Rabu, 29 April 2015

Mu’jizat yang Menantang

HARI itu, sejumlah pemuka Quroisy berkumpul di Daarun Nadwah. Al-Walid ibn al-Mughiroh yang dituakan membuka pembicaraan dengan nada meninggi. “Ayyuhal Quroisy!” katanya, “Sesungguhnya pekan raya ini telah tiba. Utusan-utusan bangsa Arab akan datang kepada kalian, dan mereka telah mendengar tentang urusan kawan kalian itu –Muhammad-. Karena itu, satukanlah pendapat kalian! Jangan sampai kalian berbeda pendapat lantas sebagian mendustakan sebagian yang lain, yang satu menyangkal yang lain!”

Setelah hiruk pikuk sejenak, seseorang bicara, “Lantas, bagaimana dengan pendapatmu sendiri, wahai ayah ‘Abdu Syams? Katakanlah satu pendapat untuk kami, sehingga kami akan satu suara mengikutimu.” Sambil melangkah pendek dan mengibaskan jubahnya dengan elegan, al-Walid menjawab, “Tidak! Tidak… Kalian saja yang berpendapat. Aku akan mendengarkan!”

“Kita katakan saja bahwa dia itu tukang tenung!”

“Tidak! Demi Alloh!” kata al-Walid, “Dia bukan tukang tenung! Kita sudah mengenal tukang-tukang tenung, tetapi apa yang dikatakan Muhammad bukanlah suara tukang tenung, dan bukan pula mantranya!”

“Kalau begitu, katakan saja bahwa Muhammad telah gila!”

“Tidak! Demi Alloh, dia tidak gila! Kita sudah tahu bagaimana pertingkah orang gila, dan betapa Muhammad yang kita kenal tidak seperti itu! Dia tidak dicekik syaithon, tidak dikacaukan, dan tidak dibisikinya!”

“Katakan saja bahwa dia adalah penyair!”

“Hmm… Dia bukan penyair. Kita sudah mengenal syair, baik rojaz maupun hajaz-nya, bacaannya, yang dipanjangkan maupun dipendekkan. Karena itu, apa yang dikatakannya bukanlah syair!”

“Katakan saja bahwa dia adalah tukang sihir!”

“Tidak! Tidak! Dia bukan tukang sihir! Kita sudah mengetahui tukang sihir dan sihir-sihir mereka. Apa yang dikatakannya itu bukan tiupan dan buhulan tukang sihir!”

Mereka, dalam kebingungan berkata, “Kalau demikian, apa yang seharusnya kita katakan tentang Muhammad, wahai ayah ‘Abdu Syams?”

“Demi Alloh, sungguh kata-katanya itu manis, kuat batangnya, banyak dahan, cabang, dan reranting, serta buahnya yang ranum. Tidak ada satu kalimat pun yang kalian katakan tentang al-Qur’an, melainkan pasti akan terlihat bahwa perkataan kalian itu bathil. Oleh karena itulah, tampaknya yang paling mendekati adalah jika kita katakan bahwa dia mempelajari sihir yang memisahkan seseorang dari ayahnya, saudaranya, isterinya, dan keluarganya, hingga jadilah mereka tercerai-berai!”

Begitulah kegemparan para pemuka Quroisy menyikapi al-Qur’an, sebagaimana dibahas oleh Ibnu Ishaq. Saya terngiang-ngiang akan kekata al-walid ibn al-Mughiroh, “Tidak ada satu kalimat pun yang kalian katakan tentang al-Qur’an, melainkan pastia kan terlihat bahwa perkataan kalian itu bathil.”

Yah, saya terngiang-ngiang kalimat itu saat membaca bahwa Nashr Hamid Abu Zayd menyebut al-Qur’an sebagai produk budaya (Muntaj ats-Tsaqofi), dan rasanya ingin tertawa. Tergelak-gelak. Sungguh para musyrikin Quroisy itu jauh lebih cerdas dari Abu Zayd ketika dengan empirik mengatakan tentang al-Qur’an, “Memisahkan seseorang dari ayahnya, saudaranya, isterinya, dan keluarganya, hingga jadilah mereka tercerai-berai!” Kalimat ini jauh lebih cerdas jika akan digunakan untuk menentang kebenaran wahyu. Dan itu pun gagal!

Produk budaya seperti kata Abu Zayd. Atau puncak kesusasteraan Arab seperti kata Arkoun. Atau membaginya buta menjadi yang universal dan yang kasuistik untuk menolak syari’ah seperti Fazlur Rohman dan Ashghor Ali Engineer. Atau sebutlah rekayasa politik ‘Utsman ibn ‘Affan seperti diyakini beberapa orientalis. Katakanlah itu pada al-Walid ibn al-Mughiroh maka sebelum selesai kalimatnya, ia pasti sudah berkata membawa-bawa nama Tuhan yang tak disembahnya, “Tidak! Demi Alloh… Bukan!”

“Sesungguhnya Kami, Kami, Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar pasti memeliharanya.” (Qs. al-Hijr: 9)

Keterjagaan orisinalitas adalah nilai paling mahal bagi sebuah karya manusia, apatah lagi Kalamulloh, pedoman hidup sepanjang zaman yang memang terjaga sepanjang zaman.

Ia diriwayatkan mutawatir, melalui banyak sekali jalur, sejak zaman Rosululloh. Beribu-ribu otak merekamnya, sampai detail huruf dan tanda baca. Jangan tanyakan apakah ada kitab ‘suci’ lain yang bisa dihafal di luar kepala. Al-Qur’an takkan tertandingi karena yang tak tahu artinya pun bisa menghafal banyak bagiannya tanpa cela. Malang nian orang yang berusaha memalsukan. Kehilangan sebuah alif saja dalam satu cetakan, pasti para pembacanya akan protes.

Sambil menyindir kitab ‘suci’ lain yang penuh paradoks, Alloh menegaskan bahwa al-Qur’an benar-benar berasal dari sisi-Nya,

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Sekiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Alloh, tentu mereka akan mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Qs. an-Nisa’: 82)

Ia diturunkan dengan metode pengajaran terbaik yang pernah ada. Mungkin istilah ‘learning by doing’ tak cukup agung untuk menggambarkannya. Ia turun kepada orang-orang yang bermental pengamal, secara berangsur, perlahan, dan teratur.

“Dan al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur, agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia. Dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Qs. al-Isro’: 106)

Ada jutaan lisan yang melafalkannya tiap hari. Lagi, ini bukti keunggulannya. Ia bisa diselesaikan lengkap 30 juz dalam satu roka’at sholat malam seperti yang dilakukan Tamim ibn Aus ad-Dariy. Ia bisa selesai dibaca lengkap dalam satu hari seperti salaful ummah melalui hari-hari Romadhonnya. Tiga hari, tujuh hari, sepuluh hari, dan sebulan adalah jenjang-jenjang yang lebih mulia untuk waktu pengkhotaman berikutnya.

“Alloh telah menurunkan perkataan yang paling baik, al-Qur’an yang serupa (kualitas ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Robbnya, kemudian tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Alloh…” (Qs. az-Zumar: 23)

Cendekiawan besar Quroisy, al-Walid ibn al-Mughiroh, orang yang paling tahu kebenaran tapi mendustakannya, pernah mengatakan tentang al-Qur’an, “Sesungguhnya al-Qur’an ini mengandung kenikmatan dan keindahan. Bagian atasnya mengulurkan buah dan bagian bawah memberikan kesuburan. Ini bukan perkataan manusia!”

Kalau dihitung-hitung, buku best seller yang paling the best tak ada yang mencapai seujung kuku jumlah pencetakan dan penjualan al-Qur’an. Sebergengsi apa pun Guiness Book, belum layak baginya untuk mencantumkan rekor seagung ini.

Dengan standar bahasa Arab yang jelas, segala salinan dan terjemahan dapat dikoreksi. Terjamin sudah otentisitasnya dan jadilah al-Qur’an pembawa peringatan sepanjang zaman.

“Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Robb semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin –Jibril- ke dalam hatimu –Muhammad- agar kamu menjadi salah satu di antara para pemberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas,” (Qs. asy-Syu’aro: 192-195)

Tantangan al-Qur’an

“… Andaikan (kamu penuh membaca dan menulis), niscaya benar-benar ragulah orang yang mengingkarinya!” (Qs. al-‘Ankabut: 48)

Sebagai bukti kebenaran al-Qur’an, Alloh berkehendak menurunkannya kepada seorang yang ummi (tak mengerti baca-tulis). Melihat ini saja sudah cukup bukti kiranya. Tetapi Alloh tetap menantang para hamba-Nya yang mendustakan untuk berbuat yang serupa al-Qur’an.

“Katakanlah, ‘Jika sekiranya manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan pernah dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain.’” (Qs. al-Isro’: 81)

Kalau pun tantangan itu lebih ringan, maka benarkah mereka mampu menghasilkan sepuluh surat saja yang semisalnya?

“Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat untuk menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kalian sanggupi selain Alloh, jika kalian memang orang-orang yang benar’. Jika mereka yang kalian seru tidak menerima seruan kalian maka ketahuilah al-Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Alloh.” (Qs. Hud: 13-14)

Meski mereka tak bisa membuatnya, tapi hati yang penuh keraguan itu masih saja berusaha menentangnya. Maka inilah tantangan terakhir sekaligus ancaman untuk mereka.

“Dan jika kalian tetap dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami, buatlah satu surat saja yang semisalnya dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Alloh, jika kalian memang orang-orang yang benar. Maka jika kalian tidak dapat membuatnya, dan pasti kalian tidak akan pernah bisa membuatnya, peliharalah diri kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, disediakan bagi orang-orang yang kafir.” (Qs. al-Baqoroh: 23-24)

O, tuan… Katakanlah benar memang yang menuliskan ini tak pernah tahu bagaimana orang seperti Nashr Hamid Abu Zayd, Arkoun, Mohamed Abed al-Jabiri, dan nama-nama yang fotonya selalu berwajah suram itu begitu serius mengkaji al-Qur’an. Katakanlah benar begitu. Tetapi ia punya sebuah cerita menarik. Boleh?

Ada seorang pengusaha sukses, berlimpah karunia hidup padanya. Isteri yang cantik, anak-anak yang cerdas, harta yang terus berkembang. Satu hal yang ia yakini, betapa kerja kerasnya, tanpa sedikit pun campur tangan Tuhan, telah memberikan semua itu padanya. Betapa sebalnya ia mendengar orang bicara tentang akhirat, mendengar orang ‘membual’ tentang Tuhan, dan menyerah dengan jawaban teologis ketika kegagalan menimpa.

Pengusaha kebanggaan kita ini punya satu hobi elegan. Main golf. Dan suatu hari seorang temannya dengan usil menutup hole-hole di lapangan tempatnya bermain. Dan benar, tak satupun bola bisa masuk. Begitulah firman Tuhan, kawan. Kata sang teman. Ia seperti bola golf. Untuk bisa kita menghayatinya, dia harus masuk dulu ke dalam sebuah lubang di hati kita. Lubang itu bernama iman.

Adakah kau bayangkan ia yang bermain golf tanpa hole? Adakah kau bayangkan seseorang yang mengkaji firman tanpa iman? Tanpa ada getar di hati ketika mendengar, tanpa gemetar kulit ketika makna-makna tersingkap. Jawabannya, seperti kata al-Walid ibn al-Mughiroh, pemuka Quroisy itu, “Tidak! Demi Alloh, tidak!” Karena sungguh tanpa itu, sulit bagimu untuk mendengarkan gema suara yang menggetarkan wujud, memabukkan jiwa, menyihir akal, dan mengaburkan mata. Sesulit engkau meniupkan nafas cinta pada kuncup yang mekar jadi bunga. []

Credit: “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim”; Salim A. Fillah; Pro-U Media


Tidak ada komentar:

Posting Komentar