Kamis, 23 April 2015

Mahkota Cahaya untuk Orangtua

Seorang anak berumur 10 tahun namanya Umar. Dia anak pengusaha sukses yang kaya raya. Oleh ayahnya, si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta. Tentu bisa ditebak bayarannya sangat mahal. Tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah. Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang agar anaknya kelak menjadi orang yang sukses mengikuti jejaknya.
Suatu hari, isterinya kasih kabar kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar.
“Waduuuh, saya sibuk, ma. Kamu aja deh yang datang,” begitu ucap si ayah kepada isterinya.

Bagi dia acara begitu sangat tidak penting dibanding urusan bisnis besarnya. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam, sebab sudah ke sekian kalinya si ayah tidak pernah mau datang ke acara anaknya. Dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya, sedang anak-anak yang lain selalu didampingi ayahnya.
Karena diancam isterinya, akhirnya si ayah mau hadir meski kurang semangat. Father’s day adalah acara yang dikemas khusus dimana anak-anak saling unjuk kemampuan di depan ayah-ayahnya. Karena ayah si Umar tidak selera maka dia memilih duduk di paling belakang, sementara para ayah yang lain (terutama yang muda-muda) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak-anaknya yang akan tampil di panggung.
Satu persatu anak-anak menampilkan bakat dan kebolehannya masing-masing. Ada yang menyanyi, menari, membaca puisi, pantomim, ada pula yang pameran lukisannya dll. Semua mendapat applause yang gegap gempita dari ayah-ayah mereka. Tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya.
“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief?” tanya si Umar kepada gurunya. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu.
“Oh boleh,” begitu jawab gurunya. Dan pak Arief pun dipanggil ke panggung.

“Pak Arief, mohon bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’),” begitu Umar minta kepada guru ngajinya.
“Tentu saja boleh, nak,” jawab pak Arief.
“Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah...” lalu si Umar mulai melantunkan QS. An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (tasmi’) dengan lantunan irama yang persis seperti bacaan Syaikh Sudais (Imam Besar Masjidil Harom).

Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yang mendayu-dayu, termasuk ayah si Umar yang duduk di belakang.
“Stop! Kamu telah selesai membaca ayat 1 s.d. 5 dengan sempurna. Sekarang coba kamu baca ayat 9!” begitu kata pak Arief yang tiba-tiba memotong bacaan Umar. Lalu Umar pun membaca ayat 9.
“Stop! Coba sekarang baca ayat 21 lalu ayat 33!”
Setelah usai Umar membacanya, lalu kata pak Arief,
“Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)!” Si Umar pun membaca ayat ke-40 tersebut sampai selesai.

“Masya Alloh, kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna, nak,” begitu teriak pak Arief sambil mengucurkan air matanya. Para hadirin yang muslim pun tak kuasa menahan airmatanya.
Lalu pak Arief bertanya kepada Umar,
“Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini, nak? Sementara teman-temanmu unjuk kebolehan yang lain,” begitu tanya pak Arief penasaran.

“Begini, pak guru… Waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak, bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rosululloh SAW: “Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia.” Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,“Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim)”
“Pak guru, saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Alloh di akhirat kelak sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya.”
Semua orang terkesiap dan tidak bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 tahun tersebut. Di tengah suasana hening tersebut, tiba-tiba terdengar teriakan “Allohu Akbar!” dari seseorang yang lari dari belakang menuju ke panggung.
Ternyata dia ayah si Umar yang dengan tergopoh-gopoh langsung menubruk sang anak. Bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya.
“Ampuun, nak. Maafkan ayah yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu. Tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama. Apalagi mengajarimu mengaji,” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya.

“Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia, nak. Ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akhirat kelak. Ayah maluuu, nak,” ujar sang ayah sambil nangis tersedu-sedu.
Semoga bermanfaat.

Dinukil dari khutbah Jum'at di Grha CIMB Niaga Jl. Sudirman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar