Kamis, 10 Desember 2015

Menetralkan Jiwa yang Sedang Silau

Harus ada upaya membenahi jiwa agar tak gampang terpesona dengan segala yang menyilaukan. Ini memang tidak ringan. Tetapi sebuah kesuksesan memerlukan perjuangan yang tidak ringan. Beberapa langkah berikut semoga bisa menjadi bahan renungan.

Pertama, Ingatlah bahwa Kesempurnaan Ini Hanya Milik Alloh
Semua yang ada di sekeliling kita adalah makhluk. Setiap makhluk mempunyai keterbatasan. Tidak ada yang sempurna. Termasuk kita. Bisa jadi kita begitu hebat di suatu bidang ilmu. Tetapi tentu kita mengakui bawa kita tidak mampu di bidang yang lain. Alam ini terlalu luas untuk bisa dijangkau oleh akal kita yang terbatas kemampuan dan kapasitasnya.

Setiap kita juga pernah terjatuh ke dalam suatu kesalahan dan khilaf. Sekecil apapun itu. Para nabi saja kelak merasa keberatan untuk memberikan syafaatnya dikarenakan mereka masing-masing  merasa pernah berbuat sesuatu yang tidak diridhoi Alloh. Maka, marilah bertanya dan mengaca, sesungguhnya siapakah diri kita ini?

Kesempurnaan memang hanya milik Alloh. Kita tidak bisa menuntut kesempurnaan dari siapa pun. Sebagaimana kita tidak dapat menuntutnya dari diri kita. Walau itu bukan legitimasi untuk tidak semakin baik. Kita harus tetap berusaha untuk selalu baik dan semakin baik seiring dengan perjalanan waktu.

Gemerlap nama orang-orang besar, dari artis hingga pejabat, dari politikus hingga konglomerat, seringkali membuat kita terpukau. Seorang mukmin harus memberi catatan, bahwa kebesaran mereka hanya punya arti dan nilai manakala mereka memiliki ketakwaan. Kesadaran ini perlu kita tanamkan agar seorang mukmin tidak lantas murung, patah semangat, dan bahkan tergoda untuk luluh dalam arus kehidupan mereka dengan cara yang kotor.

Di balik gemerlap kehidupan para selebritis yang menggiurkan, misalnya, tidak sedikit yang ternyata menyimpan luka mendalam pada sisi-sisi kehidupan mereka yang sangat pribadi. Tidak semuanya, memang. Tetapi ini hanya gambaran, betapa tidak semua yang tampil gemerlap di luarnya adalah juga gemerlap di dalamnya. Banyak kerikil dan batu ganjalan yang membuat kehidupan mereka seperti lukisan yang retak-retak. Ada yang terkena kasus narkoba, pergaulan bebas, perselingkuhan, dan kasus lain yang secara nurani tidak dapat kita terima.

Di balik kekuatan negara-negara adidaya yang kini menguasai dunia, seorang mukmin tidak boleh terpukau dengan cara yang tidak dibenarkan. Segala kecanggihan teknologi tidak bisa mengalahkan kehendak Alloh swt. Ini, sekali lagi soal keimanan. Sarana fisik memang perlu, tetapi tidak akan berguna bila tidak dilandasi iman. Alloh berkuasa atas segala hamba dan makhluk-Nya. Pada jari-jari-Nya bergantung nasib jiwa-jiwa manusia.

Bukan berarti kita tidak boleh mempelajari kecanggihan teknologi mereka. Atau mengadopsi keilmuan yang memang hari ini mereka kuasai. Tetapi, rasa silau yang berlebihan dan melampaui batas harus kita hilangkan dari benak kita. Agar kita tidak terjerumus kepada budaya menelan mentah-mentah setiap yang datang dari mereka. Atau bahkan kemudian kita menjadi corong-corong mereka.

Ketika kita sempat terperangah dengan setiap yang mereka miliki, cepatlah sadar bahwa kesempurnaan hanya milik Alloh. Semua teori dan usaha manusia bisa macet dalam sesaat, ketika sudah berbenturan dengan kemurkaan Alloh. Segala yang besar adalah kecil bila berhadapan dengan kekuasaan-Nya.

Alloh swt berfirman, "Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Alloh-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya. Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Alloh akan menyalahi janji-Nya kepada Rosul-rosul-Nya. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi mempunyai Balasan." (QS. Ibrohim [14]: 46)

Kedua, Kikislah Kecintaan yang Berlebihan terhadap Dunia
Mengikis kecintaan terhadap dunia yang berlebihan. Ya, itulah salah satu caranya. Agar diri ini tidak cepat silau. Keinginan untuk mengumpulkan harta sebanyak mungkin, sering menjerumuskan orang. Dia akan selalu melihat ke atas. Kecintaan yang tak terbendung itu, bisa membuatnya menghalalkan segala cara. Tidak peduli walaupun cara itu haram. Tidak peduli walau harus menginjak orang lain. Tidak peduli walau tertawa di atas derita dan tangis orang lain.

Dunia hanya tempat kita untuk singgah. Ada saatnya perjalanan ini harus dilanjutkan. Kita harus meninggalkan dunia itu. Setelah itu, dunia hanya akan menambah beban kita di akhirat kelak. Beban, manakala dunia yang pernah kita nikmati ternyata tidak halal. Padahal yang halal sekali pun, dunia akan menjadi beban, karena ia akan memperlambat hisab seseorang. Rosululloh menjelaskan, orang kaya akan masuk surga lebih lambat dibandingkan orang miskin selama limaratus tahun.

Hajjaj al-Khurosany suatu hari berada di sekumpulan orang yang sedang berdo'a di tanah suci. Di antara mereka hadir seseorang yang memang sangat mencolok kekayaannya. Bisa dilihat dari penampilannya. Hajjaj kemudian berdo'a, "Ya Alloh, jangan engkau fitnah kami dengan rezeki dinar dan dirham." Do'a itu diamini oleh semua yang hadir kecuali oleh satu orang, yaitu orang kaya itu. Dengan do'a itu, Hajjaj bukan hanya sekadar ingin mengajarkan cara hidup sederhana. Lebih dari itu, ia ingin memberikan pelajaran bagaimana agar orang-orang itu tidak cepat silau dengan penampilan orang kaya yang ada di samping mereka.

Bukan berarti kita tidak boleh kaya. Tetapi kecintaan berlebihan terhadap kekayaan itulah yang harus dikikis. Islam selalu menjaga keseimbangan.

Keseimbangan antara mencari dunia dan mengejar kehidupan akhirat. Dunia adalah jembatan menuju akhirat. Di sini kita menanam dan di sana kelak kita memetiknya.

Dengan mengikis kecintaan terhadap dunia yang membara di hati, maka kita akan merasa biasa saja ketika melihat mereka yang besar. Apalagi Alloh telah memperingatkan kita tentang kehebatan orang-orang fasik, "Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Alloh menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir." (QS. At-Taubah [9]: 55)

Ya, banyak yang tersiksa justru di saat hartanya banyak. Banyak yang merasa gelisah dan terbuang di saat anak-anaknya sukses. Banyak yang merasa hidupnya semakin hampa ketika ia sedang naik daun. Banyak yang merasa bingung ketika usaha duniawinya justru sedang berkembang pesat.

Ketiga, Renungkanlah Kisah Mereka yang Hancur Setelah Sukses
Di dunia ini semua diberi kesempatan untuk besar dan sukses. Muslim, fasik, munafik, dan kafir sekali pun. Kita tahu bahwa kebesaran itu ada batas waktunya. Ada saatnya mereka harus hancur dan terkubur untuk selamanya. Bahkan terkadang harus meninggalkan nama buruk dalam sejarahnya.

Qorun, misalnya. Adalah gambaran manusia terkaya saat itu. Kekayaannya tam terhitung. Kunci-kunci gudang hartanya berat untuk dipikul oleh pegawai-pegawainya yang kuat. Sebagian masyarakatnya sangat silau dengan kekayaannya. Mereka hanya bisa berdecak kagum dengan kesuksesan duniawi Qorun. Apalagi Qorun berusaha untuk selalu menjaga penampilannya. Ditambah lagi dengan pengakuannya, bahwa segala keberhasilannya itu diraihnya dengan teori dan ilmu bisnis serta kehebatan manajerial yang dimilikinya.

Dengarlah apa yang dikatakan mereka yang silau, "Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qorun. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar. (QS. Al-Qoshosh [28]: 79)

Ternyata Alloh ingin menegur mereka yang silau. Bahwa tidak semua yang sukses akan selalu sukses dan berakhir dengan kesuksesan. Terlebih kesuksesan yang kemudian berbuah kecongkakan, seperti pengakuan Qorun bahwa semua kesuksesan itu semata karena kehebatan dirinya. "Maka Kami benamkanlah Qorun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadao azab Alloh. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)." (QS. Al-Qoshosh [28]: 81)

Dengan merenungi kisah di atas, kita sadar bahwa kesilauan terhadap orang atau institusi atau negara besar harus dinetralkan. Kita butuh ketenangan sikap seperti sikap sebagian masyarakat Qorun yang berkata, "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Alloh adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholih. Dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar." (QS. Al-Qoshosh [28]: 80)

Keempat, Carilah Sisi Lain dari yang Menyilaukan Itu
Kekuatan diri setiap kita berbeda. Masing-masing mengetahui seberapa kuat kemampuan dirinya. Ketika kita merasa bahwa diri kita lemah di tengah badai gelombang, maka seharusnya kita tidak menantang badai itu.

Kalau jiwa kita masih sering silau dan latah terhadap sesuatu, maka berhati-hatilah. Cobalah mencari sisi lain dari sesuatu yang menyilaukan itu. Bersabarlah, lalu perhatikan dengan betul, apakah yang menyilaukan itu benar-benar murni ada cahaya kebenaran di baliknya. Atau justru ada banyak kenistaan di baliknya. Dengan menggali lebih dalam, dengan kesabaran yang tulus, insya Alloh, Alloh akan membuka jalan petunjuk-Nya, lalu menyadarkan kepada kita apakah yang memukau itu baik atau buruk.

Melihat sisi lain dari hal-hal yang memukau, terutama sisi-sisi buruknya, akan menguatkan jiwa. Untuk tidak terlalu gagap dan mudah terpedaya.

Imam Abu Walid al-Baji pernah menasehati anaknya agar tidak latah mempelajari ilmu filsafat. Alasannya bukan karena tidak ada manfaat sama sekali dalam ilmu filsafat. Tetapi ia menjelaskan alasannya, "Anakku, kalian masih terlalu kecil. Tunggulah saatnya kalian sudah dewasa dan sudah mapan secara keilmuan. Saat itu bacalah buku-buku filsafat dan buktikan sendiri kelemahan ilmu itu."

Bila dengan cara itu masih juga tidak bisa, apa boleh buat. Cara lainnya adalah kita harus meminimalisir berinteraksi dengan hal-hal yang bisa menyilaukan. Lebih karena kita harus menyelamatkan jiwa kita sendiri. Ibaratnya, yang tidak tahan panas jangan main-main dengan api. Yang tidak kuat dingin jangan bermain-main dengan hujan.

Kita harus terus menguatkan jiwa, agar bisa memandang biasa sebuah kehebatan dan kebesaran, bila ia tidak berdasar iman. Karena dari sana sumber mata air kebahagiaan yang sesungguhnya. Dengarlah ucapan seorang salafushsholih, Harits ibn Miskin, "Segala puji bagi Alloh yang telah membuat kami istirahat dari interaksi dengan para pejabat. Hingga kami bisa menjulurkan kaki semau kami. Kami bisa menangis tanpa ada yang menghalangi. Dan kami bisa berbuat semau kami tanpa intervensi."

Kelima, Mohonlah Kekuatan Kepada Alloh yang Maha Kuat
Langkah lain yang tak boleh dilupakan adalah berdo'a. Ya, setiap mukmin harus memohon kekuatan kepada Alloh, sumber segala kekuatan. Termasuk untuk menghadapi dunia yang melenakan, beserta segala isinya itu, kita harus memohon kekuatan kepada Alloh.

Karenanya, salah satu do'a penting yang diajarkan Rosululloh adalah memohon agar kita tidak diuji dengan fitnah dalam urusan agama. Selain itu juga memohon agar Alloh tidak menjadikan dunia sebagai tujuan dan puncak kemauan kita.

Maka dalam segala aktifitas duniawi yang kita lakukan, kita tidak boleh lupa untuk berdo'a. Memohon kepada Alloh agar ia berada di jalan yang diridhoi-Nya. Belajar, bekerja, berusaha, berdagang, mengasuh, dan mendidik anak, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya harus senantiasa di'bismillah'kan. Selain agar pekerjaan itu diterima Alloh, juga agar dalam proses teknisnya, kita tetap terjaga dari kemungkinan terjerumus ke jalan yang salah.

Do'a adalah kekuatan, senjata, sekaligus perisai bagi seorang mukmin. Jangan pernah lupa untuk berdo'a. Terlebih di kala dunia semakin kacau seperti saat ini.

Keseluruhan upaya di atas mungkin hanya sebagian kecil. Dari segala cara yang bisa dilakukan seorang mukmin untuk tidak silau dengan segala gemerlap dunia. Masih banyak cara lain yang juga bisa dilakukan. Yang pasti, sebuah perjuangan menaklukkan dunia sama pentingnya dengan perjuangan menaklukkan hati, agar tak terpedaya oleh dunia itu.

Dinukil dari Tarbawi edisi 55 tahun 4.

Selasa, 08 Desember 2015

Waspadai Sumber-sumber Keterpukauan

Banyak hal di dunia yang bisa menyilaukan manusia. Dari yang kecil hingga yang besar. Dari yang sederhana hingga yang luar biasa. Dunia adalah titian, ada yang sukses melewatinya, banyak pula yang gagal dan terlempar.

Beribu petuah telah dibuat. Berjuta nasehat telah diucap. Agar setiap orang berhati-hati dengan dunia. Tetapi tetap saja, banyak yang berguguran ditelan gemerlap dunia. Ini masalah serius. Karenanya, Al-Qur'an memberi penekanan khusus pada soal ini. Berkali-kali, dalam berbagai kesempatan berbeda, Al-Qur'an menegaskan tentang pentingnya berhati-hati dengan dunia, tidak mudah silau, apalagi terjebak di dalamnya. Beberapa catatan berikut, menunjukkan hal-hal yang secara khusus ditegaskan Al-Qur'an tentang apa-apa yang bisa menipu dan memukau manusia.

1. Segala Unsur Kuantitas yang Berjumlah Banyak
Soal kuantitas besar dan banyak -dalam hal apa saja- memang bisa mewakili dimensi apa saja. Bisa dimensi politik, ekonomi, atau hal-hal kecil yang kita jalani sehari-hari.

Pengertian inilah yang bisa kita hayati dari firman Alloh, "Sesungguhnya Alloh telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak. Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai." (QS. at-Taubah [9]: 25)

Ayat tersebut bertutur tentang kisah perang Hunain, di mana kaum muslimin berjumlah 12 ribu orang. Sebuah jumlah yang waktu itu sangat besar. Namun, kebesaran itu ternyata menyilaukan, hingga di antara mereka ada yang mengatakan, "Hari ini kita tidak dikalahkan oleh karena jumlah." Kenyataan kemudian membalik dan memporak-porandakan semuanya. Mereka lari kocar-kacir.

Pesona jumlah atau kuantitas -sekali lagi- berpeluang melenakan dan menjerumuskan orang ke jurang kehancuran. Ia tidak selalu harus perang. Ia bisa dalam konteks kelompok dan pengikutnya. Di pentas partai politik, di medan pertarungan bisnis, atau apa saja. Ia bisa jabatan, kekuasaan, kerajaan usaha, atau apa saja yang membuat orang punya segala sesuatu dengan kuantitas yang sangat melimpah.

Inti masalahnya -sekali lagi, pada soal sikap. Apakah orang menjadi congkak atas segala kekuatan pada sisi kuantitas yang ia miliki. Karena kuantitas adalah sarana dan kebutuhan yang logis, bagi keberlangsungan hidup apa saja. Tetapi, menjadikan kekuatan kuantitas segala-galanya adalah tindakan arogan. Ia bisa menjadi titik-titik awal keengganan untuk menyadari bahwa kemenangan dan kekuatan itu hanya datang dari Alloh swt. Inilah yang kemudian menjadi bibit kemusyrikan.

Maka, berhati-hatilah dengan segala sesuatubyang bersifat kuantitas. Terlebih bila volumenya sangat besar. Sekali penyakit sombong menghinggapi, ia bisa menggerogoti sendi-sendi kebesaran itu, untuk kemudian menghancurkannya hingga tak berbekas.

2. Performa Keindahan
Selain soal jumlah, Al-Qur'an juga bicara tentang performa keindahan sebagai salah satu sumber keterpukauan. Secara lebih spesifik, sumber performa yang dimaksud adalah kecantikan dan ketampanan. Sebab, keduanya merupakan pusaran bagi segala norma tentang keindahan jasadi yang mengiringinya. Yang kemudian berkembang pesat dan sangat revolusioner. Lalu melahirkan efek-efek negatif yang luar biasa.

Lihatlah bagaimana industri-industri raksasa tumbuh di mana-mana dengan bidikan produknya adalah wanita atau pria yang ingin tampil mempesona. Inilah yang mungkin bisa disebut rahasia, mengapa soal performa keindahan, Al-Qur'an mengambil setting kecantikan dan ketampanan. Meskipu secara umum itu sudah masuk dalam terminologi umum, Al-Qur'an menyebut kehidupan dunia sebagai senda gurau dan permainan belaka.

Alloh swt berfirman, "Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Alloh mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran." (QS. al-Baqoroh [2]: 221)

Alangkah mulianya Al-Qur'an ketika ia menjadikan ukuran performa kesukaan kepada laki-laki atau perempuan itu adalah 'menarik hati'. Karena sesuatu yang menarik hati bisa bermacam-macam, bisa wajah yang cantik atau rupawan, bisa kepintaran, keterampilan, juga yang lainnya. Sementara ketertarikan kepada semua itu bisa saja didasarkan pada hawa nafsu. Di sinilah inti masalahnya. Sebab, ketertarikan berdasarkan hawa nafsu bisa mengaburkan sisi-sisi objektif keimanan, atau juga sisi rasional akal sehat. Itulah mengapa Rosululloh mewanti-wanti ummatnya agar berhati-hati dengan wanita cantik tetapi tumbuh dalam lingkungan yang buruk.

Pada contoh di atas, dengan mengambil dimensi ketertarikan untuk menikahi seseorang, suasananya memang sangat berlawanan secara diametral: musyrik dan beriman, budak dan orang merdeka. Ini merupakan puncak pertimbangan tertinggi yang harus disadari seorang mukmin. Lalu dari sana kita bisa menarik benang pelajaran, pada kasus-kasus performa keindahan lainnya.

Lebih jauh bahkan Al-Qur'an memuarakan semua itu pada dua ujung yang sangat jauh: surga dan neraka. Alangkah seriusnya masalah ini. Ya, dan memang ini masalah serius. Sebuah performa keindahan -apapun bentuknya- harus ditimbang dari sudut kesudahan yang jauh, surga atau neraka.

3. Performa Keburukan
Kadang, sesuatu yang buruk justru sangat memikat hati. Terlebih di zaman ini. Ketika keburukan menemukan kemasannya yang indah dan menawan. Ketika keburukan mendapatkan pembenaran dan pengakuan dari konvensi-konvensi sosial. Ini bisa menipu dan memperdaya. Karenanya, ini menjadi soal berikut yang dijelaskan Al-Qur'an, di antara sumber-sumber keterpukauan lainnya.

Dengan tegas, Alloh swt mengingatkan hal ini jauh-jauh hari. Seperti dinyatakan dalam firman-Nya, "Katakanlah, 'Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu maka bertakwalah kepada Alloh, hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (QS. al-Maidah [5]: 100)

Ayat tersebut menggarisbawahi dua hal. Pertama, soal banyaknya keburukan. Artinya, bisa jadi keburukan itu sudah sangat banyak jumlahnya. Sudah tersebar dalam kehidupan masyarakat, atau bahkan sudah mendarahdaging dalam denyut kehidupan jutaan manusia. Tetapi ia tetap keburukan. Lalu, yang kedua, Al-Qur'an kembali menjadikan soal 'menarik hati' sebagai inti masalah yang harus diperhatikan.

Performa keburukan yang banyak dan menarik hati itu, saat ini bisa kita lihat dengan mudah di sekitar kita. Terlalu banyak untuk dicontohkan di sini. Dahulu orang malu-malu melakukan hal-hal yang buruk apalagi hina. Tetapi hari ini, justru banyak keburukan menjadi tren dan gaya hidup. Bahkan banyak perilaku-perilaku murahan yang justru dilombakan dengan kemasan sedemikian rupa.

Kenyataan memang menunjukkan demikian, keburukan kini mendapatkan dukungan dari banyak unsur. Bila diperluas, pembahasan soal performa keburukan yang menarik hati ini akan menyangkut banyak hal dalam hidup. Yang pasti tentu soal norma-norma, gaya hidup, dan tata nilai kehidupan yang kini banyak berantakan.

4. Orang-orang yang Suka Membuat Kerusakan
Lebih lanjut, Al-Qur'an meletakkan kelompok orang-orang yang suka membuat kerusakan sebagai salah satu sumber keterpukauan yang harus diwaspadai. Mereka orang-orang yang hatinya busuk, tetapi berusaha tampil dengan wajah yang manis. Di dalam diri mereka tersimpan gumpalan nafsu keserakahan, tetapi mereka berusaha nampak sopan dan bersahaja. Salah satu yang termasuk dalam kelompok ini adalah orang-orang munafik.

Alloh swt berfirman, "Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan mempersaksikannya kepada Alloh (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusakkan tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Alloh tidak menyukai kebinasaan." (QS. al-Baqoroh [2]: 204-205)

Para ahli tafsir menjelaskan, tradisi merusak ternak dan tanaman itu untuk menggambarkan betapa mereka adalah golongan orang-orang yang hobinya membuat kerusakan dan mempersulit kehidupan kaum muslimin. Pada dasarnya, golongan ini adalah orang-orang yang pekerjaannya hanya menebarkan kerusakan di muka bumi dengan berbagai cara. Mereka adalah orang-orang yang hobinya menumpahkan darah di mana-mana. Tetapi berusaha menampakkan diri sebagai manusia pembangun, penjamin-penjamin keamanan. Mereka benar-benar serigala berbulu domba.

Dalam tataran hidup yang lebih luas, manusia-manusia seperti itu banyak berkeliaran di segala tempat. Mereka bisa menelusup ke mana saja. Lalu memainkan perannya sedemikian rupa.

Begitulah, sumber-sumber keterpukauan memang banyak. Al-Qur'an juga berbicara soal lainnya, selain empat hal di atas. Setiap kita harus waspada, jangan sampai terlena, terpukau dengan dunia yang hanya sementarabini. Mewaspadai silaunya dunia -lebih dari itu- adalah bekal penting agar kita bisa pulang ke kampung akhirat dengan selamat. Alloh swt berfirman, "Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. al-Qoshsosh [28]: 28)

Maka, pentingnya kita menjaga diri dari kesilauan dunia adalah kepentingan bagi bahagia atau sengsara kita di kampung akhirat kelak. Tempat setiap kita akan pulang kembali.

Sumber: Tarbawi edisi 55 Th. 4; "Jangan Cepat Silau, Jangan Gampang Terpukau!"

Jumat, 04 Desember 2015

Mengemudi Hati di Jalan Lurus

“Ya Rosulalloh,” demikian suatu hari para sahabat memberanikan diri mengajukan pinta, “Sekiranya sudi, berceritalah engkau kepada kami.”

Ini terjadi, demikian Mush’ab ibn Sa’d meriwayatkan dari ayahandanya, Sa’d ibn Abi Waqqosh Rodhiyallohu ‘Anhu, setelah Al-Quran turun beberapa waktu lamanya dan Nabi pun membacakan kesemuanya kepada para sahabat.

Inilah kitab yang seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya gunung itu pecah berantakan karena rasa takutnya kepada Alloh. Maka pasti saja, hati para sahabat itu, sekokoh apapun, merasakan berat tak terperi terhadap kalamNya. Sebab firman itu telah menunjuk mereka untuk menjadi pendamping dan penyokong Muhammad, sang rahmat semesta, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru ke jalan Alloh, dan pelita yang mencahaya. Sebab wahyu itu menunjuk mereka untuk menjadi insan-insan pertama ummat terbaik yang ditampilkan pada manusia, menyuruh pada yang patut, mencegah dari yang lacut, meyakini Alloh dan mengingkari thoghut.

Mereka merasakan sesak dan sempit sehingga memerlukan penghiburan dari kisah-kisah ringan. “Ya Rosulalloh,” ujar mereka sebagaimana disampaikan Ibn ‘Abbas dan dituliskan Imam Ath-Thobary dalam Tafsirnya, “Berceritalah kepada kami.” Lalu turunlah Suroh Yusuf, deras bagai hujan mencurahi gersang dalam dada.

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu.” (QS. Yusuf [12]: 3)

Inilah kisah terbaik. Ialah kisah cinta. Ialah kisah tentang seorang bernasab termulia, Yusuf ibn Ya’qub ibn Ishaq ibn Ibrohim. Juga berparas terindah dan berakhlaq jelita; Yusuf yang digelari Al-Khoir, si baik, pembawa kebaikan.

Sayang sekali, ketika menyebut nama Yusuf, yang tercetak di benak kita hanya soal ketampanan wajahnya. Kita lupa bahwa dalam karunia ketampanan itu terkandung kasih ayahanda, dengki saudara, pembuangan ke sumur, pertolongan kafilah, dijual jadi sahaya, goda majikan jelita, fitnah dari yang salah, dijadikan bahan balas dendam hingga para wanita mengiris jarinya, memilih masuk penjara daripada berbuat nista, berdakwah di dalamnya, dilupakan kawan, diangkat menjadi pejabat tinggi, sibuk mengurus negara, berjumpa dan menahan diri terhadap saudara, membuat muslihat demi berjumpa orangtua, serta menahan diri dari mengungkit luka ketika mimpi masa kecilnya terbukti nyata.

Kisah terbaik, adalah kisah yang berliku-liku. Cerita terbaik, adalah hidup yang berwarna-warni.
***

“Ihdinash shirothol mustaqim; Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.”

Tidak sah sholat kita tanpa membaca Suroh Al-Fatihah di tiap roka’atnya. Dan dalam senarai 7 ayat terdahsyat ini, usai kita memuji Alloh, memuliakan, dan mengagungkanNya, dengan tunduk kita menadah karuniaNya. Ialah doa kita agar Alloh karuniakan petunjuk ke jalan yang lurus. Kita membacanya setiap hari sekurangnya tujuh belas kali, sebab ialah doa terpenting, permohonan terpokok, dan pinta paling utama.

Jalan yang lurus.

Terjemah itu mungkin membuat sebagian kita membayangkan bahwa jalan lurus itu bagus, halus, dan mulus. Kita mengira bahwa shirathal mustaqim adalah titian yang gangsar dan tempuhan yang lancar. Kita menganggap bahwa ia adalah jalan yang bebas hambatan dan tiada sesak, tanpa rintangan dan tiada onak. Kita menyangka bahwa di jalan itu, segala keinginan terkabul, setiap harapan mewujud, dan semua kemudahan dihamparkan.

Frasa ‘jalan yang lurus’ membuat kita mengharapkan jalur yang tanpa deru dan tanpa debu.

Maka kadang kita terlupa, bahwa penjelasan tentang jalan lurus itu tepat berada di ayat berikutnya. Jalan lurus itu adalah, “Jalan orang-orang yang telah Kauberi nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Kaumurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”

Maka membentanglah Al-Quranul Karim sepanjang 113 surat bakda Al-Fatihah untuk memaparkan bagi manusia jalan orang-orang yang telah diberi nikmat itu. Ialah jalan Adam dan Hawa; jalan Nuh, Hud, dan Sholih; jalan Ibrohim hingga Ya’qub sekeluarga; jalan Musa dan saudaranya; jalan Dawud dan putranya; jalan Ayyub dan Yunus; jalan Zakariyya dan Yahya, serta Maryam dan ‘Isa. Kisah jalan indah itu sesekali ditingkahi gambaran tentang jalan mereka yang dimurka dan sesat; jalan Iblis dan Fir’aun, Samiri dan Qorun, Bal’am dan Haman, hingga Ahli Kitab Yahudi-Nasrani dan ‘Abdulloh ibn Ubay ibn Salul.

Ceritera kehidupan Adam hingga ‘Isa itu, adalah lapis-lapis keberkahan.

Kisah mereka berkelindan, mengulurkan makna-makna yang mengokohkan cipta, rasa, serta karsa Sang Rosul terakhir dan ummatnya yang bungsu. Kisah mereka bertautan, melahirkan artian-artian yang menguatkan iman dan perjuangan sang penutup rangkaian kenabian beserta para pengikutnya; menghadapi kekejaman Abu Jahl, kekejian Abu Lahab, keculasan Al-‘Ash ibn Wail, tuduhan Al-Walid ibn Al-Mughiroh, dongengan An-Nazhor ibn Harits, rayuan ‘Utbah ibn Robi’ah, cambukan ‘Umayyah ibn Kholaf, hingga timpukan ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith.

Lalu kehidupan Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang bersamanya yang dicahayai wahyu dan menjadi bagian cerita, menggenapkan kisah jalan lurus itu untuk kita.

Adalah Rosululloh memerah wajahnya pada suatu hari, ketika beliau bangkit dari berbaring berbantal surban di dekat Ka’bah. Adalah Khobbab ibn Al-Art; lelaki pandai besi yang kerap disiksa Abu Jahl dengan diikat pada selongsong logam dan dipanggang di atas bara peleleh besi; hari itu menghadap dan berbisik. “Ya Rosulalloh,” demikian lirih dia berkata, seakan masih merasakan bagaimana punggungnya melepuh lalu pecah, dan arang penyiksa terpadam oleh tetesan cairan luka bakarnya, “Tidakkah engkau berdoa atau menolong kami?”

Di antara kedua alis bertaut junjungannya, ada pembuluh yang kian membiru. Itu pertanda bahwa manusia yang paling pengasih ini marah karena Robbnya. “Demi Alloh,” ujar beliau bergetar, “Orang-orang sebelum kalian ada yang disisir dengan sikat besi hingga terpisah daging dari tulangnya, ada yang digergaji tubuhnya hingga terbelah badannya; tapi itu semua tak memalingkan mereka dari ‘La ilaha illalloh; tiada sesembahan yang benar selain Alloh.”

Khobbab sama sekali tidak bersalah ketika bertanya. Khobbab sungguh harus difahami kerisauannya. Khobbab telah mengorbankan seluruh dirinya; dengan sakit dan luka, dengan disiksa dan dinista, demi risalah yang dibawa Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Tetapi demikianlah Sang Nabi hendak mengajarkan padanya dan kepada kita, apa makna jalan lurus.

“Dan sesungguhnya Alloh adalah Robbku dan Robb kalian, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Maryam [19]: 36)

Jalan lurus itu diikat oleh satu hakikat. Yakni beribadah hanya kepada Alloh satu-satunya, tiada sekutu bagiNya. Bahwa di dalamnya ada nestapa dan derita, ia hanya penggenap bagi kebersamaan dan cinta. Bahwa di dalamnya ada kehilangan dan duka, ia hanya penguat bagi sikap syukur dan menerima. Bahwa di dalamnya ada pedih dan siksa, ia hanya penyempurna bagi rasa nikmat dan mulia.

“Demi Alloh, Dia pasti akan menyempurnakan urusan ini”, demikian Sang Nabi melanjutkan sabdanya pada Khobbab, kini dengan senyum yang bercahaya, “Hingga seseorang berjalan dari Shon’a ke Hadhromaut dan tiada yang ditakutinya selain Alloh. Tetapi kalian tergesa-gesa.”
***

“Saat kita bicara tentang Islam”, demikian Dr. ‘Abdul Karim Az-Zaidan dalam salah satu pengantar kitabnya, Al-Mustafad min Qoshoshil Quran, “Yang tergambar paling mula-mula adalah Fiqh. Ini tak salah. Sebab bukan fiqh itu tak baik, bukan fiqh itu tak penting, bukan fiqh itu tak bermanfaat. Fiqh adalah panduan bagi kita untuk melangkah menapaki dunia hingga ke pintu akhirat. Dengan fiqh, hidup kita terbimbing dan terarah, tergamit dan terjaga. Tetapi kita harus mencatat satu hal; fiqh hanya akan jadi jasad kosong dan kerangka mati, jika tak dihidupkan dengan ruh ketaatan.”

Jadi bagaimana menghadirkan ruh itu bagi tiap ‘amalan kita?

Al-Quran menjawab dengan susunan isinya yang menakjubkan. Syaikh ‘Abdul Wahhab Kholaf menghitung bahwa ayat hukum dalam Al-Quran tak lebih dari 150 buah. Pun, Ahmad Amin menyatakan hanya sekitar 200 ayat saja. Artinya, yang menempati bagian terbesar muatan Kalamulloh ini justru bukanlah fiqh, melainkan cerita.

Dari Sa’id ibn Jubair, dari Ibn ‘Abbas, beliau menyatakan, “Al-Quran ini, 6000 ayatnya adalah kisah, 600 ayatnya berupa tanda kebesaran Alloh, 60 ayatnya adalah aturan mu’amalah, dan 6 ayatnya berisi hukum-hukum hudud.” Atsar ini yang mungkin secara keliru sering disalahfahami untuk dijumlahkan, sehingga dikatakan jumlah ayat Al-Quran ada 6666. Sedangkan dalam riwayat ini dapat saja satu ayat berisi irisan lebih dari 1 kandungan, sehingga menurut perhitungan para ‘ulama jumlahnya sekira 6236.

Maka semua ‘ulama sepakat bahwa bagian terbesar dari kandungan Al-Quran adalah kisah. Ialah kisah yang menjadi penjelasan bagi kita tentang jalan yang lurus. Kisah yang menjadi petunjuk bagi kita untuk meniti jalan yang lempang. Kisah yang menjadi pembeda bagi kita untuk memisahkan jalan yang shohih dari jalan sesat. Kisah yang menjadi kabar gembira dan peringatan untuk teguh di jalan Kisah yang menjadi cahaya, ketika mata batin kita terkaburkan debu yang hinggap di jalan kebenaran. Kisah yang menjadi penyembuh luka-luka, kala hati kita dirancah duri di jalan kebajikan.

Maka Ya Alloh, susurkan dan susulkan kami di jalan mereka yang Kau limpahi cinta; dalam sempit maupun lapangnya, senyum dan juga lukanya.

Maka Ya Alloh, walau tak Kau kayakan kami seberlimpah Sulaiman; karuniai kami syukur dan tawadhu’nya, yang hormati semut serta burung Hud-hud.

Maka Ya Alloh, walau tak Kau beri kami daya raga dan keajaiban seperkasa Musa, curahi kami keberanian dan keteguhannya memimpin kaum yang sering membuat kecewa. Maka Ya Alloh, walau usia tak sepanjang Nuh mulia, tegarkan kami dengan kegigihan da’wah dan tekad bajanya untuk terus menyampaikan kebenaran dalam aneka cara.

Maka Ya Alloh, walau paras tak setampan Yusuf rupawan, kuatkan diri kami menahan semua goda dan derita, tajamkan nuraninya hingga mampu membaikkan negeri. Maka Ya Alloh, walau keajaiban tak selalu sertai perjalanan, penuhi hati kami dengan kasih mesra seperti ‘Isa, hingga tunduklah musuh dalam cinta.

Maka Ya Alloh, walau tak perlu ditelan ikan di gelap lautan, hiasi jiwa kami dengan kepasrahan Yunus yang rintih doanya Kaudengarkan. Maka Ya Alloh, walau tak usah mengalami kehilangan, dicekik sakit, miskin, dan musibah; sejukkan hati kami dengan sabar dan dzikir seperti Ayyub yang tabah.

Maka Ya Alloh; walau ujian cinta tak seberat Ibrohim, Hajar, dan Sarah; limpahi keluarga kami dengan sakinah, mawaddah, dan rohmah, dengan keturunan yang shalih serta sholihah. Maka Ya Alloh, walau ibadah tak seterpelihara Zakaria dan kesucian tak seterjaga Maryam; nikmatkan bagi kami bakti anak mulia seperti Yahya dan ‘Isa.

Maka Ya Alloh, walau belum pernah mencicipi surga bak Adam dan Hawa, jadikan rumah kami terasa surga sebelum surga, terimalah taubat atas segala dosa. Maka Ya Alloh, walau hidup tak sepedas-pedih warna-warni hayat Ya’qub, jadikan kami hanya mengadu padaMu semata, hingga menampilkan kesabaran cantik yang mencahaya.

Maka Ya Alloh, walau tak harus lari dan bersembunyi sebagaimana para Ashabul Kahfi, beri kami keberanian dan perlindungan saat tegas mengatakan Al-Haq di depan tirani. Maka Ya Alloh, walau kerajaan tak seluas Dzul Qornain, curahi kami akhlaq pemimpin; yang senantiasa menyeru pada iman, membebaskan ummat, serta menebar manfaat.

Maka Ya Alloh, walau jangan sampai Kau karuniai pasangan yang mirip Fir’aun, teguhkan kami bagai Asiyah yang mukminah, anugerahkan rumah di sisiMu di dalam surga. Maka Ya Alloh, walau persoalan hidup tak sepelik yang dialami Ibunda Musa, bisikkan selalu kejernihanMu di firasat kami saat menghadapi musykilnya hari-hari.

Maka Ya Alloh, walau ilmu dan kebijaksanaan tak seutuh Luqman Al-Hakim; tajamkan fikir dan rasa kami untuk mengambil ‘ibroh di setiap kejadian.

Maka Ya Alloh, susurkan dan susulkan kami di jalan lurus, di lapis-lapis keberkahan.
***

Di lapis-lapis keberkahan, jalan lurus itu berkelok dan menikung, menanjak dan melongsor, membentang dan menghimpit. Di lapis-lapis keberkahan, jalan lurus itu curam dan terjal, deras dan gemuruh, keras dan runcing.

Di lapis-lapis keberkahan; tugas hidup kita adalah mengemudi hati menuju Alloh di jalan yang lurus. Maka pangkal kelurusan itu pertama-tama adalah hati yang tak pernah berbelok dari Allah sebagai sesembahan yang haq. Lurus, sebab hanya pada Alloh tunduknya, taatnya, dan tentramnya. Lurus, sebab hanya untuk Alloh yakinnya, pasrahnya, dan kebajikannya. Lurus, sebab hanya bersama Alloh gigil takutnya, gerisik harapnya, dan getar cintanya.

Salim A. Fillah

Sabtu, 28 November 2015

Peter Pan Syndrom vs Cinderella Complex

Saat ini, banyak sekali pasangan muda yang belum lama menikah akhirnya bercerai. Fenomena seperti itu kian meningkat. Padahal waktu mereka berpacaran, sepertinya tidak ada masalah. Namun setelah memasuki dunia pernikahan banyak hal yang mereka temui, bahkan mungkin hal-hal sepele, yang menjadi pemicu keretakan dalam rumah tangga. Ternyata pada saat “penjajakan”, masing-masing dari mereka tidak sempat mengenali pasangannya dari sudut pandang pengasuhan. Mereka tidak menyadari bahwa di dalam diri pasangan atau diri mereka sendiri, terdapat jiwa-jiwa Peter Pan dan Cinderella.

Apa itu Sindrom Peter Pan?
Peter Pan adalah seorang tokoh dalam cerita anak-anak yang ditulis JM Barrie (1860-1937), seorang sastrawan dari Skotlandia. Peter Pan digambarkan sebagai karakter bocah lelaki nakal yang bisa terbang dan secara magis menolak menjadi dewasa.

Watak Peter Pan yang serba kekanak-kanakan ini oleh Dan Kiley (1983) dijadikan sebuah “penyakit” psikologis, yang disebut sindrom Peter Pan. Sindrom Peter Pan ditujukan untuk orang dewasa yang secara sosial tidak menunjukkan kematangan. Sindrom ini lazim diderita kaum lelaki yang secara psikologis, seksual, dan sosial menunjukkan perilaku yang keluar dari pengasuhan.

Sindrom tersebut memakai nama Peter Pan, karena memang Peter Pan ‘menolak’ menjadi dewasa karena tak mau kehilangan masa kanak-kanaknya. Karena itu sangat sesuai untuk menggambarkan laki-laki dewasa yang masih bersifat kekanak-kanakkan.

Apa ciri-ciri orang yang mengalami sindrom Peter Pan?
– tidak sudi/cenderung tidak bertanggung jawab
– suka melawan
– sulit berkomitmen
– manja
– tidak suka bekerja keras
– pemarah (mudah marah jika keinginannya tak terpenuhi), suka mengamuk
– cinta diri sendiri secara berlebihan (narsis)
– mengalami ketergantungan pada orang lain/dependency (bahkan hingga hal-hal yang kecil)
– senang memanipulasi (manipulativeness), jago ‘bicara’ untuk membuktikan bahwa dia yang benar
– memiliki keyakinan yang melampaui hukum-hukum dan norma masyarakat.
– enggan untuk hidup sendiri dan selalu merasa sendiri
– tidak berani mengambil keputusan dan menanggung resiko
– mudah sakit hati
– tidak bisa menerima kritikan
– kurang percaya diri
– menolak berhubungan dengan lawan jenis
– pemberontak

Salah satu penyebab munculnya sindrom ini adalah akibat pola asuh yang tidak sengaja salah semasa kanak-kanak. Misalnya kalau anak melakukan kesalahan, orang tua selalu membelanya. Orang tua terlalu melindungi anaknya, selalu turun tangan dalam setiap masalah anaknya, terlalu menuruti permintaan anak. Akibatnya meski sudah dewasa tetap saja seperti anak anak. Hal ini bisa difahami, karena kepribadian seorang anak, 80% dipengaruhi oleh lingkungannya (lingkungan terdekat seorang anak adalah kedua orang tuanya), dan hanya 20% dipengaruhi oleh faktor keturunan (genetik).

Seorang laki-laki yang mengalami sindrom Peter Pan, sangat membutuhkan seorang istri yang bersifat seperti ibunya. Layaknya seorang ibu yang akan menyayangi, melindungi, dan melayani anaknya. Jika ia tidak mendapatkan sosok istri yang seperti itu, ia akan sangat mudah untuk membanding-bandingkan istrinya, dan merasa istrinya tidak bisa mengurusinya sebagai suami, dan ia akan sering kali ‘pulang’ dan bermanja-manja kepada ibunya.

Apa itu Cinderella Compleks?
Seperti yang telah kita ketahui, Cinderella mengambarkan tokoh dalam film kartun anak-anak, yang semasa kecilnya hidup bahagia bersama ayah dan ibunya. Namun menjelang remaja, kehidupannya berubah karena, ibu kandungnya meninggal dan ayahnya menikah dengan wanita lain. Setelah ayahnya menikah, kehidupan Cinderella menjadi sangat tidak bahagia. Karena ibu dan 2 saudara tirinya itu sangat membenci Cinderella. Kehidupan Cinderella menjadi sangat pahit, menyebabkan ia merindukan sosok lelaki seperti ayahnya yang akan melindungi dan menyayangi dirinya.

Istilah sindrom Cinderella Complex menggambarkan sebuah ketakutan tersembunyi pada perempuan untuk mandiri. Karena yang ada dalam pikiran mereka adalah keinginan untuk selalu diselamatkan, dilindungi, dan tentunya disayangi oleh “sang pangeran”.

• Dalam keseharian, “penyakit psikologis” ini biasa disebut dengan Syndrom Umur 20, Syndrom Umur 21, Syndrom Umur 22, Syndrom Umur 23, dan seterusnya sepanjang si perempuan itu addicted dengan khayalan akan bertemu dengan pangeran impiannya sebagaimana yang terjadi di dalam dongeng Cinderella.

Seorang wanita yang mengalami Cinderalla Compleks, sangat membutuhkan seorang suami yang bersifat seperti ayahnya, yang dewasa, mengayomi, dan selalu melindungi.

Anda-kah orang tua yang menumbuhkan jiwa Peter Pan dan Cinderella pada jiwa anak?

Seperti apa pola pengasuhan orang tua yang menyebabkan anak memiliki jiwa Peter Pan dan Cinderella?
» Ortu yang selalu melindungi
» Ortu yang membiarkan anak bermanja-manja secara berlebihan
» Ortu yang tidak membangun jiwa BMM (Berfikir-Memilih-Mengambil Keputusan)

Mengapa bisa demikian?
» Ortu tidak siap menjadi ortu
» Ortu yang kehidupannya dahulu sangat susah, sehingga kini memiliki ‘dendam positif’ ingin memanjakan anak dengan berbagai kemudahan
» Ayah-Ibu dengan pengasuhan bertentangan. Ayah mau A, Ibu mau B. Tidak pernah kompak, sehingga anak menjadi bingung.
» Ortu yang lama sekali baru dikaruniai seorang anak.

Jika sudah terlanjur, harus bagaimana?
» Laki-laki yang mengalami sindrom Peter Pan tidak akan mengalami kesulitan dalam pernikahannya, jika mendapatkan istri dengan karakter keibuan.
» Begitu pula sebaliknya, bagi sang ‘Cinderella’ yang mendapatkan suami dengan karakter ke‘ayah’an yang kuat.
» Untuk istri-istri yang jadi ibu bagi Peter Pan harus memahami mengapa suaminya bersifat kekanak-kanakan, harus mau berkorban dan ‘tega’ untuk membentuk kembali jiwa kemandiriannya.
» Untuk suami-suami yang jadi ayah bagi Cinderella juga harus memahami mengapa ia bersikap seperti itu dan ajak bicara secara baik-baik.

Bagaimana menghilangkan ‘penyakit psikologis’ tersebut?
– Harus ada keinginan dalam diri sendiri untuk berubah
– Lingkungan harus mendukung
– Jika diperlukan terapi, mengapa tidak?
– Minta pertolongan kepada Allah.

Pesan
Anak-anak kita kelak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang akan memasuki dunia pernikahan dan memiliki kehidupan rumah tangga sendiri. Pengasuhan kita kepada mereka sangat berpengaruh bagi perkembangan jiwa-jiwa mereka. Apakah anak lelaki kita akan tumbuh menjadi orang dewasa dengan jiwa yang kekanak-kanakan? Apakah anak perempuan kita akan tumbuh menjadi orang yang merindukan ‘pangeran’? Semuanya tergantung pada pengasuhan kita. Jika kita merindukan anak-anak kita kelak tumbuh menjadi orang yang dewasa sesungguhnya, maka marilah kita buat pengasuhan dalam rumah-rumah kita menjadi lebih baik.

-Elly Risman-

Selasa, 24 November 2015

Kisah Nabi Samson

Nabi Samson, Nabi yang tidak memiliki pengikut satu orang pun.

Kisah Nabi Sam’un Ghozi as (Samson) salah satu dari 124.000 Nabi.

Seperti yang diketahui di dalam ajaran Islam, bahwa jumlah Nabi menurut hadits yaitu 124.000 orang, dan Rosul berjumlah 312 orang, sesuai rukun iman ke-4 di dalam rukun iman diwajibkan untuk mengetahui 25 orang nabi dan rosul.

Dari Abi Dzar ra, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi,

“Jumlah para nabi itu adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.”

“Lalu berapa jumlah Rosul di antara mereka?”

Beliau menjawab, “Tiga ratus dua belas (312) orang.”

(Hadits Riwayat At-Tirmidzi)

Samson atau Simson, merupakan seorang nabi di dalam ajaran Islam yang dikenal dengan nama Nabi Sam’un Ghozi as.

Kisah nabi ini, terdapat di dalam kitab-kitab, seperti kitab Muqosyafatul Qulub dan kitab Qishoshul Anbiyaa. Nabi Sam’un Ghozi AS memiliki kemukjizatan, yaitu dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana.

Cerita Nabi Sam’un Ghozi AS adalah kisah Isroiliyat yang diceritakan turun-temurun di jazirah Arab. Cerita ini melegenda jauh sebelum Rosululloh lahir.

Dari kitab Muqosyafatul Qulub karangan al-Ghozali, diceritakan bahwa Rosululloh berkumpul bersama para sahabat di bulan Suci Romadhon.

Kemudian Rosululloh bercerita tentang seorang Nabi bernama Sam’un Ghozi AS, beliau adalah Nabi dari Bani Isroil yang diutus di tanah Romawi.

Dikisahkan Nabi Sam’un Ghozi as berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Sam’un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafirin saat itu, yakni raja Isroil.

Akhirnya sang raja Isroil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Sam’un. Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkanlah, barang siapa yang dapat menangkap Sam’un Ghozi, akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah.

Singkat cerita, Nabi Sam’un Ghozi as terpedaya oleh isterinya. Karena sayangnya dan cintanya kepada isterinya, nabi Sam’un berkata kepada isterinya,

“Jika kau ingin mendapatkanku dalam keadaan tak berdaya, maka ikatlah aku dengan potongan rambutku.”

Akhirnya Nabi Sam’um Ghozi as diikat oleh istrinya saat ia tertidur, lalu dia dibawa ke hadapan sang raja.

Beliau disiksa dengan dibutakan kedua matanya dan diikat serta dipertontonkan di istana raja. Karena diperlakukan yang sedemikian hebatnya, Nabi Sam’un Ghozi as berdoa kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Beliau berdoa dengan dimulai dengan bertaubat, kemudian memohon pertolongan atas kebesaran Alloh. Do’a Nabi Sam’un dikabulkan, dan istana raja bersama seluruh masyarakatnya hancur beserta isteri dan para kerabat yang mengkhianatinya.

Kemudian nabi bersumpah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, akan menebus semua dosa-dosanya dengan berjuang menumpas semua kebathilan dan kekufuran yang lamanya 1000 bulan tanpa henti. Semua itu atas hidayah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika Rosululloh selesai menceritakan cerita Nabi Sam’un Ghozi as yang berjuang fii sabilillah selama 1000 bulan, salah satu sahabat nabi berkata:

”Ya Rosululloh, kami ingin juga beribadah seperti nabiyulloh Sam’un Ghozi as.” Kemudian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, diam sejenak.

Kemudian Malaikat Jibril as datang dan mewahyukan kepada beliau, bahwa pada bulan Romadhon ada sebuah malam, yang mana malam itu lebih baik daripada 1000 bulan.

Pada kitab Qishoshul Anbiyaa, dikisahkan, bahwa Rosululloh Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam tersenyum sendiri, lalu bertanyalah salah seorang sahabatnya,

“Apa yang membuatmu tersenyum, wahai Rosululloh?”

Rosululloh menjawab, “Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika dimana seluruh manusia dikumpulkan di mahsyar. Semua Nabi dan Rosul berkumpul bersama umatnya masing-masing masuk ke dalam surga.

Ada salah seorang nabi yang dengan membawa pedang yang tidak mempunyai pengikut satu pun masuk ke dalam surga. Dia adalah Sam’un.”

Demikian kisah Nabi Sam’un Ghozi as atau yang lebih dikenal dengan Samson atau Simson.

Semoga dari kisah ini, dapat kita petik sebuah pelajaran di dalamnya.

Credit: alhurriyyah

Ajaran Rosululloh SAW tentang Cara Mendidik Anak

Dalam suatu majelis Rosululloh saw mengingatkan para sahabat-sahabatnya, “Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Alloh SWT memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya.” Salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rosululloh, bagaimana cara membantu anakku sehingga ia dapat berbakti kepadaku?” Nabi menjawab, “Menerima usahanya walaupun kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebaninya dengan beban yang berat, dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hatinya.” (HR. Abu Daud)

Setiap orang tua pasti ingin memiliki anak-anak yang berperilaku baik, patuh pada orang tua, dan pandai bersosialisasi. Harapan-harapan tersebut akan mudah dicapai jika orang tua mampu membimbing anak untuk mewujudkannya. Lingkungan keluarga memiliki pengaruh dan peran besar dalam pembentukan karakter anak. Keluarga yang saling menyayangi, saling menghormati, dan saling menghargai satu sama lain akan menciptakan kondisi yang memudahkan anak untuk berperilaku baik sesuai harapan kedua orang tuanya. Saya akan sharing informasi dan pengalaman dengan teman-teman bagaimana caranya agar kita bisa mewujudkannya.

Kemampuan anak untuk bersosialisasi dan berperilaku baik sesuai dengan harapan orang tua dan lingkungan tidak terlepas dengan kemampuan anak mengkomunikasikan perasaannya (emosi). Mengapa emosi? Ya, ternyata emosi memiliki peran penting terhadap perkembangan anak, khususnya perkembangan sosial anak.

Emosi merupakan bentuk komunikasi anak dengan orang lain. Melalui ekspresi emosi yang ditampilkan anak, maka seorang anak dapat memperlihatkan kebutuhannya, keinginannya, harapannya, dan perasaannya kepada orang lain, khususnya kepada orang tuanya. Anak yang memiliki ketegangan emosi akan mempengaruhi keterampilan motorik anak. Misalnya: saat marah, anak menjadi susah menulis. Selain itu juga akan mempengaruhi konsentrasi dan daya ingatnya. Misalnya: anak yang lagi kesal akan sulit untuk menghapalkan doa-doa pendek, sebaliknya anak yang sedang senang lebih mudah menghapalkan surat-surat pendek yang kita ajarkan.

Tingkah laku emosi dipengaruhi oleh penilaian lingkungan sosial mengenai dirinya dan penilaian diri anak terhadap dirinya sendiri. Masih banyak orang tua yang mengkaitkan perasaan tidak menyenangkan (marah, menangis, iri) dengan watak anak yang buruk. Si adik yang iri dengan kakaknya, dianggap memiliki watak ‘pencemburu’. Sedangkan kakaknya yang berusaha mempertahankan barang yang dimilikinya dikatakan sebagai kakak yang tidak mau mengalah dengan adiknya (egois).

Selain itu orang tua kerap kali menyebut anaknya ‘nakal’ karena sering merusak barang dan menyusahkan orang tuanya. Anak yang terus-menerus dikatakan nakal, akan semakin membuat anak memandang bahwa dirinya memang nakal. Ini akan menjadi konsep diri anak. Ketika anak menilai dirinya sebagai ‘aku adalah anak nakal’, maka anak cenderung bertindak ‘nakal’ sesuai dengan konsep dirinya kalau dia benar-benar anak yang ‘nakal’.

