Rabu, 29 April 2015

Logika Perantara

Membaca kiprah ‘Amr ibn Luhay beberapa halaman lalu, saya dan Anda pasti akan bertanya-tanya, ”Masa' sih semudah itu pemahaman baru tentang peribadahan dan keyakinan disebarluaskan?” Atau “Adakah perangkat logika yang meyakinkan bagi bangsa Arab atas paganisme yang datang melalui perantara ‘Amr ibn Luhay? Ternyata memang ada ‘Amr Ibn Luhay, Sang Perantara yang lihai, telah memproklamasikan sebuah logika yang gampangnya juga kita sebut sebagai ‘logika perantara’.

“…Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya…” (QS. Az-Zumaar: 3)

“Alloh,” kata logika itu, “Dzat yang Menciptakan kita. Dia itu Maha Mulia, Maha Tinggi, dan Maha Suci. Kita hanya makhluk yang rendah, hina, penuh noda. Sungguh tak pantas, mahkluk yang rendah menengadah langsung pada Yang Maha Tinggi. Sungguh tak patut makhluk yang hina bersimpuh di dekatNya Yang Maha Mulia. Dan sungguh tak layak bagi insan penuh noda mencoba meraih kasihNya Yang Maha Suci. Sungguh Dia Maha Agung di langit, takkan terjangkau oleh kita yang berkubang di palung samudera kehinaan.”

“Jadi?”

“Kita butuh perantara. Ya, kita butuh perantara. Yuhuu…!”

“…Kami tidak menyembah mereka melainlan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya” (QS. Az-Zumaar: 3)

Kita ambil Al-Latta sebagai contoh. Nama ini ditafsir sebagai bentuk feminin dari kata Alloh. Tersebut bahwa Lataa adalah Al-Fayyadh, laqob yang sama dengan Dodi yang tewas bersama dengan Princess of Wales, Diana Francess Spencer, dalam kecelakaan di France. Al-Fayaadh berarti dermawan besar. Jika datang jama’ah haji ke Makkah, maka mereka akan menyempatkan mampir ke rumah Lataa. Menikmati jamuan roti nan lebar yang dicelup ke dalam kuah daging kental dan minuman menyegarkan. Bahkan kalau memerlukan akomodasi, katakan pada Lataa, dan dia akan menyantuni para tamu Alloh itu.

Logika itu diteruskan, ”Melihat kedekatan Lataa dengan Alloh, maka dialah perantara yang tepat. Bagaimana tidak? Lataa sangat ‘berjasa’ pada Alloh dalam pelayanannya kepada tetamuNya”. Luar biasa logika ini.

“Jadi, kalau minta hal yang remeh temeh, nggak usah kepada Alloh. Malu-maluin! Masa’ Alloh ngurusin hal-hal seremeh itu? Sudah, minta saja pada Lataa. Pasti karena ‘jasanya’ Lataa sudah diberi banyak kewenangan oleh Alloh di surga sana untuk menentukan nasib kita di dunia. Mudahnya, Lataa sudah jadi asisten Alloh yang mengurusi bidang tertentu. Jadi buat apa repot-repot menyembah Alloh?

Dan begitulah, Manat, ‘Uzza, Hubal, dan ratusan berhala lain -bahkan para malaikat dilogika. Merunut sejarahnya, logika ini juga terpakai dalam penuhanan ‘Isa sebagai juru selamat yang dianggap menebus dosa manusia di kayu salib. Atau ketika orang Yahudi begitu bersemangat mengatakan Uzair anak Alloh bertitah begini begitu. Dan bahkan pada penuhanan orang-orang sholih dari kaum Nabi Nuh yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Logika perantara ini begitu mendarah daging di tubuh kemusyrikan.

“…Kami tidak menyembah mereka melainlan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya” (QS. Az-Zumaar: 3)

Sedihnya logika ini tak kunjung lenyap. Bahkan hingga kini. Dapatilah banyak dukun, paranormal, hingga yang menyebut diri Ustadz dan Kyai menggunakan logika ini untuk meraih sesuatu disisi manusia. Mereka mengambil peran ‘perantara’. Dan manusia pun berbondong-bondong memakainya untuk memintas jalan hajat hidup mereka.

Lebih sedih lagi, ada beberapa sholawat yang disusun memperlihatkan cengkeraman logika ini. Misalnya tawassul dalam sholawat Badriyah. Setelah melafal aneka permohonan dalam syair yang enak, kita harus menutup dengan “bi ahlil badri, ya Alloh”; dengan hak dan kedudukan para pahlawan Badar, ya Alloh!”

Mohon teliti kembali lafal sholawat favorit Anda. Jangan-jangan ada susupan logika perantara di sana. Demi Alloh, itu logika jahiliyah meskipun kedudukan Rosululloh yang disebut. Berharap syafa’at memang diperkenankan. Tetapi Abu Huroiroh pernah bertanya, ”Siapakah orang yang akan beruntung dengan syafa’atmu, ya Rosululloh?” Beliau menjawab, ”Orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh dengan ikhlas dari dalam hatinya.” Hadits shohih ini yang membawakannya Imam Bukhori dan Imam Ahmad.

Jikalau kita memperbanyak sholawat, itulah kecintaan kita pada Rosul dan ketaatan kita pada Alloh yang juga bersholawat pada Nabi. Bukan dalam rangka ‘menyuap’ Rosululloh agar memberikan syafa’atnya. Jatuhlah kita dalam logika perantara jika demikian. Apalagi jika sholawat itu mengandung kemusyrikan seperti Nariyah yang dimulai dengan “Allohumma sholli sholatan, kaamilatan wa sallim salaaman tamman ‘alaa sayyidina Muhammadiniladzi…” Sungguh benar ‘Abdulloh ibn Mas’ud, “Bercukup-cukup dengan sunnah jauh lebih indah daripada berpayah-payah dengan bid’ah.” Termasuk dalam hal sholawat.

Sesungguhnya logika perantara ala jahiliyah ini bertentangan diametral dengan logika Islam. Setiap yang berbuat, dia yang bertanggung jawab. Siapa yang menanam, mengetam.

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkannya.” (QS. An-Najm: 40)

Jadi, apa hubungannya kita dengan amal Ahli Badr dan kedudukan Rosululloh? Tidak ada. Tidak ada, kecuali hubungan cinta dan peneladanan. Karena yang ini insyaalloh menyatukan kita dengan mereka. “Anta ma’a man ahbabta; Engkau akan beserta orang yang kau cintai,” kata Rosululloh. Tetapi ekspresi cinta itu bukan memohon hajat dengan logika perantara seperti ini. Sama sekali bukan.

Dan katanlah, ”Beramallah kalian, maka Alloh dan RosulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada Alloh Yang Maha Mengetahui akan yang ghoib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105).

Sepanjang sejarah, dari dua ‘Amr –‘Amr ibn Luhay hingga ‘Amr ibn Hisyam– logika perantara adalah logika jahiliah. Berhati-hatilah pada logika perantara. Dalam hubungan dengan Alloh atas hajat kita, perantara adalah logika kemusyrikan, logika jahiliah. Islam mengajarkan kedekatan hamba dengan Robbnya. Kedekatan langsung yang indah. Tanpa perantara.[]


Credit: “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim”; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar