. Walau tidak dikenali di dunia, namun namanya sangat terkenal di kalangan penghuni langit. Mendengar pernyataan baginda Nabi saw, 'Aisyah dan para sahabat terpaku merenung. Menurut 'Aisyah ra memang benar ada yang mencari Nabi saw dan pemuda itu telah pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit.
Rosululloh saw bersabda, "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qorni), perhatikanlah! Ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya."
Sesudah itu Rosululloh saw memandang ke arah sayyidina 'Ali dan sayyidina 'Umar dan bersabda, "Suatu ketika jika kalian bertemu dengannya, mintalah doa dan istighfarnya. Dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi."
Setelah Nabi saw wafat, suatu hari kholifah 'Umar dan sayyidina 'Ali memohon agar Uwais berkenan mendoakan mereka sebagaimana pesan Nabi saw. Uwais enggan dan dia berkata kepada kholifah, "Sayalah yang seharusnya minta doa kepada kalian." Mendengar perkataan Uwais, kholifah berkata, "Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar padamu."
Karena desakan, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdoa, dan membacakan istighfar. Setelah itu, kholifah 'Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Maal kepada Uwais, Uwais menolak dengan halus dan berkata, "Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lain lagi."
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam dan tidak terdengar beritanya. Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar bahwa Uwais al-Qorni telah berpulang ke rohmatulloh. Anehnya, pada saat ia akan dimandikan, tiba-tiba sudah ramai orang yang berebut untuk memandikannya. Dan ketika ia dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah banyak orang yang menunggu untuk mengkafani. Demikian juga ketika orang pergi hendak menggali kubur, di sana ternyata sudah banyak orang yang menggali kubur hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pemakaman, luar biasanya sudah banyak orang yang berebut untuk mengangkat kerandanya.
Kepergian Uwais telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang mengherankan. Saking banyaknya yang tidak dikenal datang untuk mengurus jenazah dan pengebumiannya. Padahal Uwais adalah orang yang fakir dan tidak dihiraukan orang semasa hayatnya. Masyarakat Yaman saling bertanya-tanya, "Siapakah engkau sebenarnya, wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kami kenal itu hanya seorang fakir yang tidak memiliki apa-apa? Kerjanya hanya sebagai penggembala?
Namun ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenali. Mereka datang dengan jumlah yang sedemikian banyak." Mereka adalah malaikat yang diturunkan ke bumi hanya untuk merawat jenazah dan pengebumiannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahui siapa sebenarnya Uwais al-Qorni.
"Dia adalah Uwais al-Qorni, tidak dikenal di kalangan penduduk bumi tetapi namanya sangat tersohor di langit sana."

Credit: disini

Drama Kesendirian: Penguasa

Dia adalah raja di Balkh, satu wilayah yang masuk dalam kerajaan Khurosan, menggantikan ayahnya yang baru mangkat.
Sebagaimana umumnya kehidupan para raja, Ibrohim ibn Adhom juga bergelimang kemewahan. Hidup dalam istana megah berhias permata, emas, dan perak. Setiap kali keluar istana, ia selalu di kawal 80 orang pengawal. 40 orang berada di depan dan 40 berada di belakang, semua lengkap dengan pedang yang terbuat dari baja yang berlapis emas.
Suatu malam, ketika sedang terlelap tidur di atas dipannya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara langkah kaki dari atas genteng, seperti seseorang yang hendak mencuri. Ibrohim menegur orang itu, "Apa yang tengah engkau lakukan di atas sana?" Orang itu mnejawab, "Saya sedang mencari ontaku yang hilang." "Apa kamu sudah gila mencari onta di atas genteng?" sergahnya. Namun orang itu balik menyerang, "Tuan yang gila, karena tuan mencari Alloh di istana!" Jawabannya membuat Ibrohim tersentak, tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Ia gelisah, kedua matanya tidak dapat terpejam, terus-menerus menerawang merenungi kebenaran kata-kata itu. Hingga adzan shubuh berkumandang ia tetap terjaga.
Esok harinya, keadaannya tidak berubah. Ia gelisah, murung, dan sering menyendiri. Ia terus mencari jawaban di balik peristiwa malam itu.
Karena tidak menemukan jawabannya, sementara kegelisahan hatinya semakin berkecamuk, ia mengajak prajuritnya berburu ke hutan dengan harapan beban di kepalanya sedikit berkurang. Akan tetapi, sepertinya masalah itu terlalu berat baginya, sehingga tanpa disadari kuda tunggangannya yang ia pacu sejak tadi telah jauh meninggalkan prajuritnya. Ia terpisah dari mereka, jauh ke dalam hutan, menerobos rimbunnya pepohonan tembus ke satu padang rumput yang luas. Kalau saja ia tidak terjatuh bersama kudanya, mungkin ia tidak berhenti.
Ketika ia berusaha bangun, tiba-tiba seekor rusa melintas di depannya. Segera ia bangkit, menghela kudanya dengan cepat sambil mengarahkan tombaknya ke tubuh buruannya. Tetapi saat dia hendak melemparkan tombaknya, ia mendengar bisikan keras seolah memanggil dirinya, "Wahai Ibrohim, bukan untuk itu (berburu) kamu diciptakan dan bukan kepada hal itu pula kamu diperintahkan!"
Namun, Ibrohim terus berlari sambil melihat kiri-kanan, tapi tak seorang pun di sana lalu ia berucap, "Semoga Alloh memberikan kutukan kepada Iblis!"
Dia pacu kembali kudanya. Namun lagi-lagi teguran itu datang. Hingga tiga kali. Ia lalu berhenti dan berkata, "Apakah itu sebuah peringatan dari-Mu? Telah datang kepadaku sebuah peringatan dari Alloh, Tuhan semesta alam. Demi Alloh, seandainya Dia tidak memberikan perlindungan kepadaku saat ini, pada hari-hari yang akan datang aku akan selalu berbuat durhaka kepada-Nya!"
Setelah itu, ia menghampiri seorang penggembala kambing yang ada tidak jauh dari tempat itu. Lalu memintanya untuk menukar pakaiannya dengan pakaian yang ia pakai. Setelah mengenakan pakaian usang itu, ia berangkat menuju Makkah untuk mensucikan dirinya. Dari sinilah drama kesendirian Ibrohim bermula. Istana megah ia tinggalkan, dan tanpa seorang pengawal ia berjalan kaki menyongsong kehidupan barunya.
Berbulan-bulan mengembara, Ibrohim tiba di sebuah kampung bernama Bandar Nishofur. Di sana ia tinggal di sebuah gua, menyendiri, berdzikir, dan memperbyak ibadah. Hingga tidak lama kemudian, kesholihan, kezuhudan, dan kesufiannya mulai dikenal banyak orang. Banyak diantara mereka yang mendatangi dan menawarkan bantuan kepadanya, tetapi Ibrohim selu menolak.
Beberapa tahun kemudian, ia meninggalkan Bandar Nishofur, dan dalam perjalanan selanjutnya menuju Makkah, hampir di setiap kota yang ia singgahi terdapat kisah menarik tentang dirinya yang dapat menjadi renungan bagi kita, terutama keikhlasan dan ketawadhuannya.
Pernah satu ketika, di suatu kampung Ibrohim kehabisan bekal. Untungnya, ia bertemu dengan seorang kaya yang membutuhkan penjaga untuk kebun delimanya yang sangat luas. Ibrohim pun diterima sebagai penjaga kebun, tanpa disadari oleh orang tersebut kalau lelaki yang dipekerjakannya adalah Ibrohim ibn Adhom, ahli ibadah yang sudah lama ia kenal namanya. Ibrohim menjalankan tugasnya dengan baik tanpa mengurangi kuantitas ibadahnya.
Satu hari, pemilik kebun minta dipetikkan buah delima. Ibrohim melakukannya, tapi pemilik kebun malah memarahinya karena delima yang diberikannya rasanya masam. "Apa kamu tidak bisa membedakan buah delima yang manis dan asam," tegurnya. "Aku belum pernah merasakannya, tuan," jawab Ibrohim. Pemilik kebun menuduh Ibrohim berdusta. Ibrohim lantas sholat di kebun itu, tapi pemilik kebun menuduhnya berbuat riya' dengan sholatnya. "Aku belum pernah meliha orang yang lebih riya' dibanding kau!" "Betul, tuanku. Ini baru disaku yang terlihat. Yang tidak, jauh lebih banyak lagi," jawabnya. Dia pun dipecat lalu pergi.
Di perjalanan, ia menjumpai seorang pria sedang sekarat karena kelaparan. Buah delima tadi pun diberikannya. Sementara itu, tuannya terus mencarinya karena belum membayar upahnya. Ketika bertemu, Ibrohim meminta agar gajinya dipotong karena delima yang ia berikan kepada orang sekarat yadi. "Apa engkau tak mencuri selain itu?" tanya pemilik kebun. "Demi Alloh, jika orang itu tidak sekarat, aku akan mengembalikan buah delimamu," tegas Ibrohim.
Setahun kemudian, pemilik kebun mendapat pekerja baru. Dia kembali meminta dipetikkan buah delima. Tukang baru itu memberinya yang paling manis. Pemilik kebun bercerita bahwa ia pernah memiliki tukang kebun yang paling dusta karena mengaku tak pernah mencicipi delima, memberi buah delima kepada orang yang kelaparan, minta dipotong upahnya untuk buah delima yang ia berikan kepada orang kelaparan itu. "Betapa dustanya dia," kata pemilik kebun.
Tukang kebun yang baru itu lantas berujar, "Demi Alloh, wahai majikanku, akulah orang yang kelaparan itu. Dan tukang kebun yang engkau ceritakan itu dulunya seorang raja yang lantas meninggalkam istananya karena zuhud." Pemilik kebun pun menyesali tindakannya, "Celaka, aku telah menyia-nyiakan kekayaan yang tak pernah aku temui."
Menjelang kedatangannya di kota Makkah, para pemimpin dan ulama bersama-sama menunggunya. Namun tak seorang pun yang mengenali wajahnya. Ketika kafilah yang diikutinya memasuki gerbang kota Makkah, seorang yang diutus menjemputnya bertanya kepada Ibrohim, "Apakah kamu mengenali Ibrohin ibn Adhom, ahli ibadah yang terkenal itu?" "Untuk apa kamu menanyakan si ahli bid'ah itu?" Ibrohim balik bertanya.
Mendapat jawaban yang tidak sopan itu, orang tersebut lantas memukul Ibrohim dan menyeretnya menghadap pemimpin Makkah. Saat diinterogasi, jawaban yang keluar dari mulutnya tetap sama, "Untuk apa kaiam menanyakan si ahli bid'ah itu?" Ibrohim pun disiksa karena dia dianggap menghina seorang ulama agung. Tetapi, dalam hatinya Ibrohim bersyukur diperlakukan demikian, ia berkata, "Wahai Ibrohim, dulu waktu berkuasa kamu memperlakukan orang seperti ini. Sekarang, rasakanlah olehmu tangan-tangan penguasa ini."
Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan seorang bekas penguasa seperti Ibrohim ibn Adhom; dari pengalamannya memperbaiki diri, dari kesendiriannya menebus segala kesalahan dan kelalaian, dari keikhlasan, kezuhudan, dan ketawadhuannya yang tak ternilai.

Credit: disini

Tokoh Dibalik Surat Yasin

Dia bukan Rosul, bukan Nabi, bukan pula ‘ulama. Tapi dia berjuang untuk belajar dan memahami. Dan dia lelaki yang suka berbagi.
“Nama lelaki di Suroh Yasin itu,” demikian dinyatakan ‘Ikrimah dari Ibn ‘Abbas, “Adalah Habib ibn Surri an-Najjar, seorang tukang kayu.”
Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan sosok yang sesungguhnya tak disebut namanya di dalam wahyu ini sebagai teladan tentang cinta yang tak habis-habis bagi ummat di sekelilingnya.
Dia bukan Rosul, bukan Nabi, bukan pula ‘ulama. Tapi dia berjuang untuk belajar dan memahami. Dan dia lelaki yang suka berbagi.
Hal terawal yang difahaminya hanyalah bahwa para Rosul yang datang ke kotanya itu orang-orang tulus. Mereka menghasung kebenaran dan mengajarkan kebajikan sama sekali tanpa meminta imbalan. Bagi Habib, mereka adalah orang-orang yang mendapat sekaligus membawa petunjuk.
Maka dengan bergegas-gegas dari ujung kota, dia berseru-seru, “Wahai kaumku, ikutilah para utusan Alloh itu!” Dan Habib an-Najjar, demikian menurut sebagian mufassirin, setelah menyimak apa yang disampaikan para terutus itu kemudian melantangkan dengan anggun pernyataan imannya.
وَمَا لِي لاَ أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
أَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِ آلِهَةً إِن يُرِدْنِ الرَّحْمَن بِضُرٍّ لاَّ تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئاً وَلاَ يُنقِذُونِ
إِنِّي إِذاً لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ

“Mengapa aku tidak menyembah Dzat yang telah menciptaku, yang hanya padaNya kalian semua akan dikembalikan? Apakah aku akan mengibadahi sesembahan-sesembahan yang jika Alloh Sang Maha Pengasih menghendaki bahaya bagiku, maka syafa’at mereka sama sekali tiada bermanfaat bagiku dan tak dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku jika demikian itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yaasin [36]: 22-24)
Mendengar ungkapannya itu, para pemuka kaumnya murka. Betapa seorang lelaki tak dikenal, dari kalangan jelata lagi miskin papa, mengajari mereka tentang agama. Betapa seorang yang bukan siapa-siapa, mengungkap kesejatian iman yang membuat apa yang mereka yakini selama ini tampak batil dan konyol. Maka diperintahkanlah para pengikut untuk mengeroyok dan menyiksanya, hingga dadanya remuk dan isi perutnya terburai akibat diinjak-injak.
Di detak-detik terakhirnya, dalam sekarat yang menyergapkan manisnya iman, diiringi airmata para utusan Alloh yang tak kuasa menolongnya, dia mencoba bicara. Nafasnya yang satu-satu, darahnya yang sisa-sisa, tak menghalanginya menyunggingkan senyum ridho.
إِنِّي آمَنتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ
“Sesungguhnya aku beriman kepada Robb kalian. Maka dengarkanlah ikrar imanku ini.” (QS. Yaasin [36]: 25)
Kata-katanya ini, menurut Imam ath-Thobary, khithobnya ditujukan kepada para Rosul yang mendampingi di akhir hayatnya. Para Rosul itu takjub dan cemburu terhadap iman yang telah menggerakkan Habib an-Najjar berdakwah dengan mempersembahkan raga dan nyawanya. Betapa sebentar dia belajar. Betapa cepat dia memahami. Betapa dalam dia meyakini. Betapa besar cinta pada kaumnya. Betapa hebat penyampaian dakwahnya. Dan betapa mahal pengorbanannya.
Kisah sang da’i tak berhenti sampai di sini. Sebab mereka yang ada di jalan dakwah yang Alloh ridhoi tetap hidup sesudah mati. Hidup dengan semua arti yang terkandung dalam kata ‘hidup’ itu sendiri. Habib an-Najjar membuktikan diri sebagai lelaki penggamit hati yang cinta ikhlasnya pada kaumnya terus dia dengungkan dari dalam surga yang abadi.
“Aduhai alangkah baiknya seandainya kaumku mengetahui. Bersebab apa kiranya Robbku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.” (QS. Yaasin [36]: 29)
Inilah orang yang mencintai bagi seluruh kaumnya, apa yang dicintainya untuk dirinya sendiri. Inilah orang yang mengharapkan bagi kaumnya, apa yang diharapkannya bagi dirinya sendiri. Inilah orang yang mentakutkan atas kaumnya, apa yang ditakutkannya atas dirinya sendiri. Sungguh jiwa da’i sejati, yang kasihnya kepada ummat dia bawa mati. Sungguh setiap yang memiliki jiwa penggamit hati, adalah lapis-lapis keberkahan yang mencahayai zaman.
Habib an-Najjar sudah mati. Maka Alloh yang Maha Santun dengan firman Maha Mulia menyampaikan apa yang dia katakan dari alam yang sudah berbeda. Bahwa dia mencintai kaumnya, amat berhasrat menggamit semua hati untuk dibawa ke dalam cahaya, untuk diajak menikmati surga. Inilah hati da’i sejati.
Salim A. Fillah

Credit: disini

Ksatria Baitul Maqdis

ظل نجم الدين أيوب -أمير تكريت-لم يتزوج لفترة طويلة،فسأله أخوه -أسد الدين شيراكوه -قائلًا :ياأخي لما لاتتزوج ؟
Bahwasanya Nazmuddin Ayyub -penguasa Tikrit- belum menikah dalam waktu yang lama, maka bertanyalah saudaranya -Asaduddin Syerkuh, "Saudaraku, kenapa kamu belum menikah?"
فقال له نجم الدين :
لا أجد من تصلح لي

Najmuddin menjawab, "Aku belum mendapatkan yang cocok."
فقال له أسد الدين: ألا أخطب لك؟
Asaduddin berkata: "Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?"
قال من؟
قال:ابنة ملك شاه -بنت السلطان محمدبن ملك شاه-السلطان السلجوقي،أو ابنة نظام الملك -كان وزيرا من الوزراء العظام-الوزير العباسي-.

Dia berkata, "Siapa?"
Ia menjawab, "Puteri Malik Syah -anak Sultan Muhammad bin Malik Syah- Raja bani Saljuk, atau puteri Nidzamul Malik -dulu menteri dari para menteri agung zaman Abbasiyah."

فيقول له -نجم الدين-قائلًا إنهم لايصلحون لي،فيتعجب منه أسد الدين شيراكوه
فيقول له:ومن يصلح لك؟

Maka Najmuddin berkata, "Mereka tidak cocok untukku."
Maka heranlah Asaduddin Syerkuh, ia berkata, "Lantas siapa yang cocok bagimu?"
فيرد عليه-نجم الدين-قائلًا:إنما أريد زوجة صالحة تأخذ بيدي إلي الجنة وأنجب منها ولدا تحسن تربيته حتي يشب ويكون فارسًا ويعيد للمسلمين بيت المقدس
Najmuddin menjawab, "Aku menginginkan istri yang sholihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan baitul maqdis ke tangan kaum muslimin."
في ذلك الوقت كان بيت المقدس محتلًا من قبل الصليبين ،وكان -نجم الدين -وقتها في العراق في تكريت بينه وبين بيت المقدس مسافات شاسعة
Waktu itu baitul maqdis dijajah oleh pasukan salib, dan Najmuddin masa itu tinggal di Tikrit Irak yang berjarak jauh.
ولكن قلبه وعقله كانا معلقين في بيت المقدس
Tetapi hati dan pikirannya senantiasa terpaut dengan baitul maqdis.
وكان هذا هو حلمه أن يتزوج زوجة صالحة ينجب منها فارسًا يعيد للمسلمين بيت المقدس.
Impiannya adalah menikahi istri yang sholihah dan melahirkan ksatria yang akan mengembalikan baitul maqdis ke pangkuan kaum muslimin.
أسد الدين لم يعجبه كلام أخيه فقال له:ومن أين لك بهذه؟
Asaduddin tidak terlalu heran dengan ungkapan saudaranya. Ia berkata, "Dimana kamu bisa mendapatkan yang seperti ini?"
فرد عليه -نجم الدين-:من أخلص لله النية رزقه الله المعين
Najmuddin menjawab, "Barangsiapa ikhlas niat karena Alloh, akan Alloh karuniakan pertolongan."
وفي يوم كان -نجم الدين-يجلس إلي شيخ من الشيوخ في مسجد في تكريت يتحدث معه
Suatu hari Najmuddin duduk bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit dan berbincang-bincang.
فجاءت فتاه تنادي علي الشيخ من وراء الستار،فاستأذن الشيخ من -نجم الدين-ليكلم الفتاة
فيسمع -نجم الدين-الشيخ وهو يقول لها:

Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai, maka Syaikh tersebut minta izin Najmuddin untuk bicara dengan si gadis.
Najmuddin mendengar Syaikh berkata padanya:

لماذا رددت الفتى الذي أرسلته إلي بيتكم ليخطبك؟
"Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?"
فقالت له الفتاة:أيها الشيخ ونعم الفتى هو من الجمال والمكانة،ولكنه لايصلح لي.
Gadis itu menjawab, "Wahai Syaikh, ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku."
فقال لها الشيخ:وماذا تريدين؟
فقالت له :سيدي الشيخ أريد فتىً يأخذ بيدي إلي الجنه وأنجب منه ولدًا يصبح فارسًا يعيد للمسلمين بيت المقدس

Syaikh berkata, "Apa yang kau inginkan?"
Gadis menjawab, "Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan baitul maqdis kepada kaum muslimin."
الله أكبر نفس الكلمات التي قالها -نجم الدين لأخيه
هي نفس الكلمات التي تقولها -الفتاة-للشيخ.

Allohu Akbar. Kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya, persis kata-kata yang diucapkan gadis itu kepada Syaikh.
-نجم الدين -رفض بنت السلطان وبنت نظام الملك بما لها من المكانة والجمال،وكذلك-الفتاة- رفضت الفتي الذي له من المكانة والجمال ماله
Najmuddin menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan, dan begitu juga gadis itu menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan.
كل هذا من أجل ماذا؟ لأن كلاهما يريد من يأخذ بأيديهما إلي الجنة ومن ينجبان منه فارسًا يعيد للمسلمين بيت المقدس
Apa maksud ini semua? Karena keduanya menginginkan tangan yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan baitul maqdis kepada kaum muslimin.
فقام -نجم الدين-ونادي علي الشيخ
أيها الشيخ :أريد أن أتزوج من هذه الفتاة

Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh, "Aku ingin menikah dengan gadis ini."
فقال له الشيخ :إنها من فقراء الحي
Syaikh menjawab, "Dia gadis kampung yang miskin."
فقال -نجم الدين-: هذه من أريدها أريد زوجة صالحة تأخذ بيدي إلي الجنة وأنجب منه ولدًا يصبح فارسًا حتي يعيد للمسلمين بيت المقدس
Najmuddin berkata, "Ini yang aku inginkan. Aku ingin istri sholihah yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik jadi ksatria yang akan mengembalikan baitul maqdis kepada kaum muslimin."
"ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجًا لتسكنوا إليها"
Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia ciptakan dari jenis kalian sendiri pasangan-pasangan agar kalian merasa tenteram dengannya.
تزوج -نجم الدين أيوب -من هذه الفتاة-ست الملك خاتون-وبالفعل من أخلص النية رزقه الله المعين
Menikahlah Najmuddin Ayyub dengan gadis ini. Maka barangsiapa berniat ikhlas, akan Alloh karuniakan pertolongan.
فأنجب -نجم الدين -ولدًا أصبح فارسًا أعاد للمسلمين بيت المقدس ألا وهو:
Maka lahirlah putra Najmuddin yang menjadi ksatria yang mengembalikan baitul maqdis ke haribaan kaum muslimin. Ia adalah ...
~صلاح الدين الأيوبي~
Sholahuddin al-Ayyubi
هذه كانت أمانيهم في زواجهم
فياتري ماهي أمانينا نحن في زواجنا؟

Inilah obsesi mereka dalam menikah. Lantas apa obsesi kita dalam pernikahan kita?

Kartini Tekun Belajar Agama Islam

Pada setiap bulan April, masyarakat Indonesia selalu mengingat dua kosa kata berikut: emansipasi dan Kartini. Sebenarnya apa itu emansipasi, dan siapakah Kartini? Mengapa keduanya harus selalu berhubungan? Kita coba memahami keduanya.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan makna emansipasi dengan dua pengertian (1) pembebasan dari perbudakan; (2) persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria). Kartini adalah tokoh wanita Indonesia. Demikian penjelasan dari KBBI Online. Wikipedia Indonesia memuat makna emansipasi sebagai berikut: “emansipasi ialah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat, sering bagi kelompok yang tak diberi hak secara spesifik, atau secara lebih umum dalam pembahasan masalah seperti itu.”
Dari penjelasan tersebut, bisa dipahami bahwa yang dimaksud dengan emansipasi adalah persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan, seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria. Namun, apakah Kartini pernah menyebut kata ‘emansipasi’? Ternyata tidak. Itu bukan istilah yang digunakan oleh Kartini untuk menyebut sisi perjuangan yang dilakukan. Jika pun Kartini disebut sebagai tokoh yang mengusung emansipasi, pasti tidak pernah bisa dilepaskan dari latar belakang dan kultur yang berada di sekitarnya. Kartini mewakili bangsawan Jawa, sosok ningrat yang dikekang dengan berbagai aturan tradisi.
Kartini lahir di desa Mayong, Kabupaten Jepara, 21 April 1879 dan meninggal dunia di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun. Sebagai anak seorang bupati, Kartini hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Saat kecil, Kartini dimasukkan ke sekolah elit orang-orang Eropa, Europese Lagere School (ELS) dari tahun 1885-1892. Di sekolah ini, Kartini banyak bergaul dengan anak-anak Eropa.
Ahmad Mansur Suryanegara (ahli sejarah Unpad) mencatat, “Sebagai keluarga priyayi Jawa, kultur mistis dan kebatinan begitu melekat di lingkungan tempat tinggalnya. Namun bagi Kartini, ikatan adat istiadat yang telah berurat akar dalam itu, dianggap mengekangnya sebagai perempuan. Setelah tamat dari sekolah ELS, Kartini memasuki masa pingitan. Sementara itu, Kartini merasakan betul betapa haknya mendapatkan pendidikan secara utuh dibatasi. Di luar, ia melihat pendidikan Barat-Eropa begitu maju.”
Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi, seperti J. H Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri, seorang humanis yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini. Ny Abendanon Mandri adalah seorang wanita kelahiran Puerto Rico dan berdarah Yahudi.

Kartini dan Perjuangan Kaum Perempuan
Perjuangan Kartini kita kenal tertuang dalam buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Eropa, Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911.
Buku ini dianggap sebagai pemikiran besar yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya. Konon, saat itu, tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu. Benarkah klaim ini? Klaim yang selalu diajarkan di semua sekolah kita setiap memperingati Hari Kartini.
Padahal dua abad SEBELUM Kartini lahir, di Kerajaan Aceh Darussalam sudah ada empat perempuan yang menjadi Sultan (Sultanah) dari 31 Sultan yang ada. Mereka adalah Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin (memerintah tahun 1050-1086 H), Sri Ratu Nurul Alam Naqiatuddin (1086-1088 H), Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah (1088-1098 H), dan Sri Ratu Kamalat Syah (1098-1109 H). Aceh dipimpin oleh Sultanah perempuan selama empat periode (1641-1699 M). Posisi Sultanah menjadi bukti nyata bahwa kaum perempuan di Indonesia sejak lama sudah memiliki pemikiran yang maju dan perjuangan yang besar.
Jika Raden Ajeng Kartini berdiskusi melalui surat menyurat dengan Abendanon, maka para perempuan Aceh sudah berperang melawan penjajah bersama para lelaki, bahkan beberapa di antara mereka menjadi Panglima Perang memimpin kaum laki-laki. Di antara yang sangat terkenal adalah Laksamana Malahayati yang gagah berani dalam memimpin armada laut Kerajaan Aceh Darussalam melawan Portugis. Malahayati tercatat sebagai Laksamana Perempuan Pertama di dunia. Dialah yang memimpin armada perang Kesultanan Aceh menggempur armada-armada Portugis dan Belanda di Selat Malaka. Armadanya terdiri dari 100 buah kapal. Tiap kapal terdiri dari 400 - 500 pasukan.
Malahayati hidup di masa Kerajaan (Kesultanan) Atjeh dipimpin oleh Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV yang memerintah antara tahun 1589 -1604 M. Malahayati pada awalnya dipercaya sebagai kepala pengawal dan protokol di dalam dan luar istana, berpasangan dengan Cut Limpah yang bertugas sebagai petugas Dinas Rahasia dan Intelijen Negara. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Meunasah/ Pesantren, beliau meneruskan pendidikannya ke Akademi Militer Kerajaan, “Ma’had Baitul Maqdis”, akademi militer yang dibangun dengan dukungan Sultan Selim II dari Turki Utsmaniyah.
Akademi ini didukung oleh 100 dosen angkatan laut yang sengaja didatangkan dari kerajaan Turki tersebut. Disini pula dirinya bertemu jodohnya sesama kadet yang akhirnya menjadi Laksamana, namun sampai kini nama suaminya belum dapat diketahui dengan pasti. Lulus dari akademi, Malahayati diangkat menjadi Komandan Protokol Istana Darud-Dunia Kerajaan Aceh Darussalam, begitu juga dengan suami yang diangkat menjadi Laksamana.
Nama Malahayati sangat ditakuti oleh Armada-armada Portugis, Belanda dan Inggris. Karena Malahayati lah yang berhasil membunuh Cornelis De Houtman di tahun 1599. Cornelis De Houtman adalah orang Belanda yang pertama kali menancapkan kuku imperialisme di Indonesia. Sungguh sangat sulit mencari perempuan segagah Malahayati di zaman sebelumnya atau sesudahnya.
Yang relatif satu generasi dengan Kartini, juga sangat banyak tokoh perempuan lainnya. Di Aceh ada Cut Nyak Din (1848 – 1908), yang memimpin perang melawan Belanda setelah suaminya, Teuku Umar, syahid. Kita juga mengenal Teungku Fakinah (1856 – 1938), seorang ustadzah yang memimpin resimen laskar perempuan dalam perang melawan Belanda. Bahkan usai perang, Teungku Fakinah mendirikan pusat pendidikan Islam bernama Dayah Lam Diran.
Kita mengenal Cut Meutia (1870 – 1910), yang selama 20 tahun memimpin perang gerilya dalam belukar hutan Pase dan akhirnya meninggal dunia karena bersumpah tidak akan menyerah hidup-hidup kepada Belanda. Ada pula Pocut Baren (1880 – 1933), seorang pemimpin gerilya yang sangat berani dalam perang melawan Belanda di tahun 1898-1906. Berikutnya Pocut Meurah Intan, yang juga sering disebut dengan nama Pocut Biheu, bersama anak-anaknya—Tuanku Muhammad, Tuanku Budiman, dan Tuanku Nurdin—berperang melawan Belanda di hutan belukar hingga tertawan setelah terluka parah di tahun 1904.
Sejarah juga mencatat Cutpo Fatimah, teman seperjuangan Cut Meutia, puteri ulama besar Teungku Chik Mata Ie yang bersama suaminya bernama Teungku Dibarat melanjutkan perang setelah Cut Meutia syahid, hingga dalam pertempuran tanggal 22 Februari 1912, Cutpo Fatimah dan suaminya syahid bertindih badan diterjang peluru Belanda.
Salah seorang pemimpin gerilya Aceh Darussalam, Pocut Baren, namanya diabadikan menjadi nama sebuah resimen laskar perempuan Aceh “Resimen Pocut Baren” yang merupakan bagian dari Divisi Pinong di Aceh semasa revolusi fisik melawan Belanda. Resimen perempuan Aceh ini sangat ditakuti Belanda karena terkenal tidak pernah mundur atau pun melarikan diri dalam setiap pertempuran. Mereka bahkan pantang menyerah hidup-hidup kepada penjajah.
Sangat mungkin, disebabkan ruang gerak perempuan Aceh yang sangat luas, maka mempengaruhi cara berpakaian mereka. Prof. Dr. Hamka menulis, “Di seluruh tanah air kita ini, hanya di Aceh pakaian asli perempuan memakai celana. Sebab mereka pun turut aktif dalam perang. Mereka menyediakan perbekalan makanan, membantu di garis belakang dan pergi ke medan perang mengobati yang luka.”
Buya Hamka juga menyatakan, “Pikirkanlah dengan dalam! Betapa jauh perbedaan latar belakang wanita Aceh 358 tahun yang lalu itu dengan perjuangan wanita zaman sekarang. Mereka itu didorong oleh semangat jihad dan syahid karena ingin bersama menegakkan agama Allah dengan kaum laki-laki, jauh daripada arti yang dapat kita ambil dari gerakan emansipasi wanita atau Feminisme zaman modern sekarang ini.”

Sangat Banyak “Kartini” Lainnya
Kita ingat Sekolah Kartini baru berhasil didirikan tahun 1915, setelah 11 tahun dari wafatnya Kartini. Bisa dikatakan Kartini belum berhasil mewujudkan cita-cita besarnya saat masih hidup. Kedua adiknya --yaitu Kardinah dan Rukmini-- dibantu oleh TH Van Deventer serta JH. Abendanon yang mewujudkan mimpi-mimpi Kartini melalui Yayasan Kartini. Berbeda dengan Rohana Kudus. Ia berhasil mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia di tahun 1911 ketika Rohana berusia 27 tahun.
Rohana Kudus (1884-1972) hidup sezaman dengan Kartini, usianya lebih muda lima tahun. Ketika Kartini mencetuskan ide-ide perjuangannya melalui korespondensi surat dengan para sahabat Belandanya, maka Rohana mengeluarkan ide-ide perjuangannya melalui koran yang ia pimpin. Rohana Kudus mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916). Selain itu ia menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis perempuan pertama di negeri ini. Rohana Kudus menyebarkan idenya melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).
Jika Kartini dianggap memiliki pembelaan yang kuat terhadap Islam, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”, begitu kata Rohana Kudus.
Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum perempuan. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Sekolah ini merupakan Sekolah Perempuan pertama di tanah Jawa, bahkan Sekolah Perempuan pertama se-Hindia Belanda. Sekolah ini bediri di tahun wafatnya Kartini.
Di Sulawesi Selatan tercatat nama Siti Aisyah We Tenriolle, seorang Ratu dari Kerajaan Tanette yang menjadi ratu perempuan terlama di Indonesia (1855-1910). Siti Aisyah We Tenriolle adalah seorang ratu yang cerdas. Tak hanya cakap di bidang pemerintahan, ia juga berhasil menyelamatkan sastra warisan dunia I La Galigo. Suatu epos terpanjang di dunia.
I La Galigo adalah suatu sajak mahakarya, yang mencakup lebih dari 6.000 halaman folio. Setiap halaman naskah tersebut terdiri dari 10-15 suku kata yang berarti cerita I La Galigo ditulis dalam sekitar 300.000 baris panjangnya. Satu setengah kali lebih panjang dari epos terbesar anak Benua India, Mahabharata yang hanya terdiri dari 160.000-200.000 baris.
Tidak hanya cerdas di bidang kesusateraan, Siti Aisyah We Tenriolle juga cerdas di bidang pemerintahan dan pendidikan. Aisyah berhasil mendirikan sekolah bagi rakyatnya. Sekolah tersebut tidak hanya diperuntukan bagi laki-laki, tetapi juga perempuan. Meski kurikulumnya masih sangat sederhana, hanya membaca, menulis dan berhitung tapi pada masa itu tergolong sudah sangat hebat.
Karena pada masa itu anak perempuan banyak tidak bersekolah. Aisyah lah tokoh yang pertama kali mendirikan sekolah yang menerima murid putra dan putri dalam satu kelas. Dia berhasil mewujudkan kesetaraan hak pendidikan bagi laki-laki dan perempuan jauh sebelum Kartini dilahirkan. Aisyah menginginkan rakyatnya melek pendidikan, tidak terkecuali perempuan.
Ternyata, para tokoh perempuan itu semua sudah sederajat dengan kaum laki-laki dalam berbagai dinamika kehidupan, baik sebelum era Kartini, maupun pada era Kartini. Sudah ada perempuan menjadi Sultan di Kerajaan Aceh selama empat periode kepemimpinan. Sudah ada perempuan menjadi Laksamana Perang. Sudah ada perempuan menjadi Sultan di Sulawesi Selatan. Sudah ada perempuan mendirikan koran dan sekolahan. Kartini bahkan hanya ‘surat-suratan’ saja. Tidak mendirikan sekolahan, tidak membuat koran, tidak memimpin perang melawan penjajahan.

Kartini Tekun Belajar Agama Islam
Kartini mengalami proses pembelajaran Islam yang sangat terbatas. Pada awalnya ia hanya mendapatkan pengajaran baca tulis Al Qur’an, namun tidak diberi penjelasan makna dari apa yang ditulis dan dibaca tersebut. Hal ini tampak dari surat Kartini kepada Stella:
“Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya” (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899).
“Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899).
“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya” (Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902).
Suatu ketika, Kartini menghadiri pengajian di rumah Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat yang juga adalah pamannya. Pengajian dibawakan oleh seorang ulama bernama Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, atau dikenal Kyai Soleh Darat, tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertarik sekali dengan materi yang disampaikan. Usai pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat.
Berikut ini dialog Kartini sebagaimana ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat.
Kartini: “Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?”
Kyai Soleh: “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”
Kartini: “Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Setelah pertemuan itu Kyai Soleh Darat mulai menuliskan terjemah Al Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Pada pernikahan Kartini, Kyai Soleh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran yang diberi judul “Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran”, jilid pertama terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Kartini mulai mempelajari Islam melalui kitab yang ditulis Kyai Soleh Darat. Tapi sayang, tidak lama setelah itu Kyai Soleh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa.
Kartini belum mengenal “tarbiyah”, belum mengenal bimbingan keislaman yang intensif. Kartini belum bertemu ustadz dan ustadzah yang berkafa’ah syar’i yang bisa membimbingnya secara rutin dalam kajian Islam pekanan. Maka pemahaman keislamannya masih sangat terbatas, namun ia memiliki semangat yang tampak dari berbagai tulisan suratnya.
Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa Allah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya, minazh zhulumati ilan nur. Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata itu. “Dari kegelapan menuju cahaya”. Dalam surat-suratnya kemudian, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “dari gelap menuju cahaya” ini. Istilah “dari gelap menuju cahaya” yang dalam Bahasa Belanda adalah “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan makna setelah diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Akhirnya sampailah, “Hari yang membawa perubahan dalam jiwa kami. Sudah kami dapatkan Dia (Allah, pen) yang bertahun-tahun lamanya didahagakan oleh jiwa kami dengan tiada setahu diri.” Selanjutnya Kartini menyatakan kepada E. C. Abendanon. ”Alangkah bebalnya, bodohnya kami, kami tiada melihat, tiada tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan (Al-Qur’an, pen) di samping kami” (15 Agustus 1902).
Menurut Ahmad Mansur Suryanegara, Al-Qur’an yang dikaji Kartini telah menumbuhkan sikap baru, “Kami bersedia, bersedia berbuat apa juapun, bersedia memberikan diri kami sendiri.” Selanjutnya Kartini bersedia berkorban dan korbannya ini dinilai sebagai, “Bersedia menerima: luka hati, air mata darah akan mengalir banyak-banyak, tetapi tiadalah mengapa: kesemuanya itu akan membawa ke arah kemenangan. Manakah akan terang, bila tiada didahului gelap gulita. Hari fajar lahir pada malam” (17 Agustus 1902).

Jadi, Apa Perjuangan Kartini?
Jadi, bagaimana kita bisa menganggap Kartini mencita-citakan persamaan antara perempuan dan laki-laki seperti paradigma Barat? Apa ini bukan propaganda Barat untuk menunjukkan keberhasilan mereka dalam mencerahkan perempuan Indonesia melalui Kartini? Kasihan Kartini, kalau kita posisikan seperti ini. Nyatanya, Kartini bahkan menyerang peradaban Barat. Hal ini tertuang dalam surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902:
“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?“
“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang-orang Jawa Kebarat-baratan” (surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 10 Juni 1902).
Yang diperjuangkan Kartini adalah pengajaran dan pendidikan untuk kaum perempuan. Bukan memperjuangkan emansipasi. Perhatikan surat Kartini berikut:
"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama" (Surat Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya pada 4 Oktober 1902).
Sebagai seorang muslimah, Kartini juga menyerang upaya Kristenisasi terhadap umat Islam yang dilakukan penjajah Belanda. “Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?” (Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903).
Ahmad Mansur Suryanegara memberikan catatan, “Di tengah perjuangannya menentang adat dan mencari ajaran agama, Kartini mendapatkan semacam ajaran agama Kristen dari Ny. van Kol. Tetapi Kartini sekalipun masih muda, namun tidaklah kehilangan identitasnya sebagai pemeluk agama islam. Tidak silau dan terpukau oleh kemajuan Barat, Kartini menunjukkan kematangan sikapnya: ‘Yakinlah Nyonya, kami akan tetap memeluk agama kami (Agama Islam, pen) yang sekarang ini’ (21 Juli 1902). Demikianlah jawaban Kartini menolak ajakan Ny. van Kol”.
Jika Kartini sekarang masih hidup, sepertinya beliau akan sedih melihat peringatan Hari Kartini selalu dikaitkan dengan emansipasi seperti yang dipahami masyarakat Indonesia sekarang ini. Seakan dia mengajak berperang melawan kaum laki-laki untuk menuntut persamaan hak. Padahal Allah sudah memberikan persamaan hak, derajat dan posisi antara laki-laki dan perempuan, tanpa harus dituntut. Kartini bahkan berjuang untuk membuat Islam bisa diterima secara baik oleh umat lain.
“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902).
“Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 5 Maret 1902).
“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: Hamba Allah (Abdulloh)” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 1 Agustus 1903).
“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Alloh, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dia-lah yang dapat menyembuhkan” (Surat Kartini kepada Nyonya Abandanon, 1 Agustus 1903).
“Menyandarkan diri kepada manusia, samalah halnya dengan mengikatkan diri kepada manusia. Jalan kepada Allah hanyalah satu. Siapa sesungguhnya yang mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia pun, ia sebenar-benarnya bebas” (Surat kepada Ny. Ovink, Oktober 1900).

Bahkan peradaban Barat tidak memberikan contoh perjuangan emansipasi seperti yang diopinikan selama ini. Lihat saja Amerika Serikat yang sudah berusia lebih dari dua ratus tahun, Presidennya selalu laki-laki. Belum ada perempuan yang dianggap pantas untuk menjadi Presiden Amerika Serikat. Lebih maju Indonesia dong...smile emotiko
Jadi, apa sebenarnya emansipasi itu? Dan siapa yang memperjuangkannya? Bahkan Kartini sendiri mungkin tidak mengerti.

Oleh: Cahyadi Takariawan

Sabtu, 18 April 2015

Video Motivasi

Hebatnya Pengorbanan Seorang Ayah


Berhenti Minum


Hari Raya


Bakti Ayah


Perjalanan Tunanetra di Hari Raya