Jumat, 06 September 2013

Dolanan...

Wah setelah menyaksikan anak-anak bermain riang dengan bermacam dolanan pekan kemarin, saya jadi tergerak untuk sekedar menuliskan kesan dan aturan dalam dolanan tadi. Secara sudah lama juga ya saya tidak melakukannya. Ayo bernostalgia bersama saya.

Nekeran
Ini permainan anak lelaki sekali. Jarang anak perempuan yang ikut bermain nekeran. Neker atau kelereng adalah bola-bola kecil dari kaca dengan warna yang mencolok dan bergradasi. Neker dimainkan seperti bermain bilyard, hanya tanpa tongkat. Cukup dislentik dengan tangan. Masing-masing pemain harus memasukan neker miliknya kedalam lingkaran dalam jumlah yang sama.

Yang menang adalah yang mampu mengeluarkan sebanyak neker lain keluar lingkaran dengan menylentikan neker yang dipegang. Puas rasanya jika bisa memborong semua neker yang ada, dan memasukkan kedalam kaleng bekas sebagai bukti kepiawian nylentik neker.



Jamuran
Sebaliknya dengan nekeran, jamuran umumnya dimainkan oleh anak perempuan. Jarang ada anak laki-laki di zaman saya yang mau ikut jamuran. Biasanya anak-anak perempuan memainkan jamuran saat malam tiba, setelah selesai setoran ngaji di langgar sambil menunggu sholat Isya tiba.

Permainannya sederhana saja. Peserta membentuk lingkaran sambil bergandengan tangan, berjalan berputar dan menyanyikan lagu jamuran. Satu diantara peserta berada di tengah dan menjadi penjaga. Setiap selesai menyanyi, penjaga berhak menentukan jenis jamur apa yang akan diikuti dengan gerakan tertentu yang sudah familiar. Penjaga berhak melakukan tindakan kepada peserta lain entah dengan menggelitik, meniup mata dsb sampai ada yang tidak kuat lagi, dan menjadi peganti jaga.

Cublak-Cublak Suweng
Dolanan ini juga sama dengan jamuran. Pengisi kegiatan malam seusai setoran ngaji. Lebih banyak pemain lebih ramai. Biasanya dimainkan anak perempuan walau anak laki-laki juga boleh ikut.

Seorang penjaga yang ditentukan dengan hompimpah mengambil sikap sujud. Kemudian pemain lainnya memutari penjaga, meletakkan satu atau dia tangan di atas pemain penjaga dan mulai bernyanyi cublak-cublak suweng. 

Selama bernyanyi mereka  memutarkan satu biji kerikil ke setiap tangan ke tangan yang lain. Kemudian begitu nyanyian selesai, semua pemain menggengamkan tangannya masing-masing. Pemain penjaga bangkit dan menebak siapa yang memegang kerikil. Pemain yang ketahuan ketebak memegang kerikil, gantian menjadi penjaga, begitu terus sampai bosan.

Dakon
Dolanan ini juga jenis dolanan anak perempuan. Cara mainnya adalah dengan memainkan sejumlah biji dakon, yang umumnya terbuat kerang atau biji-bijian. Hanya saja jika malas atau tidak punya, cukup dengan mengumpulkan kerikil kecil-kecil yang ukurannya sama.

Selain biji dakon, juga dibutuhkan alat penyimpanan yang memiliki lubang-lubang. Ada tujuh lubang milik setiap pemain. Tujuh lubang permainan dan satu lubang penyimpanan. Namun jika tidak punya alat khusus, ya tidak apa-apa. Cukup dibuat tumpukan biji dakon ditumpuk jadi satu dengan jarak tertentu agar tidak saling bertumpuk satu dengan tumpukan lainnya.
Pemain secara bergiliran memasukan biji-biji dakon dari satu lubang ke lubang berikutnya hingga seluruh biji habis, dan hanya tersisa di lubang simpanan. Pemain yang menang adalah yang mampu mendapatkan biji terbanyak dengan jalan menghitung bersama jumlah dakon yang ada di lubang simpanan masing-masing.

Dengan bermain dakon ini, secara tidak langsung anak-anak belajar berhitung dan memainkan strategi agar dapat menjadi pemenang.

Bekelan
Dolanan ini jenis dolanan untuk melatih ketrampilan tangan. Biasa dimainkan oleh anak perempuan. Alatnya adalah bola bekel seukuran telor ayam kecil terbuat dari karet dengan bentuk warna-warni dan enam biji bekel yang biasanya terbuat dari besi atau kuwuk alias kerang yang telah dipernis sehingga meling-meling.

Cara memainkannya adalah dengan memantulkan bola sambil mengambil biji bekel satu persatu. Mulai dari satu biji, dua biji, tiga biji sekaligus dan seterusnya. Dari mulai biji bekel mlumah sampai biji bekel tengkurap terus menerus sampai habis. Aturan mainnya hanya satu, jangan sampai tidak mampu menangkap bola lagi selagi mengambil bola bekel. Gagal, ganti pemain.

Jika satu pemain sudah selesai atau mandeg karena gagal mengambil bola dengan waktu tepat, ya tinggal ganti pemain saja. Tidak ada aspek kompetisi, ya cuma buat bermain ketrampilan saja.


Engklek
Dolanan ini juga jenis permainan ketrampilan. Caranya pemain harus melompati kotak-kotak permainan berbentuk pesawat dengan delapan hingga sembilan kotak, dengan menggunakan satu kaki (engklek).

Alat permainan ini hanyalah sebuah gaco, yang umumnya terbuat dari pecahan genteng, serta kotak permainan yang umumnya dibuat dengan membuat garis batas di tanah. Cukup dengan ranting, tanda kotak engklek pun siap digunakan.

Anak-anak biasanya memilih gaco-nya andalannya agar mudah ketika dilempar kedalam kotak permainan. Biasanya gaco diambil dari genteng yang cukup tebal sehingga mulus ketika dilempar.

Permainan dimulai dengan hompimpah untuk menentukan siapa yang akan bermain terlebih dahulu. Kemudian pemain yang menang hompimpah melemparkan gaconya mulai melompat dari kotak pertama, engkek hingga kotak paling ujung, berbalik dan mengambil gaconya.

Syaratnya, pemain tidak boleh menginjak kotak mati atau kotak yang terdapat gaco, baik gaconya maupun gaco orang lain. Kehandalan permainan ditunjukkan dari kemampuannya engklek atau melompat meski harus melompati beberapa kotak mati sekaligus dan melempar gaco dengan tepat tidak melewati garis permainan.

Pemenang engklek adalah dia yang mampu melempar hingga kotak terakhir dan kembali dengan selamat. Jika dia menginjak garis atau gagal melempar gaco ke kotak sasaran tanpa menyentuh garis, maka harus berganti dengan pemain selanjutnya.

Seru, meski kurang menantang juga. Sekedar lompat-lompat sihh…


Lompat Tali
Permainan ini sederhana. Mirip skiping. Yak betul melompat dengan tali. Sedikit bedanya, lompat tali bisa dimainkan secara rombongan dan berkelompok. Zaman dulu tidak ada tali khusus untuk permainan ini. Bisanya terbuat dari karet gelang yang diuntai hingga bisa membentuk tali panjang atau cuma dengan debog eh batang pisang yang diikat.

Tali dipegang oleh dua orang, sementara pemain lainnya dapat melompat secara bersamaan. Serunya, jika salah seorang pelompat bisa melompat setelah tali diputar. Semakin banyak pemain yang melompat semakin seru juga, karena membutuhkan kekompakan.




Delikan
Ini adalah dolanan paling popular dari dulu sampai sekarang, dan di belahan bumi manapun. Nama lainnya adalah hide and seek. Alias sembunyi dan cari. Saking terkenalnya bisa masuk iklan di sebuah produk pengharum lantai. Pernah lihat bukan?

Atau cobalah melihat tayangan kartun anak-anak produksi berbagai Negara. Pasti dalam salah satu episodenya akan ditemukan permainan hide and seek ini. Semisal Upin-Ipin (Malaysia), Pororo (Korea), Pocoyo (UK), Mickey Mouse (Disney) dll.

Delikan adalah dolanan dimana ada satu orang penjaga yang ditentukan dengan jalan hompimpah. Yang kalah bertugas jaga dan harus menutup mata selama waktu yang disepakati untuk membiarkan pemain lainnya mencari tempat persembunyian yang oke, semisal dengan menghitung mundur.

Kalau zaman dulu, cukup teriak “wis durung?”. Jika pemain lain sudah balas teriak “wis” ya berarti waktunya untuk mencari. Jika semua pemain sudah ketemu, kemudian penjaga berganti. Penggantinya adalah pemain yang berhasil ditemukannya.

Permainan ini seru jika dilakukan malam hari dan area permainan yang disepakati luas. Semakin luas semakin heboh karena dituntut untuk semakin teliti dan sigap. Di kampung, anak-anak bermain delikan jika musim Romadhon tiba atau jika hari libur. Sambil menunggu orang tuanya selesai ngaji di Masjid, anak-anaknya heboh bermain delikan.


Egrang
Dolanan yang mengandalkan ketrampilan berjalan dengan menggunakan bambu. Semakin tinggi bambu, semakin menantang. Dolanan ini biasanya bersifat kompetisi dimana para pemain dituntut untuk paling cepat berjalan menggunakan egrang dari titik start hingga finish.

Egrang adalah bambu yang di bagian tertentu dibuat lubang dan ditambahkan bambu lain sebagai dasar pijakan kaki. Ketika bermain egrang ini seperti pemain sirkus sedang beraksi. Pemain harus naik di atas egrang dan berjalan dengan ketinggian setidaknya 30 cm dari atas tanah. Semakin tinggi egrang, semakin menantang.

Agar semakin seru, terkadang dalam perlombaan ditambah rintangan. Harus melewati tali, atau lubang. Melewati jalan yang berpasir atau menanjak. Dituntut skill untuk menjaga keseimbangan dengan baik. Jika tidak siap-siap... buk, jatuh.
Selain egrang dari batu, ada juga egrang batok atau tempurung sama. Cara mainnya sama. Pemain harus menggunakan batok bertali sebagai pengganti sendal. Meski tidak tinggi, tetap saja tidak mudah berjalan dengan batok di kaki.


Gobak Sodor
Dolanan ini adalah jenis permainan berkelompok jumlah pemainnya bebas, namun semakin banyak semakin asyik. Permainan ini mengandalkan kerjasama tim yang baik. Di Jogja disebut dengan ber-beran, karena semua pemain seperti harus terbang (bleber) untuk menghadang.

Cara bermainnya adalah setiap kelompok harus memenangkan permainan dengan melewati sejumlah pemain lawan dari ujung lapangan hingga ujung satunya dengan selamat, tidak tersentuh tangan dari pemain lawan.

Sebelum bermain, setiap anak akan membentuk dua kelompok. Siapa ikut kelompok mana bebas. Setelah itu perwakilan team suit dengan perwakilan kelompok lainnya. Yang kalah suit menjadi penjaga.

Kelompok yang berjaga akan memenuhi kotak-kotak penjagaan. Ada yang berbentuk persegi panjang dibuat 4 kotak. Kalau ditempat saya bentuknya garis berbanjar ke belakang. Cukup dengan menaruh sandal dari satu sudut ke sudut lainnya, sudah siap lah kotak permainnya.

Serunya permainan ini adalah, kelompok yang bermain harus mampu meloloskan semua anggotanya dengan selamat hingga melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik. Jika ada yang tersentuh oleh pemain penjaga, permainan berakhir dan berganti kelompok.


Minggu, 01 September 2013

Jangan Tertipu pada Zhohir Kemuliaan

Merujuk ukuran kebaikan pada arahan Alloh dan jalan hidup Rosul-Nya adalah keinsyafan mulia yang kadang menyesakkan dada. Seperti yang dilakukan ‘Umar ibn Al-Khoththob ketika bergunung-gunung harta Kemaharajaan Persia kilau-kemilau memenuhi Madinah.

Semua mengucap selamat dan doa-doa indah atas keberhasilannya menggelorakan jihad, meninggikan kalimat Alloh, memakmurkan Muslimin. Tetapi di pojok sana, Sang Kholifah menangis tersedu-sedu. Di hamparan intan, emas, dan segala benda mewah, air matanya tumpah.

“Mengapa kau menangis, hai Amirul Mukminin?” tanya seorang sahabat, “bukankah Alloh telah bukakan keberkahan langit dan bumi bagi ummat ini melalui tanganmu?”

Maka ‘Umar mendongak dengan mata memerah dan pipi basah, “Dusta! Demi Alloh, ini dusta! Demi Alloh, bukan begitu! Sebab andai semua ini kebaikan,” ujarnya menunjuk tumpukan berlian dan emas kencana, “mengapa ia tak terjadi di zaman Abu Bakr; juga tidak di zaman Rosululloh? Maka demi Alloh, ini semua pasti bukan puncak kebaikan!”

Sungguh pandangan jernih, harta berlimpah itu bukan kebaikan. SEBAB jika ia KEBAIKAN, harusnya terjadi pada ORANG TERBAIK. Sedang sabda Nabi adalah benar, “Sebaik-baik kurun adalah masaku, kemudian yang berikutnya, kemudian yang mengikutinya.” Maka adakah hari ini kita menimbang kebaikan yang melimpahi dengan ukuran orang-orang terbaik; soal rezeki, ibadah, dan dakwah?

Indah direnungkan sejenak, keluarga, pekerjaan, jabatan, kekayaan, kemasyhuran kita; apakah ia baik di sisi para teladan? Sungguh kurun terbaik bakda Nabi; senada ‘Umar; panglima penakluk Persia yang melimpahi Madinah dengan harta berpendapat sama. Sa’d ibn Abi Waqqosh namanya; sang singa yang menyembunyikan kukunya; menitik air matanya ketika memasuki Balairung Kisra.

Melihat megah pilar anggun mahligai, gemerlap singgasana, dan mahkota berjejal permata; Sa’d lirih melantun firman-Nya (Surat Ad-Dukhoon ayat 25-29). Betapa banyak taman-taman dan mata air yang mereka tinggalkan. Juga kebun-kebun bertanaman dan tempat indah nan mulia (ayat 25-26). Dan kesenangan yang mereka berlezat menikmatinya. Demikianlah, Kami wariskan semua itu pada kaum yang lain (ayat 27-78). Maka langit dan bumi tak menangisi mereka; dan tiadalah mereka diberi tangguh (ayat 29). Deras air mata Sa’d mentilawah Surah Ad-Dukhoon.

Begitulah, kebaikan harus kita tanyakan pada para insan terbaik, seperti Abu Bakr yang menangis kala sahabat lain gembira. Surah An-Nashr; dibaca oleh umumnya sahabat sebagai tibanya kemenangan, jayanya agama Alloh, gempitanya insan berislam. Tetapi tidak bagi Abu Bakr, ia malah berduka mendalam; selesainya tugas Rosul, wafatnya beliau, terputusnya wahyu, dan dimulainya kemunduran. Maka selalu ada pesan tersembunyi yang mengoyak batin di tiap hal yang pada zhohirnya dipandang manusia sebagai kejayaan.

Bahkan bagi sang Nabi, seperti terpampang dalam ayat yang baru kita sebut: Jika datang pertolongan Allah dan kemenangan dan kamu lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Alloh. Betapa manisnya, betapa indahnya, betapa mulianya. Telah tiba waktu memetik buah dari perjuangan yang getir dan pilu; dari dakwah beliau yang berkuah keringat, darah, dan air mata. Tetapi kalimat berikutnya menyentak kesadaran; halus dan tajam, “Maka bertasbihlah memuji Robbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.”

Maka pesan rangkaian rericau ini sederhana; mari tak tertipu pada zhohir kemuliaan dengan selalu bertasbih dan beristighfar.


Sumber: Menyimak Kicau Merajut Makna; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Rabu, 21 Agustus 2013

Ketika Alloh ‘Menampar’ Kita dengan Mesir dan Suriah

Kita membaca tarikh dan musuhpun menyimak sejarah; Al-Aqsho dan Palestina selalu dibebaskan dari paduan dua arah; Mesir dan Suriah. Ini pertarungan.

Kholid dari arah Suriah dan ‘Amr ibn Al-‘Ash dari arah Mesir; maka Alloh memilih Abu ‘Ubaidah membebaskan Al-Aqsho dan ‘Umar menerima kuncinya.

Setelah mengambil-alih Mesir dari kebobrokan Fathimiyah dan mewarisi Nuruddin Mahmud Zanki di Suriah; Sholahuddin Al-Ayyubi membebas Al-Aqsho.

Maka hari ini; kaum Muslimin yang sempat tersenyum oleh Mursi di Mesir dan menaruh harap pada Mujahidin di Suriah; harus lagi memanjang sabar.

Banyak kepentingan yang belum merelakan dua negeri ini menjadi pangkalan perjuangan agar Ummat kembali dapat sholat dan beri’tikaf di Al-Aqsho.

Hendaknya lalu kita tahu; kepedulian soal Mesir dan Suriah bersatumuara ke iman kita, cinta kita, rindu kita; tuk menziarahi Al-Aqsho merdeka.

Hari-hari ini Mesir gegap gempita; “Suara damai ini lebih tajam dari peluru; tekad kami lebih baja dari senjata”; maka Alloh menguji mereka.

Alloh menyiramkan darah agar bumi Mesir subur; mengambil syuhada’ agar anak-anak sejarah tahu betapa mahal dan berharga apa nan diperjuangkan.

Juga sejak dua tahun sebelumnya; Suriah telah membayarkan 100.000 nyawa; tapi mata dunia belum utuh terbuka bahwa musuh kemanusiaan ini nyata.

Maka hari ini; jika puasa terasa melemahkan; jika tarawih melelahkan; jika tilawah memayahkan; mari menatap sejenak ke arah Mesir dan Suriah.

Sebab mereka nan mewakili kita di garis depan iman; dibakar musim panas, direpotkan hajat, dicekam ancaman, disuguhi besi dan api; tapi teguh.

Mereka nan darahnya mengalir dengan tulang pecah; tapi tak hendak membatalkan shoum sebab ingin syahid berjumpa Robbnya dalam keadaan puasa.

Mereka gadis-gadis belia yang menulis nama di tangannya; agar jika syahadah menjemput dan jasad remuk tiada yang susah bertanya siapa namanya.

Hari ini ketika kolak dan sop buah tak memuaskan ifthor kita; tataplah sejenak ke negeri yang kucing pun jadi halal karena tiadanya makanan.

Hari ini sungguh kita ditampar Alloh dengan Mesir; dengan kepahlawanan mereka nan lebih suka bertemu Alloh daripada hidup membenarkan tiran.

Hari ini sungguh kita ditampar Alloh dengan Suriah; ketika kisah ibu yang memasak batu dan menidurkan anaknya dalam hujan peluru adalah fakta.

Sebab mungkin 60 tahun penjajahan kiblat pertama, masjid suci ketiga, dan penzholiman atas ahlinya belum utuh mencemburukan hati imani kita.
[Sumber: @salimafillah]

Download Link | [Mediafire]
File Size | 51.06 MB
File Type | PDF

Sejarah Mengajarkan Berterima kasih

Bagi tiap orang zholim yang perkasa; Alloh selalu hadirkan pejuang gigih. Tapi Dia Maha Kuasa mengakhiri dengan hal kecil dan sederhana.

Bagi Fir’aun yang merasa kuasa mengalirkan Nil dan memperbudak Bani Israil; ada Musa tak putus asa. Tapi airlah yang mengakhiri si raja.

Bagi Namrud yang menyatakan mampu menghidupkan dan mematikan; ada Ibrohim mendebatnya. Tapi nyamuk saja yang menjadi sebab khotamnya.

Bagi gegap gempita kepungan pasukan Ahzab; ada keteguhan Nabi dan para sahabat di dalam Khondaq. Tapi anginlah yang menyapu bersihnya.

Bagi Abrohah dan pasukan gajah yang pongah; ada ‘Abdul Mutholib berserah pada Alloh. Lalu batu kecil dari sijjil dilempar burung mungil.

Bagi Jalut yang kuatnya membuat takut dan kecut; ada Tholut yang diutus bersama tabut. Tapi ketapel kecil bocah Dawud-lah pembawa maut.

Maka tugas kita atas kezholiman hanya taat pada Alloh dan berteguh istiqomah. Lalu bersiaplah tuk kejutan pertolongan-Nya Yang Maha Jaya.

Download Link | [MediaFire]
File Size | 51.06 MB

File Type | PDF

Senin, 12 Agustus 2013

Buku Belajar Seni Lukis

The complete photo guide to creative painting ebook adalah sebuah buku belajar melukis yang mempelajari semua aspek dari lukisan kreatif dengan komprehensif serta bagaimana untuk membimbing! Panduan Lengkap untuk Foto Lukisan Creative, mudah mengikuti teknik untuk lukisan dengan semua jenis kerajinan dan seni rupa cat, termasuk akrilik, Oil Painting, tempera, cat air, dan pastel. Anda akan menemukan akses mudah ke informasi dengan langkah-demi-langkah petunjuk dan 700 penuh warna foto untuk pemahaman yang jelas. Galeri karya seni oleh berbagai seniman menawarkan contoh yang indah dari apa yang dapat dilakukan dengan masing-masing kategori lukisan. Menemukan tips ahli, keterampilan, dan inspirasi dengan Panduan Lengkap untuk Foto Lukisan Kreatif

Bagian dari seri The complete photo guide to creative painting ebook ini menetapkan untuk menjadi referensi utama untuk lukisan artistik. Ini mengeksplorasi semua media sehingga Anda dapat melakukan percobaan dengan cat yang berbeda. Teknik-teknik yang berbeda difoto di panduan langkah demi langkah. Serta tips, ada juga sebuah galeri untuk inspirasi lebih. Sangat berguna untuk pemula atau mereka yang tidak akrab dengan semua media lukisan yang berbeda. Ulasan ini pertama kali muncul di website review Karen Platt buku.


About Author:
Paula Guhin adalah seorang mantan pendidik, seniman visual, fotografer, dan penulis Lem yang populer Glorious, Seni dengan Perekat (JW Walch) dan Bisakah Kita Makan Art? (Publikasi Insentif). Artikel telah muncul di Sekolah Seni, Instruktur, Pengajaran Today, dan majalah banyak lagi. Dia juga merupakan editor kontribusi untuk Seni dan majalah Kegiatan.

Geri Greenman, seorang guru seni SMA selama tiga puluh tahun, mendapat kehormatan dengan Penghargaan Prestasi Posisi oleh rekan-rekannya. Dia adalah seorang finalis untuk Kohl Delores (International) Outstanding Service di Bidang Pendidikan penghargaan, seorang calon untuk Golden Apple, dan terdaftar dalam Siapa Siapa di antara Guru Amerika. Geri Greenman telah menulis untuk Seni dan majalah Kegiatan selama 24 tahun, seorang editor selama 10 tahun, dengan 100 artikel yang diterbitkan.

Ebook Painting Detail:
Title: The complete photo guide to creative painting
Author: Paula Guhin, Geri Greenman
Paperback: 224 pages
Size: 25 MB 
Publisher: Creative Publishing international (November 1, 2010)
Language: English
ISBN-10: 1589235401
Download: Mediafire
Password: paceko


Minggu, 11 Agustus 2013

Sebuah Kenangan Atas Cinta

Tiap pahlawan punya kisahnya sendiri.

Di perang Uhud, ketika tubuhnya memerisai Rosululloh dan tujuh puluh luka berlomba menguras darahnya, Tholhah ibn ‘Ubaidillah berdoa sambil menggigit bibir. “Robbii”, begitu lirihnya, “Khudz bidaamii hadzal yauum, hattaa tardhoo. Ya Alloh, ambil darahku hari ini sekehendak-Mu hingga Engkau ridho.” Tombak, pedang, dan panah yang menyerpih tubuh dibiarkannya, dipeluknya badan sang Nabi seolah tak rela seujung bulu pun terpapas.

“Kalau ingin melihat syahid yang masih berjalan di muka bumi?”, begitu Sang Nabi bersabda, “Lihatlah pada Tholhah”. Dan Tholhah, yang jalannya terpincang, yang jarinya tak utuh, yang tubuhnya berlumur luka tersenyum malu dan menitikkan air mata. Terlihatlah di pipinya bening luh itu, mengalir di atas darah yang mengering merah.

Tetapi tiap pahlawan punya kisahnya sendiri.

Satu hari ia berbincang dengan ‘Aisyah, isteri sang Nabi, yang masih terhitung sepupunya. Rosululloh datang, dan wajah beliau pias tak suka. Dengan isyarat, beliau Shollalloohu ‘Alaihi wa Sallam meminta ‘Aisyah masuk ke dalam bilik. Wajah Tholhah memerah. Ia undur diri bersama gumam dalam hati, “Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Alloh, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar ‘Aisyah.”

Satu saat dibisikannya maksud itu pada seorang kawan, “Ya, akan kunikahi ‘Aisyah jika Nabi telah wafat.”

Gumam hati dan ucapan Tholhah disambut wahyu. Alloh menurunkan firman-Nya kepada Sang Nabi dalam ayat kelimapuluh tiga surat Al-Ahzab, “Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rosululloh dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”

Ketika ayat itu dibacakan padanya, Tholhah menangis. Ia lalu memerdekakan budaknya, menyumbangkan kesepuluh untanya untuk jalan Alloh, dan menunaikan umroh dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya. Kelak, tetap dengan penuh cinta dinamainya putri kecil yang disayanginya dengan asma ‘Aisyah. ‘Aisyah binti Tholhah. Wanita jelita yang kelak menjadi permata zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya. Persis seperti ‘Aisyah binti Abi Bakr yang pernah dicintai Tholhah.

Begitulah, tiap pahlawan punya kisahnya sendiri.

Sesudah wafatnya ‘Utsman ibn ‘Affan di tangan para pemberontak, fitnah besar itu terjadilah. Tholhah bersama Zubair ibn Al-‘Awwam dan ‘Aisyah memerangi ‘Ali ibn Abi Tholib untuk menuntut bela kematian ‘Utsman, meminta ditegakkannya keadilan atas para pembunuh ‘Utsman yang sebagiannya kini menjadi penyokong utama kekholifahan ‘Ali ibn Abi Tholib. Keadaan sangat tidak mudah bagi ‘Ali. Pilihan-pilihannya terbatas. Tholhah tahu itu. Tapi dia sendiri juga kesulitan bersikap lain di tengah kedua kubu.

Satu hari, dalam perang yang dikenal sebagai Waq’ah Jamal itu, ‘Ali mengirim utusan, memohon agar bisa berjumpa dengan kedua sahabat yang dicintainya; Tholhah dan Az-Zubair. Mereka berdua datang. Mereka bertiga berpelukan. Tak terasa air mata meleleh. Kenangan-kenangan ketika ketiganya bersipadu di sisi Rosululloh berkelebatan dengan indah. Namun kini terasa menyesakkan. Menyakitkan. Dulu pedang mereka seayun, langkah mereka sebaris, tangannya bergandengan. Kini mereka harus berhadapan saling menghunus pedang, dengan mata saling menatap tajam, tapi hati tersembilu.

Dan seolah tak ada jalan selain itu.

Sesudah menyeka air mata, ‘Ali menggenggam jemari Tholhah dan menatap dalam ke wajahnya. Dengan menghela nafas, ‘Ali mencoba menyusun kata. “Ingatkah engkau hai Tholhah, mengapa Alloh turunkan ayat tentang hijab bagi isteri Nabi dan mengapa Dia melarang kita untuk menikahi janda beliau?”

Tholhah terisak. Dadanya bergemuruh oleh malu dan sesal. Bahu kekarnya bergeletar.

‘Ali menepuk bahu Tholhah. “Ya”, katanya sambil mengalihkan pandangan, tak sanggup melihat tercabiknya batin Tholhah oleh kata-katanya. Tapi demi perdamaian dan persatuan kembali kaum Muslimin, ‘Ali mau tak mau harus mengatakan ini. Ia menguatkan hati. “Ayat itu turun karena maksud hati dan ucapanmu untuk menikahi ‘Aisyah.”

‘Ali meraba reaksi Tholhah. Lalu ia melanjutkan sambil menatap tajam pada sahabatnya itu. “Dan kini sesudah beliau Shollalloohu ‘Alaihi wa Sallam benar-benar wafat, mengapa engkau justru membawa ‘Aisyah keluar dari hijabnya dan mengajaknya mengendarai unta dan berperang di sisimu?”

Tholhah menubruk ‘Ali, memeluk dan menangis di bahunya. Hari itu mereka sepakat berdamai dan menyudahi perang saudara. Dan di hari itu pula, sepulang dari kemah ‘Ali, Tholhah, bersama Az-Zubair sahabatnya dibunuh oleh orang-orang yang tak menghendaki perdamaian. Dan ‘Ali ibn Abi Tholib dengan duka yang begitu dalam, sore itu, menggali kubur untuk kedua cintanya.

Seusai pemakaman, ‘Ali menimang putra Tholhah yang masih kecil. Kepada bocah itu dia berbisik. “Nak,’ kata ‘Ali, “Aku sungguh berharap, aku dan ayahmu termasuk orang-orang yang difirmankan oleh Alloh di Surat Al Hijr ayat keempatpuluh tujuh; “Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadapan di atas dipan-dipan.”

Sepenuh cinta,

Salim A. Fillah

http://salimafillah.com/sebuah-kenangan-atas-cinta/

Jumat, 09 Agustus 2013

Sedekah 'Tenaga' Tukang Becak Mengantar ke Tanah Suci

Pak Parman, demikian orang-orang memanggilnya. Dia hanyalah seorang tukang becak. Sudah bisa ditebak, berapa kekayaannya? Dia hanya punya tempat tinggal, dan itu pun kost di tempat yang kumuh, yang gentengnya sewaktu-waktu bisa bocor karena hujan. Meski begitu, Pak Parman memiliki budi yang sangat mulia. Kemiskinan yang merenggut kehidupannya, tidak menutup mata batinnya untuk selalu berbagi kepada orang lain.

Tapi, bukan harta yang bisa ia sumbangkan. Sebab, untuk makan sehari-hari saja sulit, apalagi berniat untuk berbagi harta kepada orang lain. Maka, yang hanya bisa dilakukan Pak Parman adalah “sedekah jasa”. Yaitu, setiap hari Jum’at ia menggratiskan semua penumpang yang naik becaknya. Ini adalah hal yang luar biasa. Tidak semua orang bisa melakukannya, apalagi orang miskin seperti dirinya. Maka, atas kebaikannya itulah, suatu “keberkahan hidup” kemudian menghampirinya.

Suatu ketika, di hari Jum’at pertama bulan Romadhon, tiba-tiba, ada orang yang kaya raya mobilnya mogok. Kebetulan, mogoknya tidak jauh dari pangkalan becak Pak Parman. Orang kaya itu pun bertanya kepada supirnya, “Pir, kalau naik becak kira-kira ongkosnya berapa, ya?”

“Paling juga dua sampai tiga ribuan,” jawab supir kepada majikannya.

Orang kaya tersebut pun memutuskan naik becak karena sebenarnya jarak dirinya dengan rumahnya sudah lumayan dekat. Maka, dipanggillah tukang becak yang ada di pangkalan tersebut dan kebetulan Pak Parman yang datang. Lalu, digoweslah becak itu oleh Pak Parman menuju rumah orang kaya tersebut. Setelah sampai di tempat, Pak Parman dikasih uang 10 ribu dan tidak usah dikembalikan. Namun, oleh Pak Parman uang itu ditolaknya.

“Kenapa Bapak menolaknya?” tanya orang kaya itu..

“Saya sudah meniatkan dari dulu, kalau setiap Jum’at saya menggratiskan semua penumpang yang naik becak saya,” jawabnya jujur.

Setelah itu, Pak Parman pun pergi meninggalkan orang kaya tersebut. Rupanya, kejadian itu sangat membekas di hati orang kaya tersebut. Orang kaya seperti dirinya saja tidak pernah sedekah, ini orang miskin malah melakukannya dengan begitu tulus. Lalu, dikejarlah Pak Parman. Setelah dapat, Pak Parman pun dikasih uang satu juta. Orang kaya itu pikir, Pak Parman akan menerimanya karena uangnya besar. Tapi, Pak Parman tetap menolaknya. Lalu, dinaikkan lagi menjadi dua juta dan tetap Pak Parman menolaknya. Alasan Pak Parman sama: dia tidak menerima uang sepeser pun di hari Jum’at untuk jasa ojek becaknya. Sebab, dia sudah meniatkannya untuk bersedekah. Subhanalloh!

Tapi, hal ini justru membuat orang kaya tersebut semakin penasaran. Maka Jum’at berikutnya (di hari Romadhon juga), orang kaya itu pun naik becak lagi. Ia sengaja meninggalkan supirnya untuk pulang ke rumah sendiri dan dia lebih memilih berhenti di pangkalan itu untuk bisa naik becak Pak Parman. Maka diantarlah orang kaya tersebut ke rumahnya oleh Pak Parman. Setelah sampai, Pak Parman pun diberikan uang yang lebih besar lagi, kali ini 10 juta. Orang kaya itu pikir Pak Parman akan tergoda oleh uang sebanyak itu. Tapi, lagi-lagi, perkiraannya meleset. Pak Parman, sekali lagi, menolak uang yang bagi dia itu sebenarnya sangat besar. Apalagi, sebentar lagi akan Lebaran dan uang itu pasti akan berguna buat dirinya dan keluarganya. Tapi, orangtua itu menolaknya dengan halus.

Kejadian ini benar-benar membuat orang kaya tersebut tidak mengerti. Kenapa orang miskin seperti Pak Parman tidak mau menerima uang sebesar itu? Padahal, uang itu bisa ia gunakan selama berbulan-bulan. Namun, rasa penasaran orang kaya itu rupanya tidak pernah berhenti. Jum’at berikutnya, dia pun naik becak milik Pak Parman lagi. Namun, kali ini ia minta diantarkan ke tempat yang lain.

“Pak, antarkan saya ke rumah Bapak,” pinta orang kaya.

“Memangnya, ada apa, Pak?” jawab Pak Parman polos.

“Pokoknya, antarkan saya saja.”

Akhirnya, Pak Parman terpaksa mengantarkan orang kaya itu ke rumahnya. Mungkin orang kaya itu hanya ingin menguji: apakah tukang becak itu benar-benar orang miskin ataukah tidak? Mereka pun akhirnya sampai di rumah Pak Parman. Betapa terkejutnya orang kaya itu, karena rumah yang dimaksud hanyalah sebuah rumah kost yang sangat jelek. Gentengnya sewaktu-waktu bisa roboh karena terpaan air hujan. Karena sangat iba melihat kejadian itu, orang itu pun merogoh uangnya sejumlah Rp. 25 juta.

“Ini Pak, uang sekedarnya dari saya. Mohon Bapak menerimanya,” pinta orang kaya kepada Pak Parman.

Apa reaksi Pak Parman? Ternyata, dengan halus dia pun tetap menolaknya. Hal ini benar-benar sangat mengejutkan orang kaya itu. Bagaimana bisa orang semiskin dia menolak uang pemberian sebesar Rp. 25 juta? Kalau bukan dia adalah lelaki yang luar biasa, yang memiliki budi yang sangat luhur.

Akhirnya orang kaya itu pun menyerah. Dia benar-benar kalah dengan ketulusan hati Pak Parman. Ia percaya bahwa apa yang dilakukan Pak Parman benar-benar tulus dari hatinya. Ia benar-benar tidak tergoda oleh indahnya dunia dan kilaunya uang jutaan rupiah. Mungkin ia satu pribadi yang langka dari 1000 orang yang ada, yang sewaktu-waktu hanya muncul di dunia. Luar biasa!

Tapi, orang kaya itu berjanji bahwa suatu saat ia akan memberikan yang terbaik buat tukang becak yang berhati mulia tersebut. Sebab, mungkin, baru kali ini hatinya terusik lalu disadarkan oleh orang miskin yang hanya seorang tukang becak. Dan waktu pun terus berlalu.

Lebaran telah tiba. Pak Parman dan orang kaya itu tidak bertemu lagi. Menjelang Lebaran Haji (Idul Adha), orang kaya itu kembali menemui Pak Parman di rumah kostnya. Kembali ia pun datang di hari Jum’at. Mudah-mudahan kali ini niatnya tidak sia-sia. Setelah mereka bertemu, di depan Pak Parman orang kaya kemudian bicara terus terang, “Pak, mohon kali ini niat baik saya diterima. Bapak dan istri serta anak Bapak akan saya berangkatkan haji ke Tanah Suci. Sekali lagi, mohon Bapak menerima niat baik saya ini?”

Pak Parman menangis di depan istri dan anak semata wayangnya. Pergi ke Makkah saja tidak pernah ia bayangkan sejak dulu, ini apalagi ia dan keluarganya akan diberangkatkan naik haji. Ini benar-benar hadiah yang sangat luar biasa dari Alloh swt. Tawaran orang kaya itu pun diterima Pak Parman dengan setulus hati.

Maka, Pak Parman dan keluarganya pun akhirnya pergi haji. Ya, seorang tukang becak yang miskin tapi memiliki hati yang sangat mulia akhirnya bisa melihat keagungan Ka’bah di Makkah al-Mukarromah dan makam Nabi Muhammad saw di Madinah. Kebaikannya dibalas oleh Alloh. Ia yang menolak satu juta, dua juta, 10 juta, hingga Rp. 25 juta, tapi Alloh menggantinya dengan haji ke Baitulloh, bersama istri dan anaknya! Jadi, berapa kali lipatkah keberkahan yang didapatkan Pak Parman karena sedekah yang ia lakukan setiap hari Jum’at? Subhanalloh!

Bahkan, tidak saja dihajikan secara gratis, Pak Parman akhirnya dibuatkan rumah oleh orang kaya tersebut. Maka, semakin berkahlah hidup si tukang becak berhati mulia itu. Dan sejak itu, Pak Parman pun bisa tinggal di sebuah tempat yang nyaman dan tidak memikirkan lagi uang untuk kost di bulan berikutnya.

Demikian kisah tukang becak yang bisa naik haji karena sedekah yang dilakukannya. Apakah kita sudah seperti Pak Parman? Dia yang miskin masih memikirkan untuk berbagi untuk orang lain, apalagi kita yang mungkin lebih mampu dibandingkan dia. Mudah-mudahan kita bisa mengikuti jejaknya, terutama dalam hal ketulusannya dalam berbagi! Aamiin.


Sumber: majalah Hidayah

Kamis, 08 Agustus 2013

Dan Bersamalah, Di Sini

malam berlalu,
tapi tak mampu kupejamkan mata dirundung rindu
kepada mereka
yang wajahnya mengingatkanku akan surga
wahai fajar terbitlah segera,
agar sempat kukatakan pada mereka
“aku mencintai kalian karena Alloh.”

-‘Umar ibn al-Khoththob-




PADA SUATU HARI, tiga orang berjumpa di salah satu sudut Madinah. Kisahnya jadi canda. Tapi begini keadaannya: yang pertama menebar kepedulian, yang kedua membagi kebijaksanaan, dan yang ketiga memberi damai dengan pemahaman serta pemaknaan. Itulah ‘Umar ibn al-Khoththob berjumpa dengan Hudzaifah ibn al-Yaman dan ‘Ali ibn Abi Tholib. “Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai Hudzaifah?” tanya ‘Umar.

“Wahai Amirul Mukminin,” jawabnya, “Pagi ini aku mencintai fitnah, membenci al-haq, sholat tanpa wudhu, dan aku memiliki sesuatu di muka bumi yang tidak dimiliki oleh Alloh di langit.”

“Demi Alloh,” kata ‘Umar, “Engkau membuatku marah!”

“Apa yang membuatmu marah, wahai Amirul Mukminin?” timpal ‘Ali ibn Abi Tholib.

Hudzaifah terdiam, dan tersenyum pada ‘Ali.

“Wahai Amirul Mukminin,” kata ‘Ali, “Sesungguhnya benar Hudzaifah, dan aku pun seperti dirinya. Adapun kecintaannya pada fitnah, maksudnya adalah harta dan anak-anak, sebagaimana firman Alloh:

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah cobaan.” (Qs. at-Taghobun [64]: 15)

“Adapun kebenciannya terhadap al-haq, maksudnya adalah dia membenci kematian. Sholatnya yang tanpa wudhu itu adalah sholawat kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Adapun yang dimilikinya di bumi dan tidak dimiliki Alloh di langit adalah istri dan anak. Bukankah Alloh tak memiliki keduanya?”

                                                            ***

Bayangkanlah kita membersamai orang-orang macam mereka. Diamnya menjadi tasbih. Bicaranya ilmu. Ucapannya penuh do’a. tak ada yang sia-sia. Bahkan dalam candanya, terkandung ilmu dan kebenaran yang membuat kita merenung dalam-dalam. Mari berangan-angan untuk berada di tengah orang-orang yang terhubung dengan langit dan merasakan ukhuwah mereka mendekap hangat kita dalam kebenaran, kemuliaan, dan kebajikan.

“Berangan-anganlah kalian,” kata ‘Umar di waktu lain pada orang-orang di majelisnya.

Maka di antara mereka ada yang berangan-angan berjihad, lalu mati syahid, lalu dihidupkan lagi, lalu berjihad lagi, lalu mati syahid, lalu dihidupkan lagi, lalu berjihad, begitu seterusnya. Yang lain berangan-angan dikaruniai emas sebesar Gunung Uhud lalu dia menginfaqkannya di jalan Alloh.

“Adapun aku,” kata ‘Umar, “Mengangankan dunia ini dipenuhi orang-orang seperti Abu ‘Ubaidah ibn al-Jarroh, Salim Maula Abi Hudzaifah, dan Mu’adz ibn Jabal, yang bersama mereka aku meninggikan kalimat Alloh.”

‘Umar benar. Mereka yang disebutnya adalah orang-orang benar. Sayang mereka semua sudah meninggal. Rosululloh menggelari Abu ‘Ubaidah sebagai “Orang terpercayanya ummat ini.” Salim, adalah bekas budak yang kepadanya Rosululloh perintahkan merujuk al-Qur’an di samping Ubay ibn Ka’ab dan ‘Abdulloh ibn Mas’ud. Dia seorang yang teguh hati dan tawadhu’, dan ‘Umar pernah merasakan ketulusannya saat dahulu Salim mendampinginya dalam beberapa urusan pemerintahan. Adapun Mu’adz, lelaki penuh ilmu dengan keperwiraan dan kejujuran yang tiada banding. Mereka adalah orang-orang benar, dan dalam dekapan ukhuwah, bersamalah orang-orang yang benar.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan bersamailah orang-orang yang benar.” (Qs. at-Taubah [9]: 119)

Inilah ayat, tentang keterhubungan dengan langit sekaligus bagaimana menebarkan cinta di bumi. Dengan taqwa, Alloh mengaruniakan kita furqon; kepekaan untuk membedakan kebenaran dari kebatilan sekaligus kekuatan untuk mengikutinya. Dia adalah cahaya terang yang membimbing kita menuju masa depan sejati. Hati kita memang berbolak-balik dan bergoyah-gayuh. Maka keajegan taqwa dalam hati akan terdukung dengan adanya orang-orang benar di sekeliling kita. Bahkan meski kebersamaan itu hanya sesekali, sesaat-sesaat. Hanzholah ibn ar-Robi’ berkisah tentang ini pada kita dalam riwayat Imam Muslim.

Satu hari, Abu Bakar ash-Shiddiq berkunjung dan menanyakan kabarnya. “Hanzholah telah menjadi munafiq!” katanya sendu.

“Subhanalloh,” hardik Abu Bakar, “Apa yang engkau ucapkan?”

“Aku sering bersama Rosululloh,” kata Hanzholah, “Beliau mengingatkan tentang surga dan neraka seolah-olah aku melihatnya dengan mata kepala. Namun ketika aku keluar dari sisi beliau, lalu bercengkerama dengan anak-anak serta sibuk dengan pekerjaan, aku pun banyak melupakannya. Semua bayangan tentang Alloh, surga dan neraka seakan tak bersisa.”

“Demi Alloh! Sesungguhnya kami juga merasakan hal seperti itu!” sahut Abu Bakar membenarkan.

Mereka kemudian mendatangi Rosululloh dan menanyakan urusannya. Dengan penuh semangat sekaligus kegelisahan mereka mengadukan keadaan dirinya yang serasa beda. Alangkah dekatnya Alloh, alangkah jelas gambaran surga di hadapan dan bentangan neraka di seputaran saat mereka bersama beliau. Dan celakanya semua rasa yang nikmat dan indah itu hilang ketika mereka ditelan kesibukan dan rutinitas harian.

Rosululloh tersenyum.

“Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya,” demikian sabda beliau, “Seandainya kalian selalu dalam keadaan sebagaimana ketika kalian ada di sisiku dan dalam berdzikir, niscaya malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat-tempat tidur, dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi sesaat demi sesaat, wahai Hanzholah! Sesaat demi sesaat, wahai Hanzholah! Sesaat demi sesaat!”

                                                            ***

Apa rambu yang kita jaga agar selaras dengan semangat kebersamaan dalam dekapan ukhuwah ini?

“Jangan kalian saling membenci,” begitu beliau bersabda seperti dikisahkan Abu Huroiroh dalam riwayat al-Bukhori, “Jangan saling menipu, janganlah kalian saling dengki, jangan saling memutuskan hubungan, dan janganlah sebagian menyerobot akad dagang sebagian yang lain.”

“Jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara,” lanjut beliau, “Seorang Muslim itu saudara Muslim yang lain. Tidak boleh menzholiminya, tidak boleh membiarkannya, dan tidak boleh menghinakannya. Taqwa itu di sini. Di sini. Di sini.” Beliau menunjuk dadanya tiga kali. “Cukuplah seseorang dianggap jahat karena melecehkan saudara Muslimnya. Setiap Muslim atas Muslim yang lain harom darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”

Mencermati hadits yang gamblang ini, lagi-lagi kita diingatkan bahwa keterhubungan dengan langit, yakni taqwa, menjadi pilar yang menyangga setiap interaksi dengan sesama Muslim dalam dekapan ukhuwah. Penjagaan taqwa itu dimulai dengan terlarangnya hal-hal yang bisa menyakiti hati dan merusak persaudaraan. Lalu Sang Nabi melanjutkannya dengan maklumat agung, “Setiap Muslim atas Muslim yang lain harom darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”

Karena taqwa adalah juga kepekaan hati, maka menjaga kehormatan dalam persaudaraan itu, difahami oleh para ulama sampai hal yang sekecil-kecilnya, sehalus-halusnya, sesamar-samarnya. Untuk menjadi renungan, adalah Ibnu Qoyyim al-Jauziyah yang meriwayatkan kisah yang dibawakan oleh al-Imam Ibnu Sirin berikut ini dalam karyanya, Madarijus Saalikin.

“Alangkah indahnya,” begitu Ibnu Sirin memulai cerita, “Kisah dua orang bersaudara di jalan Alloh yang pada mulanya saling mencintai. Lalu hubungan di antara mereka terganggu.

Satu waktu mereka bertemu. “Mengapa kiranya,” tanya lelaki pertama, “Hari-hari ini aku melihatmu seolah engkau berpaling dan menjauhiku?”

“Telah sampai padaku,” jawab orang yang kedua, “Sesuatu tentang dirimu. Dan engkau pasti tak menyukainya.”

“Kalau begitu, aku tak peduli,” lelaki pertama itu tersenyum.

“Mengapa?”

“Karena jika apa yang engkau dengar itu adalah benar sebuah kesalahan yang telah aku lakukan, aku tahu engkau pasti akan memaafkannya. Dan jika berita itu tidak benar, engkau pasti tidak akan menerimanya.”

“Setelah itu,” kata Ibnu Sirin menutup kisah, “Mereka kembali pada ukhuwah yang indah.”

                                                            ***

Dalam dekapan ukhuwah, mari kita telusuri keindahan itu bersama mereka, insya Alloh di lembar-lembar selanjutnya. Tapi sebelum itu, akan kita kenali dulu tanah-tanah gersang yang membuat ukhuwah sulit tumbuh, tak mampu berakar, dan mustahil mekar. Akan kita seksamai juga angin, api, dan air yang bisa saja menggersangkan tanah subur yang pernah kita punya. Kadang mereka datang untuk membuat ukhuwah tertiup hingga hilang, terbakar hingga hangus, dan terbanjir hingga larut. Dalam dekapan ukhuwah, kita mewaspadai ancaman-ancaman padanya.



Sumber: Dalam Dekapan Ukhuwah; Salim A. Fillah; Pro-U Media