Senin, 05 Agustus 2013

Karena Ukuran Kita Tak Sama

seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan kasut besar untuk tapak mungil akan merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi




SEORANG lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seolah didekatkan hingga tinggal sejengkal. Pasir membara, reranting menyala. Angin kering dan panas meniup bagai ubupan. Dan lelaki itu masih berlari-lari, menutupi wajah dari pasir panas yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan dekatnya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ‘Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat di sana dengan menyanding air sejuk dan bebuahan ketika ia melihat lelaki itu. Dan dia mengenalinya! “Masya Alloh!” serunya, “Bukankah itu Amirul Mukminin?”

Ya. Lelaki tinggi besar itu, tak salah lagi, adalah ‘Umar ibn al-Khoththob.

“Ya, Amirul Mukminin!” ‘Utsman berteriak sekuat tenaga dari pintu dangaunya, “Apa yang kau lakukan di tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!” Dinding dangau di samping ‘Utsman berderak keras diterpa angin pasir.

“Seekor unta zakat terpisah dan lepas dari kawanannya. Aku takut Alloh akan menanyakannya padaku. Aku harus menangkapnya kembali. Masuklah engkau, hai ‘Utsman!” ‘Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya menggema.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman, “Aku akan menyuruh seorang pembantuku menangkapnya untukmu!”

“Tidak! Masuklah, hai ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Alloh, hai Amirul Mukminin, kemarilah. Insya Alloh unta itu akan kita dapatkan kembali!”

“Tidak. Ini tanggung jawabku. Masuklah, hai ‘Utsman! Badai pasirnya mengganas.”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu. Dia bersandar di baliknya dan bergumam, “Demi Alloh, benarlah Dia dan Rosul-Nya. Engkau memang bagaikan Musa. Seorang yang kuat lagi tepercaya.”

                                                   ***

‘Umar memang bukan ‘Utsman, dan demikian juga sebaliknya. Mereka berbeda dan masing-masingnya menjadi unik dengan karakter khas yang dimiliki. Seorang jagoan yang biasa bergulat di Pasir Ukazh, yang tumbuh di tengah klan Bani Makhzum nan keras dan Bani Adi nan jantan kini menjadi pemimpin orang-orang mukmin. Maka sifat-sifat itu―keras, tegas, jantan, bertanggung jawab, dan ringan turun gelanggang―dibawa ‘Umar untuk menjadi buah bibir kepemimpinannya hingga hari ini.

‘Utsman, lelaki pemalu, datang dari keluarga Bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman. ‘Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Itu bukan kebiasaan bagi ‘Utsman. Kedermawananlah yang menjadi jiwanya. Andai jadi dia menyuruh seorang sahayanya mengejarkan unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskannya karena Alloh dan dibekalinya bertimbun dinar jika berhasil membawa sang unta pulang.

Mereka berbeda.

Bagaimanapun juga, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian dari perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat, misalnya. “Suatu ketika aku melihat ‘Utsman berkhuthbah di mimbar Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam,” kata Anas, “Kuhitung tambalan di surban dan jubahnya. Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

                                                   ***

Satu waktu, Sa’d ibn Abi Waqqosh sakit dan Rosululloh menjenguknya. Di pembaringan, Sa’d bertanya pada Sang Nabi tentang apa yang harus dia lakukan terhadap hartanya. Dia merasa, banyaknya harta akan menjadi beban ketika dirinya wafat nanti. “Ya Rosululloh,” katanya, “Bolehkah aku mewasiatkan seluruh hartaku?” Maksud Sa’d adalah seluruh harta itu diwasiatkan sebagai infaq di jalan Alloh atau hibah untuk mereka yang memerlukan.

Rosululloh menggeleng, “Jangan.”

“Bagaimana jika dua pertiganya?”

“Jangan.”

“Bagaimana jika separuhnya yang aku wasiatkan?”

“Jangan.”

“Bagaimana jika sepertiganya?”

“Sepertiga itu,” ujar Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, “Sudah merupakan jumlah yang banyak. Hai Sa’d, sesungguhnya engkau tinggalkan keluargamu dalam keadaan kaya dan mampu adalah lebih baik daripada kau tinggalkan mereka dalam keadaan fakir dan meminta-minta.”

Ada seorang kawan yang pernah memberikan ulasan terkait mengapa jawaban Sang Nabi kepada Abu Bakar di beberapa kesempatan dengan saran beliau kepada Sa’d ibn Abi Waqqosh ini tidak sama. Kita tahu, kapanpun Abu Bakar datang dengan membawa seluruh hartanya, Rosululloh tidak pernah menolak. “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?” tanya Sang Nabi. Abu Bakar biasanya menjawab, “Kutinggalkan untuk mereka Alloh dan Rosul-Nya.”

Dan Rosululloh akan mengangguk. Dia tak keberatan.

Tetapi kepada Sa’d, kalimat beliau berbunyi, “Sesungguhnya engkau tinggalkan keluargamu dalam keadaan kaya dan mampu adalah lebih baik daripada kau tinggalkan mereka dalam keadaan fakir dan meminta-minta.” Apa perbedaan di antara mereka berdua?

“Perbedaannya ada pada kapasitas dan kapabilitas mereka dalam menjemput rizki,” ujar seorang rekan. “Abu Bakar adalah seorang niagawan yang dikenal jujur, amanah, cerdas, profesional, dan mumpuni. Dia memiliki wawasan dan jaringan yang luas dalam dagang. Abu Bakar tak pernah terputus sumber rizkinya karena begitu dia kehabisan uang pun, berduyun-duyun orang berebut menyerahkan modal padanya untuk dikelola. Tidak banyak shohabat lain yang seperti Abu Bakar dalam hal ini.”

“Itulah mengapa,” sambung sahabat saya ini, “Rosululloh tak pernah mengkhawatirkan Abu Bakar ketikapun dia menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Alloh. Adapun Sa’d ibn Abi Waqqosh, kemungkinan besar beliau bukanlah orang yang kemampuan usahanya setinggi Abu Bakar ash-Shiddiq.”

Saya kagum dengan analisis ini. Tapi mungkin perlu ditambahkan satu lagi. Tentang keluarga.

Bagaimana pendidikan, penyiapan jiwa, dan pewarisan nilai-nilai kebaikan yang terjadi pada masing-masing keluarga agaknya juga menjadi pertimbangan Sang Nabi. Keluarga Abu Bakar ash-Shiddiq telah sedemikian rupa dididik oleh shohabat Rosululloh dalam gua itu untuk kokoh dalam iman dan penuh keikhlasan dalam berkorban di jalan-Nya. Kita ingat peristiwa ketika Abu Bakar hijrah dengan membawa seluruh hartanya. Saat itu, Asma’ binti Abi Bakar menuntun kakeknya, Abu Quhafah yang buta untuk meraba kerikil-kerikil ditutupi kain yang dikatakannya, “Lihatlah, Kek. Ayah meninggalkan banyak sekali harta untuk kita.”

Untuk sekedar menjadi perbandingan, hampir tak ada catatan miring tentang keluarga Abu Bakar dalam beberapa generasi pelanjutnya. Tetapi dalam rumah tangga Sa’d ibn Abi Waqqosh, di generasi kedua telah ada putranya, Umar ibn Sa’d ibn Abi Waqqosh yang berandil besar dalam pembantaian al-Husain ibn ‘Ali ibn Abi Tholib dan keluarganya di Karbala.

                                                   ***

Dalam dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju  milik tokoh lain lagi. Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin ummat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz. Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaq-nya ‘Abdurrohman ibn ‘Auf. Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang dianugerahi ilmu. Tetapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai Bahasa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Tholib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu. “Dulu di zaman kholifah Abu Bakar dan ‘Umar,” kata seorang lelaki pada ‘Ali, “Keadaan begitu tenteram, damai, dan penuh berkah. Mengapa di masa kekholifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaannya begini kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku. Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan dengan menuntut orang lain untuk berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman, atau ‘Ali. Sebagaimana bahkan Sang Nabi tak meminta Sa’d ibn Abi Waqqosh melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya, jadikanlah diri kita sebagai orang yang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush sholih, dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah. Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya, dan masing-masing kaki memiliki sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladanannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

                                                   ***

Bagi kita hari ini yang jauh dan tertatih dari keagungan Rosululloh beserta sahabat-sahabatnya, dekapan ukhuwah tetap meminta kita untuk saling mengerti. Sebab ukuran-ukuran kita berbeda, saling memahami adalah salah satu wasilah terpenting untuk dapat bersaudara. “Untuk mampu memahami orang lain,” ujar John C. Maxwell masih dalam buku Winning with People, “Pertama-tama, tinggalkan tempat Anda dan kunjungilah tempat mereka!” Tentu saja ‘tempat’ adalah kiasan untuk benak pikiran kita. Dia mengajukan sebuah contoh yang menarik.

Maskapai penerbangan American Airlines pada tahun 1930-an sering menghadapi aduan dan protes para pelanggannya tentang bagasi yang hilang selama perjalanan. LaMotte Cohn, sang manager umum, berulangkali memberikan pengarahan kepada jajaran kepala stasiun untuk menaruh perhatian dan menyelesaikan soal ini. Sayangnya, hingga berbulan-bulan tak ada perbaikan. Komplain para penumpang masih terus berdering-dering.

Akhirnya Cohn mengundang seluruh kepala stasiun dari berbagai wilayah untuk datang ke kantor pusat. Mereka harus terbang dengan pesawat American Airlines. Cohn telah mengatur agar bagasi semua kepala stasiun itu hilang dalam proses transit dan penerbangan ke ibukota. Hebatnya, setelah pengalaman hilang bagasi dialami oleh para kepala stasiun, segalanya berubah. Sejak saat itu, American Airlines tak lagi mendengar pengaduan dari pelanggannya tentang bagasi hilang.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, keberbedaan dalam hal-hal bukan asasi tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang lebih tepat mungkin adalah “showwab” dan “khotho”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain. Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita fahami, itu tak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya. Imam asy-Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau, “Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

Bagaimanapun juga, belajar memahami sudut pandang liyan akan membuat wawasan kita semakin kaya dan pemahaman kita semakin tajam. Sudut pandang mereka itu akan menjadi gagasan baru yang melimpahi akal. “Begitu pikiran diperluas oleh gagasan baru,” demikian pemikir hukum Oliver Wendell Holmes pernah menyatakan, “Ia takkan pernah kembali pada bentuknya semula.”

                                                   ***

Sadar atau tidak, kita sering bertanding memperlombakan capaian. Atau dalam sisi lain, yang diperunggulkan adalah derita. Ketika seorang saudara mengisahkan alangkah menyakitkannya suatu peristiwa, kita mencari-cari bagian hidup kita yang lebih mengenaskan daripada ceritanya. Yang lebih menyedihkan, kita melakukan itu semua sekedar untuk membuat prestasi atau nestapa kawan serasa tak ada nilainya.

Ini sebenarnya adalah penanda betapa lemahnya kesaling-fahaman di antara kita.

Saat seorang saudara bercerita bahwa pesawatnya ditunda dua jam, kita segera menyahut bahwa kita pernah terlantar empat jam menanti penerbangan. Saat orang lain berkata alangkah repotnya beraktivitas sebab menunggu pulihnya lengan yang patah, kita dengan menggebu menceritakan betapa lebih menderitanya jika kaki yang mengalami fraktur.

“Kita, jika demikian,” ujar Dale Carnegie dalam The 5 Essential People Skills, “Sedang bermain menang-menangan yang hasilnya adalah saling menyakiti.”

Maka alangkah penting lain dalam memahami mereka yang mungkin saja hidup dalam ukuran-ukuran berbeda adalah memerik-sa kembali sikap kita. Adakah kita masih mempertandingkan derita atau memperlombakan lara sekedar untuk membuat lawan bicara kita makin terluka? Atau ketika saudara tercinta menangis menceritakan dukanya, kita telah mampu berbagi air mata disertai senyum yang menguatkan?

Berbahagialah mereka yang bersikap terbaik dalam dekapan ukhuwah.

                                                   ***

Hari-hari ini, jika kita masih tetap saja kesulitan untuk saling memahami, resep paling sederhana untuk melatihnya adalah bertanya. Tanyakanlah pada orang lain apa yang akan mereka lakukan andai mereka ada dalam situasi kita. Dalam dekapan ukhuwah, pertanyaan-pertanyaan macam ini bukan hanya akan membawakan inspirasi bagaimana kita harus bersikap, melainkan juga menguatkan persaudaraan kita dengan mereka yang kita mohon masukannya.

Mereka yang meminta masukan pada saudaranya tak hanya akan memperoleh pendapat terbaik. Mereka akan menemukan keberlimpahan, kepercayaan, dan ketulusan.

Maka bertanyalah agar cakrawala rasa kita makin luas. Lalu mari kita fahami sekali lagi bahwa ukuran-ukuran kita tak sama. Dalam dekapan ukhuwah, kita akan merenungkan nasehat pakar kimia pertanian George W. Carver. “Seberapa jauh engkau pergi dalam hidup ini,” tulisnya, “Tergantung seberapa lembut engkau berlaku pada anak muda, seberapa empati engkau kepada yang tua-tua, seberapa simpati engkau pada mereka yang sedang berjuang, dan seberapa toleran engkau pada yang lemah.”

“Sebab,” lanjutnya, “Dalam kehidupanmu, engkau pasti akan mengalami semua keadaan itu.”



Sumber: “Dalam Dekapan Ukhuwah”; Salim A. Fillah; Pro-U Media

3 komentar:

  1. Min, izin copy ke blog saya yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monggo, gan. Maaf, lama balesnya. Sering upload artikel tapi kurang merhatiin komentar yang nyangkut. Hehehe...

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus