Rabu, 29 April 2015

‘Aqobah

“PADA MALAM ITU”, Ka’b ibn Malik menuturkan, “Kami tidur di tengah rombongan kaum kami. Setelah lewat sepertiga malam, kami keluar dari rombongan menuju tempat yang sudah kami janjikan untuk bertemu Rosululloh Shollalloohu ‘Alaihi wa Sallam. Masing-masing dari kami satu demi satu berjalan mengendap-endap dengan langkah hati-hati, hingga akhirnya kami semua berkumpul di bukit ‘Aqobah.”

Begitulah sang pelaku sejarah bai’at ‘Aqobah kedua, Ka’b ibn Malik al-Anshory mengisahkan prolog peristiwa agung itu. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah dipilihnya bukit ‘Aqobah sebagai lokasi pertemuan top-secret itu. Jika Quroisy sampai mengetahui kejadian ini, niscaya sejarah da’wah sungguh akan ditulis berbeda. Ya, mengapa ‘Aqobah yang dipilih? Secara tidak langsung, surat al-Balad yang mengisahkan negeri Makkah, menjawab pertanyaan saya.

“Maka tidakkah sebaiknya dengan hartanya itu ia menempuh ’Aqobah, jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? Melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang,” (Qs. al-Balad [90]: 11-17)

‘Aqobah, menurut ayat ini teterjemahkan sebagai jalan yang mendaki lagi sukar. Pertimbangan lokasi itu sempurna. Jalan menujunya pun mendaki lagi sukar. Dan mungkin sempit. Karena Ka’b sampai mengatakan bahwa mereka harus satu-satu mengendap-endap untuk mencapainya.

Membicarakan ‘Aqobah dan segala rerupa geografisnya tentu menarik. Tetapi lalu, saya lebih tertarik untuk mencermati susunan avat-ayat yang turun di awal-awal risalah seperti yang dicontohkan Surat al-Balad ini. Basis da’wah ternyata dimulai dari pelayanan, baru kemudian seruan. Ada kaidah da’wah untuk menjawab permasalahan sosial dulu baru kemudian menyerukan iman, kesabaran, dan kasih sayang. Maaf, bukankah tanpa kerja-kerja sosial -membebaskan budak, memerangi kelaparan-, seruan-seruan itu bakal terasa omong kosong?

Tanpa didahului kerja-kerja nyata itu, seruan-seruan hanya akan melahirkan tanya mengecam. Misalnya, “Kasih sayangnya itu mana?” Atau, “Sabar… Sabar… Enak aja ngomong!” Atau yang paling parah, “Apa gunanya iman? Nggak bisa dimakan!”

Untuk kemenangan da’wah, kadang-kadang Alloh membuat sebuah skenario agar suatu wilayah membutuhkan kerja-kerja sosial dari jama’ah da’wah. Walloohu a’lam. Ada perbudakan oleh Fir’aun sehingga Musa gigih melakukan advokasi untuk Bani Isroil. Ada ketimpangan ekonomi, kezholiman, dan kerusakan moral sehingga Muhammad menjadi sosok Al-Amin yang sangat istimewa. Kini, terkadang Alloh berkehendak untuk menimpakan musibah bencana alam agar terbuka peluang bagi da’wah untuk masuk dengan pelayanannya. Dan lalu seruan.

Ini sepenggal yang tersisa dari gempa Jogja. Menatap rumahnya yang hancur, seorang pemuda menyenandungkan lagu Samsons yang dulu dihafalnya untuk mengenang jejak air mata, “Bila… yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu, kan ku jadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku.” Jika ini ekspresi kesabaran, apa yang bisa kita ungkapkan kecuali memuji pemahamannya tentang takdir dan mendekatkannya pada kefahaman “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.”

Inilah musibah. Agar kita belajar tentang garis takdir dari sudut terdekat. Sesungguhnya kematian yang kita lari darinya, pasti akan menemui kita pada waktu, tempat, dan frekuensi yang tepat. Saya baru berhasil keluar setelah gempa besar itu reda, dan yang saya saksikan di luar adalah kepiluan. Bukankah tetangga di depan rumah saya itu sekeluarga berhasil lari keluar dari rumahnya? Iya. Tetapi ke manakah lari dari takdir Alloh, karena tembok rumah tetangga merekalah yang menjadi karunia timpaan bagi mereka? Dan rumah mereka, justrulah yang tetap berdiri utuh, tegak di antara puing-puing berserakan.

Inilah musibah. Agar kita belajar langsung tentang kesabaran dari mata airnya. Jika memang ini peringatan Alloh, mungkin karena tanpa musibah kita jadi miskin rasa pinta. Selama ini mungkin tanpa sadar, kita telah ber-istighna, merasa kaya di hadapan Alloh. Atau mungkin, hidup kita selama ini bergerak menggelimang ke sebuah jurang. Lalu gempa membuat kita menoleh, menghentikan laju ketersurukan itu. Seperti kenakalan seorang anak kecil yang membahayakan dirinya, lalu sang ayah menjewernya dengan penuh cinta. Maka sungguh, Alloh mencintai hamba-Nya.

Inilah musibah. Agar kita belajar tentang syukur di sini, di labirin nurani yang terdalam. Bukankah Sang Nabi menyabdakan, di antara tanda cinta Robb kita adalah penyegeraan balasan segala dosa dengan rasa sakit, kepiluan, dan musibah-musibah hingga pun tertusuk duri di jalan bagi orang yang beriman? Iya. Alloh balas semua itu di dunia, agar sang hamba menghadap-Nya dengan kebersihan, seperti kain putih yang tercuci dari noda. Ia telah dicuci dengan air, salju, dan embun cinta-Nya.

Inilah musibah. Agar kita menghayati tiap pernyataan, ikrar, dan sumpah yang menggetar di lisan kita. Seperti cenung saya setelah mengisi kajian tentang shobar, benar-benar Ia mempertanyakan kesabaran saya dengan mengambil kendaraan yang saya parkir di Masjid Mardhiyyah. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Begitulah, kata -pernyataan, ikrar, dan sumpah- memiliki episode penyambung. Masih ada ujian dan pembuktian.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. al-Ankabuut [29]: 2)

Pemaknaan kita atas musibah ini sebagaimana umumnya seorang Muslim, cukuplah sampai di sini. Tetapi, menjadi belum cukup ketika memasuki bagian yang paling kita banggakan dari diri kita; kader da’wah dan jama’ah da’wah. Berpikirlah kita tentang da’wah. Maka musibah adalah luka, yang hanya da’wah yang mampu menyembuhkannya. Maka musibah adalah teka-teki, yang hanya da’wah yang mampu mengurainya. Maka musibah adalah hidangan, yang hanya da’wah perangkat makannya. Tega tak tega, sebutiah musibah adalah peluang da’wah.

Peluang ini, peluang membukti. Adakah secara internal kita telah saling mencinta hingga seperti satu tubuh, jika satu bagian merasakan sakit, maka yang lain menggigil demam? Adakah jika seorang kader merasakan pedih, yang lain pun hatinya tersembilu? Dan lebih dari itu, adakah jika seorang kerepotan, yang lain memiliki tangan yang siap kelelahan? Adakah jika saudara ditimpa musibah, kesanggupan berbagi menjadi jamak? Adakah jika bumi retak, cinta kan merekat?

Peluang ini, peluang membukti. Adakah jama’ah kita ini telah mengukirkan peran kemanfaatan di tengah ummat? Adakah kader-kadernya menjadi tumpuan harap bagi masyarakat yang menjadi tetangganya? Adakah kesediaan menembus pelosok ketika yang lain berpose dengan bantuannya di pinggir jalan? Adakah kesanggupan untuk mengelola da’wah yang memberi jawab bagi kesulitan ummat? Bukanlah bendera-bendera kecil berkibar yang akan mengenalkan manusia pada da’wah? Bukan pula slogan dan teriakan dari atas mimbar yang melangit. Tapi gerak langkah dan desiran jiwa yang kaya akan dzikrulloh, itulah yang akan mengetuk hati dan mempesona fithrah. Bukan soal beban rekrutmen, bahkan kerja nyata jama’ah da’wah ini, insya Alloh melampaui target-target manusiawi. Karena di atas sana ada tadbir Robbani. Retaknya bumi rekatnya cinta.

Dari siroh Nabawi, kita tahu bahwa da’wah ini hidup karena ruhnya disuburkan. Ruh itu bernama ihtimaam, kepedulian. Khodijah pernah memberi jaminan kepada suaminya, Rosululloh Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi wa Sallam, “Tidak, sekali-kali Alloh tidak akan meninggalkanmu. Karena engkau senantiasa menyantuni yang fakir dan lemah, member makan mereka yang kelaparan, memberi pakaian mereka yang telanjang, menyambung shilaturrohim, dan memuliakan tamu.”

Lalu, wahai kader da’wah. Apakah beban kejama’ahan untuk menegakkan ruh kepedulian itu hanya akan dipikul oleh beberapa orang saja? Masihkah disebut jama’ah da’wah jika yang berperan besar adalah beberapa orang yang menguras diri dan energi sementara beberapa yang lain seperti kaum Musa, “Pergi berperanglah kamu bersama Tuhanmu, kami akan duduk-duduk menunggu di sini”?

Semoga ini hanyalah pergiliran antara barisan depan dan barisan belakang sebagaimana yang diskenariokan Kholid ibn al-Walid dalam perang Mu’tah. Semoga mereka segera kembali ke posnya di atas bukit Uhud, agar tak berguguran manusia-manusia utama yang ada di garis depan. Semoga semua kita lolos dalam penyaringan Alloh untuk melihat siapa kadernya yang sungguh-sungguh dan siapa yang bermain-main.

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Qs. al-Ankabuut [29]: 3)

Ataukah kita harus meratap, jika kita adalah kader da’wah sekualitas anak buah Tholut, yang terlalu lahap minum air dan terlalu tebal berselimut fasilitas hingga kemudian berkata, “Laa thooqota lanal yauma bijaaluuta wa junuudih; tiada kesanggupan bagi kami pada hari ini untuk bertempur melawan Jalut dan tentaranya”? Masih adakah kepekaan? Sebab, apapun halnya diri, ada taujih Robbani yang telah menggerakkan tubuh renta Abu Ayyub al-Anshori untuk bergerak meski gemetar, maju meski tertatih, dan bertarung meski terhuyung.

“Berangkatlah kalian baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (Qs. at-Taubah [9]: 41)

Jalan itu, memang mendaki lagi sulit. []

Credit: “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim”; Salim A. Fillah; Pro-U Media


Tidak ada komentar:

Posting Komentar