Kamis, 30 April 2015

Kuasa Wacana

Inayet Nahvi pernah menulis sebuah buku berjudul ADL, Censors of The Universe. ADL, kependekan dari Anti-Defamation League, adalah kumpulan aktivis pro-zionis di Amerika yang memusatkan kegiatannya pada propaganda melalui pers untuk mendukung Zionisme dan menangkis semua berita yang merugikan Israel dan Zionisme.

Kerja-kerja pencitraan yang dilakukan ADL dengan jaringan persnya di seluruh dunia membuahkan sukses legitimasi opini atas segala yang dilakukan Israel dalam memerangi ‘terorisme’ pejuang Palestina. Demikian juga apa-apa yang dilakukan Presiden George W. Bush sejak September Attack, semua menjadi tampak sah dengan kerja-kerja ADL. Untunglah kita belum terlalu buta huruf untuk membaca Operation of Iraqi Liberation sebagai kepanjangan dari OIL.

Di salah satu kaki yang lain, ADL justru bertumpu pada industri pornografi, sebuah sarana perang pemikiran yang cantik dan seksi. ADL tercatat memberikan award ‘Obor Kebebasan’ kepada Hugh Hefner, lelaki gaek pemilik majalah Playboy, dan Larry Flint, salah satu jutawan industri film porno Amerika. Direktur ADL, Abraham F. Foxman, menyebut industri pornografi sebagai “Suatu karya gemilang orang Yahudi yang mengawali dan menjadikan industri pornografi bagian dari apa yang disebut dunia sebagai American Dreams.”

Nah, dalam sejarah, kuasa wacana selalu memegang peranan penting yang menentukan arah perjalanan suatu masyarakat. Konon, Napoleon yang beberapa halaman lalu kita bicarakan itu lebih takut pada pena seorang wartawan daripada pasukan sebesar apapun.

Agaknya dalam beberapa hal, masyarakat pasca revolusi Perancis tak bisa lagi dikelola dengan kuasa wacana gaya lama seperti yang dilakukan Fir’aun. Napoleon tak bisa lagi mendengungkan semboyan pendahulunya, Louis XIV, yang selalu berkata, “L’etat cest moi!”; Negara adalah saya!” Dan sepertinya, Napoleon belum menemukan suatu formula baru untuk membangun kuasa wacana yang berpihak sepenuhnya pada dirinya. Ah, ia kurang tekun belajar pada Fir’aun barangkali. George W. Bush mungkin sedikit lebih sukses.

Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.” (QS. Al-Qoshosh: 38)

Yuri A. Gagarin mungkin terinspirasi kata-kata Fir’aun kepada Haman ini sehingga ketika berhasil mengorbit di atas bumi, ia buru-buru menyimpulkan, “Saya tak menemukan tuhan di langit sana.” Dengan propaganda pendustaan terhadap hal-hal yang ghoib inilah, Fir’aun membangun kuasa wacana bahwa Musa sang Rosul berdusta, dan bahwa tuhan yang layak adalah tuhan yang eksistensinya terindera seperti dirinya, bukan tuhan yang esensiNya terasa di seluruh penjuru langit dan bumi seperti Alloh.

Melangkah lebih jauh, ia berusaha membangun legitimasi untuk membunuh Musa, pemimpin bani Isroil, Rosul yang diutus untuk memperingatkannya, sekaligus anak angkat yang kini ia posisikan sebagai lawan politiknya. Tuduhan pengacau dan pembuat kerusakan disematkan pada Musa dengan permainan bahasa yang luar biasa.

Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya), “Bukanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (QS. Ghoofir: 26)

Dalam bahasa janji Robbnya yangs sederhana, Musa melakukan perlawanan terhadap kuasa wacana sang tiran itu. Tetapi Fir’aun terus membawa kuasa wacana pada subjektivitasnya. Dia telah membangun sebuam pembenaran, dan bukan kebenaran. Dia menata dengan cantik teori-teorinya, parameter-parameter, dan data-data pendukungnya sehingga kesimpulan terambil akan selalu berpihak padanya. Seperti ajaran buku How to Lie with Statistics, Fir’aun membangun pijakan untuk klaim-klaimnya.

(Musa berkata), “Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari adzab Alloh jika adzab itu menimpa kita?” Fir’aun berkata, “Aku tidak mengemukakan kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik, dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.” (QS. Ghoofir: 29)

Ada kalanya juga Fir’aun dalam puncak-puncak kegeramannya harus melakukan personal attack kepada Musa. Maka penyuara kebenaran selalu dibidik dan dicari aibnya. Seperti Khoiriansyah Salman yang menerima Rp.10 juta sebagai fee pengisi acara, tertuduhlah ia penerima korup Dana Abadi Ummat. Seperti Musa yang gagap dalam bicara maka “Bagaimana mungkin kebenaran keluar dari mulut yang nyaris tak bisa berkata-kata?” kata Fir’aun.

Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya). Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya). Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?” Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. (QS. Az-Zukhruf: 51-54)

Pemimpin adalah wajah sang rakyat. Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya dengan perkataan itu lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. Klop sudah antara pemimpin gila dan rakyat yang fasik. Apalagi ada kuasa wacana. Ah, repotnya. Jadi ingat judul buku Seno Gumira Ajidharma, Ketika Pers Dibungkam, Sastra Harus Bicara.

Tetapi apa yang akan dibicarakan sastra? Jika pornografi adalah seni, zina adalah pembuktian cinta, khomr adalah obat, dan negara tak berhak mengatur moral warganya, maka seperti ADL, ini hanya akan menjadi kuasa wacana sang tiran pada sisi pumpu yang lain. Sejak sekarang, memang kira semua harus belajar untuk mengatakan kebenaran pada semesta. Seperti Adian Husaini ketika Goenawan Mohamad menolak syari’at yang disebutnya Arabisasi. “Kenapa namanya tidak diganti saja menjadi Goenawan Terpuji?”[]


Credit: “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim”; Salim A. Fillah; Pro-U Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar