Jumat, 05 Juni 2015

Terpujilah Kita

jika sebuah penghinaan tak lebih mengerikan
dibanding apa yang Alloh tutupi dari kesejatian kita
maka bukankah ia adalah sebait sanjungan?


PEMUDA ITU tak tahu dari mana sebuah kepanitiaan seminar pendidikan anak mengenal namanya. Ya. Mereka ada jauh di luar kota. Tetapi mereka telah mengundangnya untuk berbicara, dan dia berprasangka baik. Dia masih tertatih belajar tentang Psikologi Perkembangan dan bagaimana Islam memberikan rambu-rambu pola asuh anak. Tapi paduan kedua hal inilah yang diminta oleh panitia kepadanya untuk disajikan. Dia pun belajar dan mengkaji habis-habisan. Dan jadilah sebuah makalah yang dikirimkan tiga hari sebelum seminar digelar.

Lalu pada hari yang ditentukan dia hadir ke seminar itu.

Tentu saja dia terpana. Bahwa seminar ini menghadirkan dua pembicara lain yang berpredikat Guru Besar. Yang satu bidang psikologi, yang lain kedokteran. Para pesertanya pun jauh lebih senior dibanding dirinya. Banyak yang telah bergelar master, dan beberapa juga menyandang pendidikan strata tiga sekaligus titel ‘Profesor’ di depan namanya.

Awal-awal dia gelisah. Khawatir betul kemudaan usia dan latar belakang pendidikannya akan jadi perkara. Tetapi dia mencoba berbuat yang terbaik. Dia sampaikan di awal tentang siapa dirinya. Dia utarakan apa adanya sekaligus dia sampaikan niatnya untuk belajar pada kesempatan itu. Sesudah itu, dia uraikan materi yang telah diamanahkan padanya dengan lugas dan tuntas. Ditanamkannya pada diri, “Panggung milikku!” Dia tampil dengan percaya diri, tapi dihindarinya sama sekali kesan menggurui.

Alhamdulillah, semua lancar.

Tapi tentu saja tak semua orangtua bisa menerima seorang anak kecil ingusan dan tak berpendidikan mengoceh di hadapannya tentang bidang yang telah digeluti bertahun-tahun, atau bahkan puluhan warsa. Seorang bergelar ‘Guru Besar’ langsung mengacungkan tangan begitu kesempatan bertanya dibuka. Dari awal bicara hingga akhir, sang Guru Besar habis-habisan mencerca dan tanpa ampun menghina serta merendahkannya.”Anda ini masih hijau dan bodoh! Celakanya lagi Anda sama sekali tak punya kompetensi untuk bicara tentang apa yang hendak Anda sampaikan! Dari awal hingga akhir presentasi Anda tadi adalah omong kosong! Sama sekali tidak ada nilai kebenaran dan nihil bobot ilmiahnya! Semua teori Anda cuma hasil spekulasi yang tempel sana dan tempel sini! Kami yang hadir ini orang berpendidikan! Kami bukan keledai bodoh yang akan mengangguk-angguk atas setiap ocehan Anda! Untungnya ini forum terhormat. Kalau tidak, mungkin orang dungu dan goblok macam Anda sudah ditendang keluar sejak mengucapkan kalimat pertama!”

Berikutnya, segala umpatan keluar dari lelaki berambut putih dengan kacamata minus tebal itu. Sang pemuda menunduk di awal. Tapi dia mencoba tegak lagi. Pahit sekali. Pedih hatinya. Rasanya lebih baik tak pernah dilahirkan daripada dipermalukan di tengah khalayak semacam ini. Diliriknya moderator dan hadirin. Ah, itu dia! Mereka pun tampaknya tak terlalu suka dengan kata-kata orang ini! Mereka tidak menikmatinya! Wajah mereka tegang dan tak nyaman. Mungkin mereka sekedar sungkan saja untuk tak menghentikan si Profesor tua berlidah tajam itu.

Jadi dunia berpihak pada sang pemuda!

Maka kini dia punya pilihan. Dia bisa membalas habis lelaki gaek tak berakhlak itu! Dia bisa buktikan bahwa segala yang disampaikannya berpijak pada teori yang lebih baru dan lebih kokoh. Dia bisa mengungkap jatidiri si kakek sebagai seorang sok pintar dari zaman baheula yang kini enggan belajar dan tak mau menambah ilmu. Dia bisa saja mempermalukan balik orang ini yang menurut analisisnya akan mendapat dukungan dari para peserta seminar lain. Mengapa? Kemungkinan besar, mereka juga pernah menjadi korban dari kebuasan kata-kata Sang profesor.

Ini saatnya untuk memberi dia pelajaran!

Tetapi dia punya pilihan lain. Dia menarik nafas dalam-dalam, lalu mencoba senyum paling manis yang bisa ditampilkan dalam suasana hati sepahit itu. Dia mencoba untuk menerima segala kata-kata menyakitkan tadi sebagai sebuah pujian! Dia tahu, mulia atau hinanya seseorang tak pernah ditentukan oleh kata-kata dan perbuatan orang lain. Mulia atau hinanya seseorang ditentukan oleh kalimat yang dimuntahkan dari lisannya sendiri dan perilaku yang bisa dilihat sesama.

Sang Guru Besar telah memilih untuk menghinakan dirinya sendiri dengan segala kekasaran dan kata-katanya. Sang pemuda berjanji untuk tidak meneladaninya dalam hal ini.

Maka dia mulai bicara justru dengan menunjukkan kekonyolan dan kebodohan dirinya. “Alhamdulillah,” ujarnya, “Alloh semakin menunjukkan pada saya bahwa ada banyak hal yang harus terus saya pelajari. Kebodohan dan kurangnya wawasan saya seperti disampaikan Ayahanda Profesor hanyalah secuil kecil dari kebodohan saya yang sebenarnya jauh lebih menyesakkan dada daripada yang beliau ungkapkan itu. Saya akan ceritakan beberapa hal sebagai buktinya.”

Cerita-cerita tentang kekonyolan dirinya yang disampaikan dengan jenaka, tentu saja membuat hadirin tergelak. Tapi mereka tahu, ada ‘ibroh-‘ibroh berhikmah yang coba disampaikan si pemuda lewat itu. Si pemuda sama sekali tidak membalas kata-kata Sang Guru Besar. Dia tak mendebatnya. Dia justru mengucapkan syukur dan terima kasih dengan cara yang santun. Dia menyatakan, merasa sangat tersanjung dalam ketidakpantasannya, ketika diberi kesempatan untuk berbagi dan bicara dengan hadirin terhormat yang ada di hadapannya.

“Izinkan Ananda memberikan apresiasi setinggi-tingginya,” katanya memungkasi jawaban, “Kepada Ayahanda, Ibunda, dan hadirin sekalian yang bersedia mendengarkan Ananda yang bodoh dan kurang wawasan ini. Ananda bersyukur sekali, telah dianugerahi kesempatan untuk belajar pada hadirin sekalian, terutama Ayahanda Profesor, yang telah berkenan menunjukkan kelemahan-kelemahan Ananda. Ananda menganggap Ayahanda sebagai orangtua Ananda sendiri. Ananda berharap Ayahanda akan membimbing Ananda memahami masalah yang kita bahas ini lebih dalam, lebih tajam, dan lebih bermakna lagi. Terima kasih.”

Tepuk tangan membahana. Tapi si pemuda melihat Sang Profesor tersenyum. Agak kecut.

“Hari ini kita belajar kerendahan hati dari seorang anak muda,” ujar pemateri di sebelah si pemuda yang juga bergelar Guru Besar ketika membuka jawabannya atas pertanyaan yang lain. Di akhir acara, semua peserta menyalami pemuda itu dengan senyum dan jabat tangan yang erat. “Anda sangat pantas memberikan ilmu kepada kami, dik!” ujar seorang peserta berbisik. “Kami kagum kepada Anda. Muda, berilmu, dan hebat dalam mengendalikan emosi! Salut!”

“Terima kasih. Mohon bimbingan selalu, Ayahanda,” ujarnya tetap dengan senyum berbinar.

Semua hadirin telah keluar untuk Lunch Break. Kecuali Sang Profesor yang tadi membantainya. Dia masih duduk di kursi bagian ujung. Lelaki tua itu berpura-pura sibuk, mencorat-coret sesuatu di kertas makalahnya. Dan sang pemuda mendekatinya lalu duduk di sebelahnya dan menyapa. Dengan senyuman. Dengan batin yang ditahan untuk tak mendendam. Lalu mereka telah bicara akrab layaknya ayah dan anak ketika meninggalkan ruangan untuk sholat dan istirahat. Hingga kini, mereka bersahabat. Dan ‘Sang Ayah’ yang hari itu tergerak untuk meminta maaf, hari-hari ini sering konsultasi dengan ‘anak’ barunya ketika akan mengisi seminar atau mata kuliah tertentu di kampusnya.

***

Dalam tiap benturan antara kita dan sesama, selalu ada pilihan; untuk memenangkan kebenaran atau memenangkan hati lawan bicara kita. Jiwa tak bisa takluk oleh hujjah. Hawa nafsu sulit tunduk pada argumentasi. Tetapi begitu hati tersentuh oleh pesona akhlak, tanpa ditunjuki pun dia akan mencari hujjahnya sendiri untuk menginsyafi kebenaran.

Dalam da’wah dan penyampaian kebenaran, debat memang menjadi salah satu jalan yang disebut Alloh. Tapi dia diletakkan di akhir, seolah sebuah cara yang hanya digunakan di saat tak ada pilihan lain. Itu pun Alloh memberi persyaratan, “Dengan cara yang jauh lebih ahsan!”

Serulah manusia kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Robbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. an-Nahl [16]: 125)

Selalu ada pilihan saat kita bicara dengan seseorang. Pilihan untuk memenangkan pandangan kita, atau memenangkan hatinya. Debat berarti mengajukan hujjah. Yang bisa takluk oleh hujjah hanya akal. Yang bisa tunduk pada dalil hanya otak. Bukan jiwa. Bukan hati. Padahal Alloh sudah menggariskan bahwa perubahan suatu kaum dimulai dari perubahan jiwa.

Rosululloh adalah sebaik-baik teladan dalam segala bidang kehidupan. Beliau berdebat dengan sebaik-baik hujjah. Beliau berdebat dengan sebaik-baik akhlak. Beliau berdebat dengan semulia-mulianya sikap. Tetapi ketika berbantahan dengan delegasi Nasroni dari Najron, beliau pun tak bisa membawa mereka untuk bersyahadat bahwa tiada Ilah selain Alloh dan Muhammad adalah utusan-Nya. Orang-orang itu berkata, “Kami tahu engkau bersama kebenaran. Tetapi kami telah tenteram dengan ini.”

Hikmah adalah memenangkan hati dengan segala kemanfaatan yang bisa kita hadirkan.

Lalu saya teringat Ibrohim. Saya bayangkan bahwa dia memperoleh pelajaran yang sama dengan melewati serangkaian perjalanan hidup yang lebih rumit. Dan itu keunggulannya, dia belajar dari kenyataan. Dan itu keutamaannya, agar menjadi pelajaran bagi kita. Kenyataan telah mengasahnya untuk lebih cantik dalam memenangkan pandangan, sekaligus memenangkan hati. Kenyataan telah mengajarinya untuk makin halus dalam berhujjah dan lebih lembut dalam kata.

Dulu, dia memenggal berhala-berhala, lalu berdebat dengan kaumnya. “Kapak itu,” ujarnya, “Masih ada di leher patung yang terbesar. Tanyakan saja padanya!” Itu hujjah yang tak terbantah. Itu argumentasi yang tak bisa dikalahkan. Tapi kaumnya tetap menolak kebenaran. Dan Ibrohim pun dibakar. Adapun Alloh Yang Maha Gagah, menyelamatkannya dari api yang dijadikan dingin dan lembut.

Di lain kesempatan, dia juga berdebat dengan Namrud. Dibungkamnya sang raja yang berani berkata, “Aku Tuhan. Aku mengidupkan dan mematikan.” Ibrohim mengajukan sebuah kalimat cerdas yang tak kuasa dibalas sang raja. “Robbku itu,” ujarnya, “Mendatangkan mentari dari timur. Maka datangkanlah ia dari arah barat!” Namrud diam ternganga. Dia takjub pada hujjah Ibrohim. Tetapi apakah dia beriman? Sayangnya tidak.

Setelah itu, kalimat-kalimat Ibrohim ketika menda’wahi kaum penyembah bintang, bulan, dan matahari menjadi sangat menarik untuk disimak. Peringatan pertama dari ayat-ayat berikut ini adalah bahwa mereka tidak memaparkan kisah Ibrohim mencari tuhan. Ibrohim tak pernah kehilangan Robbnya. Cerita yang digambarkan ayat-ayat ini adalah riwayat bagaimana Ibrohim berda’wah dengan cerdas menyelami logika para penyembah benda langit, lalu membantahnya dengan halus dan cantik.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Robb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs. al-An’am [6]: 76-79)

Tak ada yang salah dengan berdebat. Apalagi jika kita mengikut jejak para Rosul yang berbantahan dengan cara yang indah dan mulia. Alloh pun merestuinya sebagai salah satu cara untuk menyampaikan kebenaran dari-Nya. Namun ada kerawanan yang harus sangat diwaspadai dalam debat. Ia sangat mudah memercikkan hawa nafsu, membangkitkan amarah, dan merusak hubungan.

Dalam dekapan ukhuwah, kita menghindarkan diri dari debat yang cenderung mencari pembenaran diri dan mengabaikan kebenaran suci. Dalam dekapan ukhuwah, ada pilihan untuk meraih rumah di surga dengan menghindarinya. “Aku menjaminkan sebuah rumah di tengah-tengah surga,” kata Sang Nabi dalam riwayat Abu Dawud, “Untuk orang yang menahan diri dari debat, meski ia benar.”

Dalam dekapan ukhuwah, terpujilah kita yang berakhlak mulia. Dalam dekapan ukhuwah, terpujilah kita yang mampu memilih antara memenangkan pandangan diri, dengan menaklukkan hati dan jiwa.


Credit: “Dalam Dekapan Ukhuwah”; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Kamis, 04 Juni 2015

Ketika Amal-amal Kita Diangkat ke Langit…

Saudaraku,
Seharusnya pada hari-hari ini, kita sudah terlatih dengan letih dan penat yang muncul karena haus dan lapar menjalankan puasa sunnah. Seharusnya pada bulan ini, kita sudah lebih dekat dan merekatkan munajat kepada Alloh swt di waktu malam lebih dari bulan-bulan sebelumnya.

Kita berada di bulan Sya’ban, Saudaraku.
Satu bulan yang memisahkan kita hanya beberapa hari saja dari kehadiran bulan penuh rahmat, bulan Romadhon. Satu bulan yang menurut banyak ulama, bahwa amal-amal sunnah di bulan itu menjadi salah satu indikator keberhasilan seorang hamba dalam menjalankan amal-amal ibadah di bulan Romadhon nantinya. Satu bulan yang —menurut Rosululloh saw— banyak dilalaikan orang karena umumnya mereka sibuk memikirkan bulan Romadhon atau bulan Rojab. Satu bulan yang —menurut Rosululloh saw— menjadi waktu dilaporkannya amal-amal manusia selama satu tahun kepada Robbul ‘Izzah.

Itulah jawaban Rosululloh saw saat ditanya oleh sahabatnya Usamah ibn Zaid, “Wahai Rosul, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa pada satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban.” Rosululloh saw menjawab, “Itu adalah bulan yang dilalaikan manusia, antara bulan Rojab dan Romadhon, dan itu juga merupakan bulan diangkat di dalamnya amal-amal seorang hamba kepada Robbul alamiin. Aku ingin amal-amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhori-Muslim). Dalam hadits lainnya, Abu Dawud meriwayatkan bahwa puasa yang paling disukai Rosululloh saw adalah puasa di bulan Sya’ban, kemudian dilanjutkan dengan puasa di bulan Romadhon.

Saudaraku,
Perhatikanlah kesimpulan yang disampaikan Ibnu Rojab tentang puasa di bulan ini. Ia mengatakan, “Puasa di bulan Sya’ban lebih utama dari puasa di bulan-bulan harom. Amal-amal sunnah yang dilakukan seorang hamba adalah yang paling dekat dengan bulan Romadhon, sebelum atau sesudahnya.  Kedudukan puasa sunnah di bulan ini sama dengan kedudukan sunnah rowatib yang mengiringi sholat wajib sebelum atau sesudahnya. Shoum di bulan ini adalah untuk menyempurnakan kekurangan yang ada dalam amal-amal wajib.”

Apa saja yang sudah kita tunaikan pada hari-hari di ulan ini, Saudaraku? Sesungguhnya, meningkatkan amal sholih dan amal ibadah menjadi lebih baik, sulit dilakukan secara tiba-tiba. Jika kita ingin meraih lebih banyak keridhoan Alloh dengan meningkatkan amal-amal sholih di bulan Romadhon, keinginan itu sulit digapai jika kita belum berlatih memperbanyak amal-amal sholih di bulan ini. Itulah sebabnya para ulama tazkiyyatun nafs, antara lain hujjatul Islam Imam al-Ghozali rohimahulloh, menyebutkan istilah riyadhotun nufuus atau latihan jiwa sebagai proses seseorang meningkatkan kualitas ruhani dan jiwanya. Karena jiwa kita memang memerlukan tahap pelatihan, fase pemanasan, proses pembiasaan, untuk bisa menjadi lebih baik. Sama saja dengan seseorang yang akan memasuki fase pertandingan fisik. Ia juga harus melewati fase pelatihan, pemanasan, dan adaptasi dengan tuntutan pertandingan yang akan dia hadapi.

Saudaraku,
Perhatikanlah perkataan Rosululloh saw dalam hadits tadi. Ketia beliau mengatakan, “dzaaka syahrun yaghfulun naasu fiihi ‘anhu…” Yang artinya, bulan Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh banyak orang. Perkataan Rosululloh itu menunjukkan bahwa ia terdorong melakukan banyak amal-amal sunnah di bulan ini, antara lain karena pada bulan ini orang banyak yang lupa. Rosul lebih bersemangat melakukan amal-amal ibadah ketika banyak orang disekitarnya yang justru tidak melakukan amal-amal sunnah.

Seperti itu jugalah semangat yang dimiliki para salafush sholih. Mereka cenderung lebih giat beramal di saat-saat banyak manusia lalai dan lupa untukmelakukan amal-amal ibadah di saat tersebut. Lihatlah bagaimana sebagian mereka menyukai aktifitas menghidupkan amal ibadah antara sholat maghrib dan isya. Itu karena pada waktu itu, banyak manusia yang lalai mengisinya dengan amal ibadah. Lihatlah lagi bagaimana Rosululloh saw menganjurkan kita untuk banyak berdzikir di pasar-pasar. Itu karena pasar adalah tempat yang banyak melalaikan orang dan dipenuhi orang-orang yang lalai.

Saudaraku,
Banyak keistimewaan beribadah di waktu manusia lalai. Terlebih puasa yang jadi rahasia antara seorang hamba dengan Alloh swt. Karena itu pada umumnya salafush sholih selama hidupnya rajin berpuasa sunnah tanpa diketahui orang. Ada di antara mereka yang keluar dari rumahnya ke pasar dengan membawa dua potong roti ke pasar lalu ia sedekahkan roti itu kepada fakir miskin. Keluarganya mengira ia membawa bekal makanan itu untuk dimakan di perjalanan, padahal ia tengah berpuasa. Sementara orang-orang di pasar mengira ia sudah makan di rumahnya, padahal ia tidak memakan apapun di rumahnya.

Begitulah. Sampai-sampai sikap menyembunyikan amal-amal sunnah itu menjadi prinsip yang mereka anjurkan. Seperti dikatakan Ibnu Mas’ud ra, “Jika di suatu pagi kalian berpuasa, maka oleskanlah minyak di bibirmu.” Atau perkataan Qotadah ra yang menegaskan hal serupa, “Seorang yang berpuasa dianjurkan untuk mengoleskan minyak di bibirnya agar hilang darinya bekas-bekas puasa.” Rahasia lebih disukainya waktu-waktu lalai itu adalah justeru karena pada waktu itu, banyak orang yang berat melakukan amal-amal sholih. Dan keutamaan amal itu memang dilihat dari sudut kesulitan dan keberatan jiwa melakukannya. Di saat jiwa berat melakukan sesuatu karena banyak orang yang lalai dan lupa, dan amal itu pun tidak diketahui oleh orang, di sanalah nilai amal-amal sunnah itu.

Saudaraku,
Mari kita berlatih, Saudaraku. Berlatih untuk lebih banyak membaca lembar-lembar al-Qur’an. Karena bulan ini —menurut salafush sholih— adalah syahrul qurro; bulan para pembaca al-Qur’an. Mari berlatih mengekang dan mengendalikan hawa nafsu. Berlatih untuk lebih tunduk dan khusyu’ dalam melakukan amal-amal sunnah di waktu sunyi, tanpa ada orang yang tahu. Berlatih untuk lebih tenggelam dalam bermunajat kepada Alloh di saat banyak orang-orang yang lalai bermunajat dan menghiba kepada-Nya.

Mari, Saudaraku.

Karena di bulan inilah amal-amal kita akan diangkat oleh para malaikat ke langit…

Rabu, 03 Juni 2015

Insya Alloh

Menghadapi pesatnya dakwah Muhammad saw di Makkah, kaum Quroisy mengutus an-Nadhor ibnul Harits dan Uqbah bin Abu Mu’ith ke Yatsrib―kota yang kemudian berganti nama menjadi Madinah. Di sana mereka menemui pemuka kaum Yahudi dan menceritakan tentang apa saja yang dilakukan oleh Rosululloh saw. Mereka menyampaikan beberapa ayat yang pernah dibacakan oleh Rosululloh saw.

Mereka berkata, “Kalian punya kitab Taurot. Kami datang ke mari agar kalian memberitahu kami suatu hal tentang orang ini.”

Setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka kembali ke Makkah. Begitu melihat kedatangan mereka, para pemuka Quroisy segera bergegas menyambut dan bertanya, “Apa yang kalian bawa?”

“Wahai kaum Quroisy,” kata an-Nadhor ibnul Harits dan Uqbah bin Abi Mu’ith, “kami datang membawa keputusan final antara kalian dan Muhammad. Para pendeta Yahudi di Yatsrib telah memberitahu kami. Mereka berkata, ‘Tanyailah ia tiga hal. Jika ia bisa memberi jawabannya, berarti ia adalah seorang pembohong, dan terserah apa tindakan kalian kepadanya’.”

Para pemuka Quroisy itu bertanya-tanya, “Apa tiga hal yang disampaikan oleh pendeta itu?”

An-Nadhor tidak menjawab pertanyaan mereka. “Panggillah Muhammad ke mari,” katanya meminta.

Abu Lahab segera tanggap. Ia menyuruh seseorang untuk memanggil keponakannya itu. Begitu datang, Muhammad langsung dicecar dengan pertanyaan, “Muhammad, ceritakan kepada kami para pemuda yang hidup pada masa lampau yang kisah mereka menakjubkan.”

Rosululloh saw memandangi mereka sambil bertanya, “Adakah pertanyaan yang lain?”

“Ceritakan pula kisah seorang pria yang telah menjelajahi bumi dari barat hingga timur,” kata orang-orang Quroisy itu menyahut. “Jelaskan pula tentang ruh. Apakah ruh itu?”

Rosululloh saw kemudian menjawab, “Aku akan beri kalian jawabannya besok.”

Kaum Quroisy pun bubar. Selama lima belas hari Rosululloh saw menunggu wahyu, namun Jibril tidak juga datang. Rosululloh saw sangat sedih dan murung. Di saat yang sama, Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil binti Harb, bersorak gembira. Wanita ini bergegas mendatangi rumah-rumah Bani Hasyim sambil berkata, “Muhammad menunggu-nunggu syaitannya. Ia ditinggalkan tuhannya. Sekarang mereka tahu, Muhammad tidak punya Tuhan.”

Ketika suatu saat ia bertemu Rosululloh saw, ia sinis ia berkata, “Syaitanmu sekarang telah meninggalkanmu, ya?”

Pertanyaan itu membuat hati Rosululloh saw terguncang. Sementara para penduduk Makkah saling berbisik, “Muhammad berjanji kepada kita untuk memberi jawabannya besok, tapi sampai sekarang telah lima belas hari lewat dan ia tidak memberi jawabannya.”

Abu Jahal, Abu Lahab, an-Nadhor ibnul Harits, dan Uqbah bin Abi Mu’ith berkata kepada para pemuka Quroisy yang lain, “Bukankah sudah kami katakan bahwa ia adalah seorang pembohong?”

Kesedihan Rosululloh saw kian mendekati puncaknya. Ada perasaan tertekan yang amat berat. Melihat itu, Khodijah rodhiyallohu ‘anha berkata, “Demi Alloh, Dia tidak akan menghinakanmu.”

Akhirnya Jibril datang juga. Rosululloh saw bersabda kepadanya, “Jibril, engkau tidak datang-datang hingga aku berprasangka buruk.”

Jibril berkata:

“Dan tidaklah kami (Jibril) turun kecuali dengan petunjuk Tuhanmu. Kepunyaan-Nyalah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.” (Qs. Maryam [19]: 64)

Selanjutnya, Jibril berkata:

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut) Insya Alloh.’ Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa…” (Qs. al-Kahfi [18]: 23-24)

Masih panjang kisah yang bisa kita runut dan pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa ini. Tetapi, yang ingin saya catat dalam renungan kita kali ini adalah betapa tidak berdayanya kita. Tidak ada kekuatan kecuali dari Alloh semata. Sesungguhnya, waktu, tempat, keadaan, kesempatan, dan kuasa hanya ada dalam genggaman-Nya. Semua berpulang kepada-Nya. Ia tidak segan memberi pelajaran kepada kita apabila kita lalai. Salah satu di antara kelalaian yang bisa kita petik pelajarannya dari kisah yang baru saja kita simak bersama, adalah lalai mengucapkan Insya Alloh. Tampaknya sederhana, tetapi di dalamnya ada makna penyadaran kepada izin-Nya.

Bersyukurlah jika suatu saat engkau mendapatkan teguran yang bersifat langsung. Karena itu menunjukkan penjagaan-Nya atas kita agar tidak terjatuh pada kelalaian yang lebih jauh. Kalau suatu saat anak-anakmu sakit karena engkau lupa belum mengeluarkan zakat atau harta di luar zakat kepada yang berhak, bersyukurlah. Karena dengan itu, Alloh Ta’ala berkenan merawatmu dari kedurhakaan. Syukur itu antara lain diwujudkan dengan bergegas mengeluarkannya.

Insya Alloh dengan itu, kita akan mendapati hidup penuh barokah. Insya Alloh.


Credit: “Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan”; Mohammad Fauzil Adhim; Pro-U Media

Menaati Alloh Memuliakan Orangtua

Ada perintah-perintah yang sering beriringan. Perintah menegakkan sholat hampir selalu diiringi dengan perintah untuk mengeluarkan zakat, sebagaimana iman beriringan dengan amal sholih. Penyebutan yang beriringan ini menunjukkan eratnya kaitan antara keduanya. Tidak sempurna iman tanpa amal sholih, sementara tidak ada artinya amal sholih yang kita kerjakan tanpa iman.

Nyaris serupa dengan itu, perintah untuk memurnikan ketaatan kepada Alloh, tidak mempersekutukannya dengan apa pun selain-Nya sering berangkai dengan perintah untuk berbuat baik kepada kedua orangtua; ibu dan bapak kita. Kata ibu disebut lebih awal menunjukkan tingginya kedudukan dan besarnya penghormatan yang diberikan Alloh ‘Azza wa Jalla kepada seorang ibu. Tidak sempurna pernyataan iman kita jika ikrar untuk memurnikan tauhid itu tidak disertai dengan berbuat baik pada kedua orangtua. Tak peduli, orangtua kita termasuk golongan orang-orang yang taat kepada-Nya atau bahkan seorang musyrik yang gigih dengan kemaksiatannya. Na’udzubillahi min dzalik.

Berkait dengan ini, ada baiknya kita renungkan sejenak firman Alloh Ta’ala dalam al-Qur’an surat al-An’am ayat 151. Alloh memerintahkan kepada Nabiyulloh Muhammad saw:

Katakanlah, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuatbaiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Alloh melainkan dengan sesuatu yang benar.” Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami. (Qs. al-An’am [6]: 151)

Mari kita lihat, Alloh Ta’ala meletakkan perintah untuk berbuat baik terhadap kedua orangtua tepat setelah larangan mempersekutukan sesuatu dengan-Nya. Ini menandakan bahwa berbuat baik terhadap orangtua tak bisa dipisahkan dari ketaatan kepada Alloh. Berdustalah orang yang mengatakan iman dengan mulutnya, menyeru pada ketaatan terhadap Alloh, dan menghiasi perkataannya dengan ma’rifatulloh; sementara terhadap kedua orangtua―lebih-lebih terhadap ibunya―ia tidak peduli dan bahkan menyia-nyiakan. Padahal, sekadar perkataan “Uff!” kepada orangtua saja, Alloh ‘Azza wa Jalla tidak memperkenankan.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapaknya dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘uff!’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (qoulan karima). (Qs. al-Isro’ [17]: 23)

Jika perkataan “uff!” saja tidak diperkenankan, apalagi jika sampai menelantarkan mereka. Boleh jadi tidak pernah mengeluarkan perkataan yang menyakitkan hati dan menahan diri dari suara keras yang tidak menyenangkan. Tetapi, kalau bagusnya tutur kata tidak diiringi dengan perhatian, sementara terhadap apa yang menjadi kebutuhan mendesak mereka kita tidak mempedulikannya, maka kita perlu bertanya, “Benarkah kita sudah beriman kepada-Nya?” Sebab, iman kepada-Nya dengan sebenar-benarnya iman, tidaklah melahirkan tindakan kecuali sikap memuliakan orangtua. Memuliakan itu meliputi perkataan yang mulia (qoulan karima) dan perbuatan baik kepada kedua orangtua. Ia berbuat baik sekurangnya karena takut kepada Alloh―kalaupun ia tidak dekat dengan kedua orangtua.

Nah, kalau kita merasa bertauhid dengan benar, sudahkah kita menyertai dengan perbuatan baik terhadap kedua orangtua kita?


Credit: “Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan”; Mohammad Fauzil Adhim; Pro-U Media

Apakah Belum Jelas Bagimu?

Marilah kita berhenti sejenak. Menekukkan kepala, menundukkan jiwa sembari membaca ayat Alloh ‘Azza wa Jalla. Dialah yang Menggenggam Rahasia-rahasia. Dialah Tuhan yang mutlak kekuasaan-Nya. Selain Alloh, tak ada yang sungguh-sungguh berkuasa. Tetapi, alangkah sering hati kita ciut oleh mereka yang kekuasaannya semu.

Di hari-hari ketika airmata sudah mengering, tetapi kesedihan belum hilang dan kesadaran masih belum sanggup menepis kepanikan, marilah sejenak kita renungkan ketika Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati. Tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudhorotan kepadamu. Sesungguhnya Alloh mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (Qs. Ali ‘Imron [3]: 120)

Orang-orang kafir…, alangkah besar tipu daya mereka. Mereka datang dengan membawa pertolongan di tangan kiri, tetapi tangan kanan mereka mencekik kita agar membayar apa yang sudah mereka berikan bersama bunganya. Mereka datang berbondong-bondong sehingga kita mengira tak ada lagi yang bisa diharapkan untuk keluar dari kesedihan dan kesengsaraan kecuali mereka. Kita membiarkan diri dalam ketergantungan. Padahal, atas setiap kebaikan yang diulurkan dengan pamrih di belakang, ada harga yang harus kita bayar untuk kelemahan dan ketidakberdayaan kita.

Al-ihsanu yu’jizul insaan. Sesungguhnya, kebaikan itu mematikan manusia. Apabila kita menenggelamkan diri dalam ketergantungan, maka jiwa kita akan lemah dan hati kita akan ciut. Kita merasa tak berdaya karena kita tak memberdayakan kekuatan kita sendiri. Dan sesungguhnya kekuatan yang dapat mendatangkan pertolongan Alloh ‘Azza wa Jalla adalah sabar. Dan Alloh berjanji, Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudhorotan bagimu. (Qs. Ali ‘Imron [3]: 120)

Hari ini, badan telah membungkuk dan jiwa telah tertunduk dikarenakan kita sibuk menambahkan beban yang sudah bertumpuk ke pundak kita. Kita wariskan kesengsaraan pada anak cucu bukan karena Alloh Ta’ala tak berikan limpahan karunia pada bumi tempat kita berpijak, tetapi karena jiwa yang lemah dan mata yang silau oleh apa yang tampaknya merupakan kebaikan. Kita mengeluhkan takdir pada mereka. Padahal, kesengsaraan telah bertumpuk dikarenakan uluran-uluran tangan yang penuh tipu daya.

Ya Alloh…, rasa-rasanya kami tak juga mengambil pelajaran dari kejadian demi kejadian.

Telah berlalu orang-orang sebelum kita. Telah dibinasakan negeri-negeri dari berbagai bangsa di dunia ini. Dan tidak tersisa penduduknya kecuali sedikit, atau bahkan lenyap sama sekali sesudah kejayaan dibanggakan atas bangsa dan kabilah yang lain. Semua itu menjadi cermin bagi orang-orang yang berpikir dan menggunakan akalnya. Ada pelajaran yang mestinya kita renungkan.

Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang memusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki, tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?

Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan itu), Kami ceritakan sebagian berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rosul-rosul mereka dengan bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Alloh mengunci mati hati orang-orang kafir. (Qs. al-A’rof [7]: 100-101)

Negeri-negeri itu dilenyapkan oleh Alloh ‘Azza wa Jalla agar kita mengambil pelajaran. Sesudah Alloh datangkan bukti-bukti kekuasaan-Nya, apa yang telah kita renungkan?


Credit: “Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan”; Mohammad Fauzil Adhim; Pro-U Media

Maimun, Budak Hina yang Doanya Mustajab

Basroh, Iraq. Sudah beberapa lama tak turun hujan. Hari itu belum beranjak siang. Terik matahari mulai terasa. Angin musim kemarau berhembus. Angin kering padang pasir menerpa wajah. Orang-orang mulai kesulitan mendapati air. Demikian juga binatang peliharaan yang kelihatan kurus-kurus.

Hari itu penduduk Basroh sepakat untuk mengadakan sholat istisqo'. Untuk meminta hujan yang sudah sekian lama tertahan. Sholat itu akan dihadiri para ulama Basroh dan tokoh masyarakatnya. Yang langsung akan dipimpin oleh salah seorang ulama pilihan di antara mereka. Nampak di antara para ulama yang sudah hadir Ulama Besar Malik bin Dinar, Atho' As-Sulaimi, Tsabit Al-Bunani, Yahya Al-Bakka, Muhammad bin Wasi', Abu Muhammad As-Sikhtiyani, Habib Abu Muhammad Al-Farisi, Hasan bin Abi Sinan, Utbah bin Al-Ghulam, dan Sholeh Al-Murri.

Benar-benar sebuah sholat Istisqo' yang istimewa. Dihadiri orang-orang terbaiknya. Tentunya dengan harapan agar Alloh menurunkan kembali hujan yang ditahan karena dosa-dosa manusia.

Para penduduk nampak berduyun-duyun mendatangi lapangan yang telah ditentukan. Para ulama pun sudah mulai nampak di lapangan itu.

Anak-anak kecil yang asyik belajar di tempat pengajian Al-Qur'an mereka, juga nampak berlarian menuju lapangan. Demikian juga para wanitanya. Besar, kecil, laki, perempuan, tua, muda, semuanya tidak ada yang ketinggalan untuk mengikuti sholat. Dengan hanya satu harapan, agar hujan kembali turun.

Sholat dimulai. Dua roka’at sudah. Selesai itu sang imam menyampaikan khutbah dan doa panjangnya. Mengakui segala kelemahan dan kesalahan manusia yang menyebabkan murka Alloh. Dan mengharap kembali turunnya berkah hujan dari langit. Karena masih ada orang tua dan binatang yang tidak bersalah ikut menanggung akibat dosa sebagian orang. Doa terus dipanjatkan.

Waktu terus beranjak siang. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Mendung tak kunjung datang. Langit masih terlihat cerah. Matahari semakin terasa terik. Sholat istisqo' selesai. Semua penduduk pulang ke rumah masing-masing. Tinggallah para ulama yang masing-masing bertanya dalam hati mengapa hujan tak kunjung datang. Padahal telah berkumpul orang-orang baik dan pilihan di masyarakat Basroh.

Akhirnya diputuskan untuk menentukan hari lain. Mengulang sholat istisqo' berharap untuk kali ke dua ini, Alloh mengabulkan doa mereka. Sholat kedua ditentukan. Suasana sholat ketika itu tidak jauh berbeda dengan sholat sebelumnya. Dan kali ini pun belum ada tanda-tanda dikabulkannya doa. Langit masih sangat cerah dengan terik matahari tengah hari. Tanda tanya di hati para ulamanya semakin besar.

Sholat ketiga pun segera menyusul. Semoga yang ketiga inilah yang didengar, begitu harapan mereka. Persis seperti yang pertama dan kedua, sholat yang ketiga pun mempunyai suasana yang sama. Dan ternyata hasilnya pun sama. Hujan masih tertahan entah karena apa. Tanda tanya di hati para ulama Basroh kian menggelayut di dalam hati mereka masing-masing. Tanpa jawaban. Seluruh penduduk dan ulamanya pulang ke rumah dan tidak tahu kapan musim kering itu berlalu.

Tersisa Malik bin Dinar dan Tsabit Al-Bunani di lapangan terlihat berbincang serius. Perbincangan itu dilanjutkan di masjid yang tidak jauh dari tempat itu. Hingga malam datang menjelang. Masjid sudah sepi, tidak ada lagi yang sholat. Karena sudah malam larut.

Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh seorang dengan kulit berwarna gelap, wajah yang sederhana, dengan betis tersingkap yang terlihat kecil, dengan perut buncit. Orang itu memakai sarung dari kulit domba, demikian juga kain yang dipakainya untuk atas badannya. “Aku memperkirakan semua yang dipakainya tidak melebihi dua dirham saja,” kata Malik bin Dinar. Yang menunjukkan bahwa orang itu hanyalah orang miskin yang tidak memiliki banyak harta.

Malik bin Dinar mengamati gerak-geriknya, ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang hitam itu di larut malam seperti ini. Orang itu menuju tempat wudhu. Setelah selesai wudhu, seperti tanpa mempedulikan Malik dan Tsabit yang mengamatinya dari tadi, orang itu menuju mihrob imam kemudian sholat dua roka’at. Sholatnya tidak terlalu lama. Surat yang dibaca tidak terlalu panjang. Ruku' dan sujudnya sama pendeknya dengan lama berdirinya.

Selesai sholat, orang itu menengadah tangannya ke langit sambil berdoa. Malik bin Dinar mendengar isi doa yang disampaikan dengan suara yang tidak terlalu tinggi tapi terdengar. “Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya.”

Setelah mendengar itu Malik bin Dinar berkata, “Belum lagi dia menyelesaikan perkataannya, angin dingin pertanda mendung tebal menggelayut di langit. Kemudian tidak lama, hujan turun dengan begitu derasnya. Aku dan Tsabit mulai kedinginan.”

Malik dan Tsabit hanya bisa tercengang melihat orang hitam itu. Mereka berdua menunggu hingga orang itu selesai dari munajatnya. Begitu terlihat orang itu selesai, Malik menghampirinya dan berkata, “Wahai orang hitam tidakkah kamu malu terhadap kata-katamu dalam doa tadi?” Orang tdai bertanya, “Kata-kata yang mana?” “Kata-kata: dengan kecintaan-Mu kepadaku,” kata Malik. “Apa yang membuatmu yakin bahwa Alloh mencintaimu?” sambung Malik. Orang itu menjawab, “Menyingkirlah dari urusan yang tidak kamu ketahui, wahai orang yang sibuk dengan dirinya sendiri! Dimanakah posisiku ketika aku dapat mengkhususkan diri kami untuk beribadah hanya kepada-Nya dan ma'rifat kepada-Nya. Mungkinkah aku dapat memulai hal itu jika tanpa cinta-Nya kepadaku sesuai dengan kadar yang dikehendaki dan cintaku kepada-Nya sesuai dengan kadar kecintaanku.”

Setelah berkata itu, dia pergi begitu saja dengan cepatnya. Malik memohon, “Sebentar, semoga Alloh merahmatimu. Aku perlu sesuatu.” Orang itu menjawab, “Aku adalah seorang budak yang mempunyai kewajiban untuk mentaati perintah tuanku.”

Akhirnya Malik dan Tsabit sepakat untuk mengikuti dari jauh. Ternyata orang itu memasuki rumah seorang yang sangat kaya di Basroh yang bernama Nakhos. Malam sudah sangat larut. Malik dan Tsabit merasakan sisa malam begitu panjang, karena rasa penasarannya untuk segera mengetahui orang itu di pagi harinya.

Pagi yang dinanti akhirnya tiba. Malik yang memang mengenal Nakhos itu segera menuju rumahnya untuk menanyakan budak hitam yang dijumpainya semalam. “Apakah engkau punya budak yang bisa engkau jual kepadaku untuk membantuku?” kata Malik bin Dinar beralasan untuk mengetahui budak hitam yang dijumpainya semalam. Nakhos berkata, “Ya, saya mempunyai seratus budak. Kesemuanya bisa dipilih.” Mulailah Nakhos mengeluarkan budak satu per satu untuk dilihat Malik. Sudah hampir semuanya dikeluarkan, ternyata Malik tidak melihat budak yang dilihatnya semalam. Sampai Nakhos menyatakan bahwa budaknya sudah dikeluarkan semua. “Apakah masih ada yang lain?” tanya Malik. “Masih tersisa satu lagi,” jawab Nakhos.

Saat itu waktu mendekati waktu zhuhur. Saat istirahat siang. Malik berjalan ke belakang rumah menuju suatu kamar yang sudah terlihat reot. Di dalam kamar itulah Malik melihat budak hitam yang dilihatnya semalam sedang tertidur lelap. “Nakhos, dia yang saya mau, ya demi Alloh dia,” kata Malik semangat. Dengan penuh keheranan Nakhos berkata, “Wahai Abu Yahya, itu budak sial. Malamnya habis untuk menangis dan siangnya habis untuk sholat dan puasa.” “Justru untuk itulah aku mau membelinya,” kata Malik. Melihat kesungguhan Malik, Nakhos memanggil budak tadi.

Dengan wajah kuyu, dengan rasa kantuk yang masih terlihat berat budak itu keluar menemui majikannya. Nakhos berkata kepada Malik, “Ambillah terserah berapa pun harganya agar aku cepat terlepas darinya.”

Malik mengulurkan dua puluh dinar sebagai pembayaran atas harga budak itu. “Siapa namanya?” tanya Malik yang sampai detik itu masih belum mengetahui namanya. “Maimun.”

Malik menggandeng tangan budak itu untuk diajak ke rumahnya. Sambil berjalan, Maimun bertanya, “Tuanku, mengapa engkau membeliku padahal aku tidak cocok untuk membantu?”

Malik berkata, “Saudaraku tercinta, kami membelimu agar kami bisa membantumu.” “Kok bisa begitu?” tanya Maimun keheranan. “Bukankah kamu yang semalam berdoa di masjid itu?” tanya Malik. “Jadi, kalian sudah tahu saya?” Maimun kembali bertanya. “Ya akulah yang memprotes doamu semalam,” kata Malik.

Budak itu meminta untuk diantar ke masjid. Setelah sampai ke pintu masjid, dia membersihkan kakinya dan masuk. Langsung sholat dua roka’at. Malik bin Dinar hanya bisa diam sambil mengamatinya dan ingin tahu apa yang ingin dilakukannya. Selesai sholat, orang itu mengangkat tangannya berdoa seperti yang dilakukannya kala malam itu. Kali ini dengan doa yang berbeda, “Tuhanku, rahasia antara aku dan Engkau telah Engkau buka di hadapan makhluk-makhluk-Mu. Engkau telah membeberkan semuanya. Maka bagaimana aku nyaman hidup di dunia ini sekarang. Karena kini telah ada yang ketiga yang menghalangi antara aku dan diri-Mu. Aku bersumpah, agar Engkau mencabut nyawaku sekarang juga.”

Tangan diturunkan, budak itu kemudian sujud. Malik mendekatinya. Menunggu dia bangun dari sujudnya. Tetapi lama dinanti tak juga bangun. Malik menggerakkan badan budak itu, dan ternyata budak itu sudah tidak bernyawa lagi.


Credit: suaramedia

Selasa, 02 Juni 2015

Ketika Azab Datang Mengguncang

Tanah yang kita pijak, tak ada jaminan akan tetap kokoh esok hari. Bumi yang kita tinggali ini, tak ada kepastian pada malamnya tak terjadi guncangan. Begitu pun gunung-gunung yang menjadi pasak agar bumi tetap kokoh tidak bergerak-gerak, bisa saja sewaktu-waktu justru berguncang keras dan bahkan meledak sehingga tidak menyisakan apa pun kecuali catatan sejarah bahwa pernah ada kehidupan di sini.

Semua yang ada di dunia ini, bisa secara tiba-tiba musnah seketika. Negeri dan kampung yang kita usahakan dengan jerih payah bersusah-susah hampir sepanjang umur kita, bukan tak mungkin secara tak terduga-duga lenyap ditelan bumi atau hanyut dilamun ombak setinggi gunung.

Alloh ‘Azza wa Jalla pernah berfirman, dan mudah-mudahan kita dapat mengambil pelajaran darinya. Kata Alloh, Maka apakah mereka merasa aman dari azab Alloh (yang tidak terduga-duga)? Tidaklah yang merasa aman dari azab Alloh kecuali orang-orang yang merugi. (Qs. al-A’rof [7]: 99)

Azab yang berupa bencana mengguncang itu, macam-macam tingkatnya, sebagaimana bermacam-macam pula cara Alloh mendatangkannya. Setidaknya ada lima tingkatan azab yang dapat kita catat pada kesempatan ini, dan mungkin masih banyak lagi yang belum kita cermati dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Pertama, azab yang berupa pemusnahan suatu kaum. Alloh Ta’ala tenggelamkan kaum itu seluruhnya bersama segenap kejayaan peradaban yang mereka bangun ke dalam perut bumi. Tak ada yang dapat menolong mereka. Tidak pula ada yang mencatat, kecuali karena kabar dari Alloh swt sendiri atau dari orang-orang yang datang kemudian. Mereka membangun peradaban baru di atasnya, sampai mereka menemukan jejak-jejak peradaban yang sudah tenggelam. Dan inilah yang terjadi pada kaum ‘Aad dan Tsamud.

Kedua, azab yang menghabiskan hampir seluruh penduduk negeri, kecuali yang baik-baik saja, yang di dalam hatinya ada iman. Mereka ini jumlahnya sangat sedikit dibanding penduduk yang secara nyata menentang Alloh. Banjir bandang yang didatangkan Alloh untuk menenggelamkan para penentang Nabi Nuh ‘alaihis salam termasuk azab yang jenis ini.

Ketiga, azab yang memusnahkan sebagian besar manusia di suatu kawasan. Yang baik-baik maupun yang hidupnya dipenuhi dengan kedurhakaan dan kemaksiatan, sama-sama ditimpa oleh petaka. Tetapi Alloh mengampuni dan meridhoi orang-orang yang baik dan memelihara iman mereka. Alloh berikan rohmat dan kasih sayang kepada mereka di akhirat. Adapun kepada yang durhaka, sesungguhnya ngerinya petaka itu tak ada apa-apanya dibanding pedihnya siksa di akhirat.

Keempat, azab yang memusnahkan manusia dalam jumlah sangat besar, tetapi yang Alloh selamatkan jauh lebih banyak daripada yang menemui kematian. Alloh akan tampakkan tanda-tanda kekuasaan-Nya pada mereka agar mengambil pelajaran dan mengabarkan kepada manusia lainnya tentang kebenaran. Akan tetapi, sebagiannya ingat, dan sebagiannya segera menjadi kafir. Mereka tertutup hatinya, sehingga Alloh Ta’ala jadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Alloh Ta’ala mengunci mati hati mereka.

Ingatlah ketika Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rosul-rosul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Alloh mengunci mati hati orang-orang kafir. (Qs. al-A’rof [7]: 101)

Kelima, azab yang dijatuhkan pada sejumlah orang dengan mengirimkan hujan-hujan batu atau ombak yang menggulung setinggi gunung. Alloh Ta’ala sisakan sebagian orang yang tatkala azab itu sedang diturunkan, dalam keadaan penuh ketakutan mereka memurnikan ketaatan, betapapun selama ini hidupnya berlumuran dosa.

Alloh berfirman, Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia ingin ingkar. (Qs. Luqman [31]: 32)

Demikianlah. Semoga kita bisa belajar.


Credit: “Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan”; Mohammad Fauzil Adhim; Pro-U Media

Menenteramkan Jiwa dengan Harta

Kalau engkau merasa hidupmu semakin penuh kegelisahan, justru di saat harta kian bertambah, maka periksalah jalan yang engkau tempuh untuk memperolehnya. Barangkali ada yang keliru dalam melangkah, sehingga menghalangi datangnya barokah hidup kepadamu. Periksalah. Barangkali ada pintu-pintu rezeki yang meragukan kehalalannya (syubhat), atau seakan-akan rezeki itu halal dan thoyyib, padahal ada hak orang lain yang terzholimi.

Terkadang, pekerjaan yang kita lakukan tidak menyalahi agama. Ia merupakan pekerjaan yang baik. Tetapi, jalan untuk memperoleh pekerjaan itu yang tidak bersih, sehingga mendorong kita pada keburukan atau setidaknya kegelisahan hidup. Harta kita bertambah, tetapi hati kita semakin gelisah. Penghasilan kita bertambah besar, tetapi bertambah pula ketidakbahagiaan kita dalam menjalani hidup.

Kadang, kita lupa bahwa banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan harta. Bertambahnya harta kita memang membuat kita punya kesempatan lebih besar untuk membeli apa saja. Tetapi, jika kita tidak berhati-hati menempatkannya, dan tidak memperhatikan cara kita memperoleh, kita justru bisa kehilangan makna hidup kita, diri kita, ketulusan orang-orang yang dekat maupun yang jauh, dan bahkan bisa jadi kita kehilangan diri sendiri. Kita merasa asing terhadap suara nurani kita karena kita sudah tidak mengenalinya.

Sangat banyak hal yang bisa dibeli dengan harta. Tetapi lebih banyak lagi yang tidak. Uang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi tidak untuk menikmati tidur di atasnya. Uang bisa membeli rumah besar dan lapang, tetapi tidak untuk melapangkan jiwa dan ketenteraman hati orang-orang yang tinggal di dalamnya. Uang bisa membeli hiburan apa saja, tetapi bukan ketenangan bathin mereka yang menikmatinya. Uang juga bisa membeli tepuk tangan yang meriah, tetapi bukan ketulusan. Dengan uang, kita bisa membeli berbagai bentuk kesenangan, tetapi tak ada sedikit pun jaminan bahwa kita bahagia.

Betapa banyak orang yang sanggup membelikan apa saja untuk keluarga dan dirinya sendiri, bahkan sampai kepada hal-hal yang paling tidak dibutuhkan. Mereka bisa membeli gelak tawa dan kesediaan untuk mengerumuni kita, tetapi bukan ketulusan hati untuk menemani dan mencintai kita dengan tulus. Kita dapat mereguk kemeriahan orang-orang yang mengangguk, kapan saja kita minta mereka mengangguk, tetapi kita justru merasa kesepian.

Sungguh, harta yang buruk akan membawa kita pada sempitnya dada, sumpeknya kehidupan, gelisahnya hati, dan dekatnya kita pada keburukan. Kita mudah merasakan kehilangan yang besar pada harta kita. Kita hidup, tetapi kosong dari makna. Kita terhibur, tetapi jiwa kita letih dan hati kita sakit.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana jika kita mengalami itu semua atau sebagian di antaranya, sedangkan jalan kita memperoleh harta telah lurus dan bersih? Masih ada lagi yang perlu kita periksa. Sesungguhnya atas harta yang kita miliki, ada yang harus kita keluarkan agar benar-benar bersih apabila jumlahnya telah mencukupi. Sebagian dari harta yang kita peroleh adalah milik orang lain yang berhak, sejumlah yang telah ditetapkan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Maka, menahannya karena menganggap milik kita―sama artinya mencampur harta yang baik dengan harta yang kotor.

Tak ada jalan yang lebih baik untuk mensucikan harta kita, kecuali dengan mengeluarkan kotoran tersebut. Kita mengeluarkan kepada yang berhak karena sesungguhnya harta itu milik mereka. Hanya saja, Alloh berikan hak kepada kita untuk memilih kepada siapa kita berikan harta itu di antara orang-orang yang berhak. Karenanya, keluarkanlah kotoran harta yang bernama zakat itu dengan sebaik-baiknya.

Selebihnya, ada lagi yang perlu kita perhatikan. Sesungguhnya di luar zakat, ada hak orang lain pada harta kita. Belum berbuat kebajikan orang yang membayarkan zakat, tetapi menahan hak orang lain yang ada pada hartanya.

Semoga ada yang bisa kita renungkan.


Credit: “Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan”; Mohammad Fauzil Adhim; Pro-U Media

Mengutamakan Ibu Kita

Inilah penuturan Abu Huroiroh ra. Seorang laki-laki berkata, “Wahai Rosul Alloh, siapakah yang lebih berhak aku berbakti kepadanya dengan baik?”

Rosululloh saw berkata, “Ibumu.”

Dia berkata, “Lalu siapa lagi?”

“Ibumu,” kata Rosululloh saw.

Dia berkata, “Kemudian siapa?”

Rosululloh saw menjawab, “Ibumu.”

Dia merkata, “Lantas siapa lagi?”

Rosululloh saw menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Ada pelajaran dari hadits ini. Seorang ibu memiliki keutamaan untuk kita taati dan kita limpahi kebajikan, tiga kali lebih besar daripada seorang bapak. Tidak ada yang lebih utama untuk kita penuhi panggilannya, kita dengar nasihatnya dan kita limpahi perbuatan baik di dunia ini kecuali ibu. Bahkan andaikata ibu yang melahirkan kita belum beriman kepada Alloh, maka kita tetap harus berbuat baik kepadanya.

Keharusan untuk berbuat baik kepada ibu yang melahirkan kita, betapapun ia belum beriman kepada Alloh―misalnya―bukan karena mengikuti nilai kepatutan yang ada di masyarakat. Bukan. Tetapi sebagai wujud ketaatan kita kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, karena tidaklah kewajiban berbuat baik itu datang melainkan dari Alloh Yang Maha Menciptakan. Ini bukan berarti mengharuskan kita taat kepada apa pun yang diperintahkan oleh orangtua kita, dalam hal ini ibu, melainkan berbuat baik dan menjaga diri dari perkataan yang menyakitkan hati. Apalagi jika lebih dari itu.

Sesungguhnya ketaatan kepada manusia itu hanyalah dalam perkara-perkara yang membawa ketaatan kepada Alloh, atau dalam perkara yang tidak menyalahi perintah dan larangan-Nya. Begitu seorang ibu menyuruh kita berbuat maksiat kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, maka kita tidak boleh menaati perintahnya dalam perkara tersebut. Itu pun tetap harus dengan cara yang baik. Larangan untuk menaati perintah yang melanggar peraturan Alloh tetap harus berjalan seiring dengan kewajiban berbuat baik kepada orangtua, khususnya ibu. Artinya, kita tidak berkata kasar, tidak membentak, tidak berbuat yang menyakitkan hati, dan kalau sekiranya perlu menyampaikan penolakan, haruslah dengan perkataan yang mulia.

Seberapa jauh kita harus berbuat baik kepadanya? Sejauh kita sanggup. Sesungguhnya, betapapun kita telah berusaha untuk membalas sedikit saja dari kebaikan ibu yang membesarkan kita tanpa meminta balasan, tak akan dapat menebus kemuliaannya sedikit pun. Setiap kali kita bernapas, maka dalam setiap hembusan napas itu ada kasih sayang, kemuliaan, dan keutamaan ibu yang mengaliri darah dan hidup kita. Tidaklah kita bisa berdiri dengan tegak, bernapas dengan baik dan memiliki jiwa yang kokoh, kecuali karena tulusnya cinta ibu kita. Kalaupun terkadang harus ada airmata yang jatuh saat mengasuh kita di waktu kecil, itu bukan karena ia tidak ikhlas mengasuh. Tidak. Tetapi airmata itu kadang jatuh justru untuk mempertahankan keikhlasan. Agar penatnya menjaga di waktu malam tidak membuatnya merutuki kita dengan keluh kesah panjang.

Sesungguhnya, satu malam kasih sayang seorang ibu kepada kita, tak akan pernah sanggup kita tembus dengan hadiah yang paling indah. Sebab, tidaklah mereka berjaga, kecuali dengan murninya kasih sayang, tulusnya cinta, dan pada saat yang sama sentuhan jiwa untuk membangkitkan jiwa kita. Andaikata seorang bapak menyayangi anaknya dengan turut berjaga semalaman atau bahkan lebih dari itu, niscaya tak akan sanggup menyamai satu malam saja kasih sayang seorang ibu yang lebih tulus mendidik kita.

Saat-saat kecil, khususnya ketika bayi inilah yang membutuhkan cinta tanpa syarat. Karenanya, nilai do’a kita untuk mereka terutama terkait dengan derajat kasih sayang dan pengasuhan mereka di waktu kecil.

“Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orangtuaku dan limpahilah mereka kasih sayang sebagaimana mereka dulu mentarbiyahku di waktu kecil.”


Credit: “Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan”; Mohammad Fauzil Adhim; Pro-U Media