Rabu, 04 Oktober 2017

Subur, Subur, Suburlah PKI

Saudara-saudara sekalian,

Sudah djam sebelas, kawan-kawan jang dilapangan tengah sudah tele-tele. Tapi saja hendak memberi amanat tidak terlalu pandjang, lebih dulu saja menjampaikan kepada hadirin dan hadirat jang beragama Islam: Assalamu Alaikum Warachmatullahi Wabarakatuh! (massa menjambut: waalaikum salam!) Kemudian pada semua saudara-saudara pekik “merdeka”: Merdeka! (massa menjambut Merdeka).

Saudara-saudara sekalian, apa jang dikatakan oleh Saudara D.N. Aidit tadi adalah benar. D.N. Aidit, Dipa Nusantara Aidit, adalah benar. Kawan Aidit itu namanya hebat, DN-Dipa Nusantara. Tahu artinja Dipa? Nah, plonga-plongo tak tahu artinja, saja sendiri djuga tak tahu (tawa gembira).

Tjoba Dit (memanggil Bung Aidit. Bung Aidit menghampiri Bung Karno). Tjoba katakan apa arti itu Dipa. (mendjawab Bung Aidit: menurut saja, Dipa artinja benteng, djadi Dipa Nusantara artinja benteng Nusantara). (Bung Karno tertawa dengan gembira).

Ja, saudara-saudara saja itu tadi pura-pura tidak tahu. Sebetulnja saja tahu, tetapi baiklah Saudara Aidit sendiri mengatakan kepada saudara-saudara bahwa Dipa berarti benteng. Benteng atau pulau atau karang. Nusantara adalah Indonesia. Djadi Benteng Indonesia Aidit (tepuktangan riuh). Benteng Indonesia dan Banteng Indonesia Aidit (tepuktangan pandjang).

Apa jang dikatakan oleh Saudara Benteng Indonesia Aidit tadi adalah benar, jaitu bahwa fihak imperialis geger, sudah beberapa minggu ini, pertama oleh karena PKI hendak mengadakan Hari Ulangtahun jang ke-45-nja dengan tjara besar-besaran; kedua bahwa pada rapat raksasa Hari Ulangtahun PKI ini Presiden Republik Indonesia Sukarno akan hadir dan berpidato (tepuktangan pandjang). Pihak imperialis diluar geger, didalam geger, bahkan mengirimkan beberapa tjetjunguk, “tjetjunguk” mengerti saudara-saudara? Untuk mengintai-intai apa gerangan jang akan diperbuat oleh Sukarno dalam rapat raksasa PKI itu. Saja berkata kepada mereka itu, tjetjunguk-tjetjunguk itu tidak perlu mengintai-intai, ini lho, terang-terangan tanpa tedeng aling-aling, Sukarno ada disini (tepuktangan pandjang). Terang-terangan tanpa tedeng aling-aling. Dit, sini, (memanggil Bung Aidit) ajo terang-terangan tanpa tedeng aling-aling, ajo kita minta dipotret ber-sama-sama (tepuktangan gemuruh), (Presiden bergandengan tangan dengan Bung Aidit menghampiri para djurupotret sambil melambai-lambaikan tangan kepada massa, massa menjambut dengan tepuktangan pandjang). Kok pakai tjetjunguk-tjetjunguk, intai-intaian, tidak, tidak perlu, saja malahan senang menundjukkan diri dihadapan chalajak seluruh dunia (tepuktangan gemuruh). Memang benar dulu pernah didalam Kongres PKI jang ke-VI, saja lebih dahulu mensitir pribahasa Djawa: dudu sanak, dudu kadang, jen mati aku melu kelangan. (tepuktangan). Pada waktu itu, malah saja berkata, “bukan sadja dudu sanak dudu kadang”, tetapi saja berkata, “jo sanak, jo kadang, jen mati aku kelangan”. (tepuktangan). Apalagi saudara-saudara, apalagi didalam rangka politik jang kita djalankan, jaitu politik jang sudah dari sedjak dahulu saja kemukakan, jaitu menggabungkan mendjadi satu semua tenaga revolusioner progresif, dalam bahasa asingnja, de samenbundeling van alle progressive revolutionaire krachten, menggabungkan mendjadi satu semua tenaga-tenaga revolusioner progresif. Didalam kerangka politik jang demikian itu maka sebenarnja bukanlah satu barang jang aneh, bahwa Pemerintah Republik Indonesia merangkul kepada PKI, bahwa saja sebagai Mandataris daripada MPRS merangkul kepada PKI, bahwa saja sebagai Pemimpin Besar Revolusi Indonesia merangkul kepada PKI (tepuktangan pandjang), sebab siapa jang bisa membantah bahwa PKI adalah unsur jang hebat didalam penjelesaian Revolusi Indonesia ini? (tepuktangan pandjang). Tadi telah disitir oleh Kawan Aidit apa sebabnja menurut pendapat saja PKI mendjadi besar, PKI ndoro, ndoro itu, lihat tangan saja lho, mendjalar, mendjalar, mendjalar, mendjalar. PKI mendjadi kuat, PKI mendjadi sekarang beranggotakan 3 djuta, pemudanja 3 djuta, simpatisannja 20 djuta. Apa sebabnja PKI demikian? Jalah oleh karena PKI adalah konsekwen progresif revolusioner (tepuktangan). Nah, sudah barang tentu saudara-saudara, saja jang berpendapat bahwa revolusi Indonesia ini tidak dapat diselesaikan djikalau tidak digabungkan mendjadi satu semua, semua, semua tenaga progresif revolusioner, saja merangkul PKI, saja berkata PKI, jo sanakku, jo kadangku, jen mati aku melu kelangan (tepuktangan).

Saudara-saudara, pernah saja tjeritakan kepada saudara-saudara, dan taipun telah disitir, dikatakan oleh Kawan Aidit, beberapa sendjata ampuh jang saja berikan kepada revolusi Indonesia, jalah antara lain Pantjasila, antara lain penggabungan semua tenaga progresif revolusioner dalam Nasakom, antara lain Manipol-Usdek, antara lain “Berdikari”. Nasakom ini, saudara-saudara, pernah saja tjeritakan kepada chalajak ramai Indonesia sendiri, bahwa utusan-utusan daripada perajaan Dasawarsa A-A tempohari, kagum melihat Nasakom, heran bahwa Indonesia jang tadinja dikatakan oleh kaum imperialis akan lekas hantjur, Indonesia akan lekas gugur, Indonesia Rakjatnja akan mati kelaparan, Indonesia katjau-balau, bahwa Indonesia itu sebaliknja, ternjata kuat, Rakjatnja ternjata teguh, Rakjatnja ternjata sehat-sehat, karena Indonesia mendjalankan politik Nasakom. Tadi Bung Aidit berkata sebagai bantahan terhadap kepada kaum imperialis jang mengatakan bahwa Indonesia kekurangan pangan, bahwa Indonesia kekurangan makanan, bahwa Rakjat Indonesia malahan saking banjaknja makanan, ubi singkong dipakai untuk menutup djebolnja gili-gili dengan ubi-ubi singkong saudara-saudara. Hanja Indonesia sendiri, saking banjaknja makanan. (tepuktangan).

Siapa bilang saja dari Blitar,
saja ini dari Prambanan,
siapa bilang Rakjat kurang makan,
Rakjat kita tjukup makanan. (tepuktangan).

Kan itu djandjiku saudara-saudara. (Kemudian Presiden membawakan pantun lagi).

Siapa bilang ini soto sembarang soto,
soto ini dari babat,
siapa bilang aku ke Tokio,
Lebih senang tinggal dikalangan Rakjat. (tepuktangan massa mengiringi njanjian itu).

Kaum imperialis itu memang aneh-aneh, saudara-saudara, memang aneh-aneh, meramalkan ini, meramalkan itu, dan paling-paling imperialis itu paling takut kepada Indonesia, apa sebab takut kepada Indonesia? Oleh karena Indonesia menggabungkan semua tenaga revolusioner mendjadi satu, oleh karena Indonesia mendjalankan politik jang konsekwen anti-imperialis. Dengan tjara apa? Dengan tjara menggabungkan semua tenaga jang progresif-revolusioner (tepuktangan).

Nasakom mendjadi kekaguman semua utusan-utusan Dasawarsa A-A. Nasakom mendjadi, malahan satu tjontoh bagi negara-negara Asia-Afrika jang akan melandjutkan perdjuangannja menentang imperialisme. Sesudah itu dimengerti oleh semua utusan-utusan saudara-saudara, maka gampanglah bagi saja untuk menerangkan kepada mereka apa sebabnja Indonesia mengambil inisiatif untuk mengadakan Conefo, Conference of the New Emerging Forces. Utusan-utusan ini sebetulnja saudara-saudara terlebih dahulu telah kagum kepada Indonesia bahwa Indonesialah jang mengemukakan ide New Emerging Forces ini, bukan negara lain. Indonesia jang bekerdja keras untuk melaksanakan penggabungan dari semua tenaga New Emerging Forces. Indonesia sekarang hendak mengadakan Conefo, Conference of the New Emerging Forces. Sebelah ini Saudara-saudara, sebelah Gelora Bung Karno, disana sekarang ini sedang dibangun perlengkapan-perlengkapan, gedung-gedung untuk Conference of the New Emerging Forces. Saja sekarang saudara-saudara, memanggil kepada seluruh Rakjat Indonesia untuk membantu kepada pembangunan ini agar supaja tahun muka saudara-saudara, benar-benar di Indonesia, di Djakarta bisa diadakan Conference of the New Emerging Forces itu. Nah, sesudah utusan-utusan dari Dasawarsa itu melihat hebatnja, manfaatnja politik Nasakom, mudah bagi saja untuk menerangkan kepada mereka bahwa Conefo adalah sebetulnja satu nasakom Internasional. Apa sebab Nasakom Internasional? Sebabnja jalah didalam Conefo itu hendaknja kita gabungkan semua, asal tenaga anti-imperialis baik dari negara-negara jang tjapnja Nasional maupun dari negara-negara jang jtapnja Agama maupun daripada negara-negara jang tjapnja Komunis, bahkan dari negara-negara kapitalis jang disitu ada perkumpulan-perkumpulan atau tenaga-tenaga progresif, saudara-saudara. Dus Conefo menggabungkan, ja negara-negara Nasionalis jang anti-imperialis, ja negara-negara Agama jang Anti-imperialis, ja, negara Komunis, ja, negara-negara lain, Saudara-saudara, jang didalamnja adalah tenaga-tenaga progresif. Oleh karena itu, maka aku bisa menerangkan kepada utusan-utusan Dasawarsa itu bahwa Conefo adalah satu Nasakom Internasional.