Segala emosi yang menyenangkan (senang, bangga, gembira) atau tidak menyenangkan (sedih, marah, iri, kecewa, takut) akan mempengaruhi anak ketika melakukan interaksinya dengan lingkungan sosial. Seorang anak yang memiliki pemahaman mengenai “apa yang sedang dia rasakan” akan memudahkan anak untuk mengenali perasaannya, mengatur perasaannya, menenangkan perasaannya, mengekspresikan perasaannya dengan tepat dan menyelesaikan sendiri masalahnya.

Pengulangan reaksi emosi anak yang ‘berkembang’ ini akan menjadi kebiasaan dan menetap menjadi karakternya. Namun, kemampuan pengelolaan emosi setiap anak ini berbeda-beda, tergantung dengan usia, pola asuh orang tua, dan kondisi psikologis anak saat stimulasi emosi itu terjadi. Oleh karenanya, pengelolaan emosi anak harus terus dilatih.

Emosi biasanya dikaitkan dengan perasaan marah. Padahal bukan hanya itu, makna emosi lebih luas lagi. Emosi merupakan perasaan seseorang yang ditujukan kepada orang lain atau terhadap sesuatu. Emosi dapat terlihat ketika: anak merasa senang pada sesuatu yang disukainya, anak marah kepada seseorang yang mengganggunya, anak terkejut karena sesuatu yang tidak biasa, ataupun anak takut terhadap hal yang menakutkan. Emosi anak sangat mirip dengan orang dewasa. Namun berbeda dari cara berpikir mereka yang masih sederhana. Selain itu, anak juga belum mengerti perbedaan antara ‘mengalami’ perasaan dan mengekspresikannya dengan tepat supaya bisa bertingkah laku mengendalikan emosinya.

Anak akan belajar mengekspresikan perasaannya, dari respon dan tanggapan yang diberikan orang tuanya. Seringkali orang tua sangat cepat ‘bereaksi’ terhadap ekspresi emosi anak dengan langsung memberi nasehat, mengomeli bahkan memarahinya. Saat mengetahui anaknya bertengkar dengan adiknya, orang tua langsung buru-buru melerai dan menasehati anaknya. Anak yang mengeluh bahwa ia tidak suka sarapannya, langsung dinasehati agar segera menghabiskan makannya tanpa banyak mengeluh. Anak yang marah karena tiba-tiba ibunya mematikan TV yang asyik dia tonton, langsung ibu balas memarahi anak karena terlalu lama menonton. Dan anak yang menangis karena berpisah dengan temannya, orang tua segera menyuruh anaknya berhenti menangis dan menasehati supaya jangan sedih berlebihan.

Orang tua kadang kurang bisa menerima emosi tidak menyenangkan yang ditampilkan anak. Seperti pada pernyataan berikut ini: “Sudah! Jangan nangis! Anak sholih itu nggak cengeng lho”, “Ah masa gitu aja kamu nggak berani sih!”, “Sudah, nggak usah dipikirkan! Masa’ hilang mainan aja kamu nangis”, “Kakak ngalah dong sama adik”, “Kamu ini nakal banget sih, berani marah-marah sama ayah ya”, dan seterusnya. 

Seorang anak yang mengalami emosi tidak menyenangkan, sebenarnya ia merasa  ada sesuatu yang tidak nyaman di dalam dirinya. Perasaan ini akan mempengaruhi perilaku yang ditampilkan anak. Biasanya tampilan perilaku anak yang tampak di mata orang tua adalah perilaku yang dianggap ‘tidak baik’, (misalnya: anak menangis, marah-marah, membentak, merusak barang). Orang tua yang segera menasehati dan memarahi anak, hanya akan membuat anak makin merasa tidak nyaman, malas berbicara dan menghindari orang tua, atau malah makin meletup-letup emosinya.

Anak akan merasa ‘baik’ saat orang tua mau menerima emosinya, menghargai kondisinya, dan memberikan respon yang tepat. Anak hanya ingin perasaannya ‘di akui’. Ketika kita dapat mengakui perasaannya, maka anak akan belajar mempercayai perasaannya, termasuk menjadi pandai mengatur emosi mereka dan menyelesaikan masalahnya. Pada saat kita berusaha untuk menerima emosinya, mungkin akan membutuhkan beberapa menit untuk bisa membuat anak belajar ‘menenangkan’ perasaannya sendiri. Bila anak sudah merasa ‘tenang’, anak akan lebih mudah untuk berfikir dengan jernih mengenai apa yang dirasakan, mengapa dia bisa mengalami perasaan itu, apa yang terjadi dengannya, dan bagaimana caranya agar dia bisa menyelesaikan masalahnya.

Kunci sukses untuk bisa melatih anak-anak supaya memiliki kemampuan mengkomunikasikan perasaannya (emosi) dengan tepat dan bijak adalah kita belajar berempati mendengarkan anak (empathic listening). Empati itu tidak sama dengan simpati. Simpati berarti “feeling for someone” sedangkan empati adalah “feeling as someone”. 

Dalam empati, terdapat dua komponen penting, yaitu: (1) affective empathy: kemampuan untuk mengidentifikasikan dan melabelkan perasaan anak. Kita bisa mencoba atau membayangkan seolah-olah berada di posisi anak kita. Dengan merasakan apa yang dirasakan anak, maka kita akan lebih mudah untuk memahami perasaan dia sebenarnya dan menghargai kondisinya saat itu. Hal ini bagus untuk mengasah empati kita kepada anak.

(2) cognitive empathy: kemampuan untuk mengasumsikan sesuatu dari sudut pandang atau perspektif anak. Dengan berempati, maka kita lebih mudah menerima pendapat anak dan menghargai usaha yang dilakukan anak untuk menyelesaikan masalahnya.

Mendengarkan anak dengan empati (empathic listening), berarti kita menerima emosi anak dan memberikan respon yang tepat terhadap apa yang dirasakan anak. Menerima emosi anak, berarti kita menerima emosi apapun yang dirasakan anak saat itu dan memberi dia kesempatan untuk mengenali perasaannya sendiri. 

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua agar menjadi seorang pendengar yang berempati (empathic listener) terhadap anak-anaknya, yaitu: 1) menggunakan panca indra kita untuk mengidentifikasi dan mengamati petunjuk dan isyarat fisik dari emosi anak (lihat wajahnya, tangannya, suaranya, desahan napasnya);

2) menggunakan imajinasi kita untuk melihat situasi tersebut dari sudut pandang anak (misalnya: membayangkan gimana ya rasanya kalau aku berada di posisi dia);

3) menggunakan kata-kata untuk merumuskan kembali dengan cara yang menenangkan dan tidak mengecam. Artinya, kita mencoba merefleksikan kembali apa yang dirasakan anak dengan ungkapan yang tepat (“mama lihat kamu lagi kesal banget ya?”);

4) membantu anak memberi nama emosi yang mereka rasakan tersebut (misalnya: “kamu kecewa ya bu guru hanya memberi nilai 8 untuk prakaryamu”);

5) menggunakan hati untuk merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anak.

Contoh ibu yang tidak mendengarkan anak dengan empati:

“Pensil merahku diambil orang, ma,” keluh anaknya dengan suara pelan, wajah menekuk ke bawah.

“Ah, bukannya kamu hilangkan?” tanggap sang ibu tidak memahami perasaan anaknya yang lagi kesal.

“Nggak, kok. Waktu aku ke toilet, masih ada di atas meja,” jelas sang anak dengan suara meninggi.

“Lagian kamu sih naruhnya sembarangan,” timpal sang ibu langsung menilai sang anak ceroboh.

Sang anak diam saja. Wajahnya cemberut dibarengi berat tarikan nafasnya.

“Barang-barangmu diambil orang melulu,” tambah sang ibu. “Sudah berapa kali, coba? Mama sering bilang, ‘Coba simpan barang-barangmu di laci meja!’ Kamu sih nggak pernah merhatiin!” tambah sang ibu mulai menasehati anak dan sedikit mengomeli anak.

“Ah, mama rese!” protes sang anak dengan wajah memerah, alis naik ke atas, dan nada suara tinggi.

“Lho kok kamu malah marah sih!” sergah sang ibu terpancing untuk memarahi anak.

Contoh ibu yang mendengarkan anak dengan empati:

Anak: “Pensil merahku diambil orang, ma." (perasaan anak pasti lagi kesel)

Ibu: “Oh kamu lagi kesal, ya?” (sambil menatap mata anak)

Anak: “Padahal sebelum ke toilet, aku letakkan pensilnya di atas meja. Eh ada yang ngambil deh.” (memperhatikan wajah dan bahasa tubuh anak yang lagi kesel)

Ibu: “Hmmm kecewa banget ya kalau barang kita diambil orang?”

Anak: “Sudah tiga kali pensilku diambil orang.”

Ibu: “Waduh...”

Anak: “Aku tahu, mulai sekarang pensilku mau kusimpan di dalam laci meja.”

Ibu: “Nah, gitu dong, kak.” (sambil tersenyum)

Rosululloh berkata, “Siapa yang memiliki anak, hendaklah ia bermain bersamanya dan menjadi sepertinya. Siapa yang mengembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau (bercanda) untuk menyenangkan hati anaknya, maka ia bagaikan menangis karena takut kepada Alloh ‘Azza wa Jalla” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)
~~~~~~~~~~~~~

Diskusi dan Tanya Jawab:

1. Bagaimana caranya mengatasi sifat takut ‘Joker’ pada seorang anak?

Jawab:
Usia anak-anak kerapkali memang mengalami rasa takut, dan perasaan takut terhadap sesuatu yang menakutkan. Langkah awal adalah kita harus bisa menerima rasa takut anak. Setelah itu sebaiknya anak di ajak ngobrol dan ditanya, apa yang membuat ia takut terhadap ‘Joker’ (musuh Batman). Ketakutan anak akan badut Joker kemungkinan karena wajahnya yang menakutkan (tokoh kejahatan) dan riasan wajah yang berlebihan. Dengan bercerita kepada orang tua, maka anak akan bisa mengelola rasa takutnya tanpa membuat anak fobia badut (Coulrophobia) hingga dewasa. Kita juga bisa berbagi tentang rasa takut yang pernah kita alami, sehingga si anak merasa dihargai dan diakui ketika dia memiliki rasa takut. Saat anak mengetahui pengalaman ibu dengan pengalaman takutnya dan bagaimana mengatasi rasa takut itu, maka si anak akan belajar dari pengalaman ibunya. Hal yang terpenting adalah kita memiliki cara yang tepat untuk menghargai rasa takut pada anak, serta mengarahkan si anak untuk mengatasi rasa takutnya.

2. Beda empati (feeling as someone) dengan simpati (feeling for someone) dari sisi bahasa tampak serupa tapi tak sama. Dan beda affective empathy dengan cognitive empathy, contoh realnya apa, mbak? Bayangan saya, affective lebih mengarah ke sikap dan cognitive lebih ke pemahaman konsep.

Jawab:
Simpati: ketika kita menyukai seseorang, (misalnya: suka dengan kesholihannya atau kebaikannya), maka kita bersimpati terhadap orang tersebut. Saat kita menyukai kecerdasan dan kreatifitas anak kita, maka kita bersimpati menyukai kelebihan yang dimiliki anak.

Empati: kita merasakan apa yang dia rasakan, (misalnya seorang anak senang karena mendapatkan pujian dari gurunya), maka kita ikut merasakan hal yang sama seperti apa yang anak rasakan. Saat anak sedih berpisah dengan teman yang disayanginya, maka kita bisa merasakan ‘rasa kehilangan’ yang dirasakan anak kita.

Ketika kita berempati dengan anak, ada dua proses yang terjadi, yaitu proses affective empathy dan cognitive empathy. Kalau cognitive empathy, ibu bisa paham anak marah karena diganggu temannya di sekolah atau anak sedih tidak menang lomba lukis sehingga wajahnya tampak murung dan menjadi pendiam. Sedangkan affective empathy kita bisa merasakan perasaan anak dan menerima apa yang dirasakan anak, seolah-olah kita berada di posisi anak.

3. Mbak, saya menumbuhkan empati pada hubungan kakak adik sering juga luput. Misalnya saat adiknya mencoret gambar kakaknya, mengambil makanan kakaknya, sering kemudian untuk menghindari tidak ribut, saya bilang ke kakaknya, “Ga apa-apa, ya. Mengalah, ya...”

Jawab:
Si adik biasanya belum tahu konsep kepemilikan barang (jika menginginkan barang kakak, harus meminta izin terlebih dahulu) dan perlu ditanamkan mengenai konsep kepemilikan barang adik dan barang kakak. Sehingga penting untuk mengajarkan anak untuk meminta izin jika ingin menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Kita juga perlu memberikan teladan kepada anak, jika ingin meminjam pulpen adik,maka juga ibu harus meminta izin kepada adik terlebih dahulu.

Meminta si kakak terus mengalah pada adik merupakan tindakan yang kurang tepat. Perasaan si kakak juga harus kita hargai. Tindakan tepat sebaiknya kita mengarahkan si kakak bagaimana konsep berbagi, tanpa menyalahi perasaan kepemilikannya.

4. Apa keuntungannya anak yang pintar memahami perasaannya? Tumbuh jadi PD kah atau apa, mbak?

Jawab:
Seorang anak yang bisa mengendalikan dan mengenali serta mengekspresikan emosi dengan tepat, akan berdampak pada kemampuannya di segala bidang, terutama dalam hal berteman. Dia akan disukai oleh teman-teman di lingkungannya, lebih mudah berteman, dan mengurangi konflik dengan teman-temannya, serta lebih fokus terhadap proses belajarnya. Dia juga mampu menenangkan dirinya sendiri saat sedang kesal, marah, dan sedih, tanpa dibantu oleh orang lain.

5. Ada sebuah fakta, dimana seorang anak ketika kecil terlihat mampu me-manage emosinya dengan baik, namun ketika menjelang remaja, semuanya tiba-tiba berubah, kelakuannya pun mengecewakan kedua orang tuanya. Nah, bagaimana menyikapi hal ini?

Jawab:
Semakin bertambahnya usia anak, maka pola pikirnya semakin berkembang. Anak remaja mulai memasuki usia untuk mencari jati dirinya. Hal yang tampak dari orang tua adalah anak mulai membantah orang tua, melakukan hal-hal yang dilarang orang tuanya. Melalui pendekatan psikologis, disarankan agar kedua orang tua si anak lebih ‘merangkul’ dan melakukan berbagai pendekatan, mulai dari menganalisis gejala-gejala yang terjadi, hingga mencari penyebab terjadinya perubahan yang terjadi secara drastis di anak. Ini memang memerlukan penanganan dan diskusi yang panjang, dan secara individual antara orang tua dan orang-orang terdekat anak, bahkan pihak-pihak yang mengerti psikologi si anak, akan bersama mencari jalan keluar dan mencari solusi yang terbaik. Namun yang terpenting adalah kita harus memiliki kedekatan emosional dan perhatian untuk bisa berkomunikasi dengan anak remaja kita. 

Kasus-kasus di atas memang tidak hanya dialami oleh satu atau beberapa keluarga, namun juga banyak keluarga mengalaminya. Kondisi dimana orang tua mengalami kekhawatiran, ketika anak hidup dalam lingkungan yang berbeda dengan pola asuh dan pola didik orang tua. Dengan kata lain, terhadap kondisi ini, diperlukan solusi tuntas yang mampu menyelesaikan permasalahan anak, tidak hanya dari sisi pendekatan psikologi pada akhirnya. 

Sesungguhnya, ada 3 pilar yang setidaknya akan mampu mengatasi kegelisahan orang tua ketika dihadapkan pada hal ini. Yang pertama, orang tua hendaknya sejak dini menanamkan ketaqwaan individu terhadap anak, hingga akhirnya anak akan mampu ‘mengontrol’ dirinya. Ketaqwaan yang dimaksud disini adalah bagaimana anak memiliki perasaan takut terhadap Tuhannya, kapanpun dan dimanapun. Disini diperlukan pembinaan aqidah dan tsaqofah Islam sejak dini, yang akan membentuk kepribadian si anak menjadi kepribadian Islami, yang nantinya akan menjadi pondasi awal bagi anak ketika melangkah ke fase hidup berikutnya.

Selanjutnya adalah lingkungan yang mendukung perkembangan anak. Lingkungan yang dimaksud disini tentunya bukan lingkungan yang rusak dan secara perlahan mengikis kepribadian anak, namun yang diharapkan sejatinya adalah lingkungan yang mendukung kepribadian anak, lingkungan yang khas, dimana masyarakatnya memiliki perasaan, pemikiran, dan aturan yang sama, sehingga anak akan memiliki controlling yang kuat, meski jauh dari kedua orang tuanya. Pilar yang ketiga adalah adanya dukungan dari negara yang menerapkan hukum-hukum positif (baca: hukum-hukum yang berasal dari Alloh sang Pencipta), yang akan tegas mengatur perkara-perkara kriminal seperti pencurian, pembunuhan, narkoba, dan berbagai perkara lain yang mengancam generasi muda (remaja).

Shinta Rini 
(*) disampaikan dalam Kajian Muslimah Antar Negara (Mutiara); Sabtu, 20 Agustus 2011

Minggu, 22 November 2015

Paris dan Kebangkitan yang Rendah Hati

Apa yang hari-hari ini terjadi di Eropa, barangkali tak terbayangkan oleh laksamana-laksamana penjelajah samudera, serikat dagangnya, para gubernur jenderal, dan raja-raja serta pemerintahan mereka yang sejak lima abad lalu bersimaharajalela mengangkuti berbagai hasil bumi dan sumber daya dunia timur. Semula rempah sahaja; lalu emas dan perak, kopi dan gula, vanili dan jarak, barang tambang dan minyak, bahkan manusia yang diperbudak.

Pada beberapa bangsa, kebudayaan dan sejarahnya turut terenggut; peradabannya musnah.

Mari bayangkan benua jelita yang nantinya dinamai Amerika, dengan penduduk asli yang sebelum kedatangan Columbus, Vespucci, Cortez, dan Pizzaro diperdebatkan sejarawan dengan angka mencengangkan; antara 12, atau 30, atau 50, atau bahkan 110 juta orang. Atau lihatlah Australia, dengan Aborigin yang sebelum kedatangan James Cook dan Flinders diperkirakan berada di kisaran 8 hingga 20 juta orang. Dan kini, puluhan ribu saja sisanya.

Keganasan penjajahan barat amat mengerikan.

Nusantara barangkali termasuk yang beruntung. Ia bukan 350 tahun dijajah, melainkan tiga setengah abad melawan penjajahan. Salah satu yang membuat bangsa ini bertahan tanpa dapat dibantah adalah Islam. Atas berkat rahmat Allah, abad sebelum kedatangan Magelhaens, D’ Albuquerque, dan Cornelis De Houtman adalah abad yang dipenuhi pekik gelora syahadat secara hampir merata di Nusantara. Maka sebagaimana banyak bangsa muslim lain di Afrika dan Asia, Islam telah menjadi ruh perlawanan yang tak dapat dipadamkan oleh para penindas dari Eropa.

Tapi tentu saja, penjajahan yang dirasakannya juga amat perih hingga ulu hati.

Barangkali melihat negara-negara yang tergabung dalam persemakmuran Britania hari ini, ada yang berkata, “Andai saja kita dijajah Inggris, bukan Belanda.” Tapi sesungguhnya, nestapa yang ditinggalkan negerinya Richard The Lionheart bagi kita tak banyak berbeda. Izinkan saya memberi contoh dengan bulan Juni 1812 yang kelam, ketika bombardemen artileri pasukan Inggris selama 4 hari 3 malam di bawah komando Kolonel Robert R. Gillespie menghancur-leburkan Benteng Baluwarti Yogyakarta terutama di sisi utara hingga timur serta meremuk dan membakar bagian luas dari kraton dan kota yang indah ini.

Sebakda itu, penjarahan oleh Legiun Infanteri ke-14 (Buckinghamshire) dalam bulan Juli yang bahkan melibatkan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, nyaris menghabiskan semua hal berharga dari Yogyakarta; emas dan perak dalam jumlah mencengangkan, pusaka-pusaka Kraton, naskah-naskah tak ternilai, aneka perhiasan, bahkan sampai kancing baju Sultan Hamengkubuwana II yang terbuat dari berlian tak luput dipreteli ketika beliau ditodong senjata di kiri, kanan, dan belakang kepala sebelum dilucuti dan dibuang ke Penang.

Daftar itu akan sangat panjang mendereti negara-negara Eropa masa kini dengan jajahan mereka dari zaman ke zaman, bukan hanya dengan kisah perampasan tapi juga pembantaian. Inggris punya 94 negeri dan wilayah jajahan, sementara Spanyol membentangkan penzhalimannya dari ujung selatan Amerika hingga tengah dan seberang Pasifik. Belanda mengangkangi Suriname di Amerika, Nusantara di Asia, hingga Afrika Selatan; adapun Perancis, Italia, dan Jerman seakan berlomba mengeruk kekayaan Afrika dan sebagian Asia Barat.

Dan hukum kesejarahan berlaku; ke mana sumber daya mengalir dan mengendap menjadi kemakmuran, ke sanalah berduyun-duyun manusia menuju.

