Selasa, 09 Juli 2013

Subhanalloh, Pohon Kurma Menangis

Setelah dipeluk Rosululloh, tangisnya pun berhenti.

Pada suatu Jum’at, warga Madinah digemparkan dengan suara tangis yang amat pilu dan tak ujung henti. Suara yang seperti rengekan bayi itu berasal dari Masjid Nabawi. Para sahabat Rosul yang berada di masjid pun kebingungan, siapa gerangan yang menangis. Saat itu, mereka tengah berkumpul untuk menjalankan sholat Jum’at.

Tangisan terdengar sesaat ketika Rosululloh memberikan khutbah. Mendengarnya, Rosululloh pun turun dari mimbar menunda khutbahnya. Sang Nabiyulloh kemudian mendekati sebuah pohon kurma. Beliau mengelusnya, kemudian memeluknya. Maka, berhentilah suara tangisan itu. Ternyata, si pohon kurma itulah yang menangis. Hampir saja pohon itu terbelah karena jerit tangisnya.

Sejak Masjid Nabawi berdiri, pohon kurma itu telah di sana. Tak hanya menjadi tonggak, pohon kurma tersebut selalu menjadi sandaran Nabi acapkali beliau memberikan khutbah. Si pohon selalu menanti hari Jum’at karena pada hari itu ia akan mendampingi Nabi memberikan nasihat kepada kaum Muslimin. Sejak Jum’at pertama masjid berdiri, ia selalu setia dan bahagia menemani Nabi Muhammad. Hingga hari Jum’at itulah ia menangis.

Beberapa hari sebelum Jum’at yang pilu bagi si pohon, seorang wanita tua Anshor mendatangi Rosululloh. Ia memiliki putra seorang tukang kayu dan ia menawarkan sebuah mimbar untuk Rosul. “Wahai Rosululloh, maukah kami buatkan mimbar untuk Anda?” ujarnya. Rosululloh pun menjawab, “Silakan jika kalian ingin melakukannya,” ujar beliau.

Maka, pada Jum’at keesokan hari, mimbar Rosul telah siap digunakan. Mimbar itu pun diletakkan di dalam masjid. Saat Rosul menaiki mimbar, menangislah si pohon karena ia tak lagi menjadi “teman” Rosul dalam khutbah Jum’at seperti biasa. “Pohon ini menangis karena tak lagi mendengar nasihat yang biasa disampaikan di sampingnya,” ujar Rosul setelah memeluk pohon tersebut.

Setelah dipeluk Nabiyulloh, si pohon bahagia. Ia tak lagi menangis dan dirundung kesedihan. Meski tak lagi mendampingi Nabi, mendapat pelukan dari Nabi cukup mengobati rasa sedihnya. Rosululloh pun berkata kepada para sahabat, “Kalau tidak aku peluk dia, sungguh dia akan terus menangis hingga hari kiamat,” sabda Nabi.

Kisah pohon kurma yang menangis ini sangat populer dalam kisah Islami. Banyak rowi yang meriwayatkan hadits tersebut, sehingga tak perlu lagi dipertanyakan keshohihannya. Para sahabat banyak meriwayatkannya, baik Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Jabir, Ibnu ‘Umar, dan lain sebagainya. Kisah ini menunjukkan betapa seluruh makhluk, bahkan pohon sekalipun, mencintai Rosululloh. Maka, sangat mengherankan jika manusia yang berakal dan mengetahui keluhuran akhlak beliau kemudian tak jatuh cinta kepada sang Nabi.

Batu yang berlari

Kisah mengenai hidupnya benda mati juga terjadi pada masa kenabian Musa. Jika Rosululloh berinteraksi dengan pohon, Musa pun memiliki pengalaman dengan sebuah batu. Kisah ini terjadi di masa Isroiliyat.

Dahulu kala, Bani Isroil biasa mandi di sungai tanpa pakaian. Mereka tak malu meski saling melihat satu sama lain. Tapi, kebiasaan itu tak disukai Nabiyulloh Musa. Setiap kali mandi, Musa selalu menyendiri dan enggan mandi bersama.

Bukan Bani Isroil jika tak memiliki sifat membangkang. Sikap mulia Nabi Musa tersebut justru dipertanyakan mereka. Meski Musa merupakan nabi yang patut diyakini dan dihormati, Bani Isroil justru mencelanya. Mereka menyebarkan gosip bahwa Musa memiliki cacat badan hingga enggan mandi bersama. Nabi Musa yang terbiasa sabar menghadapi umatnya pun hanya diam membisu. Ia enggan meladeni gosip murahan Bani Isroil. Tapi, Alloh enggan membiarkan utusan-Nya dicela.

Suatu hari, ketika Musa mandi dia meletakkan bajunya di atas sebuah batu. Tapi, tiba-tiba atas perintah Alloh batu tersebut lari dengan kencang. Musa pun segera mengejar benda mati itu. “Wahai batu! Bajuku!” ujar Musa. Saat mengejar batu tersebut, Bani Isroil melihatnya. Maka, nyatalah bahwa gosip itu tak benar. “Demi Alloh tak ada cacat pada Musa,” ujar mereka. Setelah Alloh menampakkannya, batu tersebut pun berhenti. Nabi Musa segera mengambil baju dan mengenakannya. Nabiyulloh pun marah kepada sang batu dan dia pun memukulnya.

Kisah batu tersebut dikabarkan oleh Rosululloh dalam hadits riwayat Bukhori dari sahabat Abu Huroiroh. Dari dua kisah di atas dapat dipetik hikmah untuk menghormati dan menaati utusan Alloh. Mencintai utusan Alloh merupakan bagian dari keimanan.

Rosululloh pernah bersabda, “Terdapat tiga hal yang apabila dimiliki seseorang tentu dia merasakan manisnya iman, Alloh dan Rosul-Nya lebih dia cintai daripada yang selain keduanya, dia tidaklah mencintai seseorang melainkan karena Alloh, serta dia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Alloh menyelamatkannya dari kekafiran itu sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api.” (Hadis riwayat Bukhori-Muslim dari Anas bin Malik).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar