Kamis, 23 April 2015

Dari Diri Sendiri

Rosululloh saw suatu ketika pernah bertanya di hadapan para sahabatnya. “Siapa di antara kalian yang hari ini berpuasa?” Abu Bakar ra menjawab, “Saya, ya Rosululloh.” Rosul bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini mengikuti jenazah?” Abu Bakar menjawab, “Saya, ya Rosululloh.” Rosul bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Abu Bakar ra lagi-lagi menjawab, “Saya, ya Rosululloh.” Keempat kalinya, Rosululloh bertanya, “Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar kembali menjawab, “Saya, ya Rosululloh.” Rosululloh bersabda, “Tidaklah semua perilaku itu dilakukan oleh seseorang kecuali ia pasti masuk surga.” (HR. Muslim)

Saudaraku,
Salah satu yang sering membuat kita kagum pada para salafushsholih adalah, besarnya dorongan jiwa mereka untuk melakukan amal-amal sholih. Mereka melakukan banyak kebaikan, karena inisiatif sendiri, bukan tekanan atau dorongan dari orang lain. Mereka, tidak pasif menunggu perintah, tapi pro aktif menyongsong tugas. Mereka adalah para pemburu pahala Alloh swt dan selalu berlomba memperoleh ganjaran Alloh yang paling banyak.

Saudaraku,
Pernahkah kita mendengar nama seorang sahabat, Salkan bin Salamah rodhiyallohu ‘anhu? Dia seorang prajurit Rosululloh saw yang ikut dalam perang Tabuk dan melakukan jaga malam secara diam-diam, di luar giliran jaga malam yang telah ditetapkan oleh pasukannya. Salkan menjaga para penjaga malam yang telah ditugaskan.

Ketika Rosululloh saw mendengar sikap Salkan itu, Rosul lalu mengangkat tangan dan melantunkan doa, “Ya Alloh, limpahkanlah rahmat-Mu pada penjaga malam dan kepada orang yang menjaga penjaga malam.” Perang Tabuk terjadi saat Rosululloh dan para sahabatnya dalam keadaan susah karena kekurangan harta. lngin sekali rasanya, melakukan peran-peran seperti Salkan bin Salamah ra. Berinisiatif melakukan kebaikan di saat yang tepat, dan mendapat do’a Rosululloh saw.

Kekuatan apa yang membuat mereka secara spontan memenuhi panggilan ketaatan seperti itu? Energi apa yang tersimpan dalam hati mereka hingga memunculkan kekuatan melakukan tugas yang wajib dilakukan, bahkan lebih dari kekuatan dan kesanggupan manusia biasa?

Perhatikanlah firman Alloh swt, “Dan tidak (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.’ Lalu mereka kembali, sedangkan mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak memperoleh apa yang mereka nafkahkan (untuk jihad).” (Q.S. At-Taubah: 92)

Itulah kekuatan iman. Menangis tatkala tak bisa memberi manfaat pada orang lain. Sedih ketika tak mungkin terlibat dalam amal-amal sholih. Tak ada yang membuat mereka mampu melakukan semuanya, kecuali karena iman. Keimanan telah memunculkan sikapindifa zati, motivasi dari dalam, yang menjadikan setiap mereka selalu bersemangat dan bertenaga melakukan amal-amal sholih.

Saudaraku,
Mari merenung lagi tentang kondisi kita saat ini, di sini. Apa yang membuat kita sering menjadi lemah, tidak bertenaga, lunglai, tak kuat bahkan hanya sekedar melakukan amal wajib? Apakah sebenarnya yang menjadikan kita seperti tak berdaya memenuhi panggilan Alloh saat adzan berkumandang? Kenapa kita menjadi berat menunaikan tugas-tugas da’wah yang kian lama semakin membutuhkan tenaga para pendukungnya yang segar dan kuat?

Tundukkanlah hati dan pasrahkanlah semuanya pada Alloh swt. Dialah yang Maha Kuasa dan Maha Memiliki Keinginan memberi petunjuk kepada kita, hamba-hamba-Nya. Dialah yang Maha Kuat memberi kekuatan pada kita, hamba-hamba-Nya untuk melakukan ketaatan.

Saudaraku,
Carilah waktu-waktu sunyi untuk melakukan amal-amal sholih. Intailah saat-saat gelap untuk menjalin hubungan yang kuat dengan Alloh. Amal yang dilakukan secara tersembunyi, jauh dari pantauan orang dan jauh dari keramaian, adalah salah satu indikasi adanya indifa zati dalam diri seseorang.

Amal-amal ketaatan dan kebaikan di saat sunyi, akan menanamkan keikhlasan. Amal sholih di kala tak ada orang yang mengetahui, itulah yang semakin menguatkan ketulusan dan keikhlasan. Dan di sanalah akan berawal dorongan jiwa untuk selalu melakukan kebaikan.

Itulah yang menjadikan Badiuzzaman Said Nursi rohimahulloh, tokoh pejuang dan mujaddid terkenal dari Turki mewasiatkan murid-muridnya, “Ketahuilah oleh kalian bahwa kunci kekuatan kalian ada pada keikhlasan dan kebenaran. Sampai-sampai para pendukung kebatilan ingin menghimpun kekuatan dari keikhlasan mereka dalam melakukan kebathilan. Keikhlasan pada pengabdian kita di jalan inilah yang akan mengokohkan da’wah kita.” (Badi Zaman Said Nursi, Al-Lamaat, h.225)

Mari membuat sejarah diri kita sendiri. Karena kita akan menghadap Alloh swt sendiri-sendiri. Lakukan semua amal sholeh dari diri sendiri. Lepaskan sekat yang menjadikan kita terikat oleh tekanan orang lain, dalam melakukan ketaatan. Tak perlu menunggu perintah, dan tidak perlu menanti untuk diminta. Buang lauh-jauh segala perasaan takut oleh penilaian orang dan khawatir oleh pendapat orang saat kita melakukan amal-amal sholih.

Abaikan perkataan makhluk karena kita hanya berharap pada Al-Kholiq. Tak usah peduli dengan anggapan manusia, karena kita hanya mempersembahkan semuanya, untuk Alloh.

Saudaraku,
Rasakanlah bagaimana kesejukan, ketentraman, ketenangan batin hingga kekuatan besar yang kita peroleh lewat amal-amal sholeh, tanpa dorongan, tanpa perintah, tanpa tekanan, tanpa pengaruh siapa pun kecuali Alloh swt. Lalu ucakapanlah, Subhanalloh... Maha Suci Alloh...

Pandanglah Saudaramu

Saudaraku,
Perjalanan ini memang panjang dan melelahkan. Terkadang, mungkin kita terengah-engah kehabisan nafas untuk terus menapakkan kaki hingga sampai ke tujuan. Terkadang, mungkin kita terseok-seok merasa tak kuat dan hampir tertinggal oleh derap serta gerak para kafilah da’wah itu. Terkadang, mungkin kita tersandung dan mungkin terjatuh oleh aral dan kesulitan perjalanan. Terkadang..

Saudaraku yang dirahmati Alloh,
Tak satu pun di antara kita yang tak pernah mengalami suasana perasaan seperti itu. Hampir semua kita, sekokoh apapun kepribadiannya, pasti akan mengalami situasi lemah dan merasa kekurangan tenaga. Ya. Memang demikianlah jiwa manusia, seperti yang pernah disabdakan Rosululloh SAW dalam salah satu hadits shohih, bahwa keimanan itu ada kalanya bertambah dan berkurang. Ia bertambah karena amal sholih dan berkurang karena kemaksiatan.

Tapi ingat, saudaraku,
Selama kita berusaha berada dalam kafilah ini, insya Alloh kelemahan dan kekurangan kita tidak akan mampu menjatuhkan kita. Selama kita tetap komitmen bergerak dalam orbit komunitas jama’ah da’wah, insya Alloh kita menerima banyak keistimewaan dan barokah. Selama kita tetap memelihara hubungan baik dengan kafilah da’wah, insya Alloh semua kelalaian dan penyimpangan kita kemungkinan besar akan dapat diluruskan dan kembali pada jalan yang benar. Kesimpulannya kita baru akan jatuh terpuruk, tenggelam dan terseret oleh arus yang lain, tatkala kita berada di luar arus atau orbit jama’ah da’wah.

Salah satu barokah hidup bersama orang-orang sholih adalah, mereka selalu mampu memberi nasihat dan pencerahan hati bagi orang yang duduk bersamanya. “Sebaik-baik sahabat adalah, orang yang bila engkau melihatnya, menjadikanmu mengingat Alloh,” begitulah sabda Rosululloh SAW. Renungkanlah perkataan Rosululloh tersebut. Sekadar melihat seorang teman yang sholih akan memberi cahaya kesholihan yang berbeda dalam diri orang yang melihatnya.

Saudaraku para kafilah da’wah,
Melihat orang lain yang lebih tinggi kadar ibadah, zuhud, jihad, dan ilmunya, lebih tinggi darinya dalam hal ibadah, pasti akan memberi pengaruh yang besar dalam diri kita. Memang itulah tabiat jiwa manusia.

Karenanya, tidak ada yang lebih baik dari sering-sering berziarah dan menemui orang-orang yang berkarakter seperti itu. Merekalah yang akan mempengaruhi zuhud kita, ibadah, dan jihad kita. Karenanya, para sahabat generasi pertama disebut sebagai generasi istimewa, antara lain lantaran mereka senantiasa hidup bersama Rosululloh SAW. Ada seorang salaf mengatakan, “Jika aku merasakan kekesatan hati, maka aku segera pergi dan melihat wajah Muhammad ibn Wasi’.” (Nuzhotul Fudhola, 1/526) Ibnul Mubarok juga mengatakan, “Jika aku melihat wajah Fudhoil ibn Iyadh, aku biasanya menangis.”

Itulah salah satu prinsip yang dipegang oleh orang-orang sholih terdahulu. Bagi mereka, bertemu dengan saudaranya adalah bekal spirit yang dapat membekali kebangkitan ruhani mereka. Dan memang demikianlah yang terjadi.

Simaklah kisah yang disampaikan oleh Ibnul Qosim, salah satu ulama fiqih di Mesir yang wafat tahun 191 H, “Aku pernah mendatangi Imam Malik sebelum waktu fajar. Aku tanyakan dia tentang dua masalah, tiga masalah, empat masalah, dan saya benar-benar melihatnya dalam suasana lapang. Kemudian aku mendatanginya hampir setiap waktu sahur. Terkadang karena lelah, mataku terkatup dan aku tertidur. Ketika Imam Malik keluar ke masjid aku tidak mengetahuinya. Kemudian aku dibangunkan oleh pembantunya sambil mengatakan, “Gurumu tidak tertidur seperti kamu. Padahal saat ini usianya telah mencapai empat puluh sembilan tahun. Setahuku ia nyaris tidak sholat shubuh kecuali dengan wudhu yang dipakai untuk sholat isya’.” (Tartibul Madarik, 3/250)

Saudaraku,
Apa yang terlintas dan terbetik dalam jiwa kita tatkala mendengar kisah di atas? Masya Alloh. Riwayat-riwayat seperti itu banyak disampaikan dalam atsar, sehingga sulit bagi kita untuk tidak menerimanya sebagai suatu kebenaran. Disebutkan di sana, wudhu Imam Malik tidak batal sepanjang malam dalam rentang waktu hampir separuh abad. Kondisi seperti ini biasa dilakukan pada malam-malam musim panas. Artinya, Imam Malik rela untuk menyedikitkan makan dan minum sepanjang hari sehingga ia mampu memelihara wudhunya.

Salah seorang salafushsholih bercerita, “Aku pernah bangun pada waktu sahur untuk mempelajari al-Qur’an kepada Ibnu Akhrom, seorang ulama Damaskus. Tapi ternyata kehadiranku telah didahului oleh sekitar tiga puluh orang. Dan aku belum memperoleh giliran sampai datang waktu ashar. (Nuzhotul Fudhola, 2/1145). Kebiasaan waktu itu, satu orang diberi giliran untuk mempelajari Al-Qur’an sekitar dua halaman. Lihatlah terhadap kesabarannya yang luar biasa untuk menanti giliran membaca dua halaman al-Qur’an dari sebelum fajar hingga waktu ashar. Yang lebih mengherankan lagi, kedatangannya sebelum fajar telah didahului kurang lebih tiga puluh orang.

Saudaraku,
Membaca dan menelaah peri hidup orang-orang sholih juga mampu membangkitkan semangat baru dalam diri kita. Bisa dikatakan, membaca dan menelaah peri hidup mereka, hampir sama dengan kita menziarahi dan berhadapan dengan mereka sehingga kita pun menerima barokah dari Alloh karenanya.

Karenanya, Imam Ibnul Jauzi rohimahulloh mengatakan, “Aku berlindung kepada Alloh dari peri hidup orang-orang yang tidak punya cita-cita tinggi hingga bisa diteladani orang lain, yang tidak punya sikap waro’ yang bisa ditiru oleh orang yang ingin berzuhud. Demi Alloh, hendaklah kalian mencermati perilaku suatu kaum, mendalami sifat, dan berita tentang mereka. Karena memperbanyak meneliti kitab-kitab mereka adalah sama dengan melihat mereka. Bila engkau mengatakan telah mendalami dua puluh ribu jilid buku, berarti engkau telah melihat mereka melalui kajian engkau terhadap tingkat semangat mereka, kepandaian mereka, ibadah mereka, keistimewaan ilmu mereka yang tidak pernah diketahui orang yang tidak pernah membacanya...” (Qimatuz Zaman ‘indal ulama: 31)

Saudaraku,
Seringlah mengunjungi saudaramu dalam jalan ini. Jangan jauhkan mereka dari hati. Sering-seringlah berkunjung, bertatap muka, dan memandang wajah mereka. Di sanalah engkau akan menemui berkah hidup berjama’ah, yang dapat memberi bekal bagi jiwa agar kita dapat melanjutkan perjalanan ini sampai tujuan terakhir... ridho Alloh dan surga-Nya.

Seburuk-buruk Penyesalan

Saudaraku,
Menurut Imam Ibnul Jauzi rohimahulloh, ada dua sebab yang menjadikan para sahabat Rosululloh lebih utama dan unggul dibanding kaum Muslimin yang lainnya.

Pertama, kebersihan hati mereka dari ragam keraguan, yang berarti mereka memiliki kekuatan iman yang tinggi. Kedua, pengorbanan mereka dalam hal jihad dan kesungguhan.

Dua keadaan ini memang pantas disandang oleh para sahabat yang mulia. Itu sebabnya Rosululloh SAW pernah menyitir perkataan, “Sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian zaman setelahnya, kemudian zaman setelahnya dan seterusnya.” Generasi sahabat rodhiyallohu anhum, dilanjutkan dengan generasi tabi’in dan generasi tabi’it tabi’in dan seterusnya. Itulah siklus masa kondisi kaum Muslimin yang sangat indah.

Mereka, bukan manusia yang tak punya keinginan dunia. Bukan manusia yang tak mempunyai hawa nafsu. Mereka adalah manusia yang memiliki hasrat, ambisi, dan keinginan. Sama seperti kita. Itu diakui oleh ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz ra, Kholifah bani Umayah yang terkenal sholih dan sebagian orang menyebutnya sebagai kholifah ke lima (setelah ‘Ali).

“Jiwaku,” kata ‘Umar, “Memiliki sifat yang tidak pernah puas. Jika aku memperoleh sesuatu maka aku ingin sesuatu yang lebih baik lagi darinya. Ketika jiwaku mendapat khilafah dan tidak ada lagi kedudukan yang lebih tinggi dari khilafah, jiwaku menginginkan akhirat.”

Saudaraku,
Hidup di dunia memang sarat dengan ambisi dan keinginan keduniaan. Ingin hidup lebih baik, ingin memperoleh harta benda, ingin mendapat kedudukan tinggi dan dihormati karena kedudukan, ingin ada jaminan hidup yang pasti bahkan setelah kehidupan sudah bukan milik kita lagi. Aneh sebenarnya.

Tapi mau tidak mau, itulah kenyataan ambisi keduniaan yang ada dalam benak banyak orang. Mungkin termasuk kita. Hanya keimanan yang mampu mengekang dan mengontrol ambisi keduniaan itu agar tidak berlebihan dan merusak.

Di zaman Dinasti Umayah, ada salah seorang gubernur yang sangat berkuasa, Hisyam ibn ‘Abdul Malik namanya. Suatu ketika ia menunaikan haji di Baitulloh dan bertemu seorang ulama hadits, Salim ibn ‘Abdulloh bin ‘Umar. Hisyam mendekati Salim dan berkata, “Wahai Salim, mintalah kepadaku apa keperluanmu.” Salim mengatakan, “Demi Alloh saya sangat malu untuk meminta selain kepada-Nya di rumah-Nya ini.”

Kemudian ia keluar dari wilayah Ka’bah dan ternyata ia diikuti oleh Hisyam bin ‘Abdul Malik yang penasaran dengan penolakannya itu. “Sekarang engkau sudah keluar dari Baitulloh, mintalah padaku apa yang kau perlukan,” tanya Hisyam.

Salim berhenti. Ia menoleh ke arah Hisyam lalu berkata, “Apa yang perlu kuminta padamu? Kebutuhan dunia atau kebutuhan akhirat?” Hisyam menjawab, “Tentu saja kebutuhan dunia.” Salim berkata, “Sesungguhnya aku tidak meminta kebutuhan dunia pada Yang Memiliki dunia. Bagaimana aku meminta dunia kepada yang tidak memiliki dunia?”Subhanalloh, Maha Suci Alloh yang telah menciptakan keluhuran hati Salim ibn ‘Abdulloh ibn ‘Umar ra.

Saudaraku,
Tahanlah segala ambisi keduniaan itu. Kekang ia agar tetap ada dalam batas-batas tertentu. Tinggalkan keinginan yang berlebihan. Cukupkan ia dengan berbagai amal sholih yang akan memberi ketenangan dan kepuasan batin.

Ingatlah, segala yang berlebihan, pasti membawa keburukan. Seorang ahli hikmah pernah mengungkapkan, “Barangsiapa yang meninggalkan berlebihan dalam bicara, ia akan memperoleh hikmah. Barangsiapa yang meninggalkan berlebihan dalam pandangan, ia akan memperoleh kekhusyu’an. Barangsiapa yang meninggalkan berlebihan dalam makanan, maka ia akan diberi kelezatan ibadah. Barangsiapa yang meninggalkan kelebihan tertawa, ia akan rnemperoleh kewibawaan. Barangsiapa yang meninggalkan cinta dunia, ia akan mendapatkan cinta akhirat. Dan barangsiapa yang meninggalkan sibuk oleh aib orang lain, maka ia akan memperoleh kesibukan memperbaiki aibnya sendiri.”

Kita di sini, bukan hanya menghadapi badai laut, hutan belantara, atau angin topan. Semakin lama melangkah di jalan ini, maka ancaman keimanan kita semakin berat dan keras. Ancaman yang bukan hanya merupakan taruhan hidup dan mati, tapi soal surga atau neraka.

Seseorang pernah berkata pada ‘Ali ibn Abi Tholib, “Ceritakan padaku kewajiban yang paling wajib, keanehan yang paling aneh, kesulitan yang paling sulit, dan kedekatan yang paling dekat.” ‘Ali berkata, “Taubat itu wajib bagi seseorang. Tapi lebih wajib lagi baginya untuk meninggalkan dosa.”

Perjalanan waktu ini sangat mengherankan, tapi lebih mengherankan lagi kelalaian manusia terhadap waktu. Sabar dalam menghadapi musibah itu sulit tapi hilangnya kesabaran itu lebih sulit lagi. Semua yang bisa dicapai itu dekat tapi kematian lebih dekat dari semuanya.”

Saudaraku,
Sudah terlampau lama kita bermain-main dan merenggangkan pegangan tangan pada hidayah Alloh. Mari kuatkan kembali pegangan itu. Syafiq ibn Ibrohim pernah mengatakan, “Pintu taufik (bantuan Alloh) akan tertutup dari makhluk dalam enam keadaan.

Kesibukan mereka dengan nikmat daripada mensyukurinya. Keinginan untuk menuntut ilmu dan meninggalkan pengamalannya. Bersegera melakukan dosa dan menunda-nunda taubat. Bangga berteman dengan orang sholih tanpa mencontoh apa yang mereka lakukan. Dunia akan mereka tinggalkan, tapi mereka mengejar dunia. Akhirat pasti akan mereka datangi, tapi mereka justru berpaling dari akhirat.”

Saudaraku,
Seburuk-buruk buta adalah buta hati. Seburuk-buruk kesesatan adalah kesesatan setelah menerima petunjuk. Seburuk-buruk permintaan maaf adalah ketika meminta maaf menjelang mati. Seburuk-buruk penyesalan adalah penyesalan di hari kiamat.

Jendela Rumah Sakit

Dua orang pria sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang diantaranya menderita penyakit yang mengharuskannya duduknya ditempat tidur, satu jam setiap sore untuk mengosongkan cairan di paru-parunya. Posisi tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu. Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya. Setiap sore mereka saling berbincang berjam-jam.
Ketika pria yang tepat tidurnya berada didekat jendela diperbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela. Kepada teman sekamarnya selama satu jam itulah pria kedua merasa senang, dan bergairah membayangkan betapa indahnya diluar sana.
“Eh… kamu tahu nggak? Di luar sana ada sebuah taman dan kolam yang sangat indah. Itik, angsa, berenang dengan cantik. Sedangkan ditepi kolam ada anak-anak sedang bermain perahu-perahuan. Papa mamanya berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi bermacam-macam bunga berwarna-warni. Wow.. Suatu senja yang sangat indah,” kata pria yang berada didekat jendela itu dengan bersemangat.

Mendengar ceritanya temannya, pria yang berbaring memejamkan mata sambil membayangkan semua keindahan yang diceritakan oleh temannya tadi. Perasaannya menjadi lebih tenang dalam menjalankan kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya menjadi bertambah.
Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk dekat jendela menceritakan parade karnaval yang sedang melintas disana. Meski pria yang kedua tidak dapat mendengar suara parade tersebut, namun ia dapat melihatnya dari pandangan mata pria pertama yang menggambarkan semuanya itu dengan kata-kata yang indah.
Begitulah seterusnya, dari hari ke hari, minggu ke minggu, hingga bulan ke bulan, dan hingga suatu pagi pria yang berbaring didekat jendela itu meninggal dunia dengan tenang di dalam tidurnya.
Temannya yang satu kamar itu menjadi sangat sedih, kemudian ia minta perawat agar dapat pindah ke tempat tidur temannya tadi. Dengan perlahan dan merasa kesakitan, pria itu memaksakan dirinya untuk bangun. Dia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela rumah sakit. Betapa senangnya akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan tersebut, hatinya tegar. Perlahan ia mengeluarkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Dan apa yang dilihatnya? Ternyata jendela itu menghadap ke sebuah tembok kosong.
Karena bingung ia bertanya pada perawat, “Apa yang membuat temannya yang sudah meninggal tersebut bercerita seolah-olah melihat pemandangan yang luar biasa indah dibalik jendela itu?”
Dan perawat menjawab bahwa, “Sesungguhnya pria yang tadi itu adalah seorang yang buta, bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun. Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup,” ujar perawat tersebut.

Summary
Kita percaya setiap kata bermakna bagi setiap orang yang mendengarkannya. Setiap kata adalah layaknya pemicu, yang mampu menelisik sisi hati terdalam manusia dan membuat kita melakukan sesuatu. Kata-kata akan selalu memacu dan memicu kita untuk menggerakkan semua anggota tubuh kita, dalam berpikir dan bertindak.

Kita percaya dalam kata-kata tersimpan kekuatan yang sangat kuat, dan kita telah sama-sama melihatnya dalam cerita tadi. Kekuatan kata-kata akan selalu hadir pada setiap kita yang percaya.
Kita percaya kata-kata yang santun, sopan, penuh dengan motivasi bernilai dukungan memberikan kontribusi positif dalam setiap langkah kita. Ada hal-hal yang mempesona saat kita mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain.
Menyampaikan keburukan sebanding dengan setengah kemuraman. Namun menyampaikan kebahagiaan akan melipatgandakan kebahagiaan itu sendiri.

Kelalaian Si Tukang Kayu

Pada suatu hari, seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari perusahaan konstruksi real estate tempatnya bekerja. Tentu saja, walau ia tahu akan kehilangan penghasilan bulanannya, tapi keputusan yang ia ambil sudah bulat. Ia merasa lelah, ia ingin beristirahat, dan ingin menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarga.
Mendengar keputusan tukang kayu tua itu, pemilik perusahaan merasa sangat sedih, ia merasa kehilangan salah satu pekerja terbaiknya. Sebagai permintaan terakhir dan kenang-kenangan, lalu ia minta kepada si tukang kayu tua membuatkan sebuah rumah kayu untuknya.
Tukang kayu itupun bersedia memenuhi keinginan pribadi pemilik perusahaan. Walau sebenarnya ia merasa terpaksa karena segera ingin berhenti. Hal ini menjadikan pikirannya tidak dicurahkan sepenuhnya pada pekerjaannya, dan dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Bahan yang ia gunakan pun hanya bahan sederhana. Setelah beberapa lama, akhirnya rumah itupun selesai ia kerjakan.
Namun sayang, hasilnya tidak seperti yang diinginkan. Bangunan itu tidak seperti telah dikerjakan seorang tukang kayu yang ahli. Sungguh sangat disayangkan. Ia harus mengakhiri karir dengan prestasi yang tidak mengagumkan. Ketika pemilik perusahaan itu datang untuk melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci pada si tukang kayu dan berkata, "Sebenarnya rumah yang saya minta itu untuk Anda sebagai hadiah dari saya sebagai penghargaan atas pengabdian Anda selama ini."
Mendengar hal itu, betapa terkejutnya si tukang kayu. Malu dan juga menyesal. Seandainya saja ia mengetahui bahwa rumah yang ia bangun adalah untuknya, tentu ia akan mengerjakannya dengan cara yang lain. Dan sejak saat itu ia harus tinggal di sebuah rumah yang tidak terlalu bagus, hasil karyanya sendiri.

Summary
Itulah yang terjadi dalam kehidupan kita. Kadang kala banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang aneh. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang terbaik.

Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya, seolah hanya mengerjakannya sekali saja dalam hidup kita. Karena hari esok adalah hasil dari yang telah kita lakukan pada hari ini. Karena hidup adalah proyek yang kita kerjakan sendiri.

Mahkota Cahaya untuk Orangtua

Seorang anak berumur 10 tahun namanya Umar. Dia anak pengusaha sukses yang kaya raya. Oleh ayahnya, si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta. Tentu bisa ditebak bayarannya sangat mahal. Tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah. Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang agar anaknya kelak menjadi orang yang sukses mengikuti jejaknya.
Suatu hari, isterinya kasih kabar kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar.
“Waduuuh, saya sibuk, ma. Kamu aja deh yang datang,” begitu ucap si ayah kepada isterinya.

Bagi dia acara begitu sangat tidak penting dibanding urusan bisnis besarnya. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam, sebab sudah ke sekian kalinya si ayah tidak pernah mau datang ke acara anaknya. Dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya, sedang anak-anak yang lain selalu didampingi ayahnya.
Karena diancam isterinya, akhirnya si ayah mau hadir meski kurang semangat. Father’s day adalah acara yang dikemas khusus dimana anak-anak saling unjuk kemampuan di depan ayah-ayahnya. Karena ayah si Umar tidak selera maka dia memilih duduk di paling belakang, sementara para ayah yang lain (terutama yang muda-muda) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak-anaknya yang akan tampil di panggung.
Satu persatu anak-anak menampilkan bakat dan kebolehannya masing-masing. Ada yang menyanyi, menari, membaca puisi, pantomim, ada pula yang pameran lukisannya dll. Semua mendapat applause yang gegap gempita dari ayah-ayah mereka. Tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya.
“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief?” tanya si Umar kepada gurunya. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu.
“Oh boleh,” begitu jawab gurunya. Dan pak Arief pun dipanggil ke panggung.

“Pak Arief, mohon bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’),” begitu Umar minta kepada guru ngajinya.
“Tentu saja boleh, nak,” jawab pak Arief.
“Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah...” lalu si Umar mulai melantunkan QS. An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (tasmi’) dengan lantunan irama yang persis seperti bacaan Syaikh Sudais (Imam Besar Masjidil Harom).

Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yang mendayu-dayu, termasuk ayah si Umar yang duduk di belakang.
“Stop! Kamu telah selesai membaca ayat 1 s.d. 5 dengan sempurna. Sekarang coba kamu baca ayat 9!” begitu kata pak Arief yang tiba-tiba memotong bacaan Umar. Lalu Umar pun membaca ayat 9.
“Stop! Coba sekarang baca ayat 21 lalu ayat 33!”
Setelah usai Umar membacanya, lalu kata pak Arief,
“Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)!” Si Umar pun membaca ayat ke-40 tersebut sampai selesai.

“Masya Alloh, kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna, nak,” begitu teriak pak Arief sambil mengucurkan air matanya. Para hadirin yang muslim pun tak kuasa menahan airmatanya.
Lalu pak Arief bertanya kepada Umar,
“Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini, nak? Sementara teman-temanmu unjuk kebolehan yang lain,” begitu tanya pak Arief penasaran.

“Begini, pak guru… Waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak, bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rosululloh SAW: “Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia.” Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,“Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim)”
“Pak guru, saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Alloh di akhirat kelak sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya.”
Semua orang terkesiap dan tidak bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 tahun tersebut. Di tengah suasana hening tersebut, tiba-tiba terdengar teriakan “Allohu Akbar!” dari seseorang yang lari dari belakang menuju ke panggung.
Ternyata dia ayah si Umar yang dengan tergopoh-gopoh langsung menubruk sang anak. Bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya.
“Ampuun, nak. Maafkan ayah yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu. Tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama. Apalagi mengajarimu mengaji,” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya.

“Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia, nak. Ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akhirat kelak. Ayah maluuu, nak,” ujar sang ayah sambil nangis tersedu-sedu.
Semoga bermanfaat.

Dinukil dari khutbah Jum'at di Grha CIMB Niaga Jl. Sudirman.

Kisah Petani yang Bijak

Suatu waktu seorang wartawan mewawancarai seorang petani untuk mengetahui rahasia dibalik buah jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian.
Petani itu mengaku sama sekali tidak mempunyai rahasia khusus karena ia selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunannya.
"Kenapa Anda membagi-bagikan bibit terbaik itu pada tetangga-tetangga Anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?" tanya sang wartawan.
"Tahukah Anda bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain? Bila tanaman jagung tetangga saya buruk maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga akan buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang terbaik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula," jawab sang petani.
Saudara, begitu pula dengan hidup kita, mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik, harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula. Nilai hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang disentuhnya.

Menempatkan Prasangka

Seorang kawan bertanya dengan nada mengeluh.
“Di mana keadilan Alloh?”, ujarnya.
“Telah lama aku memohon dan meminta pada-Nya satu hal saja.
Kuiringi semua itu dengan segala ketaatan pada-Nya.
Kujauhi segala larangannya.
Kutegakkan yang wajib.
Kutekuni yang sunnah.
Kutebarkan shodaqoh.
Aku berdiri di waktu malam.
Aku bersujud di kala dhuha.
Aku baca kalam-Nya.
Aku upayakan sepenuh kemampuan mengikut jejak Rosul-Nya.
Tapi hingga kini Alloh belum mewujudkan harapanku itu.
Sama sekali.”

Saya menatapnya iba. Lalu tertunduk sedih.
“Padahal,” lanjutnya sambil kini berkaca-kaca, “Ada teman yang aku tahu ibadahnya berantakan. Wajibnya tak utuh. Sunnahnya tak tersentuh. Akhlaknya kacau. Otaknya kotor. Bicaranya bocor. Tapi begitu dia berkata bahwa dia menginginkan sesuatu, hari berikutnya segalanya telah tersaji. Semua yang dia minta didapatkannya. Di mana keadilan Alloh?”
Rasanya saya punya banyak kata-kata untuk menghakiminya.
Saya bisa saja mengatakan, “Kamu sombong. Kamu bangga diri dengan ibadahmu. Kamu menganggap hina orang lain. Kamu tertipu oleh kebaikanmu sebagaimana Iblis telah terlena! Jangan heran kalau do’amu tidak diijabah. Kesombonganmu telah menghapus segala kebaikan. Nilai dirimu hanya anai-anai beterbangan. Mungkin kawan yang kau rendahkan jauh lebih tinggi kedudukannya di sisi Alloh karena dia merahasiakan amal sholihnya!”
Saya bisa mengucapkan itu semua. Atau banyak kalimat kebenaran lainnya.

Tapi saya sadar.
Ini ujian dalam dekapan ukhuwah.
Maka saya memilih sudut pandang lain yang saya harap lebih bermakna baginya daripada sekedar terinsyafkan tapi sekaligus terluka.
Saya khawatir, luka akan bertahan jauh lebih lama daripada kesadarannya.
Maka saya katakan padanya, “Pernahkah engkau didatangi pengamen?”

“Maksudmu?”
“Ya, pengamen,” lanjut saya seiring senyum. “Pernah?”
“Iya. Pernah.” Wajahnya serius. Matanya menatap saya lekat-lekat.
“Bayangkan jika pengamennya adalah seorang yang berpenampilan seram, bertato, bertindik, dan wajahnya garang mengerikan. Nyanyiannya lebih mirip teriakan yang memekakkan telinga. Suaranya kacau, balau, sengau, parau, sumbang, dan cemprang. Lagunya malah menyakitkan ulu hati, sama sekali tak dapat dinikmati. Apa yang akan kau lakukan?”
“Segera kuberi uang,” jawabnya, “Agar segera berhenti menyanyi dan cepat-cepat pergi.”
“Lalu bagaimana jika pengamen itu bersuara emas, mirip sempurna dengan Ebiet G. Ade atau Sam Bimbo yang kau suka, menyanyi dengan sopan dan penampilannya rapi lagi wangi, apa yang kau lakukan?”
“Ku dengarkan, kunikmati hingga akhir lagu,” dia menjawab sambil memejamkan mata, mungkin membayangkan kemerduan yang dicanduinya itu. “Lalu kuminta dia menyanyikan lagu yang lain lagi. Tambah lagi. Dan lagi.”
Saya tertawa.
Dia tertawa.
“Kau mengerti kan?” tanya saya.
“Bisa saja Alloh juga berlaku begitu pada kita, para hamba-Nya. Jika ada manusia yang fasik, keji, munkar, banyak dosa, dan dibenci-Nya berdo’a memohon pada-Nya, mungkin akan Dia firmankan pada malaikat: “Cepat berikan apa yang dia minta. Aku muak dengan mendengar ocehannya. Aku benci menyimak suaranya. Aku risi mendengar pintanya!”

“Tapi,” saya melanjutkan sambil memastikan dia mencerna setiap kata, “Bila yang menadahkan tangan adalah hamba yang dicintai-Nya, yang giat beribadah, yang rajin bersedekah, yang menyempurnakan wajib dan menegakkan sunnah; maka mungkin saja Alloh akan berfirman pada malaikat-Nya: ‘Tunggu! Tunda dulu apa yang menjadi hajatnya. Sungguh Aku bahagia bila diminta. Dan biarlah hamba-Ku ini terus meminta, terus berdo’a, terus menghiba. Aku menyukai do’a-do’anya. Aku menyukai kata-kata dan tangis isaknya. Aku menyukai khusyu’ dan tunduknya. Aku menyukai puja dan puji yang dilantunkannya. Aku tak ingin dia menjauh dari-Ku setelah mendapat apa yang dia pinta. Aku mencintainya.”
“Oh ya?” matanya berbinar. “Betul demikiankah yang terjadi padaku?”
“Hm… Pastinya, aku tidak tahu,” jawab saya sambil tersenyum. Dia agak terkejut. Segera saya sambung sambil menepuk pundaknya, “Aku hanya ingin kau berbaik sangka.”
Dan dia tersenyum. Alhamdulillah.

Dinukil dari buku "Dalam Dekapan Ukhuwah"-nya Salim A. Fillah

Credit: disini

Hadiah Bisik-bisik

"Sesungguhnya aku melihat ada daging merah di mulut kalian berdua, karena kalian telah mengghibah saudaramu."
Berghibah adalah membicarakan aib atau kesalahan, kekurangan dan keburukan orang lain. Dalam Al-Quran Suroh Al-Hujurot ayat 12, Alloh melarang orang berghibah dan menyebutkan bahwa orang yang melakukan ghibah itu sama halnya dengan telah memakan daging saudaranya atau orang yang dighibah.
Menurut sejumlah riwayat, latar belakang turunnya ayat tentang larangan berghibah (asbab al-nuzul) tersebut disebabkan karena adanya kejadian yang menimpa salah seorang sahabat Rosululloh saw. Dalam riwayat tersebut dikisahkan, suatu ketika Rosululloh saw. memerintahkan Salman Al-Farisi untuk bergabung dengan dua orang kaya di dalam sebuah perjalanan.
Hal tersebut acap dilakukan Rosululloh saw. manakala di kalangan umat Islam ada yang akan menempuh suatu perjalanan panjang, yaitu menggabungkan satu orang fakir miskin dengan dua orang kaya dalam satu pertanggungjawaban.
Artinya, dua orang kaya itu bertanggungjawab untuk menyediakan bahan-bahan makanan dan kebutuhan untuk bekal dalam perjalanan. Sedang orang yang fakir miskin bertanggungjawab untuk berjalan lebih cepat dan mendahului kedua orang kaya itu kemudian berhenti di sebuah tempat untuk dipersiapkan sebagai tempat mereka beristirahat. Disamping itu, orang yang fakir tersebut juga bertangungjawab memasak dan menyajikan makanan untuk mereka bertiga.
Dalam perjalanan itu, ketika Salman sudah memperoleh tempat istirahat, sebelum ia sempat memasak lauk-pauk, kedua orang kaya yang merupakan teman seperjalannya tersebut ternyata sudah datang. Alhasil mereka menyuruh Salman untuk pergi menemui Rosululloh saw. yang sudah berada agak jauh di depan bersama sahabat lainnya.
"Pergilah temui Rosululloh dan mintalah kelebihan lauk yang ada padanya untuk kita," ujar kedua orang kaya tersebut kepada Salman. Salman pun mematuhinya. Ia segera pergi dengan maksud untuk menyusul Rosululloh dan meminta kelebihan lauk yang ada. Tatkala Salman pergi, kedua orang itu membicarakan Salman seraya berkata, "Jika dia sudah sampai di sumur Samihah yang tersohor dengan airnya yang banyak itu, tentulah saat ini airnya sudah dalam. Sehingga dia akan menjadi basah kuyup."
Setelah Salman sampai di hadapan Rosululloh saw., ia menyampaikan permohonannya untuk meminta kelebihan lauk sebagaimana yang diperintahkan oleh kedua orang kaya tersebut. Namun Rosululloh saw. menjawab, "Katakan kepada keduanya sesungguhnya mereka sudah memakan lauk."
Salman segera kembali lagi kepada kedua orang kaya tersebut dan menyampaikan apa yang disabdakan oleh Rosululloh saw. Mendengar jawaban Rosululloh saw tersebut, mereka berinisiatif untuk mendatangi langsung Rosululloh saw., "Ya Rosululloh, sesungguhnya kami sama sekali belum makan lauk," ujar mereka setelah tiba dihadapan Rosululloh saw.
Rosululloh saw. kemudian bersabda, "Sesungguhnya aku melihat ada daging merah di mulut kalian berdua, karena kalian telah mengghibah saudaramu." Maka kemudian turunlah Al-Quran Suroh Al-Hujurot ayat 12 tersebut.
Dalam hadits yang bersumber dari Abu Huroiroh ra., ada sepuluh bencana yang bakal terjadi disebabkan perbuatan ghibah, yaitu:
» Orang yang berghibah akan menjadi jauh dari rohmat Alloh,
» Para malaikat tidak mau mendekatinya,
» Si pengghibah akan mengalami rasa sakit yang dahsyat ketika menghadapi sakaratul maut,
» Ia juga akan menjadi semakin lebih dekat kepada neraka,
» Semakin menjadi jauh dari surga,
» Si pengghibah akan mengalami siksa kubur yang sangat pedih,
» Amal kebaikannya akan dihapuskan,
» Ruh Rosululloh akan dibuat sakit oleh perbuatan ghibahnya itu,
» Ia akan memperoleh kemurkaan Alloh, dan
» Ia pun akan menjadi orang yang pailit atau bangkrut ketika berada di hari penghisaban. Hal ini disebabkan oleh amal perbuatannya yang baik telah dibagikan kepada orang-orang yang dighibahi dan justru ia akan memperoleh amal perbuatan buruk dari orang-orang yang dighibahinya.

Berdasarkan hadits itulah, maka Hasan Al-Bashri, salah seorang tokoh sufi dan wali terbesar yang cukup terkenal pada zamannya, justru memberikan hadiah kepada siapa saja yang mengghibahinya. Pada suatu hari, Hasan Al-Bashri mendapat kabar dari salah seorang kawannya kalau ia telah dighibahi oleh seseorang.
Mendengar kabar tersebut, Hasan Al-Bashri menjadi bersyukur dan ia segera mengutus seseorang untuk mengirimkan emas permata kepada orang yang mengghibahinya. Emas permata itu diwadahi oleh Hasan Al-Bashri di dalam sebuah baki tertutup seraya berpesan agar utusan tersebut berkata kepada si penerima hadiah itu sebagai berikut:
"Telah sampai kepadaku sebuah berita bahwa berbaik hati mengirim amal kebajikanmu kepadaku. Oleh karena itu, aku hadiahkan seluruh isi baki ini kepadamu."
Dalam hal ini, tampak sekali bahwa Hasan Al-Bashri justru tidak marah ketika ia dighibahi oleh seseorang. Ia malah bersyukur atas perbuatan orang lain yang membicarakan tentang kekurangan dirinya. Sebab ia menyadari betul, bahwa dibalik itu semua, ia justru bakal memperoleh banyak pahala kebajikan secara gratis.
Apabila kita bisa memahami setiap kejadian buruk yang menimpa kita dengan cara demikian, niscaya kita akan bisa mensyukuri setiap fitnah atau ujian yang datang menerpa diri kita. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita malah acap melakukan aksi yang jauh lebih buruk dari yang dilakukan orang lain terhadap diri kita.

Disadur dari buku Mutiara Hikmah, Kisah Para Kekasih Allah, karya Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah, Penerbit Darul Hikmah

Credit: disini

Terhina di Dunia, Mulia di Langit

Dia seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, bahunya lebar, kulitnya kemerah-merahan. Dagunya senantiasa menempel di dada karena selalu melihat ke tempat sujud. Hidup sezaman dengan Rosululloh saw tetapi mereka tidak pernah bertatap muka karena Uwais tinggal di Yaman. Kerap membaca al-Qur'an dan selalu menangis ketika membacanya. Pakaiannya hanya dua helai dan sudah kusut. Satu untuk penutup badan, dan satunya lagi digunakan sebagai selendang.
Siapalah dia di mata manusia. Tidak banyak yang mengenalinya, apatah lagi mencari tahu akan hidupnya. Banyak suara yang menertawakan dan mempermainkannya. Ada yang menuduhnya sebagai pencuri. Manusia mengumpat dan mencelanya karena kemiskinannya. Uwais telah lama yatim, tiada sanak saudara, kecuali hanya ibunya yang telah tua dan lumpuh.
Sehari-hari Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk keperluan harian bersama ibunya. Jika ada uang lebih, Uwais gunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin sepertinya.
Uwais al-Qorni memeluk Islam ketika seruan Nabi Muhammad saw tiba ke negeri Yaman. Kesibukannya sebagai penggembala dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mengurangkan ibadahnya walau sedikit. Dia tetap berpuasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad saw secara langsung. Alangkah sedihnya hati Uwais apabila melihat setiap tetangganya yang baru pulang dari Madinah. Mereka itu telah bertamu dan bertemu dengan kekasih Alloh swt, penghulu para Nabi, sedang dia sendiri belum berkesempatan. Kecintaannya kepada Rosululloh saw menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang Nabi. Namun apalah daya, dia tidak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah. Apatah lagi ibunya sakit dan perlu dirawat.
Hari berganti hari, dan kerinduannya untuk bertemu sang Nabi tidak terbendung lagi. Pada suatu hari, Uwais meluapkan juga isi hatinya kepada ibunya dan memohon izin untuk menziarahi Nabi Muhammad saw di Madinah. Si ibu dengan rasa haru meridhoi kepergian Uwais dan berpesan agar segera pulang. Dengan rasa gembira, ia pun bersiap-siap untuk berangkat. Dia tidak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar memonitor ibunya selama ia pergi.
Maka berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak lebih kurang 400 km dari Yaman. Medan yang begitu panas diarunginya. Dia tidak peduli dengan penyamun gurun pasir, bukit yang curam maupun padang pasir yang luas yang bisa menyesatkan. Semua dilaluinya demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya wajah baginda Nabi saw yang selama ini dirinduinya.
Namun setibanya Uwais al-Qorni di depan pintu rumah Nabi, 'Aisyah ra memberitahukan bahwa Nabi sedang pergi ke medan perang. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kepulangan Nabi saw. Namun masih terngiang di telinganya pesan sang ibu untuk segera pulang ke Yaman. Atas ketaatan kepada ibunya, dia akhirnya pulang dengan hati yang pilu setelah menitipkan salamnya untuk baginda Nabi saw.
Sepulangnya dari medan perang, Nabi saw langsung menanyakan adakah orang yang mencarinya selama beliau pergi ke Madinah? Beliau menjelaskan bahwa Uwais adalah anak yang taat kepada ibunya. Walau tidak dikenali di dunia, namun namanya sangat terkenal di kalangan penghuni langit. Mendengar pernyataan baginda Nabi saw, 'Aisyah dan para sahabat terpaku merenung. Menurut 'Aisyah ra memang benar ada yang mencari Nabi saw dan pemuda itu telah pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit.
Rosululloh saw bersabda, "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qorni), perhatikanlah! Ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya."
Sesudah itu Rosululloh saw memandang ke arah sayyidina 'Ali dan sayyidina 'Umar dan bersabda, "Suatu ketika jika kalian bertemu dengannya, mintalah doa dan istighfarnya. Dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi."
Setelah Nabi saw wafat, suatu hari kholifah 'Umar dan sayyidina 'Ali memohon agar Uwais berkenan mendoakan mereka sebagaimana pesan Nabi saw. Uwais enggan dan dia berkata kepada kholifah, "Sayalah yang seharusnya minta doa kepada kalian." Mendengar perkataan Uwais, kholifah berkata, "Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar padamu."
Karena desakan, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdoa, dan membacakan istighfar. Setelah itu, kholifah 'Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Maal kepada Uwais, Uwais menolak dengan halus dan berkata, "Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lain lagi."
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam dan tidak terdengar beritanya. Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar bahwa Uwais al-Qorni telah berpulang ke rohmatulloh. Anehnya, pada saat ia akan dimandikan, tiba-tiba sudah ramai orang yang berebut untuk memandikannya. Dan ketika ia dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah banyak orang yang menunggu untuk mengkafani. Demikian juga ketika orang pergi hendak menggali kubur, di sana ternyata sudah banyak orang yang menggali kubur hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pemakaman, luar biasanya sudah banyak orang yang berebut untuk mengangkat kerandanya.
Kepergian Uwais telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang mengherankan. Saking banyaknya yang tidak dikenal datang untuk mengurus jenazah dan pengebumiannya. Padahal Uwais adalah orang yang fakir dan tidak dihiraukan orang semasa hayatnya. Masyarakat Yaman saling bertanya-tanya, "Siapakah engkau sebenarnya, wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kami kenal itu hanya seorang fakir yang tidak memiliki apa-apa? Kerjanya hanya sebagai penggembala?
Namun ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenali. Mereka datang dengan jumlah yang sedemikian banyak." Mereka adalah malaikat yang diturunkan ke bumi hanya untuk merawat jenazah dan pengebumiannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahui siapa sebenarnya Uwais al-Qorni.
"Dia adalah Uwais al-Qorni, tidak dikenal di kalangan penduduk bumi tetapi namanya sangat tersohor di langit sana."

Credit: disini