Hampir lima abad lamanya Eropa menumpuk sumber daya dari timur dan mengendapkannya menjadi kristal-kristal kemilau yang mencahayakan peradabannya. Dengan kelimpahan itu mereka membangun katedral menjulang, istana megah, jalan-jalan lebar, pelabuhan besar, serta tentara yang ampuh. Dengan itu pula mereka menyusun filsafat, kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi tinggi, dan berbagai nilai yang mereka jajakan dengan semangat seakan ianya puncak keadaban insan; demokrasi, liberalisme, dan sekularisasi.

Sementara itu di bentang bumi dari Maroko hingga Merauke yang terrampok, gelap kian pekat setiap harinya. Kemiskinan dan kebodohan yang diwariskan para penganiaya Eropa, ditambah kepemimpinan penindas dari bangsanya sendiri yang masih mewarisi kelaliman penjajah, pula perang saudara yang masih menjadi permainan sebagian kekuatan Barat, lengkaplah sudah alasan berjuta manusia dari berbagai bangsa itu; Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, Turki, Lebanon, Suriah, Somalia, Ethiopia, Nigeria, Afghanistan, Pakistan, India, dan Bangladesh, berbondong mereka hendak berbagi ruang hidup dengan bangsa-bangsa Eropa yang moyangnya pernah mencekikkan penindasan pada leluhur mereka.

Bukan. Ini bukan pembalasan. Ini hanya gemericik arus orang yang secara alami membuntuti derasnya aliran sumber daya yang menopang hidup ummat manusia sejagat. Para penduduk Eropa yang merasa asli dapat menyebutnya pengungsi, atau imigran. Tapi keberadaan mereka tak terelakkan.

Tiada pengambilan yang tak ditagih. Tiada ketamakan yang tak dibayar.

Kemudian kaum pendatang itu jumlahnya tumbuh berlipat melampaui bangsa-bangsa Barat yang sayangnya justru sedang bersorai meninggalkan lembaga pernikahan dan keluarga serta mengesahkan perkawinan sejenis. Sebuah kekhawatiran atas peta kependudukan kian mencekam Eropa. Barangkali, beberapa dasawarsa ke depan, wajah Jerman sudah lebih banyak yang mirip Mesut Ozil dibanding Angela Merkel, wajah Perancis lebih jamak seperti Karim Benzema daripada Francois Hollande, begitu pula negara di sekitarnya.

Warga Eropa sedang diuji atas nilai-nilai yang mereka gemakan sendiri sejak Revolusi Perancis; kebebasan, persamaan, dan persaudaraan.

Akankah nilai-nilai tentang hak asasi bagi setiap insan, persamaan yang tak membedakan asal, warna kulit, dan bahasa, juga persaudaraan kemanusiaan yang melampaui batas kebangsaan menang di hadapan ego untuk mendaku “asli”, merasa “pribumi”, serta menganggap mereka yang datang sebagai gangguan, ancaman, bahkan teror?

Tentu saja, kaum muslimin sebagai bagian terbesar dari para pendatang itu juga harus menghadapi tantangan dan menjawab ujian yang lebih rumit lagi. Prof. Tariq Ramadhan mengistilahkannya sebagai bagaimana menjadi ‘Muslim Eropa’. Yakni muslim yang teguh dengan tsawabit-nya, nilai dasar yang tetap sebagai muslim dalam ‘aqidah, ibadah, dan mu’amalahnya; tapi mampu menyesuaikan yang mutaghayyirat, nilai-nilai dalam ekspresi intelektual, sosial, dan kebudayaan yang sesuai dengan lingkungan barunya di belahan bumi barat.

Bahkan dalam tuntutan agamanya, kaum muslimin sudah seharusnya bukan hanya menyesuaikan diri; melainkan datang untuk menjawab berbagai krisis yang sedang dialami oleh warga Eropa. Dan saya melihat itu, salah satunya, pada sesosok Imam muda di Newcastle, Abdul Basith yang amat ramah dengan proyek Masjid Pusat Newcastle-nya yang padat nilai dakwah dan program anak-anak muda yang didukungnya dalam IDC, Islamic Diversity Center.

Beliau dikenal masyarakat dan pemerintah Newcastle dengan inisiatif sosialnya yang dahsyat seperti kerja bakti muslimin membersihkan lingkungan dari sampah, mengeruk salju di musim dingin, mengenalkan Islam ke murid-murid sekolah, membuka Da’wah Stall di area publik, kunjungan kasih ke Panti Jompo, memerankan tokoh superhero dan mendatangi anak-anak yang dirawat di rumah sakit untuk menghibur mereka, menyelenggarakan aksi donor darah rutin, dan menggalang dana bagi para pasien kanker. Berbagai hal ini membawa IDC, yang di antara aktivisnya ada Daniel Johnson, muslim bule nan bersemangat, beberapa kali meraih penghargaan dari Mayor Councillor.

Dan kini beliau amat bersemangat membangun Masjid yang diharapkan benar-benar menjadi inspirasi peradaban. Akan ada di sana Youth Center dengan segala fasilitas olahraga serta kreativitas, taman yang hijau hingga atap masjidnya, sistem yang hemat energi, ruang-ruang belajar yang nyaman, perpustakaan lengkap, pusat konsultasi, penyediaan kebutuhan untuk para homeless, dan lain sebagainya.

Saya berbincang dengan beliau pekan ini; dan memahami sebuah hal penting. Kita tidak dapat menunggu para warga Eropa mengerti dengan sendirinya bahwa kedatangan kaum muslimin yang berbagi ruang hidup dengan mereka bukanlah ancaman. Kita harus segera menunjukkan pada mereka bahwa muslim sebagai para peneladan Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam benar-benar adalah rahmat bagi semesta alam. Maka kedatangan seorang muslim ke sebuah negeri seperti Inggris sebagaimana dialaminya, seharusnya digegas untuk menjadi keberkahan bagi siapapun di sekitarnya.

Maka Imam Abdul Basith, masjidnya, dan IDC adalah cinta yang hangat bagi kesepian yang dialami para jompo; adalah cinta yang ceria bagi anak-anak yang dirawat di Rumah Sakit; adalah cinta yang mengalir bagi mereka yang memerlukan darah sebab sukarnya menemukan donor yang layak karena tato, HIV, atau sebab lainnya; adalah cinta yang bersih bagi lingkungan yang sampah dan saljunya dia bersihkan.

Biarlah warga Eropa menginsyafi kembali bahwa nilai-nilai yang diyakininya tentang kebebasan, persamaan, dan persaudaraan; bukan hanya berarti mereka harus menerima beban dari para pengungsi muslim yang datang untuk menghindarkan diri dari nestapa di negeri mereka, melainkan juga berarti terbukanya pintu-pintu rahmat Allah bagi semesta.

Saya berdoa agar Allah kian memperbanyak dai-dai di Eropa yang sebagaimana beliau; menampakkan hakikat seorang muslim-mukmin yang aman, bukan membahayakan; ramah, bukan mengancam; dan bermanfaat, bukan membebani. Inilah kebangkitan yang rendah hati.

Nubuwwah Nabi tentang futuhnya Eropa harus kita perjuangkan untuk digenapi, barangkali bukan dengan kejumawaan tepuk dada dan sesumbar bahwa kita akan menaklukkannya dengan senjata. Betapa indahnya mereka yang menginsyafi kebenaran lalu dengan tangan-tangannya sendiri meruntuhkan berhala-berhala yang selama ini disembah dan dipujanya, untuk beralih kepada Allah dan RasulNya yang telah membentangkan rahmat dan pengampunan bagi mereka. Seperti yang terjadi pada Fathu Makkah.

“Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah. Maka bertasbihlah memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat.” (QS An Nashr [110]: 1-3)

Semoga Allah mengampuni kita yang masih lemah dalam menjadi penghantar hidayah. Semoga Allah mengampuni kita yang belum dapat mengerahkan segenap sumber daya untuk dakwah. Semoga Allah mengampuni kita yang terus mencoba mengikhlaskan niat di dalam meneladani Rasulullah untuk membawa kabar gembira, memberi peringatan, menyeru ke jalanNya, dan menjadi pelita yang mencahayai.

Tantangan dakwah ke depan di Eropa masih begitu banyak. Kita berduka atas apa yang baru-baru ini terjadi di Paris, korban-korban yang terbunuh bukan atas kesalahan mereka secara langsung, beserta dampaknya bagi muslimin Eropa yang di beberapa tempat mulai dilihat dengan tatapan kebencian lagi, juga pada para da’i Eropa yang akan harus berbusa-busa menjelaskan berbagai hal. Tapi siapapun dalang keji di balik hal ini dan segala kepentingan jahat yang memanfaatkannya nanti, semoga Allah menjadikannya pintu dakwah yang kian menumpahruahkan berkah.

Ditulis di Nottingham, kota keberangkatan Pasukan Salib ke-4.

Sabtu, 21 November 2015

Sehelai Rambutmu Lebih Mulia dari Jubah Ulama

Suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal rohimahulloh dikunjungi seorang wanita yang ingin mengadu.

“Ustadz, saya adalah seorang ibu rumah tangga yang sudah lama ditinggal mati suami. Saya ini sangat miskin, sehingga untuk menghidupi anak-anak saya, saya merajut benang di malam hari. Sementara siang hari saya gunakan untuk mengurus anak-anak saya dan menyambi sebagai buruh kasar di sela waktu yang ada.

Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan merajut itu saya lakukan apabila sedang terang bulan.”

Imam Ahmad rohimahulloh menyimak dengan serius penuturan ibu tadi. Perasaannya miris mendengar ceritanya yang memprihatinkan.

Dia adalah seorang ulama besar yang kaya raya dan dermawan. Sebenarnya hatinya telah tergerak untuk memberi sedekah kepada wanita itu, namun ia urungkan dahulu karena wanita itu melanjutkan pengaduannya.

“Pada suatu hari, ada rombongan pejabat negara berkemah di depan rumah saya. Mereka menyalakan lampu yang jumlahnya amat banyak sehingga sinarnya terang benderang. Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera merajut benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu.

Tetapi setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah hasilnya halal atau haram kalau saya jual?

Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu? 

Sebab, saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu saja itu tidak lain adalah uang rakyat.”

Imam Ahmad rohimahulloh terpesona dengan kemuliaan jiwa wanita itu. Ia begitu jujur, di tengah masyarakat yang bobrok akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli halal haram lagi. Padahal jelas, wanita ini begitu miskin dan papa.

Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad rohimahulloh bertanya, “Ibu, sebenarnya engkau ini siapa?”

Dengan suara serak karena penderitaannya yang berkepanjangan, wanita ini mengaku, “Saya ini adik perempuan Basyar Al-Hafi.”

Imam Ahmad rohimahulloh makin terkejut. Basyar Al-Hafi rohimahulloh adalah Gubernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya. Rupanya, jabatannya yang tinggi tidak disalahgunakannya untuk kepentingan keluarga dan kerabatnya. Sampai-sampai adik kandungnya pun hidup dalam keadaan miskin.

Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad rohimahulloh berkata,
“Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menggerogoti uang negara dan menipu serta membebani rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat seperti engkau, ibu. Sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari sela-sela jilbabmu jauh lebih mulia dibanding dengan berlapis-lapis surban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama.

Subhanalloh, sungguh mulianya engkau, hasil rajutan itu engkau haramkan? Padahal bagi kami itu tidak apa-apa, sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan negara…”

Kemudian Imam Ahmad rohimahulloh melanjutkan, “Ibu, izinkan aku memberi penghormatan untukmu. Silakan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau…”.

Diriwayatkan dari Abu Bakr ash-Shiddiq, dari Rosululloh, beliau bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ جَسَدٌ غُذِيَ بِحَرَامٍ

“Tidak akan masuk ke dalam surga sebuah jasad yang diberi makan dengan yang haram.” 
(Shohih Lighoirihi, HR. Abu Ya’la, Al-Bazzar, Ath-Thobaroni dalam kitab Al-Ausath dan Al-Baihaqi, dan sebagian sanadnya hasan. Shohih At-Targhib 2/150 no. 1730)

Jangan Cari Kekayaan, Carilah Keberkahan