Disini, dikalangan Indonesia sendiri, saudara-saudara, ada orang-orang jang menanja kepada saja, Bung atau Pak kenapa politik Bung Karno menggabungkan semua tenaga anti-imperialis, sama tenaga revolusioner dalam perkataan Nasakom? Kenapa “Kom”? Kenapa kok tidak seperti tahun duapuluh enam waktu Bung Karno buat pertama kali mentjetuskan ide persatuan daripada tenaga-tenaga revolusioner ini? Nasionalis, Islam, Marxisme atau Nasionalis, Agama, Marxis, kenapa Bung Karno tidak memakai perkataan Nasamarx? Kok pakai perkataan Nasakom? Kenapa “Kom”? Kenapa tidak “Sos”? Kenapa tidak “Marx”? Nasamarx atau Nasasos? Kok Bung Karno memakai perkataan Nasakom?. Didjelaskan disini saudara-saudara, dengarkan, perkataan jang paling ditjatut, ditjatut oleh pentjoleng-pentjoleng politik, oleh tjoro-tjoro politik, perkataan jang paling ditjatut pentjoleng dan tjoro-tjoro ini jalah perkataan Marxisme saudara-saudara. Saudara-saudara mengetahui bahwa misalnja PSI, Partai Sosialis Indonesia jang sudah saja bubarkan itu. PSI itu selalu menepuk-nepuk dada: Kami Marxis, kami Marxis, kami Marxis! Saja berkata mereka bukan Marxis! Mereka adalah pentjoleng daripada Marxis (tepuk tangan pandjang). Karena itu aku tidak mau memakai perkataan Nasamarx. Kalau aku memakai perkataan Nasamarx, djangan-djangan nanti orang-orang PSI djuga ikut-ikut didalam nasamarx ini saudara-saudara. Padahal mereka adalah kontra-revolusioner, padahal mereka adalah revisionis tules, padahal mereka adalah pentjoleng Marxisme! (tepuktangan pandjang menggemuruh).

Ketjuali itu saja dengan sengadja memakai perkataan “Kom”, Nasakom, oleh karena di Indonesia ini banjak orang jang phobi saudara-saudara, phobi kepada “Kom”, chususnja takut kepada PKI, bentji kepada PKI, hendak menghantjur-leburkan PKI. Terus terang sadja, terus terang sadja, dikalangan Nas ada jang Komunisto phobi, dikalangan Agama ada jang Komunisto phobi, dikalangan Angkatan Bersendjata dulu ada jang ber-Komunisto phobi. Nah, ini penjakit phobi ini hendak saja bantras saudara-saudara, hendak saja bantras. Maka oleh karen itu dengan sengadja didalam penggabungan nationale revolutionaire krachten ini saja pakai perkataan “Kom”, “Kom”, “Kom”, sekali lagi “Kom”. (tepuktangan menggelegar). Ja, “Kom” benar lho,, ada djuga “Kom” gadungan. (Bung Aidit: “Kom gadungan djuga ada”). Sebab ada djuga “Kom” gadungan, ada djuga Marhaenis gadungan, ada djuga Marxis gadungan, padahal didalam perdjuangan kita anti-imperialis, tidak boleh mempersatukan tenaga-tenaga gadungan, tenaga-tenaga gadungan itu malahan lebih membahajakan, lebih berbahaja daripada imperialisnja sendiri, saudara-saudara. Itu sebabnja tempo hari saja perintahkan, bubarkan “BPS” dan semua antek-antek “BPS” (tepuktangan).

Lebih baik dengan kumpulan tenaga jang djumlahnja ketjil, tapi kompak revolusioner, kompak revolusioner, tetapi kwalitatif tinggi. Lebih baik saudara-saudara, djumlah ketjil tetapi kompak dan kwalitatif tinggi daripada djumlah banjak tetapi penuh dengan tjetjunguk-tjetjunguk dan kontra-revolusioner. Oleh karena itu saudara-saudara, maka kita djuga didalam KAA jang akan datang, kita daripada Republik Indonesia berdiri diatas prinsip ini. Kalau bisa ja, semua negara A-A tergabung didalam Konferensi A-A jang jedua di Aldjazair. Tetapi kalau tidak bisa, misalnja ada negara-negara jang tidak mau ikut oleh karena pro “Malaysia”, lebih baik mereka djangan ikut A-A ini. Lebih baik mereka diluar A-A ini. Lebih baik kita mengadakan A-A kedua ini dengan negara-negara jang kurang djumlahnja, tetapi semuanja berpendirian anti-imperialisme daripada dengan djumlah banjak tetapi diantaranja adalah kawan-kawan dan antek-antek imperialisme. Nah, tetapi saja bisa memberitahukan dengan gembira kepada saudara-saudara bahwa usaha “Malaysia” untuk ikut serta dalam Konferensi A-A kedua ini, bahwa sebagian besar daripada negara-negara Asia dan Afrika tidak mau menerima “Malaysia” didalam Konferensi A-A jang kedua (tepuktangan). Ada satu, dua, tiga negara jang mau menerima “Malaysia” itu, ada. Mana ada perdjuangan jang kompak seluruh 100% saudara-saudara, tidak ada. Demikian pula didalam perdjuangan A-A ini saudara-saudara, ada, satu, dua, tiga negara jang pro “Malaysia” jang sebetulnja djiwanja adalah djiwa antek imperialis. Tapi, biar, biar, biar, aku telah perintahkan kepada Ibu Supeni, Peni! Madepo mrene. Nah, ini Ibu Supeni! Supeni, kalau ada negara jang ngotot mau membela “Malaysia” tetaplah tolak mereka itu dari A-A, tetap tolak, kalau mereka mau keluar dari A-A biar keluar! (tepuktangan). Tjuma tadi aku sudah berkata sjukur alhamdulillah, sebagian terbesar daripada negara-negara Asia dan Afrika adalah berpendirian sama dengan Republik Indonesia jaitu menolak “Malaysia” daripada Konferensi A-A jang kedua ini. Ha, wong memang “Malaysia” itu antek, saudara-saudara, antek imperialis.

Ada jang begini, ada negara jang berpendirian begini: Ja, kenapa kok Presiden Sukarno itu kok anti “Malaysia”, “Malaysia” itu kan negara Asia? Ini negara Asia mau ikut dalam Konferensi A-A kok ndak boleh? Bagaimana Presiden Sukarno itu, tidak konsekwen Asia-nja? Ha, inilah saudara-saudara keblingernja negara ini dengan mengatakan bahwa “Malaysia” adalah negara Asia. Tidak “Malaysia” bukan negara Asia! “Malaysia” adalah negara bikinan Inggris di wilajah Asia! Aku telah berkata bahwa Tengku Abdurrachman bukan Asian, bukan orang Asia, dia adalah a non Asian. Orang Asia jang sebenarnja bukan Asia. Berulang-ulang saja berkata “Malaysia” kita tidak bisa terima sebagai negara Asia. Tidak bisa kita terima sebagai negara Asia. Oleh karena “Malaysia” didirikan oleh Inggris tidak sesuai dengan Manila Agreement. Karena “Malaysia” didirikan tidak sesuai dengan Manila Agreement, karena “Malaysia” didirikan untuk contain Republik Indonesia, karena “Malaysia” didirikan untuk mendjaga, menjelamatkan, to preserve “life line of imperialism” jang kataku dari selat Djibraltar, Laut Tengah, Suez, Lautan Merah, Aden, Samudera Indonesia, Selat Malaka, Singapura, membelok ke Utara, karena “Malaysia” itu didirikan oleh fihak Inggris untuk menjelamatkan, untuk mendjaga “life line of British imperialism” ini, maka Indonesia tidak bisa menerima “Malaysia” sebagai negara Asia. Oleh karena itu Indonesia tetap menolak masuknja “Malaysia” didalam Konferensi A-A jang kedua. Dan sjukur alhamdulillah kataku, sebagian terbesar, bahkan sebagian terbesar negara-negara Afrika, negara-negara Afrika jang sudah berapa kali ditjekoki, ditjekoki, ditjekoki oleh Tun Abdul Razak, oleh Chair Zuhari dan lain-lain supaja negara-negara Afrika ini mau menerima “Malaysia” didalam Konferensi A-A kedua, saja bisa berkata alhamdulillah, sebagian terbesar daripada negara-negara Afrika ini tidak sudi dan akan menolak “Malaysia” masuk didalam Konferensi A-A jang kedua (tepuktangan).

Nah, didalam hal ini, didalam segala politik Republik Indonesia, ja bagian “Malaysia”, ja bagian berdikarinja ekonomi, ja bagian berdaulatnja politik, ja bagian berkepribadiannja kebudajaan, selalu PKI adalah berdiri dibarisan jang paling depan daripada barisan Indonesia ini (tepuktangan riuh sekali). Karena itupun saja tanpa tedeng aling-aling, jo PKI kene dulurku, kene dulurku, jo sanak jo kadang jen mati aku sing kelangan. Memang demikian Saudara-saudara. Manakala saja didalam Kongres jang ke-VII daripada PKI berkata: PKI “go ahead!” berdjalanlah terus, artinja go ahaead. Sekarang pun saja berkata PKI, go ahead! PKI, madju, onward, onward, onward, never retreat! (tepuktangan menggelegar).

Saudara-saudara sekianlah sambutanku kepada Ulangtahun ke-45 PKI ini, dan saja mendoakan agar supaja Partai Komunis Indonesia tetap subur, subur, subur, madju, madju, madju, onward, onward, onward, never retreat!

Terima kasih. (tepuktangan riuh dan seruan “Hidup Bung Karno”, “Hidup PKI” terdengar mengguruh)


Sabtu, 09 September 2017

Tetangga

SEMUA syari’at dan petunjuk dalam manhaj Ilahi, kata Sayyid Quthb dalam permulaan Juz kelima Fii Zhilaalil Qur’an, bersumber dari satu asal dan mengacu pada satu acuan. Dia bersumber pada keyakinan kepada Alloh dan mengacu pada tauhid yang murni sebagai rupa dari ciri khas ‘aqidah Islam. Dari sini satu dengan yang lainnya saling berhubungan secara harmonis. Sulit memisahkan satu bagian dari bagian yang lain. Mempelajari sebagiannya akan terasa kurang bilamana tidak merujuk pada asalnya yang besar.

Dari keyakinan pada Alloh akan muncul semua persepsi dasar mengenai hubungan dengan alam, kehidupan, dan kemanusiaan. Semua persepsi itu menjadi landasan bagi sistem kemasyarakatan, siyasah, perekonomian, akhlak, dan antar bangsa yang berpengaruh terhadap hubungan manusia satu sama lain, dalam semua bidang kehidupan manusia di bumi. Ia mengatur nurani orang perorang dan realita kemasyarakatan, yang membuat semua aktivitas manusia adalah ibadah, dan terhubungkan dengan keimanan kepada Alloh. Lihatlah betapa ayat ini bergerak dari ketinggian tauhid menuju pemaknaannya di dalam semua sisi kehidupan itu.

“Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisaa’: 36)

Demikianlah, terlihat sekali bagaimana sentuhan yang sangat mendasar dalam manhaj Islam. Yaitu mengaitkan semua bentuk perilaku, semua bentuk dorongan batin, dan semua bentuk hubungan masyarakat dengan ‘aqidah. Sikap mentauhidkan Alloh dalam peribadahan dan penerimaan ajaran, akan diiringi dengan berbuat baik kepada manusia karena mengharapkan ridho Alloh, mengharapkan pahalaNya di akhirat kelak dengan penuh adab, kesantunan, kelemahlembutan, dan kesadaran bahwa seorang hamba hanya bisa menafkahkan rezeki yang dikaruniakan Alloh kepadanya dan tidak bisa menciptakan rezeki untuk dirinya sendiri. Sementara itu kufur kepada Alloh dan hari akhirat, akan disertai sifat sombong dan membanggakan diri, kikir dan menyuruh orang berbuat kikir, serta menyembunyikan nikmat Alloh hingga tak terlihat atsarnya dalam bentuk kebaikan dan penjalinan keakraban dengan manusia. Kalaupun bernafkah, ia melakukannya karena riya’, agar dilihat dan dipuji. Karena dia tidak percaya kepada hari akhirat, maka yang dilakukannya tak lebih dari kesombongan di hadapan Alloh dan berbangga diri di hadapan manusia.

“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya…” (HR. Muslim)

Kita begitu rindu masyarakat imani, masyarakat yang membuat kita selalu ingin berada di tengah mereka. Hanya ini masyarakat yang membuat kita merasa aman dari lisan dan tangan mereka. Alangkah tenteram berada di tengah mereka. Serasa, masyarakat ini adalah masyarakat surgawi, dan tetangga-tetangga ini kita doakan menjadi tetangga di surga nanti.

Inilah masyarakat yang setiap hari menyambung shilaturrohimnya di dalam rumah Alloh melalui jama’ah sholat dan majelis ilmu. Tumit-tumitnya merapat, pundak-pundaknya luwes saling bersentuh, barisannya lurus, dan takbirnya serempak menggemakan kebesaran Alloh. Masyarakat yang rumpiannya rumpian iman, arisannya majelis dzikir, dan gotong royongnya jihad fii sabilillah.

Memang sulit mencari, tetapi alangkah indahnya memulai dari diri sendiri. Jika keluarga kita dibangun di atas peribadahan kepada Alloh, maka juluran-juluran rantingnya adalah da’wah ilallooh. Di manapun bumi tempatmu berpijak, kata ‘Umar ibn Al-Khoththob kepada sahabatnya yang berangkat menunaikan tugas, keislamannya adalah kewajibanmu. Maka adakah tercantum di dalam visi dan misi pernikahan kita sebuah kata yang berat timbangannya di sisi Alloh; da’wah?

Salah seorang dosen saya pernah tugas belajar di Jepang. Itu biasa. Tetapi tidak untuk yang satu ini. Dia telah mengislamkan beberapa keluarga di sana. Bagaimana bisa? Dengan mencoba mengamalkan sebagian tuntunan Rosululloh tentang bertetangga. Berbagi makanan, misalnya. Ada juga yang dengan sangat sederhana, namun kadang jiwa kita yang tumpul tak terpikir ke sana. Awalnya adalah saat sang tetangga pergi berlibur. Nah sang tetangga ini berlangganan koran yang diantar tiap pagi. Karena tak ada yang di rumah, dosen saya ini membawa koran itu ke rumahnya. Begitu tiap hari sampai sepuluh hari lamanya. Ketika sang tetangga pulang, dia menyerahkan koran-koran itu.

Sang tetangga heran. Kok sepeduli ini, apa alasannya? “Kalau ada koran menumpuk di depan rumah, orang akan tahu bahwa rumah ini kosong. Khawatirnya, ada yang punya maksud tidak baik.” “Arigatou gozaimassu,” kata sang tetangga sambil –tak cuma ruku’- sujud padanya. Luar biasa.

Nah, kini saatnya bicara tentang bagaimana memulai sebuah interaksi bertetangga yang mendatangkan keridhoan Alloh. Masih ingat tentang Zero Base ketika kita membicarakan interaksi dengan mertua? Majalah Ummi No 3 Tahun XVI, Juli-Agustus 2004 menurunkan sebuah artikel tentang Zero Base dalam interaksi sosial. Dalam artikel itu ditulis bahwa hal-hal di bawah ini adalah benefit, ketika kita menerapkan Zero Base dalam interaksi sosial. Saya malahan, ingin mengajak Anda untuk memandangnya sebagai pengikhtiaran. Berdasar atas prinsip Zero Base yang kemudian akan kita isi dengan kebaikan-kebaikan, inilah keindahan itu.

1.    Pandanglah bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis. Ia bisa belajar dari kesalahan dan memperbaikinya di waktu-waktu yang akan datang. Adalah ketidakadilan, menilai manusia hanya berdasar jejak rekam masa lalu. Semua manusia bisa tersalah, sehingga ada peluang keindahan dengan memaafkan. Ada penerimaan yang imbal baliknya adalah proses perbaikan. Berhati-hatilah menyikapi manusia. Bahkan Imam di bidang ilmu Jarh wat Ta’dil, yakni ilmu kritik atas Rowi hadits yang menentukan shohih tidaknya suatu hadits sehingga ilmu ini menjadi sangat penting, mengajak kita untuk merenung. Beliau, Al-Imam Yahya ibn Ma’in berkata, “Boleh jadi, kita mengritik dan melemahkan seorang Rowi, padahal dia memasuki surga ratusan
atau ribuan tahun mendahului kita.”

2.   Bebaskan diri dari prasangka. Segala hal yang ‘terlalu’ tidaklah menampakkan kebaikan. Prasangka yang terlalu baik membuat kita terjebak pada sifat lalai, ghurur (tertipu), dan terseret untuk berbuat tidak adil. Akan ada ketidakseimbangan. Sebaliknya, prasangka yang buruk akan membinasakan. Prasangka yang ‘terlalu baik’ adalah ekspektasi yang melahirkan tunturan psikis kepada orang lain, maka jadilah kekecewaan yang bertimbun-timbun atau ketidakadilan terhadap pihak lain. Prasangka yang buruk akan menjadi sel-fulfill-ing prophecy. Jibril berpesan pada Nabi kita untuk diteruskan pada ummatnya, “Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, karena boleh jadi suatu ketika ia menjadi orang yang paling kau benci. Bencilah orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi suatu ketika ia menjadi orang yang paling kau cintai.” (HR. Al-Bukhori)

3.  Nilailah apa adanya. Nilailah objektif dan apa adanya sesuai interaksi kita dengan mereka. Bersikaplah sebaik-baiknya dan katakanlah yang tidak tahu jika kita memang belum memahami. Dalam konsep yang dibawakan ‘Umar ibn Al-Khoththob, mengenal seseorang berarti pernah bermalam bersamanya, melakukan mu’amalah, atau melakukan suatu perjalanan bersama.

4.   Beranilah mengambil sikap yang tepat. Kita menilai dan menyikapi seseorang berdasar kebenaran, bukan keberpihakan bertendensi. Pembelaan atau penolakan, persekutuan atau permusuhan bukan berdasarkan timbangan-timbangan keuntungan, tetapi berdasar cara pandang yang jernih dan bersih.

5.   Berpegang pada standar Ilahiyah. Laa ilaaha, dengan mengosongkan diri dari standar-standar pribadi dan standar-standar artifisial lainnya, kemudian Illallooh membuat kita menetapkan diri pada standar Ilahi. Seseorang diukur bukan dengan hartanya, keturunannya, kedudukan, atau jabatannya. Bukankah yang termulia di sisi Alloh di antara kita adalah yang paling bertaqwa?

6.  Kosongkan diri dari tujuan kotor. Alloh menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kita saling mengenal. Alloh menciptakan kita bertetangga agar kita saling bersaudara. Ada tujuan-tujuan suci, ada keindahan-keindahan yang mengangkat diri ke ufuk tinggi. Maka jangan sampai ada tujuan-tujuan kotor dalam bertetangga. Memanfaatkan, menyakiti, merusak, dan tujuan kotor lainnya. Ingatlah bahwa dosa atas ma’shiat yang dilakukan kepada tetangga, dilipatkan lebih dari sepuluh kali oleh Alloh Subhanahu wa Ta’alaa. Imam Al-Bukhori membawakan riwayat bahwa Rosululloh pernah bersabda, “Berzinanya seseorang dengan sepuluh wanita lebih ringan dosanya daripada jika ia berzina dengan isteri tetangganya. Mencuri di sepuluh rumah lebih ringan dosanya daripada pencurian yang ia lakukan di rumah tetangga.”

“Jibril senantiasa berwashiat kepadaku tentang tetangga, sampai-sampai aku menyangka bahwa tetangga akan ikut menjadi pewaris.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)
©©©

Revis, usianya 4 tahun saat itu. Putri kedua tetangga depan rumah saya, pasangan Mas Wawan dan Mbak Nur. Suatu siang bersama ibu, kakak, dan adiknya, ia menonton tayangan berita kriminal di televisi. Kebetulan yang diberitakan tentang sindikat penjualan anak. Saat itu, muncul komentarnya yang dikisahkan sang Ibu pada kami dengan senyum tapi matanya gerimis, komentar yang akan kami kenang sepanjang hidup. “Anak kok dijual-jual? Memangnya boleh to? Mbok kalau boleh, aku dijual saja. Nanti biar yang beli Mbak Indah sama Mas Salim.”

Dan izinkan sekali lagi saya berterimakasih pada tetangga. Suatu hari, isteri saya mendapat mushibah, jatuh dengan sepeda motornya ketika memboncengkan mutarobbiyah-nya. Maksud hati tak ingin merepotkan, karena memang hanya keseleo dan beberapa luka ringan. Maka kami tak banyak memberitahu tetangga. Tetapi cinta selalu punya cara untuk tahu tentang ihwal kecintaannya.

Tiba-tiba saja di pagi itu, Ibu Ummu Hanik datang membawakan sarapan pagi. Tiba-tiba saja siangnya Mbak Nur mengatakan sudah semalam ia merendam beras untuk membuat param, dan kini datang lengkap dengan sobekan-sobekan kain untuk mengikat param di tempat-tempat lebam. Tiba-tiba saja Ibu Udri datang membawa makan siang dan memberikan nomor telepon seorang tukang pijat wanita. Hari berikutnya giliran Bu Yayuk datang ke rumah untuk bersih-bersih, cuci piring, dan baju. Dan sorenya Ibu Zuriah datang membawakan telur ayam kampung, jeruk nipis, dan madu. “Biar capek dan pegalnya hilang,” katanya sambil memijati isteri saya.

Ya Alloh, abadikan pertetanggaan ini hingga surgaMu.


Kredit: "Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim"; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Alloh dan Hari Akhir

COUNT LEV NIKOLAYEVICH TOLSTOY. Dunia mengenalnya sebagai Leo Tolstoy. Seorang pencerita besar yang dicatat dalam Merriam Webster’s Encyclopedia of Literature sebagai; penulis Rusia, salah satu novetelis terbesar dunia, penulis cerita pendek brilian sebelum akhirnya mapan sebagai novelis ulung Rusia. Karya-karyanya bercorak realis, bernuansa religius, sarat renungan moral dan filsafat.

Mungkin dua karyanya yang paling disebut-sebut adalah novel War and Peace dan Anna Karenina. Tetapi sesungguhnya berderet-deret karya lain yang menggambarkan betapa dalam pemaknaannya tentang kehidupan sosial dan hubungannya dengan nilai-nilai Ilahiyah. Akhir hidup Tolstoy, 20 November 1910, terjadi di sebuah stasiun kecil saat ia meninggalkan keluarga besarnya yang hidup makmur dan isterinya yang bertentangan keyakinan dengannya. Kabar beredar, bahwa interaksi Tolstoy dengan orang-orang Islam selama bertugas sebagai tentara di Kaukasus membawanya memeluk keyakinan baru itu. Walloohu a’lam. Yang jelas, ketika dia ingin menghibahkan hartanya bagi pendidikan para petani di wilayahnya, sang isteri menolak. Adapun nilai Islam yang tidak hanya tersirat, tapi jelas-jelas tersurat dapat dibaca pada ceritanya yang berjudul Ilyas.

Sejenak kita kembarai dunia Tolstoy dalam karyanya yang tak kalah brilian dari kedua masterpiece-nya di muka, yakni The Death of Ivan Ilyich. Oleh kritik cerita, The Death of Ivan llyich, dianggap sebagai salah satu masterpiece aliran realisme psikologis, bahkan mungkin yang paling baik, sangat-sangat mempesona, dan kuat. Ivan Ilyich, seorang birokrat sejati. Luwes, pintar, dan… licin. Caranya menjalin interaksi dengan manusia begitu menarik. Caranya menjilat atasan, caranya menyikut sekawan, dan caranya menginjak yang di bawah begitu anggun, sangat elegan. Kita akan mengutip sebagian cerita untuk menikmati suasananya.
Sebagai hakim pemeriksa, Ivan Ilyich sama anggunnya dan senantiasa memperagakan bakatnya yang luar biasa untuk memisahkan tugas-tugas dari urusan pribadinya dan selalu membangkitkan rasa hormat masyarakat luas seperti tatakala dia melakukan tugas-tugas untuk sang Gubernur. Dia merasa bahwa jabatan hakim ini jauh lebih menarik dan menyenangkan daripada jabatan terdahulunya. Tentu saja dalam jabatannya yang dulu dia sudah merasa sangat puas dapat mengayunkan langkah-langkahnya dengan lincah, mengenakan seragam indah buatan Sharmer, melewati para klien yang berdebar-debar dan para juru tulis yang duduk-duduk di ruang tunggu, melontarkan lirikan dengki, lalu memasuki ruang sang pemimpin, serta duduk bersamanya, minum teh dan merokok...

Kini sebagai hakim pemeriksa, dia merasa bahwa semuanya tanpa kecuali, termasuk orang-orang yang paling penting dan paling kaya berada dalam cengkeraman kekuasaannya. Dia tinggal menulis kata-kata tertentu pada sehelai surat berkop resmi, orang yang paling penting dan yang paling kaya itu akan dihadapkan sebagai saksi, bahkan tahanan. Dan kalau Ivan Ilyich tidak meminta mereka untuk duduk, mereka harus berdiri di hadapannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan…

Kisah ini dimulai dari pemberitaan tentang kematian Ivan Ilyich akibat penyakit yang tak kunjung sembuh. Lalu alur cerita bergerak lincah, sedikit maju pada lawatan kematian dari teman-teman yang berharap banyak pada perubahan jabatan selepas kematiannya, lalu mundur jauh ke masa muda Ivan Ilyich hingga maju lagi pada bagaimana ia menjalani hidupnya selama ini, terus sampai hari-hari terakhir kehidupannya. Yang menarik adalah apa yang ada di balik kematiannya. Ivan Ilyich sendiri takut mati, disiksa penyakit, terombang-ambing dalam kenangan hidup yang berbolak-balik selama terbaring di ranjang, sementara orang-orang di sekelilingnya berpura-pura ikut berbelasungkawa. Bahkan ia merasa sendiri, di tengah keluarganya yang kini menyikapinya sebagaimana dia dulu menyikapi orang-orang; berakrab-akrab, ada perhatian, namun yang tampak dan terasa adalah penghinaan yang anggun serta kepura-puraan yang dingin.

Bagi saya, membaca The Death of Ivan Ilyich adalah tempat kita mengaca dalam kejernihan tentang bekal yang paling sering terlupakan saat kita menapaki jenjang pernikahan. Apa itu? Iya. Bekal persiapan sosial. Adakah selama ini kita berpikir tentang masalah ini? Saya sendiri merasa, bahwa selama ini banyak hal yang terlewat saya maknai tentang bagaimana nantinya kehidupan kemasyarakatan yang akan saya jalani. Bagaimana saya akan memenuhi hak-hak tetangga saya. Bagaimana saya akan memberi kemanfaatan tertinggi bagi mereka. Bagaimana agar lisan dan tangan tak sampai menyakiti mereka. Bagaimana saya bisa mengikuti mereka dalam kesholihan-kesholihan, atau justru bagaimana saya akan mewarnai lingkungan ini dengan kesholihan nantinya.

Kalau saja ketidakpedulian itu menyelamatkan, tentu saja saya akan tak acuh. Tidak perlu mengurusi orang lain. Pikirkan saja diri sendiri. Ada banyak hal lain yang bisa dikerjakan. Tapi tidak bisa. Bolehlah berhujjah dengan bahwa kita ini makhluk sosial, tidak mungkin bisa hidup sendiri. Itu argumen yang sah. Tapi lemah. Saya lebih memilih keimanan sebagai sebuah pengikat. Al-Imam Malik ibn Anas pernah menyebutkan beberapa hadits sebagai pilar akhlak kehidupan orang beriman. Salah satunya yang berikut ini.

“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia berbicara yang baik atau diam.” (HR. Muslim)


Ketika pertetanggaan, pelayanan kepada tamu, dan komunikasi sosial dijadikan oleh Sang Nabi sebagai tolok ukur keimanan, saya begitu merinding. Akankah kemudian nilai kita di sisi Alloh ditimbang dari persaksian tetangga-tetangga kita, tetamu kita, dan semua manusia yang pernah berbicara dengan kita? Sungguh begitu menghentak pertanyaan ini, menampar diri, dan memukul-mukul jiwa. Tetapi demikianlah kebenaran. Mintalah orang bertanya tentang kita pada tetangga kita, kemudian mintalah ia melihat raut wajah pertamanya saat menjawab. Mintalah orang bertanya tentang kita kepada orang-orang yang bergaul dengan kita, kemudian mintalah ia memperhatikan ekspresi spontannya.

Kredit: "Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim"; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Jumat, 21 Juli 2017

Otoritas Islam di Nusantara dan Kedatangan Imperialis Eropa

Berkenaan dengan kehadiran Islam di Nusantara, Ricklefs memberikan penggambaran tentang warna Islam yang lebih nyata dalam perjalanan sejarah Indonesia. Ricklefs menegaskan, era “Indonesia modern” dimulai sejak kedatang-an Islam. Agama ini telah mempersatukan suku-suku Nusan-tara menjadi satu “kesatuan sejarah yang padu” (a coberant historical unit). Dalam melawan hegemoni kolonial, Islam telah menjadi simbol identitas pribumi dan kebangkitan daya juang, seperti juga pernah ditegaskan Prof. Dr. George McTurnan Kahin di dalam Nationalism and Revolution in Indonesia, serta Prof. Dr. Harry Jundrich Benda di dalam The Crescent and the Rising Sun.
Pasca jatuhnya Malaka dan pasai, kehadiran Putri Ong Tien ke Cirebon merupakan kisah adanya hubungan erat antara penguasa-penguasa di Cina terhadap Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), seorang Senopati Sarwajala yang di masa itu bertugas membangun armada gabungan Demak-Cirebon, Palembang, dan Cina untuk menggempur Portugis di Malaka. Kemudian setelah runtuhnya Kesultanan Demak, aliansi untuk melancarkan serangan terhadap kedudukan Portugis di Malaka maupun Maluku, tetap dilanjutkan oleh Jepara bersama dengan Aceh, Ternate, Hitu, dan Johor.
Sementara itu di Jawa −setelah tewasnya Sultan Trenggono dalam ekspedisi Demak menundukkan Jawa Timur dikarenakan elit dari Majapahit menjalin persekutuan dengan Portugis, konsentrasi kekuatan Islam di Jawa kemudian mengerucut di antara Banten, Jepara, dam Giri; di mana masing-masing dari ketiga kekuatan tersebut juga memiliki persoalan di dalam teritorinya masing-masing.
Ketika Jepara masih bisa melancarkan serangan terhadap Portugis di Malaka dan Maluku, di Jawa Barat, Banten masih harus menghadapi Pajajaran yang telah menjalin persekutuan dengan Portugis. Sementara itu di Jawa Timur, selain mesti menjadi arbriter atas perseteruan yang pecah antara Pajang –kemudian juga Mataram− dengan Surabaya (yang memimpin para adipati di Jawa Timur), Giri juga harus melakukan ekspedisi ke Bali dan Nusa Tenggara guna mencegah Portugis masuk ke perairan Timor. Sebab di masa itu, Portugis telah berhasil menarik Ternate ke dalam pengaruhnya melalui peran sejumlah elit istana, sehingga Sultan Ternate harus menunggu dukungan dari luar (Jepara dan Hitu) sebelum akhirnya ia berhasil membersihkan monopoli Portugis dari Maluku.
Selain kehadiran Portugis, yang cukup menarik adalah kedatangan kapal Victoria milik Spanyol di tahun 1521 yang secara tidak sengaja tiba di kepulauan Maluku dan turut mendapatkan keuntungan mencapai lebih dari 2500 persen melalui perdagangan rempah-rempah, terutama dari komoditi cengkeh dan pala yang hanya dihasilkan dari Maluku. Selain karena monopolinya yang terancam, Portugis berang karena Spanyol telah melanggar perjanjian pembagian kawasan pengaruh (“sphere of eventual interests”) yang dibuat di Tordesillas pada tahun 1499. Namun, meskipun mendapat kecaman keras, Spanyol tetap mengirim armada lagi terdiri dari 7 kapal, di mana hanya dua kapal yang sampai setelah satu kapal terdampar di Mindanao dan yang lainnya mendarat di Tidore.
Kedatangan kapal Spanyol di Tidore pada waktu itu mendapat sambutan baik dari Sultan, yakni dengan maksud dijadikan alat penekan bagi Ternate yang menjadi saingannya dan telah jatuh ke dalam pengaruh Portugis. Dan oleh karena itu pula, Paus segera memprakarsai diadakannya perjanjian Zaragosa (22 April 1529) yang menjadi penegas lanjutan dari perjanjian Tordesillas. Hal ini dilakukan untuk meredam adanya persaingan yang berujung pada peperangan terbuka antara Portugis dengan Spanyol di Maluku.
Sementara itu, di seberang Semenanjung Malaka, Aceh mulai menunjukkan supremasinya berkat dukungan militer dan teknologi persenjataan dari Turki, sehingga Portugis kesulitan untuk masuk lebih jauh ke Laut Jawa ataupun pantai Barat Sumatera. Dan dalam jangka waktu yang panjang, hal ini turut memberi jalan bagi pesatnya perniagaan di Selat Sunda.
Selain itu, pedagang-pedagang Muslim dari belahan Timur Nusantara segera dialihkan jalur pelayaran dan langsung memusatkan perniagaannya ke Jepara, Banten, Aceh, atau Johor. Dengan demikian, langkah strategis untuk mengunci dan memonopoli perdagangan di Nusantara yang dulunya dilakukan oleh Portugis melalui pendudukan atas Malaka seolah menjadi sia-sia. Bahkan, untuk mendapatkan rempah-rempah Maluku, Portugis “terpaksa” merintis jalur baru melalui perairan di Utara Pulau Kalimantan. Selain karena waktu tempuh yang lebih cepat, hal ini dilakukan untuk menjaga pasokan dagang Portugis dari gangguan kapal-kapal Aceh, Banten, dan Jepara yang mendominasi di sepanjang Laut Jawa hingga ke Selat Malaka.
Akan tetapi, di antara segala kepungan yang mengan-cam Portugis di Malaka, perkembangan kekuatan Aceh yang justru terbentur oleh Johor merupakan keberuntungan tersendiri. Johor yang merupakan keturunan dari Kesultanan Malaka tidak membiarkan Malaka jatuh selain ke tangannya. Sementara itu, baik Aceh maupun Johor, juga meminta bantuan dari Jawa (Demak/Jepara) dalam rangka mengusir Portugis dari Malaka.
Selain itu di Jawa, naiknya kekuasaan Mataram (Islam) justru mengawali kemunduran hegemoni pelaut-pelaut Jawa di Nusantara. Mataram memulai eksistensinya dengan merebut kekuasaan dari Pajang dan bersikap konfrontatif terhadap Tuban, Giri, Surabaya, dan Banten, yang mengaki-batkan terpecahnya antara kekuatan Jawa di pesisir dan pedalaman (Selatan). Dan di saat Mataram mencapai masa keemasannya, kebijakannya secara pasti berhasil memindah-kan orientasi militer maupun basis perekonomian Jawa ke darat. Sedangkan untuk menstabilkan posisinya di laut, Mataram menyiasatinya dengan membangun persekutuan bersama Kesultanan Gowa.

Kredit: Kronik Peralihan Nusantara

Sebelumnya: Kebangunan Bangsa-bangsa di Eropa
Selanjutnya: Peralihan Hegemoni Nusantara ke Tangan Imperialis Eropa

Kebangunan Bangsa-bangsa di Eropa

Eropa mulai mengalami masa penemuan (Age of Discovery) dan masa perluasan kekuasaan (Age of Expansion) pada kisaran tahun 1450 sampai 1650. Pada masa itu peradaban di Barat secara tersendiri berkembang dengan mengadopsi unsur-unsur atau wujud-wujud budaya yang bermanfaat dari dunia Islam dan Byzanz. Kekuatan kolonial utama Eropa pada saat itu adalah Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, dan Perancis. Bangsa-bangsa ini sebelumnya begitu tertinggal, sehingga baru pada tahun 1350 mereka bisa melayari laut Tengah, ujung Barat di Spanyol dan ujung Timur di Turki. Padahal lebih dari 1000 tahun sebelumnya orang-orang Romawi telah melakukan hal yang serupa. Dan −pada abad ke-15− orang-orang Eropa hanya mengetahui sedikit hal tentang permukaan bumi.
Peta dunia yang dibuat pada tahun 1511 oleh Vessente Maggioli masih berdasarkan pada teori bumi sebagai tanah yang sambung menyambung. Teori yang sudah usang ini diciptakan pada abad ke-2 oleh Ptolomeus, orang Yunani-Mesir. Akibat dari anggapan tentang bumi yang salah itu, Maggioli menggambarkan Amerika sebagai kelanjutan dari Asia. Ia tidak tahu bahwa beberapa benua dipisahkan oleh laut.
Di akhir abad pertengahan, perkembangan ilmu pengetahuan kemudian menyebabkan munculnya perubahan besar dan cepat (revolusi) di Eropa. Hal itu ditandai pula dari penemuan Nicolaus Copernicus yang membawa teori Heliosentris (helios= matahari, centrum= pusat), artinya tata surya ini berpusat pada matahari. Teori Heliosentris ini membantah teori lama yang bersifat Geosentris (geos= bumi, centrum= pusat) yang didukung dan disahkan oleh gereja sebagai salah satu ajaran resmi para penganut Katholik. Ajaran geosentris ini pada perkembangannya telah melahir-kan suatu pandangan bahwa bumi ini datar seperti meja.
Bersamaan dengan masa Heliosentris, bangsa-bangsa Eropa juga mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang geografi dan teknologi. Sebelumnya, mereka memang tertinggal selama berabad-abad lamanya oleh bangsa Romawi dan bangsa Islam. Tetapi, mereka tetap berlomba-lomba untuk mengarungi samudra meskipun belum yakin betul apakah dunia ini benar bulat seperti bola atau datar seperti meja. Mereka amat berambisi membangun wilayah-wilayah pendudukan atau koloni di mana hal ini kemudian menjadi cikal-bakal kolonialisme oleh Eropa. Seiring dengan kejatuh-an Muslim di Andalusia dan adanya Piagam Todesillas antara Portugis dengan Spanyol, jungjung yang sebelumnya menguasai jalur perdagangan antara Laut Tengah dan Samudra Hindia lambat laun juga digeser oleh kapal-kapal Eropa yang memiliki kemampuan tempur lebih unggul seperti Carravel, Carrack, Galleon, Frigate, dan lainnya.
Di Nusantara, pada era yang mula-mula sekali kedatangan orang Portugis diawali oleh Marcopolo, seorang Venesia yang datang sebagai (anehnya) utusan Khan, Kaisar Mongolia yang saat itu menjadi penguasa Cina. Salah satu catatan yang bermanfaat dari perjalanannya itu, Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat itu (1292) penduduk kota kecil Perlak di ujung Utara Sumatera sudah menganut Islam. Akan tetapi, ketika orang-orang Islam baru saja memuncaki otoritasnya di Nusantara pada abad-abad sesudah kedatangan Marcopolo, kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara mulai terganggu oleh kedatangan pelaut-pelaut Portugis lain yang bersikap anti terhadap Islam. Dan, fenomena ini tentunya bukan sebuah kebetulan belaka.
Pasca keberhasilan Reconquesta, Perjanjian Tordesillas yang disetujui pada 7 Juni 1494 oleh Portugis dan Spanyol secara angkuh telah membagi dunia di luar Eropa ke dalam lingkup kepentingan yang sama, yang dilakukan persis seperti membelah jeruk. Garis Tordesillas membentang dari Kutub Utara ke Kutub Selatan melalui Kepulauan Verde di sebelah Barat benua Afrika. Ke Barat untuk Spanyol dan ke Timur untuk Portugis. Perjanjian diantara dua kerajaan dari Holy Roman Empire ini juga berjalan atas restu dari Paus dengan dikeluarkannya dekrit berjudul Inter Caetera Divinae; “Keputusan Ilahi”.
Sedangkan bagi dunia Islam, setelah lama kehilangan khilafah besarnya akibat serbuan Timur Lenk ke Baghdad, tentunya keberhasilan Reconquesta pada akhirnya juga memunculkan kekhawatiran baru bagi wilayah-wilayah Islam yang lain. Perjanjian Tordesillas yang direstui oleh Paus dengan sendirinya telah mencetuskan lagi berkobarnya Perang Salib, yang kali ini akan dilancarkan oleh Portugis dan Spanyol ke seluruh samudra.
Pada abad ke-15, bangsa-bangsa di Eropa berada dalam babak baru di mana konstelasi perdagangan dunia mulai berubah dikarenakan penjelajahan yang menyebar ke seluruh benua dan kolonialisasi yang dilakukannya. Secara gencar Portugis dan Spanyol mengirimkan serangkaian ekspedisi.
Tahun 1488, orang Portugis –Bartolomeus Dias− berhasil melakukan ekspedisi hingga sampai dan mengitari Tanjung Harapan di ujung Selatan Afrika dan kembali ke Portugis. Tahun 1492, Columbus menemukan benua Amerika, dan dimulailah penjajahan terhadap suku Indian. Tahun 1500, Pedro Alvares Cabral –pelaut Portugis− menemukan rute perjalanan ke Brazil. Tahun 1497, Vasco da Gama memulai ekspedisi mencari rute jalur laut antara Eropa, India, dan Timur Jauh; kemudian di tahun 1502, ia sudah berhasil membangun daerah koloni Portugis di Timur Afrika. Di awal abad ke-16, pelaut Portugis lainnya, Ferdinand Magellan, bahkan melakukan ekspedisi keliling bumi, konon untuk yang pertama kalinya.
Setelah adanya “Keputusan Ilahi”, mereka berambisi untuk merebut jalur-jalur perdagangan dari Timur ke Barat yang selama ratusan tahun telah dikuasai oleh orang-orang Hindu dan Muslim. Di Afrika, Amerika, dan Asia, pelaut-pelaut Portugis dan Spanyol kemudian menjadi tangan-tangan kolonialis Barat yang pertama menancapkan kukunya. Di seluruh daratan yang berhasil dibukanya, mereka tidak sekadar berniaga dan membangun hubungan multilateral seperti yang telah ratusan tahun dilakukan oleh orang-orang Arab, India (Gujarat), Cina dan lainnya. Dan, selain dalam rangka memenangkan Perang Salib, hal tersebut juga dilakukan untuk menjaga supremasi di kampung halamannya sendiri (Eropa) melalui kekayaan yang diperolehnya dari dunia baru.
Pada tahun 1512, Vasco da Gama dikirim kembali ke Calciut, India, dengan dalih melakukan pembalasan atas terbunuhnya beberapa anak buah Pedro Alvares Cabral (1500). Ekspedisi kali ini menunjukkan kekejaman perilaku Da Gama. Di luar perairan pantai India, ia merampas sebuah kapal Arab yang sedang lewat. Da Gama kemudian memindahkan muatan kapal Arab itu, tapi tidak penumpang-nya. Setelah semua muatan dipindah, kapal Arab yang tinggal berisi penumpangnya –termasuk wanita dan anak-anak, dibakar di tengah laut hingga musnah.
Sesampai di Calciut, Da Gama dengan congkak meminta Zamorin –penguasa Calciut– untuk menghalau semua Muslim dari pelabuhan. Ketika Zamorin bimbang, Da Gama menangkap dan membunuhnya. Da Gama lalu menyisihkan 37 pelaut-pelaut India sebelum pelabuhan Calciut di bombardir olehnya. Murka tapi tak berdaya, orang-orang Zamorin pun mengabulkan permintaan Da Gama. Dan dalam perjalanan pulang, Da Gama berhasil pula mendirikan beberapa koloni Portugis di Afrika Timur.
Pembukaan jalur perdagangan baru ke India oleh Vasco da Gama membawa dampak yang luar biasa. Jalur perda-gangan lewat darat antara India dan Eropa menjadi tidak berguna karena jalur laut yang dirintis oleh Portugis melewati Afrika jauh lebih murah. Dan, hal ini merupakan pukulan pahit bagi orang-orang Turki yang sebelumnya telah menutup perdagangan dengan Lisbon.
Setelah berhasil membuat pangkalan militer di Goa (India), Portugis segera menaklukkan Malaka dan Samudra Pasai dengan maksud mengunci jalur perdagangan yang melintas dari Laut Persia, Kepulauan Hindia (Nusantara), dan Laut Cina Selatan. Oleh karena itu, tumbuhnya pilar-pilar baru kepemimpinan Islam di Timur seperti yang dibangun oleh Walisongo di pesisir Utara Jawa –juga otoritas-otoritas Islam di wilayah lain, dalam hal ini tentunya dapat dipahami berjalan dalam orientasi global. Tumbuhnya aliansi-aliansi Muslim di Timur tentunya dapat dibaca sebagai “efek domino” dari kehancuran Baghdad (1258), keberhasilan Turki menaklukkan Konstantinopel (1453) yang mengakibat-kan terputusnya jalur perdagangan antara Lisbon dengan kawasan Laut Tengah, kejatuhan Andalusia (1492), dan adanya Perjanjian Tordesillas (1494).
Ramainya perdagangan dunia yang telah dijalankan melalui wilayah-wilayah Islam, serta adanya tradisi perjalanan haji, tentunya membuat berbagai peristiwa yang berlangsung di suatu wilayah bisa dengan mudah tersiar dan memberikan pengaruh terhadap daerah-daerah di tempat lain. Selain itu, penyebaran kabar tersebut juga dimungkinkan sebagai akibat dari adanya mata rantai perdagangan dan budaya yang telah terbentuk sekian lama. Maka, kehancuran suatu daerah –apalagi terjadi pada wilayah yang strategis– tentunya akan sangat berdampak terhadap stabilitas ekonomi maupun politik di daerah-daerah lain.

Kredit: Kronik Peralihan Nusantara

Sebelumnya: Kejayaan Nusantara (Era Hindu-Buddha)
Selanjutnya: Otoritas Islam di Nusantara dan Kedatangan Imperialis Eropa

Selasa, 18 Juli 2017

Kejayaan Nusantara (Era Hindu-Buddha)

Sumber-sumber tertulis (sejarah) yang merupakan catatan harian dari orang-orang Tionghoa, Arab, India, dan Persia telah menginformasikan bahwa tumbuh dan berkembangnya pelayaran dan perdagangan melalui laut antara Teluk Persia dengan Tiongkok sejak abad ke-7 Masehi atau abad ke-1 Hijriah, didorong oleh pertumbuhan dan perkembangan emporium-emporium besar di ujung Barat dan ujung Timur benua Asia. Di ujung Barat, terdapat emporium Muslim di bawah kekuasaan Khalifah Bani Umayyah (660-749 Masehi) dan Bani Abbasiyah (750-870 Masehi), dan ujung Timur Asia terdapat kekaisaran Tiongkok di bawah kekuasaan Dinasti T’ang (618-907 Masehi). Akan tetapi, di antara dua titik imperium besar tersebut, peranan Sriwijaya sebagai sebuah otoritas yang menguasai Selat Malaka di abad ke-7-11 Masehi tentunya tidak bisa diabaikan begitu saja. Otoritas ini adalah kerajaan maritim yang menitikberatkan pada pengembangan pelayaran serta perdagangan sehingga memiliki peranan yang jauh lebih strategis terhadap rute perdagangan yang beralih dari jalan darat ke laut. Bermodalkan kekayaan alam serta letak kekuasaannya yang strategis, pada masanya Sriwijaya berkembang sebagai “toko serba” ada (emporium) yang mengendalikan keluar-masuknya pasokan berbagai komoditi unggulan dari Barat dan Timur.
Dalam salah satu kronik Cina yang diterjemahkan J. Takakusu (A Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago, 1896), I Tsing beberapa kali menyebut nama San-fo-tsi (mula-mula disebut-nya Che-li-fo-tsi) sebagai penguasa lalu lintas perdagangan di Selat Malaka. Nama Che-li-fo-tsi dan San-fo-tsi itu sendiri digunakan oleh Dinasti Sung (960-1279) dan Yuan (1279-1368), juga Ming (1368-1644), untuk merujuk ke sebuah kerajaan di “Laut Selatan” yang terletak antara Chen-la (Kamboja) dan She-po (Jawa), yakni Sriwijaya.
Dalam pengelanaannya (671-695) mencari “pohon pencerahan” hingga ke India, I Tsing mencatat bahwa Sriwijaya adalah kerajaan penting di bidang maritim, perdagangan, dan penyebaran agama (Buddha). Kebesaran penguasa “Laut Selatan” ini bukan sekadar imbas dari runtuhnya Kerajaan Funan di Indocina, tetapi juga berkat politik bertetangga yang baik dan didukung oleh adanya armada laut yang besar. Robert Dick-Read (Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika, 2008) menyebutkan sebagai kepiawaian Sriwijaya membentuk aliansi yang kuat. Di mana untuk menjaga wilayah kekuasaannya yang sangat strategis Sriwijaya juga membentuk semacam angkatan laut yang terorganisasi dengan baik.
Mengutip O.W. Wolters, Dick-Read menambahkan,
“... dari ibukotanya Palembang di tepi Sungai Musi, tampaknya Sriwijaya telah membangun Angkatan Laut Kerajaan yang terdiri dari para pelaut nomaden. Pada akhir abad ke-7, angkatan laut tersebut telah mendominasi jalur perniagaan laut melalui Asia Tenggara.”
Bahkan, menjelang akhir masa kejayaannya setelah diserang oleh Chola pun, kronik Cina dari Dinasti Yuan dan Ming masih mengakui eksistensi Sriwijaya sebagai penguasa lalu lintas perdagangan di “Laut Selatan”. “Pelabuhannya memakai rantai besi. Ibukotanya terletak di tepi air (sungai), (dan) penduduknya terpencar di luar kota atau tinggal di atas rakit-rakit yang beratap ilalang,” demikian antara lain laporan Chau Ju Kua –pengelana laut lainnya dari Cina− tentang Sriwijaya pada 1225 Masehi.
Wilayah kekuasaan Sriwijaya tak hanya terbatas di jalur lalu lintas perdagangan di Selat Malaka dan Laut Jawa. Sebagai penguasa laut Nusantara –oleh sebagian peneliti− Sriwijaya diyakini pula telah berhasil menanamkan pengaruhnya hingga ke Madagaskar. Gabriel Ferrand dalam L’Empire Sumatranais Criwijaya bahkan menyimpulkan bahwa nenek moyang bangsa Malagasi adalah orang-orang yang datang dari Sriwijaya. Sebab, kata Ferrand, “Hanya Sriwijaya yang memiliki pengetahuan kelautan yang handal untuk dapat mencapai Madagaskar.”
Sebagai tinjauan atas adanya informasi-informasi tersebut, setidak-tidaknya dapat dipahami bahwa Sriwijaya dengan kapal-kapalnya telah memainkan peran signifikan dalam “perdagangan global”. Manguin memperkirakan, armada laut Sriwijaya yang dipakai –baik sebagai kekuatan ‘militer’ maupun berniaga− mampu mengangkut barang 450-650 ton. Bahkan −dalam perkembangan berikutnya− dengan panjang kapal mencapai 60 meter, daya angkutnya pun bertambah hingga 1000 ton.
Sriwijaya tampil menjadi kekuatan ekonomi yang besar dengan mengekspor antara lain timah, emas, gading, rempah-rempah, kayu berharga, dan kamper, di mana pedagang-pedagang dari Arab dan India menjualnya ke pasaran Eropa. Rempah-rempah tersebut dibeli dari Tanjung Pura, Banggai di pantai Timur Sulawesi, serta Maluku dan Timor. Kala itu, tingkat peradaban di Cina (pada dinasti-dinasti T’ang, Sung, dan Ming) dan dunia Islam (antara abad 8 sampai 12 tahun, Bysanz dari abad 8 sampai 11), mempunyai tingkat kualitas yang lebih tinggi dibanding dengan peradaban Kristen yang baru memulai bentuknya di abad ke-8 dan ke-9.
Sriwijaya di tahun 671 bahkan juga menjadi pusat pendidikan teologi yang penting. I Tsing yang belajar di Sriwijaya mengoleksi begitu banyak transkripsi, sampai-sampai ia harus pulang ke Cina guna mengambil kertas dan kembali lagi ke Sriwijaya untuk menyelesaikan transkripsi-nya. Ia membawa pulang lebih dari 4000 teks Buddhisme yang berbeda ke Cina. I Tsing menganjurkan kepada calon-calon mahasiswa Cina bila ingin masuk universitas di India agar mempersiapkan dirinya lebih dulu di Universitas Sriwijaya selama 2 tahun. Universitas di Sriwijaya tercatat masih berdiri sampai tahun 1023. Salah satu guru besar yang mempunyai reputasi internasional kala itu adalah Dharmakirti.
Dari hal-hal tersebut setidaknya dapat diketahui bahwa Sriwijaya pernah pula tercatat sebagai pusat pengembangan ilmu di Asia. Dan di balik semua itu −meminjam ungkapan Denys Lombard, terdapat masyarakat heterogen yang mendukungnya. Mereka itu adalah para nelayan, pelaut, pengangkut, pedagang, petualang, bahkan para lanun alias perompak sekali pun. Mereka inilah, kata Lombard dalam Nusa Jawa; Silang Budaya, “... yang merentangkan jaringan-jaringan tua yang menjadi tumpuan kesatuan Indonesia dewasa ini.”
Selain Sriwijaya, di Sumatera ada pula kerajaan Hindu besar, yakni Melayu, yang kira-kira berpusat di daerah Jambi. Sementara itu, di Jawa ada kerajaan Taruma yang berpusat di Jawa Barat dan keberadaannya mungkin lebih tua dari kerajaan Sanjaya di Jawa Tengah. Walaupun tidak ada prasasti yang ditinggalkan, tetapi Taruma telah meninggalkan jejak-jejak keturunan kerajaan Mulawarman di daerah Kutai, Kalimantan. Selain itu, di Jawa Tengah −di dataran tinggi Dieng (1800 mdpl)− terdapat situs keagamaan yang sangat mungkin telah ada sebelum pengaruh Hindu datang dari Jawa. Di lokasi tersebut −sejak abad ke-7, juga telah berdiri kompleks candi-candi Shivaisme. Prasasti dari tahun 732 itu menyebutkan bahwa raja dinasti Sanjaya adalah pemeluk Shivaisme dan disebut sebagai Dinasti Mataram Kuno.
Kerajaan-kerajaan besar dari periode Hindu-Buddha yang terdapat di Jawa juga meninggalkan monumen-monumen tingkat dunia, antara lain Borobudur, sebuah bangunan Buddhisme yang kolosal dan sarat dengan nilai. Bangunan candi terbesar ini tidak ada di negeri asal Buddhisme, India, di mana terdapat tak kurang dari 400 patung dan 1400 relief yang menggambarkan perjalanan spiritual Buddha Gautama yang menghiasi candi ini.
Setelah tahun 900 M, kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa mulai beralih antara ke Timur dan Barat pulau Jawa. Di wilayah Jawa Timur, mereka tetap mengklaim sebagai penerus dinasti Mataram Kuno. Dan, pada kisaran tahun 900 M, terjadi pula pemecahan antara Mataram dan Sriwijaya, di mana Wangsa Syailendra tetap memerintah Sriwijaya dan menjadikan negara ini pusat perdagangan dan pendidikan, bahkan melebarkan sayap dengan partisipasinya terhadap universitas Buddhis di Nalandra, India (850-860 M).
Setelah surutnya Wangsa Syailendra yang membangun Sriwijaya di Sumatera, dinasti-dinasti di Jawa Timur ganti menjalani masa keemasannya dan mampu mencapai tataran budaya yang tinggal di berbagai bidang. Banyak karya sastra telah ditulis dari dinasti ke dinasti. Seni bangunan dan tempa logam juga mencapai mutu yang sangat tinggi. Dan seperti halnya Sriwijaya, kehidupan ekonomi Jawa pun berkembang hingga menyeberangi batas-batas kepulauan. Sistem pemerin-tahan Jawa pada masa itu telah sedemikian tertata.
Sejarah Majapahit di Jawa Timur dapat dibaca relatif lebih lengkap karena secara tidak sengaja ditemukan kitab Nagarakretagama saat berlangsung penyerangan Puri Cakra-negara oleh Belanda di Bali. Dalam penyerangan itu, raja dibunuh, puri dibakar, dan hartanya dijarah. Dan, salah satu benda yang berhasil dirampas oleh Belanda adalah sebuah naskah kuno dari tahun 1365, yakni kitab Negarakrtagama karangan Mpu Prapanca. Kitab ini berisi kisah kebesaran Majapahit di bawah raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada.
Untuk menjalankan pemerintahannya, Majapahit telah melengkapi diri dengan prinsip-prinsip kebijakan berkenaan dengan bidang-bidang etika, pendidikan filsafat, dan lain-lain, sehingga dapat dijadikan pedoman dan dilaksanakan oleh rakyatnya yang terdiri dari berbagai kalangan dan suku bangsa. Di bidang hukum dan perundang-undangan, Majapahit memiliki kitab yang disebut Kutara Manawa-dharmasastra. Di dalam kitab tersebut terdapat 19 macam masalah (bab) yang terbagi dalam 275 pasal. Salah satu di antara kesembilanbelas permasalahan atau bab tersebut adalah astadusta (delapan dusta). Istilah astadusta diartikan sebagai delapan macam kejahatan yang harus dihukum berat. Kedelapan tindak kejahatan yang termasuk dalam golongan astadusta tersebut adalah: (1) membunuh orang yang tidak berdosa; (2) menyuruh membunuh orang yang tidak berdosa; (3) melukai orang yang tidak berdosa; (4) makan bersama dengan seorang pembunuh; (5) mengikuti jejak pembunuh; (6) bersahabat dengan pembunuh; (7) memberi tempat kepada pembunuh; dan (8) memberi pertolongan kepada pembunuh. Sedangkan permasalahan lainnya adalah: kejahatan yang dilakukan oleh anak di bawah umur, masalah budak, astacorah (delapan pencurian), sahasa (pemaksaan), jual-beli-gadai, utang-piutang, titipan, tukon (mahar/mas kawin), perkawinan, paradara (mengganggu isteri orang lain), warisan, parusya (perusakan) dan daparusya (penyiksa-an fisik), kelalaian, perkelahian, tanah, dan fitnah.
Kitab perundang-undangan yang dipergunakan di Majapahit dalam abad 14-15 Masehi tersebut pernah dijadikan disertasi oleh J.C.G. Jonker dengan judul Een Oud-Javaansche Wetboek vergeleken met Indische bronnen (1885), kemudian diterjemahkan dan disusun berdasarkan kelompok isi oleh Slamet Muljana (Perundang-undangan Madjapahit) yang diterbitkan tahun 1967.
Berdasarkan sumber tertulis, raja-raja Majapahit pada umumnya beragama Siwa dari aliran Siwasiddhanta, kecuali Tribhuwana Tungga Dewi (ibunda Hayam Wuruk) yang beragama Buddha Mahayana. Walau begitu, agama Siwa dan Buddha ditetapkan sebagai agama resmi kerajaan setidaknya hingga akhir tahun 1447. Di masa awal berdirinya Majapahit –di bawah Raden Wijaya (Kertarajasa), pejabat resmi keagamaan dipegang oleh dua pejabat tinggi Siwa dan Buddha, yaitu Dharmadyaksa ring Kasaiwan dan Dharma-dyaksa ring Kasogatan, kemudian ada lima pejabat Siwa di bawahnya yang disebut Dharmapapati atau Dharmadihikarana.
Namun demikian, di antara keberadaan dua arus keagamaan yang besar tersebut, berbagai temuan arkeologi menunjukkan bahwasanya agama Islam juga telah sejak lama bermukim di Majapahit. Salah satu buktinya adalah Situs Kuno Makam Troloyo di Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Makam-makam Islam di situs Troloyo memiliki angka tahun yang beragam, mulai dari tahun 1369 (abad 14 Masehi) hingga tahun 1611 (abad 17 Masehi).
Pada nisan-nisan makam di petilasan Troloyo terdapat tulisan Arab sehingga keadaannya pun mirip dengan prasasti. Tulisan-tulisan Arab tersebut mengambil lafal dari bacaan doa, kalimah thayibah, dan petikan ayat-ayat Al Qur’an dengan bentuk huruf sedikit kaku. Isinya pun bukan tentang data kelahiran dan kematian tokoh yang dimakamkan, melainkan lebih bersifat dakwah, antara lain kutipan Surat Ar-Rahman ayat 26-27.
P.J. Veth adalah sarjana Belanda yang pertama kali meneliti dan menulis makam Troloyo dalam buku JAVA II tahun 1873. L.C. Damais −seorang peneliti dari Perancis yang mengikutinya, menyebutkan angka tahun pada nisan berkisar pada abad 14 hingga 16. Nisan-nisan itu pun membuktikan, pada masa pemerintahan Hindu-Buddha berkuasa di Majapahit, orang-orang Islam telah banyak yang bermukim di sekitar ibukota.

Kredit: Kronik Peralihan Nusantara

Sebelumnya: Indonesia dari Kacamata Asing
Selanjutnya: Kebangunan Bangsa-bangsa di Eropa

Indonesia dari Kacamata Asing

Di dalam Kolonisasi Belanda terhadap wilayah Hindia-Timur (baca: Indonesia), yang berlangsung sampai dengan paruh pertama abad ke-20, terekam begitu banyak dokumentasi baik yang berasal dari arsip VOC maupun arsip Kementerian Tanah Jajahan. Jumlah arsip tersebut bahkan tidak dapat ditandingi oleh arsip aparat pemerintahan kolonial yang mana pun. Di antara dokumen-dokumen itu, terdapat dokumen-dokumen yang bersifat pribadi seperti surat, buku harian (dagboek), kisah perjalanan (reisverhalen), dan catatan harian para awak kapal (scheepjournalen). Di samping itu, tak terhitung jumlah karya sastra yang berkisah atau mendapatkan inspirasi dari masa pendudukan itu berupa roman, novel, sandiwara, dan puisi. Semua merupakan aset sastra Hindia-Belanda.
Secara substansial, dalam sebagian besar karya-karya tersebut, baik yang berupa dokumen pribadi maupun karya sastra terjalin benang merah yang hampir sama. Keduanya cenderung menaruh ego Eropa sebagai subjek dan memandang “pihak lain” (the others), penduduk pribumi sebagai objek. Posisi itu sekaligus menempatkan Belanda sebagai poros dan “pihak lain” sebagai periferi. Akibatnya, dunia di luar Belanda, secara stereotip dilukiskan sebagai suatu wilayah yang penuh dengan keindahan yang berbahaya, hutan belantara penuh dengan monster dan ular, laut tanpa dasar serta daerah yang dihuni oleh para kafir yang tidak bisa dipercaya.
Bagi pengalaman kolektif Belanda, khususnya oleh para pemuda, pemilikan tanah jajahan dapat membangkitkan citra diri yang mistis. Pemilikan tanah jajahan menunjukkan bahwa pemuda Belanda berorientasi mondial dengan jiwa pelaut, dan berbakat menjadi penguasa. Potensi ini didukung oleh watak dasar mereka yang religius, bisa dipercaya, dan patriotis, menjadikan mereka pengaruh samudra dan pengelana di tanah jajahan yang tangguh. Oleh sebab itu, tidak aneh jika keberhasilan penjajahan mereka pahami sebagai sesuatu yang sudah semestinya dan merupakan bukti karunia Tuhan.
Prasangka semacam itu menumbuhkan keyakinan bahwa kolonisasi Belanda terhadap wilayah Hindia-Timur merupakan kewajiban moral. Kepulauan Hindia diyakini sebagai negara yang dihadiahkan oleh Tuhan dan sejarah sebagai wilayah Belanda. Kepulauan yang didiami oleh berbagai suku bangsa yang menurut orang-orang Belanda masih terbelakang itu tidak akan dapat berkembang tanpa pemerintahan Belanda yang kuat dan beradab.
Studi ketimuran -orientalisme- yang lahir dan mencapai kematangannya melalui imperialisme Eropa telah menempatkan Barat sebagai ego yang menjadi subjek dan menganggap non-Barat sebagai the others yang menjadi objek. Orientalisme bertolak dari pandangan ego Eropa sebagai subjek pengkaji terhadap the others. Dan, dalam posisinya sebagai subjek pengkaji, muncullah kompleks superioritas dalam diri ego Eropa. Di luar itu, akibat posisinya sebagai objek yang dikaji, terjadi pula pemarjinalan terhadap diri the others, non-Eropa.
Melalui imperialisme yang pada abad ke-19 kemudian dikemas sebagai mission civilisatrice (misi pemberadaban), Eropa menjarah tanah jajahan dan memperlakukan manusia-manusia terjajah sebagai sosok yang seolah layak dicampakkan dan “dibinatangkan”. Imperialisme melihat tubuh terjajah sebagai objek kepuasan dan ejekan. Si terjajah diberi peran wadag, liar, instingtif, dan kasar sehingga terbuka bagi penguasaan dan dapat dipergunakan untuk berbagai kepentingan.
Dalih penjajahan untuk melakukan misi pemberadaban juga menyebabkan negara terjajah harus dianggap tidak memiliki kebudayaan, ilmu pengetahuan, peradaban, dan sejarah. Bahkan, sejarah negara terjajah dianggap baru dimulai bersamaan dengan datangnya masa penjajahan. Bangsa penjajah beranggapan bahwa merekalah yang akan membawa negara terjajah dari kegelapan menuju cahaya dan dari tiada menuju ada.
Keberhasilan imperialis Eropa yang melesat hingga melampaui batas geografisnya menyebabkan kesadaran Eropa tidak pernah membicarakan sumber-sumber peradaban Eropa yang mendahului sumber Yunani. Hal ini dikarenakan negara-negara penyumbang peradaban itu adalah negara-negara terjajah yang dengan sendirinya tidak pantas menjadi sumber kesadaran dan peradaban negara penjajah. Sedangkan penyebab lain disembunyikannya sumber-sumber tersebut adalah rasialisme yang terpendam dalam kesadaran Eropa.
Clive Day, Guru Besar sejarah ekonomi di Yale University yang menyatakan bahwa orang Jawa dibanding dengan orang Sumatera atau luar Jawa lainnya secara tradisional memang kalah pintar dan kurang semangatnya dalam berdagang, ia menulis antara lain:
“Now, the characteristic of the native of the tropics, that is of prime importance when he is regarded in his relations to the outside civilized and commercial world, is the smallness of his wants. If we can believe the traditional descriptions of tropical life, he may pick breakfast, dinner, and supper from a tree that grows wild in his backyard, he may clothe himself with leaves stripped from another tree, and build his house by a day’s labor on another… Nature is so beautiful that he relies almost entirely upon her, and the educating influence of labor is lost to him. The characteristic proverb of hot countries is to the effect that it is better to sleep than to wake, that it is better to lie down than to sit up, that is better to be seated than to stand, that it is better to rest than to work, and that death is better than all.”
Tulisan tersebut tidak berhenti, melainkan juga menjadi sumber disertasi doktor Boeke dan Mohr. Orang Indonesia tetap ketinggalan dan bodoh tidak lain karena alamnya yang tropis, terisolasi di pulai masing-masing, dan karena tidak mempunyai kemampuan teknologi, berarti tidak berani melaut, atau takut dengan laut yang mengelilingi pulaunya.
Akan tetapi, di antara segala ilustrasi tentang ketertinggalan itu, kenyataan sejarah yang lain justru menyeruak ke permukaan. Di bidang ekonomi, para pedagang Jawa, Sumatera, dan orang dari pulau-pulau lain ternyata meninggalkan jejak-jejak yang sangat aktif. Jacob Cornelis van Leur menyatakan bahwa ketika Vasco da Gama sampai di perairan Asia, yang ditemukannya adalah lalu lintas perdagangan di laut yang sangat ramai dengan diatur oleh institusi-institusi pemerintah yang tingkat perkembangannya sama dengan di Eropa. Intensitas perdagangannya sama atau malahan melebihi Eropa Selatan. Van der Kroef menambahkan, bahwa: A supposed superiority of the Western trading companies over the Oriental, including the Indonesians, is out of question.
Tesis Leur kemudian memicu tampilnya para peneliti-peneliti Indonesia yang baru untuk memperbaiki, mengkritik, dan membuat kesimpulan-kesimpulan baru, yang pada dasarnya setuju dengan tesis Leur. Meilink-Roelofz, dalam Asian Trade and European Influence ingin mengetahui siapa yang paling dominan: orang-orang Indonesia, Portugis atau Belanda. Dan, ia pun tiba pada kesimpulan bahwa pertemuan Eropa dan Indonesia adalah pertemuan antara dua peradaban yang setara, bukan antara Eropa yang lebih maju dengan Indonesia yang terbelakang.
Selain itu, ada pula kisah yang diuraikan oleh Ludovico di Vaerthema, orang Italia yang bersama temannya orang Persia tiba di Indonesia pada tahun 1503-1508. Ia dan beberapa teman-teman lainnya menyewa kapal Indonesia untuk berlayar dari Kalimantan ke pulau Jawa dengan sewa kapal 100 Ducat. Pada masa itu ternyata kapten kapal Indonesia sudah menggunakan kompas dan peta yang ditandai dengan garis-garis pelayaran seperti peta-peta di Eropa. Bahkan, teknologi perkapalan di Indonesia telah dikenal sejak milenium pertama dengan dibangunnya kapal-kapal yang cukup besar dengan dua tiang layar serta kaal yang dilengkapi cadik (outrigger) di kiri-kanannya. Kapal jenis ini adalah karya orang Nusantara yang kemudian tersebar hingga Afrika Timur. Kapal tersebut kemungkinan satu jenis kapal yang sama dengan yang terukir di relief pada Candi Borobudur.
Meskipun sejak 500 tahun sebelum Masehi orang-orang Cina sudah mengembangkan beragam jenis kapal dalam berbagai ukuran, namun hingga abad VII, kecil sekali peran kapal Cina dalam pelayaran laut lepas. Jungjung Cina lebih banyak melayani angkutan sungai dan pantai. Tentang hal ini, Oliver W. Wolters mencatat bahwa dalam hal hubungan perdagangan melalui laut antara Indonesia dan Cina -juga antara Cina dan India Selatan serta Persia- pada abad V-VII, terdapat indikasi bahwa bangsa Cina hanya mengenal pengiriman barang oleh bangsa Indonesia.
I Tsing, pengelana dari Cina yang banyak menyumbang informasi terkait masa sejarah awal Nusantara, secara eksplisit mengakui peran pelaut-pelaut Indonesia. Dalam catatan perjalanan keagamaan I Tsing (671-695 Masehi) dari Kanton ke Perguruan Nalanda disebutkan bahwa ia menggunakan kapal Sriwijaya, negeri yang ketika itu menguasai lalu lintas pelayaran di “Laut Selatan”. Dengan kata lain, arus perdagangan barang dan jasa menjelang akhir milenium pertama di “Jalur Sutra” melalui laut -meminjam istilah arkeolog Hasan Muarif Ambary- sangat bergantung pada peranan pelaut-pelaut Indonesia. Tesis Dick-Read bahkan berbicara lebih jauh lagi, bahwa pada awal milenium pertama kapal-kapal Kun Lun (baca: Indonesia) sudah ikut terlibat dalam perdagangan di Mediterania.
Pada bukunya, Prof. Soedjoko menulis: Aspects of Indonesian Archeology. Ancient Indonesian Technology ship building and fire arms production around the sixteenth Century (1981). Nampaknya ia risau dengan penulisan sejarah Indonesia yang Neerlandosentris, yang mengabaikan fakta-fakta dan capaian-capaian bangsa Indonesia yang datang dari sumber-sumber informasi (juga dari Barat) yang tidak menguntungkan pencitraan Barat sebagai superior. Selain itu, kebanyakan sejarawan Indonesia juga justru lebih sibuk dengan sejarah raja-raja, imperium yang datang dan pergi, tanpa sama sekali menengok sejarah budaya materi yang dalam hal ini berkaitan dengan kemampuan teknologi bangsa Indonesia di masa lalu, terutama pada abad XVI.
Selain tentang teknologi maritim yang sudah dikuasai oleh orang Indonesia, Soedjoko juga menulis tentang teknologi pembuatan senjata api, meriam maupun senapan. Mengenai senjata api, tulisan dari Barbosa menyebutkan tentang kemampuan orang Jawa ketika ia tinggal di Asia Tenggara (1500-1517), The Javanese are great masters in casting artillery. They make here spingarde (one-pounders), muskets, and fire-works, and in every place are considered excellents in casting artillery, and in the knowledge of discharging it.
Tidak hanya orang Jawa saja yang mempunyai keahlian pengecoran logam untuk meriam atau pembuatan senapan (Arquebuss), Vaerthema, orang Italia yang pernah ke Sumatera antara tahun 1503 dan 1508 mencatat kemampuan orang setempat dalam membuat mesiu. Marsden (Marsden, 1811) menyebut bahwa: In the country of Menangkabau they have from the earliest times, manufactures arms for their own use and to supply the Northern inhabitats… ets.
Kemampuan yang sama berkenaan dengan senjata api juga tampak pada orang-orang Aceh, yang berkali-kali menyerang Portugis di Malaka dan mengganggu pelayarannya, serta orang-orang di Ternate yang rajanya dikawal oleh 3000 tentara dan 1000 diantaranya bersenjata api. Sementara tulisan Soedjoko cukup sampai di sini, demi untuk menjelaskan bahwa ketika Portugis, Belanda, dll yang datang ke Indonesia, orang-orang Indonesia bukanlah sekelompok petani yang tak berdaya dan dengan gampang bisa dihabisi seperti yang terjadi di Amerika Selatan pada rakyat Inca yang ditumpas oleh Pisaro dan Cortes di tahun 1500. Orang Indonesia pada masa itu merupakan sebuah entitas suku-suku bangsa yang sudah mampu menandingi keunggulan persenjataan Barat.
Sejarah membuktikan, Belanda memerlukan lebih dari 300 tahun untuk mengukuhkan kekuasaannya yang baru terlaksana pada tahun 1905. Sedangkan untuk menaklukkan Afrika, yang luasnya beberapa kali Indonesia imperialis Eropa hanya memerlukan waktu 100 tahun; dan sampai tahun 1859 Inggris baru bisa “mengamankan” seluruh India (sebelum terbagi). Selain itu, kemenangan Eropa atas negara-negara lain di dunia juga lebih bertumpu pada penggunaan kekerasan, dan bukan karena keunggulan nilai-nilai dari budayanya. Mereka memetik kejayaan sebab menemukan sistem organisasi militer, disiplin logistik, teknologi persenjataan, kekuatan maritim, juga ilmu kedokteran yang lebih baik. Barat dapat merebut kekuasaan juga bukan dengan ajaran-ajaran agamanya (hanya sedikit pribumi yang mengganti agamanya), bukan pula dikarenakan adatnya yang lebih tinggi, melainkan dengan “paksaan yang terorganisir” (Organisierter Gewalt). Kebanyakan orang Barat lupa akan sebab-sebab ini, tetapi orang-orang non-Barat tidak pernah melupakannya (Huntington). “Mission Sacre” yang pada awalnya menjadi motivasi telah tersapu oleh berlimpahnya harta dari negeri jajahan. Dan, campaign Perang Salib tentunya juga surut ketika terjadi konkurensi negara-negara di Eropa ke Asia yang pada akhirnya meruntuhkan hegemoni Portugis dan Spanyol.
Akan tetapi, sebuah ironi justru dikenalkan kepada anak-anak didik di Indonesia berkenaan dengan pewacanaan dirinya sebagai sebuah bangsa. Hikayat tentang nenek moyangnya yang pernah menguasai navigasi pelayaran, teknologi perkapalan, administrasi niaga internasional, teknik tata kota, seni arsitektur, pengecoran logam, dan pembuatan senjata api sejak jauh sebelum kedatangan orang Eropa, justru tidak diterangkan dalam literatur-literatur sekolah. Padahal, fakta-fakta sejarah tersebut adalah romantisme yang amat berpengaruh dalam membangun rasa percaya diri di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia.
Kepercayaan diri yang bahkan secara luar biasa dilaporkan oleh seorang Portugis bernama Diego de Couto, bahwa orang Jawa misalnya, ketika lewat di jalan dan melihat ada orang bangsa lain sedang berdiri pada onggokan tanah atau tempat lain yang lebih tinggi dari tanah di mana ia berjalan, ia bisa membunuh orang itu jika tidak segera turun dari tempatnya. Atau, perihal ketakutan atas rangkaian kapal layar yang cemerlang milik para pelaut Bugis, dan telah begitu menggentarkan pelaut Eropa yang mula-mula datang sehingga mereka kembali ke tanah airnya untuk memperingatkan anak-anaknya, “bersikaplah yang baik, atau orang Bugis akan menangkapmu.”

Kredit: Kronik Peralihan Nusantara