Selasa, 09 Juli 2013

Khasiat Pengobatan Ala Nabi

Ada tiga jenis thibbun nabawi, yakni menggunakan obat alami, obat ilahiyah, serta menggabungkan kedua unsur tersebut.

Habatussauda, minyak zaitun, madu,  dan bekam menjadi alternatif pengobatan pada era modern kini. Bahkan, kedokteran modern mulai tertarik meneliti karena kandungannya yang mujarab sebagai obat. Itu hanyalah beberapa dari sekian banyak thibbun nabawi atau pengobatan nabi yang pernah diajarkan Rosululloh. “Tidaklah Alloh menurunkan penyakit melainkan beserta penawarnya,” hadits riwayat Imam Bukhori.

Istilah thibbun nabawi sebenarnya tak dikenal pada masa kerosulan. Penggunaan istilah tersebut baru familiar pada abad ke-13 oleh Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Zaadul Ma’ad. Dalam bahasa Arab, thibb berasal dari thobba - yathubbu - thobban yang bermakna kemahiran, memperbaiki, mengobati. Dari akar kata yang sama, thabbib berarti pelaku yang mengobati atau dokter. Sehingga, thibb-an-nabawi secara bahasa berarti pengobatan nabi.

Adapun Ibnul Qoyyim memaknai secara istilah thibb bermakna ilmu untuk mengetahui kondisi tubuh manusia dari aspek kesehatan, baik untuk memelihara kesehatan maupun mengobatinya. Metode pengobatannya tidak seperti pengobatan yang dilakukan dokter. Thibbun nabawi bersifat qoth’i dan ilahi yang bersumber dari wahyu kenabian dan kesempurnaan akal. Adapun pengobatan lain secara umum hanya berlandaskan perkiraan, dugaan, dan percobaan.

Ibnul Qoyyim pun mengatakan, kemujaraban thibbun nabawi akan dirasakan manfaatnya jika menerima dan meyakini Alloh akan memberikan kesembuhan baginya. Sehingga, pengobatan thibbun nabawi hanya cocok bagi jiwa yang baik sebagaimana pengobatan dengan al-Qur’an yang tak cocok kecuali bagi jiwa yang baik dan hati yang hidup. “Hal-hal tersebut bukanlah disebabkan kekurangan pada obat. Namun lebih disebabkan buruknya karakter, rusaknya tempat, dan tidak adanya penerimaan,” demikian penjelasan Ibnul Qoyyim dalam thibbun nabawi.

                                                                ***

Dalam siroh Rosul, banyak sekali Rosululloh memberikan anjuran obat bagi sahabat yang sakit. Dalam kehidupan sehari-hari Rosululloh pun mengandung tuntutan hidup sehat yang patut menjadi uswah. Beberapa jenis obat-obatan yang pernah dianjurkan Rosul di antaranya habatussauda atau jintan hitam, madu, minyak zaitun, kurma, air zam-zam, bawang putih, ismid, dan kam’ah. Rosul juga mengajarkan pengobatan seberti bekam (hijamah), khitan, wudhu, dan gurah. Selain itu, ayat-ayat al-Qur’an juga sering kali digunakan untuk pengobatan. Dikenal juga pengobatan dengan ruqyah.

Secara garis besar, Ibnul Qoyyim membagi tiga jenis pengobatan nabi, yakni pengobatan dengan menggunakan obat-obatan alami (natural), pengobatan dengan menggunakan obat-obatan ilahiyah (petunjuk ketuhanan), serta pengobatan dengan menggabungkan kedua unsur tersebut.
 
Penjelasan lebih terperinci menurut Abu Nafi’ Abdul Ghoffar al-Atsary dalam Mengenal Pengobatan Cara Nabi, pengobatan menggunakan bahan obat alami, yakni seperti madu, minyak zaitun, habbatussauda, kurma, siwak, kam’ah, bawang, dan sebagainya. Syaratnya harus halal dan thoyyib. Kemudian pengobatan dengan cara terapi, misalnya, hijamah, khitan, gurah (sannuq), al-fashdu (pengeluaran darah melalui vena), mencukur rambut, muntah, dan mandi. Dengan mencontoh Rosululloh sesuai dengan sunnah. Adapun pengobatan dengan ritual ibadah, misalnya, wudhu, ruqyah syar’iyyah, doa, zikir, muhasabah, taubat, dan pengobatan jiwa lainnya. Kemudian dengan menyinergikan seluruh hal telah disebutkan di atas. Maksudnya, dibekam ketika sakit, diruqyah untuk menghilangkan sihir, kemudian mandi dengan daun bidara (sidr), serta minum habbatussauda, madu, dan makan kurma ajwa. Semua hal tersebut dilakukan dalam rangka mencari maslahat kesembuhan.

Dalam sejarah, beberapa pengobatan yang dipraktikkan nabi sebenarnya merupakan peninggalan masyarakat tradisional pada masa silam. Ketika Rosululloh diutus, metode pengobatan tersebut berkembang dengan petunjuk dari wahyu Alloh. Maka, dihapuslah beberapa pengobatan jahiliyah yang mengandung kesyirikan. Adapun pengobatan yang tak melanggar syari’at dan dibenarkan wahyu, dipraktikkan oleh Rosululloh.

                                                                ***

Jenis pengobatan yang merupakan warisan masa lalu di antaranya bekam. Pengobatan ini telah lama dipraktikkan bangsa-bansa dunia. Sejak 4000 sebelum masehi, bangsa Sumeria di Babilonia (Irak) telah mengenal bekam untuk mengobati para raja. Pada 3000 sebelum Masehi, bangsa Persia pun mengembangkan pengobatan bekam. Kemudian pada 2500 sebelum Masehi, bangsa Cina pun mempraktikkan bekam dengan mengandalkan titik akupuntur. Mesir era Fir’aun sekitar 1200 sebelum masehi pun telah mengenal bekam sebagai pengobatan. Bahkan, pada era Nabi Yusuf, umatnya terkenal sangat mahir melakukan bekam.

Bangsa Mesir pun mengembangkan dengan memahami titik-titik tubuh yang perlu dikeluarkan darahnya. Pembelajaran titik-titik tersebut terus berkembang di Mesir hingga kemudian diadopsi oleh Yunani dan Romawi. Pada asa Rosululloh, bekam pun menjadi pengobatan bahkan kebiasaan Rosul dan para sahabat. Pengobatan ini terus dikembangkan seiring perkembangan dunia Islam. Bahkan, pada masa Umayyah, bekam menjadi pengobatan yang paling maju.

Thibbun nabawi yang diajarkan Rosululloh disebut-sebut sebagai pemersatu pengobatan tradisonal dan modern kala itu. Tak heran pada kemudian hari, thibbun nabawi menjadi titik mula berkembangnya ilmu kedokteran. Dalam sejarah Islam, lahir kemudian dokter-dokter Muslim seperti Ibnu Sina yang kemudian menjadi acuan pengobatan modern yang terus berkembang hingga kini di seluruh dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar