Kamis, 11 Juli 2013

Merajut Cinta di Bulan Suci

.:: Pengantar

Saudaraku, tidak terasa bulan suci Romadhon kembali menyapa kita. Bulan samudra cinta Alloh pada kekasih-Nya. Bulan agung penuh berkah tak pernah jemu menemui kita. Bulan berjuta pahala. Pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar. Pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat. Dan setan-setan dibelenggu oleh Dzat Yang Maha Kasih.

Saudaraku, detik-detik bulan suci Romadhon adalah detik-detik cinta, Ketika kita mampu mengisinya dengan mendekat mesra kepada Alloh swt, maka cinta dari Dzat Pemilik cinta tersebut akan mengalir dalam jiwa kita. Dengan cinta seperti inilah, kita tidak akan pernah letih menebar cinta terhadap sesama.

Jika cinta telah mendominasi seseorang, ia dapat menelikung hawa nafsunya, ia pun tidak akan merasa nikmat, selain dengan kekasih-Nya. (lmam Al-Ghozali)

“Romadhon adalah bulan pembuktian cinta, pada setiap ruang dan waktu yang berpuluh-puluh lipat nilainya. Ketundukan adalah cinta. Kebajikan adalah cinta. Derma adalah cinta. Dan menata jiwa lebih dewasa adalah cinta. Romadhon, saatnya memberi makna istimewa pada cinta.” (H.M. Anis Matta)

Semoga sajian buku sederhana ini menginspirasi para pembaca sekalian. Semoga Alloh swt melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua, Aamiin. Selamat membaca!


.:: Merajut Cinta di Bulan Suci

Alloh swt senantiasa mencurahkan cinta-Nya kepada umat manusia. Alloh swt membuka banyak sarana dan jalan bagi keselamatan hamba-hamba-Nya, salah satunya melalui bulan suci Romadhon, bulan di mana Alloh swt membuka lebar-lebar pintu cinta-Nya pada umat manusia.

Cinta Alloh Tak Bertepi

Alloh swt Dzat Pemilik cinta tak bersyarat. Dia mencintai semua hamba-Nya tanpa mengharap balasan apapun. Alloh swt selalu mencintai hamba-Nya walaupun hamba itu berbuat zholim dan tetap membangkang dari perintah-Nya. Maka, tak berlebihan bila bulan Romadhon dikatakan sebagai bulan cinta, bulan di mana Alloh swt membuka pintu-pintu kecintaan-Nya.

Bukti cinta Alloh swt itu mewujud dalam panggilan cinta dan mesra terhadap orang-orang beriman ketika Alloh swt mewajibkan ibadah shoum. Bukan sisi kemanusiaan yang Alloh swt sentuh, bukan nama personal yang dipanggil, juga bukan label lainnya, tapi Alloh swt memanggil hamba-hamba-Nya dengan panggilan keimanan. Alloh swt berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqoroh: 183)

Samudera cinta Alloh swt kepada umat manusia digambarkan Rosululloh saw dalam berbagai sabdanya:

“Telah datang kepadamu bulan Romadhon, bulan yang diberkahi. Alloh mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak akan memperoleh apa-apa.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

“Telah datang kepadamu bulan Romadhon, bulan keberkahan, Alloh mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan doa. Alloh melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini. Alloh membangga-banggakanmu di hadapan malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Alloh hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang-orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Alloh di bulan ini.” (HR. Thobrani, periwayatnya tsiqoh)

Beragam amaliyah ibadah Romadhon Alloh swt persiapkan agar para kekasih-Nya terpenuhi kebutuhan ruhaninya, sehat fisiknya, stabil emosinya, harmoni kehidupannya. Dalam buku ini kita sebutkan paling tidak ada sepuluh amaliyah ibadah khusus Romadhon, yang apabila itu dilaksanakan dengan baik, insya Alloh umat manusia akan meraih cinta Alloh swt.

Meraih Cinta Alloh

Ketika cinta Alloh swt terhadap umat manusia demikian besar, maka hendaknya kita membalas cinta-Nya, meski sejatinya Alloh swt tidak membutuhkan cinta kita. Sebab, orang yang mengaku cinta ia harus bisa membuktikan kebenaran cintanya. Jika kita mencintai Alloh swt maka kita harus menyambut seruan-Nya. Potongan syair Arab menyatakan:

Anda bermaksiat kepada Alloh dan Anda mengklaim mencintai-Nya
Sungguh itu jauh panggang dari api
Jika Anda benar mencintai-Nya, pasti Anda mentaati-Nya
Karena orang yang mencinta terhadap Dzat Yang dicintai itu mentaati-Nya.

Karena itu, Rosululluh saw dan para sahabatnya selalu menyambut bulan Romadhon dengan suka cita. Bahkan semenjak bulan Rojab dan Sya’ban mereka telah mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambutnya, termasuk dengan memperbanyak puasa dan amalan sunnah lainnya. Aisyah ra. menceritakan bahwa Rosululloh saw tidak pernah berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari puasanya pada bulan Sya’ban, hampir sebulan penuh beliau berpuasa di bulan ini. (HR. Bukhori-Muslim)

Rosululloh saw juga menjadi teladan bagi kita bagaimana beliau mengisi jenak-jenak waktu di bulan Romadhon dengan kesibukan amal sholih. Tidak ada waktu luang sedikitpun berlalu sia-sia. Semua nafas adalah ibadah, semua langkah adalah kebaikan, semua tindakan adalah manfaat, dan semua perilaku berpahala.

Nah, ketika cinta kita sudah berbicara, maka tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak bahagia menyambut dan mengisi bulan Romadhon. Tidak ada lagi keluh kesah menahan lapar, haus, dan semua keletihan tatkala menjalankan ibadah Romadhon. Dengan cinta semua yang pahit akan menjadi manis. Dengan cinta yang berat akan menjadi ringan. Dengan cinta yang susah akan menjadi mudah.

Cinta Terhadap Sesama

Selain merajut cinta Alloh swt, bulan Romadhon juga menjadi momentum merajut cinta terhadap sesama umat manusia, dengan melaksanakan beragam aktivitas kebajikan dan kepedulian sosial; memberi buka puasa, mengeluarkan zakat, infaq, dan sedekah, menebarkan kedamaian, memaafkan, menjalin shilaturrohim, berbuat baik terhadap tetangga dan seterusnya.

Rosululloh saw menjadi teladan dalam kedermawanan di bulan suci ini. Aisyah ra. Menceritakan “Bahwa Rosululloh adalah manusia yang paling dermawan. Dan beliau semakin dermawan saat bulan Romadhon tiba.”

Rosululloh saw memotivasi kita untuk melipatgandakan kepedulian sosial, salah satunya dengan memberi buka puasa, Rosul bersabda: “Barangsiapa memberi buka (makan atau minum) terhadap orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa, tanpa mengurangi sedikitpun pahala arang yang berpuasa itu.” (HR. Tirmidzi)

Termasuk upaya untuk merajut cinta terhadap sesama di bulan suci adalah lapang dada, memaafkan, tidak memfitnah dan meninggalkan bermusuhan. Rosululloh saw bersabda:

“Puasa itu sebagai perisai. Jika, seseorang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan melanggar aturan. Jika ada orong mencacinya atau mengajak berkelahi maka hendaknya ia katakan kepadanya; ‘Aku sedang berpuasa’.” (HR. Imam Bukhori dan Muslim)

Di penghujung bulan Romadhon, Rosululloh saw memperintahkan umat muslim untuk menyempurnakan shoumnya dengan mengeluarkan zakat, sebagai bentuk kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama. Rosululloh saw bersabda: “Zakat fitrah menjadi pencuci bagi orang yang shoum dari perkara yang tidak ada gunanya, dari perkara yang jorok. Sekaligus untuk memberi makan bagi fakir miskin.”

Ada tradisi bagus di kalangan umat muslim di Indonesia, yaitu dalam rangka menyambut bulan suci Romadhon, umat muslim saling memberi maaf, bershilaturrohim terhadap orang tua, keluarga, tetangga, teman sekantor, sesama jamaah masjid dan seterusnya. Itu dilakukan dalam rangka merajut cinta kasih terhadap sesama umat manusia sehingga memasuki bulan suci Romadhon dalam kondisi terhindar dari kesalahan terhadap sesama anak Adam.

Bahkan, tradisi saling memaafkan dan shilaturrohim ini dikuatkan kembali pada saat umat muslim menutup bulan suci Romadhon dan mengawali bulan Syawal. Berlebaran dengan saling shilaturrohim, mengucapkan selamat lebaran, memberi hadiah, mendoakan dan membantu meringankan saudaranya yang tidak berkecukupan.

Seluruh aspek kehidupan dalam bulan suci Romadhon dapat dijadikan media untuk merajut cinta Alloh swt, juga cinta sesama umat manusia. Selamat menempuh perjalanan satu bulan penuh merajut cinta; cinta Ilahi yang hakiki dan cinta sesama yang harmoni.


.:: Sepuluh Amaliyah Romadhon

Cinta mendorong kekasih Alloh swt untuk terus beramal. Cinta meringankan kekasih Alloh swt untuk senantiasa melaksanakan ketaatan. Cinta mengantarkan kekasih Alloh swt untuk selalu peduli terhadap sesama. Dan sumber cinta itu adalah iman yang benar kepada Alloh swt.

Di bulan suci Romadhon, cinta ini kembali menguatkan kekasih Alloh swt untuk melaksanakan berbagai macam amaliyah (kerja) ibadah Romadhon secara optimal. Begitu sebaliknya, ketika berbagai amaliyah ibadah Romadhon dilaksanakan dengan baik, maka cinta itu akan menguat dan mengantarkan seseorang menjadi kekasih-Nya.

Nah, di antara amaliyah ibadah khas bulan suci Romadhon adalah:

Amaliyah Pertama, Shoum

Shoum tidak sekedar menahan hal yang membatalkan shoum -makan, minum dan berhubungan biologis- dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari saja. Karena, kalau hanya sekedar menahan yang demikian, boleh jadi anak kecil, usia SD bisa melakukannya.

Kalau demikian, apa bedanya shoumnya kita dengan mereka? Harus ada nilai lebih, yaitu menjaga dari yang membatalkan nilai dan pahala shoum. Apa yang membatalkan nilai shoum? Di antaranya berbohong, ghibah, namimah, mengumpat, hasud, dan penyakit hati lainnya. Dengan demikian, mata, telinga, lisan, tangan, kaki dan anggota badan kita ikut serta shoum.

“Betapa banyak orang yang shoum, tidak mendapatkan sesuatu kecuali hanya rasa lapar dan dahaga semata.” (HR. Ad-Darimi, Al-Albani mengatakan hadits ini sanadnya Jayyid)

Amaliyah Kedua, Sahur

Sahur tidak pengganti sarapan pagi, bukan juga penambah makan malam. Namun sahur yang penuh berkah, yang dilakukan di akhir lelang waktu fajar. Di sinilah waktu-waktu yang sangat mahal, doa dikabulkan, permintaan dipenuhi. Sehingga ketika melaksanakan sahur tidak sambil nonton hiburan, tayangan yang melenakan, oleh media elektronik. Sibukkan diri dan keluarga kita dengan mensyukuri nikmat Alloh dengan bersama-sama melaksanakan sunnah sahur ini dengan penuh hikmat dan kekeluargaan. Rosululloh saw bersabda:

“Sahurlah, karena dalam sahur itu ada keberkahan.” (Muttafaqun ‘alaih)


Amaliyah Ketiga, Ifthor atau Berbuka

Sunnah buka puasa itu disegerakan. Ketika mendengar kumandang adzan Maghrib, segera lakukan buka puasa. Dengan apa kita ifthor? Sunnahnya dengan ruthab atau kurma muda. Berapa biji? Bilangan ganjil satu atau tiga biji. Kalau tidak ada, seteguk air putih. Itu yang dilakukan Rosululloh saw, bukan dengan memakan aneka hidangan, ragam makanan.

Ifthor bukan ajang balas dendam, seharian manahan lapar, ketika bedug Maghrib, seakan ingin melampiaskan rasa laparnya dengan memakan semua yang ada. Perilaku ini tentu tidak akan membawa dampak perubahan dalam kehidupan pelakunya. Justeru dengan berlapar-lapar sambil merenungkan hikmah shoum. Sehingga dengan sadar dan hikmat kita berdoa saat berbuka:

“Ya Alloh, kepada-Mu aku shoum, dengan rizki-Mu aku berbuka, telah hilang rasa haus-dahagaku, kerongkongan telah basah, karena itu tetapkan pahala bagiku, insya Alloh,” (HR. Abu Daud, Al-Albani menganggap hadits ini Hasan)

Amaliyah Keempat, Sholat Tarawih

Tarawih berasal dari akar kata “rooha-yaruuhu-roohatan-watarwiihatan- yang artinya rehat, istirahat, santai. Sehingga sholat tarawih adalah sholat yang dilaksanakan dengan thuma’ninah, santai, khusyu’ dan penuh penghayatan, bukan hanya sekedar mengejar target bilangan roka’atnya saja.

Umat muslim hendaknya mengevaluasi diri dalam hal pelaksanaan sholat tarawih ini. Sebab, sudah kesekian kali kita melaksanakan sholat tarawih dalam hidup kita, namun kita belum bisa meresapi, merenungkan, dan mendapatkan manisnya sholat, bermunajat kepada Alloh swt secara langsung, sehingga dampak sholat pun belum bisa kita rasakan.

“Barangsiapa menghidupkan malam Romadhon -qiyamu Romadhon- dengan sholat dilaksanakan dengan penuh rasa keimanan dan keikhlasan, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaih)

Bahkan sholat tarawih menjadi ajang untuk merajut cinta terhadap sesama umat muslim, dengan saling menyapa, memberi salam, mendoakan, merapatkan barisan shof sholat, mendengarkan taushiyah dan seterusnya.

Amaliyah Kelima, Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an atau tadarus Al-Qur’an tidak hanya dilakukan di bulan suci ini, tapi juga dilakukan setiap hari di luar Romadhon. Namun pada bulan ini tadarus lebih dikuatkan, ditambah kuantitas, dan kualitasnya. Setiap malam, Rosululloh saw bergantian bertadarus dan mengkhotamkan Al-Qur’an dengan Malaikat Jibril as.

Imam Malik, ketika memasuki bulan suci Romadhon meninggalkan semua aktivitas keilmuan atau memberi fatwa dan hanya fokus tadarus. Imam Syafi’i, ketika masuk bulan Romadhon ia mengkhotamkan Al-Qur’an sehari dua kali, sehingga beliau khotam Al-Qur’an 50 kali selama sebulan penuh. Subhanalloh!

Kita tidak perlu mendebat, apakah itu mungkin? Bagaimana caranya beliau bisa melakukan hal itu? Esensi yang jauh lebih penting adalah semangat dan mujahadah yang kuat itulah yang mesti kita miliki dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Amaliyah Keenam, Ith’aamul Ifthor atau Memberi Buka Puasa

Jangan diremehkan memberi berbuka puasa kepada orang yang berpuasa, baik langsung maupun lewat masjid atau perkantoran. Walau hanya sebutir kurma, seteguk air, makanan, minuman, dan lainnya. Sebab, nilai dan pahalanya sama seperti orang yang berpuasa yang kita kasih berbuka tersebut.

Di negara-negara Timur Tengah, tradisi memberi buka puasa sangat kental. Hampir-hampir setiap rumah membuka pintu selebar-lebarnya bagi para kerabat, tetangga, sahabat, dan musafir untuk turut serta berbuka bersama dengan mereka. Tradisi memberi berbuka ini akan menguatkan cinta kasih di antara umat Islam.

Amaliyah Ketujuh, I’tikaf

Melaksanakan i’tikaf 10 hari akhir Romadhon. Inilah amalan sunnah muakkadah yang tidak pernah ditinggalkan Rosululloh saw semasa hidupnya. Bahkan di tahun di mana beliau meninggal, beliau beri’tikaf 20 hari akhir Romadhon. Rosululloh saw bersabda:

“Adalah Rosululloh saw jika masuk pada sepuluh hari akhir Romadhon, beliau mengencangkan sarungnya -lebih giat beribadah-, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhori)

Amaliyah Kedelapan, Taharri Lailatil Qodar atau Memburu Malam Lailatul Qodar

Usia rata-rata umat Nabi Muhammad saw adalah 60 tahun. Jika lebih, itu kira-kira bonus dari Alloh swt. Namun usia yang relatif pendek itu bisa menyamai nilai usia umat-umat terdahulu yang bilangan umur mereka ratusan bahkan ribuan tahun.

Bagaimana caranya? Ya, dengan cara memburu lailatul qodar. Sebab orang yang meraih lailatul qodar dalam kondisi beribadah kepada Alloh swt, berarti ia telah berbuat kebaikan sepanjang 1000 bulan atau 83 tahun 3 bulan penuh. Jika kita meraih lailatul qodar sekali, dua kali, tiga kali, dan seterusnya, maka nilai usia dan ibadah kita bisa menyamai umat-umat terdahulu. Rosululloh saw bersabda:

“Pada bulan ini ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang dari kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang dari kebaikan.” (HR. Ibnu Majah, Al-Albani menganggap hadits ini Hasan)

Rosululloh saw bersabda:

“Burulah oleh kalian malam lailatul qodar itu di bilangan ganjil di sepuluh malam akhir Romadhon.” (HR. Bukhori)

Amaliyah Kesembilan, Umroh

Melaksanakan ibadah umroh di bulan suci Romadhon, terutama 10 akhir Romadhon. Sebab melaksanakan umroh di bulan suci ini seperti melaksanakan ibadah haji atau ibadah haji bersama Rosululloh saw, Rosululloh saw bersabda:

“Umroh di bulan Romadhon sebanding dengan haji.” Dalam riwayat yang lain: “Sebanding haji bersamaku.” (HR. Muslim)

Amaliyah Kesepuluh, Menunaikan ZISWAF

Yaitu mengeluarkan zakat, infaq, sedekah, dan wakaf. Rosululloh saw bersabda:

“Zakat fitrah menjadi pencuci bagi orang yang shoum dari perkara yang tidak ada gunanya, dari perkara yang jorok sekaligus untuk memberi makan bagi kaum miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum sholat idul fitri, maka zakatnya diterima -sebagai zakat fitrah yang wajib-. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah sholat idul fithri, maka itu bagian dari sedekah biasa.” (HR. Al-Baihaqi, Al-Albani menshohihkan)

ZISWAF adalah merupakan ibadah maaliyah ijtima’iyyah, ibadah yang terkait dengan harta yang berdampak pada manfaat sosial, menumbuhkan cinta kasih antara aghniya’ dan fuqoro’ bahkan mensejahterakan masyarakat. Mengeluarkan ZISWAF tidak hanya di bulan suci Romadhon, kecuali zakat fitrah yang memang harus dikeluarkan sebelum sholat idul fitri, sedangkan zakat-zakat yang lain, sedekah, dan juga infaq dilakukan kapan saja dan di mana saja. Akan lebih efektif dan berdampak luas, jika ZISWAF disalurkan lewat Lembaga Amil Zakat yang mengelola dana-dana umat secara rutin.

Sepuluh amaliyah ibadah yang khusus di bulan suci Romadhon ini akan bisa kita laksanakan dengan optimal ketika dilandasi oleh cinta; cinta kepada Alloh swt, cinta kepada sunnah Nabi, cinta pada bulan suci, cinta pada syiar Islam. Sebaliknya, jika amaliyah ibadah ini dilaksanakan dengan baik dan benar, maka akan menguatkan rasa cinta kepada Alloh swt dan cinta terhadap sesama.


.:: Meneladani Ibadah Romadhon Generasi Salaf

Pertanyaan yang sering mengemuka di kalangan umat Islam sekarang ini adalah bagaimana generasi terbaik Islam (Generasi Salaf) terdahulu mengisi hari-hari di bulan suci Romadhon.

Dari lembaran sejarah bisa kita temukan bahwa, mereka generasi terbaik Islam itu berlomba meraih fadhilah atau keutamaan bulan suci Romadhon, mereka menyibukkan diri dengan berbagai amaliyah ibadah Romadhon, dan mereka mengerahkan segenap kekuatan fisik dan kekuatan jiwa untuk mengisinya.

Waktu siang hari mereka adalah kesungguhan, produktifitas dan prestasi kerja. Malam hari mereka adalah malam-malam meraih bekalan ruhani, tahajjud dan tilawah Al-Qur’an.

Sebulan penuh mereka belajar; beribadah dan berbuat baik.

Lisan mereka shoum, jauh dari berkata yang tidak ada manfaatnya, apalagi kata-kata kasar, jorok, dan dusta.

Telinga mereka shoum, tidak mendengarkan pernyataan sesat, negatif, dan hal yang sia-sia. Mata mereka shoum, tidak melihat yang diharamkan dan maksiat.

Hati mereka shoum, tidak terbersit untuk melakukan kesalahan atau dosa.

Tangan mereka shoum, tidak digunakan untuk mengambil sesuatu yang tidak halal dan tidak pula menyakiti orang lain.

Begitu juga dengan anggota tubuh lainnya, turut serta shoum.

Kalau kita lihat pelaksanaan ibadah Romadhon umat Islam sekarang ini, maka paling tidak ada dua model.

Model pertama, mereka yang menjadikan Romadhon sebagai musim taat kepada Alloh swt dengan melipatgandakan kebaikan. Mereka shoum siang harinya dengan sebaik-baiknya. Di malam hari mereka qiyam Romadhon -sholat tarawih dan tahajjud- dengan sebaik-baiknya. Mereka bersyukur kepada Alloh swt atas nikmat yang mereka peroleh. Mereka juga tidak lupa dengan saudara-saudara mereka yang lemah ekonomi lagi tidak beruntung. Mereka berusaha meneladani Nabi saw sebagai orang yang paling dermawan dan paling banyak berbuat baik dalam bulan Romadhon, laksana angin yang tertiup.

Model lainnya, ada sebagian orang yang tidak pernah tahu dan sadar dengan kebaikan Romadhon. Mereka tidak merasakan ada manfaat dari hadirnya bulan Romadhon. Mereka tidak peduli dengan shiyam dan qiyam. Mereka tidak tahu dan tidak mau tahu keutamaan dan keistimewaan Romadhon.

Padahal Alloh swt menghidangkan Romadhon bagi qolbu dan ruh (hati dan jiwa) sekaligus. Sedangkan mereka malah menjadikan Romadhon untuk memperturutkan syahwat perut dan mata (tidur) semata.

Alloh swt menjadikan Romadhon sebagai upaya menyemai sikap kasih sayang dan kesabaran. Justeru mereka menjadikannya sebagai ajang amarah, mengumpat, dan memfitnah.

Alloh swt menjadikan Romadhon sebagai wahana meraih sakinah (ketenteraman) dan keteduhan. Mereka malah menjadikannya sebagai bulan pertengkaran dan perselisihan.

Alloh swt menjadikan Romadhon sebagai momentum perubahan diri (pola makan sehat), namun mereka hanya merubah jadwal makan belaka.

Alloh swt menghadirkan Romadhon untuk menggugah si kaya agar peduli dengan yang tak berpunya. Namun mereka menjadikannya sebagai ajang memperbanyak makanan dan minuman dengan aneka ragamnya secara berlebihan.

Generasi sekarang ini berhajat untuk meneladani ibadah dan ketaatan generasi para pendahulunya. Sebab, Imam Malik (Rohimahulloh) menyatakan; “Umat sekarang ini hanya akan menjadi baik, jika mereka meneladani umat terdahulu yang menjadikan mereka menjadi umat terbaik.”

Semoga kita semua, umat Islam sekarang ini mampu melaksanakan shoum Romadhon dengan baik dan benar sehingga menjadi hamba-hamba-Nya yang benar-benar bertaqwa, suatu predikat tertinggi di mata Alloh swt, bi idznillah.


.:: Munajat ‘Cinta’ Romadhon

Doa adalah senjata orang beriman. Secara khusus bulan Romadhon disebut dengan syahrud du’a yaitu bulan berdoa. Rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang ibadah Romadhon di selingi dengan ayat perintah berdoa. Alloh swt berfirman:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqoroh:186)

Rosululloh saw bersabda:

“Tiga kelompok yang tidak akan ditolak doanya: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan doa orang yang teraniaya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Sepanjang hari di bulan suci Romadhon doa-doa dikabulkan, lebih lagi menjelang berbuka dan di waktu sahur. Hendaknya kita persiapkan sebaik mungkin fisik, mental, dan keluangan waktu kita untuk berdoa dan bermunajat kepada Alloh swt. Di antaranya rangkaian munajat itu adalah:

“Allohumma lakal hamdu bil islaam wa lakal hamdu bil iimaani wa lakal hamdu bil qur’aani wa lakal hamdu bisyari romadhoona wa lakal hamdu bil ahli wal maali wal mu’aafaati lakal hamdu bi kulli ni’matin an’amta bihaa ‘alainaa; Ya Alloh, segala puji hanya bagi-Mu atas nikmat Islam, nikmat Iman, nikmat Al-Qur’an, nikmat bulan Romadhon, nikmat keluarga, harta dan kesehatan. Segala puji bagi-Mu atas semua nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kami.

“Allohumma sholli wa sallim wa baarik ‘alaa ‘abdika wa rosuulika muhammadin shollallohu ‘alaihi wa sallam wa ‘ala aalihi wa ashhaabihi ajma’iina; Ya Alloh, sampaikanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada hamba, nabi dan Rosul-Mu Muhammad saw beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.”

“Allohummaghfirlanaa waliwaalidaynaa warhamhum kamaa robbanaa shighooroo; Ya Alloh, ampunilah kami dan ampuni pula kedua orang tua kami dan sayangilah mereka seperti kasih sayang mereka saat mendidik kami di waktu kecil.”

Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan di hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman, ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ya Alloh, kami memohon kepada-Mu ridha dan surga-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya, dan kami berlindung kepada-Mu dari murka dan neraka-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya.

Ya Alloh, berikan kepada kami dari rasa takut kami kepada-Mu sesuatu yang akan membentengi kami dari maksiat kepada-Mu, anugerahkan kami dari ketaatan kami kepada-Mu sesuatu yang akan mengantarkan kami ke surga-Mu, dan berikan untuk kami dari keyakinan kami kepada-Mu sesuatu yang akan meringankan kami dalam menghadapi musibah dunia. Berikan kenikmatan pada pendengaran, penglihatan dan semua kekuatan dan potensi kami selama Engkau hidupkan kami, jadikan semua itu sebagai peninggalan kami. Jadikan pembalasan kami hanya kepada orang yang telah menzholimi kami, tolonglah kami atas orang-orang yang memusuhi kami, jangan Engkau jadikan musibah menimpa kami dalam agama dan iman kami, jangan Engkau jadikan dunia ini sebagai puncak cita-cita dan ilmu kami, dan jangan Engkau kuasakan kami kepada orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak menyayangi kami.

Ya Alloh, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memberi maaf, maka maafkanlah (kesalahan-kesalahan) kami.

Ya Alloh, bantulah kami dalam berdzikir dan bersyukur serta beribadah kepada-Mu dengan baik.

Ya Alloh, jadikanlah kami dan seluruh kaum muslimin sebagai orang yang berpuasa Romadhon dan sholat malam dengan penuh keimanan dan harapan akan pahala-Mu lalu diampuni semua dosanya baik yang telah lalu maupun yang belakangan, dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

Ya Alloh, jadikan kami golongan orang-orang yang mampu melaksanakan puasa Romadhon, menyempurnakan pahala, mendapatkan lailatul qodr dan meraih kemenangan dan penghargaan dari-Mu.

Ya Alloh, bersihkan dan sucikan hati dan jiwa kami dengan Al-Qur’an yang mulia.

Ya Alloh, ingatkan kami ayat Al-Qur’an terlupa, ajarkan kami darinya apa yang tidak kami ketahui, berikan rizki kepada kami berupa kenikmatan membacanya malam dan siang, jadikan ia hujjah bagi kami jangan jadikan ia hujjah atas kami.

Ya Alloh, berikan kepada jiwa-jiwa kami ketakwaan kepadamu, dan sucikan dia, Engkaulah sebaik-baik Zat Yang Menyucikan jiwa, Engkaulah Pelindung dan Penolongnya.

Ya Alloh, kami memohon kepada-Mu segala kebaikan di dunia dan akhirat yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui, dan kami berlindung kepada-Mu dari semua keburukan di dunia dan akhirat yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui.

Ya Alloh, perbaikilah agama kami yang merupakan penjaga urusan kami, perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat hidup kami, dan perbaikilah akhirat kami karena dialah tempat kembali kami. Jadikan kehidupan ini sebagai penambah segala kebaikan bagi kami, dan jadikan kematian sebagai kebebasan kami dari segala keburukan.

Ya Alloh, bebaskan diri kami dari api neraka, lapangkan untuk kami rizki yang halal.

Ya Alloh, jadikanlah amal kami yang terbaik adalah akhirnya, dan umur kami yang terbaik adalah penghujungnya, dan hari terbaik kami adalah hari bertemu Engkau.

Ya Alloh Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan, Yang Maha Mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan, kami memohon kepadamu agar Engkau memuliakan Islam dan kaum muslimin, menghinakan kemusyrikan dan orang-orang musyrik, menghancurkan musuh-musuh agama, dan menjadikan negeri ini dan negeri-negeri kaum muslimin lainnya aman dan tenteram.

Ya Alloh, tolonglah dan menangkanlah saudara-saudara kami kaum muslimin para mujahidin di jalan-Mu di mana pun mereka berada. Tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin para mujahidin Palestina. Ya Alloh, bantulah pula saudara-saudara kami kaum muslimin para mujahidin di Suriah, dan negeri-negeri kaum muslimin yang lain, wahai Penguasa alam semesta.

Ya Tuhan kami, kami telah menzholimi diri sendiri, jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami pastilah kami termasuk orang-orong yang merugi.

Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan peliharalah kami dari api neraka.

Semoga sholawat senantiasa tercurah kepada pemimpin kami Muhammad saw keluarga dan sahabatnya semua. Maha suci Tuhanmu Pemilik kemuliaan dari apa yang mereka persekutukan. Semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada para Rosul dan segala puji hanya bagi Tuhan semesta alam.


.:: Penutup

Bulan suci Romadhon menjadi bukti cinta Alloh swt pada hamba-hamba-Nya. Alloh swt menyiapkan satu bulan penuh dalam satu tahun ini agar hamba-hamba-Nya merasakan kelezatan ruhani, hangatnya aura ketaatan, munculnya suasana perlombaan, merasakan kenikmatan peduli, dan menebar cinta-kasih terhadap sesama sehingga seakan-akan manusia terlahir kembali lagi menjadi fitri.

Ketika kita bahagia bertemu dengan bulan Romadhon itu sama artinya dengan bahagia bertemu dengan Alloh swt Konsekuensinya adalah;

“Barangsiapa mencintai pertemuan dengan Alloh, maka Alloh pun mencintai pertemuan dengannya, Dan barangsiapa tidak mencintai pertemuan dengan Alloh, maka Alloh pun tidak menghendaki pertemuan dengannya.” (HR. Bukhori)


Semoga Alloh swt menerima segala amal ibadah kita semua. Semoga kita menjadi hamba-hamba Alloh swt yang bertaqwa, Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar