Rabu, 29 April 2015

Sang Perantara

Jauh sebelum masa ‘Umar ibn Al-Khoththob dan ‘Amr ibn Hisyam, seorang tokoh hadir mengubah arah sejarah bangsa Arab. Tokoh berpengaruh dan berperan besar yang nyaris terlupakan itu bernama ‘Amr ibn Luhay. Tak banyak kita mengenal ‘Amr ibn Luhay, pemimpin Bani Khuza’ah itu. Padahal dialah Sang Perantara.

Mayoritas bangsa Arab sebenarnya menerima dakwah nabi Isma’il ‘Alaihis Salam kepada millah ayahnya, agama Ibrohim yang berintikan tauhid kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Al-Hanifiyah. Dari kata Haniifan Musliman yang sering menyertai penyebutan Ibrohim ‘Alaihis Salam dalam Al-Qur’an. Mereka, bangsa Arab, menyembah Alloh, mensucikan syi’ar-syi’arNya, dan berhaji ke baitNya.

Waktu bergulir dan ilmu diangkat, hingga cahaya tauhid di jazirah itu meredup. Meski begitu masih ada tilasan tauhid dan syi’ar agama Ibrohim yang tersisa. Hingga datangnya ‘Amr ibn Luhay, Sang Perantara. Di tengah kaumnya, dia adalah seorang yang penuh kebajikan, penuh dengan derma dan shodaqoh, serta apresiatif terhadap urusan agama. Hingga semua orang mencintainya; dia bagi kaumnya adalah ‘alim besar dan wali yang didengar setiap kata-katanya.

Suatu saat ia mengadakan perjalanan ke Syam, sebuah negeri yang ketika itu menjadi model kemajuan. Dari Makkah ke Syam, ia seperti orang udik masuk peradaban. Mudah-mudahan tidak bisa diserupakan dengan perjalanan pemuka muslim ‘moderat’ Indonesia ke Amerika Serikat. Di sana, dilihatnya penduduk negeri yang elok itu menyembah berhala. Tanpa perlu ikut kuliah bertahun-tahun atau cuci otak, tiba-tiba dia menyimpulkan bahwa itulah jalan kebenaran. Argumentasinya logis dan sederhana, “Syam adalah tanah tempat diutusnya para Rosul dan negeri diturunkannya kitab suci.”

Dia pun membawa oleh-oleh berupa Hubal. Sebuah berhala berisi kemusyrikan. Maka penduduk Makkah menganggapnya sebagai kyai, serta mengikuti penyekutuan Alloh itu. Bisa ditebak, seluruh dataran Hijjaz, Najd, Yamamah hingga Yaman yang menganggap penduduk Makkah sebagai penerus Ibrohim dan penjaga rumahNya yang suci segera bergabung dengan munculnya berhala Manat di Musyallal, Lataa di Thoif, dan ‘Uzza di Wady Nakhlah.

Tak hanya itu, ‘Amr ibn Luhay memperteguh otoritasnya sebagai pembaharu agama. Dia membangun sebuah sistem kepercayaan dan peribadatan yang lestari hingga dibangkitkannya Rosululloh. Thowaf pada berhala, besujud memohon kepadanya, berhaji, berkorban, bernadzar untuk berhala dengan aneka ritual yang menjijikkan bagi kita. Bersamaan dengan itu muncullah perdukunan, peramalan, pengundian nasib, perjudian, dan khomr yang berjalan diatas logika yang sama.

Uniknya, ‘Amr ibn Luhay tak berhasil membawa pulang sistem untuk memajukan peradaban bangsanya hingga seperti negeri Syam. Ia hanya berhasil memerantai sistem kepercayaan dan pola pikir kaumnya semakin menyerusuk ke dalam kubangan sejarah. Khawatirnya, di negeri ini berjejal ‘Amr ibn Luhay yang lain. Sang Agen. Sang Perantara.


Credit: “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim”; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar