Rabu, 29 April 2015

Sang Tiran

NOVEL War and Peace karya Leo Tolstoy itu sangat berkesan menurut saya. Terlebih pada pengambilan setting yang cerdas, yakni penyerbuan Napoleon ke Rusia yang berpuncak pada jatuhnya Moskow, 14 September 1812. Kisah cinta yang rumit itu terbingkai dalam eksotisme sejarah yang mengasyikkan sekaligus penuh ‘ibroh. Ketika Sergei Bondarchuk maupun King Vodor memfilmkannya, syukurlah ia tak kehilangan jiwa penceritaannya.

Sekali lagi, sebenarnya saya jauh lebih tertarik pada latar sejarahnya dibanding kisah cinta Count Pierre Bezukhov, Natasha Rostov, dan Pangeran Andrew Bolkonskiy.

Ini pertarungan antara semangat penaklukan seorang Napoleon di puncak kejayaannya melawan kesabaran si tua Jenderal-Pangeran Mikhail Ilarionovich Kutuzov yang harus mati-matian meyakinkan anak buahnya atas langkah pertahanan yang diambilnya. Napoleon, dengan penuh kemenangan memasuki Moskow bersama pasukannya. Tetapi kota megah dan indah itu bersih, tak meninggalkan apapun untuknya kecuali para tunasusila. Napoleon menyebut pasukannya sebagai paling disiplin, paling solid, dan terbaik di dunia. Tetapi dengan jumlah sebesar itu, ransum yang terbatas, gadis-gadis Rusia yang cantik, dan musim dingin yang menjelang, ia merasa takkan sanggup bertahan lama di Moskow.

Sebenarnya Jenderal Kutuzov, pasukan Rusia, dan para pengungsi dihantui ketakutan yang sama: kelaparan dan musim dingin. Tetapi inilah tantangannya. Mana yang lebih mampu bersabar, Napoleon atau Kutuzov. Dan Kutuzov setiap hari mengulang-ulang ucapan, “Waktu dan kesabaran. Waktu dan kesabaran. Waktu dan kesabaran.” di atas tempat tidurnya hingga berita itu tiba. Napoleon memutuskan pulang ke Perancis, Kutuzov pun sujud syukur.

Penarikan mundur tentara Perancis ini adalah salah satu perjalanan pulang paling menyedihkan sepanjang sejarah. Dari 500.000 pasukan yang dibawa Napoleon menginvasi Rusia, hanya sekitar 150.000 orang yang selamat sampai Perancis. Sisanya ditinggalkan mati lemas terbenam dalam lumpur hujan yang terbentang di Ukraina atau tertimbun salju musim dingin yang dahsyat dalam kondisi nyaris telanjang. Yang masih hidup akan segera berebut mengambil syal, jaket, dan pakaian mereka yang tewas untuk menambah rasa hangat. Mereka yang masih hidup tetapi tak kuat berjalan akan ditembak di tempat. Juga untuk diambil bajunya oleh yang lain.

Napoleon yang kudanya pun ambruk, tertunduk lesu di atas kereta salju. Itulah satu di antara sedikit kereta yang masih ada, padahal sebelumnya ada puluhan bahkan ratusan. Kereta itu milik para wanita bangsawan Rusia pengkhianat yang ingin ikut ke Perancis, namun tewas dalam perjalanan bersalju yang dinginnya membekukan darah. Di tepi sungai Berezina, saat pasukan Rusia meneriakkan pekik kemenangan, Napoleon menghangatkan diri dengan membakar panji-panji Perancis dan peta penyerbuannya. Tragis. Sebagaimana terjadi pada Hitler dalam Perang Dunia II, penyerbuan ke Rusia adalah antiklimaks dari karir perang Napoleon.

Beberapa tahun sebelum itu, tepatnya 1798, Napoleon menyerbu Mesir, negeri kaum Muslimin. Negeri di mana Fir’aun pernah mengabadikan namanya sebagai Sang Tiran. Mungkin ada benarnya jika ada yang mengatakan bahwa dari sinilah, -dari Fir’aun-, Napoleon belajar menjadi tiran Eropa. Turut serta dalam ekspedisi Napoleon ini, seorang sejarawan bernama Champoleon. Ialah yang kemudian menemukan batu Rosetta, kunci untuk membaca aksara Hieroglyph Mesir kuno. Sejak itu, sejarah salah satu peradaban tertua di dunia diungkap dan dipaparkan lebih mendalam.

“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs. al-Qoshosh [28]: 4)

Dalam sejarah da’wah, salah satu jenis musuh yang sering menghadang laju barisan keimanan adalah para tiran. Selalu ada mereka bagi para pemuda Kahfi, sebagaimana ada Namrud bagi Ibrohim dan Fir’aun bagi Musa. Dalam tradisi jahili, mendaki menuju puncak kekuasaan berarti membangun ambisi. Dan di puncak sana, ambisi itu tak tertahankan lagi, meledak menjadi klaim paling konyol yang pernah dibuat manusia dalam kata-kata.

Dan berkata Fir’aun, “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” (Qs. al-Qoshosh [28]: 38)

Apakah kemudian Islam menentang kehadiran Sang Tiran hanya karena klaim lucu ini? Jika klaim konyol ini diucapkan seorang budak, maka cukuplah untuk mengatainya gila. Tetapi karena Sang Tiran memiliki kuasa dan sumberdaya, maka klaim ini menjadi gaung yang paling keras dan pedang yang paling tebas menentang kebenaran. “Power tends to corrupt,” kata Lord Acton. “Absolute power corrupts absolutely!” Kata-kata ini nyaris sangat empirik. Dan begitulah yang dialami Fir’aun dan para tiran Fir’aunis: menginjak, memperbudak, menyeleweng, dan mempertuhan diri.

Prinsip Islam untuk membebaskan manusia dari perbudakan para tiran itu disuarakan salah satunya oleh seorang prajurit bertubuh kecil dengan pedang pendek dan pakaian kasar di hadapan Rustum, penguasa de facto Imperium Sassanid Persia. “Kami dibangkitkan untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada sesamanya, menuju penghambaan kepada Kholiqnya. Dari kezholiman agama-agama menuju keadilan Islam!” Rib’i ibn Amir nama prajurit itu. Ia yang mencela betapa menjijikkannya jilatan para bawahan Rustum pada atasannya. Ia yang dicela sebagai anjing Arab oleh para budak Rustum. Dan ia yang dipuji sebagai manusia terhormat oleh Rustum sendiri.

Oh iya. Saya ingat salah satu kalimat Napoleon dalam film War and Peace ketika dia menduduki istana Tsar Alexander I Romanov di Moskow. “Di antara monumen yang ditinggalkan zaman barbar dan kelaliman, akan kutuliskan tentang keadilan dan kemurahan hati!”

Fir’aun berkata, “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.” (Qs. Ghoofir [40]: 29)

Begitulah perasaan para tiran. Memutlakkan segalanya dengan ukuran diri. Kebenaran, kuasa, ideologi. “You are either with us, or against us,” kata George W. Bush. Ibrohim-lah yang cerdas ketika Namrud mengklaim bisa menghidupkan dan mematikan. “Robbku, mendatangkan mentari dari ufuk timur. Datangkanlah ia dari barat!” Fabuhitalladzii kafar! Maka terbungkamlah ia yang kafir! Siapkah kita membungkam klaim-klaim rapuh Sang Tiran seperti Ibrohim melakukannya di Surat al-Baqoroh ayat 258?[]

Credit: “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim”; Salim A. Fillah; Pro-U Media


Tidak ada komentar:

Posting Komentar