Rabu, 29 April 2015

Setampan dan Sewangi Mush’ab

“Alangkah inginnya seorang wanita pezina,
agar semua wanita pun menjadi pezina seperti dirinya.”
(‘Utsman ibn ‘Affan rodiyallohu ‘anhu)


MENONTON film Waterloo garapan sutradara Rusia, Sergei Bondarchuk, saya membayangkan bahwa kondisi perang Uhud mirip dengan kondisi Napoleon di film ini. Semula kemenangan, tetapi kecerobohan Jenderal Ness, pemimpin kavaleri, mengubah semuanya. Harap-harap cemas Duke of Wellington (Inggris), pemimpin koalisi Eropa, terjawab dengan memutarnya Marshall Blucher (Prusia) untuk memukul hancur pasukan Napoleon.

Yang kita ingat dari Siroh Nabawiyah, Kholid ibn al-Walid-lah Marshall Blucher-nya perang Uhud. Ketika barisan Muslimin centang langgang, seorang prajurit Quroisy berteriak, “Qod qotaltu Muhammadan!; Aku telah membunuh Muhammad! Aku telah membunuh Muhammad!” Padahal pemegang panji yang diantarnya menuju syahid adalah Mush’ab ibn ‘Umair rodhiyallohu ‘anhu. Memang, bisa jadi Mush’ab sangat mirip dengan Rosululloh. Mirip. Dalam banyak hal agaknya.

Hal paling melekat pada diri Mush’ab adalah ketampanan, keanggunan, dan daya pikat yang mempesona semua mata. Ia rapi dan wangi. Bicaranya lembut, tapi atraktif dan menarik. Memandang wajahnya, menyalami tangannya, dan mendengarkan kata-katanya adalah kenikmatan tersendiri. Maka benar, memilih Mush’ab sebagai duta Islam untuk merekrut kader sebanyak-banyaknya di Yatsrib adalah cerdas. Karena sisi lanjut personal appeal Mush’ab adalah kemampuan besar untuk melakukan rekruitmen. Istilah yang sedang kita akrabkan saat ini adalah “Isti’aab”, yang secara bahasa berarti daya tampung.

Manusia itu beragam. Masing-masingnya unik. Dan da’i yang sukses adalah mereka yang masuk untuk menggerlapkan keunikan dan keragaman itu menjadi warna-warni pelangi di langit da’wah. Di sinilah sebagai da’i kita perlu mengkaji isti’aab kita. Ustadz Fathi Yakan dalam Al-Isti’aab fii Hayatid Da’wah wad Da’iyyah memberikan pengertian yang cukup berat untuk isti’aab. “Isti’aab”, kata beliau, “Merupakan kemampuan individu, kelayakan akhlaq, sifat keimanan dan karunia Ilahiyah, yang membantu para da’i untuk menarik objek da’wah, merekrutnya, dan menjadikan mereka sebagai suar dan poros bagi masyarakat.”

Tidak ada da’wah tanpa isti’aab. Minimal, keberlangsungannya tak terjaminkan. Maka mengaca pada pribadi Mush’ab ibn ‘Umair sang perekrut, semoga membantu kita memahami hakikat yang digariskan Ustadz Fathi Yakan. Kali ini, kita hanya akan sampai pada bagian pertama dari uraian beliau dalam bukunya itu, yakni Isti’aab Khoriji (eksternal). Beberapa hal yang berhasil kita potret dari pribadi Mush’ab sebagai perekrut eksternal yang sukses akan kita kaji dalam tulisan ini.


1. Penampilan Bukan Utama, Tapi Pertama

“Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda!” Begitulah penampilan dan parfum Mush’ab yang konon dapat dinikmati wanginya dari jarak kadza wa kadza. Ada banyak kisah, simpati berawal dari keanggunan dan kerapian. Seorang akhwat junior di sebuah SMA, takjub ketika berkunjung ke kos Mbak pembinanya. Masyarakat sebuah kampung akan jeli menilai kader da’wah yang baru pindah kontrakan ke kampung mereka, “Bertampang teroris atau ustadz?” Profil kader menggambarkan pentingnya penampilan dengan “Selalu membawa sisir ke manapun.”

Tentang pentingnya kesan penampilan pada seorang yang membawa suatu misi, Rosululloh pernah bersabda, “Jika kalian mengirim utusan pada kami, utuslah yang berwajah tampan dan berakhlaq baik.” Begitu dikutip oleh Mahmud Mahdi al-Istanbuli dalam Tuhfatul ‘Arus. Penampilan memang bukan utama. Tapi pertama. Maka menggenapkannya dengan yang selanjutnya adalah kemuliaan. Di ruang tamu almarhum KH. Ali Maksum sebuah mahfuzhat Arab menggambarkan dengan tepat, “Pakaianmu memuliakanmu sebelum dudukmu, ilmumu memuliakanmu sesudah dudukmu.”


2. Pemahaman: Diini, Tsaqofi, dan Da’aawi

Pemahaman yang dibutuhkan seorang da’i untuk merekrut kalangan intelektual berbeda dengan pemahaman yang dituntut pada masyarakat yang mulia berpeluh keringat mencari nafkah. Ada yang mernbutuhkan ilmu kita dalam bentuk jawaban atas pertanyaan-pertanyaan fiqh praktis. Ada yang ingin melihat ketajaman analisis kita tentang persoalan ummat. Ada yang akan dilanda hasad karena sebab-sebab unik.

“Apakah,” kata Ustadz Fathi Yakan, “Seorang da’i bisa dikatakan sebagai da’i yang benar dan berada di atas petunjuk jika tidak membekali dirinya dengan kepahaman tentang Islam?”

“Termasuk pemahaman agama adalah,” lanjut beliau, “berusaha mempelajari berbagai macam pengetahuan dan wawasan yang telah memberi aneka warna dalam kehidupan masyarakat. Dan tentu, bagaimana menghindari keterjebakan untuk mengunggulkan harokahnya, dan bukan mengunggulkan Islam sehingga keterikatan mad’u adalah keterikatan haroki saja. Padahal sebelum iru, harus ada keterikatan ‘aqidi.”


3. Yang Bisa Dinikmati Manusia dari Keimanan Kita adalah Buahnya

Adalah Hamnah binti Jahsyi, ketika dikabarkan padanya syahidnya sang paman dan sang kakak, ‘Abdulloh ibn Jahsyi, ekspresinya menunjukkan keteguhan yang mengagumkan. Tetapi ketika dikabarkan padanya bahwa sang suami syahid, ia tak dapat menahan diri dalam histeria kesedihan yang menyembilu hati. “Suami wanita ini..,” kata Rosululloh, “Memiliki tempat tersendiri di hatinya.”

Tak lain, sang suami adalah Mush’ab ibn ‘Umair. Di sini, kita menjumpai sebuah perangai dan akhlaq yang begitu menggores kenangan indah di hati seorang isteri. Ini hanya gambaran, bahwa jika pada isteri ia bisa berakhlaq begitu mulia, maka demikian pula pada tetangga dan mad’u-rya. Begitulah, yang bisa dinikmati manusia dari iman kita adalah buahnya: akhlaq. Senyum itu shodaqoh. Menebar salam menumbuhkan cinta. Sapaan mengikat rasa. Kesopanan menawan hati mereka. Dan kesantunan serta penyantunan akan mengikat mereka dalam ‘janji setia untuk menolong syari’at-Mu’. Masihkah kita berhenti pada sekedar senyuman?

“lmam Syahid,” begitu kata Ustadz ‘Umar at-Tilmisani bercerita tentang Hasan al-Banna, “Menangkap dengan lembut dan cermat semua hal yang bisa menyenangkan para ikhwan dalam batas-batas yang diperkenankan syari’at. Pada suatu hari, sang penyair, al-Akh ‘Umar al-Amiri, salah seorang pemimpin Ikhwan di Suriah mengunjungi beliau. Ia minta izin untuk melakukan perjalanan ke Iskandariyah bersama orangtuanya dengan menumpang kereta api yang berangkat dari Kairo jam tujuh keesokan paginya.

‘Umar al-Amiri pun berangkat bersama orangtuanya. Semenit. Beberapa detik sebelum kereta api bergerak, ia melihat Imam Syahid berjalan setengah berlari di atas halte stasiun membawa seuntai bunga segar yang beliau persembahkan kepada orangtua ‘Umar al-Amiri melalui jendela. Peristiwa ini, kata ‘Umar at-Tilmisani menutup cerita, memberikan kesan yang amat mendalam di jirwa ‘Umar al-Amiri, sang penyair besar.”


4. Keberanian Memulai Komunikasi

“Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak mudah akrab.” Hadits al-Hakim yang menyentak ini dicantumkan oleh Dr. Muhammad Faiz al-Math dalam Qobasun min Nuuri Muhammad. Keraguan, ketakutan, dan keengganan memulai sebuah proses komunikasi adailah penghalang tersampaikannya da’wah kepada yang berhak menerimanya. Apa yang dilakukan Mush’ab ketika As’ad ibn Zuroroh maupun Sa’d ibn Mu’adz mendatanginya dengan tombak terhunus dan ucapan penuh murka, “Kau menipu orang-orang lemah di antara kami dengan ucapan yang berbisa!”?

Kalimat Mush’ab sama, “Bagaimana menurutmu sekiranya kau duduk terlebih dahulu untuk mendengarkan apa yang kusampaikan. Jika engkau tak menyukainya aku akan pergi dan tak mengungkitnya. Jika engkau suka, maka terserah padamu untuk mengambil atau meninggalkannya.”

Keberanian memulai proses komunikasi begitu ditekankan dalam isti’aab. Bahkan, Ustadz Abbas as-Siisi dalam ath-Thoriiq ilal Quluub mengusulkan cara-cara ekstrim dalam membuka keakraban seperti menginjak kaki -lalu meminta maaf-. Atau dengan berkata pada seorang yang kulitnya putih, “Antum orang Sudan, ya?” Ketika si dia membelalakkan mata -karena umumnya orang Sudan berkulit hitam-, lalu diteruskan dengan kalimat, “’Afwan, saya dengar beberapa orang Sudan juga berkulit putih.”


5. Kejelian Melihat Poin Strategis

Dalam sebuah masyarakat, ada poin-poin strategis yang dikaruniakan Alloh sebagai pembuka jalan da’wah. Poin itu bisa berbentuk seorang tokoh. Seperti yang dikatakan ‘Ubadah ibn Shomit dan As’ad ibn Zuroroh pada Mush’ab tentang Sa’d ibn Mu’adz, “Yang akan datang ini, adalah pemimpin kaumnya. Jika dia masuk Islam, maka begitupun seluruh manusia yang dipimpinnya akan masuk Islam.”

Adalah tugas seorang da’i untuk mengenali poin-poin strategis yang lain di tengah masyarakatnya. Pembinaan remaja Masjid dan aktivitas kemasjidan lainnya, misalnya. Jabatan struktural RT dan RW, misalnya. Ada lagi yang kita sebut sebagai simpul komunitas. Apa yang menjadi pengikat suatu masyarakat, maka di antara da’i harus mengambil peran untuk berada di sana. Pentingnya sebuah pertemuan RT, pentingnya mengambil peran dalam kegiatan kifayah seperti penyelenggaraan jenazah. Semuanya adalah saluran isti’aab yang potensial.


6. Kemampuan Menjawab Permasalahan Mad’u

‘Afwan, yang ini berat untuk dijelaskan. Tapi saya yakin Antum faham.


7. Persahabatan yang Menguatkan

Berkata Musa, “Ya Robbku, sesungguhnya aku takut mereka akan mendustakanku. Dan sernpitnya dadaku serta tak lancarnya lidahku. Maka utuslah kepadaku Harun. Dan aku berdosa pada mereka (membunuh), maka aku takut mereka akan membunuhku.” (Qs. Asy-Syu’aroo [26]: 12-14)

Terkadang, ada wilayah-wilayah yang tak dapat dijangkau oleh kemampuan kita sebagai da’i. Maka bantuan seseorang yang memiliki kapasitas di sana akan menjadi nilai strategis baru. Saat mendatangi Madinah untuk pertama kali, tentu Mush’ab sangar asing dengan kota di antara dua bukit berkurma ini. Bantuan ‘Ubadah ibn Shomit, sahabat lamanya, menjadi sangat berarti. Demikian pun ketika Mush’ab membawa hidayah Alloh pada Bani Aus, As’ad ibn Zuroroh, kenalan barunyalah, yang membuat strategi ‘menjebak’ Sa’d ibn Mu’adz agar suka atau tidak suka berhadapan langsung dengan keanggunan Mush’ab.

***

Yah, begitulah isti’aab khoriji. Terpatok oleh target angka-angka memang bisa jadi berbahaya. Tetapi sebagai awal sebuah proses isti’aab khoriji, acuan itu terkadang juga penting. Jika sempat menonton film The Recruit bersama Al Pacino dan Collin Farrel, mungkin kita akan menemukan pemahaman-pemahaman baru tentang isti’aab. Atau, seperti pesan Ustadz Fathi Yakan menutup bukunya, “Sesungguhnya ideologi perubahan Islam menghendaki adanya satu barisan yang terseleksi, dan mereka inilah para pelopor perbaikan. Namun demikian, perubahan ini harus memasyarakat, karena di sinilah akar dan kekuatan mereka.” Selamat merekrut!

Dan datanglah dari ujung kota, seoratg laki-laki dengan bergegas-gegas, ia berkata, “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Yaasin [36]: 20-21) []

Credit: “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim”; Salim A. Fillah; Pro-U Media


Tidak ada komentar:

Posting Komentar